bi-03

BAHAN AJAR • PERTEMUAN 3
📚 Penulisan Paragraf Ilmiah

⬅️ Kembali ke Silabus

🎯 Tujuan Pembelajaran

Pada akhir pertemuan ini, mahasiswa diharapkan mampu:

  1. Memahami ciri-ciri paragraf ilmiah yang koheren dan kohesif.
  2. Menganalisis dan memperbaiki paragraf yang tidak efektif menjadi efektif.
  3. Menerapkan kaidah kebahasaan yang benar dalam menulis paragraf teologi/PAK.
📝 Struktur Paragraf Ilmiah yang Efektif: Koherensi dan Kohesi

Paragraf adalah pondasi utama dari setiap tulisan ilmiah, baik itu makalah, esai, maupun skripsi. Sebuah paragraf yang baik bukan sekadar kumpulan kalimat, melainkan unit yang terstruktur yang berfungsi untuk menyampaikan satu gagasan utama dengan jelas. Paragraf yang efektif memiliki dua ciri kunci: koherensi dan kohesi. Memahami dan menerapkan keduanya akan meningkatkan kualitas dan kredibilitas tulisan akademik Anda.

Koherensi (Keterpaduan Gagasan)

Koherensi merujuk pada keterpaduan makna antar kalimat dalam satu paragraf. Intinya, sebuah paragraf yang koheren hanya boleh memiliki satu ide pokok atau kalimat utama. Semua kalimat lainnya, yang disebut kalimat pendukung, harus berfungsi untuk memperjelas, menguraikan, atau memberikan bukti yang relevan untuk kalimat utama tersebut.

Misalnya, jika kalimat utama Anda adalah “Teologi Sistematika adalah disiplin yang krusial untuk mahasiswa Teologi karena membantu mereka mengorganisasi dan memahami doktrin Kristen secara utuh,” maka setiap kalimat setelahnya harus mendukung pernyataan tersebut. Kalimat-kalimat pendukung dapat menjelaskan bagaimana disiplin ini memungkinkan mahasiswa mengintegrasikan berbagai ajaran Alkitabiah, mencegah pemahaman yang terfragmentasi, atau memberikan contoh spesifik dari manfaatnya dalam studi mereka. Sebaliknya, paragraf akan kehilangan koherensi jika tiba-tiba membahas sejarah gereja kuno yang tidak relevan dengan topik teologi sistematika.

Kohesi (Keterkaitan Antar Kata dan Kalimat)

Sementara koherensi berkaitan dengan makna, kohesi berfokus pada keterkaitan bentuk yang diwujudkan melalui penggunaan konjungsi atau kata sambung, serta pengulangan kata kunci yang strategis. Kohesi menciptakan “jembatan” yang menghubungkan kalimat demi kalimat, sehingga paragraf terasa mengalir lancar dan mudah diikuti oleh pembaca. Tanpa kohesi, kalimat-kalimat dalam paragraf akan terasa terpisah dan tidak terhubung, membuat pembaca kesulitan memahami alur pikiran penulis.

Ada beberapa cara untuk menciptakan kohesi. Pertama adalah dengan menggunakan konjungsi yang tepat seperti “oleh karena itu,” “selain itu,” “di sisi lain,” “dengan demikian,” atau “selanjutnya.” Konjungsi ini memberikan sinyal kepada pembaca tentang hubungan logis antara kalimat-kalimat yang ada. Kedua, pengulangan kata kunci atau penggunaan sinonimnya juga efektif. Misalnya, jika Anda membahas tentang “kredibilitas,” Anda bisa mengulangi kata tersebut atau menggunakan frasa seperti “otoritas akademis” untuk menjaga fokus. Ketiga, penggunaan kata ganti (misalnya, “hal ini”) yang merujuk pada subjek yang sudah disebutkan sebelumnya juga sangat membantu dalam menjaga keterkaitan. Dengan demikian, kohesi adalah alat vital untuk memastikan tulisan Anda tidak hanya bermakna, tetapi juga mudah dibaca dan dipahami.

Contoh-Contoh Paragraf Efektif dan Tidak Efektif

Bandingkan beberapa contoh paragraf berikut. Setiap contoh diikuti penjelasan mengapa paragraf tersebut efektif atau sebaliknya.

✅ Paragraf dengan Koherensi & Kohesi Baik
Contoh 1

Prinsip hermeneutika sangat penting untuk menghindari penafsiran Alkitab yang dangkal atau bias. Sebuah teks Alkitab harus ditafsirkan sesuai dengan konteks historis, budaya, dan sastra aslinya. Tanpa memahami konteks ini, kita rentan menerapkan makna modern pada teks kuno, sehingga memutarbalikkan pesan aslinya. Oleh karena itu, setiap penafsir harus melakukan studi yang cermat.

Alasan:
Paragraf ini sangat koheren karena semua kalimat berfokus pada ide utama: pentingnya hermeneutika yang benar. Kalimat kedua dan ketiga adalah kalimat pendukung yang menjelaskan bahaya dari penafsiran yang salah. Kohesi terjalin dengan baik melalui penggunaan kata kunci “hermeneutika” dan “teks Alkitab”, serta konjungsi “Oleh karena itu” yang menghubungkan sebab (risiko penafsiran yang salah) dan akibat (keharusan studi yang cermat).
Contoh 2

Pedagogi, atau ilmu pengajaran, adalah salah satu kompetensi utama bagi seorang pengajar PAK. Pengajaran yang efektif bukanlah sekadar transfer informasi, melainkan sebuah interaksi dinamis antara pengajar dan siswa. Seorang guru yang kompeten akan menggunakan berbagai metode pedagogi yang bervariasi untuk memastikan bahwa materi dapat disampaikan secara efektif. Hal ini akan mendorong siswa untuk terlibat secara aktif dalam proses belajar.

Alasan:
Paragraf ini koheren karena setiap kalimat mendukung gagasan utama bahwa pedagogi adalah kunci pengajaran yang efektif. Kalimat-kalimat pendukung menjelaskan mengapa pengajaran efektif lebih dari sekadar transfer informasi dan bagaimana metode pedagogi membantu siswa. Kohesi terlihat dari pengulangan kata kunci “pedagogi” dan penggunaan kata ganti “Hal ini” yang merujuk pada kalimat sebelumnya.
❌ Paragraf dengan Koherensi & Kohesi Kurang Baik
Contoh 3

Doa Bapa Kami adalah contoh sempurna untuk memahami esensi doa Kristen. Pertama, doa ini dimulai dengan pengagungan akan kekudusan Allah. Selain itu, Doa Bapa Kami mencakup permohonan untuk kebutuhan rohani dan jasmani kita. Setelah itu, doa ini juga berakhir dengan penyerahan diri dan pengakuan akan kedaulatan Allah. Doa pribadi sangat penting bagi pertumbuhan rohani.

Alasan:
Paragraf ini tidak koheren karena kalimat terakhir, “Doa pribadi sangat penting bagi pertumbuhan rohani,” tidak berhubungan langsung dengan analisis struktur Doa Bapa Kami. Kalimat ini memperkenalkan ide baru tanpa ada transisi yang logis, sehingga merusak keterpaduan paragraf.
Contoh 4

Tujuan dari pendidikan Kristen adalah untuk mengubahkan hati. Jadi, pendidikan ini tidak hanya untuk menambah pengetahuan. Pendidikan Kristen juga bertujuan untuk menumbuhkan karakter seperti Kristus dalam diri siswa. Oleh karena itu, keberhasilan pendidikan Kristen tidak bisa hanya diukur dari nilai akademis. Namun, pendidikan ini diukur dari perubahan hidup.

Analisis:
Paragraf ini memiliki masalah kohesi. Walaupun gagasan utamanya (tujuan pendidikan Kristen) cukup jelas, penggunaan konjungsi “Namun” kurang tepat. Kata ini biasanya digunakan untuk menunjukkan pertentangan, padahal kalimat yang mengikutinya seharusnya melanjutkan ide dari kalimat sebelumnya. Penggunaan yang lebih tepat adalah “Sebaliknya,” atau menggabungkan kedua kalimat menjadi satu. Hal ini menunjukkan pentingnya memilih kata sambung yang tepat untuk menciptakan alur yang mengalir.
🎓 Latihan di Kelas: Menganalisis & Memperbaiki Paragraf
Bagian A: Analisis Paragraf

Petunjuk: Identifikasi kalimat utama dan kalimat pendukung dalam setiap paragraf berikut. Jelaskan mengapa paragraf ini memiliki koherensi dan kohesi yang baik.

  1. Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Base Learning/PBL)
    PBL adalah pendekatan pembelajaran yang mendorong mahasiswa untuk memecahkan masalah nyata yang relevan dengan konteks pelayanan. Strategi ini berfungsi untuk melatih mahasiswa menggunakan pengetahuan teologis secara praktis. Misalnya, mahasiswa dapat diminta untuk menganalisis dan memberikan solusi teologis atas masalah gereja lokal yang menghadapi penurunan jemaat muda. Kekuatan utamanya adalah mendorong kemandirian dan kemampuan berpikir kritis.
  2. Strategi Pembelajaran Kooperatif
    Strategi ini mengharuskan siswa bekerja sama dalam kelompok kecil untuk mencapai tujuan pembelajaran bersama. Hal ini, dalam konteks PAK, dapat melatih keterampilan sosial dan komunikasi yang esensial. Sebagai contoh, kelompok siswa bisa ditugaskan untuk secara bersama-sama menyusun khotbah atau program pelayanan sosial. Kekuatan dari strategi ini adalah menciptakan lingkungan belajar yang suportif.
  3. Strategi Pembelajaran Partisipatif
    Pembelajaran partisipatif menempatkan siswa sebagai pusat proses belajar, di mana guru berperan sebagai fasilitator. Strategi ini, dalam PAK, sangat relevan untuk pembahasan doktrin yang kompleks. Alih-alih hanya mendengarkan ceramah, siswa didorong untuk berbagi pemahaman mereka tentang sebuah ayat Alkitab atau doktrin. Kekuatan strategi ini adalah mendorong keterlibatan aktif dan memicu pemikiran kritis.
  4. Strategi Pembelajaran Kontekstual
    Strategi pembelajaran kontekstual menghubungkan materi pelajaran dengan konteks kehidupan nyata siswa. Fungsinya adalah membuat ajaran PAK menjadi relevan dan praktis. Misalnya, saat mempelajari teologi kemiskinan, siswa dapat diminta untuk menganalisis bagaimana doktrin tersebut dapat diterapkan untuk melayani masyarakat miskin di sekitar sekolah mereka. Kekuatannya adalah membantu siswa melihat hubungan antara teori dengan realitas.
  5. Strategi Pembelajaran Berbasis Proyek
    Siswa, dalam strategi ini, belajar melalui pengerjaan proyek yang kompleks dan otentik. Siswa, dalam studi PAK, dapat membuat film dokumenter tentang sejarah gereja lokal atau merancang kurikulum sekolah minggu. Kekuatan utama strategi ini adalah mengintegrasikan berbagai keterampilan (penelitian, kreativitas, manajemen) dan memberikan pengalaman belajar yang mendalam.
  6. Strategi Pembelajaran Konstruktivis
    Strategi konstruktivis menekankan bahwa siswa membangun pengetahuan mereka sendiri dari pengalaman. Ini berarti pengajar PAK memfasilitasi lingkungan belajar yang memungkinkan eksplorasi dan penemuan pribadi atas kebenaran teologis. Siswa didorong untuk merefleksikan pengalaman spiritual mereka dan menghubungkannya dengan ajaran Alkitab. Kekuatan strategi ini adalah menumbuhkan rasa ingin tahu dan kemandirian intelektual.
  7. Strategi Pembelajaran Berbasis Teknologi
    Strategi ini mengintegrasikan teknologi digital, seperti platform e-learning atau media sosial, ke dalam proses pembelajaran. Hal ini berfungsi untuk mempermudah akses informasi dan meningkatkan interaksi. Sebagai contoh, pengajar dapat menggunakan forum diskusi online untuk membahas isu-isu teologis. Kekuatan strategi ini adalah membuat pembelajaran menjadi lebih fleksibel dan relevan.
  8. Strategi Pembelajaran Reflektif
    Pembelajaran reflektif mendorong siswa untuk memikirkan kembali pengalaman belajar mereka dan menghubungkannya dengan konsep teologis. Fungsinya adalah mengubah pengalaman menjadi pembelajaran. Setelah kunjungan pelayanan, siswa dapat diminta untuk menulis refleksi yang mengaitkan pengalaman mereka dengan teologi diakonia. Kekuatannya adalah menumbuhkan kesadaran diri dan pemahaman yang lebih dalam.
  9. Strategi Pembelajaran Multisensori
    Strategi ini melibatkan berbagai indra—pendengaran, penglihatan, perabaan—dalam proses belajar. Ini dapat diimplementasikan dengan menggunakan berbagai media. Sebagai contoh, saat membahas kisah penciptaan, pengajar dapat menggunakan video, musik, dan juga meminta siswa membuat kerajinan tangan. Kekuatan strategi ini adalah membantu siswa dengan berbagai gaya belajar.
  10. Strategi Pembelajaran Peer Teaching
    Dalam strategi ini, siswa yang lebih memahami suatu topik diminta untuk mengajarkannya kepada teman-temannya. Hal ini berfungsi untuk memperkuat pemahaman pada pengajar dan yang diajar. Sebagai contoh, siswa SMP yang pandai bisa diminta untuk mengajar teman sekelompoknya tentang silsilah Yesus. Kekuatan strategi ini adalah menumbuhkan rasa percaya diri dan melatih kemampuan komunikasi.
  11. Strategi Pembelajaran Berbasis Skenario
    Strategi ini menggunakan skenario atau studi kasus fiktif yang realistis untuk memicu diskusi dan pemecahan masalah. Skenario ini dapat berupa kasus konseling pastoral, dilema etika yang dihadapi oleh pendeta, atau konflik dalam pelayanan. Kekuatannya adalah melatih siswa menerapkan teori teologis dalam situasi kompleks.
  12. Strategi Pembelajaran Kooperatif (Kolaborasi Guru & Murid)
    Dalam strategi ini, guru dan siswa bekerja sama untuk merancang tujuan dan proses pembelajaran. Fungsi utamanya adalah memberdayakan siswa. Sebagai contoh, guru dan siswa dapat berkolaborasi dalam memilih topik yang paling relevan untuk dibahas dalam sebuah mata kuliah. Kekuatan strategi ini adalah menumbuhkan rasa kepemilikan pada siswa terhadap proses belajar mereka.
✏️ Bagian B: Memperbaiki Paragraf

Petunjuk: Analisis setiap paragraf berikut. Jelaskan mengapa paragraf tersebut tidak efektif dan perbaiki agar memiliki koherensi dan kohesi yang baik.

  1. Strategi Pembelajaran Berbasis Game
    Strategi ini menggunakan elemen-elemen game, seperti tantangan dan hadiah, untuk meningkatkan motivasi. Fungsinya adalah membuat pembelajaran menjadi menyenangkan. Permainan dapat mendorong partisipasi aktif, kompetisi sehat, dan retensi materi yang lebih baik. Ada banyak game online yang bisa dipakai.
  2. Strategi Bermain Peran (Role Playing)
    Strategi bermain peran dapat membuat materi PAK menjadi lebih hidup. Siswa diminta untuk memerankan tokoh-tokoh Alkitab. Ini membantu mereka merasakan dan memahami konteks historis. Setelah itu, mereka dapat mendiskusikan apa yang mereka rasakan. Drama di gereja sering menggunakan metode ini.
  3. Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah
    Strategi ini berfokus pada penyelesaian masalah nyata atau fiktif yang dihadapi siswa. Fungsi utamanya adalah melatih siswa berpikir secara logis dan analitis. Ini akan mengembangkan kemampuan pemecahan masalah yang efektif. Saya pikir ini adalah strategi yang sangat bagus.
  4. Strategi Pembelajaran Inkuiri
    Strategi inkuiri dimulai dengan pertanyaan atau masalah, dan siswa didorong untuk menemukan jawabannya sendiri. Fungsinya adalah melatih kemandirian dalam mencari pengetahuan. Ini akan menumbuhkan kemampuan bertanya dan berpikir kritis.
  5. Strategi Pembelajaran Berbasis Nilai
    Strategi ini mengintegrasikan nilai-nilai moral dan spiritual ke dalam setiap aspek pembelajaran. Fungsinya adalah tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter. Kekuatannya adalah membantu siswa mengembangkan integritas, etika, dan spiritualitas yang kuat.
  6. Strategi Pembelajaran Experiential
    Pembelajaran experiential berfokus pada pembelajaran melalui pengalaman langsung, refleksi, dan abstraksi konsep. Kekuatan utamanya adalah menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik. Guru bisa meminta siswa melakukan kunjungan pelayanan.
  7. Strategi Pembelajaran Reflektif
    Refleksi adalah alat penting. Guru meminta siswa untuk merefleksikan apa yang mereka pelajari. Mereka diminta mempertimbangkan bagaimana ajaran itu berlaku pada hidup mereka. Proses ini membantu mereka untuk menghubungkan teori dan praktik.
  8. Strategi Pembelajaran Multisensori
    Strategi ini melibatkan berbagai indra. Ini dapat diimplementasikan dengan menggunakan berbagai media. Ini membantu siswa dengan berbagai gaya belajar untuk memahami dan mengingat informasi dengan lebih efektif.
  9. Strategi Pembelajaran Berbasis Skenario
    Strategi ini menggunakan skenario atau studi kasus fiktif yang realistis. Tujuannya adalah untuk memicu diskusi dan pemecahan masalah. Kekuatannya adalah melatih siswa menerapkan teori PAK dalam situasi kompleks.
  10. Strategi Pembelajaran Kontekstual
    Strategi ini menghubungkan materi pelajaran dengan konteks kehidupan nyata siswa. Fungsinya adalah membuat ajaran PAK menjadi relevan. Kekuatannya adalah membantu siswa melihat hubungan antara cerita Alkitab dengan realitas yang mereka hadapi.
  11. Strategi Pembelajaran Kooperatif
    Dalam strategi ini, siswa bekerja sama dalam kelompok kecil. Mereka didorong untuk saling membantu. Tujuannya untuk meningkatkan pemahaman materi dan hubungan interpersonal.
  12. Strategi Pembelajaran Berbasis Proyek
    Siswa belajar melalui pengerjaan proyek. Kekuatan utama strategi ini adalah mengintegrasikan berbagai keterampilan. Siswa bisa membuat film dokumenter.

🔑 Kunci Jawaban Soal Latihan Pertemuan 3

📝 Tugas Terstruktur dan Mandiri
Tugas Terstruktur Utama
  • Menonton dan meringkas Panduan EYD V dari tautan video/playlist tentang EYD V, dan mencatat 5 tips atau kaidah penting untuk penulisan ilmiah — satu video per minggu. https://s.id/Video-EYD-V
  • Mempelajari 15 kosakata bidang Teologi atau PAK, definisi bakunya, dan contoh penggunaannya dalam kalimat. Akan ada ujian kosakata pada pertemuan berikutnya.
Tugas Terstruktur
  • Instal Zotero di laptop (jika belum), tonton tutorial cara instal dan mendaftarkan akun Zotero. https://s.id/Tutorial-Zotero-01
  • Instal Mendeley di laptop (jika belum), tonton tutorial cara instal dan mendaftarkan akun Mendeley. https://s.id/Tutorial-Mendeley-01
  • Menulis 2–3 paragraf ilmiah yang koheren dan kohesif berdasarkan topik teologi/PAK yang ditentukan.
Tugas Mandiri Pilihan (Pilih 1 dari tugas-tugas pilihan yang tersedia)
  1. Membaca bab tentang penulisan paragraf dari buku teks akademik dan membuat peta konsep tentang ide utama, pendukung, dan kohesi/koherensi.
  2. Mengambil 2 paragraf dari artikel jurnal teologi/PAK, mengidentifikasi kalimat topik, kalimat pendukung, dan bagaimana transisi antarkalimat menciptakan koherensi.
  3. Pilih satu topik sederhana terkait teologi/PAK, lalu kembangkan menjadi satu paragraf utuh dengan satu ide utama dan minimal dua kalimat pendukung.
  4. Cari 3 paragraf dari teks akademik, lingkari semua konjungsi yang digunakan, dan jelaskan peran masing-masing dalam menghubungkan ide.
  5. Temukan satu paragraf yang menurut Anda sangat koheren dan kohesif, dan satu paragraf yang kurang koheren dan kohesif. Jelaskan mengapa.
  6. Menulis kembali satu paragraf yang kurang kohesif menjadi lebih baik, dengan menambahkan atau mengubah konjungsi dan frasa transisi.
📚 Kosakata Baru

Pelajari makna dan contoh penggunaan setiap kata — minggu depan akan ada kuis kosakata terhadap kata-kata ini!

1
Induktif
Arti: Pendekatan penalaran yang bergerak dari pengamatan atau fakta-fakta spesifik menuju kesimpulan umum.
Contoh
“Metode penelitian yang digunakan dalam studi ini bersifat induktif, yaitu membangun teori dari data yang dikumpulkan di lapangan.”
2
Deduktif
Arti: Pendekatan penalaran yang dimulai dari prinsip atau premis umum untuk menarik kesimpulan yang spesifik.
Contoh
“Argumentasi teologisnya bersifat deduktif, dimulai dari doktrin umum tentang Allah sebelum menjelaskan kasus-kasus spesifik.”
3
Apropriasi
Arti: Proses mengambil atau mengadopsi suatu konsep, ide, atau praktik dari konteks lain dan menggunakannya untuk tujuan sendiri.
Contoh
“Gereja di abad pertama melakukan apropriasi terhadap istilah-istilah Yunani dan Romawi untuk menjelaskan doktrin Kristen.”
4
Heuristik
Arti: Metode atau strategi untuk memecahkan masalah atau membuat penemuan, yang seringkali bersifat praktis dan coba-coba.
Contoh
“Dalam mengajarkan topik yang sulit, guru dapat menggunakan pendekatan heuristik untuk membantu siswa menemukan jawabannya sendiri.”
5
Transendental
Arti: Melampaui batas-batas pengalaman atau pengetahuan manusia; bersifat spiritual atau ilahi.
Contoh
“Pengalaman transendental dengan Tuhan tidak dapat sepenuhnya dijelaskan dengan kata-kata, tetapi dapat mengubah hidup seseorang.”
6
Prolegomena
Arti: Bagian pendahuluan dalam sebuah karya ilmiah atau teologis yang membahas prinsip-prinsip dasar, metode, atau asumsi yang digunakan.
Contoh
“Bab pertama buku teologi sistematika ini berfungsi sebagai prolegomena yang menjelaskan cara penulis mendekati Alkitab dan doktrin.”
7
Paradigmatik
Arti: Bersifat atau berfungsi sebagai contoh, model, atau pola.
Contoh
“Doa Bapa Kami sering dianggap sebagai contoh paradigmatik untuk semua doa Kristen.”
8
Subjektif
Arti: Berdasarkan perasaan, pendapat, atau pengalaman pribadi; tidak objektif.
Contoh
“Meskipun pengalaman rohani bersifat subjektif, dasar-dasar iman Kristen harus tetap berpegang pada kebenaran objektif yang diajarkan Alkitab.”
9
Objektif
Arti: Berdasarkan fakta atau data yang dapat diverifikasi, tanpa dipengaruhi oleh perasaan atau prasangka pribadi.
Contoh
“Seorang penulis ilmiah harus menjaga sikap objektif dalam menyampaikan argumennya dan menghindari bias pribadi.”
10
Dialektika
Arti: Metode penalaran yang melibatkan diskusi antara dua pihak yang memiliki pandangan berbeda untuk mencapai kebenaran yang lebih tinggi.
Contoh
“Proses reformasi teologi seringkali melibatkan dialektika antara tradisi dan penafsiran baru.”
11
Asumsi
Arti: Sesuatu yang dianggap benar tanpa bukti atau verifikasi.
Contoh
“Penelitian ini beranjak dari asumsi bahwa pendidikan agama Kristen berperan penting dalam pembentukan karakter siswa.”
12
Narasi
Arti: Bentuk penceritaan yang menjelaskan serangkaian peristiwa, fakta, atau gagasan secara berurutan.
Contoh
“Kisah Perjanjian Lama sebagian besar disampaikan dalam bentuk narasi yang menceritakan sejarah umat Israel.”
13
Metodologi
Arti: Sistem atau serangkaian metode yang digunakan untuk melakukan penelitian atau mencapai tujuan tertentu.
Contoh
“Bagian metodologi dalam tesis menjelaskan langkah-langkah penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan dan menganalisis data.”
14
Validitas
Arti: Tingkat kebenaran atau keabsahan suatu temuan, pengukuran, atau argumen.
Contoh
“Peneliti harus memastikan validitas data yang dikumpulkan agar kesimpulan yang ditarik dapat dipercaya.”
15
Hibrida
Arti: Kombinasi dari dua unsur atau lebih yang berbeda, menghasilkan sesuatu yang baru.
Contoh
“Saat ini, model pembelajaran hibrida yang menggabungkan pertemuan tatap muka dan daring semakin sering digunakan di sekolah dan seminar teologi.”

⬅️ Kembali ke Silabus