Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

tpb2-1a

Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Pertanyaan Pendalaman dan Studi Kasus Teologis

Kristologi: Keilahian dan Inkarnasi Yesus Kristus
Teologi Perjanjian Baru 2 (DTh-137.206)
Pdt. D. Horatius Herman, M.Th.

Kembali ke Bahan Ajar

Petunjuk: ketuk judul setiap bagian untuk membuka atau menutup uraiannya. Bahan ini disusun berdasarkan pos Pertemuan 1 tentang keilahian dan inkarnasi Kristus.
A. Pertanyaan Pemahaman Teks dan Tata Bahasa (1–8)
Pertanyaan 1

Dalam Gal. 4:4, Paulus menulis ἐξαπέστειλεν ὁ θεὸς τὸν υἱὸν αὐτοῦ, γενόμενον ἐκ γυναικός. Jelaskan mengapa urutan kata kerja ἐξαπέστειλεν (aorist) dan partisip γενόμενον penting bagi argumen praeksistensi Kristus. Apa yang berubah dalam makna ayat ini seandainya Paulus menulis “Allah menciptakan seorang anak dari seorang perempuan”?

Pertanyaan 2

Bandingkan makna πρωτότοκος dalam Kol. 1:15 dengan kemungkinan pembacaan “makhluk pertama yang diciptakan”. Kemukakan alasan tata bahasa dan konteks (Kol. 1:16) yang menolak pembacaan kedua.

Pertanyaan 3

Jelaskan perbedaan antara μορφῇ θεοῦ (Flp. 2:6) dan μορφὴν δούλου (Flp. 2:7). Mengapa penggunaan kata μορφή yang sama untuk kedua frasa ini penting bagi argumen bahwa kemanusiaan Kristus sama nyatanya dengan keilahian-Nya?

Pertanyaan 4

Uraikan dua kemungkinan pembacaan ἁρπαγμός dalam Flp. 2:6, lalu jelaskan bagaimana kesimpulan Roy Hoover memengaruhi cara kita memahami sikap Kristus terhadap kesetaraan-Nya dengan Allah.

Pertanyaan 5

Dalam Flp. 2:10, tiga kata ἐπουρανίων, ἐπιγείων, dan καταχθονίων menggambarkan kosmologi tiga tingkat. Jelaskan mengapa pengakuan universal yang mencakup ketiga tingkat itu hanya layak ditujukan kepada Allah, dan bagaimana hal ini menghubungkan Flp. 2:10–11 dengan Yes. 45:23.

Pertanyaan 6

Jelaskan mengapa ungkapan “ditetapkan sebagai Anak Allah” dalam Rm. 1:4 tidak dapat dipakai untuk mendukung pandangan adopsionisme (bahwa Yesus baru menjadi Anak Allah pada saat kebangkitan).

Pertanyaan 7

Dalam Tit. 2:13 dan 2 Pet. 1:1, aturan Granville Sharp dipakai untuk berargumen bahwa “Allah” dan “Juruselamat” menunjuk pada satu pribadi. Jelaskan secara sederhana bagaimana struktur satu artikel yang menaungi dua kata benda mendukung kesimpulan ini.

Pertanyaan 8

Ibr. 1:3 menyebut Anak sebagai ἀπαύγασμα τῆς δόξης (“pancaran kemuliaan”) dan χαρακτὴρ τῆς ὑποστάσεως (“cetakan hakikat”) Allah. Jelaskan perbedaan nuansa kedua metafora ini dan apa yang keduanya tegaskan bersama tentang hubungan Anak dengan Bapa.

B. Pertanyaan Diskusi Antarpakar (9–12)
Pertanyaan 9

Bauckham berpendapat bahwa “Kristologi paling awal sudah merupakan Kristologi yang tertinggi”. Jelaskan apa yang dimaksud dengan istilah “identitas ilahi” dalam tesisnya, dan bagaimana pendekatan ini berbeda dari pendekatan yang menelusuri perkembangan bertahap gelar-gelar Kristologis.

Pertanyaan 10

Dunn membaca Flp. 2:6–11 sebagai Kristologi Adam, sedangkan kebanyakan penafsir lain membacanya sebagai pernyataan praeksistensi. Jelaskan argumen Dunn secara ringkas, lalu kemukakan sekurang-kurangnya satu keberatan terhadap pembacaan itu berdasarkan uraian tentang ὑπάρχων dalam ay. 6a.

Pertanyaan 11

Wright menerima tema Adam yang diusulkan Dunn tetapi tetap mempertahankan praeksistensi Kristus. Jelaskan bagaimana kedua unsur itu — tema Adam dan praeksistensi — dapat digabungkan tanpa saling meniadakan.

Pertanyaan 12

Hurtado menyatakan bahwa devosi kepada Yesus muncul “amazingly early” dan tetap berada dalam kerangka monoteisme Yahudi. Jelaskan mengapa fakta ini penting untuk menjawab tuduhan bahwa penyembahan kepada Kristus adalah perkembangan belakangan yang dipengaruhi paganisme Helenistik.

C. Pertanyaan Sintesis Antarsurat (13–16)
Pertanyaan 13

Bandingkan cara Paulus (Flp. 2:6–11), penulis Ibrani (Ibr. 1:1–4), dan Petrus (2 Pet. 1:1) masing-masing bersaksi tentang keilahian Kristus. Adakah perbedaan penekanan di antara ketiganya, dan mengapa perbedaan itu tidak menghasilkan Kristus yang berbeda-beda?

Pertanyaan 14

Telusuri bagaimana tema “mengutus Anak” muncul dalam Gal. 4:4 dan bandingkan dengan tema “berdiam” dalam Kol. 1:19 dan 2:9. Apa yang kedua tema ini tegaskan bersama tentang hubungan antara praeksistensi dan inkarnasi Kristus?

Pertanyaan 15

Yudas 5 memiliki variasi naskah antara “Tuhan”, “Allah”, dan “Yesus”. Jelaskan implikasi teologis jika bacaan “Yesus” yang dipilih, dan mengapa hal ini berkaitan dengan pertanyaan tentang praeksistensi Kristus dalam sejarah Israel.

Pertanyaan 16

Uraikan bagaimana Rm. 1:3–4, 1 Tim. 3:16, dan Ibr. 2:14–17 masing-masing menegaskan kemanusiaan Kristus yang sejati, lalu jelaskan mengapa kesaksian tentang kemanusiaan-Nya sama pentingnya dengan kesaksian tentang keilahian-Nya bagi karya keselamatan.

D. Pertanyaan Refleksi dan Penerapan (17–20)
Pertanyaan 17

Jelaskan mengapa pengakuan bahwa Kristus termasuk dalam identitas Allah Israel (bukan Allah kedua) penting untuk menjawab keberatan bahwa iman Kristen mengajarkan lebih dari satu Allah.

Pertanyaan 18

Konteks Flp. 2:1–5 menempatkan nyanyian Kristologis ini sebagai dasar bagi kerendahan hati dalam jemaat. Uraikan bagaimana teladan μορφὴν δούλου λαβών (Flp. 2:7) dapat membentuk cara seorang pelayan jemaat memandang kedudukan dan pelayanannya.

Pertanyaan 19

Ibr. 4:15 menegaskan bahwa Kristus turut merasakan kelemahan manusia namun tidak berbuat dosa. Jelaskan bagaimana kebenaran ini dapat menjadi penghiburan pastoral bagi jemaat yang bergumul dengan penderitaan atau pencobaan.

Pertanyaan 20

Rancanglah sebuah penjelasan sederhana (untuk jemaat awam, bukan mahasiswa teologi) tentang mengapa Yesus disebut “Allah dan Juruselamat” (Tit. 2:13) tanpa mengorbankan kejelasan tentang keesaan Allah. Perhatikan bahasa yang dipakai agar tidak membingungkan.

Studi Kasus Teologis (1–5)
Studi Kasus 1
“Bapa Lebih Besar daripada Aku”

Seorang anggota jemaat, setelah membaca Yoh. 14:28 (“Bapa lebih besar daripada Aku”), mempertanyakan pengajaran tentang keilahian penuh Kristus. Ia berpendapat bahwa ayat itu menunjukkan Yesus adalah makhluk yang lebih rendah daripada Allah Bapa, dan meragukan penjelasan tentang Flp. 2:6 yang menyatakan Kristus “ada dalam rupa Allah”.

Tugas diskusi:

  • Jelaskan bagaimana konsep inkarnasi (Flp. 2:7–8) — Kristus yang mengambil rupa hamba dan merendahkan diri-Nya — dapat menjelaskan pernyataan “Bapa lebih besar” tanpa menyangkal keilahian kekal Kristus.
  • Rumuskan bagaimana Anda akan menjelaskan perbedaan antara kedudukan fungsional (Kristus yang taat dan merendahkan diri dalam inkarnasi) dan hakikat ontologis (kesetaraan-Nya dengan Allah menurut Flp. 2:6) kepada jemaat ini.
  • Sebutkan sekurang-kurangnya dua teks lain dari bahan Pertemuan 1 yang dapat memperkuat penjelasan Anda.
Studi Kasus 2
Tuduhan Politeisme

Dalam sebuah dialog antaragama, seorang lawan bicara menuduh bahwa dengan menyembah Yesus sebagai Tuhan, orang Kristen sebenarnya menyembah dua Allah — Bapa dan Anak — sehingga bertentangan dengan pengakuan bahwa Allah itu esa.

Tugas diskusi:

  • Gunakan 1 Kor. 8:6 dan Flp. 2:9–11 untuk menjelaskan bagaimana Paulus merumuskan ulang pengakuan monoteistik Israel (Ul. 6:4) dengan memasukkan Kristus, tanpa menambah jumlah Allah.
  • Jelaskan istilah “identitas ilahi” yang dipakai Bauckham dan bagaimana kerangka ini berbeda dari kerangka “dua Allah yang terpisah”.
  • Susunlah tanggapan singkat (maksimal lima kalimat) yang dapat disampaikan secara lisan dalam dialog semacam ini.
Studi Kasus 3
Penafsiran μορφὴν δούλου sebagai Bukti Penurunan Status Ilahi

Sebuah kelompok pengajaran menafsirkan μορφὴν δούλου λαβών (Flp. 2:7) sebagai bukti bahwa Kristus, ketika berinkarnasi, kehilangan sifat-sifat ilahi-Nya (misalnya kemahatahuan dan kemahakuasaan), sehingga selama di bumi Ia bukan lagi sepenuhnya Allah.

Tugas diskusi:

  • Tunjukkan bahwa μορφή dipakai baik untuk “rupa Allah” (ay. 6) maupun “rupa hamba” (ay. 7), dan jelaskan mengapa kesejajaran ini justru menunjukkan bahwa Kristus tetap sepenuhnya Allah sementara sungguh-sungguh mengambil rupa manusia.
  • Jelaskan pemahaman Gordon Fee tentang κενόω (“mengosongkan”) sebagai metafora bagi perendahan diri, bukan pengurangan hakikat ilahi.
  • Diskusikan bagaimana Kol. 2:9 (“seluruh kepenuhan ke-Allahan berdiam di dalam Kristus secara jasmaniah”) menjadi kontrol teologis terhadap penafsiran yang keliru ini.
Studi Kasus 4
Perdebatan Tekstual tentang Titus 2:13

Seorang mahasiswa menemukan terjemahan dari kelompok tertentu yang menerjemahkan Tit. 2:13 sebagai “Allah yang besar, dan Kristus Yesus Juruselamat kita” — memisahkan “Allah” dan “Yesus Kristus” sebagai dua pribadi berbeda, bukan satu pribadi seperti dijelaskan dalam bahan Pertemuan 1.

Tugas diskusi:

  • Jelaskan aturan Granville Sharp secara sederhana dan bagaimana struktur satu artikel (τοῦ μεγάλου θεοῦ καὶ σωτῆρος ἡμῶν Ἰησοῦ Χριστοῦ) mendukung pembacaan bahwa kedua sebutan itu menunjuk kepada satu pribadi.
  • Bandingkan struktur Tit. 2:13 dengan 2 Pet. 1:1, yang memakai konstruksi serupa, untuk memperkuat argumen ini.
  • Diskusikan mengapa perbedaan penafsiran seperti ini penting untuk diperhatikan dalam kerja penerjemahan dan pengajaran Alkitab di jemaat.
Studi Kasus 5
Kerendahan Hati Pelayan dalam Konflik Jemaat

Seorang majelis gereja merasa kedudukan dan penghormatannya sebagai pelayan senior tidak lagi dihargai setelah struktur kepemimpinan jemaat diperbarui. Ia mempertimbangkan untuk mengundurkan diri karena merasa direndahkan.

Tugas diskusi:

  • Gunakan konteks Flp. 2:1–5 dan nyanyian Kristologis Flp. 2:6–11 untuk merumuskan nasihat pastoral bagi majelis tersebut, dengan memperhatikan bahwa Kristus yang ada dalam rupa Allah rela mengambil rupa hamba.
  • Jelaskan bagaimana gerak turun dan naik dalam Flp. 2:6–11 (perendahan diri yang diikuti peninggian oleh Allah, bukan oleh usaha diri sendiri) dapat membentuk perspektif majelis tersebut tentang kedudukan dan penghormatan.
  • Rumuskan bagaimana Anda, sebagai gembala jemaat, akan menyampaikan nasihat ini tanpa meremehkan perasaan yang dialami majelis tersebut.
Bahan Kuliah Teologi Perjanjian Baru 2 (DTh-137.206) · Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan
Exit mobile version