Eksegesis berfokus pada penafsiran unit teks tertentu (perikop, ayat) secara rinci dengan kaidah gramatikal-historis. Teologi PB berdiri di atas hasil eksegesis, lalu mensintesiskannya menjadi gambaran teologis yang koheren.
Teologi Sistematika bersifat sinkronik-normatif, menyusun doktrin lintas seluruh kanon. Teologi PB lebih diakronik-deskriptif dahulu — menghormati perkembangan pemikiran tiap penulis — sebelum dipakai bagi refleksi sistematis.[2]
Bersama membentuk Teologi Biblika, karena Teologi PB melanjutkan dan menggenapi wahyu progresif yang dimulai dalam PL, terutama melalui pribadi dan karya Yesus Kristus.
Titik tolak historis disiplin Teologi Biblika modern umumnya dilacak pada tanggal 30 Maret 1787, ketika Johann Philipp Gabler menyampaikan pidato pengukuhannya sebagai profesor teologi di Universitas Altdorf, berjudul Oratio de iusto discrimine theologiae biblicae et dogmaticae regundisque recte utriusque finibus — “Pidato mengenai Pembedaan yang Tepat antara Teologi Biblika dan Teologi Dogmatika serta Batasan yang Semestinya bagi Keduanya.”[3] Pidato inilah yang oleh banyak sejarawan disiplin dianggap sebagai titik kelahiran resmi Teologi Biblika sebagai bidang kajian akademik yang berdiri sendiri, terpisah dari Teologi Dogmatika yang sebelumnya telah lama mapan dalam tradisi skolastik Protestan.[4]
Pada penghujung abad kesembilan belas dan awal abad kedua puluh, sekelompok sarjana Jerman muda — termasuk Wilhelm Bousset, Wilhelm Heitmüller, Hermann Gunkel, dan Albert Eichhorn — membentuk mazhab Sejarah Agama-Agama (religionsgeschichtliche Schule). Mazhab ini menempatkan dokumen-dokumen Perjanjian Baru bukan sebagai wahyu yang berdiri sendiri, melainkan sebagai satu varian di antara fenomena keagamaan Helenistik-Yahudi yang lebih luas pada zamannya.[9]
Searah dengan semangat mazhab Sejarah Agama-Agama, Wrede menerbitkan esai program berjudul Über Aufgabe und Methode der sogenannten Neutestamentlichen Theologie (“Mengenai Tugas dan Metode yang Disebut Teologi Perjanjian Baru”), menuntut agar sebutan “teologi” ditinggalkan karena masih membawa muatan dogmatis gereja, dan mengusulkan disiplin ini disebut “sejarah agama Kristen purba” yang dijalankan murni deskriptif-historis.[12]
Dalam karya monumentalnya Theologie des Neuen Testaments (1948–1953), Bultmann mengembangkan pendekatan yang dipengaruhi filsafat eksistensialis Martin Heidegger: inti Teologi PB bukan pada rekonstruksi ajaran historis Yesus dari Nazaret — yang menurutnya sangat terbatas kemungkinannya secara historis — melainkan pada kerygma, pemberitaan salib dan kebangkitan Kristus yang menuntut keputusan iman yang otentik.[14]
Sejumlah sarjana evangelikal Anglo-Amerika — terutama George Eldon Ladd dan Donald Guthrie — menegaskan kembali keterandalan historis PB dan menolak pemisahan tajam “Yesus historis” vs. “Kristus kerygma” ala Bultmann. Ladd mengusulkan seluruh korpus PB disatukan di sekitar penggenapan eskhatologis Kerajaan Allah — skema “sudah tetapi belum” (already but not yet).[17]
Brevard S. Childs mengusulkan penafsiran teologis PB difokuskan pada bentuk kanon akhir 27 kitab sebagaimana diterima gereja, bukan rekonstruksi hipotetis sumber/tradisi/redaksi di baliknya — pendekatan “kanonik” yang menempatkan otoritas kanon gerejawi sebagai konteks sah penafsiran teologis.[20]
Konteks historis peristiwa itu sendiri sebagaimana terjadi — situasi hidup Yesus dalam pelayanan-Nya, atau situasi historis jemaat mula-mula — sebelum peristiwa itu dinarasikan.[23]
Konteks hidup, kebutuhan, dan pergumulan komunitas pembaca/penerima pertama tulisan tersebut, yang membentuk cara penulis menyusun dan menekankan materinya.
Konteks sastra-redaksional suatu unit teks di dalam struktur kitab secara keseluruhan — bagaimana penulis/redaktor menempatkan dan memberi penekanan teologis tertentu demi tujuan kitab itu.
Analisis gramatikal-leksikal teks asli (morfologi, sintaksis, semantik kata) sebagai dasar objektif yang menguji ketiga lapis kontekstual di atas.[24]
Memahami “apa arti” teks bagi pembaca pertama, versus menyimpulkan “apa makna”-nya yang normatif bagi pembaca masa kini.
Menyajikan teologi tiap kitab berurutan dan mandiri — dipakai Ladd, Guthrie, Thielman.
Menelusuri perkembangan (development) suatu tema teologis dari waktu ke waktu mengikuti urutan kronologis penulisan — pergeseran penekanan dapat terjadi bukan hanya antarpenulis, tetapi juga di dalam korpus satu penulis yang sama seiring berjalannya waktu, bukan sekadar perbandingan statis antarkitab. Pendekatan inilah yang dipakai dalam mata kuliah ini.[25]
Membandingkan ajaran PB dengan gagasan keagamaan Yahudi-Helenistik sezaman untuk memperjelas kekhasannya.
Menyusun peta konsep (concept map) yang memuat definisi Teologi PB, kedudukannya terhadap Eksegesis dan Teologi Sistematika, serta empat tahap utama sejarah perkembangan disiplin ini (bagian IV).
1) Refleksi singkat (150–200 kata) tentang relevansi “kesatuan dalam keragaman” bagi pelayanan penggembalaan/pengajaran jemaat; atau
2) Tabel perbandingan sederhana antara metode kitab-per-kitab dan metode tematik-sintetis.
[1] Donald Guthrie, New Testament Theology (Downers Grove: InterVarsity Press, 1981).
[2] Johann Philipp Gabler, “An Oration on the Proper Distinction between Biblical and Dogmatic Theology and the Specific Objectives of Each,” dalam The Flowering of Old Testament Theology, disunting oleh Ben C. Ollenburger, Elmer A. Martens, dan Gerhard F. Hasel (Winona Lake: Eisenbrauns, 1992).
[3] Gabler, “An Oration on the Proper Distinction.”
[4] Ben C. Ollenburger, “Introduction: Biblical Theology: Situating the Discipline,” dalam The Flowering of Old Testament Theology, disunting oleh Ben C. Ollenburger, Elmer A. Martens, dan Gerhard F. Hasel (Winona Lake: Eisenbrauns, 1992).
[5] Ibid.
[6] Gabler, “An Oration on the Proper Distinction.”
[7] Ollenburger, “Introduction: Biblical Theology.”
[8] Charles H. H. Scobie, The Ways of Our God: An Approach to Biblical Theology (Grand Rapids: Eerdmans, 2003).
[9] William Baird, History of New Testament Research, Volume 2: From Jonathan Edwards to Rudolf Bultmann (Minneapolis: Fortress Press, 2003).
[10] Wilhelm Bousset, Kyrios Christos: A History of the Belief in Christ from the Beginnings of Christianity to Irenaeus, terj. John E. Steely (Nashville: Abingdon Press, 1970).
[11] Samuel Sandmel, “Parallelomania,” Journal of Biblical Literature 81, no. 1 (1962).
[12] William Wrede, “The Task and Methods of ‘New Testament Theology,'” dalam The Nature of New Testament Theology, disunting dan diterjemahkan oleh Robert Morgan (London: SCM Press, 1973).
[13] Baird, History of New Testament Research.
[14] Rudolf Bultmann, Theology of the New Testament, terj. Kendrick Grobel (New York: Charles Scribner’s Sons, 1951).
[15] Ibid.
[16] Baird, History of New Testament Research.
[17] George Eldon Ladd, A Theology of the New Testament, ed. rev. Donald A. Hagner (Grand Rapids: Eerdmans, 1993).
[18] Guthrie, New Testament Theology.
[19] Baird, History of New Testament Research.
[20] Brevard S. Childs, The New Testament as Canon: An Introduction (Philadelphia: Fortress Press, 1985).
[21] I. Howard Marshall, New Testament Theology: Many Witnesses, One Gospel (Downers Grove: InterVarsity Press, 2004); Frank Thielman, Theology of the New Testament: A Canonical and Synthetic Approach (Grand Rapids: Zondervan, 2005).
[22] Baird, History of New Testament Research.
[23] Norman Perrin, What Is Redaction Criticism? (Philadelphia: Fortress Press, 1969).
[24] Gordon D. Fee, New Testament Exegesis: A Handbook for Students and Pastors, ed. ke-3 (Louisville: Westminster John Knox Press, 2002).
[25] James M. Robinson dan Helmut Koester, Trajectories through Early Christianity (Philadelphia: Fortress Press, 1971).
[26] Hans Conzelmann, The Theology of St. Luke, terj. Geoffrey Buswell (London: Faber & Faber, 1960).
[27] Donald A. Hagner, Matthew 14–28, Word Biblical Commentary (Dallas: Word Books, 1995).
[28] J. Louis Martyn, History and Theology in the Fourth Gospel, ed. ke-3 (Louisville: Westminster John Knox Press, 2003).
[29] Raymond E. Brown, The Community of the Beloved Disciple (New York: Paulist Press, 1979).
[30] James D.G. Dunn, Unity and Diversity in the New Testament: An Inquiry into the Character of Earliest Christianity, ed. ke-3 (London: SCM Press, 2006).
[31] D.A. Carson dan Douglas J. Moo, An Introduction to the New Testament, ed. ke-2 (Grand Rapids: Zondervan, 2005).