Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

tpb2-Kristologi

Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Teologi Perjanjian Baru II

Keilahian dan Inkarnasi Yesus Kristus
Surat-surat Paulus, Ibrani, Yakobus, Petrus, dan Yudas
Teologi Perjanjian Baru 2 (DTh-137.206)
Pdt. D. Horatius Herman, M.Th.

Soal-soal Pendalaman dan Esai

Petunjuk: ketuk judul setiap bagian untuk membuka atau menutup uraiannya. Ketuk angka kecil di atas kata untuk melihat catatan kaki di dasar bagian itu.
Pendahuluan

Teologi Perjanjian Baru 2 melanjutkan penelusuran yang dimulai dalam Teologi Perjanjian Baru 1. Setelah Kristus dinyatakan dalam Injil-injil dan Kisah Para Rasul, surat-surat Perjanjian Baru memperlihatkan bagaimana jemaat mula-mula memberitakan, memahami, dan menghidupi Kristus yang telah bangkit dan ditinggikan. Pertanyaan pokok yang mengarahkan pembahasan Pertemuan ini sederhana tetapi mendasar: siapakah Yesus menurut Paulus dan menurut para penulis surat-surat umum, khususnya menyangkut keilahian dan kemanusiaan-Nya?

Portofolio Akreditasi->o Serif’,serif; font-size: clamp(21px,5.4vw,26px); line-height: 1.75; margin: 0 0 16px; color: #222222; overflow-wrap: break-word;”>Pembahasan Teologi Perjanjian Baru 2 secara keseluruhan disusun secara tematik dalam lima tema, yaitu Kristologi, Soteriologi, Pneumatologi, Ekklesiologi, dan Eskhatologi. Kristologi dibahas lebih dahulu karena keempat tema lainnya bertumpu pada siapa Kristus itu. Namun agar pembahasan tidak tumpang tindih dengan tema-tema berikutnya, Pelajaran ini secara khusus membatasi diri pada dua pokok, yaitu keilahian Kristus — kesaksian bahwa Ia sehakikat dan setara dengan Allah — serta inkarnasi Kristus — kesaksian bahwa Anak Allah yang kekal itu sungguh-sungguh menjadi manusia.

Dua pokok Pelajaran ini
Keilahian Kristus
Ia sehakikat dan setara dengan Allah.
Inkarnasi Kristus
Anak Allah yang kekal itu sungguh-sungguh menjadi manusia.

Setiap pokok ditelusuri melalui tiga kelompok surat: surat-surat awal Paulus, surat-surat penjara, dan Roma; surat-surat Korintus dan surat-surat penggembalaan; serta Ibrani, Yakobus, 1–2 Petrus, dan Yudas. Dengan cara ini kesatuan sekaligus keragaman kesaksian Perjanjian Baru tentang pribadi Kristus dapat terlihat.

1. Latar Diskusi Para Pakar

Perdebatan modern tentang Kristologi surat-surat Perjanjian Baru berkisar pada dua pertanyaan: seberapa awal jemaat memandang Yesus sebagai pribadi ilahi, dan bagaimana pandangan itu dapat berdiri di dalam monoteisme Yahudi. Sejak karya Wilhelm Bousset, Kyrios Christos (1913), banyak sarjana menempatkan penyembahan kepada Yesus sebagai Kyrios pada tahap belakangan, di lingkungan Kristen bukan-Yahudi yang dipengaruhi Helenisme.

Larry Hurtado menantang pandangan itu. Menurutnya, devosi kepada Yesus muncul “amazingly early” (sangat awal), dengan intensitas dan ragam ekspresi yang tidak memiliki padanan sejati di sekitarnya, dan tetap dipahami oleh para pelakunya berada di dalam batas monoteisme Yahudi.1

Richard Bauckham merumuskan tesis yang sejalan dengan istilah “identitas ilahi”. Ia berpendapat bahwa Kristologi paling awal sudah merupakan Kristologi yang tertinggi:

“earliest Christology was already the highest Christology”2

Terjemahan bebas: Kristologi paling awal sudah merupakan Kristologi yang tertinggi.

— Richard Bauckham, Jesus and the God of Israel, x

Menurut Bauckham, Yesus diidentifikasikan langsung dengan Allah tunggal Israel, yang dalam Yudaisme Bait Allah Kedua dicirikan sebagai satu-satunya Pencipta dan satu-satunya Penguasa atas segala sesuatu.3

Sebaliknya, James Dunn menyelidiki asal-usul doktrin inkarnasi dan menilai bahwa teks-teks yang lazim dibaca sebagai kesaksian praeksistensi tidak dengan sendirinya menuntut pembacaan itu. Nyanyian Flp. 2:6–11, misalnya, dibacanya dalam kerangka Kristologi Adam:

“best understood as an expression of Adam Christology”4

Terjemahan bebas: paling tepat dipahami sebagai ungkapan Kristologi Adam.

— James D. G. Dunn, Christology in the Making, 114–15

N. T. Wright menempuh jalan yang berbeda dari keduanya: ia pun membaca nyanyian itu dalam terang tema Adam, tetapi tetap mempertahankan praeksistensi Kristus.5

Peta posisi para pakar
Larry W. Hurtado
Devosi kepada Yesus muncul sangat awal dan tetap berada di dalam kerangka monoteisme Yahudi.
Richard Bauckham
Sejak Kristologi paling awal, Yesus termasuk dalam identitas ilahi Allah tunggal Israel.
James D. G. Dunn
Flp. 2:6–11 paling tepat dibaca sebagai Kristologi Adam; teks itu tidak dengan sendirinya membuktikan praeksistensi.
N. T. Wright
Tema Adam dalam Flp. 2:6–11 tidak meniadakan praeksistensi Kristus.

Pelajaran ini mengikuti pembacaan yang melihat Kristus termasuk di dalam identitas Allah Israel sejak surat-surat yang paling awal, sambil memperhitungkan keberatan Dunn pada bagian yang relevan, terutama Flp. 2:5–8.

Catatan Kaki

1. Larry W. Hurtado, Lord Jesus Christ: Devotion to Jesus in Earliest Christianity (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 2003), 2–3. ↩

2. Richard Bauckham, Jesus and the God of Israel: God Crucified and Other Studies on the New Testament’s Christology of Divine Identity (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 2008), x. ↩

3. Ibid., 1–59. ↩

4. James D. G. Dunn, Christology in the Making: An Inquiry into the Origins of the Doctrine of the Incarnation, 2nd ed. (London: SCM, 1989), 114–15. ↩

5. N. T. Wright, The Climax of the Covenant: Christ and the Law in Pauline Theology (Minneapolis: Fortress, 1992), 56–98. ↩

2. Surat-surat Awal Paulus, Surat-surat Penjara, dan Roma

Keilahian dan Inkarnasi Kristus dalam Surat-surat Awal Paulus, Surat-surat Penjara, dan Roma

Galatia dan Tesalonika

Paulus, dalam Galatia, bersaksi bahwa Allah mengutus Anak-Nya, lahir dari seorang perempuan dan lahir di bawah hukum Taurat (Gal. 4:4–5). Ungkapan “mengutus Anak-Nya” — bukan “menciptakan” atau “membangkitkan seorang anak” — menunjukkan bahwa Paulus memikirkan Kristus sebagai pribadi yang telah ada sebelum kelahiran-Nya di dunia dan yang diutus oleh Bapa untuk mengambil rupa manusia sepenuhnya: lahir dari perempuan seperti manusia lain, dan lahir di bawah Taurat sebagai orang Yahudi sejati. Ayat ini menjadi salah satu kesaksian paling awal tentang inkarnasi: Anak Allah yang praeksisten sungguh-sungguh menjadi manusia dalam sejarah.

Teks Kunci — Gal. 4:4

ὅτε δε ἦλθεν το πλήρωμα τοῦ χρονου, ἐξαπέστειλεν ὁ θεος τον υἱον αὐτοῦ, γενομενον ἐκ γυναικός, γενόμενον ὑπο νόμον

“Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan, yang lahir di bawah hukum Taurat.”

Kata kerja ἐξαπέστειλεν (“mengutus keluar”) mendahului dua partisip γενόμενον (“menjadi/lahir”): subjek yang diutus sudah ada sebelum ia “menjadi” manusia dan “menjadi” orang di bawah Taurat.

Surat-surat kepada jemaat di Tesalonika, tulisan Paulus yang paling awal, menampilkan Kristus sebagai Anak Allah yang telah dibangkitkan dari antara orang mati (1 Tes. 1:10). Kebangkitan ini menjadi peneguhan atas kedudukan-Nya sebagai Anak Allah (kesaksian tentang kedatangan-Nya kembali dari sorga akan diuraikan dalam Pelajaran Eskhatologi). Yang patut dicatat ialah bahwa sejak surat-surat yang paling awal ini, Paulus sudah menerapkan sebutan “Tuhan” (Κύριος) — gelar yang dalam Perjanjian Lama Yunani (Septuaginta) dipakai untuk menerjemahkan nama YHWH — kepada Yesus.

Efesus dan Kolose

Kolose memuat salah satu pernyataan Kristologis yang paling padat dalam Perjanjian Baru (Kol. 1:15–20). Kristus adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung dari segala ciptaan. Sebutan “sulung” (πρωτότοκος) di sini menyatakan keutamaan dan kedaulatan atas ciptaan, bukan bahwa Kristus adalah makhluk pertama yang diciptakan, sebab ayat berikutnya menegaskan bahwa segala sesuatu diciptakan di dalam Dia, oleh Dia, dan untuk Dia — suatu peran yang dalam Perjanjian Lama hanya dimiliki oleh Allah sendiri.

Pola argumen yang sama berlaku pada sebutan Kristus sebagai ἡ ἀρχή τῆς κτίσεως τοῦ θεοῦ, “permulaan/sumber dari ciptaan Allah” (Why. 3:14, di luar korpus Pertemuan ini). Karena κτίσεως berbentuk genitif dan bukan nominatif yang beroposisi dengan ἀρχή, frasa ini secara tata bahasa menunjuk Kristus sebagai asal-mula atau sumber penciptaan, bukan sebagai makhluk pertama yang termasuk di dalam ciptaan — paralel dengan pembacaan πρωτότοκος di atas.

Sebutan “gambar Allah yang tidak kelihatan” (εἰκων τοῦ θεοῦ τοῦ ἀοράτου, Kol. 1:15; bdk. 2 Kor. 4:4) berarti bahwa Allah yang tidak kelihatan menjadi dikenal di dalam Kristus. Kol. 1:19 menambahkan bahwa seluruh kepenuhan (πᾶν τo πλήρωμα) berkenan diam (κατοικῆσαι) di dalam Dia.

Paulus menegaskannya lagi dalam Kol. 2:9: di dalam Kristus berdiam seluruh kepenuhan ke-Allahan (θεότης) secara jasmaniah (σωματικῶς). Kata “jasmaniah” di sini menyatukan kedua pokok Pelajaran ini sekaligus: keilahian penuh Kristus (seluruh kepenuhan ke-Allahan) hadir dalam tubuh manusia yang nyata (secara jasmaniah) — itulah inkarnasi.

Filipi 2:5–8 — Gerak Turun: μορφη Θεοῦ dan μορφην δούλου

Nyanyian Kristologis dalam Flp. 2:5–11 menghadirkan gerak turun dan naik yang menjadi teks kunci bagi kedua pokok Pelajaran ini. Kristus, yang dalam rupa Allah (μορφῇ Θεοῦ), tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan mengosongkan diri (κένωσις), mengambil rupa seorang hamba (μορφην δούλου), dan menjadi sama dengan manusia. Sebagian besar penafsir membaca ayat 6 sebagai pernyataan praeksistensi: kesetaraan dengan Allah sudah dimiliki sebelum inkarnasi, tetapi tidak dipakai untuk keuntungan diri.

Teks Kunci — Flp. 2:6–8

ὃς ἐν μορφῇ θεοῦ ὑπάρχων οὐχ ἁρπαγμoν ἡγήσατο τo εἶναι ἴσα θεῷ, ἀλλα ἑαυτoν ἐκένωσεν μορφην δούλου λαβών, ἐν ὁμοιώματι ἀνθρώπων γενόμενος· και σχήματι εὑρεθεις ὡς ἄνθρωπος ἐταπείνωσεν ἑαυτoν γενόμενος ὑπήκοος μέχρι θανάτου, θανάτου δε σταυροῦ.

“yang ada dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai sesuatu untuk dimanfaatkan bagi diri sendiri, melainkan telah mengosongkan diri-Nya dengan mengambil rupa hamba, menjadi sama dengan manusia; dan didapati dalam wujud manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, dan mati di salib.” (terjemahan bebas)

Beberapa istilah dalam bagian ini menentukan seluruh penafsiran dan perlu diperhatikan satu per satu:

Istilah Yunani dalam Flp. 2:6–8
ἐν μορφῇ θεοῦ ὑπάρχων (ay. 6a)
Partisip present ὑπάρχων menyatakan keadaan yang sudah ada dan berlangsung, mendahului tindakan-tindakan yang dinyatakan kata kerja berikutnya (ἡγήσατο, ἐκένωσεν). Inilah dasar gramatika bagi pembacaan praeksistensi.
οὐχ ἁρπαγμoν ἡγήσατο (ay. 6b)
Kata ἁρπαγμός jarang dipakai. Pokok perdebatan: apakah kesetaraan itu sesuatu yang belum dimiliki dan hendak direbut, ataukah sesuatu yang sudah dimiliki tetapi tidak dipakai demi keuntungan diri. Banyak penafsir memilih makna kedua (lihat uraian di bawah).
τo εἶναι ἴσα θεῷ (ay. 6b)
“Kesetaraan dengan Allah.” Bentuk ἴσα (netral jamak, dipakai sebagai keterangan) menyatakan keadaan yang setara.
ἑαυτoν ἐκένωσεν (ay. 7a)
“Mengosongkan diri-Nya sendiri.” Teks tidak menyatakan bahwa Kristus berhenti menjadi Allah; cara pengosongan itu dijelaskan oleh partisip berikutnya, λαβών (“dengan mengambil”).
μορφην δούλου λαβών (ay. 7b)
“Dengan mengambil rupa hamba.” Kata μορφή sama dengan ay. 6, sehingga kedua ungkapan saling menjelaskan: sebagaimana Kristus sungguh berada dalam rupa Allah, Ia sungguh mengambil kedudukan seorang hamba (δοῦλος), status sosial terendah dalam dunia Yunani-Romawi, yang pada ay. 11 berhadapan dengan gelar Κύριος. Sebagian penafsir mendengar gema Hamba Tuhan dalam Yes. 52:13–53:12; hal itu diperdebatkan.
ἐν ὁμοιώματι ἀνθρώπων γενόμενος (ay. 7c)
“Menjadi sama dengan manusia.” Partisip γενόμενος (dari γίνομαι, “menjadi”) menunjukkan perubahan keadaan yang nyata; ὁμοιώματι  bentuk dative dari ὁμοίωμα menyatakan keserupaan yang sungguh (bdk. Rm. 8:3), bukan kemanusiaan yang semu.
σχήματι εὑρεθεις ὡς ἄνθρωπος (ay. 8a)
“Didapati dalam wujud sebagai manusia.” Kata σχῆμα menunjuk penampilan lahiriah yang dapat dikenali: Kristus tampil dan dikenali sebagai manusia sepenuhnya. Ketaatan sampai mati (ὑπήκοος μέχρι θανάτου) memperlihatkan bahwa kemanusiaan itu sungguh dapat mati.

Perdebatan tentang ἁρπαγμός sangat menentukan. Roy Hoover meneliti pemakaian ungkapan “menganggap sesuatu sebagai ἁρπαγμός” dan menyimpulkan bahwa yang dimaksud ialah sesuatu yang sudah dimiliki tetapi tidak dipakai demi keuntungan diri.6 N. T. Wright mengikuti kesimpulan itu dan menambahkan bahwa justru karena Kristus ada dalam rupa Allah, penolakan-Nya untuk memanfaatkan kesetaraan itu menyingkapkan watak Allah sendiri.7

Gordon Fee, untuk kata kerja ἐκένωσεν, menekankan pemakaian metaforis: kata itu ditempatkan berlawanan dengan “kemuliaan yang sia-sia” (κενοδοξία) dalam ay. 3, dan berfungsi seperti metafora “menjadi miskin” dalam 2 Kor. 8:9.8

“to become powerless, or to be emptied of significance”9

Terjemahan bebas: menjadi tidak berdaya, atau dikosongkan dari kedudukan yang penting.

— Gordon D. Fee, tentang kata kerja κενόω dalam Flp. 2:7

Dunn menjadikan paralel Adam–Kristus sebagai kunci pembacaannya: Adam gagal karena ingin menjadi seperti Allah, sedangkan Kristus menolak merebut kesetaraan dengan Allah dan taat sampai mati.10 Wright memelihara tema Adam itu, tetapi tanpa menyingkirkan praeksistensi.11

Bagi kedua pokok Pelajaran ini, μορφην δούλου λαβών merupakan salah satu rumusan inkarnasi yang paling tajam dalam Perjanjian Baru. Pribadi yang sama yang ada dalam rupa Allah kini mengambil rupa hamba; subjek tindakan itu tidak berganti, dan kemanusiaan yang diambil-Nya bukan penampakan semu, sebab berujung pada kematian di salib. Dengan demikian Flp. 2:6–8 menyatukan keilahian yang sudah ada (ay. 6) dan inkarnasi yang nyata (ay. 7–8) dalam satu rangkaian tindakan.

Filipi 2:9–11 — Gerak Naik: Yes. 45:23

Setelah taat sampai mati di kayu salib, Allah meninggikan Dia dan menganugerahkan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya setiap lutut bertelut dan setiap lidah mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan. Bahasa ini menggemakan Yes. 45:23, di mana sumpah itu diucapkan oleh YHWH sendiri bahwa hanya kepada-Nyalah setiap lutut akan bertelut — kini pengakuan yang sama diarahkan kepada Yesus, kesaksian yang jelas tentang keilahian-Nya.

Struktur Flp. 2:10 memperkuat kesaksian ini. Teks Yunaninya berbunyi:

Teks Kunci — Flp. 2:10

ἵνα ἐν τῷ ὀνόματι Ἰησοῦ πᾶν γόνυ κάμψῃ ἐπουρανίων και ἐπιγείων και καταχθονίων

“supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi.”

Ketiga kata sifat substantif jamak netral ini mencerminkan kosmologi tiga tingkat yang lazim pada zaman itu:

Tiga tingkat dalam Flp. 2:10
ἐπουράνιος — yang di langit, tempat para malaikat dan kuasa-kuasa surgawi.
ἐπίγειος — yang di bumi, tempat manusia hidup, sekaligus tempat Kristus mengambil rupa manusia dalam inkarnasi-Nya.
καταχθόνιος — yang di bawah bumi, tempat/dunia orang mati.

Pengakuan universal yang mencakup seluruh tingkat ciptaan, termasuk kuasa-kuasa surgawi, dalam kerangka monoteisme Yahudi hanya layak ditujukan kepada Allah sendiri. Karena itu, penerapan bahasa Yes. 45:23 yang bersifat kosmis-universal ini kepada Yesus menjadi salah satu kesaksian paling jelas bahwa jemaat mula-mula memasukkan-Nya ke dalam identitas Allah Israel.

Roma

Roma membuka dengan pernyataan bahwa Injil Allah menyangkut Anak-Nya, yang menurut daging (σάρξ, menunjuk kemanusiaan-Nya yang nyata) adalah keturunan Daud, dan yang dalam kuasa ditetapkan sebagai Anak Allah sejak kebangkitan-Nya dari antara orang mati (Rm. 1:3–4). Ayat ini merangkum kedua pokok Pelajaran: kemanusiaan sejati Kristus (“menurut daging,” keturunan Daud) dan keilahian-Nya yang dinyatakan dalam kuasa melalui kebangkitan. Ungkapan “ditetapkan” tidak berarti bahwa Yesus baru menjadi Anak pada saat kebangkitan; yang ditegaskan ialah peninggian-Nya ke dalam kedudukan dan kuasa yang baru, sehingga pandangan adopsionisme tidak sesuai dengan teks ini.

Roma 8:3 menyatakan bahwa Allah mengutus Anak-Nya sendiri “dalam rupa daging yang berdosa” (ἐν ὁμοιώματι σαρκὸς ἁμαρτίας). Rumusan mengutus ini sejajar dengan Gal. 4:4 dan sekali lagi mengandaikan bahwa Anak sudah ada sebelum diutus. Kata ὁμοίωμα — yang juga muncul dalam Flp. 2:7 — menegaskan bahwa Kristus sungguh masuk ke dalam keberadaan manusia yang berada di bawah kuasa dosa, tanpa menjadi orang berdosa.

Paulus juga mengaitkan pengakuan “Yesus adalah Tuhan” (Rm. 10:9) dengan Yl. 2:32: “setiap orang yang berseru kepada nama Tuhan (YHWH) akan diselamatkan.” Kutipan itu diterapkan kepada Kristus dalam Rm. 10:13. Hal serupa tampak dalam 1 Kor. 1:2, yang menggambarkan jemaat sebagai mereka yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus. Berseru kepada nama YHWH adalah tindakan ibadah yang dalam Perjanjian Lama hanya ditujukan kepada Allah.

Roma 9:5 bahkan dapat dibaca sebagai doksologi (pemuliaan) yang ditujukan kepada Kristus sebagai “Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin!” Murray Harris, yang menelaah seluruh teks tempat θεός dikenakan kepada Yesus, menilai pembacaan ini sangat kuat.12 Ada penafsir yang menempatkan tanda baca sedemikian rupa sehingga doksologi itu ditujukan kepada Bapa, tetapi tata kalimat dan konteks Rm. 9:1–5 lebih condong kepada pemuliaan Yesus.13

Pola yang tampak

Dari rangkaian surat ini tampak satu pola: Paulus memperluas pengakuan Israel akan satu Allah sehingga Kristus termasuk di dalam identitas Allah itu, tanpa meninggalkan monoteisme. Teks-teks Perjanjian Lama tentang YHWH diterapkan kepada Yesus (Flp. 2:10–11; Yes. 45:23), sekaligus kemanusiaan-Nya yang sejati ditegaskan (Gal. 4:4; Rm. 1:3). Kristologi Paulus tentang keilahian dan inkarnasi Kristus bukan tambahan yang muncul belakangan; gagasan-gagasan pokoknya sudah hadir dalam surat-surat yang paling awal.

Catatan Kaki

6. Roy W. Hoover, “The Harpagmos Enigma: A Philological Solution,” Harvard Theological Review 64, no. 1 (1971): 95–119. ↩

7. Wright, Climax of the Covenant, 56–98. ↩

8. Gordon D. Fee, Paul’s Letter to the Philippians, New International Commentary on the New Testament (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1995), 211. ↩

9. Ibid. ↩

10. Dunn, Christology in the Making, 114–21. ↩

11. Wright, Climax of the Covenant, 56–98. ↩

12. Murray J. Harris, Jesus as God: The New Testament Use of Theos in Reference to Jesus (Grand Rapids, MI: Baker, 1992), 144–72. ↩

13. Bruce M. Metzger, A Textual Commentary on the Greek New Testament, 2nd ed. (Stuttgart: Deutsche Bibelgesellschaft, 1994), 459–62. ↩

3. Surat-surat Korintus dan Surat-surat Penggembalaan

Keilahian dan Inkarnasi Kristus dalam Surat-surat Korintus dan Surat-surat Penggembalaan

1 Korintus

Dalam 1 Korintus, pernyataan yang paling penting bagi pokok Pelajaran ini terdapat dalam 1 Kor. 8:6: bagi kita hanya ada satu Allah, yaitu Bapa, yang dari-Nya berasal segala sesuatu, dan satu Tuhan, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu dijadikan. Kalimat ini merumuskan ulang Shema (Ul. 6:4) dengan memasukkan Kristus sebagai Κύριος ke dalam pengakuan monoteistik itu, tanpa menambah jumlah Allah. Seruan Aram “Maranatha” pada 1 Kor. 16:22 juga menunjukkan bahwa Yesus sudah disembah dan diseru sebagai Tuhan sejak jemaat yang berbahasa Aram.

Dalam 1 Kor. 2:8, Yesus yang disalibkan disebut “Tuhan yang mulia” (τoν κύριον τῆς δόξης). Sebutan kemuliaan itu dalam Perjanjian Lama dikenakan kepada Allah (misalnya dalam sebutan “Raja kemuliaan” pada Mzm. 24:7–10).

2 Korintus

Dalam 2 Korintus, Kristus adalah gambar Allah, dan terang pengenalan akan kemuliaan Allah bersinar di wajah-Nya (2 Kor. 4:4–6).

Paulus, dalam 2 Kor. 8:9, menulis bahwa Kristus, walaupun kaya, oleh karena jemaat menjadi miskin (ἐπτώχευσεν). Kata kerja aorist itu menunjuk suatu peristiwa yang sudah terjadi dan mengandaikan keadaan “kaya” sebelumnya; dengan demikian ayat ini memuat praeksistensi dan inkarnasi sekaligus.  Fee membandingkan metafora “menjadi miskin” ini dengan “mengosongkan diri” dalam Flp. 2:7.14

Surat-surat Penggembalaan

Surat-surat penggembalaan memberi kesaksian yang jelas tentang inkarnasi. Nyanyian dalam 1 Tim. 3:16 mengumumkan Dia yang dinyatakan dalam rupa manusia (ἐν σαρκί, “di dalam daging”), dibenarkan dalam Roh, dan ditinggikan dalam kemuliaan — sebuah ringkasan yang bergerak dari inkarnasi menuju peninggian. Ada satu Allah dan satu pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus (1 Tim. 2:5), pernyataan yang menegaskan kemanusiaan Kristus yang sungguh-sungguh sekaligus keunikan-Nya sebagai satu-satunya pengantara. Kata ἐπιφάνεια, dalam 2 Timotius, dipakai bagi kedatangan Kristus yang pertama, yaitu inkarnasi-Nya.

Catatan Kritik Teks — 1 Tim. 3:16

Naskah-naskah memuat beberapa bacaan untuk kata pembuka nyanyian ini: ὅς (“yang/Dia yang”), ὅ (relatif netral), dan θεός (“Allah”). Bacaan ὅς umumnya dipandang paling mungkin asli, sehingga nyanyian itu dibuka dengan pronoun relatif seperti nyanyian dalam Flp. 2:6.

Kesaksian inkarnasi — ἐφανερώθη ἐν σαρκί, “dinyatakan dalam daging” — tidak bergantung pada bacaan θεός.

Lihat pembahasan varian ini dalam Metzger.15

Titus 2:13 patut mendapat perhatian khusus bagi pokok keilahian: “dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Yesus Kristus: Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita” (terjemahan gramatikal) frasa “τοῦ μεγάλου θεοῦ και σωτῆρος ἡμῶν” mempunyai satu artikel (τοῦ) yang digunakan bersama oleh dua kata benda (μεγάλου θεοῦ dan σωτῆρος), dan dengan mengingat aturan Granville Sharp, tata bahasa Yunani mendukung pembacaan bahwa kedua kata benda menunjuk kepada satu pribadi, yaitu Yesus Kristus — suatu pengakuan langsung akan keilahian-Nya.16 Harris menilai bahwa penerapan θεός kepada Yesus dalam Tit. 2:13 sangat kuat.17 Kesimpulan yang sama berlaku untuk 2 Pet. 1:1.

Catatan Kaki

14. Fee, Philippians, 211. ↩

15. Metzger, Textual Commentary, 573–74. ↩

16. Daniel B. Wallace, Greek Grammar Beyond the Basics: An Exegetical Syntax of the New Testament (Grand Rapids, MI: Zondervan, 1996), 270–90. ↩

17. Harris, Jesus as God, 173–85. ↩

4. Ibrani, Yakobus, Petrus, dan Yudas

Keilahian dan Inkarnasi Kristus dalam Ibrani, Yakobus, Petrus, dan Yudas

Ibrani

Ibrani dibuka dengan pernyataan bahwa Allah, yang dahulu berbicara melalui para nabi, pada zaman akhir ini telah berbicara melalui Anak. Anak itu adalah pewaris segala sesuatu, pencipta dunia, cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud-Nya, yang menopang segala sesuatu dengan firman-Nya yang penuh kuasa (Ibr. 1:1–4) — kesaksian keilahian yang eksplisit tentang Kristus sebagai pencipta dan penopang ciptaan. Dengan mengutip Mazmur, penulis menunjukkan bahwa Anak lebih tinggi daripada malaikat (Ibr. 1:5–14), dan lebih utama daripada Musa, karena Musa setia sebagai hamba di dalam rumah Allah sedangkan Kristus setia sebagai Anak atas rumah itu (Ibr. 3:1–6).

Sekaligus, Ibrani menegaskan kemanusiaan-Nya yang sejati: Ia turut merasakan kelemahan kita namun tidak berbuat dosa (Ibr. 4:15). Ia tetap sama, kemarin, hari ini, dan selama-lamanya (Ibr. 13:8), suatu pernyataan tentang kekekalan-Nya yang ilahi. Karena itu Kristologi Ibrani menegaskan keilahian dan kemanusiaan Kristus secara berdampingan (karya-Nya sebagai Imam Besar menurut peraturan Melkisedek akan dibahas dalam Pelajaran Soteriologi).

Beberapa teks Ibrani berikut menunjukkan kedua pokok itu berdampingan:

Teks penting dalam Ibrani
Ibr. 1:3 (ἀπαύγασμα τῆς δόξης και χαρακτηρ τῆς ὑποστάσεως)
Anak adalah pancaran kemuliaan Allah dan cetakan yang tepat dari hakikat-Nya (ὑπόστασις): Ia menyatakan Allah secara penuh.
Ibr. 1:8 (ὁ θρόνος σου ὁ θεός)
Mazmur 45:7–8 dikutip dan dikenakan kepada Anak: Ia dipanggil “Allah” dan takhta-Nya kekal.
Ibr. 1:10–12 (κατ᾽ ἀρχάς, κύριε)
Mazmur 102:26–28, yang dalam Perjanjian Lama ditujukan kepada YHWH sebagai Pencipta, di sini ditujukan kepada Anak sebagai Tuhan yang meletakkan dasar bumi.
Ibr. 2:14, 17 (κεκοινώνηκεν αἵματος καὶ σαρκός; ὁμοιωθῆναι)
Anak turut mengambil bagian dalam darah dan daging, dan harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya dalam segala hal: inkarnasi yang nyata.
Ibr. 5:7 (ἐν ταῖς ἡμέραις τῆς σαρκὸς αὐτοῦ)
“Pada masa hidup-Nya sebagai manusia”: Ia berdoa dengan ratap tangis dan mengalami kelemahan manusiawi.
Yakobus

Yakobus memperkenalkan dirinya sebagai hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus (Yak. 1:1), yaitu dengan menempatkan Yesus berdampingan dengan Allah sebagai pribadi yang sama-sama dilayani. Sebutan “Tuhan kita Yesus Kristus yang mulia” (Yak. 2:1) juga menggemakan bahasa keilahian dan kemuliaan yang dalam Perjanjian Lama dikenakan kepada YHWH.

Petrus

Dalam 1 Petrus, jemaat diminta menguduskan Kristus di dalam hati sebagai Tuhan (1 Pet. 3:15), suatu kalimat yang bergema dengan Yes. 8:13 tentang menguduskan YHWH — kesaksian keilahian yang jelas. Sesudah ditinggikan, segala kuasa takluk kepada-Nya (1 Pet. 3:22).

Dalam 2 Petrus, Kristus disebut τοῦ θεοῦ ἡμῶν και σωτῆρος “Allah dan Juruselamat kita” (2 Pet. 1:1), mengulangi konstruksi Granville Sharp yang sama seperti Titus 2:13. Penulis bersaksi sebagai saksi mata kemuliaan dan keagungan-Nya pada peristiwa di atas gunung, yaitu transfigurasi (2 Pet. 1:16–18), peristiwa yang menyingkapkan kemuliaan ilahi-Nya dalam rupa manusia.

Yudas

Yudas menyebut Yesus Kristus sebagai satu-satunya Penguasa dan Tuan kita (Yud. 4). Satu artikel dalam frasa “τoν μόνον δεσπότην και κύριον ἡμῶν” (satu-satunya Penguasa dan Tuhan kita) menaungi kedua sebutan itu, sehingga keduanya menunjuk kepada Yesus Kristus. Ayat 5 memiliki variasi naskah: sebagian naskah membaca “Tuhan”, sebagian “Allah”, dan sebagian lain “Yesus” sebagai pribadi yang menyelamatkan umat dari tanah Mesir. Bila bacaan “Yesus” dipilih, ayat ini menempatkan Kristus pada peristiwa keluaran dan menegaskan praeksistensi serta keilahian-Nya. Surat ini ditutup dengan doksologi kepada satu-satunya Allah, oleh Yesus Kristus, Tuhan kita (Yud. 25).

5. Kesatuan Kesaksian tentang Keilahian dan Inkarnasi Kristus

Bila kesaksian para penulis ini dibandingkan, tampak bahwa dua pokok yang sama muncul berulang kali dari berbagai sudut. Keilahian Kristus dinyatakan melalui penerapan gelar dan bahasa YHWH kepada-Nya (Flp. 2:10–11; Rm. 9:5; 1 Kor. 8:6; 1 Pet. 3:15), melalui peran-Nya sebagai pencipta dan penopang segala ciptaan (Kol. 1:15–17; Ibr. 1:2–3), dan melalui pernyataan langsung bahwa Ia adalah “Allah” (Tit. 2:13; 2 Pet. 1:1). Inkarnasi Kristus dinyatakan melalui kesaksian bahwa Anak Allah yang praeksisten lahir sebagai manusia (Gal. 4:4; Rm. 1:3; 1 Tim. 3:16), mengambil rupa hamba dan menjadi sama dengan manusia (Flp. 2:7), serta berdiam di dalam tubuh jasmani sepenuhnya sebagai Allah (Kol. 2:9).

Ringkasan teks kunci
Keilahian: gelar dan bahasa YHWH diterapkan kepada Kristus
Flp. 2:10–11; Rm. 9:5; 1 Kor. 8:6; 1 Pet. 3:15
Keilahian: pencipta dan penopang segala ciptaan
Kol. 1:15–17; Ibr. 1:2–3
Keilahian: pernyataan langsung bahwa Ia adalah “Allah”
Tit. 2:13; 2 Pet. 1:1
Inkarnasi: Anak Allah yang praeksisten lahir sebagai manusia
Gal. 4:4; Rm. 1:3; 1 Tim. 3:16
Inkarnasi: mengambil rupa hamba (μορφὴν δούλου), menjadi sama dengan manusia
Flp. 2:7
Inkarnasi: berdiam di dalam tubuh jasmani sepenuhnya sebagai Allah
Kol. 2:9

Keragaman gaya dan penekanan di antara para penulis ini tidak menghasilkan Kristus yang berbeda-beda, melainkan satu kesaksian bersama: Anak Allah yang ada sebelum segala sesuatu, sehakikat dengan Bapa, dan sungguh-sungguh menjadi manusia dalam sejarah.

6. Istilah Yunani Kunci

Daftar ini merangkum istilah Yunani yang paling sering menentukan penafsiran tentang keilahian dan inkarnasi Kristus dalam surat-surat.

Istilah Yunani kunci
Κύριος (1 Tes.; Flp. 2:11; 1 Kor. 8:6)
Dalam Septuaginta menerjemahkan nama YHWH; dikenakan kepada Yesus.
ἐξαπέστειλεν … γενόμενον (Gal. 4:4)
“Mengutus … yang lahir/menjadi”: Anak ada sebelum diutus dan kemudian menjadi manusia.
εἰκών (Kol. 1:15; 2 Kor. 4:4)
“Gambar”: Allah yang tidak kelihatan menjadi dikenal di dalam Kristus.
πρωτότοκος (Kol. 1:15)
“Sulung”: keutamaan dan kedaulatan atas ciptaan, bukan makhluk pertama.
πλήρωμα, θεότης, σωματικῶς (Kol. 1:19; 2:9)
Seluruh kepenuhan ke-Allahan berdiam di dalam Kristus secara jasmaniah.
μορφὴ θεοῦ (Flp. 2:6)
“Rupa Allah”: keadaan ilahi Kristus sebelum inkarnasi.
ἁρπαγμός (Flp. 2:6)
Sesuatu yang direbut atau, menurut banyak penafsir, dipakai demi keuntungan diri.
κενόω (Flp. 2:7)
“Mengosongkan”: tindakan merendahkan diri, dijelaskan oleh λαβών.
μορφὴν δούλου (Flp. 2:7)
“Rupa hamba”: Kristus sungguh mengambil kedudukan seorang hamba.
ὁμοίωμα (Flp. 2:7; Rm. 8:3)
“Keserupaan”: kemanusiaan yang sungguh, tanpa dosa.
σχῆμα (Flp. 2:8)
Penampilan lahiriah yang dikenali sebagai manusia.
σάρξ, ἐν σαρκί (Rm. 1:3; 1 Tim. 3:16)
“Daging”: kemanusiaan yang nyata.
ἐπιφάνεια (2 Tim. 1:10; Tit. 2:13)
“Penampakan”: kedatangan Kristus; dalam 2 Tim. 1:10 menunjuk inkarnasi.
ἀπαύγασμα, χαρακτήρ (Ibr. 1:3)
“Pancaran” kemuliaan dan “cetakan” hakikat Allah.
7. Penerapan bagi Kehidupan dan Pelayanan
Pertama — Keilahian Kristus

Kesaksian tentang keilahian Kristus membantu jemaat menjawab pertanyaan yang sering muncul, yaitu apakah kita menyembah lebih dari satu Tuhan. Dengan membaca 1 Kor. 8:6 dan Flp. 2:9–11 bersama Ul. 6:4 dan Yes. 45:23, jemaat dapat melihat bahwa Paulus tidak menambah Allah baru, melainkan memasukkan Kristus ke dalam identitas Allah yang esa. Pelayan perlu belajar menjelaskan hal ini dengan sederhana dan setia pada teks, tanpa jatuh ke dalam istilah yang membingungkan.

Kedua — Inkarnasi Kristus

Kesaksian tentang inkarnasi — bahwa Anak Allah sungguh-sungguh menjadi manusia, lahir dari perempuan, hidup di bawah hukum Taurat, dan turut merasakan kelemahan manusiawi — menjadi dasar bagi jemaat untuk yakin bahwa Kristus sungguh memahami pergumulan hidup mereka. Ia bukan pribadi ilahi yang jauh dan asing, melainkan Allah yang telah menjadi sama dengan kita, kecuali dalam hal dosa (Ibr. 4:15).

Ketiga — Dasar Tema Berikutnya

Kombinasi kedua kebenaran ini — keilahian penuh dan kemanusiaan penuh dalam satu pribadi — menjadi dasar bagi pembahasan tema-tema selanjutnya: karya keselamatan hanya dapat dikerjakan oleh pribadi yang sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia (Soteriologi), kepemimpinan-Nya atas jemaat hanya sah karena Ia adalah Kepala yang ilahi sekaligus Kepala yang telah menjadi manusia dan mengenal jemaat-Nya dari dalam (Ekklesiologi), dan pengharapan akan kedatangan-Nya kembali hanya berarti karena Dialah Allah yang setia yang telah datang sekali dan akan datang lagi (Eskhatologi).

Keempat — Kerendahan Hati dalam Pelayanan

Konteks Flp. 2:1–5 menjadikan gerak turun Kristus sebagai teladan sikap hati bagi jemaat. Karena Ia yang ada dalam rupa Allah mengambil rupa hamba (Flp. 2:6–7), para pelayan tidak dapat menjadikan kedudukan atau gelar pelayanan sebagai sesuatu yang harus dipertahankan; kepemimpinan dalam jemaat dijalankan sebagai pelayanan hamba, dengan Kristus sebagai ukurannya.

Penutup

Kristus adalah Anak Allah yang sehakikat dengan Bapa dan yang sungguh-sungguh menjadi manusia dalam sejarah. Dua kebenaran ini — keilahian dan inkarnasi-Nya — berdiri sebagai fondasi bagi seluruh pengajaran Perjanjian Baru mengenai Dia. Karya keselamatan yang Ia kerjakan, kedudukan-Nya sebagai Kepala jemaat, dan pengharapan akan kedatangan-Nya kembali semuanya bertumpu pada pengakuan bahwa Kristus yang berkarya dan yang akan datang itu adalah Allah yang telah menjadi manusia. Tema-tema ini akan dibahas berturut-turut dalam Pelajaran Soteriologi, Ekklesiologi, dan Eskhatologi.

Daftar Pustaka

Bauckham, Richard. Jesus and the God of Israel: God Crucified and Other Studies on the New Testament’s Christology of Divine Identity. Grand Rapids, MI: Eerdmans, 2008.

Dunn, James D. G. Christology in the Making: An Inquiry into the Origins of the Doctrine of the Incarnation. 2nd ed. London: SCM, 1989.

Fee, Gordon D. Paul’s Letter to the Philippians. New International Commentary on the New Testament. Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1995.

Harris, Murray J. Jesus as God: The New Testament Use of Theos in Reference to Jesus. Grand Rapids, MI: Baker, 1992.

Hoover, Roy W. “The Harpagmos Enigma: A Philological Solution.” Harvard Theological Review 64, no. 1 (1971): 95–119.

Hurtado, Larry W. Lord Jesus Christ: Devotion to Jesus in Earliest Christianity. Grand Rapids, MI: Eerdmans, 2003.

Ladd, George Eldon. A Theology of the New Testament. Rev. ed. Edited by Donald A. Hagner. Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1993.

Metzger, Bruce M. A Textual Commentary on the Greek New Testament. 2nd ed. Stuttgart: Deutsche Bibelgesellschaft, 1994.

Schreiner, Thomas R. New Testament Theology: Magnifying God in Christ. Grand Rapids, MI: Baker Academic, 2008.

Wallace, Daniel B. Greek Grammar Beyond the Basics: An Exegetical Syntax of the New Testament. Grand Rapids, MI: Zondervan, 1996.

Wright, N. T. The Climax of the Covenant: Christ and the Law in Pauline Theology. Minneapolis: Fortress, 1992.

Bahan Kuliah Teologi Perjanjian Baru 2 (DTh-137.206) · Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan
Exit mobile version