tpb2-Pengantar

⬅️ Kembali ke Silabus Teologi Perjanjian Baru 2

SEKOLAH TINGGI TEOLOGI KALIMANTAN
PELAJARAN 1
📘 Pengantar, Tugas & Metode
Teologi Perjanjian Baru
Pertemuan 1  •  Teologi Perjanjian Baru 2
Mata Kuliah
Teologi Perjanjian Baru 2 (DTh-137.206)
Dosen Pengampu
Pdt. Daniel Horatius Herrman, M.Th.
🔗 A. Kesinambungan dengan Teologi Perjanjian Baru 1

Mata kuliah Teologi Perjanjian Baru 1 telah membahas teologi kitab-kitab Injil (Matius, Markus, Lukas, Yohanes), Kisah Para Rasul, surat-surat Yohanes, dan Kitab Wahyu, disusun menurut kronologi penulisannya. Teologi Perjanjian Baru 2 melanjutkan kajian tersebut dengan berfokus pada surat-surat Rasul Paulus — mulai dari surat-surat awal pelayanannya hingga surat-surat penggembalaan menjelang akhir hidupnya — serta surat-surat umum yang ditulis oleh Yakobus, penulis Ibrani, Petrus, dan Yudas.

Jika Teologi Perjanjian Baru 1 menelusuri perkembangan pewahyuan tentang pribadi dan karya Kristus melalui narasi Injil dan sejarah gereja mula-mula, Teologi Perjanjian Baru 2 menelusuri bagaimana kebenaran tersebut dijabarkan, dipertahankan, dan diterapkan secara doktrinal serta praktis dalam kehidupan jemaat-jemaat mula-mula melalui surat-surat kiriman.

🎓 B. Definisi Teologi Perjanjian Baru

Teologi Perjanjian Baru adalah disiplin ilmu yang secara khusus mempelajari dan menyusun secara sistematis ajaran-ajaran teologis yang terkandung dalam setiap kitab atau kelompok kitab Perjanjian Baru, dengan memperhatikan konteks historis, sastra, dan penulis masing-masing kitab. Berbeda dari Teologi Sistematika yang menyusun doktrin lintas seluruh Alkitab secara tematik-logis, Teologi Perjanjian Baru bersifat deskriptif-historis1: ia berusaha memahami apa yang sesungguhnya diajarkan dan diyakini oleh setiap penulis dalam konteksnya sendiri, sebelum dirangkum dan dibandingkan antarpenulis.

🧩 C. Tugas dan Metode Teologi Perjanjian Baru

Bagian ini berbicara tentang tugas dan metode akademik disiplin ilmu ini — bukan tugas perkuliahan (Tugas Terstruktur/Tugas Mandiri), yang dijelaskan tersendiri pada bagian F.

C.1  Tugas Teologi Perjanjian Baru
a. Tugas Deskriptif

Tugas deskriptif adalah upaya menguraikan secara jujur dan akurat apa yang sesungguhnya diajarkan oleh setiap penulis Perjanjian Baru, dengan menggunakan kosakata, kategori, dan cara berpikir penulis itu sendiri — bukan kategori dogmatis yang datang belakangan dari tradisi gereja atau Teologi Sistematika. Sebagai contoh, ketika membaca pernyataan Yakobus bahwa “iman tanpa perbuatan adalah mati” (Yak. 2:26), tugas deskriptif menuntut mahasiswa memahami dahulu apa yang dimaksud Yakobus dengan istilah “iman” dan “perbuatan” dalam konteksnya sendiri, sebelum buru-buru menyelaraskannya dengan doktrin pembenaran oleh iman dalam Surat Roma.

Pendekatan ini berbeda dari pendekatan preskriptif atau normatif Teologi Sistematika, yang menyusun ajaran final tentang suatu doktrin bagi gereja masa kini. Kejujuran deskriptif inilah yang menjadi fondasi bagi tahap-tahap tugas berikutnya. Secara praktis, tugas ini menuntut ketelitian eksegetis — memperhatikan pilihan kata, struktur kalimat, dan tujuan retoris tiap surat — sehingga kesimpulan teologis benar-benar berakar pada teks, bukan pada asumsi yang dibawa pembaca dari luar.

b. Tugas Historis

Setiap surat Perjanjian Baru ditulis untuk menjawab situasi konkret suatu jemaat atau pribadi tertentu, bukan sebagai risalah teologi yang abstrak dan universal sejak awal. Karena itu, tugas historis menuntut mahasiswa menempatkan tiap kitab dalam latar belakang sejarah, sosial, dan budaya penulisannya — siapa penulisnya, kepada siapa surat itu ditujukan, apa krisis yang mendorong penulisannya, serta situasi politik dan keagamaan pada masanya.

Sebagai ilustrasi, penekanan Surat Galatia pada kebebasan dari hukum Taurat hanya dapat dipahami secara utuh jika mahasiswa mengetahui adanya tekanan dari para pengajar Yudais; demikian pula penegasan keutamaan Kristus dalam Surat Kolose baru bermakna penuh ketika dikaitkan dengan ajaran sesat sinkretis yang mengancam jemaat itu. Tugas historis inilah yang mendorong pentingnya mempelajari persoalan-persoalan pengantar tiap kitab, sehingga penafsiran tidak jatuh pada anakronisme — membaca teks kuno dengan mengabaikan konteks aslinya.

c. Tugas Komparatif

Setelah memahami ajaran tiap penulis secara deskriptif dan historis, tugas komparatif mengarahkan mahasiswa untuk membandingkan tekanan dan cara pengungkapan teologis antarpenulis. Misalnya, Kristologi Paulus yang menekankan Kristus sebagai dasar pembenaran oleh iman dapat dibandingkan dengan Kristologi Ibrani yang menekankan Kristus sebagai Imam Besar Agung, atau Kristologi Yohanes yang menekankan pra-eksistensi Kristus sebagai Firman yang kekal.

Perbandingan semacam ini sering menyingkapkan bukan pertentangan, melainkan pelengkap yang memperkaya — bahasa forensik Paulus tentang pembenaran oleh iman melengkapi, bukan bertentangan dengan, penekanan praktis Yakobus bahwa iman sejati selalu berbuah dalam perbuatan. Meski demikian, tugas ini menuntut kesabaran: perbandingan yang tergesa-gesa dapat mengaburkan kekhasan tiap penulis sebelum setiap suara dibiarkan berbicara secara utuh dalam konteksnya sendiri.

d. Tugas Sintetik-Kanonik

Tugas terakhir adalah merangkai seluruh hasil kajian deskriptif, historis, dan komparatif menjadi suatu sintesis yang koheren, yang memperlihatkan baik kesatuan (unity) maupun keberagaman (diversity) ajaran Perjanjian Baru sebagai satu kanon yang utuh. Sintesis ini tidak meratakan seluruh perbedaan penekanan menjadi satu suara tunggal, melainkan menunjukkan bagaimana suara-suara yang beragam itu bersama-sama bersaksi tentang satu Injil yang sama tentang Yesus Kristus.

Tugas ini menjadikan Teologi Perjanjian Baru sebagai jembatan menuju Teologi Sistematika. Sebagai contoh, doktrin pembenaran oleh iman yang utuh baru dapat dirumuskan setelah membaca bersama-sama Surat Roma, Galatia, dan Yakobus secara kanonik — memahami bagaimana ketiganya, meski menggunakan penekanan berbeda, sama-sama bersaksi bahwa iman yang menyelamatkan adalah iman yang hidup dan nyata dalam ketaatan.

C.2  Metode-metode Teologi Perjanjian Baru

Para ahli lazim menggunakan beberapa metode berikut2:

a. Metode Historis-Genetik

Metode ini menelusuri perkembangan wahyu Perjanjian Baru secara kronologis, dimulai dari kitab yang paling awal ditulis hingga yang paling akhir, dengan tujuan melihat bagaimana pemahaman jemaat mula-mula tentang berbagai doktrin berkembang dan semakin diperdalam seiring waktu dan pengalaman pelayanan para rasul.

Sebagai contoh, pemahaman tentang eklesiologi dalam surat-surat awal Paulus seperti 1 Tesalonika masih relatif sederhana, sedangkan dalam Surat-surat Penggembalaan yang ditulis belakangan, struktur kepemimpinan gereja sudah dijabarkan lebih rinci. Metode ini perlu digunakan dengan hati-hati agar tidak jatuh pada anggapan keliru bahwa tulisan yang lebih belakangan otomatis lebih berwibawa; seluruh kitab Perjanjian Baru, tanpa memandang urutan penulisannya, sama-sama diilhamkan dan berotoritas penuh sebagai Firman Allah.

b. Metode Per-Penulis/Korpus

Metode ini menyusun teologi tiap penulis atau kelompok tulisan (korpus) secara utuh dan mandiri terlebih dahulu — misalnya menyusun Teologi Paulus dari keempat belas suratnya, atau Teologi Yohanes dari Injil dan surat-suratnya — sebelum membandingkannya dengan penulis lain.

Pendekatan ini menghormati keutuhan pemikiran tiap penulis sebagai penulis yang koheren dan disengajakan. Kelemahannya adalah risiko terlalu menyistematisasikan pemikiran satu penulis seolah tidak mengalami perkembangan apa pun, padahal surat-surat awal dan akhir penulis yang sama — misalnya Paulus di 1 Tesalonika dibandingkan 2 Timotius — bisa menunjukkan penekanan yang sedikit bergeser sesuai konteks dan kedewasaan rohaninya.

c. Metode Tematik/Lintas Kitab

Metode ini menelusuri satu tema teologis tertentu — seperti Kristologi, Soteriologi, Pneumatologi, atau Eskhatologi — dengan bergerak melintasi berbagai kitab dan penulis, memperlihatkan bagaimana tema yang sama ditekankan atau diungkapkan dengan cara berbeda-beda oleh masing-masing penulis.

Inilah metode utama yang dipakai dalam mata kuliah ini: dengan menelusuri Kristologi dari Surat Galatia hingga Surat Yudas, mahasiswa dapat melihat kekayaan gambaran tentang Kristus sekaligus melatih kepekaan mengajar tentang tema yang sama dari berbagai bagian Alkitab. Risikonya adalah melepaskan ayat dari konteks aslinya jika tidak berhati-hati; karena itu tugas deskriptif dan historis pada bagian C.1 tetap harus mendasari metode ini.

d. Metode Kanonik

Metode kanonik membaca dan menafsirkan Perjanjian Baru sebagai satu kesatuan kanon yang telah selesai dan diterima gereja, dengan berfokus pada makna teologis yang muncul dari susunan akhir kanon tersebut — bagaimana keempat Injil, Kisah Para Rasul, surat-surat, dan Kitab Wahyu saling melengkapi sebagai satu kesaksian utuh tentang Yesus Kristus.

Metode kanonik sering berfungsi sebagai langkah penyintesis terakhir setelah tugas deskriptif, historis, dan komparatif selesai dilakukan — menyatukan hasil kajian atas kitab-kitab secara individual ke dalam gambaran besar tentang bagaimana seluruh Perjanjian Baru bersaksi tentang karya keselamatan Allah di dalam Kristus.

)}

C.3  Relasi dengan Teologi Sistematika

Teologi Perjanjian Baru berfungsi sebagai disiplin jembatan (bridge discipline) antara eksegesis/tafsir teks dan Teologi Sistematika. Ia menyediakan bahan deskriptif-kontekstual dari tiap kitab, yang kemudian dirangkai secara logis-tematis lintas seluruh Alkitab oleh Teologi Sistematika.

🗓️ D. Kronologi Penulisan Surat-surat

Perkiraan tahun penulisan menurut pandangan umum para ahli3, beserta kelompok pembelajarannya dalam mata kuliah ini.

📖 Surat Yakobus
🕒 ± 45–48 M
Surat Umum · Pertemuan 4, 7, 10, 13
📖 Surat Galatia
🕒 ± 48–49 M
Surat-surat Awal · Pertemuan 2, 5, 8, 11
📖 1 Tesalonika
🕒 ± 50–51 M
Surat-surat Awal · Pertemuan 2, 5, 8, 11
📖 2 Tesalonika
🕒 ± 51–52 M
Surat-surat Awal · Pertemuan 2, 5, 8, 11
📖 1 Korintus
🕒 ± 53–54 M
Surat-surat Korintus · Pertemuan 3, 6, 9, 12
📖 2 Korintus
🕒 ± 55–56 M
Surat-surat Korintus · Pertemuan 3, 6, 9, 12
📖 Surat Roma
🕒 ± 57 M
Surat-surat Awal · Pertemuan 2, 5, 8, 11
📖 Efesus, Filipi, Kolose, Filemon
🕒 ± 60–62 M
Surat-surat Penjara · Pertemuan 2, 5, 8, 11
📖 1 Timotius & Titus
🕒 ± 62–64 M
Surat Penggembalaan · Pertemuan 3, 6, 9, 12
📖 1 Petrus
🕒 ± 62–64 M
Surat Umum · Pertemuan 4, 7, 10, 13
📖 Surat Ibrani
🕒 ± 60-an M
Surat Umum · Pertemuan 4, 7, 10, 13
📖 2 Timotius
🕒 ± 64–67 M
Surat Penggembalaan · Pertemuan 3, 6, 9, 12
📖 2 Petrus
🕒 ± 65–68 M
Surat Umum · Pertemuan 4, 7, 10, 13
📖 Surat Yudas
🕒 ± akhir tahun 60-an/70-an M
Surat Umum · Pertemuan 4, 7, 10, 13

Catatan: yang terpenting bagi mahasiswa adalah memahami pengelompokan besar — Surat-surat Awal (masa pekabaran Injil keliling Paulus), Surat-surat Penjara (masa pemenjaraan pertama Paulus di Roma), Surat Penggembalaan (masa akhir pelayanan Paulus), dan Surat-surat Umum (ditulis oleh penulis selain Paulus).4

🧭 E. Empat Pilar Tematik

Mata kuliah ini menelusuri empat tema secara lintas kitab (Metode Tematik, lihat C.2), sehingga terlihat bagaimana tiap penulis menjawab tema yang sama dengan penekanannya masing-masing.5

Kristologi
Studi tentang pribadi dan karya Yesus Kristus: siapa Dia (keilahian, kemanusiaan, pra-eksistensi), gelar-gelar-Nya, serta karya-Nya (inkarnasi, kematian, kebangkitan, peninggian).
Soteriologi
Studi tentang keselamatan: bagaimana manusia berdosa dibenarkan dan didamaikan dengan Allah melalui karya Kristus — pembenaran oleh iman, kasih karunia, penebusan, dan pembaruan hidup.
Pneumatologi
Studi tentang pribadi dan karya Roh Kudus: karunia-karunia Roh, buah Roh, peran-Nya dalam pengudusan, kesaksian, dan pemeteraian orang percaya.
Eskhatologi
Studi tentang hal-hal akhir (the last things): kematian dan keadaan sementara sesudahnya, kebangkitan tubuh orang percaya, kedatangan Kristus kembali (Parousia), penghakiman terakhir, sorga dan neraka, hidup kekal dan hukuman kekal, hingga langit dan bumi yang baru.
🗂️ F. Struktur Pembelajaran & Tugas Perkuliahan

Bahan ajar disusun dalam satuan-satuan kecil yang disebut Pelajaran — satu Pelajaran untuk satu kitab (atau kelompok kitab berdekatan) pada satu tema teologi tertentu. Total terdapat 58 Pelajaran yang dipublikasikan bertahap di dhh.sttkalimantan.ac.id, tergabung dalam 14 kali Pertemuan.

  • 📝 Tugas Terstruktur — meringkas bahan ajar tiap Pelajaran (maks. 1 halaman), memuat pokok teologi, ayat-ayat kunci, dan aplikasi praktis.
  • 🙏 Tugas Mandiri — memilih 1 dari 12 topik renungan berbasis teologi Perjanjian Baru, ditulis minimal 2 halaman, dikumpulkan paling lambat Pertemuan 14.
  • 🎯 UTS & UAS — dilaksanakan dalam format take home, masing-masing mencakup separuh materi perkuliahan.
📌 G. Rangkuman

Teologi Perjanjian Baru 2 melanjutkan kajian Teologi Perjanjian Baru 1 dengan berfokus pada surat-surat Paulus dan surat-surat umum, disusun menurut kronologi penulisan dan dibahas melalui pendekatan tematik empat pilar: Kristologi, Soteriologi, Pneumatologi, dan Eskhatologi. Tugas keilmuan disiplin ini bersifat deskriptif, historis, komparatif, dan sintetik-kanonik, dikerjakan melalui metode historis-genetik, per-penulis, tematik, maupun kanonik. Pembelajaran mata kuliah ini sendiri disusun dalam satuan Pelajaran per kitab, dengan Tugas Terstruktur (meringkas) dan Tugas Mandiri (renungan) sebagai sarana pendalaman dan aplikasi pribadi.

💬 H. Pertanyaan Refleksi/Diskusi
  1. Mengapa penting memahami konteks historis dan kronologi penulisan sebuah surat sebelum menafsirkan teologinya?
  2. Dari keempat metode Teologi Perjanjian Baru (historis-genetik, per-penulis, tematik, kanonik), mengapa mata kuliah ini memilih metode tematik sebagai pendekatan utama? Apa kelebihan dan keterbatasannya?
  3. Dari keempat pilar tematik (Kristologi, Soteriologi, Pneumatologi, Eskhatologi), pilar manakah yang menurut Anda paling relevan dengan pergumulan pelayanan Anda saat ini, dan mengapa?
📝 Tugas Terstruktur

Ringkas bahan ajar Pelajaran 1 (Pengantar Teologi Perjanjian Baru 2) dalam maksimal 1 halaman, memuat: (1) perbedaan Teologi Perjanjian Baru 1 dan 2, (2) tugas dan metode Teologi Perjanjian Baru sebagai disiplin ilmu, (3) kronologi umum surat-surat Paulus dan surat umum, dan (4) penjelasan singkat keempat pilar tematik. Kumpulkan pada Pertemuan 1.

📝 Catatan Kaki
  1. George Eldon Ladd, A Theology of the New Testament, rev. ed., ed. Donald A. Hagner (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1993), 15–20.
  2. Frank Thielman, Theology of the New Testament: A Canonical and Synthetic Approach (Grand Rapids, MI: Zondervan, 2005), 1–20.
  3. D. A. Carson and Douglas J. Moo, An Introduction to the New Testament, 2nd ed. (Grand Rapids, MI: Zondervan, 2005), 235–420.
  4. Ibid., 655–670.
  5. Thomas R. Schreiner, New Testament Theology: Magnifying God in Christ (Grand Rapids, MI: Baker Academic, 2008), 11–15.
  6. Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan, Buku Panduan Kurikulum Program Studi S1 Teologi (Pontianak: STT Kalimantan, 2015), Surat Keputusan No. 72/STK-SK/2015.

Bahan ajar ini merupakan bagian dari Silabus Teologi Perjanjian Baru 2 (DTh-137.206), Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan.6

⬅️ Kembali ke Silabus Teologi Perjanjian Baru 2

Tpb2

Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Silabus Mata Kuliah

Teologi Perjanjian Baru 2
Program Studi S1 Teologi
DTh-137.206 · (2 SKS)
Pdt. D. Horatius Herman, M.Th.
Petunjuk: ketuk judul setiap bagian untuk membuka atau menutup uraiannya. Pada bagian Rencana Pembelajaran Semester, ketuk setiap pertemuan untuk melihat pokok bahasan dan tautan bahan ajarnya. Ketuk angka kecil di atas kata untuk melihat catatan kaki.
Identitas Mata Kuliah
Identitas
Nama Mata Kuliah
Teologi Perjanjian Baru 2
Kode Mata Kuliah
DTh-137.206
Bobot SKS
2 SKS
Semester
VII
Rumpun Mata Kuliah
Teologi — Teologi Alkitabiah
Dosen Pengampu
Pdt. Daniel Horatius Herrman, M.Th.
A. Deskripsi Mata Kuliah

Mata kuliah Teologi Perjanjian Baru 2 merupakan kelanjutan dari mata kuliah Teologi Perjanjian Baru 1. Mata kuliah ini memberikan penjelasan yang mendasar tentang teologi Surat-surat Paulus (surat-surat awal, surat-surat besar, surat-surat penjara, dan surat-surat penggembalaan) serta Teologi Ibrani, Yakobus, Petrus, dan Yudas. Pembahasan disusun secara tematik — Kristologi1, Soteriologi2, Pneumatologi3, Ekklesiologi, dan Eskhatologi4 — dengan mengikuti pengelompokan surat berdasarkan penulis dan periode penulisannya.

Bahan ajar disusun per Pelajaran (satu Pelajaran untuk satu kitab/kelompok kitab pada satu tema teologi tertentu dan dipublikasikan di dhh.sttkalimantan.ac.id), sehingga mahasiswa dapat mendalami perkembangan pemikiran teologis dalam surat-surat Perjanjian Baru secara sistematis serta menerapkan prinsip-prinsipnya dalam kehidupan pribadi dan pelayanan.

Catatan Kaki

1. George Eldon Ladd, A Theology of the New Testament, rev. ed., ed. Donald A. Hagner (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1993), 415–424. ↩

2. Ibid., 470–482. ↩

3. Thomas R. Schreiner, New Testament Theology: Magnifying God in Christ (Grand Rapids, MI: Baker Academic, 2008), 371–390. ↩

4. Ibid., 815–830. ↩

B. Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK)

Setelah mengikuti mata kuliah ini mahasiswa mampu:

  • Menjelaskan teologi dari Surat-surat Paulus.
  • Menjelaskan teologi Ibrani, Yakobus, Petrus, dan Yudas.
  • Membandingkan tema Kristologi, Soteriologi, Pneumatologi, Ekklesiologi, dan Eskhatologi lintas penulis dan periode penulisan surat-surat Perjanjian Baru.
  • Meringkas bahan ajar tiap Pelajaran (per kitab) secara akurat dan sistematis (Tugas Terstruktur).
  • Merefleksikan dan mengaplikasikan pengajaran tiap kitab dalam kehidupan dan pelayanannya melalui tulisan renungan (Tugas Mandiri).
C. Metode Pembelajaran

Ceramah, Diskusi, Tanya Jawab, Studi Kasus, Penugasan (Tugas Terstruktur & Tugas Mandiri).

Sistem perkuliahan
Block teaching
Selama 5 hari, satu pertemuan (200 menit) setiap hari.
D. Komponen Penilaian
Bobot Nilai
Komponen dan Bobot
Kehadiran & Partisipasi
Bobot 20%
Tugas Terstruktur
Bobot 25%
Tugas Mandiri
Bobot 35%
Ujian Akhir Semester (UAS – Take Home)
Bobot 20%
Ketentuan Tugas dan UAS pada Block Teaching
  • Kehadiran & Partisipasi: dinilai dari kehadiran pada kelima hari pertemuan dan keaktifan dalam diskusi.
  • Tugas Terstruktur: Mengerjakan Soal-soal Pendalaman dan Esai.
  • Tugas Mandiri: renungan yang mengaplikasikan pengajaran kitab-kitab yang dipelajari, dikumpulkan sesuai batas akhir yang ditetapkan dosen.
  • UAS (take home): mencakup materi kelima pertemuan; soal dibagikan pada pertemuan 5 dan dikumpulkan sesuai batas akhir yang ditetapkan dosen. Karena block teaching tidak memiliki UTS terpisah, bobot UAS menjadi 20%.
Rentang Nilai
Nilai Huruf dan Rentang Angka
Nilai A
91,00 – 100
Luar Biasa (lulus)
Nilai AB
81,00 – <90,99
Sangat Baik (lulus)
Nilai B
74,00 – <80,99
Baik (lulus)
Nilai BC
68,00 – <73,99
Cukup Baik (lulus bersyarat)
Nilai C
60,00 – <67,99
Cukup (lulus bersyarat)
Nilai CD
51,00 – <59,99
Kurang Cukup (tidak lulus)
Nilai D
41,00 – <50,99
Kurang (tidak lulus)
Nilai E
<40,99
Tidak Lulus/Gagal (tidak lulus)
E. Rencana Pembelajaran Semester (RPS)
Rincian bahan ajar per Pelajaran, tautan pos di dhh.sttkalimantan.ac.id, dan uraian lengkap Tugas Terstruktur maupun Tugas Mandiri tersedia pada masing-masing pos Pelajaran. Perkuliahan diselenggarakan secara block teaching selama 5 hari, satu pertemuan berdurasi 200 menit setiap hari.
Pertemuan 1 — Kristologi

Kristologi (Surat-surat Paulus; Ibrani, Yakobus, Petrus & Yudas) · 200 menit

Buka bahan ajar ›

Sub-pokok bahasan / indikator
Paulus (Galatia, Tesalonika, Surat-surat Penjara, Roma)
  • Kristus yang membebaskan dari hukum Taurat (Galatia)
  • Kristus yang bangkit dan akan datang kembali (1–2 Tesalonika)
  • Kristus Kepala atas segala sesuatu (Ef. 1)
  • Keutamaan Kristus atas segala ciptaan sebagai gambar Allah (Kol. 1)
  • Nyanyian Kristologis kenosis dan peninggian (Flp. 2)
  • Kristus sebagai Adam kedua dan Anak Allah dalam kuasa melalui kebangkitan (Roma)
Paulus (Korintus & Surat-surat Penggembalaan)
  • Kristus hikmat dan kuasa Allah, dasar kebangkitan orang percaya (1–2 Kor.)
  • Kristus Juruselamat orang berdosa (1 Tim. 1:15)
  • Penampakan Kristus yang mulia/epifaneia (Titus 2:13; 2 Tim. 4)
Ibrani, Yakobus, Petrus & Yudas
  • Kristus Imam Besar Agung menurut peraturan Melkisedek, lebih utama dari malaikat dan Musa (Ibrani)
  • “Tuhan Yesus Kristus yang mulia” (Yak. 2:1)
  • Kristus teladan penderitaan dan Batu Penjuru (1 Petrus)
  • Kemuliaan Kristus yang akan dinyatakan (2 Pet. 1)
  • Yesus Kristus sebagai Tuan dan Tuhan (Yudas 1:4)
Metode dan Evaluasi
Metode
Ceramah, Diskusi, Tanya Jawab, Studi Kasus
Evaluasi
Tugas Terstruktur: merngerjakan Soal-soal Pendalaman dan Esai (dikumpulkan bersama UAS)
Pertemuan 2 — Soteriologi

Soteriologi (Surat-surat Paulus; Ibrani, Yakobus, Petrus & Yudas) · 200 menit

Buka bahan ajar ›

Sub-pokok bahasan / indikator
Paulus (Galatia, Tesalonika, Surat-surat Penjara, Roma)
  • Pembenaran oleh iman, bukan oleh perbuatan hukum Taurat (Galatia)
  • Keselamatan dan pengharapan orang percaya menyambut kedatangan Tuhan (1–2 Tesalonika)
  • Keselamatan oleh kasih karunia melalui iman (Ef. 2:8–9)
  • Rekonsiliasi kosmis di dalam Kristus (Kol. 1:20)
  • Persekutuan dalam penderitaan dan kebangkitan Kristus (Flp. 3)
  • Doktrin pembenaran, dosa, dan kasih karunia (Roma 3–5)
Paulus (Korintus & Surat-surat Penggembalaan)
  • Hikmat salib sebagai jalan keselamatan dan ciptaan baru di dalam Kristus (1 Kor. 1; 2 Kor. 5:17)
  • Kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia (Titus 2:11)
  • Pembaruan oleh Roh Kudus (Titus 3:5)
Ibrani, Yakobus, Petrus & Yudas
  • Korban Kristus yang sempurna, satu kali untuk selamanya (Ibr. 9–10)
  • Iman dan perbuatan (Yak. 2:14–26)
  • Penebusan oleh darah Kristus yang mahal dan kelahiran baru (1 Pet. 1)
  • Pertumbuhan menuju keselamatan yang penuh (2 Pet. 1)
  • Berjuang mempertahankan iman yang telah disampaikan (Yudas 1:3)
Metode dan Evaluasi
Metode
Ceramah, Diskusi, Tanya Jawab, Studi Kasus
Evaluasi
Tugas Terstruktur: merngerjakan Soal-soal Pendalaman dan Esai (dikumpulkan bersama UAS)
Pertemuan 3 — Pneumatologi

Pneumatologi (Surat-surat Paulus; Ibrani, Yakobus, Petrus & Yudas) · 200 menit

Buka bahan ajar ›

Sub-pokok bahasan / indikator
Paulus (Galatia, Tesalonika, Surat-surat Penjara, Roma)
  • Buah Roh serta hidup dan berjalan menurut Roh (Gal. 5)
  • Pengudusan oleh Roh Kudus (1 Tes. 4–5; 2 Tes. 2:13)
  • Roh Kudus sebagai meterai (Ef. 1:13; 4:30)
  • Dipenuhi Roh (Ef. 5:18)
  • Kesatuan Roh dalam tubuh Kristus (Ef. 4)
  • Hidup menurut Roh dan pergumulan Roh dalam doa (Roma 8)
Paulus (Korintus & Surat-surat Penggembalaan)
  • Karunia-karunia Roh dan kesatuan tubuh Kristus (1 Kor. 12–14)
  • Roh Kudus sebagai jaminan/arrabon keselamatan (2 Kor. 1:22; 5:5)
  • Pembaruan oleh Roh Kudus (Titus 3:5)
  • Karunia yang diberikan melalui penumpangan tangan (2 Tim. 1:6–7)
Ibrani, Yakobus, Petrus & Yudas
  • Roh Kudus sebagai saksi dan Roh yang kekal (Ibr. 9:14; 10:15)
  • Bahaya menghina Roh kasih karunia (Ibr. 10:29)
  • Hikmat dari atas / Roh yang berdiam di dalam kita (Yak. 4:5)
  • Roh kemuliaan dalam penganiayaan (1 Pet. 4:14)
  • Nubuat yang digerakkan Roh Kudus (2 Pet. 1:21)
  • Berdoa dalam Roh Kudus (Yudas 1:20)
Metode dan Evaluasi
Metode
Ceramah, Diskusi, Tanya Jawab, Studi Kasus
Evaluasi
Tugas Terstruktur: merngerjakan Soal-soal Pendalaman dan Esai (dikumpulkan bersama UAS)
Pertemuan 4 — Ekklesiologi

Ekklesiologi (Surat-surat Paulus; Ibrani, Yakobus, Petrus & Yudas) · 200 menit

Buka bahan ajar ›

Sub-pokok bahasan / indikator
Paulus (Galatia, Tesalonika, Surat-surat Penjara, Roma)
  • Jemaat sebagai umat Allah yang satu di dalam Kristus tanpa pembedaan Yahudi dan Yunani (Gal. 3:26–29; 6:16)
  • Jemaat di dalam Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus serta penghargaan atas para pemimpin (1 Tes. 1:1; 5:12–13)
  • Gereja sebagai tubuh Kristus dan kesatuan Yahudi–bukan Yahudi (Ef. 2:11–22; 4:1–16)
  • Kristus Kepala jemaat (Kol. 1:18, 24)
  • Penilik dan diaken (Flp. 1:1)
  • Satu tubuh dalam Kristus serta Israel dan bangsa-bangsa (Roma 11:17–24; 12:4–5)
Paulus (Korintus & Surat-surat Penggembalaan)
  • Jemaat Allah dan bait Allah (1 Kor. 3:16–17; 2 Kor. 6:16)
  • Perjamuan Tuhan dan ketertiban ibadah (1 Kor. 11:17–34; 14:26–40)
  • Satu tubuh, banyak anggota (1 Kor. 12:12–27)
  • Jemaat sebagai rumah Allah, tiang penopang dan dasar kebenaran (1 Tim. 3:15)
  • Syarat penilik, penatua, dan diaken (1 Tim. 3:1–13; Tit. 1:5–9)
Ibrani, Yakobus, Petrus & Yudas
  • Umat Allah dan rumah Allah (Ibr. 3:1–6)
  • Berkumpul dan saling mendorong (Ibr. 10:24–25)
  • Jemaat anak-anak sulung dan Yerusalem sorgawi (Ibr. 12:22–24)
  • Ketaatan kepada para pemimpin (Ibr. 13:7, 17)
  • Umat dua belas suku di perantauan dan jemaat tanpa memandang muka (Yak. 1:1; 2:1–13)
  • Penatua jemaat dan doa bagi orang sakit (Yak. 5:14–16)
  • Batu yang hidup, imamat rajani, dan umat milik Allah (1 Pet. 2:4–10)
  • Penatua sebagai gembala kawanan Allah (1 Pet. 5:1–4)
  • Guru-guru palsu di tengah umat (2 Pet. 2:1–3)
  • Mempertahankan iman, perjamuan kasih, dan saling membangun (Yudas 1:3, 12, 20–23)
Metode dan Evaluasi
Metode
Ceramah, Diskusi, Tanya Jawab, Studi Kasus
Evaluasi
Tugas Terstruktur: merngerjakan Soal-soal Pendalaman dan Esai (dikumpulkan bersama UAS)
Pertemuan 5 — Eskhatologi

Eskhatologi (Surat-surat Paulus; Ibrani, Yakobus, Petrus & Yudas) · 200 menit

Buka bahan ajar ›

Sub-pokok bahasan / indikator
Paulus (Galatia, Tesalonika, Surat-surat Penjara, Roma)
  • Kebebasan dari zaman yang jahat sekarang ini (Gal. 1:4)
  • Hari Tuhan, Parousia, dan pengangkatan (1–2 Tesalonika)
  • Manusia durhaka dan Antikristus (2 Tes. 2)
  • Penggenapan kosmis segala sesuatu di dalam Kristus (Ef. 1:10)
  • Kewargaan sorgawi dan tubuh kemuliaan (Flp. 3:20–21)
  • Pengharapan akan penampakan Kristus (Kol. 3:4)
  • Ciptaan yang merindukan kemuliaan yang akan datang (Roma 8:18–25)
Paulus (Korintus & Surat-surat Penggembalaan)
  • Kebangkitan tubuh dan penghakiman akhir (1 Kor. 15)
  • Penampakan Kristus yang mulia/epifaneia (Titus 2:13; 2 Tim. 4:1, 8)
  • Pengharapan akan mahkota kebenaran (2 Tim. 4:8)
Ibrani, Yakobus, Petrus & Yudas
  • Dunia yang akan datang dan perhentian Sabat bagi umat Allah (Ibr. 4)
  • Kerajaan yang tidak tergoncangkan (Ibr. 12:28)
  • Kesabaran menantikan kedatangan Tuhan dan penghakiman bagi orang kaya (Yak. 5:7–9)
  • Penghakiman atas guru-guru palsu, hari Tuhan seperti pencuri, langit dan bumi baru (2 Pet. 2–3)
  • Pengharapan dan doksologi kekal (Yudas 1:24–25)
Metode dan Evaluasi
Metode
Ceramah, Diskusi, Tanya Jawab, Studi Kasus
Evaluasi
Tugas Terstruktur: merngerjakan Soal-soal Pendalaman dan Esai (dikumpulkan bersama UAS)
Tugas Mandiri: membuat renungan (dikumpulkan setelah block, sesuai batas akhir)
UAS: soal dibagikan
UAS — Ujian Akhir Semester (Take Home)
Ujian Akhir Semester (Take Home)
Materi
Pertemuan 1–5 (Kristologi, Soteriologi, Pneumatologi, Ekklesiologi & Eskhatologi)
Metode
Ujian tertulis (take home); dikumpulkan setelah block
Evaluasi
UAS (20%)
F. Referensi
  • Alkitab (Perjanjian Baru).
  • Bahan Ajar dalam Website dhh.sttkalimantan.ac.id
  • Buku-buku Teologi Perjanjian Baru standar yang relevan (disesuaikan oleh dosen pengampu).

Silabus ini disusun berdasarkan Buku Panduan Kurikulum Prodi S1 Teologi STT Kalimantan (SK No. 72/STK-SK/2015), mata kuliah DTh-137.206 Teologi Perjanjian Baru 2.5

Catatan Kaki

5. Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan, Buku Panduan Kurikulum Program Studi S1 Teologi (Pontianak: STT Kalimantan, 2015), Surat Keputusan No. 72/STK-SK/2015. ↩

Silabus Teologi Perjanjian Baru 2 (DTh-137.206) · Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

tpb1-01

SEKOLAH TINGGI TEOLOGI KALIMANTAN
Teologi Perjanjian Baru 1
DTh-136.202
BAHAN AJAR PERTEMUAN 1
Pengantar, Tugas, dan Metode Teologi Perjanjian Baru

I. Pendahuluan
Sebelum memasuki kajian tematik atas Kristologi, Soteriologi, Pneumatologi, dan Eskhatologi Perjanjian Baru pada pertemuan-pertemuan berikutnya, diperlukan orientasi metodologis yang memadai. Pertemuan ini memperkenalkan hakikat Teologi Perjanjian Baru sebagai disiplin ilmu, kedudukannya di antara disiplin teologis lain, sejarah singkat perkembangannya, ragam metode para ahli, serta pergumulan mendasar mengenai kesatuan (unity) dan keragaman (diversity) kesaksian Perjanjian Baru.

II. Definisi & Ruang Lingkup
Teologi Perjanjian Baru adalah upaya sistematis menyajikan ajaran teologis dalam dua puluh tujuh dokumen Perjanjian Baru, dengan memperhatikan konteks historis, sastra, dan teologis khas tiap penulis, sebelum disintesiskan menjadi gambaran teologis yang lebih luas.[1]
Ruang lingkupnya mencakup seluruh korpus Perjanjian Baru — didekati menurut penulis/korpus (Sinoptik, Yohanes, Paulus, surat am, Wahyu) maupun menurut tema besar lintas korpus, sebagaimana ditempuh dalam mata kuliah ini.

III. Kedudukan di Antara Disiplin Teologis Lain
Terhadap Eksegesis
Eksegesis berfokus pada penafsiran unit teks tertentu (perikop, ayat) secara rinci dengan kaidah gramatikal-historis. Teologi PB berdiri di atas hasil eksegesis, lalu mensintesiskannya menjadi gambaran teologis yang koheren.
Terhadap Teologi Sistematika
Teologi Sistematika bersifat sinkronik-normatif, menyusun doktrin lintas seluruh kanon. Teologi PB lebih diakronik-deskriptif dahulu — menghormati perkembangan pemikiran tiap penulis — sebelum dipakai bagi refleksi sistematis.[2]
Terhadap Teologi Perjanjian Lama
Bersama membentuk Teologi Biblika, karena Teologi PB melanjutkan dan menggenapi wahyu progresif yang dimulai dalam PL, terutama melalui pribadi dan karya Yesus Kristus.

IV. Sejarah Singkat Perkembangan Disiplin
1787 — Johann Philipp Gabler
Titik tolak historis disiplin Teologi Biblika modern umumnya dilacak pada tanggal 30 Maret 1787, ketika Johann Philipp Gabler menyampaikan pidato pengukuhannya sebagai profesor teologi di Universitas Altdorf, berjudul Oratio de iusto discrimine theologiae biblicae et dogmaticae regundisque recte utriusque finibus — “Pidato mengenai Pembedaan yang Tepat antara Teologi Biblika dan Teologi Dogmatika serta Batasan yang Semestinya bagi Keduanya.”[3] Pidato inilah yang oleh banyak sejarawan disiplin dianggap sebagai titik kelahiran resmi Teologi Biblika sebagai bidang kajian akademik yang berdiri sendiri, terpisah dari Teologi Dogmatika yang sebelumnya telah lama mapan dalam tradisi skolastik Protestan.[4]
Inti argumen Gabler terletak pada pembedaan metodologis yang tegas antara kedua disiplin tersebut: Teologi Biblika bersifat historis dan deskriptif, dengan tugas menguraikan secara objektif apa yang sesungguhnya diyakini dan diajarkan oleh para penulis Alkitab pada zaman dan konteks historis mereka sendiri, tanpa dibebani kepentingan dogmatis gereja masa kini.[5] Teologi Dogmatika, sebaliknya, bersifat normatif dan filosofis, dengan tugas merumuskan ajaran yang mengikat bagi gereja masa kini dengan memanfaatkan kategori-kategori filsafat dan nalar zamannya. Gabler bahkan mengusulkan pembedaan lebih lanjut di dalam Teologi Biblika itu sendiri, antara apa yang disebutnya teologi biblika “sejati” (wahre biblische Theologie) — gagasan-gagasan yang terikat erat pada zaman dan situasi partikular penulisnya — dan teologi biblika “murni” (reine biblische Theologie) — gagasan-gagasan universal dan berlaku sepanjang masa yang dapat disaring dari kesaksian historis-partikular tersebut.[6]
Meskipun pidato Gabler kerap dibaca secara sederhana sebagai seruan untuk memisahkan sepenuhnya kajian Alkitab dari kepentingan teologis gereja, sejumlah pembacaan ulang menekankan bahwa maksud Gabler sesungguhnya lebih bernuansa: tahap deskriptif-historis dipahaminya sebagai langkah awal yang harus dilalui sebelum hasilnya dapat dipakai secara sah bagi refleksi dogmatis, bukan sebagai penolakan terhadap kegunaan teologis Alkitab itu sendiri.[7] Terlepas dari perdebatan mengenai maksud aslinya, warisan metodologis pidato ini terbukti menentukan: pemisahan historis-deskriptif versus normatif-dogmatis yang diusulkannya menjadi fondasi bagi seluruh perkembangan disiplin Teologi Biblika — termasuk Teologi Perjanjian Baru — pada dua abad berikutnya.[8]
Akhir Abad ke-19 — Mazhab Sejarah Agama-Agama
Pada penghujung abad kesembilan belas dan awal abad kedua puluh, sekelompok sarjana Jerman muda — termasuk Wilhelm Bousset, Wilhelm Heitmüller, Hermann Gunkel, dan Albert Eichhorn — membentuk mazhab Sejarah Agama-Agama (religionsgeschichtliche Schule). Mazhab ini menempatkan dokumen-dokumen Perjanjian Baru bukan sebagai wahyu yang berdiri sendiri, melainkan sebagai satu varian di antara fenomena keagamaan Helenistik-Yahudi yang lebih luas pada zamannya.[9]
Karya paling berpengaruh dari mazhab ini adalah Kyrios Christos (1913) karya Wilhelm Bousset, yang berargumen bahwa gelar “Kyrios” (Tuhan) yang disematkan kepada Yesus muncul akibat pengaruh sinkretistik kultus-kultus misteri Helenistik, bukan dari tradisi Kristen Palestina paling awal.[10] Konsekuensinya cenderung mereduksi keunikan wahyu Kristen menjadi sekadar fenomena sejarah agama biasa — kecenderungan yang belakangan dikritik sebagai “parallelomania”, yakni melebih-lebihkan paralel lintas-agama tanpa memperhitungkan perbedaan konseptualnya.[11]
1897 — William Wrede
Searah dengan semangat mazhab Sejarah Agama-Agama, Wrede menerbitkan esai program berjudul Über Aufgabe und Methode der sogenannten Neutestamentlichen Theologie (“Mengenai Tugas dan Metode yang Disebut Teologi Perjanjian Baru”), menuntut agar sebutan “teologi” ditinggalkan karena masih membawa muatan dogmatis gereja, dan mengusulkan disiplin ini disebut “sejarah agama Kristen purba” yang dijalankan murni deskriptif-historis.[12]
Usulan Wrede ini adalah radikalisasi lebih lanjut dari pembedaan yang dirintis Gabler seabad sebelumnya: jika Gabler membayangkan tahap deskriptif sebagai persiapan bagi refleksi dogmatis, Wrede menolak keterkaitan itu — agenda deskriptif-historisnya kelak menjadi salah satu akar penting bagi pendekatan Rudolf Bultmann.[13]
Pertengahan Abad ke-20 — Rudolf Bultmann
Dalam karya monumentalnya Theologie des Neuen Testaments (1948–1953), Bultmann mengembangkan pendekatan yang dipengaruhi filsafat eksistensialis Martin Heidegger: inti Teologi PB bukan pada rekonstruksi ajaran historis Yesus dari Nazaret — yang menurutnya sangat terbatas kemungkinannya secara historis — melainkan pada kerygma, pemberitaan salib dan kebangkitan Kristus yang menuntut keputusan iman yang otentik.[14]
Untuk menjembatani pandangan dunia mitologis PB (kosmologi tiga tingkat, kuasa adikodrati, eskhatologi harfiah) dengan pemahaman diri manusia modern, Bultmann mengusulkan “demitologisasi” (Entmythologisierung): bukan menyingkirkan unsur mitologis itu, melainkan menafsirkannya ulang secara eksistensial.[15]
Pendekatan ini memicu reaksi keras dari kalangan yang menamakan diri gerakan Biblical Theology, yang memandang skeptisisme historisnya berlebihan dan program demitologisasinya mengancam kredibilitas historis inti kesaksian Injil.[16]
Reaksi — Biblical Theology Movement (Ladd & Guthrie)
Sejumlah sarjana evangelikal Anglo-Amerika — terutama George Eldon Ladd dan Donald Guthrie — menegaskan kembali keterandalan historis PB dan menolak pemisahan tajam “Yesus historis” vs. “Kristus kerygma” ala Bultmann. Ladd mengusulkan seluruh korpus PB disatukan di sekitar penggenapan eskhatologis Kerajaan Allah — skema “sudah tetapi belum” (already but not yet).[17]
Donald Guthrie melengkapi proyek ini dengan pendekatan tematik yang menelusuri kesatuan ajaran PB mengenai Allah, Kristus, Roh Kudus, keselamatan, dan gereja.[18] Gerakan ini dianggap berhasil mengembalikan pertanyaan kesatuan teologis PB ke pusat perdebatan disiplin, meski kelak dikritik kurang memberi ruang bagi keragaman otentik antarpenulis.[19]
Akhir Abad ke-20 — Pendekatan Kanonik (Childs, Marshall, Thielman)
Brevard S. Childs mengusulkan penafsiran teologis PB difokuskan pada bentuk kanon akhir 27 kitab sebagaimana diterima gereja, bukan rekonstruksi hipotetis sumber/tradisi/redaksi di baliknya — pendekatan “kanonik” yang menempatkan otoritas kanon gerejawi sebagai konteks sah penafsiran teologis.[20]
I. Howard Marshall dan Frank Thielman melanjutkan proyek ini dengan menggabungkan sensitivitas keragaman historis tiap penulis (“many witnesses”) dengan kesatuan naratif-teologis seluruh korpus (“one gospel”).[21] Pendekatan kanonik ini berupaya mendamaikan warisan deskriptif-historis Gabler dan Wrede dengan kebutuhan gereja akan Alkitab yang berotoritas teologis masa kini.[22]

V. Metode-Metode Menyusun Teologi PB
A. Landasan Eksegetis: Penafsiran Gabungan Empat Lapis
Sebelum hasil pembacaan tiap kitab disintesiskan secara tematik lintas-korpus, setiap unit teks — khususnya materi naratif Injil-injil dan Kisah Para Rasul — dibaca melalui penafsiran gabungan empat lapis konteks:
Sitz im Leben Peristiwa (khusus Injil-injil & Kisah Para Rasul)
Konteks historis peristiwa itu sendiri sebagaimana terjadi — situasi hidup Yesus dalam pelayanan-Nya, atau situasi historis jemaat mula-mula — sebelum peristiwa itu dinarasikan.[23]
Sitz im Leben Pembaca Asli
Konteks hidup, kebutuhan, dan pergumulan komunitas pembaca/penerima pertama tulisan tersebut, yang membentuk cara penulis menyusun dan menekankan materinya.
Sitz im Buch
Konteks sastra-redaksional suatu unit teks di dalam struktur kitab secara keseluruhan — bagaimana penulis/redaktor menempatkan dan memberi penekanan teologis tertentu demi tujuan kitab itu.
Eksegesis Bahasa Yunani
Analisis gramatikal-leksikal teks asli (morfologi, sintaksis, semantik kata) sebagai dasar objektif yang menguji ketiga lapis kontekstual di atas.[24]
B. Metode Sintesis Tematik Lintas-Kitab
Deskriptif-historis vs. normatif-teologis
Memahami “apa arti” teks bagi pembaca pertama, versus menyimpulkan “apa makna”-nya yang normatif bagi pembaca masa kini.
Kitab-per-kitab (book-by-book)
Menyajikan teologi tiap kitab berurutan dan mandiri — dipakai Ladd, Guthrie, Thielman.
Genetik-diakronis / “lintasan” (trajectory)
Menelusuri perkembangan (development) suatu tema teologis dari waktu ke waktu mengikuti urutan kronologis penulisan — pergeseran penekanan dapat terjadi bukan hanya antarpenulis, tetapi juga di dalam korpus satu penulis yang sama seiring berjalannya waktu, bukan sekadar perbandingan statis antarkitab. Pendekatan inilah yang dipakai dalam mata kuliah ini.[25]
Ilustrasi 1 (Markus → Lukas–Kisah Para Rasul, Eskhatologi): Markus 13:30 mengandaikan pengharapan yang relatif dekat — “generasi ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya ini terjadi.” Injil Lukas dan Kisah Para Rasul, disusun beberapa dekade kemudian, menyisipkan periode antara — “zaman bangsa-bangsa lain” (Luk. 21:24) dan sejarah gereja yang meluas bertahap (Kis. 1:8). Hans Conzelmann membaca ini sebagai penyusunan ulang skema keselamatan (Heilsgeschichte) menjadi tiga zaman — Israel, Yesus, Gereja — merespons penundaan parousia.[26]
Ilustrasi 2 (Lukas–Kisah → Matius, Eskhatologi): Bila Kisah Para Rasul menampilkan perluasan Injil yang masih terbuka dan progresif, perumpamaan eskhatologis Matius 24–25 — sepuluh gadis menunggu mempelai yang “lama tidak datang-datang” (Mat. 25:5), hamba jahat berkata “tuanku tidak datang-datang” (Mat. 24:48) — menyiratkan komunitas yang telah bergumul lebih lama dengan penundaan itu. Donald A. Hagner membaca ini sebagai pergumulan komunitas Matius yang lebih mendesak dibanding generasi sebelumnya.[27]
Ilustrasi 3 (Matius → Yohanes, Kristologi): Kristologi Matius masih banyak beroperasi dalam kerangka mesianik Yahudi — Anak Daud, Immanuel, penggenap nubuat. Injil Yohanes meningkatkan artikulasi ini tajam: Logos yang pra-ada (Yoh. 1:1), “Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh. 10:30). J. Louis Martyn mengaitkan lompatan ini dengan pergumulan komunitas Yohanes menghadapi pengusiran dari sinagoge (Yoh. 9:22; 12:42; 16:2).[28]
Ilustrasi 4 (Yohanes → 1–3 Yohanes, Kristologi/Eklesiologi): Jika Injil Yohanes bergumul dengan konflik eksternal terhadap sinagoge, pada 1–3 Yohanes pergumulan bergeser ke front internal: perpecahan soal apakah Yesus Kristus benar-benar “datang sebagai manusia” (1 Yoh. 4:2–3; 2 Yoh. 7) — indikasi ajaran sesat proto-doketis di dalam komunitas itu sendiri. Raymond E. Brown menelusuri pergeseran front konflik ini sebagai satu tahap sejarah komunitas Yohanes.[29]
Keempat ilustrasi di atas memperlihatkan bagaimana kepekaan genetik-diakronis memungkinkan mahasiswa mengamati bukan hanya perbedaan penekanan antarkitab, melainkan juga arah perkembangan (trajectory) pemikiran teologis dari satu korpus ke korpus berikutnya.
Sejarah-agama (history-of-religions)
Membandingkan ajaran PB dengan gagasan keagamaan Yahudi-Helenistik sezaman untuk memperjelas kekhasannya.

VI. Isu Kesatuan & Keragaman (Unity and Diversity)
Pergumulan paling mendasar: bagaimana menyeimbangkan kesatuan teologis dengan keragaman ekspresi teologis di antara para penulis PB.
Bultmann — menonjolkan keragaman kerygma antartradisi (Sinoptik, Paulus, Yohanes), bahkan mempertanyakan adanya “satu” Teologi PB yang tunggal.
Ladd & Guthrie — menekankan kesatuan tema sentral: penggenapan Kerajaan Allah di dalam Kristus.
James D.G. Dunn — posisi mediasi “unity in diversity”: mengakui pluralitas ekspresi teologis yang sah, namun tetap berakar pada satu kerygma inti — kematian dan kebangkitan Yesus Kristus sebagai Tuhan.[30]

VII. Pendekatan yang Dipakai dalam Mata Kuliah Ini
Kajian tematik disusun mengikuti perkiraan urutan kronologis penulisan yang umum diterima: Markus → Lukas–Kisah Para Rasul → Matius → Yohanes → 1–3 Yohanes → Wahyu.[31]
Empat tema besar ditelusuri berurutan: Kristologi (Pert. 2–4), Soteriologi (Pert. 5–7), Pneumatologi (Pert. 8–10), Eskhatologi (Pert. 11–14). Tiap pertemuan mengikuti tiga langkah: (1) pokok-pokok teologi & ciri khas tiap kitab, (2) diskusi para scholar, (3) diskusi kelas.
Kepekaan genetik-diakronis (bagian V) menjadi ciri khas kajian ini: mahasiswa tidak semata membandingkan penekanan teologis yang berbeda antarkitab secara statis, melainkan didorong mengamati kemungkinan perkembangan penekanan teologis dari waktu ke waktu — baik lintas-korpus maupun, bila data historis memungkinkan, di dalam korpus satu penulis yang sama — seperti diilustrasikan pada keempat contoh trajectory di bagian V.

VIII. Rangkuman
Teologi PB berdiri di antara Eksegesis dan Teologi Sistematika, bersifat deskriptif-historis sebelum normatif, dan berkembang dari pemisahan Gabler, mazhab sejarah agama-agama, deskriptivisme Wrede, eksistensialisme Bultmann, Biblical Theology Movement, hingga pendekatan kanonik kontemporer. Pergumulan kesatuan-keragaman menjadi dasar metode tematik-lintas-kitab yang dipakai sepanjang mata kuliah ini.

IX. Pertanyaan Diskusi Kelas
1. Mengapa penting membedakan pendekatan deskriptif-historis dan normatif-teologis dalam mempelajari Perjanjian Baru?
2. Bagaimana pergumulan Bultmann vs. Ladd/Guthrie mengenai kesatuan-keragaman PB relevan bagi cara kita membaca Alkitab hari ini?
3. Apa kelebihan dan keterbatasan pendekatan tematik-lintas-kitab dibandingkan kitab-per-kitab?

X. Tugas
Tugas Terstruktur:
Menyusun peta konsep (concept map) yang memuat definisi Teologi PB, kedudukannya terhadap Eksegesis dan Teologi Sistematika, serta empat tahap utama sejarah perkembangan disiplin ini (bagian IV).
Tugas Mandiri (pilih satu):
1) Refleksi singkat (150–200 kata) tentang relevansi “kesatuan dalam keragaman” bagi pelayanan penggembalaan/pengajaran jemaat; atau
2) Tabel perbandingan sederhana antara metode kitab-per-kitab dan metode tematik-sintetis.

Catatan Kaki

[1] Donald Guthrie, New Testament Theology (Downers Grove: InterVarsity Press, 1981).

[2] Johann Philipp Gabler, “An Oration on the Proper Distinction between Biblical and Dogmatic Theology and the Specific Objectives of Each,” dalam The Flowering of Old Testament Theology, disunting oleh Ben C. Ollenburger, Elmer A. Martens, dan Gerhard F. Hasel (Winona Lake: Eisenbrauns, 1992).

[3] Gabler, “An Oration on the Proper Distinction.”

[4] Ben C. Ollenburger, “Introduction: Biblical Theology: Situating the Discipline,” dalam The Flowering of Old Testament Theology, disunting oleh Ben C. Ollenburger, Elmer A. Martens, dan Gerhard F. Hasel (Winona Lake: Eisenbrauns, 1992).

[5] Ibid.

[6] Gabler, “An Oration on the Proper Distinction.”

[7] Ollenburger, “Introduction: Biblical Theology.”

[8] Charles H. H. Scobie, The Ways of Our God: An Approach to Biblical Theology (Grand Rapids: Eerdmans, 2003).

[9] William Baird, History of New Testament Research, Volume 2: From Jonathan Edwards to Rudolf Bultmann (Minneapolis: Fortress Press, 2003).

[10] Wilhelm Bousset, Kyrios Christos: A History of the Belief in Christ from the Beginnings of Christianity to Irenaeus, terj. John E. Steely (Nashville: Abingdon Press, 1970).

[11] Samuel Sandmel, “Parallelomania,” Journal of Biblical Literature 81, no. 1 (1962).

[12] William Wrede, “The Task and Methods of ‘New Testament Theology,'” dalam The Nature of New Testament Theology, disunting dan diterjemahkan oleh Robert Morgan (London: SCM Press, 1973).

[13] Baird, History of New Testament Research.

[14] Rudolf Bultmann, Theology of the New Testament, terj. Kendrick Grobel (New York: Charles Scribner’s Sons, 1951).

[15] Ibid.

[16] Baird, History of New Testament Research.

[17] George Eldon Ladd, A Theology of the New Testament, ed. rev. Donald A. Hagner (Grand Rapids: Eerdmans, 1993).

[18] Guthrie, New Testament Theology.

[19] Baird, History of New Testament Research.

[20] Brevard S. Childs, The New Testament as Canon: An Introduction (Philadelphia: Fortress Press, 1985).

[21] I. Howard Marshall, New Testament Theology: Many Witnesses, One Gospel (Downers Grove: InterVarsity Press, 2004); Frank Thielman, Theology of the New Testament: A Canonical and Synthetic Approach (Grand Rapids: Zondervan, 2005).

[22] Baird, History of New Testament Research.

[23] Norman Perrin, What Is Redaction Criticism? (Philadelphia: Fortress Press, 1969).

[24] Gordon D. Fee, New Testament Exegesis: A Handbook for Students and Pastors, ed. ke-3 (Louisville: Westminster John Knox Press, 2002).

[25] James M. Robinson dan Helmut Koester, Trajectories through Early Christianity (Philadelphia: Fortress Press, 1971).

[26] Hans Conzelmann, The Theology of St. Luke, terj. Geoffrey Buswell (London: Faber & Faber, 1960).

[27] Donald A. Hagner, Matthew 14–28, Word Biblical Commentary (Dallas: Word Books, 1995).

[28] J. Louis Martyn, History and Theology in the Fourth Gospel, ed. ke-3 (Louisville: Westminster John Knox Press, 2003).

[29] Raymond E. Brown, The Community of the Beloved Disciple (New York: Paulist Press, 1979).

[30] James D.G. Dunn, Unity and Diversity in the New Testament: An Inquiry into the Character of Earliest Christianity, ed. ke-3 (London: SCM Press, 2006).

[31] D.A. Carson dan Douglas J. Moo, An Introduction to the New Testament, ed. ke-2 (Grand Rapids: Zondervan, 2005).

Bahan Ajar Pertemuan 1 — Teologi Perjanjian Baru 1 (DTh-136.202) — Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan.

TPB1

SEKOLAH TINGGI TEOLOGI KALIMANTAN
Program Studi S1 Teologi
SILABUS MATA KULIAH
Teologi Perjanjian Baru 1

📘 Identitas Mata Kuliah
Nama Mata Kuliah:
Teologi Perjanjian Baru 1
Kode Mata Kuliah:
Prodi S1 Teologi DTh-136.202
Prodi S1 PAK DTh-226.202
Bobot SKS:
2 SKS
Semester:
VI
Rumpun Mata Kuliah:
Teologi — Teologi Alkitabiah
Dosen Pengampu:
Pdt. Daniel Horatius Herman, M.Th.

A. Deskripsi Mata Kuliah
Mata kuliah Teologi Perjanjian Baru 1 membahas tentang pokok-pokok Teologi Perjanjian Baru (Biblika) dari masing-masing kitab, mulai dari Injil-injil Sinoptik, Kisah Para Rasul dan Korpus Yohanes. Mahasiswa dibimbing untuk meyakini pentingnya kajian teologi biblika ini, Diskusi para pakar serta mampu menerapkan prinsip-prinsipnya dalam kehidupan pribadi dan pelayanan kepada Gereja, Sekolah, dan Masysrakat.

B. Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK)

Setelah mengikuti mata kuliah ini, mahasiswa mampu:

  • Menjelaskan pengertian Teologi Perjanjian Baru dan hubungannya dengan disiplin ilmu teologi lainnya.
  • Menjelaskan tugas dan metode Teologi Perjanjian Baru.
  • Menjelaskan teologi dari masing-masing kitab, mulai dari Matius sampai tulisan-tulisan Yohanes.
  • Merefleksikan dan mengaplikasikan konsep-konsep Teologi Perjanjian Baru dalam kehidupan dan pelayanannya.

C. Metode Pembelajaran
Ceramah, Diskusi, Tanya Jawab, Studi Kasus, Penugasan.

D. Penilaian
Rentang penilaian mata kuliah Teologi PB1 mengacu pada standar yang diterapkan oleh DIKTI (Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi) di bawah Kemendikbudristek dan yang diadopsi oleh perguruan tinggi di bawah Kementerian Agama (KEMENAG).
Komponen Penilaian Mata Kuliah
Kehadiran & Partisipasi
20%
Tugas / Studi Kasus
40%
Ujian Tengah Semester (UTS)
20%
Ujian Akhir Semester (UAS)
20%
Rentang Penilaian (DIKTI/KEMENAG)
A | 91,00 – 100
Luar Biasa/Istimewa/Lulus
AB | 81,00 – <90,99
Sangat Baik/Lulus
B | 74,00 – <80,99
Baik/Lulus
BC | 68,00 – <73,99
Cukup/Tidak Lulus
C | 60,00 – <67,99
Kurang Cukup//Tidak Lulus
CD | 51,00 – <59,99
Kurang/Tidak Lulus
D | 41,00 – <50,99
Sangat Kurang//Tidak Lulus
E | <40,99
Gagal/Tidak Lulus

Penjelasan Tambahan:

  • Nilai Huruf: konversi dari nilai angka ke huruf.
  • Nilai Angka: skor mentah mahasiswa dari akumulasi komponen penilaian (tugas, UTS, UAS, partisipasi, dll.) dengan skala 0–100.
  • Nilai A hingga B dianggap lulus. Nilai BC dan C sering berarti lulus bersyarat/kurang, dapat meeminta tugas tambahan dari dosen dan lebih disarankan diulang, terutama jika mata kuliah prasyarat atau inti. Nilai D dan E berarti tidak lulus dan wajib diulang.
  • Standar nilai kelulusan mata kuliah dari Kemenag RI untuk Prodi S1 Teologi dan Prodi S1 PAK adalah B atau minimal nilai angka 74,00.

E. Rencana Pembelajaran Semester (RPS)

Pertemuan 1: Pengantar, Tugas dan Metode Teologi Perjanjian Baru
Sub-Pokok Bahasan:
Pengertian Teologi PB; hubungan Teologi PB dengan Teologi Sistematika, Teologi PL, dan Eksegesis; sejarah singkat perkembangan disiplin Teologi PB; metode-metode dalam menyusun Teologi PB (deskriptif, tematik, kitab-per-kitab); isu kesatuan dan keragaman (unity & diversity) dalam Perjanjian Baru.
Metode:
Ceramah, Diskusi, Tanya Jawab
Evaluasi:
Partisipasi kelas

Pertemuan 2 – 4: Kristologi
Pembagian kitab per pertemuan:
2. Markus, Lukas, Kisah Para Rasul
3. Matius, Yohanes, 1–3 Yohanes
4. Wahyu
Pola pembahasan tiap pertemuan:
Pokok-pokok Teologi, Ciri Khas Kristologi setiap kitab, Persamaan dan perbedaan/keunikan Kristologi setiap kitab — 60 menit
Diskusi para scholar — 20 menit
Diskusi kelas — 20 menit
Metode:
Ceramah, Diskusi, Tanya Jawab
Evaluasi:
Partisipasi kelas

Pertemuan 5 – 7: Soteriologi
Pembagian kitab per pertemuan:
5. Markus, Lukas, Kisah Para Rasul
6. Matius, Yohanes, 1–3 Yohanes
7. Wahyu
Pola pembahasan tiap pertemuan:
Pokok-pokok Teologi, Ciri Khas Soteriologi setiap kitab, Persamaan dan perbedaan/keunikan Soteriologi setiap kitab — 60 menit
Diskusi para scholar — 20 menit
Diskusi kelas — 20 menit
Metode:
Ceramah, Diskusi, Studi Kasus
Evaluasi:
Tugas: Pertanyaan Pendalaman, Tugas Terstruktur, Tugas Mandiri

Pertemuan 7: 🖊️ Ujian Tengah Semester (UTS)
Cakupan:
Materi pertemuan 1–7 (Take Home)
Metode:
Ujian tertulis
Bobot:
UTS (30%)

Pertemuan 8 – 10: Pneumatologi
Pembagian kitab per pertemuan:
8. Markus, Lukas, Kisah Para Rasul
9. Matius, Yohanes, 1–3 Yohanes
10. Wahyu
Pola pembahasan tiap pertemuan:
Pokok-pokok Teologi, Ciri Khas Pneumatologi setiap kitab, Persamaan dan perbedaan/keunikan Pneumatologi setiap kitab — 60 menit
Diskusi para scholar — 20 menit
Diskusi kelas — 20 menit
Metode:
Ceramah, Diskusi, Studi Kasus
Evaluasi:
Tugas: Pertanyaan Pendalaman, Tugas Terstruktur, Tugas Mandiri

Pertemuan 11 – 13: Eskhatologi
Pembagian kitab per pertemuan:
11. Markus, Lukas, Kisah Para Rasul
12. Matius, Yohanes, 1–3 Yohanes
13. Wahyu
Pola pembahasan tiap pertemuan:
Pokok-pokok Teologi, Ciri Khas Eskhatologi setiap kitab, Persamaan dan perbedaan/keunikan Eskhatologi setiap kitab — 60 menit
Diskusi para scholar — 20 menit
Diskusi kelas — 20 menit
Metode:
Ceramah, Diskusi, Studi Kasus
Evaluasi:
Tugas: Pertanyaan Pendalaman, Tugas Terstruktur, Tugas Mandiri

Pertemuan 14: 🖊️ Refleksi, Review, dan Ujian Akhir Semester (UAS)
Cakupan:
Materi pertemuan 8–13 (UAS take home)
Metode:
Diskusi, Studi Kasus, Ujian Tertulis

F. Referensi
  • Alkitab (Perjanjian Baru).
  • Buku-buku Teologi Perjanjian Baru standar yang relevan (disesuaikan oleh dosen pengampu).
  • Sumber tambahan sesuai arahan dosen pengampu.
Silabus ini disusun berdasarkan Buku Panduan Kurikulum Prodi S1 Teologi STT Kalimantan (SK No. 72/STK-SK/2015), mata kuliah DTh-136.202 Teologi Perjanjian Baru 1.

Injil Lukas, Kisah Para Rasul & Analisis Mendalam

STT Kalimantan
S1 Teologi & S1 Pendidikan Agama Kristen

Eksposisi Perjanjian Baru 1

Matius · Markus · Lukas · Yohanes · Kisah Para Rasul
PERTEMUAN 3
Analisis Mendalam – Injil Markus (2/2): Jalan Salib & Kebangkitan

Kembali ke Silabus

✝️ Topik Pertemuan
Jalan Salib dan Pengikutan Yesus: Dari Nubuat Sengsara Menuju Kemuliaan Kebangkitan
Perikop Fokus:
Markus 8:27–10:52 (Nubuat Sengsara & Pengikutan)
Markus 14–16 (Kisah Sengsara & Kebangkitan)

📌 Posisi dalam Kurikulum:

Pertemuan ini melanjutkan Pertemuan 2 (analisis Perumpamaan dan pengajaran tersembunyi) menuju jantung teologi Markus: perjalanan Yesus menuju Yerusalem dan klimaks Injil pada kematian serta kebangkitan-Nya. Mahasiswa diharapkan telah memahami pola Messianic Secret dan fungsi Perumpamaan dari Pertemuan 2 sebagai dasar untuk memahami mengapa jalan salib menjadi kunci penyingkapan penuh identitas Yesus.

I. Kerangka Naratif-Teologis Jalan Salib Markus

Markus 8:27 menandai titik poros (pivot point) struktural seluruh Injil. Sebelumnya, narasi berpusat pada pelayanan Yesus di Galilea yang dipenuhi mukjizat dan pengajaran; sesudahnya, narasi bergerak tegas menuju Yerusalem, salib, dan kebangkitan. Robert Tannehill menyebut pergeseran ini sebagai jantung dari “kristologi naratif” Markus—pemahaman tentang siapa Yesus hanya dapat dicapai melalui perjalanan naratif menuju salib, bukan melalui pernyataan doktrinal semata.1

Jalan (ὁδός) menuju Yerusalem bukan sekadar rute geografis, melainkan metafora sentral pemuridan Kristen dalam Markus

Frank Kermode, dalam kajian sastranya atas Markus, menyoroti bagaimana Injil ini sengaja mempertahankan ambiguitas dan keterbukaan makna hingga akhir narasinya—sebuah “rahasia” yang terus menantang pembaca untuk menafsirkan ulang.2 Ketegangan antara penyingkapan dan penyembunyian yang dikaji pada Pertemuan 2 kini mencapai puncaknya justru di kayu salib.

II. Eksegesis Markus 8:27–10:52 – Nubuat Sengsara & Pengikutan

A. Momen Poros: Pengakuan Petrus & Transfigurasi (8:27–9:13)

Rangkaian peristiwa ini membentuk urutan naratif yang saling menerangi:

1️⃣ Pertanyaan Identitas (8:27–29)
“Kata orang, siapakah Aku ini?” → Petrus menjawab: “Engkau adalah Mesias”
2️⃣ Larangan & Nubuat Pertama (8:30–31)
Yesus melarang murid memberitahukannya (Messianic Secret) sambil langsung mengoreksi pengakuan itu dengan nubuat penderitaan
3️⃣ Teguran Petrus & Balasan Yesus (8:32–33)
Petrus menegur Yesus; Yesus membalas: “Enyahlah Iblis!”—penolakan terhadap konsep Mesias tanpa salib
4️⃣ Transfigurasi (9:2–13)
Kemuliaan Yesus disingkapkan sesaat kepada Petrus, Yakobus, Yohanes; suara Allah menegaskan status Anak—sebuah “jendela kemuliaan” di tengah jalan menuju penderitaan

B. Struktur Triptik Prediksi Penderitaan

Segmen ini diorganisir oleh tiga prediksi penderitaan (Leidensankündigung) dengan pola struktural identik:

Unit 1
Prediksi: 8:31 – Anak Manusia harus menderita, ditolak, dibunuh, bangkit
Respons murid → pengajaran: Petrus menegur Yesus (8:32) → Yesus mengajar tentang memikul salib dan pengikutan (8:34–38)
Unit 2
Prediksi: 9:31 – Anak Manusia diserahkan ke tangan manusia dan dibunuh
Respons murid → pengajaran: Para murid berdebat tentang siapa terbesar (9:34) → Yesus mengajar tentang melayani dan kerendahan hati (9:35–37)
Unit 3
Prediksi: 10:33–34 – Prediksi paling rinci: diserahkan, dihukum mati, diserahkan kepada bangsa-bangsa, diolok, diludahi, dicambuk, dibunuh, dan bangkit
Respons murid → pengajaran: Yakobus dan Yohanes meminta tempat kehormatan (10:35–37) → Yesus mengajar tentang cawan penderitaan dan menjadi hamba semua (10:42–45)

C. Markus 10:45 – Locus Classicus Soteriologi

καὶ γὰρ ὁ υἱὸς τοῦ ἀνθρώπου οὐκ ἦλθεν διακονηθῆναι ἀλλὰ διακονῆσαι καὶ δοῦναι τὴν ψυχὴν αὐτοῦ λύτρον ἀντὶ πολλῶν.
Mrk. 10:45, teks Yunani sumber: SBL Greek New Testament (SBLGNT)

“Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Kata kunci λύτρον ἀντὶ πολλῶν (“tebusan bagi banyak orang”) berlatar belakang konsep pidyon Ibrani (pembebasan budak) dan Yes. 53:10–12 (Ebed YHWH). Ayat ini merupakan pernyataan soteriologis paling eksplisit dalam Markus dan menjadi puncak pengajaran triptik ini.3

D. Markus 10:46–52 – Bartimeus sebagai Inklusi Naratif

Kisah penyembuhan Bartimeus berfungsi sebagai inklusi naratif yang mengerangkai seluruh segmen jalan salib. Di awal (8:22–26), seorang buta disembuhkan bertahap—simbol pemahaman bertahap murid. Di akhir, Bartimeus yang secara fisik buta namun secara spiritual melihat benar, disembuhkan seketika dan mengikuti Yesus “dalam perjalanan” (ἐν τῇ ὁδῷ, 10:52)—jalan menuju salib.

III. Teologi Pengikutan: Harga Memikul Salib
Εἴ τις θέλει ὀπίσω μου ἀκολουθεῖν, ἀπαρνησάσθω ἑαυτὸν καὶ ἀράτω τὸν σταυρὸν αὐτοῦ καὶ ἀκολουθείτω μοι.
Mrk. 8:34, teks Yunani sumber: SBLGNT

“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut Aku.”

Panggilan pengikutan (8:34–38) diucapkan Yesus tepat setelah nubuat sengsara pertama dan teguran-Nya kepada Petrus—menegaskan bahwa jalan murid identik dengan jalan Guru. Kontras terus muncul di sepanjang segmen ini: para murid berulang kali gagal memahami maksud Yesus (kemuliaan versus penderitaan), sebagaimana tampak jelas dalam permintaan Yakobus dan Yohanes untuk duduk di kanan-kiri-Nya dalam kemuliaan (10:35–37), segera setelah nubuat sengsara paling rinci diucapkan.

💡 Catatan Eksegetis: Motif “jalan” (ὁδός, hodos) berulang sepanjang 8:27–10:52 (8:27; 9:33–34; 10:17; 10:32; 10:46; 10:52), berfungsi sebagai bingkai sastra sekaligus metafora teologis: mengikut Yesus berarti berjalan bersama-Nya menuju salib, bukan menuju takhta.

IV. Eksegesis Markus 14–16 – Kisah Sengsara & Kebangkitan

A. Perjamuan Terakhir & Perjanjian Baru (14:12–25)

🍞 Unsur-unsur Perjamuan
Roti dipecah — “Inilah tubuh-Ku” (14:22); cawan dibagikan — “Inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang” (14:24); nubuat pengkhianatan Yudas (14:18–21) disisipkan di tengah perjamuan, menciptakan ketegangan naratif antara persekutuan dan pengkhianatan.

B. Getsemani: Pergumulan Yesus (14:32–42)

🌿 Doa dalam Kesendirian
Yesus berseru, “Abba, ya Bapa-Ku, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki” (14:36). Murid-murid tertidur tiga kali—kontras tajam antara kesungguhan pergumulan Yesus dan kelalaian manusiawi para murid terdekat-Nya.

C. Penangkapan, Pengadilan Sanhedrin & Penyangkalan Petrus (14:43–72)

⚖️ Teknik “Sandwich” Markus (Intercalation)
Markus menyisipkan kisah penyangkalan Petrus (14:66–72) di antara/setelah kisah pengadilan Yesus di hadapan Sanhedrin (14:53–65), sebuah teknik sastra khas Markus yang menempatkan dua narasi berdampingan agar saling menerangi: Yesus mengaku diri-Nya di hadapan pengadilan yang tidak adil, sementara Petrus menyangkal diri-Nya di hadapan seorang pelayan perempuan yang tidak mengancam.4

D. Pengadilan Pilatus & Penyaliban (15:1–41)

👑 Ironi Kerajaan
Sepanjang pasal ini, gelar “Raja orang Yahudi” berulang kali diucapkan secara mengejek (15:2, 9, 12, 18, 26)—namun bagi pembaca Markus, ejekan itu justru adalah kebenaran tertinggi. Tirai Bait Suci terbelah dua saat kematian-Nya (15:38), disusul pengakuan seorang kepala pasukan Romawi:
Ἀληθῶς οὗτος ὁ ἄνθρωπος υἱὸς θεοῦ ἦν.
Mrk. 15:39, teks Yunani sumber: SBLGNT

“Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!”

Pengakuan ini adalah klimaks kristologis Injil Markus: justru diucapkan oleh seorang perwira kafir Romawi di kaki salib, bukan oleh murid Yahudi mana pun—menandai bahwa identitas penuh Yesus sebagai Anak Allah hanya dapat dipahami secara benar melalui salib.

E. Penguburan & Kebangkitan (15:42–16:8)

🕊️ Kubur Kosong & Kesaksian yang Terputus
Yusuf dari Arimatea menguburkan jenazah Yesus (15:42–47); pada hari pertama minggu itu, para perempuan mendapati kubur kosong dan pesan malaikat: “Ia telah bangkit, Ia tidak ada di sini” (ἠγέρθη, οὐκ ἔστιν ὧδε, 16:6). Namun Injil Markus—dalam teks tertua yang kita miliki—berakhir secara tiba-tiba di 16:8 dengan para perempuan lari ketakutan dan tidak mengatakan apa-apa kepada siapa pun.
📖 Catatan Kritik Tekstual: Akhir panjang Markus 16:9–20 (penampakan Yesus, Amanat Agung versi Markus) tidak terdapat dalam manuskrip-manuskrip tertua dan paling terpercaya (Codex Sinaiticus dan Codex Vaticanus abad ke-4), sehingga mayoritas sarjana kritis memandangnya sebagai tambahan gerejawi kemudian, bukan tulisan asli Markus.5 Perdebatan tentang apakah 16:8 memang akhir asli yang disengaja, atau akhir asli yang hilang, tetap menjadi salah satu pertanyaan tekstual paling menarik dalam studi Perjanjian Baru.6

V. Sintesis: Kemuliaan yang Datang Melalui Salib

Rangkaian dari Kaisarea Filipi hingga kubur kosong membentuk satu alur teologis yang koheren:

Pengakuan & Koreksi (8:27–33)
Pengakuan iman yang benar (Mesias) harus dikoreksi oleh pemahaman yang benar tentang jalan-Nya (penderitaan)
Triptik Nubuat & Pengikutan (8:31–10:45)
Setiap kali Yesus menubuatkan penderitaan-Nya, murid-murid salah paham—dan setiap kali itu pula Yesus mengoreksi dengan pengajaran tentang melayani, bukan berkuasa
Sengsara & Kebangkitan (14–16)
Kemuliaan sejati Yesus disingkapkan justru pada titik terendah-Nya—kematian di kayu salib—dan diteguhkan oleh kubur yang kosong, meski kesaksiannya sendiri diakhiri dengan ketakutan manusiawi
Elisabeth Schüssler Fiorenza menekankan bahwa akhir Markus yang terbuka dan tidak tuntas (16:8) secara sengaja mengundang komunitas pembaca—termasuk komunitas yang dianiaya pada masanya—untuk melanjutkan kesaksian yang terputus itu dengan hidup mereka sendiri.7 Teologi salib Markus bukan berhenti pada narasi, tetapi memanggil pembaca untuk turut “berjalan di jalan” itu.

VI. Penugasan

Tugas Terstruktur

1. Analisis Triptik: Bandingkan ketiga prediksi penderitaan (8:31; 9:31; 10:33–34) menggunakan tabel kolom paralel. Identifikasi: (a) elemen yang konsisten, (b) elemen yang berkembang/bertambah rinci, dan (c) pola respons murid pada tiap unit.
2. Garis Waktu Sengsara: Baca Markus 14–16 secara keseluruhan. Susun garis waktu (timeline) kronologis peristiwa Sengsara, mulai dari Perjamuan Terakhir hingga penemuan kubur kosong, lengkap dengan referensi ayat pada tiap peristiwa.

Tugas Mandiri (Pilih Satu dari 10)

Mahasiswa S1 Teologi memilih salah satu dari kelompok A (analisis eksegetis); mahasiswa S1 PAK memilih salah satu dari kelompok B (aplikasi pastoral/pendidikan). Mahasiswa boleh memilih dari kelompok lain apabila berminat.

🎓 KELOMPOK A — UNTUK MAHASISWA TEOLOGI (Berbasis Eksegesis)
A1. Kristologi Markus 15:39: Diskusikan signifikansi teologis pengakuan kepala pasukan Romawi, “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah.” Mengapa Markus menempatkan pengakuan puncak kristologis ini pada bibir seorang kafir, bukan seorang murid Yahudi?
A2. Kritik Tekstual Akhir Markus: Bandingkan bukti manuskrip untuk Markus 16:8 (akhir pendek) dengan 16:9–20 (akhir panjang). Uraikan argumen para sarjana tentang akhir asli Injil Markus, dan posisi Anda beserta alasannya.
A3. Teknik Sandwich Markus: Analisis pola penyisipan narasi pengadilan Yesus (14:53–65) dengan penyangkalan Petrus (14:66–72). Bagaimana teknik sastra intercalation ini memperkuat pesan teologis Markus?
A4. Getsemani & Kristologi Penderitaan: Eksegesis Markus 14:32–42 tentang pergumulan batin Yesus. Diskusikan implikasi doa “Abba, ya Bapa-Ku” ini bagi pemahaman tentang kemanusiaan dan keilahian Kristus.
A5. Motif “Jalan” (ὁδός): Telusuri penggunaan kata ὁδός (hodos, “jalan”) sepanjang Markus 8:27–10:52 sebagai motif sastra-teologis perjalanan murid mengikuti Yesus. Sertakan minimal tiga referensi komentar atau artikel ilmiah.
📗 KELOMPOK B — UNTUK MAHASISWA PAK (Berbasis Aplikasi Pastoral & Pendidikan)
B1. Refleksi Pemuridan: Berdasarkan Markus 8:34–38 tentang memikul salib, rumuskan pemahaman sederhana tentang harga mengikut Kristus untuk pengajaran remaja atau pemuda gereja.
B2. Bahan Ajar Perjamuan Kudus: Susun rancangan pengajaran sederhana untuk katekisasi/sidi tentang makna Perjamuan Terakhir (Markus 14:12–25) sebagai dasar Perjamuan Kudus dalam gereja.
B3. Refleksi Getsemani: Tuliskan refleksi pribadi tentang doa Yesus di Getsemani sebagai teladan doa dalam pergumulan. Bagaimana teladan ini menginspirasi pendampingan pastoral bagi jemaat yang sedang menderita?
B4. Studi Kasus Penyangkalan & Pemulihan: Bandingkan kegagalan Petrus (Markus 14:66–72) dengan pemulihannya kemudian. Rancang garis besar bahan konseling atau pendampingan tentang pemulihan dari kegagalan rohani.
B5. Media Pengajaran Paskah: Buat media pengajaran sederhana (poster, infografis, atau alat peraga) tentang kisah kebangkitan (Markus 16:1–8) untuk pengajaran PAK anak menjelang Paskah, disertai penjelasan singkat cara penggunaannya.

VII. Pertanyaan Diskusi Kelas
1.Mengapa Markus memilih mengakhiri Injilnya secara tiba-tiba di 16:8 dengan rasa takut para perempuan, alih-alih kisah penampakan Yesus yang bangkit? Apa efek naratif dan teologis dari akhir yang terbuka ini?
2.Bagaimana Anda memahami paradoks “kekuatan dalam kelemahan” yang tampak dalam kematian Yesus di kayu salib?
3.Mengapa justru seorang perwira Romawi—bukan murid Yahudi—yang pertama kali mengakui “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah” (15:39)? Apa maknanya bagi misi Injil kepada segala bangsa?
4.Apa relevansi teologi jalan salib Markus bagi jemaat yang mengalami penganiayaan atau kesulitan hidup di konteks Indonesia masa kini?

📚 Catatan Kaki

1 Robert C. Tannehill, “The Gospel of Mark as Narrative Christology,” Semeia 16 (1979): 57–95.

2 Frank Kermode, The Genesis of Secrecy: On the Interpretation of Narrative (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1979), 64–84.

3 Joel Marcus, Mark 8–16: A New Translation with Introduction and Commentary, Anchor Bible 27A (New Haven: Yale University Press, 2009), 749–65.

4 James R. Edwards, “Markan Sandwiches: The Significance of Interpolations in Markan Narratives,” Novum Testamentum 31 (1989): 193–216.

5 Bruce M. Metzger, A Textual Commentary on the Greek New Testament, 2nd ed. (Stuttgart: Deutsche Bibelgesellschaft, 1994), 102–7.

6 N. T. Wright, The Resurrection of the Son of God (Minneapolis: Fortress Press, 2003), 616–24.

7 Elisabeth Schüssler Fiorenza, “The Gospel of Mark as Ecclesiological Paradigm,” dalam Discipleship in the New Testament, ed. Fernando F. Segovia (Philadelphia: Fortress Press, 1985), 55–77.

STT Kalimantan · EKS-2101 Eksposisi Perjanjian Baru 1 · Pertemuan 3

Participle Lanjutan: Konstruksi Kompleks dan Analisis Sintaksis

MINGGU 15

Participle Lanjutan: Konstruksi Kompleks dan Analisis Sintaksis

← Kembali ke Silabus

Pendahuluan Minggu 15: Mastering Participle Usage

Minggu ini adalah eksplorasi mendalam tentang penggunaan advanced Participle dalam Bahasa Yunani Koinē, khususnya dalam konteks Perjanjian Baru. Kami akan mempelajari konstruksi kompleks, fenomena absolut nominatif, dan berbagai hubungan sintaksis yang Participle ekspresikan dalam teks yang lebih rumit.

I. Attributive Participle: Penggunaan sebagai Adjektiva

Attributive Participle adalah penggunaan paling sederhana, di mana Participle berfungsi murni sebagai adjektiva untuk memodifikasi nomina. Bentuk ini mengikuti pola adjektiva biasa: nomina dengan artikel diikuti Participle dengan artikel, atau sebaliknya.

Pola Attributive Participle:

ὁ λύων τὸν ἄνθρωπον = “dia yang melepaskan manusia” (satu kesatuan adjektival)
λύων τὸν ἄνθρωπον = Tanpa artikel, berfungsi sebagai keterangan tambahan (less restrictive)

Contoh Attributive Participle dalam PB:

Ayat & Teks Analisis & Terjemahan
Yohanes 1:29: ὁ αἶρον τὰς ἁμαρτίας Attributive aoriste: “dia yang mengangkat (pernah mengangkat) dosa-dosa” — Kristus dipanggil “Anak Domba Allah”
Efesus 2:8: τῷ πιστεύοντι Attributive present: “dia yang percaya” atau “orang yang percaya” — nomina substantive
1 Korintus 15:57: ὁ δίδους ἡμῖν τὸ νῖκος Attributive present: “dia yang memberikan kita kemenangan” — Allah sebagai pemberi kemenangan

II. Predicative Participle: Keterangan Kondisi dan Waktu

Predicative Participle tidak memiliki artikel dan berfungsi sebagai keterangan (adverbial) yang menunjukkan hubungan temporal, kausal, kondisional, atau konsesif dengan verba utama. Ini adalah penggunaan paling kompleks dan paling penting dalam analisis eksegesis.

Hubungan Sintaksis Predicative Participle:

Hubungan Deskripsi Contoh PB
Temporal Participle aorist = aksi mendahului verba utama; Present = simultan ἀκούσας εἶπεν (“Setelah mendengar, dia berkata”)
Causal Participle menyatakan alasan atau penyebab dari verba utama φοβηθεὶς ἀπῆλθεν (“Karena takut, dia pergi”)
Conditional Participle menyatakan kondisi (sering dengan implikasi “jika”) μὴ ἐχόντες ἅ δῶμεν (“Jika kami tidak memiliki apa yang beri”)
Concessive Participle menyatakan konsesi (“meskipun”, “walaupun”) ὄντες ἀσθενεῖς ἐσώθησαν (“Meskipun lemah, mereka diselamatkan”)
Manner Participle menyatakan cara atau modalitas tindakan λαλῶν τῇ καρδίᾳ (“Berbicara dalam hati”, cara berkomunikasi)

III. Nominative Absolute (Periphrastic Construction)

Nominative Absolute (atau Genitive Absolute) adalah konstruksi di mana Participle dengan nominatif atau genitif berdiri secara “absolut” (independen) dalam kalimat, tidak terikat secara gramatikal ke subjek utama. Konstruksi ini sangat umum dalam bahasa Yunani untuk mengekspresikan latar belakang atau konteks dari aksi utama.

Genitive Absolute (Paling Umum):

Pola: Nomina/Pronomen (Genitif) + Participle (Genitif)
Contoh: ἐγενόμενος ἀργῦρος σείσθαι τὴν γῆν
(“Ketika gempa terjadi, bumi berguncang”)

Fungsi: Menetapkan waktu, kondisi, atau latar belakang untuk verba utama. Subjek dalam Genitive Absolute BERBEDA dari subjek utama.

Contoh Genitive Absolute dalam PB:

Ayat & Teks Analisis & Terjemahan
Markus 5:2: ἐξελθόντος αὐτοῦ Genitive Absolute aorist: “Ketika dia keluar” (dari perahu). Temporal, latar belakang untuk aksi berikutnya.
Lukas 9:34: ἐπεσκίαζεν αὐτοὺς ἐφόβηθησαν Genitive Absolute: “Ketika awan menaungi mereka, mereka takut.” Latar belakang untuk ketakutan.
1 Tesalonika 4:15: ἡμῖς οἱ ζῶντες περιλειπόμενοι Nominative participle: “Kami yang hidup dan tersisa” (Nominative karena subjek sama dengan verba utama)

IV. Periphrastic Construction dengan Participle

Periphrastic Construction adalah penggunaan Participle bersama dengan verba (biasanya εἰμί atau verba gerak lainnya) untuk mengekspresikan aksi atau keadaan. Konstruksi ini lebih emfatik atau deskriptif daripada bentuk sederhana.

Pola Periphrastic:

εἰμί + Participle = Ekspresi keadaan atau kondisi berkelanjutan
Contoh: ἐν τῇ ὁδῷ ἦν (dia sedang dalam perjalanan) vs ἐν τῇ ὁδῷ ἦν δῦναι (dia sedang dalam perjalanan)

Contoh Periphrastic dalam PB:

Ayat & Teks Analisis & Terjemahan
Yohanes 1:28: ἦν γινόμενα Periphrastic: “ini sedang terjadi” (ἦν + participle present) — menekankan keberlangsungan
Lukas 15:20: ἦν ἔτι ἀπέχων Periphrastic: “dia masih berada jauh” (ἦν + participle present) — keadaan berkelanjutan
Kisah 27:9: ἦν χρόνος πολὺς παραλελυμένος Periphrastic perfect: “sudah berlalu waktu yang lama” — hasil yang bertahan

📖 Ayat Bacaan Yunani Koine

Nomor Referensi Ayat & Teks
1 Efesus 5:18-19
Πληροῦσθε ἐν πνεύματι, λαλοῦντες ἑαυτοῖς ψαλμοῖς καὶ ὕμνοις καὶ ᾠδαῖς πνευματικαῖς, ᾄδοντες καὶ ψάλλοντες τῇ καρδίᾳ ὑμῶν τῷ κυρίῳ·
“Penuhilah diri dengan Roh, sambil membicarakan satu sama lain dengan mazmur dan nyanyian pujian dan lagu rohani, menyanyikan dan bernyanyi dalam hati kepada Tuhan;”
2 Kolose 3:16
Ὁ λόγος τοῦ Χριστοῦ ἐνοικείτω ἐν ὑμῖν πλουσίως ἐν πάσῃ σοφίᾳ, διδάσκοντες καὶ νουθετοῦντες ἀλλήλους ψαλμοῖς, ὕμνοις, ᾠδαῖς πνευματικαῖς, ἐν τῇ χάριτι ᾄδοντες ἐν ταῖς καρδίαις ὑμῶν τῷ θεῷ.
“Hendaklah firman Kristus diam dalam kalian dengan berlimpah, sambil mengajar dan menasihati seorang akan yang lain dengan mazmur, nyanyian pujian dan lagu rohani, bernyanyi dalam hati kepada Allah dengan penuh anugerah.”

📝 Instruksi Tugas Membaca & Analisis Final

Setiap minggu mahasiswa wajib:

  1. Menulis teks Yunani dengan tangan (dikumpulkan Selasa minggu berikutnya)
  2. Membaca kedua ayat dalam bahasa Yunani dengan akurasi Restored Koinē
  3. Mengirim bacaan audio melalui WhatsApp (Japri) setiap Selasa
  4. Analisis Participle Lanjutan:
    • Identifikasi semua Participle dalam kedua ayat (attributive, predicative, substantival)
    • Untuk setiap Participle: tentukan tense, gender, number, case, dan fungsi sintaksis
    • Analisis hubungan temporal, kausal, atau kondisional dengan verba utama
    • Jelaskan kontribusi teologis dari penggunaan Participle dalam konteks masing-masing ayat
    • Persiapan UAS: Praktikkan analisis holistik dari kompleksitas teks Perjanjian Baru

🎯 Persiapan Final Menjelang UAS (Minggu 16)

Minggu 15 adalah minggu terakhir sebelum UAS Take-Home. Mahasiswa harus menguasai:

  • Semua deklinasi: I, II, III dengan variasi regularnya
  • Semua bentuk verba: Present, Future, Aorist, Perfect, Imperfect di semua mood
  • Mood verba: Indicative, Imperative, Subjunctive, Optative (jarang)
  • Bentuk non-finite: Infinitive, Participle (semua penggunaan), Gerundive
  • Sintaksis lanjutan: Genitive absolute, participle relationships, subjunctive clauses
  • Analisis teks autentik: Praktik langsung pada teks Perjanjian Baru yang kompleks

Silabus Gramatika Dasar Bahasa Yunani Koine 1

Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Oleh: Pdt. D. Horatius Herman, M.Th.

← Kembali ke Silabus

Optative, Infinitive, dan Participle: Bentuk Non-Finite Verba

MINGGU 14

Optative, Infinitive, dan Participle: Bentuk Non-Finite Verba

← Kembali ke Silabus

Pendahuluan Minggu 14

Minggu ini kami mempelajari bentuk-bentuk verba yang tidak memiliki person dan number yang spesifik (non-finite forms): Optative, Infinitive, dan Participle. Bentuk-bentuk ini sangat penting dalam Bahasa Yunani dan sangat umum dalam teks Perjanjian Baru.

I. The Optative Mood: Ungkapan Keinginan dan Harapan

Optative adalah mood yang paling jarang digunakan dalam Perjanjian Baru dibandingkan mood lainnya, tetapi masih signifikan secara teologis. Optative mengekspresikan keinginan, harapan, atau kemungkinan yang lebih mengambang daripada Subjunctive.

Fungsi Utama Optative:

  • Ungkapan Doa/Harapan: Mengekspresikan doa atau harapan yang tulus. Contoh: εἴθε γίνοιτο (“seandainya terjadi!”)
  • Kemungkinan Hipotetis: Dalam kondisi kontrafaktual atau tidak mungkin terjadi
  • Polite Request: Permohonan dengan nada yang sangat sopan dan formal
  • Dalam Oratio Obliqua: Dalam kalimat tidak langsung, sebagai ganti dari Subjunctive atau Indicative

Contoh Optative dalam PB:

1 Tesalonika 5:23: Αὐτὸς δὲ ὁ θεὸς τῆς εἰρήνης ἁγιάσαι ὑμᾶς ὁλοτελεῖς
“Semoga Allah damai sejahtera itu sendiri menguduskan kamu seluruhnya…”
(Doa untuk pengudussan jemaat)

Roma 7:24: Ταλαίπωρος ἐγὼ ἄνθρωπος· τίς με ῥύσεται;
“Saya ini manusia yang menderita. Siapakah yang akan membebaskan saya?”
(Ekspresi keputusasaan dan harapan akan pembebasan)

II. The Infinitive: Bentuk Nomina Verba

Infinitive adalah bentuk verbal yang berfungsi sebagai nomina dan dapat bertindak sebagai subjek, objek, atau pelengkap dalam kalimat. Infinitive sangat umum dalam Bahasa Yunani Koinē dan memiliki peran yang kompleks dalam sintaksis.

Fungsi Utama Infinitive:

Fungsi Deskripsi Contoh PB
Nomina Subjek Infinitive sebagai subjek utama kalimat τὸ δοῦναι μακάριόν ἐστιν (“Memberi adalah lebih berkat”)
Nomina Objek Infinitive sebagai objek dari verba tertentu δύναται σωθῆναι (“dapat diselamatkan”)
Purposive Mengekspresikan tujuan atau niat ἦλθον σῶσαι (“datang untuk menyelamatkan”)
Hasil/Akibat Mengekspresikan hasil atau konsekuensi dari tindakan τοσοῦτος ὥστε ἰδεῖν (“sedemikian rupa sehingga melihat”)
Temporal Mengekspresikan waktu (dengan preposisi seperti πρὶν) πρὶν ἐλθεῖν (“sebelum datang”)

Pola Dasar Infinitive:

Verba Inf. Present Inf. Aorist Makna
λύω λύειν λῦσαι melepaskan
πιστεύω πιστεύειν πιστεῦσαι percaya
γίνομαι γίνεσθαι γενέσθαι menjadi

III. The Participle: Adjektiva Verbal

Participle adalah bentuk verbal yang berfungsi sebagai adjektiva dan dapat mengambil obyek langsung seperti verba. Participle adalah bentuk verbal yang paling kompleks dan paling sering dalam Bahasa Yunani, terutama dalam Perjanjian Baru.

Fungsi Utama Participle:

  • Attributive Use: Sebagai adjektiva murni yang memodifikasi nomina (dengan artikel)
  • Predicative Use: Sebagai pelengkap (tanpa artikel), biasanya mengikuti verba kopulatif
  • Adverbial Use: Sebagai keterangan yang menunjukkan hubungan temporal, kausal, atau kondisional dengan verba utama
  • Substantival Use: Sebagai nomina (dengan artikel), merepresentasikan kelompok orang atau hal

Pola Dasar Participle (Deklinasi Adjektiva):

Participle mengikuti pola deklinasi adjektiva (pertama dan ketiga deklensi untuk maskulin/netrum, pertama untuk feminin).

Contoh: λύων (melepaskan, maskulin sg) → λύοντα (obyek), λύοντος (genitif), dll.

Tense dalam Participle dan Makna Aspektualnya:

Tense Aspek & Makna Contoh
Present Imperfektif: aksi sedang berlangsung atau berulang λύων = melepaskan (sedang)
Aorist Perfektif: aksi sebagai satu unit atau selesai λύσας = melepaskan (sudah selesai)
Perfect Resultatif: aksi selesai dengan hasil yang bertahan λελυκώς = telah melepaskan

📖 Ayat Bacaan Yunani Koine

Nomor Referensi Ayat & Teks
1 Roma 15:13
Ὁ δὲ θεὸς τῆς ἐλπίδος πληρώσαι ὑμᾶς πάσης χαρᾶς καὶ εἰρήνης ἐν τῷ πιστεύειν, ἵνα περισσεύητε ἐν τῇ ἐλπίδι ἐν δυνάμει πνεύματος ἁγίου.
“Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kalian dengan segala kegembiraan dan damai sejahtera dalam beriman, supaya kalian berlimpah dalam pengharapan oleh kuasa Roh Kudus.”
2 Filipi 1:21
Ἐμοὶ γὰρ τὸ ζῆν Χριστὸς καὶ τὸ ἀποθνῄσκειν κέρδος.
“Sebab bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.”

📝 Instruksi Tugas Membaca & Analisis

Setiap minggu mahasiswa wajib:

  1. Menulis teks Yunani dengan tangan (dikumpulkan Selasa minggu berikutnya)
  2. Membaca kedua ayat dalam bahasa Yunani dengan akurasi Restored Koinē
  3. Mengirim bacaan audio melalui WhatsApp (Japri) setiap Selasa
  4. Analisis Infinitive & Participle:
    • Identifikasi semua Infinitive dan Participle dalam kedua ayat
    • Tentukan fungsi setiap bentuk (purposive, nomina, attributive, predicative, adverbial)
    • Analisis hubungan sintaksis dengan verba utama atau nomina yang dimodifikasi
    • Jelaskan makna teologis dari masing-masing bentuk non-finite

Silabus Gramatika Dasar Bahasa Yunani Koine 1

Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Oleh: Pdt. D. Horatius Herman, M.Th.

← Kembali ke Silabus

XPB1 – Silabus


STT Kalimantan

S1 Teologi & S1 Pendidikan Agama Kristen

Eksposisi Perjanjian Baru 1

Matius · Markus · Lukas · Yohanes · Kisah Para Rasul

I. Identitas Mata Kuliah

Program Studi:
S1 Teologi & S1 Pendidikan Agama Kristen

Kode Mata Kuliah:
DAl-125.408 dan DAl-225.408

Semester:
V (lima)

Mata Kuliah Prasyarat:
Pembimbing Pengetahuan PB 1 (DAl-121.401 dan DAl-221.401)

Dosen Pengampu:
Pdt. Daniel H. Herman, M.Th.

Kredit:
3 SKS

Jumlah Pertemuan:
14 (UTS & UAS Take Home, tanpa pertemuan tatap muka)

Durasi:
Tatap muka 14×150 menit
Tugas terstruktur 14×180 menit
Tugas mandiri 14×180 menit
UTS Take Home (1 Minggu)
UAS Take Home (1 Minggu)

Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) yang Dibebankan

Mata kuliah ini mendukung pencapaian CPL Program Studi berikut (sesuaikan kode CPL dengan dokumen kurikulum prodi):

  • CPL Sikap — Menunjukkan sikap bertanggung jawab dan berintegritas dalam menafsirkan dan mengajarkan Firman Tuhan
  • CPL Pengetahuan — Menguasai konsep teoretis hermeneutika dan latar belakang historis-teologis Perjanjian Baru
  • CPL Keterampilan Umum — Mampu menyusun kajian eksegetis secara sistematis dan terdokumentasi
  • CPL Keterampilan Khusus — Mampu mengeksposisi teks Injil dan Kisah Para Rasul untuk keperluan pengajaran dan pelayanan gerejawi

Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK)

Setelah menyelesaikan mata kuliah ini, mahasiswa diharapkan mampu:

  • CPMK 1 — Memahami sejarah penulisan, penulis, dan konteks budaya-historis setiap Injil dan Kisah Para Rasul
  • CPMK 2 — Menganalisis struktur, tema utama, dan pesan teologis serta kristologis masing-masing kitab
  • CPMK 3 — Menerapkan metode hermeneutika dan eksegesis untuk analisis teks Injil dan Kisah Para Rasul
  • CPMK 4 — Mengintegrasikan pemahaman Injil dalam konteks pengajaran dan pelayanan gereja
  • CPMK 5 — Mengkomunikasikan pesan Kristus dan kabar baik secara efektif kepada berbagai audiens

RENCANA PERTEMUAN — DISUSUN PER KITAB

Pertemuan1Pengantar & Injil Markus (60–61 M)

🔗 Buka Materi Pertemuan 1

📌 Topik

Pengenalan Eksposisi Injil dan Markus sebagai Injil Pertama yang Ditulis

Subtopik

  • Pengantar mata kuliah: pendekatan krono-teologis dan metodologi eksposisi Injil
  • Markus sebagai Injil tertua (60–61 M); penulis Markus (Yohanes Markus), latar belakang, lokasi penulisan (Roma)
  • Karakteristik Markus: narasi cepat (euthys), Messianic Secret, Yesus sebagai Anak Manusia yang menderita
  • Struktur Markus: Baptisan (1:9), Pelayanan di Galilea (1:14–8:26), Pengakuan Petrus (8:27–13:37), Sengsara-Kebangkitan (14–16)
  • Tema Utama: “Siapakah Yesus?” — Identitas Kristus, Messianic Secret, Jalan Salib, Kebangkitan

🕐 Tatap Muka (150 menit)

  • 20 mnt — Urutan kronologis Injil dan mengapa Markus ditulis lebih awal
  • 50 mnt — Analisis tekstual Markus 1:1–13
  • 50 mnt — Analisis tekstual Markus 8:27–9:1
  • 30 mnt — Diskusi karakteristik unik Markus & Messianic Secret

📝 Tugas Terstruktur

  • Membaca keseluruhan Markus, buat outline struktural 16 pasal
  • Identifikasi 5 perikop utama Messianic Secret

💡 Tugas Mandiri (Pilih 1)

  • Riset latar belakang Yohanes Markus, Petrus, konteks penulisan di Roma
  • Analisis tema Messianic Secret di seluruh Markus

Pertemuan2Analisis Mendalam Markus (1/2) — Perumpamaan & Pengajaran

🔗 Buka Materi Pertemuan 2

Fokus

Messianic Secret dan Pengajaran melalui Perumpamaan

Eksegesis Mendalam

  • Markus 4:1–34 — Perumpamaan Penabur dan Penjelasannya
  • Markus 4:35–5:43 — Mukjizat sebagai penyingkap identitas Yesus

Tema

Mengapa Yesus mengajar dalam Perumpamaan? Siapa yang mengerti dan siapa yang tidak?

Pertemuan3Analisis Mendalam Markus (2/2) — Jalan Salib

🔗 Buka Materi Pertemuan 3

Fokus

Jalan Salib dan Pengikutan Yesus

Eksegesis Mendalam

  • Markus 8:27–10:52 — Tiga nubuat sengsara dan pengajaran tentang pengikutan (75 menit)
  • Markus 14–16 — Kisah Sengsara dan Kebangkitan (75 menit)

Tema

Makna mengikut Kristus melalui jalan salib; kontras murid yang gagal mengerti dengan panggilan pengikutan sejati

Pertemuan4Pengantar Lukas (62–63 M) & Kisah Para Rasul (62–63 M)

🔗 Buka Materi Pertemuan 4

📌 Topik

Lukas-Kisah Para Rasul sebagai Satu Karya Dua Jilid: dari Injil untuk Kaum Marginal hingga Kelahiran Gereja

Subtopik — Injil Lukas

  • Lukas Dokter: penulis historis dengan pendekatan akademis; konteks Gereja Gentil
  • Tema Unik: Perempuan, Kaum Miskin, Roh Kudus, Keselamatan Universal
  • Struktur Perjalanan: Yesus menuju Yerusalem (9:51–18:35)

Subtopik — Kisah Para Rasul

  • Kisah Para Rasul sebagai Vol. II dari Lukas; sejarah Gereja Perdana hingga Paulus di Roma
  • Struktur: Gereja di Yerusalem (1–7), Transisi ke Gentil (8–12), Paulus & Misi Gentil (13–28)
  • Tema Utama: Roh Kudus Pemandu, penyebaran Kabar Baik dari Yerusalem ke Roma

🕐 Tatap Muka (150 menit)

  • 20 mnt — Konteks historis Lukas Dokter & tujuan teologis Lukas-Kisah sebagai satu narasi
  • 50 mnt — Eksegesis Lukas 1:1–4 & 4:16–30
  • 50 mnt — Eksegesis Kisah 1:1–11 (Kenaikan) & 2:1–13 (Pentakosta)
  • 30 mnt — Diskusi kesinambungan Lukas-Kisah

📝 Tugas Terstruktur

  • Identifikasi cerita Yesus yang hanya ada di Lukas
  • Pemetaan garis besar struktur Kisah Para Rasul (1–28)

💡 Tugas Mandiri (Pilih 1)

  • Bagaimana Lukas memakai materi Markus & menambahkan materi unik?
  • Mengapa Lukas menulis dua jilid (Injil dan Kisah) sebagai satu narasi berkelanjutan?

Pertemuan5Analisis Mendalam — Injil Lukas

🔗 Buka Materi Pertemuan 5

Fokus

Perumpamaan Keselamatan dan Perjalanan Yesus menuju Yerusalem

Eksegesis Mendalam

  • Lukas 15 — Tiga Perumpamaan Keselamatan (Domba Hilang, Dirham Hilang, Anak Hilang) (75 menit)
  • Lukas 19:1–10 — Zakheus; Lukas 24 — Perjalanan ke Emaus & Kebangkitan (75 menit)

Tema

Bagaimana Lukas menampilkan Yesus sebagai pencari dan penebus kaum yang terhilang dan tersisih

Pertemuan6Analisis Mendalam Kisah Para Rasul (1/2) — Petrus & Gereja Mula-mula

🔗 Buka Materi Pertemuan 6

Fokus

Kelahiran Gereja dan Transisi dari Yerusalem ke Misi Gentil

Eksegesis Mendalam

  • Kisah 1:1-2:1–47 — Pentakosta dan Komunitas Iman (75 menit)
  • Kisah 10:1–48 — Petrus dan Kornelius; Kisah 15:1–29 — Konsili Yerusalem (75 menit)

Tema

Peran Petrus sebagai pemimpin transisi gereja Yahudi menuju keterbukaan bagi Gentil

Pertemuan7Analisis Mendalam Kisah Para Rasul (2/2) — Paulus & Misi Gentil

🔗 Buka Materi Pertemuan 7

Fokus

Perjalanan Misi Paulus hingga Tiba di Roma

Eksegesis Mendalam

  • Kisah 13–14 — Perjalanan Misi Pertama Paulus (75 menit)
  • Kisah 19:23–28 — Kerusuhan di Efesus; Kisah 27–28 — Pelayaran & Paulus di Roma (75 menit)

Tema

Ketahanan Paulus dalam penganiayaan dan penyebaran Injil sampai ke pusat kekaisaran Roma

EvaluasiUjian Tengah Semester (UTS) — Take Home

Evaluasi komprehensif pemahaman tentang Markus, Lukas, dan Kisah Para Rasul (Pertemuan 1–7). Dikerjakan mandiri di luar jam tatap muka.

📋 Format Ujian

  • Soal esai take home: analisis tekstual, perbandingan kronologi, implikasi teologis
  • Dikumpulkan sesuai tenggat yang ditentukan dosen

Pertemuan8Injil Matius (65–80 M)

🔗 Buka Materi Pertemuan 8

📌 Topik

Matius: Yesus sebagai Mesias Raja dan Pemenuhan Perjanjian Lama

Subtopik

  • Penulis Matius (Levi), konteks Gereja Mata Yahudi; tujuan menunjukkan Yesus sebagai Mesias
  • Struktur unik: Lima Khotbah Besar (Bukit 5–7, Misi 10, Perumpamaan 13, Komunitas 18, Eskatologis 24–25)
  • Tema: Mesias Raja, Pemenuhan PL, Kingdom of Heaven, Gereja
  • Amanat Agung (28:16–20) sebagai puncak teologis

🕐 Tatap Muka (150 menit)

  • 15 mnt — Konteks gereja Mata Yahudi & tujuan pemenuhan (Sitz im Leben Pembaca Asli)
  • 30 mnt — Eksegesis Matius 1:1–18
  • 30 mnt — Eksegesis Matius 3:1–12
  • 30 mnt — Eksegesis Matius: Kerajaan Sorga (pilihan: 5:17–20; 5:27-28; 5:31-32; 5:43-48, 6:9-13; 7:15-23)
  • 30 mnt — Eksegesis Matius 28:16–20
  • 15 mnt — Perbandingan Matius dengan Markus & Lukas

📝 Tugas Terstruktur

  • Outline lima Khotbah Besar
  • Identifikasi Formula Penggenapan

💡 Tugas Mandiri (Pilih 1)

  • Studi 10 contoh “Formula Penggenapan”
  • Refleksi relevansi Khotbah di Bukit

Pertemuan9Analisis Mendalam Matius (1/2) — Perumpamaan & Kerajaan Surga

🔗 Buka Materi Pertemuan 9

Fokus

Khotbah dalam Perumpamaan: Makna Berdasarkan, Sitz im Leben Peristiwa, dan Sitz im Buch, Implikasi bagi orang percaya masa kini berdasarkan Sitz im Leben Pembaca Asli.

Eksegesis Mendalam

  • Eksegesis Matius 13 — Tujuh Perumpamaan Kerajaan Surga (75 menit)
  • Eksegesis Matius 18 — Khotbah Komunitas: pengampunan dan disiplin gereja (75 menit)

Tema

Sifat tersembunyi dan bertumbuh dari Kerajaan Surga; kehidupan komunitas murid

Pertemuan10Analisis Mendalam Matius (2/2) — Eskatologi & Amanat Agung

🔗 Buka Materi Pertemuan 10

Fokus

Khotbah Eskatologis dan Kisah Sengsara-Kebangkitan

Eksegesis Mendalam

  • Eksegesis Matius 23-25 — Dua Tanggapan Israel yang Berdampak Kekal
  • Matius 26–28 — Sengsara, Kebangkitan, dan Misi yang Berdampak Kekal

Tema

Tanggapan dan Panggilan Misi yang Berdampak Kekal

Pertemuan11Injil Yohanes (80–90 M) — Injil Teologis Terbaru

🔗 Buka Materi Pertemuan 11

📌 Topik

“Injil Rohani” dengan Kristologi Tertinggi dan Refleksi Teologis Mendalam

Subtopik

  • Penulis Yohanes (Anak Zebedeus atau pengikutnya), Komunitas Yohannine, konflik dengan Sinagog
  • Perbedaan dari Sinoptik: tidak ada Perjamuan Malam seperti Sinoptik, tidak ada Khotbah di Bukit, Tanda-tanda (Semeya)
  • Struktur: Prolog Teologis (1:1–18), Tanda-tanda (2–11), Wacana Panjang (13–17), Sengsara-Kebangkitan (18–21)
  • Tema: Yesus sebagai Logos, Anak Allah, Cahaya Dunia, tujuh Ego Eimi

🕐 Tatap Muka (150 menit)

  • 30 mnt — Konteks Komunitas Yohannine & konflik dengan Sinagog
  • 50 mnt — Eksegesis Yohanes 1:1–18 (Prolog/Logos)
  • 50 mnt — Eksegesis Yohanes Perkawinan di Kana (2:1–11)
  • 20 mnt — Perbedaan struktur Yohanes dari Injil Sinoptik

📝 Tugas Terstruktur

  • Identifikasi 7 “I Am” Sayings dan lokasinya dalam teks
  • Bandingkan struktur Yohanes dengan struktur Injil Sinoptik

💡 Tugas Mandiri (Pilih 1)

  • Riset Komunitas Yohannine dan konteks konfliknya dengan Sinagog
  • Refleksi Yohanes 1:1 tentang Inkarnasi (“Firman menjadi daging”)

Pertemuan12Analisis Mendalam Yohanes (1/3) — Tanda-tanda & “I Am” Sayings

🔗 Buka Materi Pertemuan 12

Fokus

Tujuh σημεία (Sēmeia) dan Tujuh Pernyataan ἐγω ἐιμι (Egō Eimi)

Eksegesis Mendalam

  • Yohanes 6 — Pemberian Makan 5000 & Wacana Roti Hidup
  • Yohanes 9 — Penyembuhan Orang Buta & “Aku adalah Terang Dunia”

Tema

Tanda-tanda sebagai penyingkap identitas ilahi Yesus dan undangan untuk percaya

Pertemuan13Analisis Mendalam Yohanes (2/3) — Wacana Perpisahan & Doa Imam Agung

🔗 Buka Materi Pertemuan 13

Fokus

Wacana Perpisahan dan Doa Yesus bagi Murid-Nya

Eksegesis Mendalam

  • Yohanes 13–16 — Pembasuhan Kaki, Janji Penghibur (Roh Kudus), Pokok Anggur Sejati
  • Yohanes 17 — Doa Imam Agung: kesatuan murid dan Gereja

Tema

Kasih, kesatuan, dan pengutusan murid sebagai persiapan menghadapi salib

Pertemuan14Analisis Mendalam Yohanes (3/3) — Salib & Kebangkitan

🔗 Buka Materi Pertemuan 14

Fokus

Signifikansi Kristologis Salib dan Kebangkitan dalam Yohanes

Eksegesis Mendalam

  • Yohanes 18–19 — Pengadilan dan Kematian Yesus; Salib sebagai “Pengangkatan/Kemuliaan”
  • Yohanes 20–21 — Kebangkitan, Penampakan, dan Pemulihan Petrus

Tema

Salib sebagai puncak kemuliaan (bukan hanya penderitaan) dalam teologi Yohanes

EvaluasiUjian Akhir Semester (UAS) — Take Home & Proyek Akhir

📝 Ujian Komprehensif — Take Home

Makna Teks Pilihan Matius dan Yohanes, aplikasi teologis. Dikerjakan mandiri di luar jam tatap muka.

Penilaian

Standar nilai kelulusan Kemenag RI: minimal B / nilai angka 74,00

Skala Nilai

A91,00 – 100
Luar Biasa Baik

Lulus

AB81,00 – 90,99
Sangat Baik

Lulus

B74,00 – 80,99
Baik

Lulus (Min)

BC68,00 – 73,99
Cukup Baik

Tidak Lulus

C60,00 – 67,99
Cukup

Tidak Lulus

CD51,00 – 59,99
Kurang Cukup

Tidak Lulus

D41,00 – 50,99
Kurang

Tidak Lulus

E< 41,00
Tidak Lulus / Gagal

Tidak Lulus

Komponen Penilaian

🔹 20% Partisipasi & Kehadiran

🔹 40% Tugas Eksegesis & Studi Injil

🔹 20% UTS (Take Home)

🔹 20% UAS (Take Home)

Indikator/Rubrik Penilaian

  • Partisipasi & Kehadiran — keaktifan diskusi, kehadiran, kontribusi dalam kelas
  • Tugas Terstruktur & Mandiri — ketepatan metode eksegesis, kedalaman analisis tekstual, kesesuaian dengan panduan enam langkah eksegesis
  • UTS (Take Home) & UAS (Take Home) — ketepatan jawaban, kedalaman analisis, kejelasan argumentasi teologis

Catatan Penting

Kehadiran minimal 75% (12 dari 14 pertemuan tatap muka). Keterlambatan >15 menit dianggap tidak hadir.

Panduan Eksposisi: Sitz im Leben Pembaca Asli → Sitz im Leben Peristiwa → Sitz im Buch → Interpretasi → Aplikasi → Dokumentasi (format Turabian).

KEPUSTAKAAN

Wajib

Anjuran

Kontak & Konsultasi Dosen

WhatsApp: 0896-7244-5103

Jam Konsultasi: 10.00-20.00 WIB

STT Kalimantan

XPB1 – Analisis Mendalam Markus

STT Kalimantan
S1 Teologi & S1 Pendidikan Agama Kristen

Eksposisi Perjanjian Baru 1

Matius · Markus · Lukas · Yohanes · Kisah Para Rasul
PERTEMUAN 2
Analisis Mendalam – Injil Markus (60–61 M)

Kembali ke Silabus

📖 Topik Pertemuan
Messianic Secret dan Pengajaran melalui Perumpamaan: Hermeneutika Tersembunyi Markus
Perikop Fokus:
Markus 4:1–34 (Perumpamaan Penabur)
Markus 8:27–10:52 (Jalan Salib)

📌 Posisi dalam Kurikulum:

Pertemuan ini merupakan babak analisis mendalam (in-depth analysis). Mahasiswa diharapkan telah memiliki pemahaman dasar tentang struktur dan karakteristik Markus dari Pertemuan 1, dan kini bergerak menuju analisis tingkat lanjut terhadap dua perikop paling kompleks dalam Injil ini.

I. Kerangka Hermeneutis: Dua Lapisan Penyembunyian

Pertemuan ini mengkaji dua fenomena saling berkaitan yang mencirikan strategi naratif-teologis Markus: (1) Messianic Secret sebagai pola penyembunyian identitas Yesus, dan (2) penggunaan perumpamaan sebagai medium pengajaran yang sekaligus menyingkapkan dan menyembunyikan kebenaran.

Kebenaran Kerajaan Allah hanya dapat diterima oleh mereka yang “memiliki telinga untuk mendengar” (4:9)

Joel Marcus mendeskripsikan ini sebagai “paradoks epistemologis Markus”: Injil yang paling naratif sekaligus paling enigmatik dalam kanon PB.1 Sementara itu, Adela Yarbro Collins mengusulkan bahwa ambiguitas ini merupakan teknik retorika yang disengaja untuk memancing keterlibatan pembaca dalam interpretasi aktif.2

II. Eksegesis Markus 4:1–34 – Perumpamaan Penabur

A. Konteks Naratif

Markus 4 merupakan satu-satunya kumpulan perumpamaan yang signifikan dalam Injil ini, berbeda dari Matius (13 dan 24–25) dan Lukas (15). Latar setting geografis—di atas perahu di hadapan orang banyak di pantai (4:1)—memisahkan Yesus secara fisik dari orang banyak, menciptakan jarak hermeneutis antara pengajar dan pendengar.

B. Struktur Internal Mrk. 4:1–34

🌾 Perumpamaan Penabur (4:1–9)
Narasi perumpamaan; empat jenis tanah dan respons berbeda
🔑 Tujuan Perumpamaan (Privat) (4:10–12)
Yesus menjelaskan mengapa Ia mengajar dengan perumpamaan kepada murid-murid
📝 Penjelasan Perumpamaan (4:13–20)
Interpretasi alegoris tiap jenis tanah
🕯️ Perumpamaan Pelita (4:21–25)
Yang tersembunyi akan disingkapkan; siapa yang punya, akan diberi lebih
🌱 Dua Perumpamaan Kerajaan (4:26–34)
Benih yang tumbuh sendiri (4:26–29); biji sesawi (4:30–34)

C. Perdebatan: Markus 4:11–12 & Yesaya 6:9–10

Ayat 4:11–12 menyatakan bahwa “rahasia Kerajaan Allah” diberikan kepada murid-murid, tetapi bagi “orang-orang di luar” segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan, “supaya mereka memang melihat, tetapi tidak menanggap; mendengar, tetapi tidak mengerti.”

Pertanyaan teologisnya: apakah perumpamaan berfungsi sebagai instrumen penyingkapan atau pengerasan hati? Berikut spektrum posisi para sarjana:

Tujuan Final
Perumpamaan memang dimaksudkan untuk mengeraskan hati orang luar (konjungsi ἵνα bermakna final)
— Joachim Jeremias (awalnya), William Lane
Hasil Konsekutif
ἵνα berfungsi ekibatif, bukan final; pengerasan adalah hasil penolakan, bukan tujuan
— C. E. B. Cranfield, R. T. France
Refleksi Misionologis
Markus menggunakan Yes. 6 untuk menjelaskan kegagalan misi Yesus kepada Israel secara retrospektif
— Joel Marcus, Mary Ann Tolbert
Perumpamaan sebagai Kode
Perumpamaan adalah bahasa khusus komunitas; “orang luar” tidak memiliki kunci hermeneutis
— John Drury, Richard Horsley
💡 Implikasi Eksegesis: Perbedaan antara hina final dan konsekutif bukan hanya persoalan gramatikal, melainkan menyentuh teologi predestinasi, kebebasan manusia, dan tujuan penyataan Allah.

III. Perumpamaan sebagai Genre & Teologi Kerajaan Allah

A. Definisi & Tipologi Perumpamaan

Perumpamaan (parabolē, παραβολή) dalam tradisi Yahudi dan Kristen perdana merupakan genre narasi perbandingan yang membawa muatan teologis tersembunyi. Berbeda dari alegori murni, perumpamaan yang autentik biasanya memiliki satu titik pengajaran sentral (tertium comparationis).

Joachim Jeremias, dalam karya klasiknya The Parables of Jesus, berargumen bahwa interpretasi alegoris dalam Markus 4:13–20 merupakan lapisan redaksional gereja perdana, bukan ucapan Yesus asli.3

Klyne Snodgrass, sebaliknya, mempertahankan bahwa interpretasi alegoris tersebut konsisten dengan pola pengajaran Yesus, dan penolakannya berdasarkan kriteria redaksi lebih bersifat aprioris daripada tekstual.4

B. Teologi Kerajaan Allah dalam Markus 4

🌾 Benih yang Tumbuh Sendiri (4:26–29)
Khas Markus; tidak paralel di Injil lain. Kerajaan Allah bertumbuh secara organik tanpa intervensi manusia (αὐτομάτη, automatē, 4:28, teks SBLGNT). Pertumbuhan Kerajaan adalah karya Allah, bukan efisiensi manusia.
🌰 Biji Sesawi (4:30–34)
Kontras antara permulaan yang sangat kecil dan hasil yang besar adalah inti pengajaran. Menjawab skeptisisme terhadap komunitas Kristus yang kecil dan dianiaya.

IV. Eksegesis Mrk. 8:27–10:52 – Jalan Salib

A. Struktur Triptik Prediksi Penderitaan

Segmen 8:27–10:52 diorganisir oleh tiga prediksi penderitaan (Leidensankündigung) yang membentuk passion prediction units:

Unit 1
Prediksi: 8:31 – Anak Manusia harus menderita, ditolak, dibunuh, bangkit
Respons murid → pengajaran: Petrus menegur Yesus (8:32) → Yesus mengajar tentang salib dan pengikutan (8:34–38)
Unit 2
Prediksi: 9:31 – Anak Manusia diserahkan ke tangan manusia dan dibunuh
Respons murid → pengajaran: Para murid berdebat tentang siapa terbesar (9:34) → Yesus mengajar tentang melayani dan kerendahan hati (9:35–37)
Unit 3
Prediksi: 10:33–34 – Prediksi paling rinci: diserahkan, dihukum mati, diserahkan kepada bangsa-bangsa, diolok, diludahi, dicambuk, dibunuh, dan bangkit
Respons murid → pengajaran: Yakobus dan Yohanes meminta tempat kehormatan (10:35–37) → Yesus mengajar tentang cawan penderitaan dan menjadi hamba semua (10:42–45)

B. Markus 10:45 – Locus Classicus Soteriologi

καὶ γὰρ ὁ υἱὸς τοῦ ἀνθρώπου οὐκ ἦλθεν διακονηθῆναι ἀλλὰ διακονῆσαι καὶ δοῦναι τὴν ψυχὴν αὐτοῦ λύτρον ἀντὶ πολλῶν.
Mrk. 10:45, teks Yunani sumber: SBL Greek New Testament (SBLGNT)

“Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Kata kunci λύτρον ἀντὶ πολλῶν (lytron anti pollōn, “tebusan bagi banyak orang”) memiliki latar belakang dalam konsep pidyon Ibrani (pembebasan budak) dan Yes. 53:10–12 (Ebed YHWH). Perdebatan apakah ἀντί (anti) bermakna “menggantikan” (substitution) atau “demi kepentingan” (benefit) telah menjadi arena perdebatan christologi.5

C. Markus 10:46–52 – Bartimeus sebagai Inklusi Naratif

Kisah penyembuhan Bartimeus bukan sekadar mukjizat penutup, melainkan berfungsi sebagai inklusi naratif yang mengerangkai seluruh segmen jalan salib. Di awal (8:22–26), seorang buta disembuhkan bertahap—simbol pemahaman bertahap murid. Di akhir, Bartimeus yang secara fisik buta namun secara spiritual melihat benar, disembuhkan seketika dan mengikuti Yesus “dalam perjalanan” (en tē hodō, 10:52)—jalan menuju salib.

V. Sintesis: Messianic Secret, Perumpamaan & Jalan Salib

Ketiga elemen yang dikaji—Messianic Secret, pengajaran melalui perumpamaan, dan jalan salib—bukanlah tema-tema terpisah, melainkan ekspresi dari satu logika teologis yang koheren dalam Injil Markus:

Messianic Secret
Identitas Yesus hanya dapat dipahami secara penuh melalui salib, bukan melalui mukjizat dan kuasa semata
Perumpamaan
Kebenaran Kerajaan Allah hanya dapat diterima oleh yang “memiliki telinga”—pengikut sejati yang bersedia menanggung penderitaan
Jalan Salib
Pengikutan Kristus yang sejati identik dengan mengikuti jalan penderitaan-Nya; kemuliaan selalu datang melalui dan bukan tanpa salib
Elisabeth Schüssler Fiorenza menafsirkan logika ini dalam konteks komunitas Markus yang dianiaya: teologi salib bukan idealisme abstrak tetapi respons pastoral terhadap realitas penderitaan konkret komunitas Kristen di Roma pada akhir era Nero.6 Perspektif ini mengajak mahasiswa membaca Markus bukan hanya sebagai dokumen historiografi tetapi sebagai dokumen pastoral yang lahir dalam tekanan.

VI. Rencana Tatap Muka (100 Menit)
⏱️ 20 menit
Review hasil UTS dan reorientasi menuju analisis mendalam pasca-UTS; tinjauan ulang framework Messianic Secret
⏱️ 40 menit
Eksegesis bersama Markus 4:10–12 dan 4:26–34: analisis fungsi perumpamaan, debat hermeneutis hina final vs. konsekutif, teologi Kerajaan Allah
⏱️ 25 menit
Analisis triptik prediksi penderitaan (8:31; 9:31; 10:33–34): pola naratif dan implikasi kristologis Markus 10:45
⏱️ 15 menit
Diskusi: Relevansi “teologi salib Markus” bagi konteks pelayanan dan pengajaran PAK kontemporer; pertanyaan dan klarifikasi

VII. Penugasan

Tugas Terstruktur

1. Analisis Perumpamaan: Baca Markus 4:1–34 secara keseluruhan. Susun tabel analitis yang memuat: (a) identifikasi setiap perumpamaan dalam perikop, (b) elemen naratifnya, (c) interpretasi yang diberikan Yesus (apabila ada), dan (d) tema teologis yang terkandung.
2. Analisis Triptik: Bandingkan ketiga prediksi penderitaan (8:31; 9:31; 10:33–34) menggunakan tabel kolom paralel. Identifikasi: (a) elemen yang konsisten, (b) elemen yang berkembang/bertambah rinci, dan (c) pola respons murid pada tiap unit.

Tugas Mandiri (Pilih Satu dari 10)

Mahasiswa S1 Teologi memilih salah satu dari kelompok A (analisis eksegetis); mahasiswa S1 PAK memilih salah satu dari kelompok B (aplikasi pastoral/pendidikan). Mahasiswa boleh memilih dari kelompok lain apabila berminat.

🎓 KELOMPOK A — UNTUK MAHASISWA TEOLOGI (Berbasis Eksegesis)
A1. Kajian Hermeneutis ἵνα: Jelaskan perbedaan antara interpretasi ἵνα final dan ἵνα konsekutif dalam Markus 4:12. Posisi mana yang Anda anggap lebih kuat secara gramatikal, kontekstual, dan teologis? Sertakan minimal tiga referensi komentar atau artikel ilmiah.
A2. Kritik terhadap Teori Messianic Secret: Uraikan teori Wredebund (William Wrede) tentang Messianic Secret dan minimal dua tanggapan kritis terhadapnya dari sarjana lain. Menurut Anda, apa fungsi teologis penyembunyian identitas Yesus dalam Markus?
A3. Studi Kata λύτρον ἀντὶ πολλῶν: Telusuri makna frasa λύτρον ἀντὶ πολλῶν dalam Markus 10:45 dengan meninjau latar belakang pidyon Ibrani dan Yesaya 53. Jelaskan perdebatan antara makna substitution dan benefit pada kata ἀντί, dan posisi Anda.
A4. Perbandingan Redaksi: Bandingkan struktur dan urutan perumpamaan Markus 4 dengan paralelnya di Matius 13. Identifikasi perbedaan redaksional dan diskusikan kemungkinan tujuan teologis masing-masing penulis Injil.
A5. Analisis Naratif Bartimeus: Kaji Markus 10:46–52 sebagai inklusio naratif bersama Markus 8:22–26. Jelaskan bagaimana kedua kisah penyembuhan orang buta ini membingkai tema “melihat secara rohani” sepanjang segmen 8:27–10:52.
📗 KELOMPOK B — UNTUK MAHASISWA PAK (Berbasis Aplikasi Pastoral & Pendidikan)
B1. Refleksi Pastoral Kepemimpinan: Berdasarkan Markus 10:42–45, rumuskan sebuah cara pandang pelayanan sederhana untuk konteks gereja di Kalimantan. Bagaimana konsep “menjadi hamba semua” dapat dipraktikkan dalam kepemimpinan gereja atau sekolah minggu setempat?
B2. Rancangan Bahan Ajar: Susun rancangan pelajaran sederhana (RPP/satuan pengajaran) untuk anak atau remaja gereja tentang Perumpamaan Penabur (Markus 4:1–9), lengkap dengan tujuan pengajaran, ilustrasi, dan aplikasi hidup sehari-hari.
B3. Refleksi Pribadi: Tuliskan refleksi pribadi tentang makna “memiliki telinga untuk mendengar” (Markus 4:9) bagi seorang pendidik PAK. Bagaimana sikap ini memengaruhi cara Anda mengajar dan mendengarkan peserta didik?
B4. Studi Kasus Pelayanan: Amati satu contoh nyata pelayanan atau kepemimpinan di gereja/sekolah Anda. Analisis sejauh mana praktik tersebut mencerminkan (atau bertentangan dengan) prinsip “menjadi hamba semua” dalam Markus 10:42–45.
B5. Media Pengajaran Kreatif: Buat media pengajaran sederhana (poster, infografis, atau alat peraga) tentang Perumpamaan Biji Sesawi (Markus 4:30–34) untuk pengajaran PAK anak, disertai penjelasan singkat cara penggunaannya di kelas.

VIII. Pertanyaan Diskusi Kelas
1.Apabila perumpamaan berfungsi untuk menyembunyikan kebenaran dari “orang luar,” apakah Yesus dapat dituduh tidak inklusif dalam pengajaran-Nya? Bagaimana Anda merespons tuduhan tersebut secara teologis?
2.Mengapa para murid berulang kali gagal memahami nubuat penderitaan Yesus? Apakah kegagalan ini mencerminkan keterbatasan kognitif, hambatan teologis, atau keduanya?
3.Bagaimana model kepemimpinan Markus 10:42–45 dapat diterapkan dalam konteks kepemimpinan gereja di Indonesia yang cenderung hierarkis?
4.Apakah ada korelasi antara konsep “benih yang tumbuh sendiri” (Mrk. 4:26–29) dengan pengamatan missiologis tertentu dalam pertumbuhan gereja di Indonesia?

📚 Catatan Kaki

1 Joel Marcus, Mark 1–8: A New Translation with Introduction and Commentary, Anchor Bible 27 (New York: Doubleday, 2000), 29–37.

2 Adela Yarbro Collins, Mark: A Commentary, Hermeneia (Minneapolis: Fortress Press, 2007), 46–52.

3 Joachim Jeremias, The Parables of Jesus, terj. S. H. Hooke, 3rd ed. (London: SCM Press, 1972), 77–79.

4 Klyne Snodgrass, Stories with Intent: A Comprehensive Guide to the Parables of Jesus (Grand Rapids: Eerdmans, 2008), 163–68.

5 Martin Hengel, The Atonement: The Origins of the Doctrine in the New Testament, terj. John Bowden (Philadelphia: Fortress Press, 1981), 35–75; bdk. C. E. B. Cranfield, The Gospel According to Saint Mark, Cambridge Greek Testament Commentary (Cambridge: Cambridge University Press, 1959), 342–45.

6 Elisabeth Schüssler Fiorenza, “The Gospel of Mark as Ecclesiological Paradigm,” dalam Discipleship in the New Testament, ed. Fernando F. Segovia (Philadelphia: Fortress Press, 1985), 55–77.

STT Kalimantan · EKS-2101 Eksposisi Perjanjian Baru 1 · Pertemuan 8