Eksposisi Perjanjian Baru 1
Analisis Mendalam – Kisah Para Rasul (2/2): Paulus & Misi Gentil
Kisah 19:23–28; 27–28 (Efesus, Pelayaran, dan Roma) — 75 menit
Pertemuan ini melanjutkan Pertemuan 6, yang dibuka dengan pengharapan sisa Israel sebagai Sitz im Leben (Kis. 1:6) dan ditutup dengan Petrus, Kornelius, dan Konsili Yerusalem, dalam kerangka Pertemuan 4. Mahasiswa diharapkan membawa tesis Pertemuan 6 (gereja dimulai dari sisa Israel, bangsa-bangsa ditambahkan) untuk membaca Kis. 13 dan 28, sampai pengharapan itu digemakan kembali oleh Paulus di 28:20.
I. Kerangka: Dari Petrus ke Paulus ▾
Pertemuan 6 berakhir dengan Amos 9 di Kis. 15:16–17: sisa Israel dipulihkan, sehingga bangsa-bangsa mencari Tuhan. Bagian “Misi Paulus” (pasal 13–28) dalam kerangka Pertemuan 4 mengikuti gerak itu dari Antiokhia hingga Roma.1
Benang Kerajaan Allah (14:22; 19:8; 20:25; 28:23, 31) mengikat ketiganya. Sebagian pihak memandang Kis. 13 sebagai titik awal gereja (pandangan 5, Pertemuan 6); di sini ia dibaca sebagai tahap dalam tesis “sisa Israel”: jemaat yang sudah ada mengutus, bukan gereja yang baru lahir.
II. Eksegesis Kisah 13–14 – Perjalanan Misi Pertama ▾
A. Pengutusan dari Antiokhia (13:1–3)
Jemaat Antiokhia (11:26) memiliki nabi dan pengajar dari latar beragam: Barnabas, Simeon Niger, Lukius dari Kirene, Manaen, dan Saulus. Saat mereka beribadah dan berpuasa, Roh Kudus berfirman: “Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku.” Gereja mengutus atas perintah Roh; inisiatifnya ada pada Allah.
B. Antiokhia Pisidia (13:13–52)
Khotbah di sinagoga menelusuri sejarah Israel sampai Daud, lalu kepada Yesus dan kebangkitan-Nya (13:16–41), dengan pembenaran melalui Yesus (13:38–39). Banyak orang Yahudi dan proselit mengikuti (13:43); pada Sabat berikutnya, kecemburuan muncul (13:45).
Sorotan Eksegetis: Kisah 13:46–47 — “Kami Berpaling kepada Bangsa-bangsa”
TB: “Kepada kamulah firman Allah harus diberitakan lebih dahulu; tetapi kamu menolaknya … maka kami berpaling kepada bangsa-bangsa lain.”
SBLGNT (Kis. 13:46): ὑμῖν ἦν ἀναγκαῖον πρῶτον λαληθῆναι τὸν λόγον τοῦ θεοῦ· ἐπειδὴ ἀπωθεῖσθε αὐτὸν … ἰδοὺ στρεφόμεθα εἰς τὰ ἔθνη.
Ayat 47 mengutip Yes. 49:6: Paulus dan Barnabas menjalankan tugas Hamba Tuhan sebagai “terang bagi bangsa-bangsa.” Ada dua pembacaan atas “berpaling”:
C. Listra dan Derbe (14:8–28)
Setelah penyembuhan orang lumpuh, penduduk menyebut Paulus dan Barnabas dewa-dewa (14:11–13). Kepada pendengar penyembah berhala, Paulus tidak mengutip Perjanjian Lama tetapi bertolak dari Allah pencipta (14:15–17)—berbeda dari khotbah di sinagoga. Paulus dilempari batu, lalu bangkit dan kembali (14:19–20), dan berpesan: “Kita harus mengalami banyak sengsara untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah” (14:22). Mereka mengangkat penatua (14:23) dan melapor bahwa Allah “membuka pintu iman bagi bangsa-bangsa lain” (14:27).
III. Eksegesis Kisah 19:23–28 – Kerusuhan di Efesus ▾
Tema: penganiayaan tidak selalu berasal dari kalangan Yahudi; tekanan dapat datang ketika Injil menyentuh ekonomi dan ibadah kota.
IV. Eksegesis Kisah 27–28 – Pelayaran dan Paulus di Roma ▾
A. Pelayaran (27:1–28:16)
Rangkaian ini adalah bagian “kami” yang terakhir (Pertemuan 4). Pembacaan kesaksian mata (Hemer) dan pembacaan konvensi kisah pelayaran laut (Robbins) sama-sama tersedia.34 Beberapa penanda teologis penting:
B. Roma (28:17–31)
Sorotan Eksegetis: Kisah 28:20 — “Pengharapan Israel”
TB: “Karena pengharapan Israel-lah aku dibelenggu dengan rantai ini.”
SBLGNT (Kis. 28:20): ἕνεκεν γὰρ τῆς ἐλπίδος τοῦ Ἰσραὴλ τὴν ἅλυσιν ταύτην περίκειμαι.
Paulus menjelaskan pelayanannya kepada pemimpin Yahudi di Roma sebagai pengharapan Israel—pengharapan yang sama yang menjadi Sitz im Leben pembuka Pertemuan 6 (Kis. 1:6) dan yang disuarakan Simeon dan Hana (Luk. 2:25, 38). Di 28:23–28 ia bersaksi tentang Kerajaan Allah; “ada yang yakin, ada yang tidak” (28:24), lalu mengutip Yes. 6:9–10 dan menyatakan bahwa keselamatan ini dikirim kepada bangsa-bangsa (28:28).
Kitab ditutup dengan Paulus “memberitakan Kerajaan Allah dan mengajarkan hal-hal tentang Tuhan Yesus Kristus dengan penuh keberanian, tanpa rintangan” (28:31, ἀκωλύτως). Ini menjadi inklusio dengan 1:3, dan “dua tahun penuh” (28:30) sejalan dengan penanggalan 62–63 M di Pertemuan 4: kematian Paulus tidak dicatat.
V. Sintesis: Ketahanan Paulus dan Kerajaan yang Tidak Terhalang ▾
Ketahanan Paulus bukan keteguhan pribadi semata. Ia bertumpu pada δεῖ ilahi (23:11; 27:24) dan pada Kerajaan yang tidak dapat dihalangi (28:31). Rangkaian ini mendukung tesis Pertemuan 6: sisa Israel yang percaya dan bangsa-bangsa ditambahkan dalam satu jalan, sampai ke Roma. Pengharapan yang dibawa murid-murid di Kis. 1:6 dan pengharapan yang masih disebut Paulus di 28:20 adalah pengharapan yang sama; yang berubah bukan isinya, melainkan cakupannya—dari “kerajaan bagi Israel” menjadi Kerajaan yang diberitakan “tanpa rintangan” kepada semua orang.
VI. Rencana Tatap Muka (150 Menit) ▾
VII. Penugasan ▾
Tugas Terstruktur
1. Petakan perjalanan misi pertama (Kis. 13–14): kota, tempat memberitakan, respons, dan penganiayaan. Tandai pola “sinagoga → penolakan → bangsa-bangsa.”
2. Daftarkan delapan kemunculan “Kerajaan” dalam Kisah (1:3, 6; 8:12; 14:22; 19:8; 20:25; 28:23, 31) dan jelaskan fungsi masing-masing.
3. Catat kembali penanda bagian “kami” di 27:1–28:16 dan hubungkan dengan pembahasan Pertemuan 4.
Tugas Mandiri (Pilih Satu)
Catatan Kaki
1 F. F. Bruce, The Book of Acts, New International Commentary on the New Testament, rev. ed. (Grand Rapids: Eerdmans, 1988), 30–33.
2 Jacob Jervell, “The Divided People of God: The Restoration of Israel and Salvation for the Gentiles,” dalam Luke and the People of God: A New Look at Luke–Acts (Minneapolis: Augsburg, 1972), 41–74.
3 Colin J. Hemer, The Book of Acts in the Setting of Hellenistic History, ed. Conrad H. Gempf, WUNT 49 (Tübingen: J. C. B. Mohr, 1989), 312–34.
4 Vernon K. Robbins, “By Land and By Sea: The We-Passages and Ancient Sea Voyages,” dalam Perspectives on Luke-Acts, ed. Charles H. Talbert (Danville, VA: Association of Baptist Professors of Religion, 1978), 215–42.
5 Robert C. Tannehill, The Narrative Unity of Luke–Acts: A Literary Interpretation, vol. 2, The Acts of the Apostles (Minneapolis: Fortress Press, 1990), 339–47.