tpb2-04

Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Teologi Perjanjian Baru II

Ekklesiologi: Hakikat, Kesatuan, dan Tata Kehidupan Jemaat
Surat-surat Paulus, Ibrani, Yakobus, Petrus, dan Yudas
Teologi Perjanjian Baru 2 (DTh-137.206)
Pdt. D. Horatius Herman, M.Th.
Petunjuk: ketuk judul setiap bagian untuk membuka atau menutup uraiannya. Ketuk angka kecil di atas kata untuk melihat catatan kaki di dasar bagian itu.
Pendahuluan

Pertemuan 1 sampai 3 menelusuri siapa Kristus, apa yang Ia kerjakan bagi keselamatan manusia, dan bagaimana Roh Kudus menerapkan karya itu dalam hidup orang percaya. Pertemuan ini melanjutkan penelusuran itu dengan bertanya: menjadi apakah orang-orang yang telah dibenarkan dan diberi Roh itu bersama-sama? Ekklesiologi (dari ἐκκλησία, “gereja, kumpulan yang dipanggil keluar”) membahas hakikat, kesatuan, dan tata kehidupan gereja sebagaimana disaksikan dalam surat-surat Perjanjian Baru.

Surat-surat Perjanjian Baru tidak menyajikan satu definisi tunggal tentang gereja, melainkan serangkaian gambaran yang saling melengkapi — tubuh, bait, keluarga, mempelai, umat yang berziarah — masing-masing menyoroti sisi yang berbeda dari kenyataan yang sama. Karena itu Pelajaran ini membatasi diri pada dua pokok, yaitu hakikat dan gambaran gereja, yakni bagaimana surat-surat Perjanjian Baru melukiskan apa itu gereja, serta kesatuan dan tata kehidupan jemaat, yakni bagaimana gereja diatur, dipimpin, dan dipelihara kesatuannya sebagai satu tubuh.

Dua pokok Pelajaran ini
Hakikat dan Gambaran Gereja
Gereja sebagai tubuh Kristus, bait Allah, keluarga/rumah tangga Allah, dan mempelai Kristus.
Kesatuan dan Tata Kehidupan Jemaat
Kesatuan jemaat sebagai satu tubuh, kepemimpinan (penilik jemaat, penatua, diaken), imamat am orang percaya, dan disiplin jemaat.

Setiap pokok ditelusuri melalui tiga kelompok surat: Galatia, Roma, dan Korintus, tempat gambaran tubuh dan kesatuan jemaat paling luas dikembangkan; Efesus, surat-surat penjara, dan surat-surat penggembalaan, tempat gambaran bait, keluarga Allah, dan tata kepemimpinan jemaat paling rinci diuraikan; serta Ibrani, Yakobus, Petrus, dan Yudas, tempat gereja digambarkan sebagai umat yang berziarah, imamat am, dan kawanan domba yang digembalakan.

1. Latar Diskusi Para Pakar

Diskusi modern tentang ekklesiologi Perjanjian Baru berkisar pada tiga pertanyaan: gambaran mana yang paling menentukan hakikat gereja, bagaimana tata kepemimpinan jemaat berkembang pada abad pertama, dan bagaimana peran laki-laki dan perempuan diatur dalam pelayanan jemaat.

Paul Minear, dalam kajian yang menjadi rujukan klasik, mengidentifikasi sembilan puluh enam gambaran tentang gereja dalam Perjanjian Baru dan menolak anggapan bahwa satu gambaran saja (misalnya “tubuh Kristus”) dapat merangkum seluruh kekayaan kesaksian itu. Ia mengajukan pertanyaan metodologis bagi setiap gambaran yang muncul,

“How frequently does it occur in the New Testament? How many different authors show their acquaintance with it?”1

Terjemahan bebas: Seberapa sering gambaran itu muncul dalam Perjanjian Baru? Berapa banyak penulis berbeda yang menunjukkan keakrabannya dengan gambaran itu?

— Paul S. Minear, Images of the Church in the New Testament, 28

Pendekatan Minear ini mengingatkan bahwa gereja “tidak memiliki hakikat yang dapat langsung didefinisikan hanya dengan memandang gereja itu sendiri”2 — hakikat gereja hanya dapat dipahami melalui gambaran-gambaran yang dipakai para penulis Perjanjian Baru untuk menyingkapkannya.

Robert Banks meneliti latar sosial jemaat mula-mula sebagai kumpulan rumah tangga (house churches) dan menekankan bahwa dua gambaran Paulus yang paling dominan — tubuh dan keluarga — masing-masing menyoroti pertumbuhan organik jemaat dan keharmonisan hubungan di dalamnya.3

Pertanyaan tentang tata kepemimpinan jemaat telah lama diperdebatkan sejak abad kesembilan belas. J. B. Lightfoot, seorang Uskup Anglikan yang mendukung tata gereja episkopal, tetap mengakui secara jujur bahwa dalam Perjanjian Baru sendiri kedua sebutan itu dipakai bagi jabatan yang sama,

“the same officer in the Church is called indifferently ‘bishop’ and ‘elder’ or ‘presbyter’”4

Terjemahan bebas: pejabat yang sama dalam gereja disebut secara bergantian ‘penilik jemaat’ dan ‘tua-tua’ atau ‘presbiter’.

— J. B. Lightfoot, Saint Paul’s Epistle to the Philippians, 97

Pengakuan Lightfoot ini penting justru karena datang dari seorang pendukung tata gereja episkopal: ia mengakui bahwa perbedaan antara “penilik jemaat” (ἐπίσκοπος) dan “penatua” (πρεσβύτερος) sebagai dua jabatan yang berbeda tingkat baru berkembang setelah zaman Perjanjian Baru, bukan berasal dari teks Perjanjian Baru itu sendiri.

Perdebatan yang lebih baru berkisar pada peran perempuan dalam kepemimpinan jemaat, khususnya penafsiran 1 Tim. 2:12. Wayne Grudem, mewakili pandangan komplementarian, membela pembacaan bahwa ayat itu melarang perempuan mengajar atau memegang otoritas dengan wibawa atas laki-laki dalam jemaat secara umum.5 Philip Payne, mewakili pandangan egaliter, berargumen bahwa kata kerja αὐθεντεῖν (“memegang otoritas”) dalam konteks itu menunjuk pada penyalahgunaan otoritas, sehingga larangan itu bersifat khusus, bukan larangan umum bagi perempuan mengajar atau memimpin.6 Andreas Köstenberger menanggapi argumen tata bahasa Payne tentang kata penghubung οὐδέ (“atau, dan tidak”) dan mempertahankan bahwa struktur kalimat itu menyejajarkan “mengajar” dan “memegang otoritas” sebagai dua tindakan yang sama-sama dilarang, bukan satu tindakan yang membatasi tindakan lainnya.7

Sejumlah penafsir lain mengajukan pembacaan ketiga: bahwa ἀνήρ dan γυνή dalam 1 Tim. 2:11–15 sebaiknya diterjemahkan “suami” dan “istri”, bukan “laki-laki” dan “perempuan” secara umum, sehingga bagian ini berbicara tentang tata hubungan dalam rumah tangga, bukan tentang jabatan mengajar dalam jemaat secara umum. Craig Keener mengembangkan pembacaan ini dengan menunjukkan bahwa kata ἀνδρός pada ay. 12 berbentuk tunggal, dan bahwa rujukan kepada Adam dan Hawa pada ay. 13–14 paling wajar dipahami sebagai rujukan kepada sepasang suami-istri yang pertama, bukan sebagai representasi umum “laki-laki” dan “perempuan”; penyebutan “melahirkan anak” pada ay. 15 pun lebih cocok dengan konteks kehidupan rumah tangga daripada dengan jabatan mengajar dalam jemaat.8 Pembacaan ini diperkuat dengan pengamatan bahwa kata εὐσέβεια (“kesalehan hidup”) — bukan istilah kepemimpinan atau jabatan — menjadi salah satu kata kunci yang menyusun struktur teologi dan etika seluruh 1 Timotius, muncul pada 2:2; 3:16; 4:7–8; dan 6:3, 5–6, 11, sehingga pasal 2 dapat dibaca sebagai bagian dari nasihat tentang kesalehan hidup sehari-hari — termasuk kehidupan rumah tangga — dan bukan semata-mata tentang tata jabatan gereja yang baru dibahas secara eksplisit pada pasal 3.9

Peta posisi para pakar
Paul S. Minear
Hakikat gereja hanya dapat dipahami melalui kekayaan gambaran yang dipakai Perjanjian Baru, bukan satu gambaran tunggal.
Robert J. Banks
Jemaat mula-mula adalah kumpulan rumah tangga; gambaran tubuh dan keluarga menyoroti pertumbuhan dan keharmonisan.
J. B. Lightfoot
“Penilik jemaat” dan “penatua” adalah sebutan bagi jabatan yang sama dalam Perjanjian Baru, sekalipun ia sendiri mendukung episkopal.
Wayne Grudem (komplementarian)
1 Tim. 2:12 melarang perempuan mengajar atau memegang otoritas atas laki-laki dalam jemaat secara umum.
Philip B. Payne (egaliter)
Larangan dalam 1 Tim. 2:12 bersifat khusus terhadap penyalahgunaan otoritas, bukan larangan umum.
Craig S. Keener (pembacaan rumah tangga/kontekstual)
1 Tim. 2:11–15, ἀνήρ/γυνή menunjuk suami-istri; dalam 1 Kor. 14:34–35, λαλεῖν yang dilarang adalah bercakap-cakap yang mengganggu, bukan berdoa atau bernubuat (bdk. 1 Kor. 11:5).

Pelajaran ini menyajikan teks-teks yang relevan bagi ketiga pertanyaan itu, termasuk kualifikasi kepemimpinan jemaat dan teks tentang peran perempuan, tanpa menuntaskan perdebatan yang masih berlangsung di antara para penafsir yang sama-sama setia pada Kitab Suci.

Catatan Kaki

1. Paul S. Minear, Images of the Church in the New Testament (Philadelphia: Westminster, 1960), 28. ↩

2. Ibid., 12. ↩

3. Robert J. Banks, Paul’s Idea of Community: The Early House Churches in Their Historical Setting (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1980). ↩

4. J. B. Lightfoot, Saint Paul’s Epistle to the Philippians, rev. ed. (London: Macmillan, 1913), 97. ↩

5. Wayne Grudem, Evangelical Feminism and Biblical Truth: An Analysis of More Than 100 Disputed Questions (Sisters, OR: Multnomah, 2004), 305–29. ↩

6. Philip B. Payne, Man and Woman, One in Christ: An Exegetical and Theological Study of Paul’s Letters (Grand Rapids, MI: Zondervan, 2009), 337–59. ↩

7. Andreas J. Köstenberger, “The Syntax of 1 Timothy 2:12: A Rejoinder to Philip B. Payne,” Journal for Biblical Manhood and Womanhood 14, no. 2 (2009): 37–45. ↩

8. Craig S. Keener, Paul, Women, and Wives: Marriage and Women’s Ministry in the Letters of Paul (Peabody, MA: Hendrickson, 1992), 101–3. ↩

9. Philip H. Towner, The Goal of Our Instruction: The Structure of Theology and Ethics in the Pastoral Epistles, Journal for the Study of the New Testament Supplement Series 34 (Sheffield: JSOT Press, 1989). ↩

2. Galatia, Roma, dan Korintus: Satu Tubuh dengan Banyak Anggota

Gereja sebagai Satu Tubuh dengan Banyak Anggota dalam Galatia, Roma, dan Korintus

Galatia dan Roma: Kesatuan yang Melampaui Perbedaan
Teks Kunci — Gal. 3:28

οὐκ ἔνι Ἰουδαῖος οὐδε Ἕλλην, οὐκ ἔνι δοῦλος οὐδε ἐλεύθερος, οὐκ ἔνι ἄρσεν και θῆλυ· πάντες γαρ ὑμεῖς εἷς ἐστε ἐν Χριστῷ Ἰησοῦ.

“tidak ada lagi orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada lagi hamba atau orang merdeka, tidak ada lagi laki-laki atau perempuan, sebab kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” (terjemahan bebas)

Ayat ini merangkum kesatuan jemaat yang melampaui pembedaan etnis, sosial, dan gender yang sangat kuat pada zaman Paulus. Kata εἷς (“satu”, maskulin tunggal, meskipun subjeknya ὑμεῖς jamak) menegaskan kesatuan identitas “di dalam Kristus Yesus” yang menjadi dasar bagi semua pembedaan lain yang tetap ada dalam kehidupan sosial (bdk. tetap adanya pembedaan peran dalam surat-surat lain), tetapi tidak lagi menentukan nilai atau status seseorang di hadapan Allah dan dalam persekutuan jemaat.

Teks Kunci — Rm. 12:4–5

καθάπερ γαρ ἐν ἑνι σώματι πολλα μέλη ἔχομεν, τα δε μέλη πάντα οὐ την αὐτην ἔχει πρᾶξιν, οὕτως οἱ πολλοι ἓν σῶμά ἐσμεν ἐν Χριστῷ, το δε καθ᾽ εἷς ἀλλήλων μέλη.

“Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota mempunyai tugas yang sama, demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus, dan masing-masing kita adalah anggota yang seorang terhadap yang lain.” (terjemahan bebas)

Paulus memakai gambaran tubuh untuk menjelaskan hubungan antara kesatuan (“satu tubuh”) dan keragaman (“banyak anggota”, “tugas yang tidak sama”) dalam gereja, sebuah gambaran yang akan dikembangkan lebih luas dalam 1 Korintus 12.

1 Korintus: Bait Allah dan Tubuh dengan Banyak Anggota
Teks Kunci — 1 Kor. 3:9, 16

θεοῦ γάρ ἐσμεν συνεργοί· θεοῦ γεώργιον, θεοῦ οἰκοδομή ἐστε. … οὐκ οἴδατε ὅτι ναoς θεοῦ ἐστε και τo πνεῦμα τοῦ θεοῦ οἰκεῖ ἐν ὑμῖν;

“Sebab kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah. … Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” (terjemahan bebas)

Dalam 1 Korintus 3, Paulus menegur perpecahan jemaat yang berpihak pada pemimpin-pemimpin tertentu (Paulus, Apolos, Kefas) dengan mengingatkan bahwa jemaat adalah milik Allah sendiri — ladang-Nya, bangunan-Nya, bait-Nya. Kata ναός (“bait”, tempat kudus, bukan seluruh kompleks bangunan) menunjukkan bahwa jemaat sebagai kesatuan, bukan hanya tubuh individu (bdk. 1 Kor. 6:19), adalah tempat kediaman Roh Allah.

Pasal 12 mengembangkan gambaran tubuh secara paling rinci dalam Perjanjian Baru. Ayat 12–14 menyatakan bahwa tubuh Kristus, seperti tubuh manusia, terdiri atas banyak anggota yang berbeda namun tetap satu tubuh. Ayat 15–20 memakai dialog imajiner antaranggota tubuh (kaki, tangan, telinga, mata) untuk menegaskan bahwa tidak ada anggota yang dapat berkata “aku bukan bagian dari tubuh” hanya karena fungsinya berbeda dari anggota lain, dan bahwa Allah sendiri yang menyusun tiap-tiap anggota di dalam tubuh sesuai kehendak-Nya (ay. 18).

Teks Kunci — 1 Kor. 12:26

εἴτε πάσχει ἓν μέλος, συμπάσχει πάντα τα μέλη· εἴτε δοξάζεται μέλος, συγχαίρει πάντα τα μέλη.

“Jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita.” (terjemahan bebas)

Dua kata majemuk συμπάσχει (“turut menderita”) dan συγχαίρει (“turut bersukacita”) menegaskan solidaritas organik antaranggota jemaat: apa yang dialami satu anggota — baik penderitaan maupun kehormatan — bukan urusan pribadi semata, melainkan turut dirasakan seluruh tubuh. Prinsip inilah yang mendasari daftar karunia dalam pasal yang sama (telah dibahas dalam Pelajaran Pneumatologi) sebagai sarana yang melayani kesatuan tubuh, bukan yang memecahnya.

1 Korintus 11 dan 14: Perempuan dalam Ibadah dan Pertanyaan tentang “Berdiam Diri”
Teks Kunci — 1 Kor. 11:5

πᾶσα δε γυνὴ προσευχομένη ἢ προφητεύουσα ἀκατακαλύπτῳ τῇ κεφαλῇ καταισχύνει την κεφαλην αὐτῆς.

“tetapi setiap perempuan yang berdoa atau berkhotbah dengan kepala tidak bertudung, ia mencemarkan kepalanya.” (terjemahan bebas)

Sebelum membahas karunia-karunia dalam pasal 12–14, Paulus sudah mengandaikan dalam 1 Kor. 11:4–5 bahwa perempuan berdoa (προσευχομένη) dan bernubuat (προφητεύουσα, berkhotbah) dalam ibadah jemaat, setara dengan laki-laki, dan aturan yang diberikan hanya menyangkut penutup kepala, bukan larangan atas tindakan berdoa dan bernubuat itu sendiri. Nubuat (προφητεία) termasuk salah satu χάρισμα yang didaftar dalam 1 Kor. 12:10, 28, sehingga ayat ini menunjukkan bahwa perempuan turut menjalankan pelayanan karunia rohani secara publik dalam jemaat Korintus tanpa dilarang.

Teks Kunci — 1 Kor. 14:34–35

αἱ γυναῖκες ἐν ταῖς ἐκκλησίαις σιγάτωσαν, οὐ γαρ ἐπιτρέπεται αὐταῖς λαλεῖν, ἀλλα ὑποτασσέσθωσαν, καθως και ὁ νόμος λέγει. εἰ δέ τι μαθεῖν θέλουσιν, ἐν οἴκῳ τους ἰδίους ἄνδρας ἐπερωτάτωσαν· αἰσχρoν γάρ ἐστιν γυναικι λαλεῖν ἐν ἐκκλησίᾳ.

“hendaklah perempuan-perempuan berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan jemaat, sebab mereka tidak diizinkan untuk berbicara, melainkan hendaklah mereka menundukkan diri, seperti yang dikatakan hukum Taurat juga. Dan jika mereka ingin mengetahui sesuatu, baiklah mereka menanyakannya kepada suaminya sendiri di rumah, sebab tidak sopan bagi perempuan untuk berbicara dalam pertemuan jemaat.” (terjemahan bebas)

Ayat ini tampak berlawanan dengan 1 Kor. 11:5, dan para penafsir mengajukan beberapa jalan untuk memahaminya. Sebagian, seperti Gordon Fee, berpendapat bahwa ay. 34–35 adalah sisipan yang tidak asli dari tangan Paulus, mengingat dalam sebagian saksi naskah Latin kedua ayat ini muncul sesudah ay. 40, bukan pada tempatnya yang biasa — perpindahan letak yang menurutnya lebih mudah dijelaskan sebagai catatan pinggir yang kemudian disalin pada tempat yang berbeda-beda oleh para penyalin, ketimbang sebagai bagian asli argumen Paulus.10

Penafsir lain mempertahankan keaslian ay. 34–35 tetapi membatasi cakupannya. Kata kerja λαλεῖν (“berbicara”) yang dilarang di sini bukan kata yang dipakai bagi karunia bernubuat (προφητεύειν) atau mengajar (διδάσκειν) — kedua kata itu tidak muncul dalam ay. 34–35 — dan λαλέω sendiri tidak pernah menjadi nama satu χάρισμα pun dalam daftar karunia 1 Kor. 12:8–10, 28. Kata itu adalah kata kerja umum bagi tindakan berbicara, dan dalam pemakaian sehari-hari dapat berarti “bercakap-cakap” atau “mengobrol” — bandingkan Yoh. 4:27, dimana para murid heran karena Yesus ἐλάλει μετὰ γυναικός (“sedang bercakap-cakap dengan seorang perempuan”). Craig Keener mengembangkan pembacaan ini dan mengaitkannya dengan ay. 35 (“jika mereka ingin mengetahui sesuatu”): larangan itu diarahkan kepada kebiasaan sebagian perempuan yang mengganggu jalannya ibadah dengan bercakap-cakap atau mengajukan pertanyaan pada saat yang tidak tepat, bukan larangan mutlak terhadap perempuan untuk berbicara, berdoa, atau bernubuat dalam ibadah — sebab hal itu akan bertentangan langsung dengan 1 Kor. 11:5.11 Ben Witherington sampai pada kesimpulan yang serupa dari sudut retorika sosial jemaat Korintus.12 D. A. Carson mengajukan pembacaan yang lebih spesifik: larangan itu berkaitan dengan proses “menimbang” (διακρίνειν) nubuat/khotbah yang disebut dalam 1 Kor. 14:29, sehingga yang dibatasi bukan berbicara dalam arti mengajar, berkhotbah, atau menasehati (ketiganya ada dalam daftar χάρισμα), melainkan keikutsertaan dalam proses mempertanyakan nubuat orang lain secara terbuka di depan jemaat.13

Apa pun jalan yang ditempuh, ketiga pembacaan ini sepakat bahwa 1 Kor. 14:34–35 tidak dapat dibaca sebagai larangan absolut terhadap perempuan untuk berbicara, berdoa, atau bernubuat dalam ibadah jemaat, sebab pembacaan semacam itu akan bertentangan langsung dengan kesaksian 1 Kor. 11:4–5 yang menjelaskan kedua pelayanan itu — doa dan nubuat — dijalankan secara setara oleh laki-laki maupun perempuan.

Pola yang tampak

Dari rangkaian surat ini tampak satu pola: kesatuan jemaat di dalam Kristus melampaui perbedaan etnis, sosial, dan gender (Gal. 3:28); kesatuan itu diwujudkan dalam gambaran satu tubuh dengan banyak anggota yang saling bergantung (Rm. 12:4–5; 1 Kor. 12); jemaat sebagai kesatuan adalah bait tempat Roh Allah berdiam (1 Kor. 3:16); dan laki-laki maupun perempuan sama-sama menjalankan pelayanan doa dan nubuat dalam ibadah jemaat (1 Kor. 11:4–5), sehingga perpecahan jemaat maupun pembatasan pelayanan yang tidak berdasar bukan sekadar masalah sosial, melainkan pelanggaran terhadap kekudusan bait Allah dan kesatuan tubuh Kristus itu sendiri.

Catatan Kaki

10. Gordon D. Fee, The First Epistle to the Corinthians, New International Commentary on the New Testament (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1987), 699–710. ↩

11. Craig S. Keener, “Learning in the Assemblies: 1 Corinthians 14:34–35,” in Discovering Biblical Equality: Complementarity without Hierarchy, ed. Ronald W. Pierce and Rebecca Merrill Groothuis (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 2004); Craig S. Keener, 1–2 Corinthians, New Cambridge Bible Commentary (Cambridge: Cambridge University Press, 2005), 117–20. ↩

12. Ben Witherington III, Conflict and Community in Corinth: A Socio-Rhetorical Commentary on 1 and 2 Corinthians (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1995), 232, 238–40. ↩

13. D. A. Carson, Showing the Spirit: A Theological Exposition of 1 Corinthians 12–14 (Grand Rapids, MI: Baker, 1987), 121–31. ↩

3. Efesus, Surat-surat Penjara, dan Surat-surat Penggembalaan

Gereja sebagai Tubuh dengan Kristus sebagai Kepala, Keluarga Allah, dan Bait yang Bertumbuh dalam Efesus, Surat-surat Penjara, dan Surat-surat Penggembalaan

Efesus: Kepala dan Tubuh, Keluarga Allah, dan Mempelai
Teks Kunci — Ef. 1:22–23

καὶ αὐτoν ἔδωκεν κεφαλὴν ὑπὲρ πάντα τῇ ἐκκλησίᾳ, ἥτις ἐστὶν τὸ σῶμα αὐτοῦ, τὸ πλήρωμα τοῦ τὰ πάντα ἐν πᾶσιν πληρουμένου.

“dan Ia telah menetapkan Dia sebagai Kepala atas segala sesuatu bagi jemaat, yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu.” (terjemahan bebas)

Efesus mengembangkan gambaran tubuh dengan menambahkan unsur κεφαλή (“kepala”): Kristus bukan hanya sumber kehidupan tubuh, melainkan Kepala yang memerintah atasnya. Jemaat disebut πλήρωμα (“kepenuhan”) Kristus — suatu ungkapan yang menandaskan hubungan erat antara Kristus dan jemaat-Nya, sehingga jemaat menjadi tempat kehadiran dan karya-Nya dinyatakan secara penuh di dunia.

Teks Kunci — Ef. 2:19–20

ἄρα οὖν οὐκέτι ἐστὲ ξένοι καὶ πάροικοι, ἀλλὰ ἐστὲ συμπολῖται τῶν ἁγίων καὶ οἰκεῖοι τοῦ θεοῦ, ἐποικοδομηθέντες ἐπὶ τῷ θεμελίῳ τῶν ἀποστόλων καὶ προφητῶν, ὄντος ἀκρογωνιαίου αὐτοῦ Χριστοῦ Ἰησοῦ.

“Jadi kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota keluarga Allah, dibangun di atas dasar para rasul dan nabi, dengan Kristus Yesus sendiri sebagai batu penjuru.” (terjemahan bebas)

Bagian ini memakai dua gambaran sekaligus: kewargaan (συμπολῖται, “kawan sewarga”) dan keluarga (οἰκεῖοι τοῦ θεοῦ, “anggota keluarga/rumah tangga Allah”), sekaligus gambaran bangunan dengan Kristus sebagai ἀκρογωνιαῖος (“batu penjuru”, batu yang menentukan arah dan kesejajaran seluruh bangunan). Ayat 21–22 melanjutkan gambaran itu: seluruh bangunan “bertumbuh menjadi bait yang kudus di dalam Tuhan”, tempat Allah berdiam oleh Roh.

Teks Kunci — Ef. 4:13

μέχρι καταντήσωμεν οἱ πάντες εἰς τὴν ἑνότητα τῆς πίστεως καὶ τῆς ἐπιγνώσεως τοῦ υἱοῦ τοῦ θεοῦ, εἰς ἄνδρα τέλειον, εἰς μέτρον ἡλικίας τοῦ πληρώματος τοῦ Χριστοῦ.

“sampai kita semua mencapai kesatuan iman dan pengenalan yang benar akan Anak Allah, menjadi manusia dewasa, mencapai ukuran kepenuhan Kristus.” (terjemahan bebas)

Efesus 4:11–16 menyebut para pelayan yang diberikan Kristus bagi jemaat — rasul, nabi, pemberita Injil, gembala dan pengajar — dengan tujuan “memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus” (ay. 12). Tujuan akhirnya bukan sekadar tata organisasi yang rapi, melainkan pertumbuhan bersama menuju kedewasaan dan kesatuan iman, sehingga jemaat “dibangun dalam kasih” (ay. 16, ἐν ἀγάπῃ).

Efesus 5:23–32 menambahkan gambaran mempelai: Kristus adalah kepala jemaat sebagaimana suami adalah kepala istri, dan Kristus mengasihi jemaat serta menyerahkan diri-Nya baginya, untuk menguduskannya dan menampilkannya bagi diri-Nya sendiri “dengan cemerlang, tanpa noda atau kerut atau yang serupa itu” (ay. 27). Kolose 1:18 merangkum gambaran kepemimpinan Kristus atas jemaat dengan singkat: αὐτός ἐστιν ἡ κεφαλὴ τοῦ σώματος τῆς ἐκκλησίας (“Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat”).

Surat-surat Penggembalaan: Rumah Allah dan Kualifikasi Kepemimpinan
Teks Kunci — 1 Tim. 3:15

εἰδῇς πῶς δεῖ ἐν οἴκῳ θεοῦ ἀναστρέφεσθαι, ἥτις ἐστὶν ἐκκλησία θεοῦ ζῶντος, στῦλος καὶ ἑδραίωμα τῆς ἀληθείας.

“supaya engkau tahu bagaimana seharusnya orang hidup dalam rumah Allah, yaitu jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran.” (terjemahan bebas)

Ayat ini menghubungkan gambaran keluarga (οἶκος θεοῦ, “rumah Allah”) dengan tanggung jawab jemaat sebagai στῦλος καὶ ἑδραίωμα τῆς ἀληθείας (“tiang penopang dan dasar kebenaran”) — gambaran arsitektural yang menekankan peran jemaat memelihara dan menegakkan kebenaran Injil di tengah dunia.

Surat-surat penggembalaan memuat daftar kualifikasi bagi para pemimpin jemaat yang paling rinci dalam Perjanjian Baru. 1 Tim. 3:1–7 mendaftar kualifikasi ἐπίσκοπος (“penilik jemaat”): tidak bercacat, suami dari satu istri, dapat menahan diri, bijaksana, dapat mengajar, bukan peminum, bukan pemarah, dan seterusnya. Ayat 8–13 mendaftar kualifikasi serupa bagi διάκονος (“diaken/pelayan”).

Titus 1:5–9 memuat daftar yang sejajar, dengan struktur tata bahasa yang penting bagi diskusi tentang jabatan gereja: ayat 5–6 menyebut pengangkatan πρεσβύτεροι (“penatua-penatua”) di setiap kota, dan ayat 7 melanjutkan dengan alasan (γάρ, “sebab”) yang memakai kata ἐπίσκοπος (“penilik jemaat”) untuk merujuk pada jabatan yang sama — pergantian sebutan inilah yang menjadi dasar kesimpulan Lightfoot bahwa kedua istilah itu menunjuk pada satu jabatan yang sama dalam Perjanjian Baru.14

1 Tim. 2:11–15 memuat pengajaran yang diperdebatkan tentang perempuan dalam jemaat: perempuan diminta belajar “dengan tenang dan penuh ketaatan” (ay. 11), dan ayat 12 menyatakan οὐκ ἐπιτρέπω γυναικὶ διδάσκειν οὐδὲ αὐθεντεῖν ἀνδρός (“aku tidak mengizinkan perempuan mengajar atau memegang otoritas atas laki-laki”). Kata αὐθεντεῖν jarang dipakai dalam Perjanjian Baru, dan maknanya — apakah “memegang otoritas” secara umum atau “menyalahgunakan otoritas” secara khusus — menjadi pusat perdebatan Grudem dan Payne yang telah disinggung pada bagian Latar Diskusi Para Pakar.15

Perdebatan itu juga menyangkut cakupan ay. 13–15 sendiri. Kata ἀνδρός pada ay. 12 berbentuk genitif tunggal, dan dapat diterjemahkan “laki-laki” atau “suami”. Menurut pembacaan rumah tangga, alasan yang diberikan Paulus pada ay. 13–14 — Adam dibentuk lebih dahulu, kemudian Hawa; Adam tidak tertipu, tetapi perempuan itu tertipu dan jatuh ke dalam pelanggaran — paling wajar dibaca sebagai rujukan kepada Adam dan Hawa sebagai sepasang suami-istri yang pertama, bukan sebagai dasar bagi larangan umum terhadap seluruh perempuan mengajar seluruh laki-laki. Penyebutan “ia akan diselamatkan melalui proses melahirkan anak” (σωθήσεται διὰ τῆς τεκνογονίας, ay. 15) juga dipandang lebih cocok dengan konteks kehidupan rumah tangga suami-istri daripada dengan jabatan mengajar dalam jemaat.16 Konteks yang lebih luas dari seluruh surat ini pun didominasi oleh kata εὐσέβεια (“kesalehan hidup”), yang tersebar pada 1 Tim. 2:2; 3:16; 4:7–8; dan 6:3, 5–6, 11, sehingga menurut pembacaan ini pasal 2 secara keseluruhan lebih tepat dipahami sebagai nasihat tentang kesalehan hidup sehari-hari — termasuk relasi suami-istri — daripada sebagai pengajaran tentang tata jabatan gereja, yang baru dibahas secara eksplisit pada pasal 3.17 Para penafsir yang membela pembacaan tradisional menjawab bahwa bentuk tunggal ἀνδρός tidak dengan sendirinya membatasi rujukan kepada pasangan suami-istri, sebab bentuk tunggal generik lazim dipakai dalam nasihat etis Yunani untuk berbicara tentang “setiap laki-laki” atau “setiap perempuan” secara umum, dan bahwa konteks ay. 8–10 (tentang doa dan perhiasan “laki-laki” dan “perempuan” di tempat ibadah secara umum, bukan semata suami-istri di rumah) mendukung pembacaan yang lebih luas itu.18

Catatan Kaki

14. Lightfoot, Philippians, 95–99. ↩

15. Grudem, Evangelical Feminism, 305–29; Payne, Man and Woman, 337–59. ↩

16. Keener, Paul, Women, and Wives, 101–3. ↩

17. Towner, Goal of Our Instruction. ↩

18. Köstenberger, “Syntax of 1 Timothy 2:12.” ↩

4. Ibrani, Yakobus, Petrus, dan Yudas

Gereja sebagai Umat yang Berziarah, Imamat Am, dan Kawanan yang Digembalakan dalam Ibrani, Yakobus, Petrus, dan Yudas

Ibrani: Umat yang Berziarah kepada Yerusalem Sorgawi
Teks Kunci — Ibr. 12:22–23

ἀλλὰ προσεληλύθατε Σιὼν ὄρει καὶ πόλει θεοῦ ζῶντος, Ἰερουσαλὴμ ἐπουρανίῳ, καὶ μυριάσιν ἀγγέλων, πανηγύρει καὶ ἐκκλησίᾳ πρωτοτόκων ἀπογεγραμμένων ἐν οὐρανοῖς

“tetapi kamu sudah datang kepada Gunung Sion, kepada kota Allah yang hidup, Yerusalem sorgawi, dan kepada beribu-ribu malaikat dalam perkumpulan yang meriah, dan kepada jemaat anak-anak sulung yang terdaftar di sorga.” (terjemahan bebas)

Ibrani menggambarkan jemaat orang percaya sebagai umat yang sedang berziarah, mengikuti pola umat Israel di padang gurun (pasal 3–4) dan umat yang telah sampai pada kenyataan sorgawi yang melampaui Gunung Sinai yang menakutkan (12:18–21): mereka telah “datang” — kata kerja προσεληλύθατε berbentuk perfect, menandakan keadaan yang sudah dan tetap berlaku — kepada Yerusalem sorgawi dan kepada ἐκκλησία πρωτοτόκων (“jemaat anak-anak sulung”).

Ibrani 10:24–25 memberi nasihat praktis yang sangat dikenal: “janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati,” sebuah peringatan terhadap kecenderungan meninggalkan persekutuan jemaat, khususnya menjelang masa-masa sulit. Ibrani 13:17 menasihati jemaat untuk taat kepada para pemimpin mereka (ἡγούμενοι, “yang memimpin”), sebab mereka berjaga-jaga atas jiwa jemaat dan harus memberi pertanggungjawaban kepada Allah.

Yakobus: Penatua dan Pemeliharaan Bersama

Yakobus 5:14–16 memberi gambaran praktis tentang peran penatua (πρεσβύτεροι) dalam jemaat: orang sakit dipanggil untuk didoakan oleh penatua-penatua jemaat, yang mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan, dan “doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu” (ay. 15). Ayat 16 melanjutkan dengan nasihat untuk saling mengaku dosa dan saling mendoakan — memperlihatkan bahwa pemeliharaan jemaat, baik jasmani maupun rohani, dijalankan bersama-sama, bukan hanya oleh pemimpin secara sepihak.

Petrus: Imamat Am dan Penatua sebagai Gembala
Teks Kunci — 1 Pet. 2:5

αὐτοὶ ὡς λίθοι ζῶντες οἰκοδομεῖσθε οἶκος πνευματικὸς εἰς ἱεράτευμα ἅγιον, ἀνενέγκαι πνευματικὰς θυσίας εὐπροσδέκτους θεῷ διὰ Ἰησοῦ Χριστοῦ.

“kamu juga, sebagai batu-batu yang hidup, dibangun menjadi rumah rohani, menjadi imamat yang kudus, untuk mempersembahkan korban-korban rohani yang berkenan kepada Allah oleh Yesus Kristus.” (terjemahan bebas)

Petrus memakai gambaran bangunan yang hidup — bukan batu mati, melainkan λίθοι ζῶντες (“batu-batu hidup”) yang tersusun menjadi bait rohani — sekaligus menyebut jemaat sebagai ἱεράτευμα ἅγιον (“imamat yang kudus”). Ayat 9 melanjutkan dengan rangkaian sebutan yang digemakan dari Kel. 19:6: γένος ἐκλεκτόν (“bangsa yang terpilih”), βασίλειον ἱεράτευμα (“imamat yang rajani”), ἔθνος ἅγιον (“bangsa yang kudus”), λαὸς εἰς περιποίησιν (“umat kepunyaan Allah sendiri”). Gambaran “imamat am orang percaya” ini menegaskan bahwa akses kepada Allah dan tanggung jawab mempersembahkan ibadah tidak terbatas pada segelintir pemimpin, melainkan menjadi panggilan seluruh umat.

Teks Kunci — 1 Pet. 5:2–3

ποιμάνατε τὸ ἐν ὑμῖν ποίμνιον τοῦ θεοῦ, ἐπισκοποῦντες μὴ ἀναγκαστῶς ἀλλὰ ἑκουσίως κατὰ θεόν, μηδὲ αἰσχροκερδῶς ἀλλὰ προθύμως, μηδ᾽ ὡς κατακυριεύοντες τῶν κλήρων ἀλλὰ τύποι γινόμενοι τοῦ ποιμνίου.

“gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, bukan dengan paksa, melainkan dengan sukarela sesuai kehendak Allah; jangan karena mau mencari untung, melainkan dengan pengabdian; jangan pula seperti orang yang mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, melainkan menjadi teladan bagi kawanan domba itu.” (terjemahan bebas)

Nasihat Petrus kepada para penatua (5:1–4) memakai gambaran gembala (ποιμήν) dan kawanan domba (ποίμνιον), dengan penekanan yang jelas pada cara memimpin: bukan κατακυριεύοντες (“menguasai, memerintah dengan tangan besi”), melainkan menjadi τύποι (“teladan”) bagi jemaat. Kristus sendiri disebut ἀρχιποίμην (“Gembala Agung”, ay. 4) yang akan memberi mahkota kemuliaan kepada para penatua yang setia menggembalakan dengan cara demikian.

Yudas: Berjuang bagi Kemurnian Iman

Yudas 3 memberi nasihat singkat namun penting bagi kehidupan jemaat: ἐπαγωνίζεσθαι τῇ ἅπαξ παραδοθείσῃ τοῖς ἁγίοις πίστει (“berjuang sungguh-sungguh untuk iman yang telah disampaikan sekali untuk selama-lamanya kepada orang-orang kudus”). Kata ἐπαγωνίζεσθαι menggambarkan perjuangan yang sungguh-sungguh, seperti seorang atlet, untuk memelihara kemurnian iman jemaat dari ajaran-ajaran yang menyimpang — tanggung jawab yang menurut surat ini dipikul bersama oleh seluruh jemaat, bukan hanya para pemimpinnya.

5. Kesatuan Kesaksian tentang Gereja

Bila kesaksian para penulis ini dibandingkan, tampak bahwa gereja dilukiskan melalui gambaran yang beragam namun saling melengkapi. Gereja adalah satu tubuh dengan Kristus sebagai Kepala, terdiri atas banyak anggota yang saling bergantung dan saling merasakan penderitaan maupun sukacita. Gereja adalah bait dan bangunan rohani, tempat Allah berdiam oleh Roh-Nya. Gereja adalah keluarga dan rumah tangga Allah, tempat orang percaya dari latar belakang yang berbeda menjadi kawan sewarga dan anggota keluarga yang sama. Gereja adalah umat yang berziarah menuju Yerusalem sorgawi, dan imamat yang kudus yang dipanggil mempersembahkan ibadah kepada Allah.

Ringkasan teks kunci
Gereja sebagai satu tubuh dengan Kristus sebagai Kepala
Rm. 12:4–5; 1 Kor. 12:12–27; Ef. 1:22–23; 4:15–16; Kol. 1:18
Gereja sebagai bait/bangunan Allah
1 Kor. 3:9, 16–17; Ef. 2:19–22; 1 Pet. 2:5
Gereja sebagai keluarga/rumah tangga Allah
Ef. 2:19; 1 Tim. 3:15
Gereja sebagai mempelai Kristus
Ef. 5:23–32
Gereja sebagai umat yang berziarah
Ibr. 3–4; 12:22–23
Gereja sebagai imamat am orang percaya
1 Pet. 2:5, 9
Kualifikasi dan cara memimpin jemaat
1 Tim. 3:1–13; Tit. 1:5–9; 1 Pet. 5:1–4
Kesatuan yang melampaui perbedaan
Gal. 3:28
Perempuan turut berdoa dan bernubuat dalam ibadah jemaat
1 Kor. 11:4–5

Keragaman gambaran ini tidak menghasilkan pemahaman yang terpecah tentang gereja, melainkan satu kesaksian bersama: gereja adalah umat yang dipanggil Allah di dalam Kristus, disatukan oleh Roh, dan dipanggil hidup dalam kesatuan, kekudusan, dan pelayanan timbal balik sebagai tubuh Kristus di dunia.

6. Istilah Yunani Kunci

Daftar ini merangkum istilah Yunani yang paling sering menentukan penafsiran tentang hakikat dan tata kehidupan gereja dalam surat-surat.

Istilah Yunani kunci
ἐκκλησία (umum)
“Jemaat, kumpulan yang dipanggil keluar”: istilah dasar bagi gereja dalam Perjanjian Baru.
σῶμα Χριστοῦ (Rm. 12:5; 1 Kor. 12:27; Ef. 1:23)
“Tubuh Kristus”: gambaran kesatuan organik jemaat dengan Kristus sebagai Kepala.
κεφαλή (Ef. 1:22; 4:15; 5:23; Kol. 1:18)
“Kepala”: Kristus yang memerintah dan memberi hidup kepada tubuh-Nya, yaitu jemaat.
ναός, οἰκοδομή (1 Kor. 3:9, 16; Ef. 2:21)
“Bait, bangunan”: gambaran jemaat sebagai tempat kediaman Allah oleh Roh.
οἶκος θεοῦ, οἰκεῖοι (1 Tim. 3:15; Ef. 2:19)
“Rumah/keluarga Allah”: gambaran jemaat sebagai anggota keluarga Allah.
συμπολῖται (Ef. 2:19)
“Kawan sewarga”: gambaran kewargaan bersama dalam kerajaan Allah.
πλήρωμα (Ef. 1:23; 4:13)
“Kepenuhan”: jemaat sebagai kepenuhan Kristus, dan tujuan pertumbuhan jemaat menuju kepenuhan itu.
ἐπίσκοπος (1 Tim. 3:1–7; Tit. 1:7)
“Penilik jemaat”: dipakai secara sejajar dengan πρεσβύτερος dalam Perjanjian Baru.
πρεσβύτερος (1 Tim. 5:17; Tit. 1:5; Yak. 5:14; 1 Pet. 5:1)
“Penatua”: pemimpin jemaat, sebutan yang sejajar dengan ἐπίσκοπος.
διάκονος (1 Tim. 3:8–13)
“Diaken/pelayan”: jabatan pelayanan jemaat dengan kualifikasi tersendiri.
ποιμήν, ποίμνιον (1 Pet. 5:1–4; Ef. 4:11)
“Gembala, kawanan domba”: gambaran kepemimpinan jemaat yang melayani, bukan menguasai.
ἱεράτευμα (1 Pet. 2:5, 9)
“Imamat”: seluruh umat percaya dipanggil sebagai imamat yang kudus dan rajani.
αὐθεντεῖν (1 Tim. 2:12)
“Memegang/menyalahgunakan otoritas”: kata langka yang menjadi pusat perdebatan peran perempuan dalam jemaat.
λαλέω (1 Kor. 14:34–35; bdk. Yoh. 4:27)
“Berbicara, bercakap-cakap”: kata kerja umum, bukan nama karunia rohani; maknanya diperdebatkan dalam larangan “berbicara” bagi perempuan.
εὐσέβεια (1 Tim. 2:2; 3:16; 4:7–8; 6:3, 5–6, 11)
“Kesalehan hidup”: salah satu kata kunci yang menyusun struktur teologi dan etika 1 Timotius secara keseluruhan.
7. Penerapan bagi Kehidupan dan Pelayanan
Pertama — Menghargai Keragaman Anggota Tubuh

1 Korintus 12:14–26 mengajarkan bahwa keragaman fungsi dan karunia dalam jemaat bukan sumber perpecahan, melainkan kekayaan yang dirancang Allah sendiri. Pelayan jemaat perlu secara aktif menumbuhkan budaya yang menghargai peran setiap anggota, termasuk mereka yang pelayanannya tidak menonjol secara publik, sebagai bagian yang sama pentingnya dari satu tubuh.

Kedua — Kepemimpinan sebagai Pelayanan, Bukan Penguasaan

1 Petrus 5:2–3 menegaskan bahwa memimpin jemaat berarti menjadi teladan, bukan menguasai dengan tangan besi (κατακυριεύοντες). Prinsip ini penting dipegang dalam pembinaan calon pelayan dan penatua, agar kepemimpinan gerejawi tidak jatuh pada pola kekuasaan duniawi, melainkan tetap mengikuti pola Gembala Agung, Kristus sendiri.

Ketiga — Menjaga Kesatuan di Tengah Perbedaan Penafsiran

Perdebatan tentang tata jabatan gereja dan peran perempuan dalam pelayanan menunjukkan bahwa penafsir yang sama-sama setia pada Kitab Suci dapat sampai pada kesimpulan berbeda. Pelayan jemaat perlu belajar membedakan pokok-pokok yang menjadi inti iman (seperti kesatuan dalam Gal. 3:28 dan keilahian Kristus) dari pokok-pokok yang memerlukan kerendahan hati dan penghormatan terhadap perbedaan pandangan yang sah di antara jemaat dan denominasi.

Keempat — Memelihara Persekutuan dan Kemurnian Iman Bersama

Ibrani 10:24–25 dan Yudas 3 sama-sama menekankan tanggung jawab bersama jemaat, bukan hanya pemimpin, untuk saling menasihati dan berjuang memelihara kemurnian iman. Program pembinaan jemaat dan Pendidikan Agama Kristen perlu secara sengaja menumbuhkan kebiasaan persekutuan yang hidup dan kepedulian aktif antaranggota, bukan sekadar kehadiran pasif dalam ibadah.

Penutup

Gereja dalam surat-surat Perjanjian Baru adalah umat Allah yang disatukan di dalam Kristus oleh Roh Kudus, dilukiskan melalui gambaran tubuh, bait, keluarga, mempelai, dan umat yang berziarah — masing-masing menyingkapkan segi yang berbeda dari satu kenyataan yang sama. Kesatuan jemaat yang melampaui perbedaan etnis, sosial, dan gender (Gal. 3:28) berjalan bersama dengan tata kehidupan yang teratur, kepemimpinan yang melayani, dan tanggung jawab bersama untuk memelihara kemurnian iman. Karya Kristus dan Roh Kudus yang telah dibahas dalam Pelajaran-Pelajaran sebelumnya menemukan wujud nyatanya dalam persekutuan gereja sebagai tubuh Kristus di dunia, yang menantikan penggenapan penuh pada kedatangan-Nya kembali — tema yang akan dibahas dalam Pelajaran Eskhatologi.

Kepustakaan

Banks, Robert J. Paul’s Idea of Community: The Early House Churches in Their Historical Setting. Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1980.

Carson, D. A. Showing the Spirit: A Theological Exposition of 1 Corinthians 12–14. Grand Rapids, MI: Baker, 1987.

Fee, Gordon D. The First Epistle to the Corinthians. New International Commentary on the New Testament. Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1987.

Grudem, Wayne. Evangelical Feminism and Biblical Truth: An Analysis of More Than 100 Disputed Questions. Sisters, OR: Multnomah, 2004.

Keener, Craig S. 1–2 Corinthians. New Cambridge Bible Commentary. Cambridge: Cambridge University Press, 2005.

———. “Learning in the Assemblies: 1 Corinthians 14:34–35.” In Discovering Biblical Equality: Complementarity without Hierarchy, edited by Ronald W. Pierce and Rebecca Merrill Groothuis. Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 2004.

———. Paul, Women, and Wives: Marriage and Women’s Ministry in the Letters of Paul. Peabody, MA: Hendrickson, 1992.

Köstenberger, Andreas J. “The Syntax of 1 Timothy 2:12: A Rejoinder to Philip B. Payne.” Journal for Biblical Manhood and Womanhood 14, no. 2 (2009): 37–45.

Lightfoot, J. B. Saint Paul’s Epistle to the Philippians. Rev. ed. London: Macmillan, 1913.

Minear, Paul S. Images of the Church in the New Testament. Philadelphia: Westminster, 1960.

Payne, Philip B. Man and Woman, One in Christ: An Exegetical and Theological Study of Paul’s Letters. Grand Rapids, MI: Zondervan, 2009.

Towner, Philip H. The Goal of Our Instruction: The Structure of Theology and Ethics in the Pastoral Epistles. Journal for the Study of the New Testament Supplement Series 34. Sheffield: JSOT Press, 1989.

Witherington, Ben, III. Conflict and Community in Corinth: A Socio-Rhetorical Commentary on 1 and 2 Corinthians. Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1995.

Bahan Kuliah Teologi Perjanjian Baru 2 (DTh-137.206) · Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan