Author:dhoratiusherman
Manual Zotero
Manual 1 dari 2
Panduan Lengkap Zotero
Instalasi dan penggunaan untuk penulisan karya ilmiah dengan Turabian edisi ke-9 (Full Note) dan Ibid.
Perangkat: Zotero 7 dan Microsoft Word
Gaya sitasi: Turabian 9th edition (full note)
Bahasa: Indonesia
Versi dokumen: Oktober 2026
👇 Ketuk judul bab untuk membuka, lalu ketuk subbab. Hanya satu bab (dan satu subbab) terbuka pada satu waktu.
▶ Bab 1 — Pengantar dan Alur Kerja
▶ Bab 2 — Memahami Turabian Edisi ke-9 (Full Note) dan Ibid.
▶ Bab 3 — Instalasi dan Pengaturan Awal
▶ Bab 4 — Memasukkan Referensi ke Zotero
▶ Bab 5 — Mengelola Library
▶ Bab 6 — Menyisipkan Catatan Kaki di Microsoft Word
▶ Bab 7 — Verifikasi Ibid. dan Pemecahan Masalah
▶ Bab 8 — Daftar Periksa dan Sumber Tambahan
Panduan Zotero — Turabian 9 (Full Note) dengan Ibid.
Manual Mendeley
Manual 2 dari 2
Panduan Lengkap Mendeley
Instalasi dan penggunaan untuk penulisan karya ilmiah dengan Turabian edisi ke-9 (Full Note) dan Ibid.
Perangkat: Mendeley Reference Manager, Mendeley Cite, dan Microsoft Word
Gaya sitasi: Turabian 9th edition (full note)
Bahasa: Indonesia
Versi dokumen: Oktober 2026
👇 Ketuk judul bab untuk membuka, lalu ketuk subbab. Hanya satu bab (dan satu subbab) terbuka pada satu waktu.
▶ Bab 1 — Pengantar dan Alur Kerja
▶ Bab 2 — Memahami Turabian Edisi ke-9 (Full Note) dan Ibid.
▶ Bab 3 — Instalasi dan Pengaturan Awal
▶ Bab 4 — Memasang Gaya Turabian 9 (Full Note)
▶ Bab 5 — Memasukkan Referensi ke Mendeley
▶ Bab 6 — Mengelola dan Merapikan Library
▶ Bab 7 — Menyisipkan Catatan Kaki di Word dengan Mendeley Cite
▶ Bab 8 — Verifikasi Ibid. dan Pemecahan Masalah
▶ Bab 9 — Daftar Periksa dan Sumber Tambahan
Panduan Mendeley — Turabian 9 (Full Note) dengan Ibid.
Pengumuman Rayon 1
Jalan Sudah Dibuka, Mari Terus Berjalan! (Ibrani 10:19-39)
Tiga Macam Kehidupan (Efesus 2:1-10)
BAHASA INDONESIA Silabus, Kontrak & Bahan Ajar
SEKOLAH TINGGI TEOLOGI KALIMANTAN
BAHASA INDONESIA
Silabus, Kontrak & Bahan Ajar (5 Pertemuan × 200 Menit)
Identitas Mata Kuliah
Program Studi
Teologi dan Pendidikan Agama Kristen (PAK)
Jumlah Pertemuan
5 pertemuan (UTS pada Pertemuan 3 dan UAS pada Pertemuan 5)
Durasi per Pertemuan
Tatap muka: 5 × 200 menit
Tugas terstruktur: 5 × 120 menit
Tugas mandiri: 5 × 120 menit
Tujuan
Mengembangkan kemampuan mahasiswa Teologi dan PAK dalam penulisan dan analisis teks teologi, penulisan akademik, dan keterampilan mengajar agama Kristen, dengan menggunakan Ejaan yang Disempurnakan (EYD) Edisi V, Turabian Notes and Bibliography (catatan kaki, catatan akhir, catatan perut), serta aplikasi Zotero/Mendeley. Pertemuan 1–3 berfokus pada penulisan ilmiah, sedangkan Pertemuan 4–5 berfokus pada keterampilan berbicara.
Deskripsi Mata Kuliah
Bahasa Indonesia (2 SKS) dirancang khusus bagi mahasiswa Teologi dan Pendidikan Agama Kristen (PAK) untuk mengembangkan kemampuan penulisan ilmiah, termasuk analisis teks teologi, serta keterampilan berbicara, terutama dalam pengajaran agama Kristen.
Pembelajaran berfokus pada penggunaan EYD Edisi V dan kaidah kutipan Turabian. Mahasiswa juga dilatih menggunakan aplikasi manajemen referensi Zotero dan Mendeley.
Mata kuliah ini terdiri dari 5 pertemuan intensif berdurasi 200 menit, termasuk UTS dan UAS. Standar kelulusan Kemenag RI adalah nilai minimal B atau 74,00.
Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK)
•Mengembangkan kemampuan penulisan dan analisis teks teologi/pendidikan agama Kristen.
•Mengembangkan kemampuan penulisan akademik.
•Mengembangkan keterampilan berbahasa Indonesia dalam mengajar agama Kristen.
•Menggunakan Ejaan yang Disempurnakan (EYD) Edisi V.
•Menerapkan kaidah Turabian Notes and Bibliography (catatan kaki, catatan akhir, catatan perut).
•Menggunakan Zotero/Mendeley untuk manajemen referensi.
•Mengenali dan menghindari sesat pikir (logical fallacies) dalam argumentasi lisan dan tulisan.
Penilaian
Rentang nilai mengacu pada standar DIKTI (Kemendikbudristek) yang diadopsi perguruan tinggi di bawah Kementerian Agama.
A (91,00–100) — Sangat Baik/Istimewa
AB (81,00–90,99) — Sangat Baik
B (74,00–80,99) — Baik
BC (68,00–73,99) — Cukup Baik
C (60,00–67,99) — Cukup
CD (51,00–59,99) — Kurang Cukup
D (41,00–50,99) — Kurang
E (<40,99) — Tidak Lulus
Aspek Penilaian
Respek (menghormati Allah, Kitab Suci, dosen, sesama mahasiswa, dan proses akademik; kehadiran & partisipasi) — 20%
Tugas Terstruktur dan Mandiri (termasuk Zotero/Mendeley dan Turabian) — 40%
UTS (penulisan ilmiah) — 10%
UAS dan proyek akhir (keterampilan berbicara) — 30%
Standar kelulusan Kemenag RI untuk Prodi PAK dan Teologi: B atau minimal nilai angka 74,00.
Tugas Utama
Tugas Terstruktur Utama
•Menonton dan meringkas satu video panduan EYD V setiap pekan dari https://s.id/Video-EYD-V, dengan mencatat 5 kaidah penting penulisan ilmiah.
•Mempelajari 15 kosakata bidang Teologi/PAK beserta definisi baku dan contoh kalimatnya. Ujian kosakata dilaksanakan pada pertemuan berikutnya.
Pertemuan 1: Pengantar, EYD V, Bahasa Ilmiah, dan Paragraf
Topik
Pengantar mata kuliah, ejaan, ciri bahasa ilmiah, struktur teks akademik, dan penulisan paragraf ilmiah.
Subtopik
•Fungsi bahasa Indonesia dalam teologi (artikel jurnal, analisis teks) dan PAK (pengajaran, penulisan akademik).
•Pengenalan EYD V (mis. Maha Esa terpisah, tanda baca, kata serapan).
•Kosakata baku, kalimat efektif, dan struktur teks ilmiah (pendahuluan, isi, penutup).
•Ide utama dan ide pendukung; konjungsi untuk kohesi paragraf.
Tatap Muka (Total 200 Menit)
- 30 menit: Pengantar silabus, kontrak perkuliahan, dan penilaian.
- 40 menit: Teori EYD V dan latihan mengidentifikasi kesalahan ejaan pada teks teologi/PAK.
- 30 menit: Teori bahasa ilmiah dan struktur teks akademik.
- 40 menit: Latihan menyusun kalimat efektif bertema doktrin teologi (Teologi) atau metode pengajaran (PAK).
- 40 menit: Teori dan latihan menulis paragraf koheren-kohesif.
- 20 menit: Peer review dan diskusi.
Tugas Terstruktur (Total 120 Menit)
- Menginstal PUEBI dan KBBI di ponsel (10% dari total nilai).
- Menyalin daftar isi Skripsi Biblika Eksegesis dan Eksposisi, Skripsi Biblika Studi Kata, Skripsi Sejarah Gereja, dan Skripsi Kualitatif, dengan fokus pada perbedaan penamaan bab dan urutan bagian.
- Menulis 2–3 paragraf ilmiah yang koheren dan kohesif tentang topik Teologi/PAK yang ditentukan dosen.
Tugas Mandiri Pilihan (Total 120 Menit)
- Wawancara singkat (5–10 menit) dengan senior/dosen tentang pentingnya kemampuan berbahasa yang baik; tuliskan transkripnya.
- Menganalisis 5 kesalahan ejaan di media sosial/publik dan membandingkannya dengan kaidah EYD V.
- Membaca satu artikel jurnal teologi/PAK dan mengidentifikasi ciri bahasa ilmiah serta strukturnya.
- Menulis ulang satu paragraf yang kurang kohesif dengan menambahkan konjungsi dan frasa transisi.
Pertemuan 2: Kaidah Turabian dan Manajemen Referensi
Topik
Pengenalan style kutipan di bidang teologi/PAK, kaidah Turabian, serta penggunaan Zotero dan Mendeley.
Subtopik
- Perbandingan style: Turabian Notes and Bibliography (standar STT Kalimantan), SBL (studi Alkitab), APA (umum di PAK), Chicago Author-Date (penelitian sosial-teologi).
- Turabian: catatan kaki, catatan akhir, catatan perut.
- Perbedaan kutipan langsung, parafrase, dan ringkasan.
- Instalasi, fitur dasar, dan integrasi Turabian pada Zotero dan Mendeley.
Tatap Muka (Total 200 Menit)
- 40 menit: Teori style kutipan dan kaidah Turabian.
- 40 menit: Latihan membuat catatan kaki/akhir/perut untuk sumber teologi atau buku PAK.
- 40 menit: Praktik Zotero (pengelolaan library dan pengutipan).
- 40 menit: Praktik Mendeley (pengelolaan library dan daftar pustaka).
- 40 menit: Latihan terpadu dan tanya jawab.
Tugas Terstruktur (Total 120 Menit)
- Menginstal Zotero dan menonton tutorial: https://s.id/Tutorial-Zotero-01
- Menginstal Mendeley dan menonton tutorial: https://s.id/Tutorial-Mendeley-01
- Menambahkan minimal 5 referensi ke Zotero (buku tanpa pengarang; buku tanpa pengarang tetapi diketahui; buku dengan 1 penulis) dan 3 buku ke Mendeley (2 penulis, 3 penulis, lebih dari 3 penulis).
- Menulis esai singkat dengan kutipan Turabian menggunakan Zotero.
Tugas Mandiri Pilihan (Total 120 Menit)
- Mencari contoh kutipan Turabian, SBL, APA, dan Chicago Author-Date (minimal 1 contoh per gaya) dan mencatat perbedaannya.
- Memilih 5 sumber (buku, artikel jurnal, bab buku) dan menyusun catatan kaki serta kepustakaan Turabian secara manual.
- Menemukan 5 catatan kaki pada buku/artikel jurnal teologi/PAK dan mengidentifikasi jenis informasinya.
- Menjelaskan dengan kata sendiri perbedaan kutipan langsung, parafrase, dan ringkasan, disertai contoh.
Pertemuan 3: Esai Ilmiah, Analisis Teks Teologi/PAK, dan UTS
Topik
Struktur esai ilmiah, analisis teks teologi/PAK, serta evaluasi pemahaman penulisan ilmiah (UTS).
Subtopik
- Menyusun tesis utama dan argumen logis untuk esai teologi/PAK.
- Analisis gaya bahasa, struktur, dan logika argumen suatu teks.
- Penerapan catatan kaki Turabian pada analisis teks.
Tatap Muka (Total 200 Menit)
- 30 menit: Teori struktur esai ilmiah (tesis, argumen, kesimpulan).
- 40 menit: Analisis teks artikel jurnal (Teologi) atau silabus PAK (PAK) dengan Zotero/Mendeley.
- 30 menit: Diskusi temuan analisis dan penyusunan kerangka esai.
- 20 menit: Review materi Pertemuan 1–3.
- •80 menit: UTS tertulis (kosakata, paragraf ilmiah, dan esai).
Tugas Terstruktur (Total 120 Menit)
- Menulis draf esai ilmiah teologi/PAK dengan tesis utama, argumen logis, catatan kaki, dan daftar pustaka melalui Zotero/Mendeley.
- Menganalisis satu teks teologi/PAK dari segi bahasa, struktur, dan argumennya.
- Menambahkan 5 referensi ke Zotero dan Mendeley (sumber dari lembaga, gereja, dan persekutuan).
Tugas Mandiri Pilihan (Total 120 Menit)
- Membuat diagram alur pengembangan argumen utama satu artikel jurnal teologi/PAK.
- Membandingkan gaya bahasa teks teologi akademik (jurnal) dengan teks teologi populer (buku rohani).
- Menulis kritik singkat (150–200 kata) tentang kekuatan dan kelemahan argumen satu artikel jurnal.
- Membuat rangkuman 20–30 istilah kunci Pertemuan 1–3 beserta definisinya sebagai persiapan UTS.
Pertemuan 4: Keterampilan Berbicara, Pengajaran, dan Sesat Pikir (Bagian I)
Topik
Dasar berbicara di depan umum, presentasi akademik, dan teknik mengajar dengan bahasa komunikatif dalam konteks Teologi/PAK.
Subtopik
- Struktur presentasi akademik, intonasi, bahasa tubuh, dan bahasa lisan sesuai EYD V.
- Penyusunan slide dengan kutipan Turabian dan teknik menjawab pertanyaan audiens.
- Struktur penyampaian materi pengajaran sesuai audiens.
- Sesat pikir: Ad Hominem, Strawman Fallacy, Argumentum ad Verecundiam, Hasty Generalization, False Dilemma, dan Slippery Slope.
Tatap Muka (Total 200 Menit)
- 40 menit: Teori berbicara akademik dan teknik presentasi.
- 40 menit: Teori enam sesat pikir beserta contoh dalam wacana teologis/gerejawi.
- 60 menit: Simulasi presentasi/pengajaran singkat (mis. pelajaran sekolah minggu, diakonia remaja).
- 40 menit: Analisis transkripsi khotbah (Teologi) atau bahan ajar (PAK) untuk menemukan struktur argumen dan sesat pikir.
- 20 menit: Evaluasi dan umpan balik.
Tugas Terstruktur (Total 120 Menit)
- Melakukan wawancara dengan dosen Teologi/PAK: menentukan tema, menyusun minimal 10 pertanyaan, membuat transkripsi, dan memasukkan data ke Zotero/Mendeley dengan sitasi Turabian. Luaran: daftar pertanyaan, transkrip, tangkapan layar entri referensi, dan foto wawancara.
- Menulis draf presentasi pengajaran dengan catatan kaki Turabian.
- Menambahkan 5 referensi ke Zotero dan Mendeley (wawancara, media sosial, dan aplikasi percakapan).
Tugas Mandiri Pilihan (Total 120 Menit)
Kelompok A: Keterampilan Berbicara (pilih 1 dari 4)
- Menonton video ceramah/khotbah pembicara efektif dan menganalisis intonasi, bahasa tubuh, serta strukturnya.
- Membuat draf pembukaan (1–2 menit) presentasi yang menarik perhatian dan memancarkan otoritas.
- Menyiapkan 3–5 pertanyaan sulit terkait topik presentasi dan melatih jawaban singkat yang jelas.
- Memilih satu topik Teologi/PAK dan membuat mini-outline rencana pengajaran (tujuan, poin utama, evaluasi).
Kelompok B: Sesat Pikir (pilih 1 dari 2)
- Menganalisis artikel/video perdebatan kontemporer dan mengidentifikasi minimal satu Ad Hominem dan satu Strawman, disertai rekonstruksi argumen yang benar.
- Mengidentifikasi 3 argumen teologis/PAK yang sering didengar, menilai risiko sesat pikirnya (Verecundiam, Hasty Generalization, False Dilemma, Slippery Slope), dan memberikan koreksinya.
Masuk ke Bahan Ajar →
Pertemuan 5: Penyempurnaan, Sesat Pikir (Bagian II), dan UAS
Topik
Penyempurnaan keterampilan berbicara, review seluruh materi, presentasi proyek akhir, dan Ujian Akhir Semester (UAS).
Subtopik
- Revisi presentasi, identifikasi redundansi, dan penggunaan alat bantu visual dengan kutipan presisi.
- Sesat pikir: Begging the Question, Argumentum ad Ignorantiam, Red Herring, Argumentum ad Populum, Argumentum ad Antiquitatem, Tu Quoque, Argumentum ex Silentio, dan Amphiboly.
- Review komprehensif Pertemuan 1–4.
Tatap Muka (Total 200 Menit)
- 30 menit: Teori delapan sesat pikir lanjutan dan review keempat belas sesat pikir.
- 20 menit: Review EYD V, Turabian, dan Zotero/Mendeley.
- 60 menit: Presentasi proyek akhir (mengajar sekolah minggu, individu) dengan umpan balik rekan mahasiswa.
- 90 menit: UAS tertulis (analisis teks teologi/PAK, soal esai penulisan/berbicara, dan penalaran bebas sesat pikir).
Tugas Terstruktur (Total 120 Menit)
- Menambahkan 5 referensi ke Zotero dan Mendeley (majalah/koran, artikel daring, presentasi daring, program komputer, diktat, skripsi, tesis, dan disertasi).
- Menulis refleksi (150–200 kata) tentang perkembangan kompetensi menulis dan berbicara selama perkuliahan, dengan contoh konkret penghindaran sesat pikir dan penggunaan Turabian.
- Memfinalisasi proyek akhir dan memastikan seluruh referensinya sesuai Turabian.
Tugas Mandiri Pilihan (Total 120 Menit)
- Menonton kembali rekaman presentasi sendiri dan menganalisis kekuatan serta kelemahannya.
- Melatih bahasa tubuh (kontak mata, gestur, postur) di depan cermin atau melalui rekaman diri.
- Mencari 2 skenario perdebatan gerejawi dan mengidentifikasi satu Red Herring serta satu Argumentum ad Populum.
- Membuat kerangka jawaban untuk beberapa kemungkinan soal esai UAS dengan argumentasi bebas sesat pikir dan kutipan Turabian yang presisi.
Catatan Penting
Metode Pembelajaran
Kombinasi ceramah, latihan praktik, simulasi, diskusi, dan peer review.
Sumber Belajar
- Ejaan yang Disempurnakan (EYD) Edisi V — ejaan.kemdikbud.go.id
- A Manual for Writers of Research Papers, Theses, and Dissertations oleh Kate L. Turabian (edisi terbaru)
- Teks teologi/PAK (artikel jurnal, silabus PAK)
- Tutorial Zotero dan Mendeley untuk Turabian/SBL/APA/Chicago
- Contoh artikel jurnal (Teologi) dan rencana pelajaran PAK
tpb2-eskhatologi
Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan
Eskhatologi dalam Surat-surat Perjanjian Baru
Kedatangan Kristus, Kebangkitan Tubuh, dan Pengharapan Akhir Zaman
Surat-surat Paulus, Ibrani, Yakobus, Petrus, dan Yudas
Teologi Perjanjian Baru 2 (DTh-137.206)
Pdt. D. Horatius Herman, M.Th.
Pdt. D. Horatius Herman, M.Th.
Petunjuk: ketuk judul setiap bagian untuk membuka atau menutup uraiannya. Ketuk angka kecil di atas kata untuk melihat catatan kaki di dasar bagian itu.
Pendahuluan
Pertemuan 1 sampai 4 menelusuri siapa Kristus, apa yang Ia kerjakan bagi keselamatan manusia, bagaimana Roh Kudus menerapkan karya itu, dan menjadi apakah orang-orang yang telah diselamatkan dan diberi Roh itu bersama-sama sebagai gereja. Pertemuan ini menutup rangkaian tema dengan bertanya: ke arah manakah seluruh karya Allah ini menuju? Eskhatologi (dari ἔσχατος, “yang terakhir”) membahas kedatangan Kristus yang kedua, kebangkitan tubuh, penghakiman, dan pengharapan akan langit dan bumi yang baru sebagaimana disaksikan dalam surat-surat Perjanjian Baru.
Sebelum membaca teks-teksnya, Pelajaran ini terlebih dahulu memperkenalkan empat pendekatan penafsiran yang lazim dipakai dalam eskhatologi Kristen, sebab pendekatan yang dipilih seorang penafsir memengaruhi caranya membaca bahasa simbolis dan nubuat dalam surat-surat ini. Pembahasan kemudian dibatasi pada empat tema: perkembangan dari pengharapan akan kedatangan yang segera menuju kesadaran akan kedatangan yang tertunda; pertanyaan tentang kebangkitan yang bersifat korporat dan kebangkitan yang dialami secara pribadi oleh orang percaya yang meninggal sebelum kedatangan Kristus; penghakiman terakhir; dan pengharapan akan dunia yang baru.
| Dua pokok Pelajaran ini |
|---|
| Perkembangan Pengharapan dan Kebangkitan Dari “kedatangan yang segera” menuju “kedatangan yang tertunda”; kebangkitan korporat/Massal (1 Tesalonika, 1 Korintus) dan pertanyaan tentang pengalaman pribadi orang percaya yang meninggal sebelum kedatangan Kristus (Kebangkitan Parsial, 2 Korintus 5:1). |
| Penghakiman dan Pengharapan Dunia Baru Penghakiman terakhir atas semua orang, dan pengharapan akan langit dan bumi yang baru sebagai tujuan akhir karya Allah. |
Setiap tema ditelusuri melalui surat-surat Paulus — mulai dari surat-surat yang paling awal seperti 1 dan 2 Tesalonika, melalui 1 dan 2 Korintus dan Roma, sampai kepada surat-surat penjara dan surat-surat penggembalaan — serta melalui Ibrani, Yakobus, Petrus, dan Yudas. Dengan cara ini kesatuan sekaligus perkembangan kesaksian Perjanjian Baru tentang pengharapan akhir dapat terlihat.
1. Latar Diskusi Para Pakar
Sebelum menelusuri teks-teksnya, ada baiknya mengenal empat pendekatan yang lazim dipakai untuk menafsirkan bahasa nubuat dan apokaliptik dalam Perjanjian Baru, khususnya bagian-bagian yang berbicara tentang “manusia durhaka”, “hari Tuhan”, dan peristiwa-peristiwa akhir zaman. Keempat pendekatan ini biasanya dibahas sehubungan dengan Kitab Wahyu, tetapi prinsip-prinsipnya turut memengaruhi cara membaca bagian-bagian nubuat dalam surat-surat seperti 2 Tesalonika 2 dan 2 Petrus 3.
| Empat pendekatan penafsiran nubuat |
|---|
| Futuris Sebagian besar nubuat akhir zaman menunjuk pada peristiwa-peristiwa yang belum terjadi dan akan digenapi menjelang kedatangan Kristus yang kedua. |
| Preteris — Penuh (Full) Nubuat-nubuat itu sudah sepenuhnya tergenapi pada abad pertama, termasuk kedatangan Kristus dan kebangkitan orang mati, sehingga tidak ada lagi peristiwa akhir zaman yang masih dinantikan secara harfiah pada masa depan. |
| Preteris — Sebagian (Partial) Sebagian besar nubuat tergenapi pada abad pertama, terutama berkaitan dengan keruntuhan Yerusalem tahun 70 M, tetapi hari Tuhan, kedatangan Kristus yang kedua, dan kebangkitan orang mati tetap dipahami sebagai peristiwa yang masih akan datang. |
| Historis Nubuat itu menggambarkan secara garis besar perjalanan sejarah gereja dari zaman para rasul sampai kepada kedatangan Kristus yang kedua, dengan setiap bagian nubuat sesuai dengan satu periode sejarah tertentu. |
| Idealis Bahasa nubuat itu bersifat simbolis dan menggambarkan pergumulan yang berulang antara kebaikan dan kejahatan sepanjang zaman, tanpa dimaksudkan untuk dipetakan pada satu rangkaian peristiwa historis tertentu, baik yang sudah maupun yang akan terjadi.1 |
Perbedaan pendekatan ini penting diketahui sebab akan memengaruhi cara seorang penafsir membaca teks-teks seperti “manusia durhaka” dalam 2 Tes. 2 atau bahasa “langit yang lenyap dengan gemuruh” dalam 2 Pet. 3: apakah sebagai peristiwa yang sudah terjadi pada abad pertama (preteris), yang masih akan terjadi menjelang akhir zaman (futuris), yang tergambar sepanjang sejarah gereja (historis), atau sebagai gambaran simbolis pergumulan rohani yang berulang (idealis). Pelajaran ini secara umum condong pada pembacaan futuris yang lazim dipegang kalangan evangelikal untuk peristiwa-peristiwa inti — kedatangan Kristus, kebangkitan, dan penghakiman — tanpa menutup diskusi lebih lanjut tentang bagian-bagian yang lebih simbolis.
Setelah kerangka penafsiran itu, diskusi modern tentang eskhatologi Perjanjian Baru masih berkisar pada pertanyaan sejauh mana Kerajaan Allah sudah hadir dan sejauh mana masih akan datang. Albert Schweitzer, pada awal abad kedua puluh, berargumen bahwa Yesus dan jemaat mula-mula meyakini kedatangan Kerajaan Allah sudah sangat dekat, bahkan akan terjadi dalam masa hidup generasi mereka sendiri — pandangan yang disebutnya “eskhatologi yang konsisten” (consistent/thoroughgoing eschatology), dengan etika Yesus sebagai “etika sementara” (interim ethic) yang hanya masuk akal bagi orang yang meyakini waktu yang tersisa sangat singkat.2
C. H. Dodd menempuh arah yang berlawanan dengan menekankan “eskhatologi yang telah terealisasi” (realized eschatology): Kerajaan Allah, menurutnya, sudah hadir secara penuh di dalam pelayanan Yesus, dan bahasa tentang kedatangan yang akan datang sebagian besar bersifat simbolis bagi kenyataan yang sudah tergenapi.3
George Eldon Ladd mengajukan sintesis yang menjadi rujukan luas di kalangan evangelikal, dikenal sebagai pola “sudah, tetapi belum” (already/not yet): Kerajaan Allah sudah masuk ke dalam sejarah melalui pelayanan, kematian, dan kebangkitan Kristus, tetapi penggenapan penuhnya masih menanti kedatangan-Nya yang kedua.
Kutipan Pakar
“to expound how and in what sense the eschatological Kingdom has become a present reality in Jesus’ mission”4
Terjemahan bebas: menguraikan bagaimana dan dalam pengertian apa Kerajaan eskhatologis telah menjadi kenyataan masa kini di dalam pelayanan Yesus.
— George Eldon Ladd, The Presence of the Future, xii
Pola “sudah, tetapi belum” inilah yang menjadi kerangka umum bagi pembahasan tentang perkembangan pengharapan “segera” dan “tertunda” pada bagian berikut.
Berkaitan dengan waktu “pengangkatan” orang percaya dibandingkan dengan masa kesengsaraan akhir zaman, sebagian penafsir dispensasionalis membela pandangan pra-tribulasi, sedangkan Ladd sendiri membela pandangan pasca-tribulasi.5 Berkaitan dengan masa seribu tahun (Why. 20, di luar korpus Pertemuan ini), Anthony Hoekema membela posisi amilenial, yang memahami pemerintahan Kristus sebagai kenyataan rohani yang sedang berlangsung sekarang:
Kutipan Pakar
“realized millennialism”6
Terjemahan bebas: milenialisme yang telah terealisasi.
— Anthony A. Hoekema, The Bible and the Future, 173
N. T. Wright menekankan pokok yang berbeda: bahwa pengharapan Kristen sejati bukan “pergi ke sorga” sebagai keadaan akhir, melainkan kebangkitan tubuh pada langit dan bumi yang baru, sesudah masa antara bersama Kristus:
Kutipan Pakar
“life after life after death”7
Terjemahan bebas: hidup sesudah hidup sesudah kematian.
— N. T. Wright, Surprised by Hope, 151
| Peta posisi para pakar |
|---|
| Albert Schweitzer Yesus dan jemaat mula-mula meyakini kedatangan Kerajaan Allah sudah sangat dekat; etika Yesus adalah “etika sementara”. |
| C. H. Dodd Kerajaan Allah sudah hadir secara penuh (“eskhatologi yang terealisasi”); bahasa kedatangan bersifat simbolis. |
| George Eldon Ladd Pola “sudah, tetapi belum”: Kerajaan sudah masuk sejarah, tetapi penggenapan penuh masih akan datang; membela pasca-tribulasi. |
| Anthony A. Hoekema Amilenial: pemerintahan Kristus sedang berlangsung secara rohani sekarang, bukan masa seribu tahun literal yang akan datang. |
| N. T. Wright Pengharapan Kristen adalah kebangkitan tubuh pada langit dan bumi baru, bukan sekadar “pergi ke sorga”. |
Pelajaran ini mengikuti pola “sudah, tetapi belum” dari Ladd sebagai kerangka umum, dan pendekatan futuris sebagai kecenderungan umum bagi peristiwa-peristiwa inti, sambil menyajikan teks-teks yang relevan bagi perdebatan lain tanpa menuntaskannya, sebab sebagian bergantung pada pembacaan Wahyu 20, yang berada di luar korpus Pertemuan ini.
Catatan Kaki
1. Steve Gregg, ed., Revelation: Four Views: A Parallel Commentary, rev. ed. (Nashville: Thomas Nelson, 1997), 32–45. ↩
2. Albert Schweitzer, The Quest of the Historical Jesus: A Critical Study of Its Progress from Reimarus to Wrede, trans. W. Montgomery (London: A. & C. Black, 1910), 368–401. ↩
3. C. H. Dodd, The Parables of the Kingdom, rev. ed. (London: Nisbet, 1961), 34–35. ↩
4. George Eldon Ladd, The Presence of the Future: The Eschatology of Biblical Realism, rev. ed. (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1974), xii. ↩
5. George Eldon Ladd, The Blessed Hope: A Biblical Study of the Second Advent and the Rapture (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1956). ↩
6. Anthony A. Hoekema, The Bible and the Future (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1979), 173–74. ↩
7. N. T. Wright, Surprised by Hope: Rethinking Heaven, the Resurrection, and the Mission of the Church (New York: HarperOne, 2008), 148–56. ↩
2. Dari Kedatangan yang Segera menuju Kedatangan yang Tertunda
Perkembangan dari Pengharapan Kedatangan yang Segera menuju Kesadaran akan Kedatangan yang Tertunda
1 Tesalonika: “Kita yang Hidup, yang Masih Tinggal”
Teks Kunci — 1 Tes. 4:15
ἐροῦμεν ὑμῖν ἐν λόγῳ κυρίου, ὅτι ἡμεῖς οἱ ζῶντες οἱ περιλειπόμενοι εἰς τὴν παρουσίαν τοῦ κυρίου οὐ μὴ φθάσωμεν τοὺς κοιμηθέντας.
“kami katakan kepadamu sebagai firman Tuhan: kita yang hidup, yang masih tinggal sampai kedatangan Tuhan, sekali-kali tidak akan mendahului mereka yang telah meninggal.” (terjemahan bebas)
Dalam salah satu surat Paulus yang paling awal ini, ia berulang kali menempatkan dirinya sendiri di antara “kita yang hidup, yang masih tinggal” (ἡμεῖς οἱ ζῶντες οἱ περιλειπόμενοι) sampai kedatangan Tuhan (ay. 15, 17). Bahasa orang pertama jamak ini menunjukkan pengharapan yang hidup dan mendesak: Paulus menulis seolah-olah kedatangan Kristus bisa saja terjadi dalam masa hidupnya sendiri, tanpa memastikan hal itu maupun menyangkalnya secara eksplisit.
1 Kor. 15:51–52, yang telah dibahas pada bagian berikut, memakai pola bahasa yang serupa — “kita tidak akan mati semuanya, tetapi kita semuanya akan diubah” — sekali lagi menempatkan penulis dan pembaca di antara mereka yang mungkin masih hidup pada saat kedatangan itu.
2 Tesalonika: Meluruskan Kesalahpahaman tentang Kedekatan Hari Tuhan
Teks Kunci — 2 Tes. 2:1–2
ἐρωτῶμεν δὲ ὑμᾶς, ἀδελφοί … εἰς τὸ μὴ ταχέως σαλευθῆναι ὑμᾶς ἀπὸ τοῦ νοὸς μηδὲ θροεῖσθαι … ὡς ὅτι ἐνέστηκεν ἡ ἡμέρα τοῦ κυρίου.
“kami minta kepadamu, saudara-saudara … supaya kamu jangan lekas bingung dan tergoncang … seolah-olah hari Tuhan telah tiba.” (terjemahan bebas)
Tidak lama sesudah surat pertama, Paulus menulis surat kedua untuk meluruskan kesalahpahaman: sebagian jemaat Tesalonika rupanya menyimpulkan dari ajarannya sendiri bahwa hari Tuhan sudah tiba. Ia menjelaskan bahwa dua tanda harus terjadi lebih dahulu — kemurtadan dan penyataan “manusia durhaka” (telah dibahas pada bagian Penghakiman) — sebelum hari itu tiba. Surat ini memperlihatkan bahwa ketegangan antara pengharapan yang mendesak dan kebutuhan akan penjelasan yang lebih berhati-hati sudah muncul sangat awal dalam sejarah jemaat.
Surat-surat Penggembalaan: Pergeseran Penekanan
Pada surat-surat penggembalaan, yang ditulis pada periode pelayanan Paulus yang lebih belakangan, nada mendesak seperti dalam 1 Tesalonika tidak lagi menonjol. Perhatian bergeser kepada pengajaran yang sehat (διδασκαλία ὑγιαίνουσα, mis. 1 Tim. 1:10; 2 Tim. 4:3) dan suksesi kepemimpinan jemaat (telah dibahas dalam Pelajaran Ekklesiologi), meskipun pengharapan akan ἐπιφάνεια Kristus tetap ditegaskan (1 Tim. 6:14; 2 Tim. 4:1, 8; Tit. 2:13). 1 Tim. 4:1 menyebut “zaman akhir” (ὕστεροι καιροί) sebagai kerangka waktu yang lebih luas, tanpa penekanan pada kedekatan yang segera seperti dalam surat-surat Tesalonika.
2 Petrus 3: Menjawab Pengejek tentang Penundaan
Teks Kunci — 2 Pet. 3:3–4
τοῦτο πρῶτον γινώσκοντες ὅτι ἐλεύσονται ἐπ᾽ ἐσχάτων τῶν ἡμερῶν [ἐν] ἐμπαιγμονῇ ἐμπαῖκται … λέγοντες· ποῦ ἐστιν ἡ ἐπαγγελία τῆς παρουσίας αὐτοῦ; ἀφ᾽ ἧς γὰρ οἱ πατέρες ἐκοιμήθησαν, πάντα οὕτως διαμένει ἀπ᾽ ἀρχῆς κτίσεως.
“yang terutama harus kamu ketahui ialah, bahwa pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek … dan mengatakan: Mana janji tentang kedatangan-Nya itu? Sebab sejak nenek moyang kita meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula, sejak permulaan ciptaan.” (terjemahan bebas)
Pada tahap kesaksian Perjanjian Baru yang paling belakangan, penundaan kedatangan Kristus telah menjadi begitu panjang sehingga muncul pengejek-pengejek yang secara terbuka meragukan janji itu, dengan alasan bahwa dunia tampak berjalan seperti biasa sejak semula. 2 Petrus menjawab keberatan ini secara langsung — bukan dengan menyangkal penundaan itu, melainkan dengan menjelaskan maknanya:
Teks Kunci — 2 Pet. 3:8–9
μία ἡμέρα παρὰ κυρίῳ ὡς χίλια ἔτη καὶ χίλια ἔτη ὡς ἡμέρα μία. οὐ βραδύνει κύριος τῆς ἐπαγγελίας … ἀλλὰ μακροθυμεῖ εἰς ὑμᾶς, μὴ βουλόμενός τινας ἀπολέσθαι ἀλλὰ πάντας εἰς μετάνοιαν χωρῆσαι.
“satu hari bagi Tuhan sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari. Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya … tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” (terjemahan bebas)
Ayat ini menegaskan bahwa penundaan itu bukan kelalaian Allah, melainkan kesabaran-Nya yang bertujuan menyelamatkan sebanyak mungkin orang. Dengan demikian, dari 1 Tesalonika sampai 2 Petrus, tampak sebuah perkembangan yang jujur dalam kesaksian Perjanjian Baru: dari pengharapan yang mendesak dan langsung, melalui koreksi terhadap kesalahpahaman tentang kedekatannya, sampai kepada penjelasan teologis yang matang tentang makna penundaan itu sendiri — tanpa satu pun tahap yang menyangkal kepastian bahwa Kristus akan datang.
Pola yang tampak
Perkembangan ini tidak boleh dibaca sebagai bukti bahwa pengharapan awal jemaat keliru dan kemudian “diperbaiki”, sebagaimana diandaikan pembacaan Schweitzer, melainkan sebagai kematangan pastoral: jemaat mula-mula diajar untuk hidup dalam kesiapan yang sungguh-sungguh tanpa memastikan tanggal, dan ketika penundaan itu menimbulkan pertanyaan yang wajar, para penulis Perjanjian Baru menjawabnya dengan penjelasan teologis yang mendalam tentang watak Allah yang sabar, bukan dengan menyangkal pengharapan itu sendiri.
3. Kebangkitan: Korporat dan Pengalaman Pribadi
Kebangkitan yang Korporat dan Pertanyaan tentang Pengalaman Pribadi sebelum Kedatangan Kristus
1 Tesalonika, 1 Korintus, Filipi, dan Kolose: Kebangkitan sebagai Peristiwa Bersama
Teks Kunci — 1 Tes. 4:16–17
ὅτι αὐτὸς ὁ κύριος ἐν κελεύσματι, ἐν φωνῇ ἀρχαγγέλου καὶ ἐν σάλπιγγι θεοῦ καταβήσεται ἀπ᾽ οὐρανοῦ, καὶ οἱ νεκροὶ ἐν Χριστῷ ἀναστήσονται πρῶτον· ἔπειτα ἡμεῖς οἱ ζῶντες οἱ περιλειπόμενοι ἅμα σὺν αὐτοῖς ἁρπαγησόμεθα ἐν νεφέλαις εἰς ἀπάντησιν τοῦ κυρίου εἰς ἀέρα.
“sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati di dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka di dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa.” (terjemahan bebas)
Gambaran kebangkitan dalam 1 Tesalonika bersifat korporat dan serentak: seluruh orang percaya yang telah mati “di dalam Kristus” dibangkitkan bersama-sama pada satu momen kedatangan Tuhan, diikuti oleh mereka yang masih hidup, yang “diangkat” (ἁρπαγησόμεθα) bersama-sama εἰς ἀπάντησιν (“menyongsong kedatangan”) Tuhan. Tidak ada seorang pun yang mendahului atau mengalaminya secara terpisah; semuanya terjadi ἅμα, “bersama-sama”, pada satu peristiwa yang sama.
1 Korintus 15:51–52 memakai pola yang sama: “kita tidak akan mati semuanya, tetapi kita semuanya akan diubah, dalam sekejap mata, pada tiupan sangkakala yang terakhir”. Filipi 3:20–21 dan Kolose 3:4 juga melukiskan perubahan tubuh sebagai peristiwa korporat yang terjadi pada saat Kristus menyatakan diri-Nya, tanpa membedakan pengalaman satu orang percaya dari yang lain.
2 Korintus 5:1–10: Pengalaman Pribadi dan Perdebatan Moule–Harris
Teks Kunci — 2 Kor. 5:1
Οἴδαμεν γὰρ ὅτι ἐὰν ἡ ἐπίγειος ἡμῶν οἰκία τοῦ σκήνους καταλυθῇ, οἰκοδομὴν ἐκ θεοῦ ἔχομεν, οἰκίαν ἀχειροποίητον αἰώνιον ἐν τοῖς οὐρανοῖς.
“Sebab kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia.” (terjemahan bebas)
2 Korintus ditulis belakangan, sesudah Paulus mengalami bahaya maut yang nyata di Asia (2 Kor. 1:8–9, “kami merasa telah menerima hukuman mati … supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri sendiri, tetapi pada Allah yang membangkitkan orang mati”). Dalam terang pengalaman itu, 2 Kor. 5:1–10 berbicara tentang kemungkinan kematian pribadi sebelum kedatangan Kristus dengan nada yang berbeda dari 1 Tesalonika: “kemah” (σκῆνος) tubuh sekarang dapat “dibongkar” (καταλυθῇ) kapan saja, dan Paulus menyatakan keyakinan akan “tempat kediaman dari Allah” yang telah tersedia, digambarkan sebagai bangunan kekal di sorga.
Teks Kunci — 2 Kor. 5:8
θαρροῦμεν δὲ καὶ εὐδοκοῦμεν μᾶλλον ἐκδημῆσαι ἐκ τοῦ σώματος καὶ ἐνδημῆσαι πρὸς τὸν κύριον.
“Sebab itu hati kami tetap yakin dan tahu, bahwa kami lebih suka meninggalkan tubuh ini dan menetap bersama-sama dengan Tuhan.” (terjemahan bebas)
Berbeda dari 1 Tes. 4, yang berfokus pada peristiwa kebangkitan korporat pada kedatangan Kristus, bagian ini berbicara tentang pengalaman pribadi orang percaya yang meninggal: “meninggalkan tubuh” dan segera “menetap bersama-sama dengan Tuhan” (πρὸς τὸν κύριον). Para penafsir berbeda pendapat tentang bagaimana menghubungkan kedua bagian ini.
C. F. D. Moule mengajukan bahwa terjadi perkembangan dalam pemikiran Paulus sendiri: dalam 1 Kor. 15, menurutnya, Paulus membayangkan “pertukaran” (exchange) — tubuh fana ditanggalkan dan digantikan tubuh rohani hanya pada momen kebangkitan korporat — tetapi dalam 2 Kor. 5, sesudah menghadapi kefanaannya sendiri secara langsung, Paulus mengembangkan pemikiran itu menjadi gagasan “pengenaan” (investiture) yang lebih segera: tubuh rohani itu entah bagaimana sudah tersedia bagi orang percaya yang meninggal sebelum kedatangan Kristus, tanpa harus menunggu peristiwa korporat itu.8
Murray Harris menanggapi dengan lebih berhati-hati. Ia meneliti tiga persoalan yang muncul dari 2 Kor. 5 — hubungan pribadi Paulus dengan parousia, saat penerimaan tubuh rohani, dan keadaan orang percaya yang telah meninggal — dan menyimpulkan bahwa 2 Kor. 5 tidak harus dibaca sebagai penolakan terhadap pengajaran 1 Tes. 4 dan 1 Kor. 15, melainkan sebagai jawaban atas pertanyaan yang berbeda: apa yang terjadi pada orang percaya secara pribadi pada saat kematian, sebelum kebangkitan korporat itu sendiri terjadi.9 Dalam karyanya yang lebih luas, Harris menggambarkan keadaan antara itu sebagai semacam “pemberian pakaian tambahan” (superinvestiture) sementara, yang tetap menantikan penggenapan penuh pada kebangkitan tubuh yang sesungguhnya.10
Terlepas dari perbedaan itu, kedua penafsir sepakat bahwa 2 Kor. 5:1–10 tidak dapat dipisahkan sepenuhnya dari kerangka kebangkitan korporat dalam 1 Tes. 4 dan 1 Kor. 15: yang berbeda ialah sudut pandangnya — 1 Tes. 4 dan 1 Kor. 15 berbicara tentang peristiwa kebangkitan yang akan terjadi bersama-sama pada kedatangan Kristus, sedangkan 2 Kor. 5 berbicara tentang pengalaman pribadi orang percaya pada rentang waktu antara kematiannya dan peristiwa korporat itu.
Teks Kunci — 2 Kor. 5:10
τοὺς γὰρ πάντας ἡμᾶς φανερωθῆναι δεῖ ἔμπροσθεν τοῦ βήματος τοῦ Χριστοῦ.
“Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus.” (terjemahan bebas)
Ayat 10 menutup bagian ini dengan menghubungkan pengharapan pribadi itu kembali kepada kerangka korporat: pada akhirnya πάντες (“kita semua”) akan menghadap βῆμα (“takhta pengadilan”) Kristus — tema yang menjadi jembatan menuju bagian berikut tentang penghakiman.
Catatan Kaki
8. C. F. D. Moule, “St Paul and Dualism: The Pauline Conception of Resurrection,” New Testament Studies 12, no. 2 (1966): 106–23. ↩
9. Murray J. Harris, “2 Corinthians 5:1–10: Watershed in Paul’s Eschatology?,” Tyndale Bulletin 22 (1971): 32–57. ↩
10. Murray J. Harris, Raised Immortal: Resurrection and Immortality in the New Testament (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1985), 98–103. ↩
4. Penghakiman
Penghakiman Terakhir bagi Semua Orang
2 Tesalonika: Kelegaan bagi yang Teraniaya, Pembalasan bagi yang Menolak Injil
Teks Kunci — 2 Tes. 1:7–8
ἐν ἀποκαλύψει τοῦ κυρίου Ἰησοῦ ἀπ᾽ οὐρανοῦ μετ᾽ ἀγγέλων δυνάμεως αὐτοῦ ἐν πυρὶ φλογός, διδόντος ἐκδίκησιν τοῖς μὴ εἰδόσιν θεὸν καὶ τοῖς μὴ ὑπακούουσιν τῷ εὐαγγελίῳ.
“pada waktu Tuhan Yesus dari sorga menyatakan diri-Nya bersama malaikat-malaikat-Nya, dalam kuasa-Nya dan di dalam api yang bernyala-nyala, untuk mengadakan pembalasan terhadap mereka yang tidak mau mengenal Allah dan tidak mentaati Injil.” (terjemahan bebas)
2 Tesalonika 1:5–10 menempatkan penghakiman sebagai bagian dari kedatangan Kristus yang sama: bagi jemaat yang teraniaya, kedatangan itu membawa kelegaan (ay. 7), sedangkan bagi mereka yang menolak Injil, kedatangan itu membawa pembalasan dan “kebinasaan selama-lamanya” (ay. 9), dijauhkan dari hadirat Tuhan.
Ibrani: Dua Kedatangan Kristus dan Kerajaan yang Tidak Tergoncangkan
Teks Kunci — Ibr. 9:27
καὶ καθ᾽ ὅσον ἀπόκειται τοῖς ἀνθρώποις ἅπαξ ἀποθανεῖν, μετὰ δὲ τοῦτο κρίσις.
“Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi.” (terjemahan bebas)
Ibrani 9:27–28 menyejajarkan pola kematian-dan-penghakiman yang berlaku bagi setiap manusia dengan dua “kedatangan” Kristus: yang pertama untuk menanggung dosa banyak orang, dan yang kedua — χωρὶς ἁμαρτίας, “tanpa menanggung dosa”, sebab tugas itu sudah selesai — untuk membawa keselamatan penuh bagi mereka yang menantikan-Nya.
Teks Kunci — Ibr. 12:28–29
διὸ βασιλείαν ἀσάλευτον παραλαμβάνοντες ἔχωμεν χάριν … καὶ γὰρ ὁ θεὸς ἡμῶν πῦρ καταναλίσκον.
“Karena itu, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur … sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan.” (terjemahan bebas)
Ibrani 12:25–29 menempatkan penghakiman akhir dalam bahasa “goncangan” kosmis, mengutip Hag. 2:6, yang akan menyingkirkan segala sesuatu yang dapat digoncangkan supaya yang tidak dapat digoncangkan — Kerajaan Allah — tinggal tetap.
Yakobus dan Yudas: Hakim yang Berdiri di Ambang Pintu
Teks Kunci — Yak. 5:9
μὴ στενάζετε, ἀδελφοί, κατ᾽ ἀλλήλων, ἵνα μὴ κριθῆτε· ἰδοὺ ὁ κριτὴς πρὸ τῶν θυρῶν ἕστηκεν.
“Janganlah kamu bersungut-sungut, saudara-saudara, seorang terhadap seorang, supaya kamu jangan dihukum: sesungguhnya, Hakim telah berdiri di ambang pintu.” (terjemahan bebas)
Yakobus menghadirkan Hakim yang sudah “berdiri di ambang pintu” sebagai dasar bagi nasihat etis yang sangat praktis: cara jemaat memperlakukan satu sama lain sehari-hari dilihat dalam terang penghakiman yang sudah dekat.
Teks Kunci — Yud. 14–15
ἰδοὺ ἦλθεν κύριος ἐν ἁγίαις μυριάσιν αὐτοῦ, ποιῆσαι κρίσιν κατὰ πάντων.
“Sesungguhnya, Tuhan akan datang dengan beribu-ribu orang kudus-Nya untuk menghakimi semua orang.” (terjemahan bebas)
Yudas mengutip nubuat Henokh — dipakai di sini sebagai penguat retoris, bukan sebagai penambahan pada kanon — tentang kedatangan Tuhan untuk menghakimi semua orang, ditujukan khusus kepada para pengajar sesat yang telah disinggung sepanjang surat itu.
5. Pengharapan Dunia Baru
Pengharapan akan Langit dan Bumi yang Baru
Roma 8: Pembebasan Seluruh Ciptaan
Teks Kunci — Rm. 8:19, 21
ἡ γὰρ ἀποκαραδοκία τῆς κτίσεως τὴν ἀποκάλυψιν τῶν υἱῶν τοῦ θεοῦ ἀπεκδέχεται. … ὅτι καὶ αὐτὴ ἡ κτίσις ἐλευθερωθήσεται ἀπὸ τῆς δουλείας τῆς φθορᾶς εἰς τὴν ἐλευθερίαν τῆς δόξης τῶν τέκνων τοῦ θεοῦ.
“Sebab penantian yang sungguh-sungguh dari segala makhluk adalah penantian akan penyataan anak-anak Allah. … bahwa makhluk itu sendiri akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah.” (terjemahan bebas)
Roma 8:18–25 memperluas pengharapan akhir zaman melampaui manusia: seluruh ciptaan (κτίσις) mengeluh dan menantikan pembebasannya sendiri dari “perbudakan kebinasaan”. Pengharapan Kristen, dengan demikian, bersifat kosmis — bukan pelarian dari dunia material, melainkan pembebasan dan pemuliaan dunia itu sendiri bersama-sama dengan anak-anak Allah.
2 Petrus 3 dan 1 Petrus 1: Langit Baru, Bumi Baru, dan Warisan yang Kekal
Teks Kunci — 2 Pet. 3:10
ἥξει δὲ ἡμέρα κυρίου ὡς κλέπτης, ἐν ᾗ οἱ οὐρανοὶ ῥοιζηδὸν παρελεύσονται, στοιχεῖα δὲ καυσούμενα λυθήσεται, καὶ γῆ καὶ τὰ ἐν αὐτῇ ἔργα εὑρεθήσεται.
“Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap.” (terjemahan bebas)
Sesudah menjawab para pengejek tentang penundaan kedatangan Kristus (telah dibahas pada bagian sebelumnya), 2 Petrus 3 melukiskan puncak dari hari Tuhan dengan bahasa pembakaran kosmis yang dahsyat. Namun tujuan akhirnya bukan kehancuran semata, melainkan pembaruan:
Teks Kunci — 2 Pet. 3:13
καινοὺς δὲ οὐρανοὺς καὶ γῆν καινὴν κατὰ τὸ ἐπάγγελμα αὐτοῦ προσδοκῶμεν, ἐν οἷς δικαιοσύνη κατοικεῖ.
“Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran.” (terjemahan bebas)
καινοὶ οὐρανοὶ καὶ γῆ καινή (“langit baru dan bumi baru”) menjadi tempat kediaman δικαιοσύνη (“kebenaran”) — gema dari pengharapan Rm. 8 bahwa seluruh ciptaan akan dibebaskan dan dipenuhi kebenaran, bukan sekadar dimusnahkan. Ayat 11 menarik kesimpulan etis yang tegas dari pengharapan ini: “Jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup.”
1 Pet. 1:3–4 melengkapi gambaran ini dengan menyebut warisan orang percaya sebagai ἄφθαρτος καὶ ἀμίαντος καὶ ἀμάραντος (“tidak dapat binasa, tidak dapat cemar, tidak dapat layu”), yang “tersimpan” di sorga — pengharapan yang sama akan dunia yang diperbarui dan dipelihara Allah bagi umat-Nya.
6. Kesatuan Kesaksian tentang Pengharapan Akhir Zaman
Bila keempat tema ini dibandingkan, tampak bahwa Perjanjian Baru menyaksikan satu pengharapan yang sama dengan kejujuran tentang perkembangan pemahamannya. Pengharapan akan kedatangan Kristus yang segera dalam surat-surat paling awal tidak disangkal pada surat-surat yang lebih belakangan, tetapi diperkaya dengan penjelasan tentang kesabaran Allah di tengah penundaan yang nyata. Kebangkitan dipahami terutama sebagai peristiwa korporat pada kedatangan Kristus, namun 2 Korintus 5 menambahkan dimensi pribadi bagi mereka yang meninggal sebelum peristiwa itu, tanpa meniadakan kerangka korporatnya. Penghakiman dan pembaruan dunia menjadi dua sisi dari satu hari Tuhan yang sama: penyingkiran segala yang jahat, dan pendirian langit dan bumi yang baru bagi kebenaran.
| Ringkasan teks kunci |
|---|
| Kedatangan yang segera (surat-surat awal) 1 Tes. 4:15, 17; 1 Kor. 15:51–52 |
| Koreksi kesalahpahaman tentang kedekatan hari itu 2 Tes. 2:1–2 |
| Penjelasan tentang penundaan (surat-surat belakangan) 2 Pet. 3:3–4, 8–9 |
| Kebangkitan korporat pada kedatangan Kristus 1 Tes. 4:16–17; 1 Kor. 15:51–52; Flp. 3:20–21; Kol. 3:4 |
| Pengalaman pribadi orang percaya yang meninggal sebelum kedatangan itu 2 Kor. 5:1–10 |
| Penghakiman terakhir 2 Tes. 1:7–10; Ibr. 9:27–28; 12:28–29; Yak. 5:9; Yud. 14–15 |
| Pengharapan dunia baru Rm. 8:19–21; 2 Pet. 3:10–13; 1 Pet. 1:3–4 |
Keragaman penekanan ini tidak menghasilkan pengharapan yang bertentangan, melainkan satu kesaksian bersama yang bertumbuh semakin matang: Kristus yang telah datang dalam kerendahan akan datang kembali dalam kemuliaan untuk membangkitkan, menghakimi, dan memperbarui segala sesuatu, dan pengharapan itu, betapapun lama penantiannya, tidak pernah kehilangan kepastiannya.
7. Istilah Yunani Kunci
Daftar ini merangkum istilah Yunani yang paling sering menentukan penafsiran tentang kedatangan Kristus dan pengharapan akhir zaman dalam surat-surat.
| Istilah Yunani kunci |
|---|
| παρουσία (1 Tes. 4:15; 2 Tes. 2:1; Yak. 5:7–8) “Kedatangan, kehadiran”: istilah utama bagi kedatangan Kristus yang kedua. |
| ἐπιφάνεια (1 Tim. 6:14; 2 Tim. 4:1, 8; Tit. 2:13) “Penampakan”: dipakai baik bagi inkarnasi maupun kedatangan Kristus yang kedua. |
| ἡμέρα κυρίου (1 Tes. 5:2; 2 Pet. 3:10) “Hari Tuhan”: hari penghakiman dan penggenapan yang datang tiba-tiba, seperti pencuri. |
| ἁρπάζω / ἁρπαγησόμεθα (1 Tes. 4:17) “Merebut, mengangkat”: dasar istilah “pengangkatan” (rapture) bagi orang percaya yang masih hidup. |
| ἀνάστασις (1 Kor. 15 (umum); Ibr. 6:2) “Kebangkitan”: bangkitnya orang mati, dipahami sebagai peristiwa korporat pada kedatangan Kristus. |
| σκῆνος / οἰκοδομὴ ἐκ θεοῦ (2 Kor. 5:1) “Kemah / bangunan dari Allah”: kontras antara tubuh sekarang yang sementara dan tempat kediaman kekal. |
| ἐκδημῆσαι / ἐνδημῆσαι (2 Kor. 5:8) “Meninggalkan / menetap”: bahasa perjalanan bagi kematian orang percaya dan kehadirannya bersama Tuhan. |
| βῆμα (2 Kor. 5:10) “Takhta pengadilan”: tempat semua orang percaya akan menghadap Kristus. |
| ἀποστασία (2 Tes. 2:3) “Kemurtadan”: salah satu tanda yang menurut Paulus harus mendahului hari Tuhan. |
| ἀποκαραδοκία (Rm. 8:19) “Penantian yang sungguh-sungguh”: gambaran seluruh ciptaan yang menjulurkan kepala menantikan pembebasan. |
| καινοὶ οὐρανοὶ καὶ γῆ καινή (2 Pet. 3:13) “Langit baru dan bumi baru”: tujuan akhir pembaruan ciptaan, tempat kediaman kebenaran. |
8. Penerapan bagi Kehidupan dan Pelayanan
Pertama — Berjaga-jaga, Bukan Berspekulasi
Perkembangan dari 1 Tesalonika ke 2 Petrus mengajarkan bahwa jemaat dipanggil untuk hidup dalam kesiapan yang sungguh-sungguh tanpa memastikan tanggal, dan untuk menjawab penundaan dengan kesabaran teologis, bukan dengan spekulasi atau keraguan. Pelayan jemaat perlu mengarahkan pengajaran eskhatologi kepada kesiapan hidup sehari-hari.
Kedua — Penghiburan bagi yang Berduka dan yang Menghadapi Kematian
1 Tes. 4:13–18 menghibur jemaat yang berdukacita, sedangkan 2 Kor. 5:1–10 menghibur mereka yang menghadapi kefanaan mereka sendiri. Kedua sisi pengajaran ini — pengharapan korporat dan pengharapan pribadi — perlu disampaikan bersama dalam pelayanan penggembalaan orang yang berduka atau yang sedang sakit parah.
Ketiga — Kesucian Hidup sebagai Buah Pengharapan
2 Pet. 3:11 menarik kesimpulan etis yang tegas dari pengharapan akan langit dan bumi baru. Pengajaran eskhatologi yang benar selalu berbuah dalam kekudusan hidup masa kini, bukan dalam sikap pasif menunggu.
Keempat — Penghakiman sebagai Dasar Kepedulian Sehari-hari
Yakobus 5:9 menghubungkan kesadaran akan Hakim yang “berdiri di ambang pintu” dengan cara jemaat memperlakukan satu sama lain. Kesadaran akan penghakiman akhir seharusnya membentuk kejujuran dan kasih dalam relasi jemaat sehari-hari, bukan hanya menjadi topik pengajaran doktrinal yang terpisah dari kehidupan praktis.
Penutup
Eskhatologi Perjanjian Baru menegaskan bahwa Kristus yang telah datang dalam kerendahan untuk menanggung dosa akan datang kembali dalam kemuliaan. Kesaksian tentang kedatangan itu berkembang secara jujur dari pengharapan yang mendesak dalam surat-surat paling awal menuju penjelasan yang matang tentang penundaannya; kebangkitan dipahami sebagai peristiwa korporat yang diperkaya dengan pengharapan pribadi bagi mereka yang meninggal lebih dahulu; penghakiman dan pembaruan dunia menjadi dua sisi dari satu hari Tuhan yang pasti. Dengan demikian seluruh rangkaian Pelajaran dalam Teologi Perjanjian Baru 2 — Kristologi, Soteriologi, Pneumatologi, Ekklesiologi, dan Eskhatologi — bermuara pada satu pengharapan yang sama: Allah, di dalam Kristus dan oleh Roh-Nya, sedang menggenapi rencana keselamatan-Nya menuju penggenapan penuh pada hari kedatangan Kristus yang kedua.
Daftar Pustaka
Dodd, C. H. The Parables of the Kingdom. Rev. ed. London: Nisbet, 1961.
Gregg, Steve, ed. Revelation: Four Views: A Parallel Commentary. Rev. ed. Nashville: Thomas Nelson, 1997.
Harris, Murray J. “2 Corinthians 5:1–10: Watershed in Paul’s Eschatology?” Tyndale Bulletin 22 (1971): 32–57.
———. Raised Immortal: Resurrection and Immortality in the New Testament. Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1985.
Hoekema, Anthony A. The Bible and the Future. Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1979.
Ladd, George Eldon. The Blessed Hope: A Biblical Study of the Second Advent and the Rapture. Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1956.
———. The Presence of the Future: The Eschatology of Biblical Realism. Rev. ed. Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1974.
Moule, C. F. D. “St Paul and Dualism: The Pauline Conception of Resurrection.” New Testament Studies 12, no. 2 (1966): 106–23.
Schweitzer, Albert. The Quest of the Historical Jesus: A Critical Study of Its Progress from Reimarus to Wrede. Translated by W. Montgomery. London: A. & C. Black, 1910.
Wright, N. T. Surprised by Hope: Rethinking Heaven, the Resurrection, and the Mission of the Church. New York: HarperOne, 2008.
Bahan Kuliah Teologi Perjanjian Baru 2 (DTh-137.206) · Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan
xpb1-07
STT Kalimantan
S1 Teologi & S1 Pendidikan Agama Kristen
Eksposisi Perjanjian Baru 1
Matius · Markus · Lukas · Yohanes · Kisah Para Rasul
PERTEMUAN 7
Analisis Mendalam – Kisah Para Rasul (2/2): Paulus & Misi Gentil
Analisis Mendalam – Kisah Para Rasul (2/2): Paulus & Misi Gentil
📌 Topik Pertemuan
Perjalanan Misi Paulus hingga Tiba di Roma: Ketahanan dalam Penganiayaan dan Kerajaan yang Tidak Terhalang
📖 Perikop Fokus
Kisah 13–14 (Misi Pertama) — 75 menit
Kisah 19:23–28; 27–28 (Efesus, Pelayaran, dan Roma) — 75 menit
Kisah 19:23–28; 27–28 (Efesus, Pelayaran, dan Roma) — 75 menit
🧭 Posisi dalam Kurikulum
Pertemuan ini melanjutkan Pertemuan 6, yang dibuka dengan pengharapan sisa Israel sebagai Sitz im Leben (Kis. 1:6) dan ditutup dengan Petrus, Kornelius, dan Konsili Yerusalem, dalam kerangka Pertemuan 4. Mahasiswa diharapkan membawa tesis Pertemuan 6 (gereja dimulai dari sisa Israel, bangsa-bangsa ditambahkan) untuk membaca Kis. 13 dan 28, sampai pengharapan itu digemakan kembali oleh Paulus di 28:20.
I. Kerangka: Dari Petrus ke Paulus ▾
Pertemuan 6 berakhir dengan Amos 9 di Kis. 15:16–17: sisa Israel dipulihkan, sehingga bangsa-bangsa mencari Tuhan. Bagian “Misi Paulus” (pasal 13–28) dalam kerangka Pertemuan 4 mengikuti gerak itu dari Antiokhia hingga Roma.1
Antiokhia (pasal 13–14) — Roh mengutus; jemaat yang sudah ada mengutus dua utusan.
Efesus (pasal 19) — Injil berbenturan dengan kepentingan ekonomi dan ibadah kota Asia.
Roma (pasal 27–28) — Paulus tiba di pusat kekaisaran; Kis. 1:8 tergenapi secara geografis.
Benang Kerajaan Allah (14:22; 19:8; 20:25; 28:23, 31) mengikat ketiganya. Sebagian pihak memandang Kis. 13 sebagai titik awal gereja (pandangan 5, Pertemuan 6); di sini ia dibaca sebagai tahap dalam tesis “sisa Israel”: jemaat yang sudah ada mengutus, bukan gereja yang baru lahir.
II. Eksegesis Kisah 13–14 – Perjalanan Misi Pertama ▾
A. Pengutusan dari Antiokhia (13:1–3)
Jemaat Antiokhia (11:26) memiliki nabi dan pengajar dari latar beragam: Barnabas, Simeon Niger, Lukius dari Kirene, Manaen, dan Saulus. Saat mereka beribadah dan berpuasa, Roh Kudus berfirman: “Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku.” Gereja mengutus atas perintah Roh; inisiatifnya ada pada Allah.
B. Antiokhia Pisidia (13:13–52)
Khotbah di sinagoga menelusuri sejarah Israel sampai Daud, lalu kepada Yesus dan kebangkitan-Nya (13:16–41), dengan pembenaran melalui Yesus (13:38–39). Banyak orang Yahudi dan proselit mengikuti (13:43); pada Sabat berikutnya, kecemburuan muncul (13:45).
Sorotan Eksegetis: Kisah 13:46–47 — “Kami Berpaling kepada Bangsa-bangsa”
TB: “Kepada kamulah firman Allah harus diberitakan lebih dahulu; tetapi kamu menolaknya … maka kami berpaling kepada bangsa-bangsa lain.”
SBLGNT (Kis. 13:46): ὑμῖν ἦν ἀναγκαῖον πρῶτον λαληθῆναι τὸν λόγον τοῦ θεοῦ· ἐπειδὴ ἀπωθεῖσθε αὐτὸν … ἰδοὺ στρεφόμεθα εἰς τὰ ἔθνη.
Ayat 47 mengutip Yes. 49:6: Paulus dan Barnabas menjalankan tugas Hamba Tuhan sebagai “terang bagi bangsa-bangsa.” Ada dua pembacaan atas “berpaling”:
Titik final (sebagian penafsir): ayat ini menandai penolakan Israel dan pembukaan pintu bagi bangsa-bangsa.
Pola berulang (Jervell dan lainnya): pengulangan di 18:6 dan 28:24–28, serta kebiasaan Paulus memasuki sinagoga di tiap kota (14:1; 17:2; 18:4; 19:8), menunjukkan penolakan bersifat lokal. Israel “terbelah”: yang bertobat adalah Israel yang dipulihkan, dan bangsa-bangsa ditambahkan.2
C. Listra dan Derbe (14:8–28)
Setelah penyembuhan orang lumpuh, penduduk menyebut Paulus dan Barnabas dewa-dewa (14:11–13). Kepada pendengar penyembah berhala, Paulus tidak mengutip Perjanjian Lama tetapi bertolak dari Allah pencipta (14:15–17)—berbeda dari khotbah di sinagoga. Paulus dilempari batu, lalu bangkit dan kembali (14:19–20), dan berpesan: “Kita harus mengalami banyak sengsara untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah” (14:22). Mereka mengangkat penatua (14:23) dan melapor bahwa Allah “membuka pintu iman bagi bangsa-bangsa lain” (14:27).
III. Eksegesis Kisah 19:23–28 – Kerusuhan di Efesus ▾
Konteks Paulus tinggal sekitar dua sampai tiga tahun di Efesus (19:8–10; 20:31); firman Tuhan “makin tersebar” (19:20).
“Jalan Ini” (ἡ ὁδός, 19:23) Sebutan bagi para pengikut Yesus, yang telah kita jumpai dalam motif “jalan” di Pertemuan 3 dan 5 (bdk. 9:2; 24:14).
Demetrius (19:24–27) Tukang perak yang membuat kuil-kuil kecil Artemis. Motifnya ekonomi dan agama: penghasilan terancam dan kemuliaan Artemis “akan dianggap remeh.” Pernyataan “allah buatan tangan manusia bukan allah” (19:26) menyentuh keduanya.
Kerusuhan dan Panitera Kota (19:28–41) Massa berseru “Besarlah Artemis!”; panitera kota menenangkan dan menyatakan Paulus dan rekan-rekannya tidak bersalah. Pola ini muncul berulang di Kisah dan mendukung tujuan apologetik Lukas bagi Teofilus (Pertemuan 4).
Tema: penganiayaan tidak selalu berasal dari kalangan Yahudi; tekanan dapat datang ketika Injil menyentuh ekonomi dan ibadah kota.
IV. Eksegesis Kisah 27–28 – Pelayaran dan Paulus di Roma ▾
A. Pelayaran (27:1–28:16)
Rangkaian ini adalah bagian “kami” yang terakhir (Pertemuan 4). Pembacaan kesaksian mata (Hemer) dan pembacaan konvensi kisah pelayaran laut (Robbins) sama-sama tersedia.34 Beberapa penanda teologis penting:
27:23–24 Malaikat menegaskan “engkau harus menghadap Kaisar” (δεῖ, bdk. 19:21; 23:11): keselamatan Paulus adalah bagian rencana Allah.
27:33–36 Di tengah kapal yang hampir karam, Paulus mengambil roti, mengucap syukur, dan makan di depan semua orang; sebagian pembaca melihat gema Luk. 22:19 dan 24:30.
28:1–10 Di Malta, ular berbisa dan penyembuhan-penyembuhan; Paulus dihormati tetapi tidak diselamatkan oleh pujian manusia.
28:14 “Demikianlah kami tiba di Roma”—Kis. 1:8 tergenapi secara geografis.
B. Roma (28:17–31)
Sorotan Eksegetis: Kisah 28:20 — “Pengharapan Israel”
TB: “Karena pengharapan Israel-lah aku dibelenggu dengan rantai ini.”
SBLGNT (Kis. 28:20): ἕνεκεν γὰρ τῆς ἐλπίδος τοῦ Ἰσραὴλ τὴν ἅλυσιν ταύτην περίκειμαι.
Paulus menjelaskan pelayanannya kepada pemimpin Yahudi di Roma sebagai pengharapan Israel—pengharapan yang sama yang menjadi Sitz im Leben pembuka Pertemuan 6 (Kis. 1:6) dan yang disuarakan Simeon dan Hana (Luk. 2:25, 38). Di 28:23–28 ia bersaksi tentang Kerajaan Allah; “ada yang yakin, ada yang tidak” (28:24), lalu mengutip Yes. 6:9–10 dan menyatakan bahwa keselamatan ini dikirim kepada bangsa-bangsa (28:28).
Akhir tawaran bagi Israel (pandangan Kis. 28): 28:28 menutup pelayanan kepada Israel.
Pola sisa (Jervell, Tannehill): 28:24 menunjukkan Israel terbelah, dan 28:30–31 menyebut Paulus menerima “semua orang yang datang” tanpa membedakan. Sisa yang yakin dan bangsa-bangsa berada dalam satu adegan.5
Kitab ditutup dengan Paulus “memberitakan Kerajaan Allah dan mengajarkan hal-hal tentang Tuhan Yesus Kristus dengan penuh keberanian, tanpa rintangan” (28:31, ἀκωλύτως). Ini menjadi inklusio dengan 1:3, dan “dua tahun penuh” (28:30) sejalan dengan penanggalan 62–63 M di Pertemuan 4: kematian Paulus tidak dicatat.
V. Sintesis: Ketahanan Paulus dan Kerajaan yang Tidak Terhalang ▾
Antiokhia Penolakan → Paulus pergi ke kota berikutnya, dan murid-murid “penuh sukacita dan Roh Kudus” (13:52).
Listra Batu → bangkit dan kembali ke kota (14:19–20).
Efesus Kerusuhan → firman terus bertumbuh.
Laut dan Malta Badai dan ular → selamat, karena rencana Allah (27:24).
Roma Rantai → Kerajaan diberitakan “tanpa rintangan.”
Ketahanan Paulus bukan keteguhan pribadi semata. Ia bertumpu pada δεῖ ilahi (23:11; 27:24) dan pada Kerajaan yang tidak dapat dihalangi (28:31). Rangkaian ini mendukung tesis Pertemuan 6: sisa Israel yang percaya dan bangsa-bangsa ditambahkan dalam satu jalan, sampai ke Roma. Pengharapan yang dibawa murid-murid di Kis. 1:6 dan pengharapan yang masih disebut Paulus di 28:20 adalah pengharapan yang sama; yang berubah bukan isinya, melainkan cakupannya—dari “kerajaan bagi Israel” menjadi Kerajaan yang diberitakan “tanpa rintangan” kepada semua orang.
VI. Rencana Tatap Muka (150 Menit) ▾
10 menit Tinjauan Pertemuan 6: Amos 9 di Kis. 15:16–17 dan peran Petrus
35 menit Eksegesis Kis. 13 (pengutusan; sorotan 13:46–47)
30 menit Eksegesis Kis. 14 (Listra dan Derbe)
25 menit Eksegesis Kis. 19:23–28 (kerusuhan di Efesus)
25 menit Eksegesis Kis. 27 (pelayaran dan bagian “kami”)
25 menit Eksegesis Kis. 28 (sorotan 28:20) dan diskusi inklusio 1:3 dan 28:31
VII. Penugasan ▾
Tugas Terstruktur
1. Petakan perjalanan misi pertama (Kis. 13–14): kota, tempat memberitakan, respons, dan penganiayaan. Tandai pola “sinagoga → penolakan → bangsa-bangsa.”
2. Daftarkan delapan kemunculan “Kerajaan” dalam Kisah (1:3, 6; 8:12; 14:22; 19:8; 20:25; 28:23, 31) dan jelaskan fungsi masing-masing.
3. Catat kembali penanda bagian “kami” di 27:1–28:16 dan hubungkan dengan pembahasan Pertemuan 4.
Tugas Mandiri (Pilih Satu)
A1 — S1 Teologi Analisis Kis. 13:46–47 dan Yes. 49:6: siapa yang menjalankan tugas Hamba Tuhan, dan apa artinya bagi hubungan Israel dan bangsa-bangsa?
A2 — S1 Teologi Evaluasi pembacaan 28:28 sebagai akhir tawaran bagi Israel dengan 28:24 dan 28:30–31 sebagai dasar; sertakan sedikitnya dua sumber ilmiah.
B1 — S1 PAK Rancang bahan pemuridan tentang ketahanan iman di tengah tekanan berdasarkan Kis. 14:19–22 dan 27:23–25.
B2 — S1 PAK Susun bahan diskusi pemuda tentang Kis. 19:23–28: bagaimana iman berhadapan dengan tekanan ekonomi dan budaya di sekitar kita?
Catatan Kaki
1 F. F. Bruce, The Book of Acts, New International Commentary on the New Testament, rev. ed. (Grand Rapids: Eerdmans, 1988), 30–33.
2 Jacob Jervell, “The Divided People of God: The Restoration of Israel and Salvation for the Gentiles,” dalam Luke and the People of God: A New Look at Luke–Acts (Minneapolis: Augsburg, 1972), 41–74.
3 Colin J. Hemer, The Book of Acts in the Setting of Hellenistic History, ed. Conrad H. Gempf, WUNT 49 (Tübingen: J. C. B. Mohr, 1989), 312–34.
4 Vernon K. Robbins, “By Land and By Sea: The We-Passages and Ancient Sea Voyages,” dalam Perspectives on Luke-Acts, ed. Charles H. Talbert (Danville, VA: Association of Baptist Professors of Religion, 1978), 215–42.
5 Robert C. Tannehill, The Narrative Unity of Luke–Acts: A Literary Interpretation, vol. 2, The Acts of the Apostles (Minneapolis: Fortress Press, 1990), 339–47.
STT Kalimantan · EKS-2101 Eksposisi Perjanjian Baru 1 · Pertemuan 7 · slug: xpb1-07
xpb1-06
STT Kalimantan
S1 Teologi & S1 Pendidikan Agama Kristen
Eksposisi Perjanjian Baru 1
Matius · Markus · Lukas · Yohanes · Kisah Para Rasul
PERTEMUAN 6
Analisis Mendalam – Kisah Para Rasul (1/2): Petrus & Gereja Mula-mula
Analisis Mendalam – Kisah Para Rasul (1/2): Petrus & Gereja Mula-mula
📌 Topik Pertemuan
Diperlengkapi Roh Kudus, Menjangkau Bangsa-bangsa: Petrus sebagai Pemimpin Transisi
📖 Perikop Fokus
Kisah 1:1–2:47 (75 menit)
Kisah 10:1–48; 15:1–29 (75 menit)
Kisah 10:1–48; 15:1–29 (75 menit)
I. Sitz im Leben Zaman Yesus: Pengharapan Sisa Israel ▾
Pertanyaan murid di Kis. 1:6, “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?”, tidak muncul dari kekosongan. Ini adalah puncak pengharapan yang hidup di kalangan Yahudi pada masa Yesus, dan pengharapan itulah Sitz im Leben bagi seluruh pertemuan ini.
A. Pengharapan yang Diwarisi dari Para Nabi
Yang tersisa dikumpulkan Yes. 10:20–22; 11:11–12; Mi. 2:12; Zef. 3:12–13; Yoel 2:32: Allah menyisakan umat yang setia dan mengumpulkannya.
Yesaya 10:20–22
“Pada waktu itu sisa Israel dan orang-orang yang terluput dari kaum keturunan Yakub tidak akan bersandar lagi kepada dia yang telah memukulnya, melainkan mereka akan bersandar kepada TUHAN, Yang Mahakudus, Allah Israel, dengan Setia. Suatu sisa akan kembali, sisa dari Yakub, kepada Allah yang perkasa. Sebab sekalipun bangsamu, hai Israel, seperti pasir laut banyaknya, namun hanya sisanya saja akan kembali. Kebinasaan telah ditetapkan, keadilanlah yang membanjir.”
“Pada waktu itu sisa Israel dan orang-orang yang terluput dari kaum keturunan Yakub tidak akan bersandar lagi kepada dia yang telah memukulnya, melainkan mereka akan bersandar kepada TUHAN, Yang Mahakudus, Allah Israel, dengan Setia. Suatu sisa akan kembali, sisa dari Yakub, kepada Allah yang perkasa. Sebab sekalipun bangsamu, hai Israel, seperti pasir laut banyaknya, namun hanya sisanya saja akan kembali. Kebinasaan telah ditetapkan, keadilanlah yang membanjir.”
Mikha 2:12–13
“Aku akan mengumpulkan kamu semua, hai Yakub; Aku akan menghimpunkan sisa-sisa Israel, akan menggabungkannya seperti domba dalam kurungan…”
“Aku akan mengumpulkan kamu semua, hai Yakub; Aku akan menghimpunkan sisa-sisa Israel, akan menggabungkannya seperti domba dalam kurungan…”
Yoel 2:32
“Dan barangsiapa yang berseru kepada nama TUHAN akan diselamatkan; sebab di gunung Sion dan di Yerusalem akan ada orang-orang yang terluput, seperti yang difirmankan TUHAN, yaitu orang-orang yang termasuk sisa yang akan dipanggil oleh TUHAN.”
“Dan barangsiapa yang berseru kepada nama TUHAN akan diselamatkan; sebab di gunung Sion dan di Yerusalem akan ada orang-orang yang terluput, seperti yang difirmankan TUHAN, yaitu orang-orang yang termasuk sisa yang akan dipanggil oleh TUHAN.”
Menjadi bagian dari Sisa Israel yang diselamatkan adalah pengharapan orang-orang Yahudi pada zaman Yesus. Pada zaman Yesus, berbagai kelompok Yahudi (Zelot, Farisi, Komunitas Qumran, dan lain-lain) bahkan mengklaim merekalah Sisa Israel.
Perjanjian baru dan Roh Yer. 31:31–34; Yeh. 36:24–28; 37:15–22 (Israel dan Yehuda dipersatukan); Yl. 2:28–32.
“Sesungguhnya, akan datang waktunya … Aku akan mengadakan perjanjian baru … Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka.” (Yer. 31:31, 33)
Raja dan bangsa-bangsa Yes. 49:6 (memulihkan suku-suku Yakub, sekaligus terang bagi bangsa-bangsa); Am. 9:11–12; Dan. 7:13–27 (orang-orang kudus menerima kerajaan).
“Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi.” (Yes. 49:6)
B. Masa Yesus: Pemulihan yang Belum Tuntas
Pada abad pertama, banyak orang Yahudi hidup di tanah perjanjian di bawah kekuasaan Roma.
N. T. Wright menyebut keadaan ini “pembuangan yang berlanjut”: pembuangan fisik sudah berakhir, tetapi pemulihan yang dijanjikan belum tergenapi.1 Tesis ini diperdebatkan, sehingga sebaiknya diperlakukan sebagai salah satu pembacaan, bukan kepastian.2 Pengharapan itu sendiri terbukti hidup dalam berbagai bentuk:
Qumran
Komunitas Qumran memahami diri mereka sebagai sisa Isreal yang sengaja disisakan Allah di tengah kegagalan Israel. Dokumen Damsyik (CD) membuka dengan ulasan sejarah Israel yang tidak setia, lalu menyatakan bahwa Allah “menyisakan bagi Israel suatu sisa” dan tidak menyerahkan seluruh umat kepada kebinasaan (CD 1:4–5).3 Sisa itu digambarkan sebagai “akar tanaman” yang ditumbuhkan Allah (CD 1:7), dipimpin oleh seorang Guru Kebenaran (CD 1:11), dan menyebut diri peserta “perjanjian baru” (CD 6:19; 8:21). Bahasa yang dipakai sangat dekat dengan kosakata para nabi tentang sisa dan perjanjian baru yang kita lihat di atas.
Yang menarik bagi pertemuan ini ialah cara komunitas itu mewujudkan identitas sisa. Peraturan Komunitas (1QS) menetapkan bahwa anggota baru masuk melalui sumpah untuk kembali kepada Taurat Musa menurut penafsiran komunitas itu sendiri (1QS 5:7–11), dan bahwa mereka menarik diri ke padang gurun untuk “membuka jalan TUHAN” dengan mempelajari Taurat, dengan mengutip Yes. 40:3 (1QS 8:12–16; 9:19–20).4 Dengan demikian keanggotaan sisa ditentukan oleh pemisahan dan penerimaan ke dalam kelompok yang tertutup, dan pihak lain, termasuk pemimpin Yerusalem, dipandang di luar perjanjian. John J. Collins mengingatkan bahwa gerakan sektarian ini lebih luas daripada satu permukiman di Qumran, dan bahwa hubungan antara tulisan-tulisannya dengan para Eseni masih diperdebatkan.5
Karena itu Qumran dapat dianggap sebagai pembanding, bukan sebagai sumber pengaruh. Tidak ada bukti kuat bahwa Yesus atau para rasul bersentuhan langsung dengan komunitas ini. Kesamaan kategorinya jelas: sisa, perjanjian baru, dan Yes. 40:3. Perbedaannya juga jelas: para murid Yesus tidak menarik diri, melainkan tetap berada di tengah kota dan Bait Allah (Kis. 2:46; 3:1), makan bersama orang berdosa, dan diutus kepada seluruh Israel. Komunitas Qumran memperlihatkan bahwa mengaku sebagai Sisa Israel adalah pilihan yang telah hidup pada abad pertama, sekaligus bahwa setiap kelompok Yudaisme menafsirkan ulang siapa Israel yang sejati.
Mazmur Salomo 17
Mazmur Salomo adalah kumpulan delapan belas mazmur yang diperkirakan disusun di Yerusalem pada pertengahan abad pertama SM, sesudah campur tangan Pompeius pada 63 SM, dan terpelihara dalam bahasa Yunani dan Siria.6 Mazmur Salomo 17 meratapi dua hal sekaligus: penguasa Hasmonea yang merebut takhta yang bukan haknya (17:5–6) dan penaklukan oleh seorang asing yang mencemari Yerusalem dan mencerai-beraikan umat (17:7–14). Dari ratapan itu lahir doa agar Allah membangkitkan “anak Daud” sebagai raja Israel (17:21).
Pekerjaan Mesias di dalam mazmur ini terbaca seperti daftar isi pengharapan pemulihan: menyucikan Yerusalem (17:22), menyingkirkan penguasa yang tidak adil (17:22–25), “mengumpulkan umat kudus” (17:26), dan membagikan mereka di tanah itu menurut suku-sukunya (17:28). Bangsa-bangsa pun tampil, baik sebagai yang takluk (17:30) maupun sebagai yang datang dari ujung bumi untuk melihat kemuliaan-Nya (17:31). Mesias itu tidak bersandar pada kuda dan busur (17:33) dan menghajar dengan “perkataan mulut-Nya” (17:35), sehingga gambaran militernya tidak sesederhana yang sering dikira. Collins menilai mazmur ini sebagai gambaran Mesias Daud yang paling lengkap dari periode itu.7
Mazmur ini membantu kita mendengar pertanyaan murid di Kis. 1:6 sebagaimana pendengar pertamanya mendengarnya: pemulihan kerajaan berarti raja Daud, umat yang terkumpul, suku-suku yang dipulihkan, dan nasib bangsa-bangsa. Kisah Para Rasul menjawab dengan menggeser tiap unsurnya. Petrus menyatakan bahwa Allah telah mendudukkan keturunan Daud di takhta-Nya (Kis. 2:30–36), umat dikumpulkan oleh pemberitaan dan Roh Kudus (2:41), dan bangsa-bangsa datang bukan sebagai taklukan, melainkan sebagai sesama umat (10:34–35; 15:16–17). Perlu diingat bahwa tidak ada bukti Lukas telah membaca Mazmur Salomo; naskah ini dipakai sebagai saksi sebaran pengharapan, bukan sebagai sumber.
Yohanes Pembaptis
Mat. 3:9–12 dan Luk. 3:7–9 mencatat bahwa, Yohanes menolak keturunan Abraham sebagai jaminan, “Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini” (Mat. 3:9). Kapak “sudah” terletak pada akar pohon (3:10), dan alat penampi di tangan Sang Mesias akan memisahkan gandum dari debu jerami (3:12). Buah pertobatan, bukan silsilah, menjadi tanda keanggotaan (Mat. 3:8). Lukas menambahkan isi etisnya: berbagi pakaian dan makanan, tidak memeras, tidak merampas (Luk. 3:10–14). Dengan cara ini “sisa” tidak lagi dipahami sebagai kelompok yang diwarisi, melainkan sebagai yang bertahan dalam penyaringan.
Tempat dan caranya pun sarat makna. Yohanes bekerja di padang gurun dan Sungai Yordan, tempat Israel dahulu masuk ke tanah perjanjian (Yos. 3), dan Injil-injil memperkenalkannya dengan Yes. 40:3 (Mat. 3:3; Mrk. 1:2–4). Robert Webb membaca Yohanes sebagai pemimpin gerakan kenabian rakyat yang menyerukan pembaruan Israel, dengan baptisan sebagai tindakan simbolis yang menandai kembalinya umat kepada Allah.8 Flavius Yosefus melaporkan bahwa Yohanes menyerukan kebajikan dan kesalehan, bahwa banyak orang berduyun-duyun kepadanya, dan bahwa Herodes Antipas menghukumnya karena takut akan gejolak massa.9 Penekanan Yosefus pada kebenaran sebagai prasyarat baptisan berbeda dari penekanan Injil pada pengampunan, tetapi keduanya sepakat bahwa Yohanes dipandang sebagai tokoh penting oleh banyak orang Yahudi.
Dibandingkan dengan Qumran, kesamaannya terletak pada Yes. 40:3, seruan pertobatan, dan etika perjanjian. Perbedaannya terletak pada batas: Yohanes tidak menuntut penarikan diri atau prosedur penerimaan, dan panggilannya ditujukan kepada “Yerusalem, seluruh Yudea, dan seluruh daerah sekitar Yordan” (Mat. 3:5). Bagi Lukas, lingkaran di sekitar Yohanes adalah pintu masuk komunitas Yesus: syarat pengganti Yudas ialah orang yang menyertai mereka “mulai dari baptisan Yohanes” (Kis. 1:21–22; bdk. 10:37; 13:24–25). Maka seleksi sisa Israel sudah berlangsung sebelum Pentakosta.
Lukas 1–2
Kisah kelahiran dalam Lukas dipenuhi bahasa pengharapan Israel. Dalam Magnificat, Maria bernyanyi bahwa Allah “menolong Israel, hamba-Nya,” mengingat rahmat-Nya kepada Abraham dan keturunannya (1:54–55). Dalam Benedictus, Zakharia memuji Tuhan yang “melawat dan membebaskan umat-Nya” (1:68), mendirikan “tanduk keselamatan” di rumah Daud (1:69), dan mengingat perjanjian serta sumpah kepada Abraham (1:72–73). Raymond Brown menilai kidung-kidung ini mencerminkan kesalehan kalangan miskin yang setia, yang menantikan Allah bertindak bagi umat-Nya.10
Tokoh-tokohnya membentuk gambaran sisa yang setia sebelum pelayanan Yesus dimulai. Simeon “menantikan penghiburan bagi Israel” (παράκλησιν τοῦ Ἰσραήλ, 2:25), yang menggemakan Yes. 40:1 dan 49:13. Hana, nabiah dari suku Asyer (2:36), berbicara kepada semua yang “menantikan penebusan Yerusalem” (λύτρωσιν Ἱερουσαλήμ, 2:38), memakai kata yang sama dengan Luk. 1:68. Asal Hana dari suku utara sering dibaca sebagai isyarat bahwa pengharapan itu mencakup seluruh dua belas suku, meskipun hal ini bersifat sugestif, bukan pasti. Zakharia, Elisabet, Maria, Simeon, dan Hana berada di Yerusalem atau Bait Allah (1:5–25; 2:22–38), tempat yang sama di mana kelak para murid menunggu (24:52–53; Kis. 1:12–14).
Namun pengharapan ini sekaligus diperluas dan membelah. Simeon menyebut Anak itu “terang yang menyatakan kehendak-Mu kepada bangsa-bangsa dan kemuliaan bagi umat-Mu Israel” (2:32), menggemakan Yes. 49:6, ayat yang kelak dikutip Paulus dan Barnabas (Kis. 13:47). Ia juga bernubuat bahwa Anak itu akan menjadi sebab “jatuh dan bangkitnya banyak orang di Israel” (2:34), yaitu bahwa pemulihan melewati penyaringan di dalam Israel sendiri. Jacob Jervell menjadikan hal ini kunci pembacaan Lukas–Kisah: umat Allah yang dipulihkan adalah bagian Israel yang menerima Mesias, dan bangsa-bangsa ditambahkan kepada mereka.11 Pembacaan ini diperdebatkan, tetapi cocok dengan arah tesis pertemuan ini.
Dua belas murid
Markus mencatat bahwa Yesus “menetapkan dua belas orang” dari kalangan yang lebih luas (Mrk. 3:14). Bilangan itu tidak kebetulan: ia menunjuk pada dua belas suku. Matius dan Lukas membuat maksudnya terang, yaitu bahwa mereka akan duduk di atas dua belas takhta untuk menghakimi dua belas suku Israel (Mat. 19:28; Luk. 22:29–30). E. P. Sanders membaca pemilihan ini sebagai tindakan simbolis kenabian yang menyatakan bahwa Yesus mengharapkan pemulihan Israel secara utuh,12 dan N. T. Wright menambahkan bahwa Yesus dengan demikian membentuk Israel yang diperbarui di sekeliling diri-Nya.13
Kisah Para Rasul menunjukkan betapa pentingnya bilangan itu bagi Lukas. Hal pertama yang dilakukan komunitas sesudah Kenaikan adalah menggantikan Yudas dengan Matias, dengan syarat bahwa penggantinya menyertai mereka sejak baptisan Yohanes sampai Kenaikan (Kis. 1:15–26). Penggantian ini terjadi sebelum Roh dicurahkan, sehingga dua belas itu sudah genap ketika Pentakosta tiba (2:14). Ketika Yakobus bin Zebedeus dibunuh (12:2), tidak ada penggantian; hal ini sering dibaca sebagai petunjuk bahwa penggantian Yudas berkaitan dengan syarat saksi dan tanda simbolik yang harus genap pada saat pencurahan Roh, bukan dengan suksesi jabatan yang berlanjut.
Sebagian penafsir membandingkannya dengan dewan dua belas orang dan tiga imam di Qumran (1QS 8:1), tetapi fungsinya berbeda jauh: dewan Qumran mengatur komunitas yang tertutup, sedangkan dua belas murid diutus kepada “domba-domba yang hilang dari umat Israel” (Mat. 10:5–6; Luk. 9:1–2). Bilangan dua belas kemudian tidak hilang dari gambaran gereja: dalam Why. 21:12–14 nama dua belas suku ada pada pintu gerbang dan nama dua belas rasul pada dasar tembok kota, sehingga Israel dan gereja tampil bersama dalam satu gambar.
Emmaus dan Kisah
Di jalan ke Emmaus, dua murid berkata, “kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan Israel” (Luk. 24:21; bdk. Pertemuan 5). Kata kerja λυτροῦσθαι berakar sama dengan λύτρωσις di Luk. 1:68 dan 2:38, sehingga kalimat itu menutup sebuah busur: pengharapan penebusan Israel yang dinyanyikan pada kelahiran tampak runtuh di salib. Robert Tannehill mencatat bahwa Lukas tidak membuang pengharapan itu, tetapi membentuk ulangnya lewat penafsiran Kitab Suci: Mesias harus menderita lalu masuk ke dalam kemuliaan-Nya (24:25–27, 44–47).14
Pertanyaan di Kis. 1:6, “maukah Engkau pada masa ini memulihkan (ἀποκαθιστάνεις) kerajaan bagi Israel?”, mengulang pengharapan yang sama setelah empat puluh hari pengajaran tentang kerajaan Allah (1:3). Jawaban Yesus tidak menegaskan jadwal dan tidak pula menolak pemulihan: “bukan hak kamu untuk mengetahui masa dan waktu” (1:7), lalu perhatian dialihkan kepada Roh dan kesaksian (1:8). Sebagian penafsir membaca pertanyaan itu sebagai salah paham yang dikoreksi. Pembacaan ini sulit dipertahankan sepenuhnya, sebab Lukas sendiri kemudian memakai bahasa pemulihan secara positif: “pemulihan segala sesuatu” (ἀποκατάστασις πάντων, 3:21) dan pondok Daud yang “didirikan kembali” (15:16–17).
Pengharapan itu muncul lagi pada akhir kitab. Dalam pembelaannya, Paulus berkata bahwa ia diadili karena “pengharapan akan janji yang diberikan Allah kepada nenek moyang kita,” yang dinantikan “kedua belas suku kita” (δωδεκάφυλον, 26:6–7), dan kepada para pemimpin Yahudi di Roma ia berkata, “oleh karena pengharapan Israel aku dibelenggu dengan rantai ini” (28:20). Dengan demikian pengharapan Israel membingkai karya dua jilid ini, dari Luk. 1–2 sampai Kis. 28, dan inklusio itu ditutup dengan Paulus yang memberitakan kerajaan Allah (28:23, 31; bdk. 1:3). Bagi Lukas, Injil bukan agama baru yang menggantikan pengharapan Israel, melainkan penggenapannya yang tak terduga.
Pengharapan itu beragam: gerakan Zelot, kaum Farisi, komunitas Qumran, dan pengikut Yohanes membayangkan pemulihan dengan cara berbeda. Yesus dan para murid berbagi kerinduan yang sama, tetapi membentuk ulang isi dan caranya.
C. Artinya bagi Pertemuan Ini
Sitz im Leben Peristiwa Murid-murid adalah sisa Israel yang menantikan pemulihan; itu sebabnya pertanyaan 1:6 muncul, dan jawaban Yesus (1:7–8) mengalihkan bentuknya menjadi kesaksian dalam kuasa Roh sampai ke ujung bumi.
Sitz im Buch Lukas menampilkan komunitas ini di Yerusalem sebelum Pentakosta (Luk. 24:52–53; Kis. 1:12–14), sehingga Pentakosta dibaca sebagai pemberdayaan sisa yang sudah ada.
Sitz im Leben Pembaca Asli Pembaca Gentil Teofilus (Pertemuan 4) perlu tahu bahwa mereka ditambahkan pada umat yang pengharapannya digenapi, bukan menggantikannya.
Dengan latar ini, pertanyaan “kapan gereja dimulai?” bergeser menjadi “bagaimana pengharapan sisa Israel digenapi dan diperluas?”, yang dijawab pada bagian VII dan VIII.
II. Kerangka Krono-Teologis: Dari Pertemuan 4 ke Tiga Titik Balik ▾
Pertemuan 4 menetapkan bahwa Lukas–Kisah adalah satu karya dua jilid (Kis. 1:1) yang diperkirakan ditulis 62–63 M, dan bahwa Kisah 1:8 menjadi kerangka geografis-programatik seluruh kitab.15 Tiga perikop hari ini masing-masing berdiri pada satu tahap kerangka itu:
Gereja di Yerusalem (pasal 1–7) — Kis. 1:1–2:47: sisa Israel yang berhimpun di sekitar Yesus dipulihkan menjadi dua belas dan diperlengkapi Roh setelah Kenaikan dan Pentakosta.
Transisi ke Gentil (pasal 8–12) — Kis. 10: Petrus dan Kornelius di Kaisarea; bangsa-bangsa menerima Roh.
Misi Paulus (pasal 13–28) — Kis. 15: sidang di Yerusalem meneguhkan penerimaan Gentil sebelum misi ke Eropa (kemunculan pertama “kami” di 16:10, lihat Pertemuan 4).
Peran Petrus mengikuti kerangka yang sama: ia menonjol di pasal 1–12 dan berbicara untuk terakhir kali di 15:7–11; sejak 12:17 ia “pergi ke tempat lain,” dan sorotan beralih kepada Paulus.
III. Kesinambungan Lukas → Kisah: Apa yang Dijanjikan Injil, Dipenuhi Kisah ▾
Diskusi kesinambungan di Pertemuan 4 kini diuji pada teks. Empat jembatan berikut menghubungkan perikop-perikop yang telah kita kaji di Lukas dengan perikop hari ini:
Lukas 24:47–49 → Kisah 1:8; 2:1–4 Janji “kuasa dari tempat tinggi” dan pemberitaan “kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem” menjadi agenda Kisah.
Lukas 4:18 → Kisah 2:17–18 Roh atas Yesus dalam Manifesto Nazaret menjadi Roh yang dicurahkan atas seluruh umat.
Lukas 4:25–27 → Kisah 10:34–35; 15:14–17 Elia dan Elisa melayani orang bukan Israel—preseden yang di Kisah menjadi kebijakan gereja.
Lukas 1:1–4 → Kisah 1:1 Klaim “penyelidikan seksama” berlaku bagi kedua jilid; Lukas bukan saksi mata pasal 2, 10, atau 15, sehingga ia bergantung pada tradisi dan saksi.16
IV. Eksegesis Kisah 1:1–2:47 – Pentakosta dan Komunitas Iman ▾
Kenaikan (1:1–11) dan Pentakosta (2:1–13) telah dieksegesis di Pertemuan 4 sebagai “engsel naratif” antara kedua jilid. Hari ini kita mengikuti apa yang terjadi sesudahnya.
A. Pemulihan Dua Belas (1:12–26)
Setelah Kenaikan, murid-murid berdoa bersama di Yerusalem dan menggantikan Yudas dengan Matias. Bilangan dua belas menandai pemulihan simbolis Israel sebelum Roh dicurahkan.
B. Khotbah Petrus (2:14–41)
Petrus mengutip Yoel 3 LXX dan mengubah “sesudah itu” menjadi “pada hari-hari terakhir” (2:17), menyatakan bahwa zaman eskatologis sudah dimulai. Ia lalu menceritakan ulang kisah Injil—pelayanan, salib, kebangkitan (2:22–24)—dan menyimpulkannya dengan pengakuan kristologis.17
Sorotan Eksegetis: Kisah 2:36 — Puncak Khotbah
TB: “Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.”
SBLGNT (Kis. 2:36): ἀσφαλῶς οὖν γινωσκέτω πᾶς οἶκος Ἰσραὴλ ὅτι καὶ κύριον αὐτὸν καὶ χριστὸν ἐποίησεν ὁ θεός, τοῦτον τὸν Ἰησοῦν ὃν ὑμεῖς ἐσταυρώσατε.
Khotbah ini beralamat kepada “seluruh kaum Israel” (πᾶς οἶκος Ἰσραήλ): pemberitaan bagi bangsa-bangsa lain baru dibuka di pasal 10. Kaitan dengan Lukas 24:26, 46 jelas: penderitaan dan kemuliaan Mesias adalah satu rencana Allah.
C. Komunitas Iman (2:42–47)
ἦσαν δὲ προσκαρτεροῦντες τῇ διδαχῇ τῶν ἀποστόλων καὶ τῇ κοινωνίᾳ, τῇ κλάσει τοῦ ἄρτου καὶ ταῖς προσευχαῖς (2:42, SBLGNT). Empat ciri: pengajaran rasul, persekutuan, pemecahan roti, doa. Berbagi harta bersifat sukarela dan berulang (2:44–45), dan pertumbuhan digambarkan sebagai karya Tuhan (2:47). Motif meja dan roti dari Lukas 24:30–35 berlanjut di sini.
V. Eksegesis Kisah 10:1–48 – Petrus dan Kornelius ▾
A. Dua Penglihatan (10:1–23a)
Kornelius, perwira di Kaisarea yang “takut akan Allah” (10:2), menerima petunjuk untuk memanggil Petrus di Yope. Petrus, yang berdoa di atas rumah, menerima penglihatan yang diulang tiga kali (10:9–16) dan baru memahami maknanya ketika utusan tiba. Inisiatif ada pada Allah; Petrus mengikuti.
Sorotan Eksegetis: Kisah 10:34 — Allah Tidak Membedakan Orang
TB: “Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang.”
SBLGNT (Kis. 10:34): ἐπ᾽ ἀληθείας καταλαμβάνομαι ὅτι οὐκ ἔστιν προσωπολήμπτης ὁ θεός.
Kata kerja καταλαμβάνομαι (“menangkap/memahami”) menunjukkan pemahaman baru yang dialami Petrus. Ini menggenapi arah Manifesto Nazaret (Luk. 4:25–27) yang telah kita bahas: kasih karunia Allah melampaui batas Israel. Roh turun atas pendengar sebelum pembaptisan (10:44–48), sehingga Petrus tidak dapat menghalangi mereka.
B. Tiga Kali Diceritakan
Kisah ini muncul di pasal 10, dalam laporan Petrus di 11:1–18, dan dirujuk lagi di 15:7–11. Pengulangan menandai bobot teologisnya bagi pembaca Gentil.18
C. Dari Mana Lukas Mengetahuinya?
Sejalan dengan bagian “kami” yang kita bahas di Pertemuan 4: di 21:8 rombongan yang memakai “kami” singgah di rumah Filipus di Kaisarea—kota tempat Kornelius tinggal. Ini menyediakan konteks yang masuk akal (bukan bukti pasti) bagi Lukas untuk menghimpun tradisi tersebut.19
VI. Eksegesis Kisah 15:1–29 – Konsili Yerusalem ▾
Pemicu: orang-orang dari Yudea mengajarkan di Antiokhia bahwa tanpa sunat menurut adat Musa orang tidak dapat diselamatkan (15:1). Paulus dan Barnabas dikirim ke Yerusalem, dan sidang berlangsung dalam tiga suara:
Petrus (15:7–11) Merujuk peristiwa Kornelius: “kita diselamatkan oleh kasih karunia Tuhan Yesus, sama seperti mereka” (15:11).
Barnabas dan Paulus (15:12) Menceritakan tanda dan mukjizat yang Allah lakukan di antara bangsa-bangsa.
Yakobus (15:13–21) Menghubungkan pengalaman itu dengan Amos 9:11–12 dan mengusulkan beberapa pantangan minimal.
Sorotan Eksegetis: Kisah 15:20 — Empat Pantangan
TB: “tetapi kita harus menulis surat kepada mereka, supaya mereka menjauhkan diri dari makanan yang telah dicemarkan berhala-berhala, dari percabulan, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari darah.”
SBLGNT (Kis. 15:20): ἀλλὰ ἐπιστεῖλαι αὐτοῖς τοῦ ἀπέχεσθαι τῶν ἀλισγημάτων τῶν εἰδώλων καὶ τῆς πορνείας καὶ τοῦ πνικτοῦ καὶ τοῦ αἵματος.
Terdapat dua pembacaan utama atas keempat pantangan ini:
Pembacaan ritual-Taurat (Richard Bauckham): pantangan ini sejajar dengan ketentuan Imamat 17–18 bagi orang asing yang tinggal di tengah Israel, sehingga menjaga persekutuan meja antara Yahudi dan Gentil.20
Pembacaan etis (tradisi teks Barat): sebagian naskah Barat menghilangkan “binatang yang dicekik” dan menambahkan kaidah emas, sehingga keempat pantangan terbaca sebagai tuntutan moral.
Pembacaan pertama memperoleh dukungan luas karena selaras dengan teks Amos dan konteks perjamuan bersama; keduanya sepakat bahwa keputusan tidak menambahkan syarat keselamatan.
Surat sidang menyatakan: ἔδοξεν γὰρ τῷ πνεύματι τῷ ἁγίῳ καὶ ἡμῖν (15:28)—“keputusan Roh Kudus dan keputusan kami.” Hasilnya: Petrus, yang membuka pintu di pasal 10, memastikan pintu itu tetap terbuka bagi seluruh gereja sebelum tongkat estafet beralih kepada Paulus.
VII. Kapan Gereja Dimulai? Lima Pandangan ▾
Di kalangan pendeta dan penafsir, lima jawaban lazim diberikan atas pertanyaan ini. Kelimanya perlu dikenali sebagai pandangan; pada bagian berikutnya kita menyusunnya sebagai tahap. Catatan awal: kata ἐκκλησία sudah dipakai sekitar 70 kali dalam LXX untuk himpunan umat Israel (qahal), sehingga ketiadaan kata itu di suatu bagian Kisah bukan argumen.21
1. Sejak Abraham
Dasar: Pandangan ini menarik garis kesinambungan yang paling panjang. Allah memanggil Abraham dan menjanjikan berkat bagi semua kaum di muka bumi (Kej. 12:3). Paulus menyebut orang percaya dari bangsa-bangsa sebagai anak-anak Abraham (Gal. 3:29; Rm. 4:11–12, 16) dan sebagai tunas zaitun liar yang dicangkokkan pada pokok yang sama (Rm. 11:17–24). Stefanus bahkan memakai istilah ἐκκλησία untuk Israel di padang gurun (Kis. 7:38).
Kis. 7:38
(SBLGNT) οὗτός ἐστιν ὁ γενόμενος ἐν τῇ ἐκκλησίᾳ ἐν τῇ ἐρήμῳ μετα τοῦ ἀγγέλου τοῦ λαλοῦντος αὐτῷ ἐν τῷ ὄρει Σινᾶ και τῶν πατέρων ἡμῶν, ὃς ἐδέξατο λόγια ζῶντα δοῦναι ἡμῖν,
Musa inilah yang menjadi perantara dalam jemaat (ἐν τῇ ἐκκλησίᾳ) di padang gurun di antara malaikat yang berfirman kepadanya di gunung Sinai dan nenek moyang kita; dan dialah yang menerima firman-firman yang hidup untuk menyampaikannya kepada kamu.
(SBLGNT) οὗτός ἐστιν ὁ γενόμενος ἐν τῇ ἐκκλησίᾳ ἐν τῇ ἐρήμῳ μετα τοῦ ἀγγέλου τοῦ λαλοῦντος αὐτῷ ἐν τῷ ὄρει Σινᾶ και τῶν πατέρων ἡμῶν, ὃς ἐδέξατο λόγια ζῶντα δοῦναι ἡμῖν,
Musa inilah yang menjadi perantara dalam jemaat (ἐν τῇ ἐκκλησίᾳ) di padang gurun di antara malaikat yang berfirman kepadanya di gunung Sinai dan nenek moyang kita; dan dialah yang menerima firman-firman yang hidup untuk menyampaikannya kepada kamu.
Dalam tradisi Reformed, Calvin menegaskan bahwa perjanjian dengan para leluhur pada hakikatnya satu dan sama dengan perjanjian dalam Kristus; yang berbeda hanyalah cara pengelolaannya.22 Edmund Clowney merumuskannya sebagai satu umat Allah yang dipanggil sepanjang sejarah penebusan, dengan Kristus sebagai penggenapan.23
Keberatan: Yesus berkata “jemaat-Ku” dan memakai kata kerja masa depan “akan Kudirikan” (Mat. 16:18), yang tampak menyiratkan sesuatu yang baru akan dibangun-Nya kelak. Efesus 3:5–6 menyebut kesetaraan Yahudi dan bangsa-bangsa sebagai rahasia yang “sekarang” dinyatakan, dan 1 Kor. 12:13 menggambarkan satu tubuh yang dibentuk oleh baptisan Roh. Terhadap Ef. 3:5, para pendukung menunjuk perbandingan ὡς νῦν (“seperti sekarang”): rahasia itu sudah ada dalam janji Abraham, tetapi baru dinyatakan dengan jelas dalam Kristus.
Tanggapan atas keberatan Mat. 16:18: Keberatan ini sering bertumpu pada pembacaan separuh ayat, yaitu “Aku akan mendirikan jemaat-Ku”, yang terdengar seperti rencana yang ditunda ke masa depan. Padahal klausa itu dibuka oleh frasa ἐπὶ ταύτῃ τῇ πέτρᾳ (“di atas batu karang ini”), yang meletakkan landasan sebelum bangunan. Konstruksi ἐπί dengan datif menyebut dasar tempat sesuatu berdiri. Karena itu οἰκοδομήσω tidak berdiri sendiri sebagai janji yang menunggu satu tanggal, melainkan menyatakan akibat dari landasan yang sudah ada: ada dasar (pengakuan di ayat 16), maka pembangunan berlangsung. Futur ini paling tepat disebut futur yang bersyarat landasan, dengan landasan itu sebagai syarat pendirian. Gambaran yang sama muncul di Mat. 7:24–27, tempat dasar batu mendahului rumah. Bila frasa “di atas batu karang ini” dibuang dan dilupakan, futur itu berubah menjadi rencana kelak; bila frasa itu dipertahankan, futur itu kembali menjadi futur yang bergantung pada dasar yang sudah dipancangkan (bdk. Ef. 2:20). Dengan demikian Yesus tidak mendirikan umat yang sama sekali baru, melainkan membangun di atas dasar yang sudah ada dan menamai umat yang sudah dikumpulkan-Nya.24 Tanggapan ini tidak menghapus semua keberatan: dari sudut pandang Yesus, kata kerjanya tetap futur, dan Petrus sendiri menyebut Pentakosta sebagai “permulaan” (Kis. 11:15). Karena itu pembangunan di Mat. 16:18 paling baik dibaca sebagai proses yang dimulai dengan dasar dan berlanjut, bukan sebagai peristiwa tunggal. Dalam tesis bagian VIII, Abraham dipertahankan sebagai awal pola sisa dan janji, bukan sebagai titik pembentukan gereja.
2. Sejak Pembaptisan Yesus
Dasar: Lukas menempatkan baptisan Yesus sebagai pembuka pelayanan-Nya: langit terbuka, Roh turun, dan suara dari surga menyatakan-Nya Anak yang dikasihi (Luk. 3:21–22). Syarat pengganti Yudas menunjuk pada orang yang menyertai para murid “mulai dari baptisan Yohanes” (Kis. 1:21–22), dan khotbah Petrus kepada Kornelius mengulang titik awal yang sama (Kis. 10:37). Hans Conzelmann membaca Lukas–Kisah dalam tiga periode: masa Israel sampai Yohanes, masa pelayanan Yesus, dan masa gereja; baptisan menandai peralihan dari periode pertama ke kedua.25 James Dunn menambahkan bahwa di Yordan Yesus sendiri memasuki zaman perjanjian baru dan karunia Roh, sehingga peristiwa itu menjadi model bagi pengalaman murid-murid.26
Keberatan: Peristiwa itu adalah pengurapan mesianik Yesus sebagai pribadi (Luk. 4:18; Kis. 10:38), bukan pembentukan sebuah komunitas. Kis. 1:21–22 menyebut syarat kesaksian seorang rasul, bukan tanggal berdirinya gereja. Lagipula Kis. 1:5 membedakan baptisan Yohanes dari baptisan Roh, dan Kis. 19:1–7 memperlihatkan murid-murid di Efesus yang hanya mengenal baptisan Yohanes dan perlu dibaptis dalam nama Yesus: baptisan Yohanes belum sama dengan keanggotaan dalam umat yang baru.
Penilaian: Pandangan ini tepat dalam menunjuk bahwa penantian dan seleksi sisa Israel sudah dimulai di sekitar Yohanes dan Yesus (Mat. 3:9–12), dan unsur itu diambil pada tahap kedua tesis bagian VIII.
3. Sejak Pengakuan Petrus di Kaisarea Filipi
Dasar: Pada Mat. 16:13–20 Petrus mengaku Yesus sebagai Mesias, Anak Allah yang hidup, dan Yesus menjawab dengan menyebut “jemaat-Ku”. Frasa “di atas batu karang ini” menyebut syarat pendirian, sehingga kata kerja masa depan menyatakan akibat dari dasar yang sudah hadir, bukan rencana yang ditunda (lihat penjelasan pada pandangan 1).27 Davies dan Allison menunjukkan bahwa ἐκκλησία di sini memakai latar qahal Israel dan menunjuk komunitas pengikut Mesias sebagai umat eskatologis.28 Dukungan tambahan datang dari Mat. 18:17, yang sudah mengandaikan sebuah komunitas dengan tata disiplin sebelum Pentakosta.
Keberatan: Bukan hanya οἰκοδομήσω, tetapi juga δώσω (“akan Kuberikan kunci”) dan κατισχύσουσιν (“tidak akan menguasainya”) berbentuk masa depan; karena itu pembacaan “pembangunan yang masih akan terjadi” tetap dipertahankan sebagian penafsir. Identitas “batu karang” (Petrus, pengakuannya, atau Kristus sendiri) juga diperdebatkan dan memengaruhi seberapa jauh ayat ini dapat dijadikan titik pendirian. Selain itu Kis. 1:5 dan 11:15 menempatkan awal pada Pentakosta, dan Petrus sendiri menyebutnya “pada permulaan” (ἐν ἀρχῇ).
Penilaian: Perikop ini sangat bernilai bagi pembentukan dan penamaan (tesis bagian VIII, butir 4), tetapi lemah bila dipakai sendirian sebagai “kelahiran” gereja.
4. Sejak Pentakosta
Dasar: Kis. 1:5, 8 menjanjikan baptisan Roh dan kuasa; Kis. 2 menggambarkan pencurahannya; dan Petrus kemudian mengatakan bahwa Roh turun atas orang Kornelius “seperti kepada kita pada permulaan” (Kis. 11:15). Paulus menyebut baptisan Roh sebagai karya yang membentuk satu tubuh (1 Kor. 12:13). Dalam dispensasionalisme klasik, Charles Ryrie menyimpulkan bahwa gereja adalah organisme baru yang dibentuk oleh baptisan Roh sejak Pentakosta dan dibedakan dari Israel.29
Pandangan ini punya dua bentuk. Awal mutlak (antara lain dispensasionalis klasik) memandang Pentakosta sebagai kelahiran gereja. Pemberdayaan umat yang sudah ada memandang Pentakosta sebagai pencurahan Roh nubuat atas komunitas yang telah dikumpulkan Yesus; Roger Stronstad, misalnya, membaca Pentakosta sejajar dengan pengurapan Yesus di Luk. 3–4, yaitu pemberdayaan umat untuk bersaksi.30 Dispensasionalis progresif seperti Blaising dan Bock juga menekankan bahwa zaman baru ini berkesinambungan dengan janji kepada Israel.31 Maka dispensasionalis hanya sebagian dari pendukung pandangan ini, dan tidak semuanya menganut bentuk “awal mutlak”.
Keberatan: Petrus menafsirkan Pentakosta sebagai “apa yang difirmankan nabi Yoel” (Kis. 2:16–21), dan menyebut para pendengarnya “anak-anak nabi dan anak-anak perjanjian” (Kis. 3:25), sehingga kesinambungan dengan Israel tetap ditekankan. Mat. 18:17 juga sudah memakai ἐκκλησία sebelum Pentakosta. Karena itu bentuk “awal mutlak” sulit dipertahankan, sedangkan bentuk “pemberdayaan” sejalan dengan tesis bagian VIII.
5. Sejak Kis. 13 (pengutusan Paulus kepada bangsa-bangsa)
Dasar: Di Antiokhia, Roh Kudus memisahkan Barnabas dan Saulus untuk suatu pekerjaan khusus (Kis. 13:1–3). Ketika sebagian besar orang Yahudi menolak, Paulus dan Barnabas menyatakan bahwa mereka berpaling kepada bangsa-bangsa, dengan mengutip Yes. 49:6 (Kis. 13:46–47). Efesus 3:1–6 menggambarkan Paulus sebagai pembawa rahasia bahwa bangsa-bangsa adalah sesama ahli waris dan anggota tubuh yang sama. Dari sini sebagian penafsir, terutama dalam arus ultradispensasionalis, menempatkan awal “tubuh Kristus” pada pelayanan Paulus, bahkan sebagian pada akhir Kisah.32
Keberatan: Paulus sendiri pernah menganiaya “jemaat Allah” (Gal. 1:13), sehingga jemaat itu ada sebelum pelayanannya. Kornelius sudah menerima Roh di Kis. 10, jauh sebelum pasal 13. Pengutusan di Kis. 13 pun dilakukan oleh jemaat Antiokhia yang sudah ada. Rm. 11:1–5 masih menyebut sisa Israel pada masa Paulus. Darrell Bock membaca Kis. 13:46–47 sebagai penggenapan Yes. 49:6, yaitu perluasan misi, bukan pendirian gereja yang baru;33 dan Robert Tannehill mencatat bahwa “berpaling kepada bangsa-bangsa” muncul berulang (13:46; 18:6; 28:28) sebagai pola, bukan sebagai satu titik tunggal.34
Menyatukan Lima Pandangan: Satu Proses, Lima Tahap
1. Lima pertanyaan, bukan lima tanggal. Pertanyaan “kapan gereja dimulai?” menuntut definisi lebih dulu. Bila gereja dipahami sebagai umat yang dipanggil Allah, jawabannya mengarah ke Abraham. Bila dipahami sebagai komunitas Mesias yang dikumpulkan dan dinamai, jawabannya mengarah ke pelayanan Yesus. Bila dipahami sebagai komunitas yang diperlengkapi Roh, jawabannya mengarah ke Pentakosta; dan bila dipahami sebagai umat yang tidak lagi dibatasi etnis, jawabannya mengarah ke Kornelius, Antiokhia, dan Konsili Yerusalem. Kelima pandangan karenanya paling jujur dibaca sebagai jawaban atas lima pertanyaan yang berbeda, dan hanya menjadi saling bertentangan bila masing-masing dipaksa menjawab semua pertanyaan.
| Tahap | Yang ditegaskan |
|---|---|
| Abraham Kej. 12:3; Rm. 11:17–24 |
Akar dan pola: umat perjanjian dan sisa yang dipilih |
| Yohanes dan baptisan Yesus Mat. 3:9–12; Luk. 3:21–22 |
Zaman Mesias dibuka; seleksi sisa dimulai |
| Kaisarea Filipi Mat. 16:16–18 |
Dasar dan nama: “jemaat-Ku” di atas batu karang pengakuan |
| Pentakosta Kis. 1:8; 2 |
Pemberdayaan oleh Roh untuk bersaksi |
| Kornelius, Antiokhia, Yerusalem Kis. 10; 13; 15 |
Perluasan: bangsa-bangsa setara dalam satu umat |
2. Urutan yang saling menopang. Tahap pertama menjelaskan mengapa gereja berbicara dalam bahasa Israel: janji kepada Abraham, sisa para nabi, dan pengharapan pemulihan yang hidup pada abad pertama (lihat bagian I).35 Tahap kedua menjelaskan kapan pengharapan itu mulai dijawab: Yohanes menyerukan pertobatan sebagai tanda keanggotaan, dan Yesus dibaptis serta diurapi Roh. Tahap ketiga memberikan dasar: ketika Petrus mengaku Yesus sebagai Mesias, Yesus menyebutnya sebagai batu karang tempat jemaat-Nya dibangun, sehingga Mat. 16:18 dibaca sebagai futur yang bersyarat landasan, bukan janji yang ditunda. Tahap keempat memberikan kuasa: Pentakosta memperlengkapi komunitas yang sudah ada untuk bersaksi sampai ke ujung bumi (Kis. 1:8). Tahap kelima memberikan jangkauan: Roh turun atas Kornelius (Kis. 10), sidang Yerusalem meneguhkannya (Kis. 15), dan pengutusan dari Antiokhia (Kis. 13) menjadikannya program misi.
3. Keberatan yang saling menjawab. Setiap pandangan, bila berdiri sendiri, terbentur keberatan yang justru dijawab oleh pandangan lain. “Sejak Abraham” terbentur “jemaat-Ku” di Mat. 16:18; keberatan itu dijawab oleh tahap ketiga, yang menunjukkan bahwa Yesus membangun di atas dasar yang sudah ada. “Sejak baptisan Yesus” terbentur Kis. 19:1–7; keberatan itu dijawab oleh tahap keempat, yang menunjukkan bahwa baptisan Yohanes belum memperlengkapi komunitas dengan Roh. “Sejak Kaisarea Filipi” terbentur Kis. 11:15; keberatan itu dijawab oleh tahap keempat dan kelima, karena Petrus menyebut “permulaan” sebagai pencurahan Roh. “Sejak Pentakosta” terbentur kesinambungan dengan Israel dalam Kis. 2:16–21 dan 3:25; keberatan itu dijawab oleh tahap pertama, kedua, dan ketiga. “Sejak Kis. 13” terbentur Gal. 1:13 dan Kis. 10; keberatan itu dijawab oleh tahap keempat dan kelima, yang menunjukkan bahwa pola “berpaling kepada bangsa-bangsa” berulang dan bukan titik tunggal.36 Hasilnya bukan kompromi yang kabur, melainkan susunan yang menghormati hampir semua teks yang dikutip masing-masing pandangan.
4. Yang tetap baru dan yang tetap sama. Membaca lima pandangan sebagai tahap tidak berarti gereja hanyalah Israel dengan nama lain. Efesus 2:15 dan 3:5–6 menyebut sesuatu yang benar-benar baru: Yahudi dan bangsa-bangsa menjadi satu tubuh tanpa dinding pemisah, dan Roh dicurahkan atas semua umat Allah. Sebaliknya, tidak ada tahap yang meniadakan kesinambungan: Paulus masih berbicara tentang sisa Israel pada masanya (Rm. 11:1–5) dan menolak anggapan bahwa Allah telah menolak umat-Nya (Rm. 11:1, 29). Karena itu pembacaan ini menghindari dua kutub, yakni gereja sebagai awal yang terputus dari Israel dan gereja sebagai pengganti yang menghapus Israel. Penafsir yang berbeda memadukan unsur baru dan unsur lama secara berbeda, dan perbedaan itu tampak pada pembacaan Rm. 11:25–26 yang telah dicatat di bagian VIII.37
5. Kesimpulan. Jawaban paling lengkap atas “kapan gereja dimulai?” ialah: gereja dimulai dari sisa Israel yang dikumpulkan di sekitar Yesus, berakar pada janji kepada Abraham, ditandai oleh seleksi di sekitar Yohanes dan baptisan Yesus, diberi dasar dan nama di Kaisarea Filipi, diperlengkapi Roh pada Pentakosta, dan diperluas kepada bangsa-bangsa melalui Kornelius, Antiokhia, dan Konsili Yerusalem. Bagian VIII mengembangkan tesis ini lebih lanjut dengan tujuh butir.
VIII. Tesis: Gereja Dimulai dari Sisa Israel ▾
Kelima pandangan tidak saling meniadakan bila dibaca sebagai tahap, dengan Abraham sebagai awal. Tesisnya: gereja dimulai dari sisa Israel.
1. Abraham dan pola sisa Kej. 12:3; 1 Raj. 19:18; Yes. 10:20–22; Rm. 9:6–8. Paulus: “pada waktu sekarang telah ada suatu sisa menurut pilihan kasih karunia” (Rm. 11:5, γέγονεν), dengan Elia sebagai analogi.
2. Seleksi dimulai Mat. 3:9–12: keturunan tidak menjamin (3:9); kapak “sudah” pada akar (ἤδη, 3:10); penampi “di tangan-Nya” dan “gandum-Nya” (3:12). Catatan: pengumpulan ke lumbung selesai pada akhir zaman (Mat. 13:30, 40–43).
3. Yesus, Israel yang sejati Yoh. 15:1–3: pokok anggur yang sejati (ἀληθινή, pola penggenapan); seleksi ranting “di dalam Aku” (αἴρει, καθαίρει, καθαροί). Latarnya Mzm. 80:9–17 (Anak Manusia di ayat 16, 18) dan Hos. 10:1 (Israel berbuah bagi dirinya sendiri; bdk. Yoh. 15:8). Israel mencapai telos-nya dalam Yesus, tanpa berarti Allah selesai dengan orang Yahudi (Rm. 11:1, 29).
4. Pembentukan dan penamaan Dua belas murid (Mrk. 3:13–19; Mat. 19:28); pengakuan Petrus dan “jemaat-Ku” (Mat. 16:18).
5. Zaman bangsa-bangsa dibuka Mat. 28:18–20 (“segala kuasa” menggemakan Dan. 7:13–14) sejajar dengan Kis. 1:3–8. Mat. 1:1 (anak Abraham) → 28:19 (semua bangsa) menggenapi Kej. 12:3. Bdk. Luk. 21:24; Rm. 11:25.
6. Roh dan perluasan Pentakosta memperlengkapi sisa itu (Kis. 2); Kornelius (Kis. 10); Amos 9:11–12 di Kis. 15:16–17: pondok Daud didirikan kembali, supaya bangsa-bangsa mencari Tuhan.
7. Inklusio Kisah Para Rasul Kis. 1:3 dan 28:31: Kerajaan Allah dan Yesus membuka dan menutup kitab. Di antaranya: “pengharapan Israel” (28:20), sebagian yakin (28:24), “semua orang” diterima (28:30–31).
Daniel 7:13–14 dan Gereja
Yesus menggenapi Dan. 7:13–14 sebagai Anak Manusia (Mrk. 14:62; Kis. 1:9–11; 7:56). Penafsiran Daniel sendiri menyatakan bahwa kerajaan itu diberikan kepada “orang-orang kudus Yang Mahatinggi” (7:18, 22, 27), sehingga gereja berbagian dalam penggenapan itu (Luk. 22:29–30; Why. 1:6).38
Batas yang perlu dijaga: (1) Ef. 2:15 dan 3:5–6 menyebut unsur yang baru: Yahudi dan bangsa-bangsa setara dalam satu tubuh. (2) Rm. 11:25–26 dibaca berbeda: pertobatan massal Yahudi di masa depan, seluruh umat Allah, atau seluruh Israel terpilih sepanjang sejarah; tesis ini dapat dipadukan dengan lebih dari satu. (3) Kerajaan Allah adalah pemerintahan-Nya; sisa dan bangsa-bangsa adalah umat Kerajaan, bukan kerajaan itu sendiri.
Kesimpulan: gereja tidak muncul dari nol pada satu tanggal. Ia adalah sisa Israel yang dikumpulkan di sekitar Yesus, Israel yang sejati, lalu diperlengkapi Roh dan diperluas dengan bangsa-bangsa.
IX. Rencana Tatap Muka (150 Menit) ▾
15 menit Tinjauan Pertemuan 4 (kerangka Kis. 1:8, jembatan Lukas → Kisah) dan Sitz im Leben pengharapan sisa Israel
25 menit Eksegesis Kis. 1:12–26 dan 2:14–47
35 menit Eksegesis Kis. 10:1–48 (termasuk sorotan 10:34)
30 menit Eksegesis Kis. 15:1–29 dan diskusi peran Petrus sebagai pemimpin transisi
45 menit Diskusi “Kapan Gereja Dimulai?”: lima pandangan, tahap, dan tesis sisa Israel
X. Penugasan ▾
Tugas Terstruktur
1. Susun tabel sedikitnya enam pasangan paralel Lukas–Kisah (misalnya Luk. 24:47–49 ↔ Kis. 1:8) beserta penjelasan singkat kesinambungannya.
2. Bandingkan tiga pidato Petrus (Kis. 2:14–41; 10:34–43; 15:7–11): pendengar, kutipan Perjanjian Lama, isi kerygma, dan respons.
3. Baca Kisah 10:1–11:18 dan catat unsur yang diceritakan ulang di pasal 11 serta perbedaan penekanannya.
4. Susun tabel lima pandangan tentang awal gereja: dasar teks, pendukung, dan keberatan; lalu tunjukkan bagaimana kelimanya dapat disusun sebagai tahap.
Tugas Mandiri (Pilih Satu)
A1 — S1 Teologi Analisis penggunaan Yoel 3 LXX di Kis. 2:17–21: apa dampak perubahan “sesudah itu” menjadi “pada hari-hari terakhir”?
A2 — S1 Teologi Bandingkan pembacaan ritual dan etis atas Kis. 15:20, 29 dengan sedikitnya dua sumber ilmiah, lalu tentukan posisi Anda.
A3 — S1 Teologi Evaluasi tesis “gereja dimulai dari sisa Israel” dengan Mat. 3:9–12, Rm. 11:5, Yoh. 15:1–3, dan Kis. 15:16–17; tanggapi sekurangnya dua keberatan.
B1 — S1 PAK Rancang bahan pemuridan tentang empat ciri komunitas awal (Kis. 2:42) dan penerapannya di gereja lokal.
B2 — S1 PAK Susun bahan diskusi pemuda tentang Kisah 10: bagaimana gereja menerima orang yang dianggap “asing”?
B3 — S1 PAK Rancang bahan diskusi jemaat: “Kapan gereja dimulai, dan apa artinya bagi identitas kita sebagai umat Allah?”
Catatan Kaki
1 N. T. Wright, The New Testament and the People of God (Minneapolis: Fortress Press, 1992), 268–338.
2 James M. Scott, ed., Exile: Old Testament, Jewish, and Christian Conceptions, Journal for the Study of Judaism Supplement 56 (Leiden: Brill, 1997).
3 Damascus Document (CD) 1:4–5, dalam Florentino García Martínez dan Eibert J. C. Tigchelaar, ed., The Dead Sea Scrolls Study Edition, 2 jil. (Leiden: Brill, 1997–1998).
4 Community Rule (1QS) 5:7–11; 8:12–16; 9:19–20, dalam García Martínez dan Tigchelaar, Dead Sea Scrolls Study Edition, jil. 1.
5 John J. Collins, Beyond the Qumran Community: The Sectarian Movement of the Dead Sea Scrolls (Grand Rapids: Eerdmans, 2010), 1–43.
6 R. B. Wright, “Psalms of Solomon,” dalam The Old Testament Pseudepigrapha, ed. James H. Charlesworth, jil. 2 (Garden City, NY: Doubleday, 1985), 639–70.
7 John J. Collins, The Scepter and the Star: The Messiahs of the Dead Sea Scrolls and Other Ancient Literature, 2nd ed. (Grand Rapids: Eerdmans, 2010), 49–73.
8 Robert L. Webb, John the Baptizer and Prophet: A Socio-Historical Study, Journal for the Study of the New Testament Supplement Series 62 (Sheffield: JSOT Press, 1991), 162–95.
9 Josephus, Jewish Antiquities 18.116–119.
10 Raymond E. Brown, The Birth of the Messiah: A Commentary on the Infancy Narratives in the Gospels of Matthew and Luke, updated ed., Anchor Bible Reference Library (New York: Doubleday, 1993), 346–92.
11 Jacob Jervell, Luke and the People of God: A New Look at Luke–Acts (Minneapolis: Augsburg, 1972), 41–74.
12 E. P. Sanders, Jesus and Judaism (Philadelphia: Fortress Press, 1985), 98–106.
13 N. T. Wright, Jesus and the Victory of God, Christian Origins and the Question of God 2 (Minneapolis: Fortress Press, 1996), 299–301.
14 Robert C. Tannehill, The Narrative Unity of Luke–Acts: A Literary Interpretation, vol. 1, The Gospel according to Luke (Philadelphia: Fortress Press, 1986), 283–90.
15 F. F. Bruce, The Book of Acts, New International Commentary on the New Testament, rev. ed. (Grand Rapids: Eerdmans, 1988), 30–33.
16 Loveday Alexander, The Preface to Luke’s Gospel: Literary Convention and Social Context in Luke 1.1–4 and Acts 1.1, SNTS Monograph Series 78 (Cambridge: Cambridge University Press, 1993), 101–48.
17 Luke Timothy Johnson, The Acts of the Apostles, Sacra Pagina 5 (Collegeville, MN: Liturgical Press, 1992), 41–57.
18 Robert C. Tannehill, The Narrative Unity of Luke–Acts: A Literary Interpretation, vol. 2, The Acts of the Apostles (Minneapolis: Fortress Press, 1990), 128–42.
19 Colin J. Hemer, The Book of Acts in the Setting of Hellenistic History, ed. Conrad H. Gempf, WUNT 49 (Tübingen: J. C. B. Mohr, 1989), 312–34.
20 Richard Bauckham, “James and the Gentiles (Acts 15.13–21),” dalam History, Literature, and Society in the Book of Acts, ed. Ben Witherington III (Cambridge: Cambridge University Press, 1996), 154–84.
21 K. L. Schmidt, “ἐκκλησία,” dalam Theological Dictionary of the New Testament, ed. Gerhard Kittel, jil. 3 (Grand Rapids: Eerdmans, 1965), 501–36.
22 John Calvin, Institutes of the Christian Religion, ed. John T. McNeill, trans. Ford Lewis Battles, 2 jil., Library of Christian Classics 20–21 (Philadelphia: Westminster Press, 1960), 2.10.1–2 (1:428–31).
23 Edmund P. Clowney, The Church, Contours of Christian Theology (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1995), 28–45.
24 R. T. France, The Gospel of Matthew, New International Commentary on the New Testament (Grand Rapids: Eerdmans, 2007), 614–29.
25 Hans Conzelmann, The Theology of St. Luke, trans. Geoffrey Buswell (New York: Harper & Row, 1960), 16–27.
26 James D. G. Dunn, Baptism in the Holy Spirit (London: SCM Press, 1970), 24–37.
27 France, Matthew, 614–29.
28 W. D. Davies dan Dale C. Allison Jr., A Critical and Exegetical Commentary on the Gospel according to Saint Matthew, vol. 2, International Critical Commentary (Edinburgh: T&T Clark, 1991), 602–52.
29 Charles C. Ryrie, Dispensationalism, rev. ed. (Chicago: Moody Press, 1995), 136–38.
30 Roger Stronstad, The Charismatic Theology of St. Luke (Peabody, MA: Hendrickson, 1984), 49–58.
31 Craig A. Blaising dan Darrell L. Bock, Progressive Dispensationalism (Wheaton, IL: Victor Books, 1993), 46–56.
32 Ryrie, Dispensationalism, 195–204.
33 Darrell L. Bock, Acts, Baker Exegetical Commentary on the New Testament (Grand Rapids: Baker Academic, 2007), 459–61.
34 Tannehill, Narrative Unity, 2:164–69.
35 Wright, New Testament and the People of God, 268–338.
36 Tannehill, Narrative Unity, 2:164–69.
37 Blaising dan Bock, Progressive Dispensationalism, 46–56; Clowney, The Church, 28–45.
38 John J. Collins, Daniel, Hermeneia (Minneapolis: Fortress Press, 1993), 274–324.
STT Kalimantan · Eksposisi Perjanjian Baru 1 · Pertemuan 6 · slug: xpb1-06