Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

xpb1-05

STT Kalimantan
S1 Teologi & S1 Pendidikan Agama Kristen

Eksposisi Perjanjian Baru 1

Matius · Markus · Lukas · Yohanes · Kisah Para Rasul
PERTEMUAN 5
Analisis Mendalam – Injil Lukas: Perumpamaan Keselamatan & Perjalanan Yesus menuju Yerusalem

Kembali ke Silabus

✝️ Topik Pertemuan
Yesus Sang Pencari dan Penebus: Kaum Terhilang dan Tersisih dalam Lukas 15, 19, dan 24
Perikop Fokus:
Lukas 15 (Tiga Perumpamaan Keselamatan) — 75 menit
Lukas 19:1–10 (Zakheus); Lukas 24 (Emaus & Kebangkitan) — 75 menit

📌 Posisi dalam Kurikulum:
Pertemuan ini melanjutkan Pertemuan 4 (pengantar Lukas–Kisah) dengan menyelami dua tema khas Lukas: perhatian bagi yang terhilang dan tersisih, serta perjalanan menuju Yerusalem. Mahasiswa diharapkan telah mengenal struktur Lukas dan motif “jalan” dari Pertemuan 3 sebagai dasar untuk membaca perikop-perikop ini.

I. Kerangka: Perjalanan ke Yerusalem dan Meja Makan

Lukas 9:51 menandai poros struktural Injil ini: Yesus “menetapkan wajah-Nya untuk pergi ke Yerusalem.” Sepanjang perjalanan itu (9:51–19:44), Lukas menyusun banyak bahan khasnya—termasuk Lukas 15 dan kisah Zakheus. Kedua perikop ini berada di dalam bingkai yang sama: Yesus makan bersama orang berdosa, dan pihak yang “bersungut-sungut” mempersoalkannya (15:1–2; 19:7). Pertemuan ini menutup dengan Lukas 24, ketika perjalanan itu mencapai puncaknya di kubur kosong dan di meja Emaus.1

Sitz im Leben Peristiwa
Yesus menerima pemungut cukai dan orang berdosa di meja makan—tindakan yang di mata kaum Farisi dan ahli Taurat menajiskan dan memalukan.
Sitz im Buch
Lukas 15 mengikuti pengajaran tentang harga pemuridan (14:25–35); Zakheus (19:1–10) menutup perjalanan menuju Yerusalem; Lukas 24 menjembatani Injil dengan Kisah Para Rasul.
Sitz im Leben Pembaca Asli
Jemaat Gentil dan kaum tersisih di sekitar Teofilus memerlukan jaminan bahwa mereka termasuk dalam kabar baik tentang Yesus.
II. Eksegesis Lukas 15 – Tiga Perumpamaan Keselamatan

A. Konteks: Bersungut-sungut di Meja (15:1–3)

Perikop dibuka dengan tuduhan kaum Farisi dan ahli Taurat. Perhatikan bahwa Lukas 15:3 memakai kata “perumpamaan” dalam bentuk tunggal: tiga cerita ini dimaksudkan sebagai satu jawaban atas satu keberatan.

οὗτος ἁμαρτωλοὺς προσδέχεται καὶ συνεσθίει αὐτοῖς.
Luk. 15:2, teks Yunani sumber: SBLGNT

“Orang ini menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.”

B. Pola Paralel dan Peningkatan

1. Domba yang Hilang (15:4–7)
Satu dari seratus; gembala pergi mencari sampai menemukan; sukacita di sorga atas satu orang berdosa yang bertobat.
2. Dirham yang Hilang (15:8–10)
Satu dari sepuluh; perempuan mencari dengan teliti; sukacita di hadapan malaikat-malaikat Allah. Lukas kerap memasangkan tokoh laki-laki dan perempuan.
3. Anak yang Hilang (15:11–32)
Satu dari dua; sang ayah menanti dan berlari; pesta sukacita—tetapi cerita berhenti sebelum sang kakak memutuskan.

Bagian yang hilang meningkat (1/100 → 1/10 → 1/2) dan kehilangan menjadi semakin relasional. Refrain sukacita (15:6, 7, 9, 10, 23, 24, 32) mengikat ketiganya.1

C. Perumpamaan Anak yang Hilang (15:11–32)

Kenneth Bailey menekankan latar budaya Timur Tengah: permintaan warisan semasa ayah hidup adalah penghinaan berat, dan seorang ayah terhormat yang berlari menyongsong anaknya melepaskan martabatnya demi rekonsiliasi.2 N. T. Wright membaca kisah ini pada tingkat yang lebih luas sebagai cerita tentang pembuangan dan kepulangan Israel—sehingga sikap sang kakak mencerminkan mereka yang menolak kepulangan itu terjadi bersama orang-orang “yang salah.”3

Detail teks: Di 15:30 sang kakak berkata “anak Bapa ini” (ὁ υἱός σου οὗτος), menolak mengakui hubungan darah; di 15:32 sang ayah mengoreksi: “adikmu ini” (ὁ ἀδελφός σου οὗτος). Akhir yang terbuka mengembalikan pertanyaan kepada para penuduh di 15:1–2.
III. Eksegesis Lukas 19:1–10 – Zakheus

Zakheus adalah “kepala pemungut cukai” (ἀρχιτελώνης, kata yang hanya muncul di sini dalam Perjanjian Baru) dan kaya, di Yerikho—titik terakhir sebelum Yesus mendaki ke Yerusalem. Inisiatif ada pada Yesus: “hari ini Aku harus menumpang di rumahmu” (19:5; δεῖ menandakan keharusan ilahi). Bersungut-sungut muncul lagi (19:7, διεγόγγυζον), membentuk inklusio dengan 15:2.

ἦλθεν γὰρ ὁ υἱὸς τοῦ ἀνθρώπου ζητῆσαι καὶ σῶσαι τὸ ἀπολωλός.
Luk. 19:10, teks Yunani sumber: SBLGNT

“Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”

Ayat 19:8 memakai kata kerja bentuk sekarang (“aku memberikan…, aku mengembalikan…”). Penafsir berbeda: apakah ini kebiasaan Zakheus yang sudah berjalan (pembelaan diri), atau tekad pertobatan yang baru?4 Apa pun pilihannya, pernyataan “hari ini keselamatan telah datang ke rumah ini” (19:9) menunjukkan bahwa keselamatan bersifat relasional dan sosial: Zakheus dipulihkan sebagai “anak Abraham.”5

Kaitan dengan Pertemuan 3: Markus 10:45 menyatakan Anak Manusia datang “untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan.” Lukas tidak memuat perikop paralelnya, dan justru menutup perjalanan menuju Yerusalem dengan rumusan “mencari dan menyelamatkan” (19:10). Perbedaan penekanan redaksional ini menarik untuk dikaji (lihat tugas A1).
IV. Eksegesis Lukas 24 – Kebangkitan dan Emaus

A. Kubur Kosong (24:1–12)

Perempuan-perempuan mendapati batu terguling dan menerima pesan malaikat. Berbeda dengan Markus 16:8, mereka menyampaikan berita itu—tetapi para rasul menganggapnya “omong kosong” (24:11).

B. Jalan ke Emaus (24:13–35)

Dua murid meninggalkan Yerusalem sambil membicarakan “semua yang terjadi.” Yesus berjalan bersama mereka, tetapi mata mereka “tertahan” (24:16). Motif “jalan” (ὁδός) dari Pertemuan 3 kembali: di sini Yesus menjadi teman seperjalanan yang menjelaskan Kitab Suci “mulai dari Musa dan segala nabi” (24:27). Ada dua momen pembukaan: Kitab Suci dibukakan (διήνοιγεν, 24:32) dan mata dicelikkan (διηνοίχθησαν, 24:31) saat Ia memecah roti.6

καὶ ὡς ἐγνώσθη αὐτοῖς ἐν τῇ κλάσει τοῦ ἄρτου.
Luk. 24:35 (bagian akhir), teks Yunani sumber: SBLGNT

“…dan bagaimana Ia dikenal oleh mereka pada waktu Ia memecah-mecahkan roti.”

C. Penampakan dan Pengutusan (24:36–53)

Yesus makan ikan di hadapan mereka (24:42–43), membuka pikiran mereka untuk memahami Kitab Suci (24:45), dan mengutus mereka: pertobatan dan pengampunan dosa diberitakan “kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem” (24:47). Kisah kenaikan (24:50–53) menjadi pintu masuk ke Kisah Para Rasul 1 pada Pertemuan 6.

V. Sintesis: Yesus yang Mencari dan Duduk Makan

Ketiga perikop membentuk satu alur: Yesus mencari (Luk. 15), Yesus menyelamatkan yang hilang (19:10), dan Yesus yang bangkit tetap hadir di meja bersama murid (24). Meja makan adalah tempat penyingkapan identitas dan pemulihan relasi di seluruh Injil ini.

Pesta bagi yang pulang (15:23–24)
Sukacita ilahi berwujud perjamuan.
Rumah Zakheus (19:5–9)
Keselamatan datang melalui tumpangan dan persekutuan.
Roti di Emaus (24:30–35)
Yang bangkit dikenal dalam pemecahan roti.
Aplikasi: Pertanyaan bagi pelayan gereja: apakah meja kita lebih menyerupai ruang tempat orang bersungut-sungut, atau pesta sang bapa?
VI. Penugasan

Tugas Terstruktur

1. Tabel Tiga Perumpamaan: Susun tabel perbandingan Lukas 15:4–32: yang hilang, pencari, cara menemukan, ungkapan sukacita, dan respons pihak lain. Tandai unsur yang berkembang dari perumpamaan ke perumpamaan.
2. Peta Motif Makan: Telusuri Lukas 15, 19:1–10, dan 24:13–43. Catat setiap adegan makan, siapa yang hadir, dan apa yang terungkap pada adegan itu.

Tugas Mandiri (Pilih Satu dari 10)

Mahasiswa S1 Teologi memilih satu dari Kelompok A; mahasiswa S1 PAK memilih satu dari Kelompok B. Boleh memilih dari kelompok lain apabila berminat.

🎓 KELOMPOK A — S1 TEOLOGI (Berbasis Eksegesis)
A1. Redaksi Markus 10:45 dan Lukas 19:10: Bandingkan soteriologi kedua ayat. Mengapa Lukas tidak memuat perikop paralel Markus 10:35–45?
A2. Kesatuan Lukas 15: Argumentasikan mengapa 15:3 memakai “perumpamaan” tunggal dan implikasinya bagi penafsiran akhir cerita.
A3. Lukas 19:8: Bandingkan pembacaan “kebiasaan” dan “tekad” atas kata kerja bentuk sekarang, dengan sedikitnya dua sumber ilmiah, lalu nyatakan posisi Anda.
A4. Anak Hilang dan Pembuangan: Evaluasi pembacaan N. T. Wright atas Lukas 15:11–32 sebagai narasi kepulangan Israel.
A5. Hermeneutika Emaus: Analisis Lukas 24:25–27, 44–47: bagaimana Yesus membaca Kitab Suci, dan apa kaitannya dengan kristologi Lukas–Kisah?
📗 KELOMPOK B — S1 PAK (Aplikasi Pastoral dan Pendidikan)
B1. Cerita Interaktif: Rancang pengajaran Sekolah Minggu tentang domba yang hilang dengan pertanyaan yang mengajak anak merasakan sukacita menemukan.
B2. Studi Kasus Sang Kakak: Susun bahan diskusi pemuda tentang sikap kakak sulung dalam Lukas 15:25–32 dan “kakak sulung” di gereja masa kini.
B3. Zakheus untuk Remaja: Susun bahan pemuridan tentang pertobatan yang berbuah keadilan sosial (Luk. 19:8).
B4. Pelayanan Meja: Rancang program keramahtamahan gereja berdasarkan pola makan bersama dalam Lukas.
B5. Katekisasi Emaus: Buat bahan katekisasi tentang kehadiran Kristus dalam Firman dan Perjamuan berdasarkan Lukas 24:13–35.
VII. Pertanyaan Diskusi Kelas
1.Mengapa Lukas menyusun tiga perumpamaan dengan pola peningkatan, dan apa yang hilang jika hanya Anak yang Hilang yang dibaca sendirian?
2.Siapa “kakak sulung” dalam konteks gereja dan masyarakat Indonesia masa kini? Bagaimana perumpamaan ini menegur sekaligus mengundang mereka?
3.Apakah pertobatan Zakheus mendahului atau mengikuti penerimaan Yesus? Apa implikasinya bagi pemberitaan Injil?
4.Mengapa Lukas menempatkan pengenalan akan Kristus pada pemecahan roti dan pembukaan Kitab Suci? Apa artinya bagi ibadah kita?

📚 Catatan Kaki

1 Joel B. Green, The Gospel of Luke, New International Commentary on the New Testament (Grand Rapids: Eerdmans, 1997), 568–91.

2 Kenneth E. Bailey, Poet and Peasant and Through Peasant Eyes: A Literary-Cultural Approach to the Parables in Luke (Grand Rapids: Eerdmans, 1983), 158–206.

3 N. T. Wright, Jesus and the Victory of God (Minneapolis: Fortress Press, 1996), 125–31.

4 A. C. Mitchell, “Zacchaeus Revisited: Luke 19,8 as a Defense,” Biblica 71 (1990): 153–76.

5 Joseph A. Fitzmyer, The Gospel According to Luke X–XXIV, Anchor Bible 28A (New York: Doubleday, 1985), 1218–29.

6 Robert C. Tannehill, The Narrative Unity of Luke–Acts: A Literary Interpretation, vol. 1, The Gospel according to Luke (Philadelphia: Fortress Press, 1986), 276–90.

STT Kalimantan · EKS-2101 Eksposisi Perjanjian Baru 1 · Pertemuan 5 · slug: xpb1-05
Exit mobile version