PPPB1 – Pertemuan 1

Pengantar Umum Perjanjian Baru

[collapsible title=”A. Konteks Perjanjian Baru”]

A. Konteks Perjanjian Baru

Untuk memulai studi Perjanjian Baru, penting bagi kita untuk memahami struktur dasar kitab-kitabnya. Perjanjian Baru terbagi menjadi beberapa kategori utama: ada empat Injil (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes) yang menceritakan kehidupan, pelayanan, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus; kemudian Kisah Para Rasul yang melanjutkan narasi Injil dengan menggambarkan awal mula dan perluasan gereja mula-mula melalui karya Roh Kudus; diikuti oleh berbagai Surat-surat Paulus kepada jemaat dan individu; Surat-surat Umum atau Ibrani yang ditujukan kepada audiens yang lebih luas; dan diakhiri dengan kitab Wahyu yang bersifat apokaliptik. Dalam mata kuliah ini, kita akan berfokus mendalam pada kitab-kitab Injil dan Kisah Para Rasul, karena inilah fondasi naratif dan teologis yang penting. Kita mungkin bertanya, mengapa ada empat Injil, bukan hanya satu? Keempat Injil ini menyajikan perspektif dan kesaksian yang berbeda namun saling melengkapi tentang Yesus, menawarkan kekayaan dan kedalaman pemahaman yang tidak akan kita dapatkan dari satu sudut pandang saja, seperti melihat sebuah berlian dari berbagai sisi.

Memahami latar belakang historis dan kultural Yahudi serta Romawi pada abad pertama Masehi sangat krusial. Secara geografis, Palestina terbagi menjadi beberapa wilayah utama seperti Galilea di utara, Samaria di tengah, dan Yudea di selatan, dengan Yerusalem sebagai ibu kota keagamaan dan politik yang sangat penting. Kota-kota seperti Nazaret (tempat Yesus dibesarkan), Kapernaum (pusat pelayanan Yesus di Galilea), dan Betlehem (tempat kelahiran Yesus) juga memiliki signifikansi besar. Pada masa itu, Palestina berada di bawah dominasi Kekaisaran Romawi. Meskipun kekuasaan Romawi seringkali menindas, mereka juga membawa “Pax Romana” (kedamaian Romawi), sebuah periode stabilitas relatif, serta membangun jaringan jalan yang luas dan aman. Kondisi ini secara tidak langsung sangat kondusif bagi penyebaran Injil ke seluruh penjuru kekaisaran. Pada zaman Yesus, kaisar yang berkuasa adalah Agustus (saat kelahiran Yesus) dan Tiberius (selama pelayanan Yesus). Selain kaisar Romawi, ada juga penguasa lokal yang diangkat oleh Romawi, seperti Herodes Agung dan anak-anaknya (Herodes Antipas, Filipus, Arkelaus) yang memerintah di berbagai wilayah Palestina. Peran mereka seringkali kompleks, terkadang tiranis, dan memiliki dampak signifikan pada kehidupan masyarakat Yahudi saat itu.
[/collapsible]

[collapsible title=”B. Kerajaan-Kerajaan Penguasa Palestina”]

B. Kerajaan-Kerajaan Penguasa Palestina

1. Kekaisaran Babel Baru (605–539 SM)

Kekaisaran Babel Baru adalah kekuatan regional pertama yang secara dramatis mengubah nasib bangsa Yahudi dan lanskap Palestina setelah era kerajaan-kerajaan Israel dan Yehuda. Di bawah kepemimpinan raja-raja seperti Nebukadnezar II, kekuatan Babel mencapai puncaknya. Pada tahun 597 SM, setelah pemberontakan di Yerusalem, Nebukadnezar mengusir gelombang pertama orang Yahudi ke pembuangan. Puncak kekejaman mereka terjadi pada tahun 586 SM, ketika Yerusalem sepenuhnya dihancurkan, termasuk Bait Allah Salomo yang megah, dan sebagian besar penduduknya yang tersisa dipaksa dalam eksodus besar ke Babel.

Periode pembuangan ini, meskipun traumatis, secara paradoks menjadi titik balik fundamental dalam sejarah dan perkembangan Yudaisme. Tanpa Bait Allah sebagai pusat ibadah, bangsa Yahudi mulai mengembangkan praktik keagamaan yang lebih terdesentralisasi, berfokus pada Sinagoge sebagai tempat berkumpul, belajar, dan berdoa. Penekanan pada Taurat (Hukum Musa) dan studi Kitab Suci menjadi inti identitas mereka. Transformasi ini sangat krusial, karena Sinagoge dan penekanan pada Taurat inilah yang kemudian menjadi fondasi bagi komunitas Yahudi di diaspora dan berfungsi sebagai titik awal bagi penyebaran Injil oleh para rasul. Bangsa Yahudi belajar untuk mempertahankan iman mereka tanpa kehadiran fisik Bait Allah, sebuah pelajaran yang tak ternilai bagi mereka di masa depan.

Dampak dari dominasi Babel dan pembuangan bukan hanya penderitaan fisik dan kehilangan tanah air, tetapi juga pemurnian rohani dan pembentukan kembali identitas keagamaan mereka. Pengalaman di Babel memaksa mereka untuk merenungkan perjanjian dengan Allah dan tujuan mereka sebagai umat pilihan. Ketika mereka akhirnya diizinkan kembali ke tanah leluhur mereka, mereka membawa serta Yudaisme yang telah diperbarui dan lebih berpusat pada ketaatan hukum, menyiapkan panggung bagi perkembangan faksi-faksi keagamaan yang akan kita lihat di kemudian hari dalam Perjanjian Baru.

2. Kekaisaran Persia Akhemeniyah (539–332 SM)

Setelah kejatuhan Babel ke tangan Koresh Agung pada tahun 539 SM, Kekaisaran Persia Akhemeniyah mengambil alih kendali atas seluruh wilayah Timur Tengah, termasuk Palestina. Persia, yang terkenal dengan kebijakan toleransi keagamaan dan administrasi yang efektif, mengambil langkah yang sangat signifikan bagi bangsa Yahudi. Pada tahun 538 SM, Koresh mengeluarkan sebuah dekrit yang mengizinkan semua bangsa yang diasingkan untuk kembali ke tanah air mereka dan membangun kembali tempat ibadah mereka. Bagi bangsa Yahudi, dekrit ini berarti mereka bisa pulang ke Yehuda dan memulai pembangunan Bait Allah Kedua.

Di bawah pemerintahan Persia, bangsa Yahudi menikmati periode stabilitas dan otonomi keagamaan yang relatif. Meskipun mereka tetap menjadi bagian dari sebuah kekaisaran yang lebih besar, mereka diizinkan untuk mengatur urusan internal mereka sesuai dengan hukum Taurat, dengan seorang gubernur Yahudi dan Imam Besar yang ditunjuk oleh Persia. Selama periode ini, pengharapan mesianis di kalangan bangsa Yahudi semakin menguat, seiring dengan interpretasi nubuat-nubuat yang berbicara tentang pemulihan dan kedatangan Raja Mesias. Ini adalah waktu ketika banyak dari kitab-kitab Perjanjian Lama disunting dan distandarisasi.

Selain itu, dominasi Persia juga berkontribusi pada penyebaran bahasa Aramaik sebagai bahasa umum di seluruh wilayah kekaisaran barat. Aramaik, yang memiliki kemiripan dengan bahasa Ibrani, menjadi bahasa lingua franca untuk administrasi dan perdagangan. Bahasa inilah yang kemungkinan besar digunakan oleh Yesus dan para murid-Nya dalam percakapan sehari-hari, memberikan konteks linguistik yang penting untuk memahami idiom dan ekspresi dalam Injil. Kebijakan Persia yang memungkinkan pemulangan dan pembangunan kembali Bait Allah secara langsung mempersiapkan struktur keagamaan dan budaya yang akan dihadapi Yesus dan gereja mula-mula.

3. Periode Helenistik (Makedonia-Yunani, Ptolemeus, Seleukia) (332–63 SM)

Pergantian kekuasaan yang paling revolusioner terjadi dengan kedatangan Aleksander Agung dari Makedonia pada tahun 332 SM. Penaklukannya yang cepat atas Kekaisaran Persia membawa serta sebuah era baru yang dikenal sebagai Helenistik, di mana budaya, bahasa, dan filsafat Yunani disebarkan secara agresif ke seluruh wilayah Mediterania Timur. Setelah kematian mendadak Aleksander, kerajaannya terpecah di antara para jenderalnya, dan Palestina menjadi wilayah yang diperebutkan oleh dua dinasti kuat: Ptolemeus yang berbasis di Mesir, dan Seleukia yang berbasis di Suriah. Palestina seringkali menjadi medan pertempuran di antara kedua dinasti ini.

Periode Helenistik ditandai oleh upaya kuat untuk mengasimilasi budaya Yunani, sebuah proses yang dikenal sebagai Hellenisasi. Beberapa orang Yahudi dengan sukarela menerima budaya baru ini, melihatnya sebagai kemajuan. Namun, upaya pemaksaan Hellenisasi oleh penguasa Seleukia, terutama di bawah Antiokhus IV Epifanes, yang bahkan menajiskan Bait Allah dengan persembahan babi dan patung Zeus, memicu perlawanan sengit. Peristiwa ini memuncak dalam Pemberontakan Makabe (167–160 SM), sebuah perjuangan heroik yang berhasil mengusir Seleukia dan mendirikan kembali kemerdekaan Yahudi di bawah Dinasti Hasmonean.

Meskipun Hellenisasi seringkali dianggap sebagai ancaman bagi kemurnian Yahudi, dampaknya yang paling signifikan bagi Perjanjian Baru adalah penyebaran universal bahasa Yunani Koine. Bahasa ini menjadi lingua franca perdagangan, pemerintahan, dan komunikasi di seluruh Mediterania Timur. Seluruh kitab Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani Koine, yang memungkinkan penyebaran pesan Injil secara luas dan efektif kepada berbagai bangsa yang dapat memahami bahasa tersebut. Ini adalah contoh bagaimana Providence Allah menggunakan konteks politik dan budaya global untuk mempersiapkan jalan bagi misi Injil.

4. Kekaisaran Romawi (mulai 63 SM)

Pada tahun 63 SM, kekuatan baru muncul dari Barat, yaitu Kekaisaran Romawi. Jenderal Romawi Pompeius menaklukkan Yerusalem dan mengakhiri kemerdekaan Hasmonean, secara permanen menempatkan Palestina di bawah kendali Romawi. Meskipun Romawi seringkali memerintah melalui raja-raja boneka seperti Herodes Agung dan para gubernur (misalnya, Pontius Pilatus), mereka adalah penguasa tertinggi yang memegang kendali penuh atas kehidupan politik dan keamanan di wilayah tersebut. Pemerintahan Romawi terkenal dengan efisiensi administrasi, militer yang kuat, dan sistem hukum yang ketat.

Salah satu kontribusi terpenting Romawi bagi konteks Perjanjian Baru adalah terciptanya “Pax Romana” (kedamaian Romawi). Meskipun kedamaian ini sering dicapai melalui penaklukan brutal dan kekuasaan otoriter, hasilnya adalah periode stabilitas dan keamanan yang relatif di seluruh kekaisaran. Keamanan ini, dikombinasikan dengan pembangunan jaringan jalan raya yang luar biasa dan luas, sangat memfasilitasi perjalanan para rasul dan penyebaran Injil. Para misionaris seperti Paulus dapat bepergian dengan relatif aman dari satu kota ke kota lain di seluruh Mediterania tanpa menghadapi ancaman bandit berskala besar atau perang antarnegara bagian.

Selain itu, sistem hukum Romawi, meskipun kadang digunakan untuk menindas umat Kristen (seperti dalam kasus penangkapan dan pengadilan Paulus), juga memberikan kerangka kerja yang mempengaruhi cara gereja mula-mula berinteraksi dengan otoritas dan bahkan memungkinkan rasul Paulus untuk mengajukan banding kepada Kaisar (Kisah Para Rasul 25:11). Dengan demikian, meskipun kekuasaan Romawi terasa menindas bagi bangsa Yahudi, infrastruktur dan stabilitas yang mereka sediakan secara paradoks menjadi saluran yang krusial bagi perluasan Kerajaan Allah di dunia awal Kekristenan.

[/collapsible]

[collapsible title=”C. Kelompok-kelompok Utama dalam Yudaisme Abad Pertama”]

C. Kelompok-kelompok Utama dalam Yudaisme Abad Pertama

Yudaisme pada abad pertama Masehi bukanlah sebuah entitas yang seragam, melainkan sebuah mosaik yang kompleks dari berbagai kelompok dengan interpretasi Taurat, harapan mesianis, dan pandangan politik yang berbeda-beda. Memahami karakteristik masing-masing kelompok ini akan membantu kita mengerti dinamika interaksi mereka dengan Yesus dan gereja mula-mula.

1. Farisi

Sejarah Berdiri dan Perkembangan: Kaum Farisi (Perushim dalam bahasa Ibrani, yang berarti “orang-orang terpisah” atau “terasing”) muncul sebagai kelompok keagamaan yang signifikan pada periode antar-Perjanjian, khususnya setelah Pemberontakan Makabe pada abad ke-2 SM. Mereka merupakan respons terhadap Hellenisasi yang dianggap merusak kemurnian iman Yahudi dan juga reaksi terhadap korupsi di antara kaum imam Bait Allah (Saduki). Mereka berupaya mengembalikan fokus pada ketaatan Taurat dalam kehidupan sehari-hari setiap individu, bukan hanya kaum imam. Perkembangan mereka sangat dipengaruhi oleh tradisi lisan yang diyakini berasal dari Musa dan para nabi, yang berfungsi sebagai tafsir dan perluasan dari Taurat tertulis. Setelah kehancuran Bait Allah pada 70 M, kaum Farisi (atau setidaknya ideologi mereka) menjadi cikal bakal utama Yudaisme Rabinik modern.

Tekanan Utama Kelompok: Tekanan utama kaum Farisi adalah ketaatan yang ketat dan teliti pada seluruh Taurat, baik yang tertulis (Kitab Musa) maupun yang lisan (tradisi yang berkembang dari interpretasi para rabi). Mereka percaya bahwa kekudusan yang dulu hanya terpusat di Bait Allah harus bisa dipraktikkan oleh setiap orang Yahudi, di mana pun mereka berada, melalui pemenuhan hukum-hukum ritual dan moral. Mereka juga percaya pada kebangkitan orang mati, keberadaan malaikat, dan roh, yang membedakan mereka dari Saduki. Penekanan mereka pada pendidikan dan pengajaran Taurat menjadikan mereka sangat berpengaruh di kalangan rakyat jelata.

Peran dalam Perjanjian Baru: Dalam Perjanjian Baru, kaum Farisi sering digambarkan sebagai penentang utama Yesus. Konflik antara Yesus dan Farisi muncul dari perbedaan interpretasi hukum Taurat (misalnya, tentang Sabat, kebersihan ritual, atau perceraian), penekanan Yesus pada hati dan bukan hanya pada aturan eksternal, serta tuduhan Yesus terhadap kemunafikan mereka (misalnya, Matius 23). Meskipun demikian, beberapa Farisi bersikap positif terhadap Yesus, seperti Nikodemus (Yohanes 3:1-21) dan Gamaliel (Kisah Para Rasul 5:34-39), yang bahkan menjadi guru Paulus. Setelah kebangkitan Yesus, Farisi juga menjadi kelompok awal yang menyumbangkan orang percaya pada gereja (Kisah Para Rasul 15:5), dan rasul Paulus sendiri adalah mantan Farisi (Filipi 3:5).

2. Saduki

Sejarah Berdiri dan Perkembangan: Kaum Saduki (berasal dari nama Zadok, Imam Besar pada zaman Daud dan Salomo) merupakan kelompok Yahudi yang erat kaitannya dengan aristokrasi keimaman dan kaum bangsawan Yerusalem. Mereka kemungkinan besar mulai terbentuk sebagai faksi yang berbeda pada periode Hasmonean (abad ke-2 SM). Kekuatan mereka bersumber dari kendali atas Bait Allah dan sistem persembahan, yang memberi mereka pengaruh politik dan ekonomi yang besar. Mereka adalah kaum konservatif yang ingin mempertahankan status quo dan menjaga hubungan baik dengan penguasa asing (Hasmonean dan kemudian Romawi) demi melanggengkan kekuasaan mereka. Dengan hancurnya Bait Allah pada 70 M, basis kekuatan dan keberadaan mereka pun lenyap, dan kelompok Saduki kemudian punah.

Tekanan Utama Kelompok: Berbeda dengan Farisi, tekanan utama kaum Saduki adalah otoritas mutlak hanya pada Taurat tertulis (Pentateukh). Mereka menolak semua tradisi lisan yang dipegang Farisi. Konsekuensi dari penolakan ini adalah mereka tidak percaya pada kebangkitan orang mati, keberadaan malaikat, atau roh, karena konsep-konsep ini tidak secara eksplisit diajarkan dalam Pentateukh menurut interpretasi mereka. Sebagai penjaga Bait Allah, mereka lebih fokus pada praktik ibadah kurban dan ritual Bait Allah sebagai pusat kehidupan religius Yahudi.

Peran dalam Perjanjian Baru: Saduki sering digambarkan sebagai musuh bebuyutan Yesus dan kemudian musuh gereja mula-mula. Mereka bersekutu dengan Farisi dalam beberapa kesempatan untuk menjebak Yesus (Matius 16:1-12), dan mereka secara khusus berkonflik dengan Yesus mengenai ajaran kebangkitan (Matius 22:23-33). Setelah kebangkitan Yesus, Saduki adalah pihak yang paling vokal dalam menganiaya para rasul, khususnya Petrus dan Yohanes, karena mereka memberitakan kebangkitan Yesus dari antara orang mati (Kisah Para Rasul 4:1-22; 5:17-42). Kekuasaan politik mereka di Sanhedrin (Mahkamah Agama Yahudi) digunakan untuk menekan gerakan Kristen awal.

3. Zelot

Sejarah Berdiri dan Perkembangan: Kelompok Zelot (dari bahasa Yunani zelotes, “pencemburu” atau “fanatik”) adalah faksi politik-keagamaan yang muncul pada awal abad ke-1 Masehi sebagai respons terhadap pendudukan Romawi di Yudea. Akar gerakan mereka dapat ditelusuri ke Pemberontakan sensus yang dipimpin oleh Yudas dari Galilea pada tahun 6 M. Mereka adalah kaum nasionalis militan yang percaya bahwa satu-satunya penguasa Israel adalah Allah, dan oleh karena itu, membayar pajak kepada Kaisar Romawi adalah sebuah penghinaan terhadap Allah. Mereka bertekad untuk menggulingkan kekuasaan Romawi melalui pemberontakan bersenjata. Gerakan Zelot memuncak dalam Perang Yahudi-Romawi Pertama (66-73 M), yang berakhir dengan kehancuran Yerusalem dan Bait Allah pada 70 M, serta kehancuran kelompok Zelot itu sendiri.

Tekanan Utama Kelompok: Tekanan utama Zelot adalah kebebasan politik dari penjajahan Romawi dan penegasan kedaulatan Allah atas Israel. Mereka sangat menentang segala bentuk kolaborasi dengan Romawi, termasuk pembayaran pajak. Mereka memiliki semangat yang membara (seringkali fanatik) untuk mempertahankan kemerdekaan dan kehormatan Israel, dan tidak segan-segan menggunakan kekerasan dan terorisme untuk mencapai tujuan mereka.

Peran dalam Perjanjian Baru: Keberadaan Zelot menciptakan suasana politik yang tegang di Palestina pada zaman Yesus. Salah satu dari dua belas murid Yesus, Simon (Lukas 6:15; Kisah Para Rasul 1:13), secara eksplisit disebut sebagai “Simon orang Zelot”, menunjukkan bahwa Yesus juga menarik pengikut dari kalangan dengan pandangan politik radikal. Meskipun demikian, ajaran Yesus tentang kerajaan yang “bukan dari dunia ini” (Yohanes 18:36), kasih kepada musuh (Matius 5:44), dan perintah untuk membayar pajak kepada Kaisar (Matius 22:21) jelas berkontradiksi dengan ideologi militan Zelot. Yesus tidak mendukung pemberontakan bersenjata, melainkan menawarkan pembebasan rohani dan moral. Keberadaan Simon Zelot dalam lingkaran murid menunjukkan bahwa pesan Yesus mampu mentransformasi individu dari berbagai latar belakang ideologis.

4. Ahli-ahli Taurat

Sejarah Berdiri dan Perkembangan: Ahli-ahli Taurat (sopherim dalam bahasa Ibrani, grammateus dalam bahasa Yunani) adalah profesi atau jabatan, bukan sekte keagamaan seperti Farisi atau Saduki, meskipun banyak dari mereka terafiliasi dengan kelompok Farisi. Asal-usul mereka dapat ditelusuri kembali ke periode setelah pembuangan Babel, ketika kebutuhan akan penyalin, penafsir, dan pengajar Taurat menjadi sangat penting. Mereka adalah para cendekiawan hukum yang memiliki keahlian dalam menyalin dan menafsirkan Kitab Suci serta tradisi-tradisi hukum. Peran mereka berkembang dari penyalin teks menjadi penafsir otoritatif dan pengajar di sinagoge-sinagoge.

Tekanan Utama Kelompok: Tekanan utama Ahli-ahli Taurat adalah pelestarian, interpretasi, dan pengajaran Taurat. Mereka adalah para pakar hukum Musa yang mendedikasikan hidup mereka untuk mempelajari setiap detail hukum dan bagaimana menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Mereka bertanggung jawab untuk memastikan teks-teks suci disalin dengan akurat dan memberikan fatwa hukum berdasarkan interpretasi mereka terhadap Taurat. Otoritas mereka dalam hal hukum keagamaan sangat dihormati oleh rakyat.

Peran dalam Perjanjian Baru: Dalam Injil, Ahli-ahli Taurat seringkali disebutkan bersama dengan Farisi (misalnya, Matius 23:2, 13). Mereka adalah kelompok yang secara konsisten menguji, menantang, dan menentang otoritas pengajaran Yesus. Mereka terkejut karena Yesus mengajar “bukan seperti ahli-ahli Taurat” (Matius 7:29), melainkan dengan otoritas ilahi. Konflik sering terjadi mengenai interpretasi hukum (misalnya, siapakah tetangga, apa yang membuat seseorang najis) dan klaim Yesus atas otoritas untuk mengampuni dosa. Beberapa Ahli Taurat juga menunjukkan keterbukaan, seperti yang bertanya tentang perintah utama (Markus 12:28-34). Setelah kebangkitan Yesus, para Ahli Taurat juga menjadi bagian dari Sanhedrin yang menentang dan menganiaya gereja mula-mula (Kisah Para Rasul 4:5-7; 6:12).

5. Kelompok Herodian

Sejarah Berdiri dan Perkembangan: Kelompok Herodian (Herodiani dalam bahasa Latin) bukanlah sekte keagamaan, melainkan sebuah faksi politik yang mendukung dinasti Herodes dan, secara implisit, kekuasaan Romawi atas Yudea. Mereka terdiri dari orang-orang Yahudi yang kepentingannya (politik, ekonomi, sosial) terikat erat dengan keberlangsungan pemerintahan Herodian dan Romawi. Kelompok ini kemungkinan besar muncul dan menguat selama periode kekuasaan Herodes Agung dan anak-anaknya di abad ke-1 SM dan awal abad ke-1 M. Tujuan utama mereka adalah menjaga stabilitas politik yang menguntungkan mereka.

Tekanan Utama Kelompok: Tekanan utama Kelompok Herodian adalah mempertahankan status quo yang menguntungkan mereka secara politis dan ekonomi. Mereka adalah kaum pragmatis yang berpihak pada kekuasaan yang ada demi kepentingan pribadi dan kelompoknya. Mereka tidak memiliki doktrin teologis yang spesifik, melainkan lebih pada keselarasan politik dengan penguasa Romawi melalui dinasti Herodes.

Peran dalam Perjanjian Baru: Kelompok Herodian disebutkan dalam Injil sebagai pihak yang bersekutu dengan Farisi untuk menjebak dan menguji Yesus. Misalnya, mereka bersama Farisi mendekati Yesus untuk bertanya apakah sah membayar pajak kepada Kaisar (Markus 12:13; Matius 22:16), sebuah pertanyaan yang dirancang untuk menjebak Yesus agar berpihak pada Romawi (dan dengan demikian ditolak Zelot dan nasionalis) atau menentang Romawi (dan dengan demikian ditangkap oleh otoritas). Keterlibatan mereka menunjukkan bagaimana oposisi terhadap Yesus datang dari berbagai spektrum politik dan keagamaan, yang bersatu dalam upaya untuk menyingkirkan-Nya.

Terakhir, penting juga untuk menyoroti Situasi Bangsa-Bangsa di Galilea. Wilayah Galilea dikenal sebagai “Galilea Bangsa-Bangsa” (Yesaya 9:1), yang mengindikasikan keberadaan populasi non-Yahudi yang signifikan di sana. Yesus sendiri sering melayani di wilayah perbatasan, termasuk ke kota-kota seperti Tirus, Sidon, dan kota-kota Dekapolis. Hal ini menekankan bahwa pelayanan Yesus sejak awal tidak terbatas hanya pada bangsa Yahudi, melainkan juga menjangkau bangsa-bangsa lain, sebuah indikasi awal dari misi global Injil.

[/collapsible]

[collapsible title=”D. Proses Penulisan Injil-Injil dan Kisah Para Rasul Berdasarkan Urutan Tahun Penulisan”]

D. Proses Penulisan Injil-Injil dan Kisah Para Rasul Berdasarkan Urutan Tahun Penulisan

Memahami proses penulisan kitab-kitab Perjanjian Baru yang membentuk narasi sentral tentang Yesus dan gereja mula-mula memerlukan tinjauan kronologis. Ini bukan sekadar latihan akademis, melainkan membantu kita melihat bagaimana kesaksian tentang Yesus pertama kali dibentuk, disebarkan, dan akhirnya didokumentasikan.

1. Injil Markus (~55-60 M)

Sebagian besar sarjana Perjanjian Baru meyakini bahwa Injil Markus adalah yang pertama kali ditulis, kemungkinan besar antara tahun 55-60 M. Injil ini ditulis di Roma, kemungkinan besar untuk komunitas Kristen non-Yahudi di sana, dan dikaitkan dengan Yohanes Markus, yang adalah rekan kerja Petrus dan Paulus. Markus diyakini mendasarkan Injilnya pada kesaksian lisan dan khotbah-khotbah Petrus yang ia dengar. Gaya penulisannya ringkas, lugas, dan dinamis, sering menggunakan kata “segera.” Tujuannya adalah untuk menyajikan Yesus sebagai Hamba Allah yang Menderita dan untuk memperkuat iman orang percaya di tengah penganiayaan yang mungkin sedang mereka alami di Roma. Karena prioritas penulisannya, Markus menjadi fondasi narasi sinoptik (Matius, Markus, Lukas) dan mempengaruhi Injil-injil yang ditulis sesudahnya.

2. Injil Lukas dan Kisah Para Rasul (~62-64 M)

Lukas adalah penulis Injil Lukas dan Kisah Para Rasul, yang merupakan dua jilid dari satu karya sejarah yang lebih besar. Ia adalah seorang tabib dan rekan seperjalanan Paulus, yang bukan saksi mata langsung kehidupan Yesus. Lukas melakukan penelitian yang cermat dengan mewawancarai saksi mata dan merujuk pada catatan-catatan yang ada, termasuk Injil Markus dan kemungkinan sumber-sumber lain yang unik baginya (seperti “Sumber Q” dan tradisi Maria). Ia menulis karyanya untuk Teofilus, seorang pejabat tinggi Romawi, dengan tujuan menyajikan sebuah narasi yang teratur, akurat secara historis, dan kredibel tentang Yesus dan awal mula gereja. Injil Lukas menekankan inklusivitas Injil bagi semua orang, termasuk kaum miskin, wanita, dan orang-orang buangan, serta peran penting Roh Kudus dan doa.

Segera setelah menyelesaikan Injilnya, Lukas menulis Kisah Para Rasul sebagai kelanjutan logis. Kitab ini mencatat perluasan Injil “mulai dari Yerusalem, ke seluruh Yudea dan Samaria, sampai ke ujung bumi” (Kisah Para Rasul 1:8), melalui kuasa Roh Kudus. Karena narasi Kisah Para Rasul berakhir dengan Paulus yang berada di bawah tahanan rumah di Roma tanpa menyebutkan kematiannya atau penganiayaan Nero yang masif pada tahun 64 M, disimpulkan bahwa kedua kitab ini (Lukas dan Kisah Para Rasul) kemungkinan besar ditulis antara tahun 62-64 M. Kitab Kisah Para Rasul memberikan jembatan vital antara kehidupan Yesus dan perkembangan gereja mula-mula, menunjukkan bagaimana misi Yesus terus berlanjut melalui para murid-Nya.

3. Injil Matius (~66-70 M)

Injil Matius diyakini ditulis setelah Markus dan Lukas, kemungkinan besar antara tahun 66-70 M. Penulisnya adalah Matius (Lewi), seorang pemungut cukai yang menjadi murid Yesus. Injil ini ditujukan terutama untuk audiens Yahudi-Kristen, dengan tujuan untuk menunjukkan bahwa Yesus adalah Mesias yang dinubuatkan dalam Perjanjian Lama. Matius sering mengutip nubuatan Perjanjian Lama dan menekankan bagaimana Yesus menggenapinya. Ia juga menyajikan pengajaran Yesus dalam lima blok wacana besar (misalnya, Khotbah di Bukit), yang menyerupai lima kitab Taurat Musa, menegaskan Yesus sebagai Musa yang baru dan pengajar agung. Meskipun menggunakan Markus dan Sumber Q, Matius menyusun materinya dengan cara yang sistematis untuk membuktikan klaim Mesias Yesus kepada pembaca Yahudi. Penulisan pada periode ini, tepat sebelum atau saat kehancuran Yerusalem, juga memberikan Matius kesempatan untuk menekankan panggilan bagi Israel yang baru, yaitu Gereja.

4. Injil Yohanes (~90-100 M)

Injil Yohanes adalah Injil yang ditulis paling belakangan, diperkirakan antara tahun 90-100 M. Penulisnya adalah rasul Yohanes, “murid yang dikasihi Yesus.” Berbeda dengan Injil-injil Sinoptik (Matius, Markus, Lukas) yang lebih berfokus pada narasi dan ringkasan ajaran Yesus, Yohanes menyajikan perspektif yang lebih mendalam dan teologis, menekankan keilahian Yesus sebagai Firman yang menjadi daging. Yohanes memilih kisah-kisah mukjizat (yang ia sebut “tanda-tanda”) dan dialog-dialog panjang Yesus untuk menunjukkan siapa Yesus sesungguhnya.

Tujuan utama Injil Yohanes adalah agar para pembaca percaya bahwa Yesus adalah Kristus, Anak Allah, dan melalui iman itu memperoleh hidup yang kekal (Yohanes 20:31). Injil ini ditulis di kemudian hari, kemungkinan besar di Efesus, untuk mengatasi ajaran-ajaran sesat yang mulai muncul dan untuk memperdalam pemahaman teologis jemaat tentang identitas Yesus. Keunikan gaya dan fokus Yohanes membuatnya menjadi Injil yang sangat penting untuk memahami aspek-aspek Kristologi dan konsep hidup kekal dalam Perjanjian Baru.
[/collapsible]

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *