Statistika Sosial dan Kependidikan
Konsep Reliabilitas Instrumen
Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan | Pertemuan Minggu 7
📌 Capaian Pembelajaran Pertemuan Ini
Setelah mengikuti pertemuan ini, mahasiswa diharapkan mampu:
✅ Menjelaskan pengertian dan fungsi reliabilitas instrumen
✅ Membedakan jenis-jenis reliabilitas secara konseptual
✅ Memahami cara membaca koefisien reliabilitas
✅ Menerapkan konsep reliabilitas dalam konteks gereja dan sekolah
Bagian I: Pengertian dan Fungsi Reliabilitas
1. Mengapa Reliabilitas Penting?
Sebuah instrumen yang telah dinyatakan valid—artinya sudah mengukur hal yang tepat—belum tentu dapat diandalkan apabila digunakan berulang kali. Bayangkan sebuah timbangan yang menunjukkan angka berbeda setiap kali digunakan untuk menimbang benda yang sama. Timbangan tersebut tidak dapat dipercaya, meskipun jenisnya benar dan digunakan untuk tujuan yang tepat.
Inilah yang dimaksud dengan reliabilitas: kemampuan suatu instrumen untuk menghasilkan hasil yang konsisten ketika digunakan pada kondisi yang sama atau pada kelompok yang serupa. Tanpa reliabilitas yang memadai, data yang diperoleh tidak dapat dipercaya dan tidak layak dijadikan dasar pengambilan keputusan dalam pembelajaran maupun pelayanan.
💡 Ilustrasi Sederhana
Seorang guru PAK memberikan tes “Pemahaman Makna Perjamuan Kudus” kepada kelompok yang sama pada dua waktu berbeda tanpa ada pembelajaran di antaranya. Apabila hasilnya sangat berbeda, tes tersebut tidak reliabel — bukan karena siswa berubah, melainkan karena instrumennya tidak konsisten.
Demikian pula, angket kepuasan ibadah yang menghasilkan skor sangat berbeda hanya karena suasana hati responden pada hari pengisian berbeda, mengindikasikan instrumen yang tidak reliabel.
2. Definisi Reliabilitas
Reliabilitas (dari bahasa Latin: reliabilis, artinya dapat diandalkan) adalah derajat konsistensi atau kestabilan hasil pengukuran suatu instrumen apabila diterapkan secara berulang pada subjek yang sama atau pada kondisi yang setara. Reliabilitas tidak mengukur apakah instrumen mengukur hal yang tepat—itu adalah urusan validitas—melainkan mengukur seberapa stabil dan dapat diandalkan hasil pengukurannya.
Dalam tradisi psikometri modern, reliabilitas dipahami sebagai proporsi varians skor sejati (true score) terhadap varians skor yang teramati. Semakin besar proporsi tersebut, semakin tinggi reliabilitas instrumen.
3. Hubungan antara Reliabilitas dan Validitas
| Aspek | Validitas | Reliabilitas |
|---|---|---|
| Pertanyaan pokok | Apakah mengukur hal yang tepat? | Apakah hasilnya konsisten? |
| Analogi | Timbangan mengukur berat, bukan tinggi | Timbangan menunjukkan angka sama setiap kali |
| Syarat | Instrumen valid pasti reliabel | Instrumen reliabel belum tentu valid |
| Arah hubungan | Reliabilitas adalah syarat perlu, bukan syarat cukup bagi validitas | |
Bagian II: Jenis-Jenis Reliabilitas
Reliabilitas dapat diestimasi melalui beberapa pendekatan, bergantung pada kondisi pengujian dan jenis instrumen yang digunakan. Empat pendekatan utama yang paling sering digunakan dalam penelitian pendidikan dan pelayanan gereja adalah sebagai berikut.
1. Reliabilitas Tes-Ulang (Test-Retest Reliability)
Reliabilitas tes-ulang diestimasi dengan memberikan instrumen yang sama kepada kelompok responden yang sama pada dua waktu yang berbeda, kemudian menghitung korelasi antara kedua set skor tersebut.
Syarat penerapan: Tidak ada perubahan mendasar pada karakteristik yang diukur di antara dua waktu pengujian. Jarak waktu yang lazim digunakan adalah 2–4 minggu.
Contoh dalam PAK:
Guru PAK memberikan angket “Sikap Siswa terhadap Ibadah” kepada 30 siswa SMA pada awal semester. Tiga minggu kemudian, angket yang sama diberikan kembali kepada siswa yang sama. Korelasi antara skor pertama dan kedua menghasilkan koefisien reliabilitas tes-ulang.
Kelemahan:
Responden mungkin mengingat jawaban sebelumnya (memory effect), sehingga korelasi skor pertama dan kedua menjadi lebih tinggi dari yang seharusnya.
2. Reliabilitas Bentuk Paralel (Parallel Forms Reliability)
Reliabilitas bentuk paralel diestimasi dengan membuat dua versi instrumen yang setara dalam hal jumlah butir, tingkat kesulitan, dan konstruk yang diukur, kemudian memberikan keduanya kepada kelompok yang sama dan menghitung korelasi antara kedua skor.
Contoh dalam Pelayanan Gereja:
Tim penelitian gereja membuat dua versi angket “Keterlibatan Jemaat dalam Pelayanan” (Versi A dan Versi B) dengan butir-butir yang berbeda namun mengukur aspek yang sama. Keduanya diberikan kepada 50 jemaat dalam satu sesi, kemudian korelasinya dihitung.
Keunggulan:
Menghindari memory effect karena butir soal berbeda. Namun membutuhkan upaya besar untuk membuat dua versi yang benar-benar setara.
3. Reliabilitas Konsistensi Internal (Internal Consistency Reliability)
Reliabilitas konsistensi internal mengukur sejauh mana butir-butir dalam satu instrumen saling berkorelasi satu sama lain—artinya, seberapa konsisten setiap butir mengukur konstruk yang sama. Pendekatan ini hanya memerlukan satu kali pengujian (single administration).
Dua metode yang paling sering digunakan:
- Split-Half (Belah Dua): Instrumen dibagi menjadi dua bagian (misalnya butir ganjil vs. genap), kemudian korelasi antara kedua bagian dihitung dan dikoreksi menggunakan rumus Spearman-Brown.
- Koefisien Alpha Cronbach (α): Metode yang paling luas digunakan saat ini. Alpha Cronbach menghitung rata-rata korelasi semua kemungkinan pembelahan instrumen secara bersamaan dan menghasilkan satu koefisien reliabilitas untuk seluruh instrumen.
Contoh dalam Penelitian PAK:
Peneliti menyusun angket “Motivasi Belajar PAK” dengan 20 butir pernyataan skala Likert 1–5. Angket diberikan kepada 40 siswa. Setelah data dikumpulkan, koefisien Alpha Cronbach dihitung menggunakan SPSS atau Excel. Apabila α = 0,82, instrumen dinyatakan reliabel.
4. Reliabilitas Antar-Penilai (Inter-Rater Reliability)
Reliabilitas antar-penilai relevan apabila instrumen melibatkan penilaian subjektif oleh manusia, seperti rubrik penilaian karangan, lembar observasi perilaku, atau penilaian presentasi. Reliabilitas ini mengukur seberapa konsisten dua penilai atau lebih dalam memberikan skor pada objek yang sama.
Contoh dalam PAK:
Dua guru PAK menilai esai refleksi iman 20 siswa menggunakan rubrik yang sama. Korelasi antara skor yang diberikan oleh kedua penilai menunjukkan reliabilitas antar-penilai. Korelasi tinggi (misalnya r = 0,88) berarti rubrik digunakan secara konsisten oleh kedua penilai.
Bagian III: Koefisien Reliabilitas dan Cara Membacanya
1. Koefisien Reliabilitas (r atau α)
Reliabilitas dinyatakan dalam bentuk koefisien reliabilitas, yaitu nilai numerik antara 0,00 hingga 1,00. Semakin tinggi nilai koefisien, semakin tinggi konsistensi instrumen. Koefisien reliabilitas yang paling umum digunakan dalam penelitian pendidikan dan pelayanan adalah Alpha Cronbach (α).
| Koefisien α | Interpretasi |
|---|---|
| 0,90 – 1,00 | Reliabilitas sangat tinggi (luar biasa) |
| 0,80 – 0,89 | Reliabilitas tinggi (baik) |
| 0,70 – 0,79 | Reliabilitas cukup (dapat diterima) |
| 0,60 – 0,69 | Reliabilitas rendah (perlu perbaikan) |
| < 0,60 | Reliabilitas sangat rendah (instrumen perlu direvisi menyeluruh) |
Catatan: Batas minimum α ≥ 0,70 umumnya diterima untuk penelitian di bidang ilmu-ilmu sosial dan pendidikan. Untuk instrumen yang digunakan dalam keputusan individual (misalnya kelulusan siswa), standar yang disyaratkan lebih tinggi (α ≥ 0,80).
2. Rumus Alpha Cronbach
Rumus Alpha Cronbach:
α = [k / (k − 1)] × [1 − (Σσ²ᵢ / σ²ₜ)]
| Simbol | Keterangan |
|---|---|
| α | Koefisien reliabilitas Alpha Cronbach |
| k | Jumlah butir instrumen |
| Σσ²ᵢ | Jumlah varians setiap butir |
| σ²ₜ | Varians skor total instrumen |
Catatan: Dalam praktik penelitian modern, Alpha Cronbach dihitung menggunakan program statistik (SPSS, Excel, atau aplikasi daring). Pemahaman mahasiswa difokuskan pada kemampuan membaca dan menginterpretasi hasil, bukan komputasi manual.
3. Contoh Membaca Output Reliabilitas
Berikut adalah contoh tabel hasil uji reliabilitas angket “Motivasi Belajar PAK” yang terdiri dari 15 butir pernyataan, diujicobakan pada 35 siswa.
| Jumlah Butir (k) | Alpha Cronbach (α) | Interpretasi | Keputusan |
|---|---|---|---|
| 15 | 0,81 | Reliabilitas Tinggi (Baik) | Reliabel — Instrumen layak digunakan |
Interpretasi: Koefisien α = 0,81 menunjukkan bahwa ke-15 butir instrumen secara konsisten mengukur konstruk yang sama (motivasi belajar PAK). Instrumen ini dinyatakan reliabel dan layak digunakan dalam penelitian yang sesungguhnya.
Bagian IV: Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Reliabilitas
Koefisien reliabilitas suatu instrumen tidak bersifat tetap—ia dipengaruhi oleh berbagai faktor yang perlu dipahami oleh peneliti dan pendidik.
| Faktor | Penjelasan |
|---|---|
| Jumlah Butir | Semakin banyak butir, reliabilitas cenderung meningkat karena kesalahan pengukuran per butir dirata-ratakan. Namun penambahan butir yang tidak relevan justru menurunkan α. |
| Heterogenitas Kelompok | Instrumen yang diujikan pada kelompok yang sangat heterogen (beragam kemampuan) cenderung menghasilkan koefisien reliabilitas lebih tinggi daripada kelompok yang homogen. |
| Kejelasan Butir | Butir yang ambigu atau membingungkan menyebabkan responden menafsirkan butir secara berbeda setiap kali, sehingga menurunkan konsistensi hasil. |
| Kondisi Pengujian | Faktor lingkungan (kebisingan, cahaya, tekanan waktu) yang tidak terkendali dapat memengaruhi respons dan menurunkan konsistensi hasil pengukuran. |
| Dimensionalitas Konstruk | Alpha Cronbach mengasumsikan instrumen mengukur satu konstruk tunggal (unidimensional). Apabila instrumen mencakup beberapa dimensi yang berbeda, α yang rendah tidak selalu berarti instrumen tidak reliabel—mungkin instrumen itu memang multidimensional. |
Bagian V: Relevansi Reliabilitas dalam Pelayanan dan Pendidikan
1. Implikasi bagi Pendidik PAK di Sekolah
a. Soal Ujian yang Dapat Diandalkan
Soal ujian yang reliabel menghasilkan penilaian yang adil: siswa yang memiliki kemampuan setara akan mendapatkan skor yang setara pula, tanpa bergantung pada faktor keberuntungan atau ketidakjelasan butir soal. Guru PAK yang secara rutin meninjau dan merevisi soal ujian berdasarkan hasil analisis reliabilitas sedang menjalankan praktik evaluasi yang bertanggung jawab.
b. Konsistensi dalam Penilaian Proses
Penilaian berbasis rubrik (misalnya untuk penilaian refleksi iman, portofolio, atau presentasi) memerlukan reliabilitas antar-penilai yang tinggi agar penilaian yang diterima siswa tidak bergantung pada penilai mana yang mengoreksi pekerjaannya. Pelatihan penilai dan kalibrasi rubrik merupakan langkah konkret untuk meningkatkan reliabilitas antar-penilai.
2. Implikasi bagi Pelayan Gereja
a. Evaluasi Program Pelayanan yang Andal
Gereja yang secara berkala mengevaluasi program pembinaan iman (katekisasi, pemuridan, sekolah minggu) memerlukan instrumen evaluasi yang reliabel agar perubahan skor dari waktu ke waktu benar-benar mencerminkan perubahan dalam kehidupan jemaat, bukan sekadar fluktuasi acak dari instrumen yang tidak konsisten.
b. Kuesioner Kepuasan Jemaat
Apabila gereja menggunakan kuesioner kepuasan jemaat sebagai dasar pengambilan keputusan pelayanan, penting untuk memastikan kuesioner tersebut reliabel. Kuesioner yang tidak reliabel akan menghasilkan data yang berfluktuasi tanpa makna, sehingga keputusan yang diambil berdasarkan data tersebut berisiko tidak tepat sasaran.
✝ Refleksi Teologis
Dalam tradisi Reformasi, integritas dan konsistensi merupakan cerminan dari karakter Allah yang tidak berubah (immutability). Yesus berkata, “Hendaklah ‘ya’ kamu berarti ya dan ‘tidak’ berarti tidak” (Mat. 5:37). Konsep reliabilitas meresonansikan prinsip ini: seorang pendidik dan pelayan gereja bertanggung jawab untuk menggunakan instrumen yang hasilnya dapat diandalkan — bukan karena tuntutan teknis semata, melainkan karena kejujuran dan keandalan adalah nilai-nilai Kristiani yang fundamental dalam setiap aspek pelayanan, termasuk dalam cara kita mengukur dan mengevaluasi buah pelayanan.
🖊 Latihan di Kelas (LDK) — 10 Soal
Petunjuk: Kerjakan secara tertulis. Tunjukkan alasan atau analisis singkat untuk setiap jawaban. Semua soal bersifat kontekstual — berkaitan dengan situasi nyata di sekolah atau gereja. Waktu: 25 menit.
1. Seorang guru PAK memberikan tes pemahaman Alkitab kepada 25 siswa. Dua minggu kemudian, tes yang sama diberikan kembali. Skor pertama dan kedua sangat berbeda meskipun tidak ada pembelajaran di antaranya. Apa kesimpulan Anda tentang reliabilitas tes tersebut? Jenis reliabilitas apa yang sedang diuji?
2. Jelaskan perbedaan antara test-retest reliability dan internal consistency reliability. Kapan sebaiknya menggunakan masing-masing pendekatan?
3. Berikut adalah koefisien Alpha Cronbach dari tiga instrumen berbeda:
Instrumen A: α = 0,91 | Instrumen B: α = 0,72 | Instrumen C: α = 0,54
Interpretasikan masing-masing koefisien. Manakah yang tidak memenuhi standar minimum? Apa rekomendasi Anda?
4. Seorang calon guru PAK menyatakan: “Saya tidak perlu menguji reliabilitas soal — yang penting soalnya sudah valid.” Setujukah Anda? Berikan argumentasi yang tepat!
5. Sebuah gereja menggunakan angket kepuasan jemaat terhadap khotbah. Angket diisi oleh 50 jemaat pada hari Minggu pagi. Faktor-faktor apa saja yang dapat mengancam reliabilitas hasil angket tersebut?
6. Dua orang penilai menilai esai refleksi iman 20 siswa menggunakan rubrik yang sama. Penilai pertama memberikan skor rata-rata 78, penilai kedua memberikan skor rata-rata 65. Korelasi antara keduanya adalah r = 0,45. Apa masalah yang terjadi? Apa yang perlu dilakukan?
7. Angket “Pertumbuhan Rohani Jemaat” menghasilkan α = 0,63 setelah diujicobakan. Peneliti kemudian menambah 5 butir pernyataan yang relevan, dan α meningkat menjadi 0,78. Jelaskan mengapa penambahan butir dapat meningkatkan reliabilitas!
8. Dalam tabel berikut, interpretasikan setiap koefisien Alpha Cronbach:
| Instrumen | α | Interpretasi (isi!) |
|---|---|---|
| Angket A | 0,93 | … |
| Angket B | 0,75 | … |
| Angket C | 0,58 | … |
9. Apakah mungkin sebuah instrumen memiliki reliabilitas tinggi tetapi validitas rendah? Berikan contoh konkret dalam konteks PAK atau pelayanan gereja!
10. Sebuah sekolah Kristen ingin mengevaluasi efektivitas kurikulum PAK baru. Instrumen evaluasi yang digunakan adalah tes tertulis 30 soal pilihan ganda. Langkah-langkah apa saja yang perlu dilakukan untuk memastikan instrumen tersebut memiliki reliabilitas yang memadai sebelum digunakan?
📋 Tugas Terstruktur (TT) — Minggu 7
Topik: Analisis Reliabilitas Instrumen dalam Konteks PAK dan Gereja
Format: Laporan tertulis | Dikumpulkan: Minggu 8 (sebelum pertemuan dimulai)
Tugas Terstruktur 1 (TT-1):
Susunlah sebuah angket sederhana (minimal 10 butir, skala Likert 1–5) untuk mengukur salah satu dari konstruk berikut: (a) Kepuasan jemaat terhadap program Sekolah Minggu, atau (b) Motivasi siswa dalam mengikuti pelajaran PAK. Jelaskan: (1) Jenis reliabilitas apa yang akan Anda gunakan untuk menguji angket tersebut, dan mengapa? (2) Bagaimana prosedur pengujiannya? (3) Batas minimum koefisien reliabilitas yang Anda tetapkan, beserta alasannya!
Tugas Terstruktur 2 (TT-2):
Bacalah hasil uji reliabilitas berikut dan tulislah laporan interpretasi lengkap (minimal 1 halaman). Angket “Keterlibatan Siswa dalam Kegiatan Rohani Sekolah” diujicobakan kepada 30 siswa SMA Kristen. Hasil analisis SPSS menunjukkan:
| Jumlah Kasus (N) | Jumlah Butir (k) | Alpha Cronbach (α) |
|---|---|---|
| 30 | 18 | 0,76 |
Interpretasikan koefisien α tersebut. Apakah instrumen dinyatakan reliabel? Apa rekomendasi Anda untuk meningkatkan reliabilitas apabila diperlukan? Jelaskan juga implikasi hasil ini bagi penggunaan instrumen dalam penelitian selanjutnya!
📝 Tugas Mandiri (TM) — Minggu 7
Petunjuk: Meringkas bahan ajar Minggu 7 ini dengan tulisan tangan. Ringkasan mencakup: pengertian reliabilitas, empat jenis reliabilitas, koefisien Alpha Cronbach, faktor-faktor yang memengaruhi reliabilitas, dan relevansinya dalam PAK dan gereja.
Dikumpulkan: Pertemuan Minggu 8
Kesimpulan
Reliabilitas merupakan syarat dasar kualitas sebuah instrumen penelitian dan evaluasi—melengkapi validitas sebagai dua pilar utama mutu pengukuran. Tanpa reliabilitas yang memadai, data yang dikumpulkan tidak dapat dipercaya untuk dijadikan dasar pengambilan keputusan, baik dalam konteks pembelajaran PAK maupun evaluasi program pelayanan gereja.
Empat jenis reliabilitas yang telah dipelajari—tes-ulang, bentuk paralel, konsistensi internal, dan antar-penilai—masing-masing memiliki konteks penerapan yang berbeda. Dalam praktik penelitian pendidikan dan pelayanan, Alpha Cronbach (α ≥ 0,70) menjadi standar yang paling lazim digunakan untuk mengukur konsistensi internal instrumen.
Bagi calon pendidik PAK dan pelayan gereja, pemahaman tentang reliabilitas bukan sekadar pengetahuan teknis statistika—melainkan cerminan komitmen terhadap integritas, kejujuran, dan tanggung jawab dalam mengevaluasi pelayanan yang diamanatkan kepada mereka. Sebagaimana Allah yang setia dan konsisten dalam perjanjian-Nya, demikian pula kita dipanggil untuk menggunakan alat ukur yang dapat diandalkan dalam setiap aspek pelayanan pendidikan.
Kunci Jawaban Latihan di Kelas
1. Instrumen tersebut tidak reliabel karena skor berbeda secara signifikan tanpa ada perubahan pada subjek. Jenis reliabilitas yang diuji adalah test-retest reliability (reliabilitas tes-ulang).
2. Test-retest reliability dilakukan dengan memberikan instrumen yang sama dua kali pada waktu berbeda, cocok untuk mengukur atribut yang stabil. Internal consistency reliability dilakukan satu kali dan mengukur keselarasan antar butir dalam instrumen, cocok untuk angket atau kuesioner skala Likert. Gunakan tes-ulang apabila ingin memastikan stabilitas hasil dari waktu ke waktu; gunakan konsistensi internal apabila ingin mengukur koherensi butir dalam satu instrumen.
3. Instrumen A (α = 0,91): Reliabilitas sangat tinggi — luar biasa. Instrumen B (α = 0,72): Reliabilitas cukup — dapat diterima. Instrumen C (α = 0,54): Reliabilitas sangat rendah — tidak memenuhi standar minimum (α ≥ 0,70). Rekomendasi untuk Instrumen C: tinjau dan revisi butir-butir yang lemah, tambahkan butir baru yang relevan, lalu uji ulang.
4. Tidak sepenuhnya setuju. Validitas dan reliabilitas adalah dua aspek yang berbeda. Instrumen yang valid mengukur hal yang tepat, namun jika hasilnya tidak konsisten (tidak reliabel), data yang diperoleh tetap tidak dapat diandalkan. Keduanya sama-sama diperlukan: validitas tanpa reliabilitas menghasilkan data yang benar secara konsep tetapi tidak stabil; reliabilitas tanpa validitas menghasilkan data yang konsisten tetapi tidak mengukur hal yang dimaksud.
5. Faktor yang mengancam reliabilitas: (a) suasana hati responden pada hari pengisian yang berbeda, (b) kondisi lingkungan ibadah yang tidak terkendali (kebisingan, keterlambatan, suhu), (c) butir pertanyaan yang ambigu sehingga ditafsirkan berbeda setiap saat, (d) waktu pengisian yang terlalu singkat sehingga responden tidak membaca butir dengan cermat.
6. Korelasi antar-penilai r = 0,45 menunjukkan reliabilitas antar-penilai yang rendah — kedua penilai tidak konsisten dalam menerapkan rubrik, yang dibuktikan pula oleh perbedaan rata-rata yang sangat besar (78 vs. 65). Tindakan yang diperlukan: melakukan kalibrasi rubrik (melatih kedua penilai menggunakan contoh pekerjaan siswa yang sama hingga mencapai kesepakatan), memperjelas indikator di setiap level rubrik, lalu melakukan penilaian ulang.
7. Penambahan butir yang relevan meningkatkan reliabilitas karena: (a) kesalahan pengukuran per butir dirata-ratakan dengan lebih banyak butir, sehingga pengaruh kesalahan acak berkurang; (b) butir tambahan memperkuat konsistensi pengukuran konstruk yang sama, meningkatkan korelasi antar butir secara keseluruhan.
8. Angket A (0,93): Reliabilitas sangat tinggi (luar biasa). Angket B (0,75): Reliabilitas cukup (dapat diterima). Angket C (0,58): Reliabilitas sangat rendah (perlu direvisi menyeluruh, tidak layak digunakan).
9. Ya, sangat mungkin. Contoh: Guru PAK membuat tes 20 soal pilihan ganda yang seluruhnya menguji hafalan nama-nama tokoh Alkitab. Tes ini sangat reliabel (α = 0,88) karena butir-butirnya konsisten mengukur hafalan. Namun tes ini tidak valid apabila tujuan pembelajaran yang ditetapkan adalah “siswa mampu menjelaskan makna teologis kisah para tokoh Alkitab” — karena kemampuan menghafal nama tidak sama dengan memahami makna teologis.
10. Langkah-langkah memastikan reliabilitas: (1) Susun kisi-kisi soal yang jelas dan proporsional; (2) Tulis butir soal dengan bahasa yang jelas dan tidak ambigu; (3) Minta penilaian ahli (validitas isi) untuk menyaring soal yang tidak tepat; (4) Lakukan uji coba pada kelompok kecil yang serupa (minimal 20–30 siswa); (5) Analisis konsistensi internal menggunakan Alpha Cronbach atau metode belah-dua; (6) Buang atau revisi soal yang sangat mudah/sulit (semua menjawab benar/salah) karena soal semacam itu menurunkan α; (7) Pastikan α ≥ 0,70 sebelum tes digunakan secara resmi.
Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan
“Hamba Kristus yang Dipercaya”
Statistika Sosial dan Kependidikan | Dosen: D. Horatius Herman, M.Th. | dhh.sttkalimantan.ac.id/stat