Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

tpb1-01

SEKOLAH TINGGI TEOLOGI KALIMANTAN
Teologi Perjanjian Baru 1
DTh-136.202
BAHAN AJAR PERTEMUAN 1
Pengantar, Tugas, dan Metode Teologi Perjanjian Baru

I. Pendahuluan
Sebelum memasuki kajian tematik atas Kristologi, Soteriologi, Pneumatologi, dan Eskhatologi Perjanjian Baru pada pertemuan-pertemuan berikutnya, diperlukan orientasi metodologis yang memadai. Pertemuan ini memperkenalkan hakikat Teologi Perjanjian Baru sebagai disiplin ilmu, kedudukannya di antara disiplin teologis lain, sejarah singkat perkembangannya, ragam metode para ahli, serta pergumulan mendasar mengenai kesatuan (unity) dan keragaman (diversity) kesaksian Perjanjian Baru.

II. Definisi & Ruang Lingkup
Teologi Perjanjian Baru adalah upaya sistematis menyajikan ajaran teologis dalam dua puluh tujuh dokumen Perjanjian Baru, dengan memperhatikan konteks historis, sastra, dan teologis khas tiap penulis, sebelum disintesiskan menjadi gambaran teologis yang lebih luas.[1]
Ruang lingkupnya mencakup seluruh korpus Perjanjian Baru — didekati menurut penulis/korpus (Sinoptik, Yohanes, Paulus, surat am, Wahyu) maupun menurut tema besar lintas korpus, sebagaimana ditempuh dalam mata kuliah ini.

III. Kedudukan di Antara Disiplin Teologis Lain
Terhadap Eksegesis
Eksegesis berfokus pada penafsiran unit teks tertentu (perikop, ayat) secara rinci dengan kaidah gramatikal-historis. Teologi PB berdiri di atas hasil eksegesis, lalu mensintesiskannya menjadi gambaran teologis yang koheren.
Terhadap Teologi Sistematika
Teologi Sistematika bersifat sinkronik-normatif, menyusun doktrin lintas seluruh kanon. Teologi PB lebih diakronik-deskriptif dahulu — menghormati perkembangan pemikiran tiap penulis — sebelum dipakai bagi refleksi sistematis.[2]
Terhadap Teologi Perjanjian Lama
Bersama membentuk Teologi Biblika, karena Teologi PB melanjutkan dan menggenapi wahyu progresif yang dimulai dalam PL, terutama melalui pribadi dan karya Yesus Kristus.

IV. Sejarah Singkat Perkembangan Disiplin
1787 — Johann Philipp Gabler
Titik tolak historis disiplin Teologi Biblika modern umumnya dilacak pada tanggal 30 Maret 1787, ketika Johann Philipp Gabler menyampaikan pidato pengukuhannya sebagai profesor teologi di Universitas Altdorf, berjudul Oratio de iusto discrimine theologiae biblicae et dogmaticae regundisque recte utriusque finibus — “Pidato mengenai Pembedaan yang Tepat antara Teologi Biblika dan Teologi Dogmatika serta Batasan yang Semestinya bagi Keduanya.”[3] Pidato inilah yang oleh banyak sejarawan disiplin dianggap sebagai titik kelahiran resmi Teologi Biblika sebagai bidang kajian akademik yang berdiri sendiri, terpisah dari Teologi Dogmatika yang sebelumnya telah lama mapan dalam tradisi skolastik Protestan.[4]
Inti argumen Gabler terletak pada pembedaan metodologis yang tegas antara kedua disiplin tersebut: Teologi Biblika bersifat historis dan deskriptif, dengan tugas menguraikan secara objektif apa yang sesungguhnya diyakini dan diajarkan oleh para penulis Alkitab pada zaman dan konteks historis mereka sendiri, tanpa dibebani kepentingan dogmatis gereja masa kini.[5] Teologi Dogmatika, sebaliknya, bersifat normatif dan filosofis, dengan tugas merumuskan ajaran yang mengikat bagi gereja masa kini dengan memanfaatkan kategori-kategori filsafat dan nalar zamannya. Gabler bahkan mengusulkan pembedaan lebih lanjut di dalam Teologi Biblika itu sendiri, antara apa yang disebutnya teologi biblika “sejati” (wahre biblische Theologie) — gagasan-gagasan yang terikat erat pada zaman dan situasi partikular penulisnya — dan teologi biblika “murni” (reine biblische Theologie) — gagasan-gagasan universal dan berlaku sepanjang masa yang dapat disaring dari kesaksian historis-partikular tersebut.[6]
Meskipun pidato Gabler kerap dibaca secara sederhana sebagai seruan untuk memisahkan sepenuhnya kajian Alkitab dari kepentingan teologis gereja, sejumlah pembacaan ulang menekankan bahwa maksud Gabler sesungguhnya lebih bernuansa: tahap deskriptif-historis dipahaminya sebagai langkah awal yang harus dilalui sebelum hasilnya dapat dipakai secara sah bagi refleksi dogmatis, bukan sebagai penolakan terhadap kegunaan teologis Alkitab itu sendiri.[7] Terlepas dari perdebatan mengenai maksud aslinya, warisan metodologis pidato ini terbukti menentukan: pemisahan historis-deskriptif versus normatif-dogmatis yang diusulkannya menjadi fondasi bagi seluruh perkembangan disiplin Teologi Biblika — termasuk Teologi Perjanjian Baru — pada dua abad berikutnya.[8]
Akhir Abad ke-19 — Mazhab Sejarah Agama-Agama
Pada penghujung abad kesembilan belas dan awal abad kedua puluh, sekelompok sarjana Jerman muda — termasuk Wilhelm Bousset, Wilhelm Heitmüller, Hermann Gunkel, dan Albert Eichhorn — membentuk mazhab Sejarah Agama-Agama (religionsgeschichtliche Schule). Mazhab ini menempatkan dokumen-dokumen Perjanjian Baru bukan sebagai wahyu yang berdiri sendiri, melainkan sebagai satu varian di antara fenomena keagamaan Helenistik-Yahudi yang lebih luas pada zamannya.[9]
Karya paling berpengaruh dari mazhab ini adalah Kyrios Christos (1913) karya Wilhelm Bousset, yang berargumen bahwa gelar “Kyrios” (Tuhan) yang disematkan kepada Yesus muncul akibat pengaruh sinkretistik kultus-kultus misteri Helenistik, bukan dari tradisi Kristen Palestina paling awal.[10] Konsekuensinya cenderung mereduksi keunikan wahyu Kristen menjadi sekadar fenomena sejarah agama biasa — kecenderungan yang belakangan dikritik sebagai “parallelomania”, yakni melebih-lebihkan paralel lintas-agama tanpa memperhitungkan perbedaan konseptualnya.[11]
1897 — William Wrede
Searah dengan semangat mazhab Sejarah Agama-Agama, Wrede menerbitkan esai program berjudul Über Aufgabe und Methode der sogenannten Neutestamentlichen Theologie (“Mengenai Tugas dan Metode yang Disebut Teologi Perjanjian Baru”), menuntut agar sebutan “teologi” ditinggalkan karena masih membawa muatan dogmatis gereja, dan mengusulkan disiplin ini disebut “sejarah agama Kristen purba” yang dijalankan murni deskriptif-historis.[12]
Usulan Wrede ini adalah radikalisasi lebih lanjut dari pembedaan yang dirintis Gabler seabad sebelumnya: jika Gabler membayangkan tahap deskriptif sebagai persiapan bagi refleksi dogmatis, Wrede menolak keterkaitan itu — agenda deskriptif-historisnya kelak menjadi salah satu akar penting bagi pendekatan Rudolf Bultmann.[13]
Pertengahan Abad ke-20 — Rudolf Bultmann
Dalam karya monumentalnya Theologie des Neuen Testaments (1948–1953), Bultmann mengembangkan pendekatan yang dipengaruhi filsafat eksistensialis Martin Heidegger: inti Teologi PB bukan pada rekonstruksi ajaran historis Yesus dari Nazaret — yang menurutnya sangat terbatas kemungkinannya secara historis — melainkan pada kerygma, pemberitaan salib dan kebangkitan Kristus yang menuntut keputusan iman yang otentik.[14]
Untuk menjembatani pandangan dunia mitologis PB (kosmologi tiga tingkat, kuasa adikodrati, eskhatologi harfiah) dengan pemahaman diri manusia modern, Bultmann mengusulkan “demitologisasi” (Entmythologisierung): bukan menyingkirkan unsur mitologis itu, melainkan menafsirkannya ulang secara eksistensial.[15]
Pendekatan ini memicu reaksi keras dari kalangan yang menamakan diri gerakan Biblical Theology, yang memandang skeptisisme historisnya berlebihan dan program demitologisasinya mengancam kredibilitas historis inti kesaksian Injil.[16]
Reaksi — Biblical Theology Movement (Ladd & Guthrie)
Sejumlah sarjana evangelikal Anglo-Amerika — terutama George Eldon Ladd dan Donald Guthrie — menegaskan kembali keterandalan historis PB dan menolak pemisahan tajam “Yesus historis” vs. “Kristus kerygma” ala Bultmann. Ladd mengusulkan seluruh korpus PB disatukan di sekitar penggenapan eskhatologis Kerajaan Allah — skema “sudah tetapi belum” (already but not yet).[17]
Donald Guthrie melengkapi proyek ini dengan pendekatan tematik yang menelusuri kesatuan ajaran PB mengenai Allah, Kristus, Roh Kudus, keselamatan, dan gereja.[18] Gerakan ini dianggap berhasil mengembalikan pertanyaan kesatuan teologis PB ke pusat perdebatan disiplin, meski kelak dikritik kurang memberi ruang bagi keragaman otentik antarpenulis.[19]
Akhir Abad ke-20 — Pendekatan Kanonik (Childs, Marshall, Thielman)
Brevard S. Childs mengusulkan penafsiran teologis PB difokuskan pada bentuk kanon akhir 27 kitab sebagaimana diterima gereja, bukan rekonstruksi hipotetis sumber/tradisi/redaksi di baliknya — pendekatan “kanonik” yang menempatkan otoritas kanon gerejawi sebagai konteks sah penafsiran teologis.[20]
I. Howard Marshall dan Frank Thielman melanjutkan proyek ini dengan menggabungkan sensitivitas keragaman historis tiap penulis (“many witnesses”) dengan kesatuan naratif-teologis seluruh korpus (“one gospel”).[21] Pendekatan kanonik ini berupaya mendamaikan warisan deskriptif-historis Gabler dan Wrede dengan kebutuhan gereja akan Alkitab yang berotoritas teologis masa kini.[22]

V. Metode-Metode Menyusun Teologi PB
A. Landasan Eksegetis: Penafsiran Gabungan Empat Lapis
Sebelum hasil pembacaan tiap kitab disintesiskan secara tematik lintas-korpus, setiap unit teks — khususnya materi naratif Injil-injil dan Kisah Para Rasul — dibaca melalui penafsiran gabungan empat lapis konteks:
Sitz im Leben Peristiwa (khusus Injil-injil & Kisah Para Rasul)
Konteks historis peristiwa itu sendiri sebagaimana terjadi — situasi hidup Yesus dalam pelayanan-Nya, atau situasi historis jemaat mula-mula — sebelum peristiwa itu dinarasikan.[23]
Sitz im Leben Pembaca Asli
Konteks hidup, kebutuhan, dan pergumulan komunitas pembaca/penerima pertama tulisan tersebut, yang membentuk cara penulis menyusun dan menekankan materinya.
Sitz im Buch
Konteks sastra-redaksional suatu unit teks di dalam struktur kitab secara keseluruhan — bagaimana penulis/redaktor menempatkan dan memberi penekanan teologis tertentu demi tujuan kitab itu.
Eksegesis Bahasa Yunani
Analisis gramatikal-leksikal teks asli (morfologi, sintaksis, semantik kata) sebagai dasar objektif yang menguji ketiga lapis kontekstual di atas.[24]
B. Metode Sintesis Tematik Lintas-Kitab
Deskriptif-historis vs. normatif-teologis
Memahami “apa arti” teks bagi pembaca pertama, versus menyimpulkan “apa makna”-nya yang normatif bagi pembaca masa kini.
Kitab-per-kitab (book-by-book)
Menyajikan teologi tiap kitab berurutan dan mandiri — dipakai Ladd, Guthrie, Thielman.
Genetik-diakronis / “lintasan” (trajectory)
Menelusuri perkembangan (development) suatu tema teologis dari waktu ke waktu mengikuti urutan kronologis penulisan — pergeseran penekanan dapat terjadi bukan hanya antarpenulis, tetapi juga di dalam korpus satu penulis yang sama seiring berjalannya waktu, bukan sekadar perbandingan statis antarkitab. Pendekatan inilah yang dipakai dalam mata kuliah ini.[25]
Ilustrasi 1 (Markus → Lukas–Kisah Para Rasul, Eskhatologi): Markus 13:30 mengandaikan pengharapan yang relatif dekat — “generasi ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya ini terjadi.” Injil Lukas dan Kisah Para Rasul, disusun beberapa dekade kemudian, menyisipkan periode antara — “zaman bangsa-bangsa lain” (Luk. 21:24) dan sejarah gereja yang meluas bertahap (Kis. 1:8). Hans Conzelmann membaca ini sebagai penyusunan ulang skema keselamatan (Heilsgeschichte) menjadi tiga zaman — Israel, Yesus, Gereja — merespons penundaan parousia.[26]
Ilustrasi 2 (Lukas–Kisah → Matius, Eskhatologi): Bila Kisah Para Rasul menampilkan perluasan Injil yang masih terbuka dan progresif, perumpamaan eskhatologis Matius 24–25 — sepuluh gadis menunggu mempelai yang “lama tidak datang-datang” (Mat. 25:5), hamba jahat berkata “tuanku tidak datang-datang” (Mat. 24:48) — menyiratkan komunitas yang telah bergumul lebih lama dengan penundaan itu. Donald A. Hagner membaca ini sebagai pergumulan komunitas Matius yang lebih mendesak dibanding generasi sebelumnya.[27]
Ilustrasi 3 (Matius → Yohanes, Kristologi): Kristologi Matius masih banyak beroperasi dalam kerangka mesianik Yahudi — Anak Daud, Immanuel, penggenap nubuat. Injil Yohanes meningkatkan artikulasi ini tajam: Logos yang pra-ada (Yoh. 1:1), “Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh. 10:30). J. Louis Martyn mengaitkan lompatan ini dengan pergumulan komunitas Yohanes menghadapi pengusiran dari sinagoge (Yoh. 9:22; 12:42; 16:2).[28]
Ilustrasi 4 (Yohanes → 1–3 Yohanes, Kristologi/Eklesiologi): Jika Injil Yohanes bergumul dengan konflik eksternal terhadap sinagoge, pada 1–3 Yohanes pergumulan bergeser ke front internal: perpecahan soal apakah Yesus Kristus benar-benar “datang sebagai manusia” (1 Yoh. 4:2–3; 2 Yoh. 7) — indikasi ajaran sesat proto-doketis di dalam komunitas itu sendiri. Raymond E. Brown menelusuri pergeseran front konflik ini sebagai satu tahap sejarah komunitas Yohanes.[29]
Keempat ilustrasi di atas memperlihatkan bagaimana kepekaan genetik-diakronis memungkinkan mahasiswa mengamati bukan hanya perbedaan penekanan antarkitab, melainkan juga arah perkembangan (trajectory) pemikiran teologis dari satu korpus ke korpus berikutnya.
Sejarah-agama (history-of-religions)
Membandingkan ajaran PB dengan gagasan keagamaan Yahudi-Helenistik sezaman untuk memperjelas kekhasannya.

VI. Isu Kesatuan & Keragaman (Unity and Diversity)
Pergumulan paling mendasar: bagaimana menyeimbangkan kesatuan teologis dengan keragaman ekspresi teologis di antara para penulis PB.
Bultmann — menonjolkan keragaman kerygma antartradisi (Sinoptik, Paulus, Yohanes), bahkan mempertanyakan adanya “satu” Teologi PB yang tunggal.
Ladd & Guthrie — menekankan kesatuan tema sentral: penggenapan Kerajaan Allah di dalam Kristus.
James D.G. Dunn — posisi mediasi “unity in diversity”: mengakui pluralitas ekspresi teologis yang sah, namun tetap berakar pada satu kerygma inti — kematian dan kebangkitan Yesus Kristus sebagai Tuhan.[30]

VII. Pendekatan yang Dipakai dalam Mata Kuliah Ini
Kajian tematik disusun mengikuti perkiraan urutan kronologis penulisan yang umum diterima: Markus → Lukas–Kisah Para Rasul → Matius → Yohanes → 1–3 Yohanes → Wahyu.[31]
Empat tema besar ditelusuri berurutan: Kristologi (Pert. 2–4), Soteriologi (Pert. 5–7), Pneumatologi (Pert. 8–10), Eskhatologi (Pert. 11–14). Tiap pertemuan mengikuti tiga langkah: (1) pokok-pokok teologi & ciri khas tiap kitab, (2) diskusi para scholar, (3) diskusi kelas.
Kepekaan genetik-diakronis (bagian V) menjadi ciri khas kajian ini: mahasiswa tidak semata membandingkan penekanan teologis yang berbeda antarkitab secara statis, melainkan didorong mengamati kemungkinan perkembangan penekanan teologis dari waktu ke waktu — baik lintas-korpus maupun, bila data historis memungkinkan, di dalam korpus satu penulis yang sama — seperti diilustrasikan pada keempat contoh trajectory di bagian V.

VIII. Rangkuman
Teologi PB berdiri di antara Eksegesis dan Teologi Sistematika, bersifat deskriptif-historis sebelum normatif, dan berkembang dari pemisahan Gabler, mazhab sejarah agama-agama, deskriptivisme Wrede, eksistensialisme Bultmann, Biblical Theology Movement, hingga pendekatan kanonik kontemporer. Pergumulan kesatuan-keragaman menjadi dasar metode tematik-lintas-kitab yang dipakai sepanjang mata kuliah ini.

IX. Pertanyaan Diskusi Kelas
1. Mengapa penting membedakan pendekatan deskriptif-historis dan normatif-teologis dalam mempelajari Perjanjian Baru?
2. Bagaimana pergumulan Bultmann vs. Ladd/Guthrie mengenai kesatuan-keragaman PB relevan bagi cara kita membaca Alkitab hari ini?
3. Apa kelebihan dan keterbatasan pendekatan tematik-lintas-kitab dibandingkan kitab-per-kitab?

X. Tugas
Tugas Terstruktur:
Menyusun peta konsep (concept map) yang memuat definisi Teologi PB, kedudukannya terhadap Eksegesis dan Teologi Sistematika, serta empat tahap utama sejarah perkembangan disiplin ini (bagian IV).
Tugas Mandiri (pilih satu):
1) Refleksi singkat (150–200 kata) tentang relevansi “kesatuan dalam keragaman” bagi pelayanan penggembalaan/pengajaran jemaat; atau
2) Tabel perbandingan sederhana antara metode kitab-per-kitab dan metode tematik-sintetis.

Catatan Kaki

[1] Donald Guthrie, New Testament Theology (Downers Grove: InterVarsity Press, 1981).

[2] Johann Philipp Gabler, “An Oration on the Proper Distinction between Biblical and Dogmatic Theology and the Specific Objectives of Each,” dalam The Flowering of Old Testament Theology, disunting oleh Ben C. Ollenburger, Elmer A. Martens, dan Gerhard F. Hasel (Winona Lake: Eisenbrauns, 1992).

[3] Gabler, “An Oration on the Proper Distinction.”

[4] Ben C. Ollenburger, “Introduction: Biblical Theology: Situating the Discipline,” dalam The Flowering of Old Testament Theology, disunting oleh Ben C. Ollenburger, Elmer A. Martens, dan Gerhard F. Hasel (Winona Lake: Eisenbrauns, 1992).

[5] Ibid.

[6] Gabler, “An Oration on the Proper Distinction.”

[7] Ollenburger, “Introduction: Biblical Theology.”

[8] Charles H. H. Scobie, The Ways of Our God: An Approach to Biblical Theology (Grand Rapids: Eerdmans, 2003).

[9] William Baird, History of New Testament Research, Volume 2: From Jonathan Edwards to Rudolf Bultmann (Minneapolis: Fortress Press, 2003).

[10] Wilhelm Bousset, Kyrios Christos: A History of the Belief in Christ from the Beginnings of Christianity to Irenaeus, terj. John E. Steely (Nashville: Abingdon Press, 1970).

[11] Samuel Sandmel, “Parallelomania,” Journal of Biblical Literature 81, no. 1 (1962).

[12] William Wrede, “The Task and Methods of ‘New Testament Theology,'” dalam The Nature of New Testament Theology, disunting dan diterjemahkan oleh Robert Morgan (London: SCM Press, 1973).

[13] Baird, History of New Testament Research.

[14] Rudolf Bultmann, Theology of the New Testament, terj. Kendrick Grobel (New York: Charles Scribner’s Sons, 1951).

[15] Ibid.

[16] Baird, History of New Testament Research.

[17] George Eldon Ladd, A Theology of the New Testament, ed. rev. Donald A. Hagner (Grand Rapids: Eerdmans, 1993).

[18] Guthrie, New Testament Theology.

[19] Baird, History of New Testament Research.

[20] Brevard S. Childs, The New Testament as Canon: An Introduction (Philadelphia: Fortress Press, 1985).

[21] I. Howard Marshall, New Testament Theology: Many Witnesses, One Gospel (Downers Grove: InterVarsity Press, 2004); Frank Thielman, Theology of the New Testament: A Canonical and Synthetic Approach (Grand Rapids: Zondervan, 2005).

[22] Baird, History of New Testament Research.

[23] Norman Perrin, What Is Redaction Criticism? (Philadelphia: Fortress Press, 1969).

[24] Gordon D. Fee, New Testament Exegesis: A Handbook for Students and Pastors, ed. ke-3 (Louisville: Westminster John Knox Press, 2002).

[25] James M. Robinson dan Helmut Koester, Trajectories through Early Christianity (Philadelphia: Fortress Press, 1971).

[26] Hans Conzelmann, The Theology of St. Luke, terj. Geoffrey Buswell (London: Faber & Faber, 1960).

[27] Donald A. Hagner, Matthew 14–28, Word Biblical Commentary (Dallas: Word Books, 1995).

[28] J. Louis Martyn, History and Theology in the Fourth Gospel, ed. ke-3 (Louisville: Westminster John Knox Press, 2003).

[29] Raymond E. Brown, The Community of the Beloved Disciple (New York: Paulist Press, 1979).

[30] James D.G. Dunn, Unity and Diversity in the New Testament: An Inquiry into the Character of Earliest Christianity, ed. ke-3 (London: SCM Press, 2006).

[31] D.A. Carson dan Douglas J. Moo, An Introduction to the New Testament, ed. ke-2 (Grand Rapids: Zondervan, 2005).

Bahan Ajar Pertemuan 1 — Teologi Perjanjian Baru 1 (DTh-136.202) — Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan.
Exit mobile version