Kabar Baik!

KABAR BAIK UNTUK SEMUA ORANG

PERCAYAKAH ANDA PADA PENGAMPUNAN DOSA?

MASALAH KITA: KITA SEMUA BERDOSA

MASALAH KITA: KITA SEMUA BERDOSA

Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, Roma 3:23

Setiap orang pernah berbuat salah (dosa). Dosa kita membuat kita jauh dari Allah yang suci. Tidak ada yang bisa kita lakukan sendiri untuk menutupi kesalahan itu.

HUKUMAN MENANTI KITA

Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah. Roma 14:12

Sebab upah dosa ialah maut;… Roma 6:23a

Kita semua harus menghadapi Allah suatu hari nanti. Upah (bayaran) dari dosa kita adalah maut (kematian kekal, terpisah dari Allah).

ALLAH MENGASIHI KITA

ALLAH MENGASIHI KITA

Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. Roma 5:8

…tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. Roma 6:23b

Karena kasih-Nya yang besar, Allah tidak ingin kita binasa. Saat kita masih berdosa, Yesus Kristus mati untuk menggantikan kita dan menanggung hukuman kita. Sekarang, Dia menawarkan keselamatan dari kematian kekal.

ALLAH MENYEDIAKAN PENGAMPUNAN

Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Roma 10:9

Percayalah di dalam hati bahwa Yesus mati dan bangkit bagi Anda, dan Akuilah Dia sebagai Tuhan (Pemimpin) hidup Anda.

DAN PEMBEBASAN DARI HUKUMAN

Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Roma 8:1

Jika Anda percaya, maka Allah mengampuni Anda. Anda tidak perlu lagi takut pada hukuman. Allah telah menghapus dosa-dosa Anda dan tidak akan memperhitungkannya lagi. Anda memiliki hidup baru yang aman di dalam Yesus!

Maka bersukacitalah dan berbahagialah seperti yang dikatakan Firman Allah:

“Berbahagialah orang yang diampuni pelanggaran- pelanggarannya, dan yang ditutupi dosa-dosanya; Berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan kepadanya.” Roma 4:7-8

Langkah Penting!

LANGKAH PENTING: BERDOA

Jika Anda ingin menerima pengampunan, terimalah Yesus sebagai Juruselamat dan Tuhan Anda, ucapkanlah doa ini dengan sungguh-sungguh dari hati Anda,

DOA MENERIMA YESUS KRISTUS

“Tuhan Yesus, Saya mengakui bahwa saya adalah seorang berdosa Saya pantas menerima hukuman kekal.

Tetapi hari ini, saya percaya bahwa Engkau telah mati di salib untuk menggantikan saya. Saya juga percaya Engkau telah bangkit pada hari yang ketiga. Saat ini, saya menerima Engkau sebagai Tuhan dan Juruselamat saya.

Mulai saat ini, pimpinlah hidup saya. Terima kasih, Tuhan Yesus. Amin.”

Maukah Anda Berdoa?

Selamat dan Berbahagialah karena Anda telah diampuni”

Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Roma 8:1

“Berbahagialah orang yang diampuni pelanggaran- pelanggarannya, dan yang ditutupi dosa-dosanya; Berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan kepadanya.” Roma 4:7-8

Undangan untuk Anda!

Kami mengundang Anda bergabung dengan orang-orang yang telah menerima pengampunan dan terus belajar tentang kasih Allah di

GEREJA BAPTIS TIBERIAS
PUNGGUR KAPUAS

PPPB1 – (Kisah Para Rasul Bagian Pertama)

Kisah Para Rasul (Bagian Pertama)

Penulis Kisah Para Rasul

Kitab Kisah Para Rasul merupakan bagian penting dalam Perjanjian Baru yang menyajikan narasi sejarah perkembangan iman Kristen setelah kebangkitan Yesus Kristus. Kitab ini berfungsi sebagai kelanjutan dari Injil Lukas dan memiliki karakteristik sebuah karya naratif-historis dengan tujuan memberi gambaran rinci tentang pendirian gereja mula-mula dan penyebaran Injil dari Yerusalem ke Roma. Penulis tradisional kitab ini adalah Lukas, seorang tabib berpendidikan Yunani yang bukan saksi mata langsung terhadap kehidupan Yesus, tetapi merangkai catatannya berdasarkan penyelidikan pribadi dan wawancara dengan saksi-saksi mata serta sumber terpercaya, seperti dikatakan di Lukas 1:3-4. 1
Para sarjana modern umumnya menerima bahwa pengarang Injil Lukas dan Kisah Para Rasul adalah orang yang sama, ditandai oleh kesamaan gaya bahasa, tema, serta penggunaan istilah medis yang menunjukkan latar belakang sebagai dokter. Selain itu, struktur prolog di Kisah Para Rasul (Kisah 1:1-2) memberikan indikasi jelas bahwa penulis ramahnya ditujukan kepada Teofilus, sosok yang kemungkinan adalah pejabat Romawi atau orang terhormat yang didedikasikan untuk memperdalam pemahamannya tentang iman Kristen. 2
Diskusi akademis menyangkut kepengarangan dan tujuan penulisan Kisah Para Rasul cukup kaya. Banyak ahli, seperti F.F. Bruce dan Richard Bauckham, menegaskan bahwa Lukas menulis kitab ini dengan niat teologis dan historis, menggarisbawahi peran Roh Kudus dalam perkembangan gereja dan misi universal kepada orang bukan Yahudi. 3   Sementara itu, ada juga perdebatan terkait keaslian narasi “kami” yang muncul beberapa kali dalam teks sebagai tanda bahwa sang penulis mungkin adalah rekan perjalanan Paulus, walau ada pendapat yang mempertanyakan apakah itu benar-benar catatan autobiografi atau teknik narasi sastra. 4
Selain itu, pertanyaan mengenai latar belakang Lukas sebagai bukan Yahudi dan pendidikannya yang tinggi di dunia Yunani memperkaya pemahaman bagaimana Kisah Para Rasul dirancang untuk menghubungkan berbagai budaya dan kelompok, dari komunitas Yahudi hingga bangsa-bangsa lain, demi menyampaikan pesan keselamatan secara global. 5
Kisah Para Rasul adalah narasi sejarah yang tertata dengan baik, yang tidak hanya merekam fakta-fakta masa awal gereja, tetapi juga menampilkan teologi perkembangan iman Kristen dan pekerjaan Roh Kudus, serta mengajak pembacanya — dari Teofilus sampai generasi sekarang — untuk memahami proses penyebaran Injil dalam konteks budaya dan sejarah masa itu.

Tujuan Penulisan Kisah Para Rasul

Tujuan utama Lukas dalam menulis Kitab Kisah Para Rasul adalah menyajikan catatan yang teratur dan andal mengenai kelanjutan karya Yesus melalui Roh Kudus dalam kehidupan para rasul setelah kenaikan-Nya ke surga. Lukas ingin menekankan bahwa pelayanan Yesus di Yerusalem tidak berhenti setelah kenaikan-Nya, melainkan berlanjut dan meluas menjadi gerakan global yang didorong oleh kuasa Roh Kudus, sebagaimana dinyatakan dalam Kisah 1:8.
Kitab ini secara efektif menjembatani Injil dengan surat-surat Paulus dan surat-surat umum dalam Perjanjian Baru. Peralihan fokus dari pelayanan Yesus di Palestina menuju penyebaran Injil di seluruh Kekaisaran Romawi menjadi inti narasi, menunjukkan bagaimana gereja mula-mula berkembang dan menyebar ke berbagai wilayah budaya dan etnis di luar dunia Yahudi.
Menurut para sarjana seperti F.F. Bruce, Lukas menulis dengan tujuan teologis sekaligus historis, berupaya meyakinkan pembaca akan legitimasi dan kemajuan gereja melalui bimbingan Roh Kudus dan kehadiran kuasa ilahi yang nyata dalam pemberitaan Injil. 6   Sementara itu, Luke Timothy Johnson menekankan pentingnya narasi ini sebagai penghubung antara peran Yesus dan karya para rasul yang mewartakan Injil kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi, menegaskan pergeseran misi dari komunitas Yahudi ke komunitas lintas budaya yang luas. 7
Di sisi lain, karya Bartolomeus Diaz Nainggolan menyoroti bagaimana Lukas secara khusus ingin menampilkan perjalanan geografis dan spiritual penyebaran Injil dari Yerusalem sampai ke Roma, dengan Roh Kudus sebagai motor penggerak yang memperkuat jemaat dalam menghadapi tantangan dan penganiayaan. 8   Nainggolan juga menegaskan bahwa Kisah Para Rasul bukan hanya catatan sejarah literal, melainkan penafsiran teologis yang mendalam tentang eksistensi dan ekspansi gereja mula-mula.
Lebih jauh lagi, para ahli lain memperhatikan bahwa tujuan Lukas tidak hanya merekam sejarah gereja dari perspektif empiris, tetapi mengajak pembaca untuk mengalami harapan dan kuasa Allah melalui perantaraan Roh Kudus dalam misi kesaksian. Narasi ini memuat pola baptisan Roh Kudus sebagai persiapan dan kekuatan yang normatif dalam pelayanan gereja, menjadikan Kisah Para Rasul sebagai fondasi penting bagi pemahaman eklesiologi dan pneumatologi Kristen mula-mula. 9
Dengan demikian, Lukas berhasil menghubungkan dimensi historis, teologis, dan misionaris dalam satu kerangka narasi yang teratur dan berdaya guna untuk mendukung pertumbuhan iman dan penghayatan pembaca terhadap kesinambungan pemberitaan Injil.

Tema-tema Utama
Kerajaan Allah dan Kristus: Bingkai Naratif yang Tak Terpisahkan

Hubungan antara Kerajaan Allah dan Yesus Kristus menempati posisi sentral dan menjadi bingkai naratif penting dalam Kitab Kisah Para Rasul. Kitab ini dibuka dengan catatan bahwa Yesus, setelah kebangkitan-Nya, selama empat puluh hari “berbicara tentang Kerajaan Allah” kepada para rasul (Kis 1:3). Penutupan kitab ini juga menegaskan tema yang sama dengan gambaran Rasul Paulus di Roma, yang meskipun dalam tahanan rumah, “dengan berani dan terus terang memberitakan Kerajaan Allah dan mengajar tentang Tuhan Yesus Kristus” (Kis 28:30-31).

Kesinambungan ini menegaskan bahwa Kerajaan Allah tidak dapat dipisahkan dari pribadi dan karya Kristus. Kerajaan tersebut diresmikan melalui panggilan dan misi Yesus, di mana pesan tentang Kerajaan Allah secara inheren adalah pesan tentang Yesus Kristus sebagai Raja. Para sarjana seperti F.F. Bruce menyatakan bahwa narasi Lukas menunjukkan Kerajaan Allah sebagai realitas yang diaktifkan melalui Yesus dan berlanjut melalui aktivitas para rasul dalam mengembangkan ekklesia yang kohesif dan berpengaruh dalam dunia Romawi yang luas. 10

Lebih jauh, Luke Timothy Johnson memperlihatkan dimensi teologis bahwa Kerajaan Allah yang diwartakan merupakan penggenapan nubuat eskatologis, khususnya Daniel 7:13-14, yang mengungkapkan pemerintahan Anak Manusia atas segala bangsa dan bahasa sebagai pemuncak sejarawi dan kosmik. Lukas merekam ekspansi misi ini dari Yerusalem ke lingkungan kekaisaran sebagai bukti otoritas dan kuasa Kristus yang tidak dapat dibatasi oleh otoritas-otoritas duniawi. 11

Bartolomeus Diaz Nainggolan menyoroti aspek naratif perjalanan geografis dan teologis yang digambarkan Lukas, yang mengaitkan penyebaran Injil dan pengenalan kerajaan ini dari pusat Yahudi ke jantung kekaisaran Romawi, dengan Roh Kudus sebagai penggerak utama yang memastikan kesinambungan kuasa dan otoritas ilahi di tengah tantangan dunia. 12

Craig S. Keener menambahkan bahwa pengajaran mengenai Kerajaan Allah bukan hanya fenomena historis, tetapi juga manifestasi teologis dan spiritual yang memotivasi perilaku para pengikut Kristus dalam konteks sosial mereka, sekaligus menghadirkan dimensi eskatologis yang meneguhkan harapan akan pemulihan akhir dunia. Dengan demikian, kerajaan tersebut hadir secara nyata dan sementara berkembang dalam kehidupan dan pelayanan gereja mula-mula, sebagai kesaksian nyata dari pemerintahan Kristus atas seluruh ciptaan. 13

Lukas melalui narasinya menampilkan Kerajaan Allah yang integral dengan keberadaan dan karya Yesus Kristus, yang menjadi pusat pengajaran dan pelayanan gereja awal, serta menunjukkan penggenapan janji eskatologis yang melibatkan seluruh umat manusia dalam pemerintahan ilahi yang kekal dan tanpa batas.

Kerangka Geografis (Ekklēsia) Berdasarkan Ayat Kunci

Kisah Para Rasul 1:8 menyajikan kerangka naratif dan geografis yang jelas mengenai perluasan gerakan Ekklēsia dalam Kitab Kisah Para Rasul: “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” 14

Pertama, “Yerusalem” mewakili konsolidasi gereja dalam konteks Yudaisme, sebagaimana tercermin dalam Kisah 1–7. Lalu wilayah Yudea dan Samaria melambangkan peralihan dan ekspansi penyebaran Injil melintasi batas etnis dan geografis ke kelompok yang berbeda, sebagaimana diceritakan dalam Kisah 8–12. Dan akhirnya, Kisah 13–28 menggambarkan perjalanan misi Paulus sampai ke “ujung bumi” yang dipahami sebagai Roma, pusat Kekaisaran Romawi, menandai misi universal dan lintas budaya. 15 Para sarjana menegaskan bahwa ayat ini bukan hanya janji rohani, melainkan peta misi dengan signifikansi geografis dan etnis. Thomas S. Moore meneliti latar belakang Isaianik frasa “sampai ke ujung bumi” yang menyatakan universalitas misi, merujuk pada konteks Daniel dan Lukas 24:47. 16 P.B. Smit menambahkan bahwa pembagian geografis dalam ayat ini dapat dipahami sebagai “peta dunia imajiner” yang menghubungkan Yerusalem sebagai pusat dengan seluruh dunia sebagai batas eksternal, yang berisi makna imperial dan teologis. 17

Frasa “Kamulah saksi-saksi-Ku” (ἔσεσθέ μου μάρτυρες) menunjukkan klaim ilahi Yesus, karena dalam Perjanjian Lama hanya YHWH yang memiliki saksi-saksi-Nya (Yesaya 43:12), menjadikan para rasul perpanjangan otoritas ilahi-Nya. Selanjutnya, Kelly O. Onongha melihat ayat ini sebagai paradigma misi yang menyeluruh, dari pusat Yerusalem ke ujung dunia, sebagai tuntutan misi lintas budaya yang relevan bahkan untuk gereja masa kini. 18

Kerangka geografis Kisah Para Rasul 1:8 tidak semata peta literal melainkan juga konstruksi naratif-teologis soal jangkauan dan kuasa Kerajaan Allah yang universal dan tak terbatas.

Pentakosta: Pemberdayaan dan Ekspansi Misi Global

Pentakosta adalah titik balik utama dalam Kisah Para Rasul, yang dicatat dalam pasal 2 dan terjadi 50 hari setelah Kebangkitan Yesus. Peristiwa ini menandai penggenapan janji Yesus mengenai pemberdayaan Roh Kudus setelah kebangkitan-Nya (Kis 1:4-5), sekaligus menggenapi nubuat Nabi Yoel (Yoel 2:28-32) yang menjanjikan pencurahan Roh Kudus kepada umat perjanjian Allah, yakni Israel. Dalam konteks Perjanjian Lama, Israel sendiri disebut sebagai ekklēsia (dalam Septuaginta, istilah ini merujuk pada Israel sebagai ekklēsia sekitar enam puluh delapan kali), menandai kesatuan umat yang dipanggil dalam perjanjian Allah.
Peristiwa Pentakosta ini unik karena Roh Kudus dicurahkan dengan tanda-tanda luar biasa seperti bunyi angin keras dan lidah-lidah api yang hinggap pada masing-masing murid. Tanda-tanda ini secara teologis melambangkan dynamis, yaitu kuasa ilahi yang memberdayakan dan kehadiran nyata Allah dalam memperlengkapi para murid-Nya untuk misi global. Pencurahan Roh Kudus ini tidak menciptakan ekklēsia sebagai institusi baru, tetapi mentransformasi perkumpulan pengikut Kristus menjadi saksi berani dan efektif dalam memberitakan Kerajaan Allah ke seluruh dunia.
Konsep “Sisa Israel” (Remnant) sangat relevan dalam konteks ini. Perjanjian Lama mengajarkan bahwa sisa umat Allah adalah kelompok yang setia dan diselamatkan (Yesaya 10:20; Yeremia 31:7), dan Paulus menegaskan bahwa sisa ini diselamatkan berdasarkan kasih karunia Allah (Roma 9:27; 11:5). Pentakosta merupakan peresmian publik dari umat Allah yang diperlengkapi dan diotorisasi untuk melaksanakan Amanat Agung (Mat 28:18-20). Dengan kuasa Roh Kudus, murid-murid yang semula ketakutan diubah menjadi saksi-saksi yang berani dan mewartakan Kerajaan Allah dengan kuasa yang jelas.
Dalam khotbahnya yang penuh semangat, Petrus secara eksplisit mengutip nubuat Yoel 2, menegaskan bahwa peristiwa pencurahan Roh Kudus itu adalah penggenapan janji Ilahi kepada umat-Nya. Pentakosta menegaskan misi global gereja bukan hanya sebagai warisan historis, tetapi juga sebagai panggilan berkelanjutan bagi setiap generasi untuk membawa Injil ke segala bangsa dengan kuasa Roh Kudus.
Para sarjana menyambut Pentakosta sebagai transformasi teologis dan strategis dalam misi gereja mula-mula. Craig Keener menegaskan bahwa fenomena linguistik dalam Kisah Para Rasul 2 adalah momen penting bagi komunikasi lintas bahasa dan budaya, membuka jalan bagi penyebaran Injil secara global. 19 Bill Menzies menelusuri akar historis dan teologis Pentakosta yang menjadi cikal bakal gerakan Pentakosta modern, menekankan pengalaman karunia-karunia Roh Kudus dan pembaruan rohani sebagai inti gereja mula-mula. 20
Pentakosta merupakan pemberdayaan Roh Kudus yang memegang peranan sentral dalam ekspansi misi global Kekristenan, mengubah komunitas murid-murid Yesus menjadi komunitas misi yang berani, dan berpusat pada pengalaman ilahi dalam membagikan kabar keselamatan.

Karakteristik Komunitas: Persekutuan yang Radikal

Dampak langsung dari Peristiwa Pentakosta pada komunitas percaya mula-mula di Yerusalem sangat jelas terlihat dalam Kisah Para Rasul 2:42-47 dan 4:32-35, yang menggambarkan suatu model persekutuan (koinonia) yang radikal dan menjadi fondasi kehidupan gereja awal. Para pengikut Yesus membangun komunitas yang ditandai oleh pengabdian terhadap empat pilar utama: pengajaran rasul-rasul (ἡ διδαχη τῶν ἀποστόλων), persekutuan (ἡ κοινωνία), pemecahan roti (ἡ κλάση τοῦ ἄρτου), dan doa-doa (αἱ πρόσευχαι). 21

Para sarjana memperhatikan bahwa unsur-unsur ini bukan hanya ritual atau kebiasaan, melainkan ekspresi nyata dari kehidupan yang berpusat pada Kristus dengan penekanan kuat pada solidaritas dan hidup bersama secara sosial dan spiritual. Kehidupan yang ditandai kesatuan hati dan jiwa ini juga diwujudkan melalui praktik menjual harta benda dan membagikannya kepada yang berkekurangan—sebuah solidaritas sosial yang luar biasa dan radikal di tengah masyarakat yang sangat stratifikasi sosial waktu itu. 22

Sebagai contoh, Richard Bauckham mengamati bahwa ciri “kepemilikan bersama” ini tidak hanya mencerminkan idealisme komunitas, melainkan manifestasi dari penghormatan terhadap nilai-nilai persaudaraan dan pertolongan bagi yang membutuhkan, yang berakar pada ajaran Yesus dan semangat Roh Kudus yang menyatukan. 23

Sementara itu, Luke Timothy Johnson menegaskan bahwa koinonia di sini adalah dasar teologis penting yang menghubungkan keselamatan pribadi dengan tanggung jawab bersama; gereja mula-mula sebagai tubuh Kristus menghidupi panggilan kolektif untuk saling menopang dan mengasihi dengan kemurahan hati yang nyata. 24

Diskursus lain yang menarik adalah tentang “pemecahan roti” yang oleh beberapa scholar dipahami juga sebagai pemberian makan komunal serta penghayatan Perjamuan Kudus dalam konteks rumah tangga para percaya. 25 Rumusan ini memperlihatkan keterikatan erat antara persekutuan rohani dan praktek sosial nyata di antara umat. 26

Pertumbuhan komunitas ini pun tercatat berlangsung terus-menerus, berkat sikap hidup mereka yang sukacita, rendah hati, dan mudah bersyukur, yang menarik hati banyak orang sehingga membawa pertambahan jumlah jemaat secara signifikan. 27

Komunitas awal ini merupakan model radikal dan autentik dalam hal kebersamaan spiritual dan sosial, suatu teladan yang menjadi bahan kajian dan inspirasi bagi banyak gereja dan teolog hingga kini.

Catatan kaki

1 F. F. Bruce, The Book of Acts: The English Text with Introduction, Exposition and Notes (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1988), 21-22
2 Richard Bauckham, The Testimony of the Beloved Disciple: Narrative, History, and Theology in the Gospel of John (Baylor University Press, 2006), 15-17
3 Luke Timothy Johnson, The Writings of the New Testament: An Interpretation (Minneapolis, MN: Fortress Press, 1999), 84-86
4 Michael D. Goulder, Acts: A Commentary (SCM Press, 1994), 43-45
5 Craig S. Keener, The Acts of the Apostles: A Socio-Rhetorical Commentary (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 2012), 10-12
6 Bruce, The Book of Acts, 72-75
7 Johnson, The Writings of the New Testament, 205-10
8 Bartolomeus Diaz Nainggolan, “Penafsiran Kisah Para Rasul 1:8 Dan Implementasi Misi Pemberitaan Injil Lintas Budaya,” Jurnal Koinonia 6, no. 2 (November 2013): 24–29.
9 Keener, The Acts of the Apostles: A Socio-Rhetorical Commentary, 98-104
10 Bruce, The Book of Acts, 90-95.
11 Johnson, The Writings of the New Testament, 220-5.
12 Nainggolan, “Penafsiran Kisah Para Rasul 1:8 Dan Implementasi Misi Pemberitaan Injil Lintas Budaya.”
13 Keener, The Acts of the Apostles: A Socio-Rhetorical Commentary, 115-20.
14 Thomas S. Moore, “To The End of The Earth: The Geograhical and Ethnic Universalism of Acts 1:8 in Light of Isaianic Influence on Luke,” Journal of the Evangelical Theological Society, To The End of The Earth, vol. 40, no. 3 (1997): 389–99, https://etsjets.org/wp-content/uploads/2010/07/files_JETS-PDFs_40_40-3_40-3-pp389-399_JETS.pdf.

15 P. B. Smit, “Negotiating a New World View in Acts 1.8? A Note on the Expression,” New Testament Studies 63, no. 1 (2017): 56–62, https://www.cambridge.org/core/journals/new-testament-studies/article/negotiating-a-new-world-view-in-acts-18-a-note-on-the-expression/6BD859A1B6218C5A9AAEEE6221B0732F, 56.

16 Moore, “To The End of The Earth” 392-3.

17 Smit, “Negotiating a New World View in Acts 1.8? A Note on the Expression.” 59-60.

18 Kelly O. Onongha, “Acts 1:8—A Paradigm for Mission in West-Central Africa,” Journal of African Missions Studies 5, no. 1 (2009): 44–50, https://digitalcommons.andrews.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1058&context=jams.
19 19 Craig S. Keener, The Acts of the Apostles, 98-104.
20 20 Bill Menzies, “Pentecostalism,” dalam Encyclopedia of Christianity, ed. Erwin Fahlbusch (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 2003), 1118-24.
21 . Craig S. Keener, The Acts of the Apostles, 104-8.

22 . Richard Bauckham, Gospel Women: Studies of the Named Women in the Gospels (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 2002), 45-50.

23 . Luke Timothy Johnson, The Writings of the New Testament, 212-5.

24 . Ibid., 217-20.

25 . F.F. Bruce, The Book of Acts, 65-70.

20 26 . Ibid., 71-75.

20 27 . Hans Conzelmann, Acts of the Apostles: A Commentary on the Book of Acts (Philadelphia, PA: Fortress Press, 1987), 38-42.

Tugas Terstruktur (120 menit)
  1. Tugas Menyusun Garis Besar Kitab Kisah Para Rasul: Kumpulkan garis besar Kitab Kisah Para Rasul dari minimal 5 sumber berbeda (buku, internet, aplikasi Alkitab Android). Setelah itu, susunlah garis besar pribadi Anda untuk Kitab Kisah Para Rasul berdasarkan pemahaman dan analisis Anda sendiri. Tugas dikumpulkan pada Pertemuan 11.
  2. Meringkas buku Satu Injil Tiga Pekabar, Karya B. F. Drewes: Buatlah ringkasan buku Satu Injil Tiga Pekabar Bab 5. Tugas dikumpulkan pada Pertemuan 7.
  3. Buatlah makalah mendalam tentang kelompok-kelompok kunci dalam Yudaisme abad pertama yang berinteraksi dengan Yesus dan gereja mula-mula: Farisi, Saduki, Zelot, Ahli-ahli Taurat, Kelompok Herodian dan Diaspora. Makalah harus mencakup,
  • Sejarah kemunculan dan perkembangan masing-masing kelompok.
  • Kepercayaan/ideologi utama dan praktik-praktik keagamaan atau politik mereka.
  • Peran dalam masyarakat Yahudi pada abad pertama.
  • Bagaimana mereka berinteraksi dengan Yesus (pandangan mereka tentang Yesus, konflik, atau dukungan).
  • Relevansi atau dampak mereka terhadap gerakan Kekristenan awal.

Catatan:

  1. Panjang Makalah: Minimal 8 halaman (tidak termasuk halaman judul, daftar isi, dan daftar pustaka).
  2. Format: Font Times New Roman 12, spasi 1.5, margin standar.
  3. Sitasi & Kepustakaan: Wajib menggunakan catatan kaki (footnotes) dan Kepustakaan (bibliography) yang dikelola dengan aplikasi referensi seperti Zotero atau Mendeley.
  4. Makalah dikumpulkan saat Ujian Akhir Semester.
  5. Pada tahap ini, teruslah membaca dan mencatat kutipan-kutipan dari sumber-sumber (buku, website, blog atau jurnal) tentang kelompok Yudaisme yang telah ditentukan.
Tugas Mandiri (120 menit)

• Membaca Injil Matius secara keseluruhan.
• Menulis refleksi di Journalit terhadap pertemuan ini.

Metodologi Penelitian

METODOLOGI PENELITIAN KUALITATIF DI BIDANG TEOLOGI DAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN

Grounded Theory

Grounded Theory

Studi Kasus

Studi Kasus

Etnografi

Etnografi

Fenomenologi

Fenomenologi

Sejarah Lisan

Sejarah Lisan

Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

 

Bahasa Indonesia – Silabus

Silabus Bahasa Indonesia

Identitas Mata Kuliah

Identitas Mata Kuliah

Program Studi: Teologi dan Pendidikan Agama Kristen (PAK)
Jumlah Pertemuan: 14 (termasuk UTS dan UAS)
Durasi per Pertemuan:

  • Tatap muka: 14 x 100 menit (2 x 50 menit).
  • Tugas terstruktur: 14 x 120 menit (2 x 60 menit).
  • Tugas mandiri: 14 x 120 menit (2 x 60 menit).

Tujuan

TUJUAN

Mengembangkan kemampuan mahasiswa Teologi dan mahasiswa PAK dalam penulisan dan analisis teks teologi, penulisan akademik dan keterampilan mengajar agama Kristen, menggunakan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) Edisi V, Turabian Notes and Bibliography (catatan kaki, catatan akhir, catatan perut), serta alat bantu Zotero/Mendeley. Pertemuan 1–7 fokus pada penulisan ilmiah, dan Pertemuan 8–14 fokus pada keterampilan berbicara.

Deskripsi Mata Kuliah

DESKRIPSI MATA KULIAH

Bahasa Indonesia (2 SKS) dirancang khusus untuk mahasiswa Teologi dan Pendidikan Agama Kristen (PAK). Mata kuliah ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan penulisan ilmiah (termasuk analisis teks teologi dan penulisan akademik) serta keterampilan berbicara (terutama untuk pengajaran agama Kristen).

Pembelajaran akan fokus pada penggunaan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) Edisi V dan kaidah kutipan Turabian Notes and Bibliography (catatan kaki, catatan akhir, catatan perut). Mahasiswa juga akan dilatih menggunakan alat bantu manajemen referensi seperti Zotero dan Mendeley.

Mata kuliah ini terdiri dari 14 pertemuan, termasuk Ujian Tengah Semester (UTS) dan Ujian Akhir Semester (UAS). Penilaian didasarkan pada partisipasi dan respek (20%), tugas terstruktur dan mandiri (30%), UTS (20%), serta UAS dan proyek akhir (30%). Standar nilai kelulusan dari Kemenag RI adalah minimal B atau nilai angka 74,00.

Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK)

CAPAIAN PEMBELAJARAN MATA KULIAH (CPMK)

Setelah menyelesaikan mata kuliah Bahasa Indonesia ini, mahasiswa diharapkan mampu

  • Mengembangkan kemampuan dalam penulisan dan analisis teks teologi/pendidikan agama Kristen.
  • Mengembangkan kemampuan dalam penulisan akademik.
  • Mengembangkan keterampilan berbahasa Indonesia dalam mengajar agama Kristen.
  • Menggunakan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) Edisi V.
  • Menerapkan kaidah Turabian Notes and Bibliography (termasuk catatan kaki, catatan akhir, dan catatan perut).
  • Menggunakan alat bantu Zotero/Mendeley untuk manajemen referensi.

Secara ringkas, tujuan mata kuliah ini adalah untuk mengembangkan kemampuan mahasiswa Teologi dan PAK dalam menulis dan menganalisis teks teologi, penulisan akademik, serta keterampilan mengajar agama Kristen, dengan menguasai EYD Edisi V, kaidah Turabian, dan penggunaan Zotero/Mendeley.

Penilaian

PENILAIAN

Rentang penilaian mata kuliah Bahasa Indonesia mengacu pada standar yang diterapkan oleh DIKTI (Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi) di bawah Kemendikbudristek dan yang diadopsi oleh perguruan tinggi di bawah Kementerian Agama (KEMENAG).

Rentang Penilaian Mata Kuliah di Perguruan Tinggi (DIKTI/KEMENAG)

Sistem penilaian di perguruan tinggi Indonesia umumnya menggunakan kombinasi nilai huruf (A, AB, B, BC, C, CD, D, E) dan angka (skala 0-100)

 

Nilai (Huruf) Rentang (Nilai Angka) Keterangan
A 91,00 – 100 Sangat Baik/Istimewa (Excellent)
AB 81,00 – <90,99 Sangat Baik (Very Good)
B 74,00 – <80,99 Baik (Good)
BC 68,00 – <73,99 Cukup Baik (Fairly Good)
C 60,00 – <67,99 Cukup (Fair)
CD 51,00 – <59,99 Kurang Cukup/Hampir Cukup (Marginally Fail)
D 41,00 – <50,99 Kurang (Conditional Pass/Fail)
E <40,99 Tidak Lulus (Fail)

Penjelasan Tambahan

  • Nilai Huruf: Konversi dari nilai angka ke huruf.
  • Nilai Angka: Ini adalah skor mentah mahasiswa dari hasil akumulasi komponen penilaian (tugas, UTS, UAS, partisipasi, dll.) dengan skala 0-100.
  • Keterangan Lulus/Tidak Lulus:
    • Umumnya, nilai A hingga C dianggap lulus untuk mata kuliah.
    • Nilai D seringkali berarti lulus bersyarat atau kurang, dan mata kuliah dengan nilai D seringkali disarankan atau diwajibkan untuk diulang untuk memperbaiki IPK, terutama jika itu adalah mata kuliah prasyarat atau inti. Beberapa program studi bahkan tidak mengakui nilai D sebagai kelulusan.
    • Nilai E berarti tidak lulus dan mata kuliah tersebut wajib diulang.
    • Standar nilai kelulusan mata kuliah dari Kemenag RI untuk Prodi PAK dan Teologi adalah B atau Minimal nilai angka 74,00

Sistem penilaian ini bertujuan untuk memberikan gambaran komprehensif tentang pencapaian belajar mahasiswa di perguruan tinggi.

Aspek-aspek Penilaian:

    • Respek: Menghormati Allah, Kitab Suci, Dosen dan Sesama Mahasiswa, serta Proses Akademik, (Kehadiran dan partisipasi) 20%
    • Tugas Terstruktur dan Mandiri (termasuk Zotero/Mendeley dan Turabian): 40%
    • UTS (penulisan ilmiah): 10%
    • UAS dan proyek akhir (keterampilan berbicara): 30%

Tugas Terstruktur Utama

TUGAS TERSTRUKTUR UTAMA

  • Menonton dan Meringkas Panduan EYD V dari tautan video/playlist tentang EYD V dan mencatat 5 tips atau kaidah penting yang Anda dapatkan untuk penulisan ilmiah. https://s.id/Video-EYD-V satu video per minggu
  • Mempelajari 15 kosakata bidang Teologi atau PAK, definisi bakunya dan contoh penggunaannya dalam kalimat. Akan ada ujian kosakata pada pertemuan berikut

Tugas Mandiri Utama

TUGAS MANDIRI UTAMA

  • Menulis refleksi di Jurnalit (lihat penduan penulisan refleksi) tentang kesan pertama Anda terhadap mata kuliah ini dan pentingnya bahasa baku dalam Teologi/PAK.

Panduan Menulis Refleksi

PANDUAN MENULIS REFLEKSI

Refleksi yang baik harus mampu menguraikan pengalaman, perasaan, analisis, pembelajaran, dan rencana tindak lanjut Anda secara terstruktur, ditambah dengan dimensi spiritual yang relevan. Berikut adalah komponen utama yang Anda dapat sertakan dalam setiap entri refleksi di Jurnalit:

  1. Judul Refleksi

Setiap entri refleksi, Anda, perlu memberinya sebuah judul yang jelas dan ringkas. Judul ini harus merepresentasikan inti dari pengalaman atau topik yang Anda refleksikan.

  • Contoh:
    • “Refleksi Pembelajaran Mata Kuliah Etika Teologi: Kasus XXX”
    • “Pengalaman Mengajar di Kelas Y: Sebuah Refleksi”
    • “Refleksi Diri tentang Tantangan Pelayanan Z”
  1. Deskripsi Pengalaman (What?)

Bagian ini, Anda, gunakan untuk menjelaskan secara objektif apa yang terjadi. Fokuslah pada fakta dan detail penting dari pengalaman yang Anda refleksikan.

  • Isi:
    • Apa peristiwa atau pelajaran spesifik yang Anda refleksikan?
    • Kapan dan di mana kejadian itu berlangsung?
    • Siapa saja yang terlibat di dalamnya?
    • Anda, secara singkat, dapat menguraikan kronologi atau alur kejadiannya.
  • Hindari: Analisis atau penilaian pribadi pada tahap ini.
  1. Perasaan dan Pikiran (So What? / How Did You Feel?)

Anda, pada bagian ini, perlu mengungkapkan perasaan dan pikiran yang muncul selama dan setelah pengalaman tersebut. Ini adalah bagian yang lebih personal.

  • Isi:
    • Bagaimana perasaan Anda saat itu dan sesudahnya (misalnya: senang, terkejut, bingung, frustrasi, antusias)?
    • Pikiran-pikiran apa yang terlintas di benak Anda?
    • Mengapa Anda merasa atau berpikir demikian?
    • Apakah ada hal-hal yang tidak sesuai harapan Anda atau justru melampauinya?
  1. Evaluasi dan Analisis (Now What? / What Was Good/Bad?)

Anda, di bagian ini, akan mengevaluasi pengalaman secara kritis dan menganalisis mengapa hal-hal tertentu terjadi.

  • Isi:
    • Apa yang menurut Anda berjalan baik dalam pengalaman ini dan mengapa?
    • Apa yang menurut Anda tidak berjalan baik dan mengapa?
    • Faktor-faktor apa (dari diri Anda, orang lain, atau lingkungan) yang memengaruhi hasil pengalaman ini?
    • Bagaimana pengalaman ini terhubung dengan teori, konsep, atau nilai-nilai yang Anda pelajari (terutama dalam konteks teologi/PAK)?
  1. Pembelajaran dan Kesimpulan (What Have You Learned?)

Bagian ini adalah inti dari refleksi Anda. Anda, di sini, merumuskan pelajaran penting yang Anda peroleh dari pengalaman tersebut.

  • Isi:
    • Pelajaran spesifik apa yang Anda dapatkan?
    • Bagaimana pengalaman ini memperluas pemahaman Anda atau mengubah perspektif Anda?
    • Apa wawasan baru yang Anda peroleh tentang diri sendiri, orang lain, atau topik terkait?
    • Anda dapat menghubungkan pembelajaran ini dengan tujuan pribadi atau akademik Anda.
  1. Rencana Tindak Lanjut (What Will You Do Next?)

Anda, pada bagian ini, perlu merumuskan langkah-langkah konkret yang akan Anda ambil berdasarkan pembelajaran yang didapat.

  • Isi:
    • Bagaimana Anda akan menerapkan pembelajaran ini di masa depan?
    • Apa yang Anda akan lakukan secara berbeda jika menghadapi situasi serupa?
    • Apakah ada keterampilan, pengetahuan, atau sikap yang Anda perlu kembangkan lebih lanjut?
    • Apa target atau tujuan yang Anda tetapkan untuk diri sendiri?
  1. Harapan dan Doa (Spiritual Dimension)

Tambahkan dimensi spiritual pada refleksi. Bagian ini memungkinkan Anda menyampaikan harapan dan menyerahkan hasil atau rencana ke dalam doa.

  • Isi:
    • Apa harapan Anda terkait perbaikan atau kelanjutan dari aktivitas/kondisi/situasi yang Anda refleksikan di kemudian hari?
    • Bagaimana Anda akan menyerahkan harapan atau rencana tindak lanjut tersebut ke dalam doa atau interaksi dengan Tuhan?
    • Adakah ayat Alkitab atau prinsip teologis yang relevan dengan harapan atau pembelajaran Anda?
    • Anda dapat menuliskan doa singkat yang merefleksikan permohonan atau syukur Anda atas pembelajaran dan masa depan.

Pertemuan 1: Pengenalan Mata Kuliah dan Dasar-Dasar Penulisan Ilmiah

Pertemuan 1: Pengenalan Mata Kuliah dan Dasar-Dasar Penulisan Ilmiah

Topik: Pengantar mata kuliah dan dasar-dasar penulisan ilmiah berdasarkan EYD V.

Subtopik:

    • Fungsi Bahasa Indonesia dalam teologi (Artikel Jurnal, analisis teks) dan PAK (pengajaran, penulisan akademik).
    • Pengenalan EYD V (misalnya, Maha Esa terpisah, tanda baca, kata serapan).

Tatap Muka (Total durasi Tatap Muka: 100 menit):

    • 30 menit: Teori (ceramah tentang peran bahasa di Teologi/PAK dan EYD V).
    • 50 menit: Latihan mengidentifikasi kesalahan ejaan dalam teks teologi (untuk Teologi) atau silabus PAK (untuk PAK).
    • 20 menit: Diskusi tentang bahasa dalam konteks prodi masing-masing.

Tugas Pertemuan 1

  • Tugas Terstruktur
    • Menginstal PUEBI dan KBBI di Ponsel (nilai 10% dari total nilai)
  • Tugas Mandiri Pilihan (Pilih 1 dari tugas-tugas pilihan yang tersedia)
    1. Melakukan wawancara singkat (5-10 menit) dengan senior atau dosen mengenai pentingnya kemampuan berbahasa yang baik dalam studi atau pelayanan mereka. Tulis transkripnya.
    2. Menganalisis 5 contoh kesalahan ejaan yang sering ditemukan di media sosial atau publik dan membandingkannya dengan kaidah PUEBI/EYD V yang benar.
      1. Mencari 2-3 contoh aplikasi bahasa Indonesia baku dalam konteks pelayanan atau akademik Teologi/PAK dan menuliskan pengamatan Anda.

Klik di sini untuk masuk ke bahan ajar

Pertemuan 2: Struktur dan Ciri Kebahasaan Teks Ilmiah

Pertemuan 2: Struktur dan Ciri Kebahasaan Teks Ilmiah

Topik: Ciri-ciri bahasa ilmiah dan struktur teks akademik sesuai EYD V.

Subtopik:

    • Kosakata baku dan kalimat efektif untuk teks teologi/PAK.
    • Struktur teks ilmiah (pendahuluan, isi, penutup).

Tatap Muka (Total durasi Tatap Muka: 100 menit):

    • 40 menit: Teori (ceramah tentang bahasa ilmiah dan struktur teks).
    • 40 menit: Latihan menyusun kalimat ilmiah bertema doktrin teologi (Teologi) atau metode pengajaran PAK (PAK).
    • 20 menit: Evaluasi hasil latihan.

Tugas Pertemuan 2

  • Tugas di Kelas

Menganalisis struktur pendahuluan, pembahasan, penutup pada artikel jurnal teologi (Teologi) atau artikel jurnal pendidikan agama (PAK)

  • Tugas Terstruktur Tambahan

Menyalin daftar isi Skripsi Biblika Eksegesis dan Eksposisi, Skripsi Biblika Studi Kata, Skripsi Sejarah Gereja, dan Skripsi Kualitatif (Grounded Theory/Etnografi), dengan fokus pada perbedaan visual dalam penamaan bab atau urutan bagian.

  • Tugas Mandiri Pilihan (Pilih 1 dari tugas-tugas pilihan yang tersedia
    1. Membaca satu artikel jurnal teologi/PAK pilihan dan mengidentifikasi ciri-ciri bahasa ilmiah (catat setiap kosakata baku, kalimat efektif).
    2. Membandingkan struktur (daftar isi/alur pembahasan) satu artikel jurnal dan satu bab buku teologi/PAK. Catat persamaan dan perbedaannya.
    3. Mengamati bagaimana dosen atau pembicara tamu menggunakan bahasa ilmiah dalam presentasi atau ceramah mereka, dan catat contoh-contohnya.
    4. Mencari 3-5 abstrak artikel jurnal teologi/PAK dan mengidentifikasi bagian-bagian utama yang terdapat di dalamnya (latar belakang, tujuan, metode, hasil, kesimpulan).
    5. Menulis paragraf singkat (ditulis dengan tangan, 50-100 kata) tentang mengapa struktur yang jelas penting dalam komunikasi ilmiah.

Klik di sini untuk masuk ke bahan ajar

Pertemuan 3: Penulisan Paragraf Ilmiah

Pertemuan 3: Penulisan Paragraf Ilmiah

Topik: Teknik menyusun paragraf ilmiah yang koheren dan kohesif.

Subtopik:

    • Ide utama dan pendukung dalam paragraf teologi/PAK.
    • Penggunaan konjungsi untuk kohesi sesuai EYD V.

Tatap Muka (Total durasi Tatap Muka: 100 menit):

    • 30 menit: Teori (ceramah tentang struktur paragraf).
    • 50 menit: Latihan menulis paragraf bertema teologi sistematik (Teologi) atau kurikulum PAK (PAK).
    • 20 menit: Peer review untuk memperbaiki paragraf.

Tugas Pertemuan 3

  • Tugas Terstruktur:
    • Instal Zotero di laptop Anda (jika belum), tonton tutorial cara menginstal dan mendaftarkan akun Zotero Anda https://s.id/Tutorial-Zotero-01
    • Instal Mendeley di laptop Anda (jika belum), tonton tutorial cara menginstal dan mendaftarkan akun Mendeley Anda https://s.id/Tutorial-Mendeley-01
    • Menulis 2-3 paragraf ilmiah yang koheren dan kohesif berdasarkan topik teologi/PAK yang ditentukan.
  • Tugas Mandiri Pilihan (Pilih 1 dari tugas-tugas pilihan yang tersedia
    1. Membaca bab tentang penulisan paragraf dari buku teks akademik dan membuat peta konsep tentang ide utama, pendukung, dan kohesi/koherensi.
    2. Mengambil 2 paragraf dari artikel jurnal teologi/PAK, mengidentifikasi kalimat topik, kalimat pendukung, dan bagaimana transisi antarkalimat menciptakan koherensi.
    3. Pilih satu topik sederhana terkait teologi/PAK, lalu kembangkan menjadi satu paragraf utuh dengan satu ide utama dan minimal dua kalimat pendukung.
    4. Cari 3 paragraf dari teks akademik, lingkari semua konjungsi yang digunakan, dan jelaskan peran masing-masing dalam menghubungkan ide.
    5. Temukan satu paragraf yang menurut Anda sangat koheren dan kohesif, dan satu paragraf yang kurang koheren dan kohesif. Jelaskan mengapa.
    6. Menulis kembali satu paragraf yang kurang kohesif menjadi lebih baik, dengan menambahkan atau mengubah konjungsi dan frasa transisi.

Klik di sini untuk masuk ke bahan ajar

Pertemuan 4: Pengenalan Style Kutipan Teologi/PAK dan Kaidah Turabian

Pertemuan 4: Pengenalan Style Kutipan Teologi/PAK dan Kaidah Turabian

Topik: Pengenalan style kutipan di bidang teologi/PAK dan teknik kutipan Turabian dengan Zotero.

Subtopik:

    • Perbandingan style kutipan:
      • Turabian Notes and Bibliography: Catatan kaki/akhir, standar STT Kalimantan, untuk teks teologi/PAK.
      • SBL: Format untuk studi Alkitab (misalnya, Alkitab, Dead Sea Scrolls).
      • APA: Kutipan (penulis, tahun), umum di PAK untuk pendidikan/psikologi.
      • Chicago Author-Date: Kutipan (penulis, tahun), untuk penelitian sosial-teologi.
    • Turabian: catatan kaki, catatan akhir, catatan perut.
    • Pengenalan Zotero: instalasi, fitur dasar, manajemen referensi Turabian.

Tatap Muka (Total durasi Tatap Muka: 100 menit):

    • 40 menit: Teori (ceramah tentang berbagai style kutipan dan Turabian).
    • 40 menit: Latihan membuat catatan kaki/akhir Turabian untuk sumber teologi (Teologi) atau buku PAK (PAK).
    • 20 menit: Tanya jawab dan praktik Zotero.

Tugas Pertemuan 4

  • Tugas Terstruktur
    • Instal Zotero (jika belum), tonton tutorial dasar, praktikkan pengutipan dalam esai singkat dengan Turabian style menggunakan Zotero
    • Tambahkan minimal 5 referensi Teologi/PAK ke library Zotero Anda. (Referensi: buku tanpa nama pengarang, buku tanpa nama pengarang (tetapi nama pengarangnya diketahui) dan buku dengan 1 nama penulis)
  • Tugas Mandiri Pilihan (Pilih 1 tugas dari tugas pilihan yang tersedia, Total Durasi: 120 menit)
    1. Mencari contoh kutipan dari jurnal/buku yang menggunakan Turabian, SBL, APA, dan Chicago Author-Date (minimal 1 contoh per gaya). Perhatikan perbedaan formatnya.
    2. Pilih 5 sumber (buku, artikel jurnal, bab buku) dan buat daftar pustakanya secara manual mengikuti format Turabian untuk Catatan Kaki and Kepustakaan.
    3. Menemukan 5 contoh penggunaan catatan kaki dalam buku atau artikel jurnal teologi/PAK, dan identifikasi jenis informasinya.
    4. Menjelaskan dengan kata-kata sendiri perbedaan antara kutipan langsung, parafrase, dan ringkasan.

Klik di sini untuk masuk ke bahan ajar

Pertemuan 5: Penulisan Esai Ilmiah dan Penggunaan Mendeley

Pertemuan 5: Penulisan Esai Ilmiah dan Penggunaan Mendeley

Topik: Struktur esai ilmiah teologi/PAK dan penggunaan Mendeley (Turabian style).

Subtopik:

    • Menyusun tesis utama dan argumen logis untuk esai teologi/PAK.
    • Penerapan catatan kaki, catatan akhir, catatan perut Turabian.
    • Pengenalan Mendeley: instalasi, fitur dasar, integrasi Turabian.

Tatap Muka (Total durasi Tatap Muka: 100 menit):

    • 30 menit: Teori (struktur esai dan Mendeley).
    • 50 menit: Latihan menulis draf esai bertema doktrin (Teologi) atau pendidikan Kristen (PAK) dengan catatan kaki/akhir.
    • 20 menit: Evaluasi menggunakan Mendeley untuk referensi Turabian.

Tugas Pertemuan 5

  • Tugas Terstruktur
    • Instal Mendeley (jika belum), tonton tutorial dasar, dan coba tambahkan minimal 3 Buku ke library Mendeley Anda (Referensi: buku dengan 2 nama penulis, 3 nama penulis, dan lebih dari 3 nama penulis)
    • Menulis draf esai ilmiah teologi/PAK dengan struktur tesis utama, argumen logis, dan penggunaan catatan kaki serta daftar pustaka dengan Mendeley.
  • Tugas Mandiri Pilihan (Pilih 1 tugas dari tugas pilihan yang tersedia, Total Durasi: 120 menit):
    1. Membaca satu artikel jurnal teologi/PAK dan membuat outline atau peta alur argumennya, mengidentifikasi tesis utama dan bagaimana argumen pendukung disusun.
    2. Mencari 3 esai atau artikel jurnal, baca pendahuluannya, dan identifikasi tesis utama atau argumen inti yang penulis sampaikan.
    3. Pilih satu topik teologi/PAK yang Anda minati, lalu buat kerangka esai sederhana (pendahuluan, poin-poin argumen utama, dan kesimpulan) beserta tesis sementaranya.
    4. Dari 5 sumber berbeda, buat 5 contoh catatan kaki Turabian (buku, jurnal, bab buku, situs web) dan 5 contoh catatan perut Turabian.
    5. Membaca satu esai teologi/PAK yang menurut Anda memiliki argumen yang sangat kuat atau struktur yang jelas. Tuliskan mengapa esai itu efektif.
    6. Merancang sebuah pernyataan tesis yang kuat dan dapat diperdebatkan untuk sebuah topik teologi/PAK pilihan Anda.

Klik di sini untuk masuk ke bahan ajar

Pertemuan 6: Analisis Teks Teologi/PAK

Pertemuan 6: Analisis Teks Teologi/PAK

Topik: Menganalisis teks teologi/PAK dari perspektif bahasa dan struktur.

Subtopik:

    • Identifikasi gaya bahasa dan logika argumen sesuai EYD V.
    • Penggunaan catatan kaki Turabian untuk analisis.

Tatap Muka (Total durasi Tatap Muka: 100 menit):

    • 40 menit: Teori (analisis teks teologi/PAK).
    • 40 menit: Analisis teks Artikel Jurnal (Teologi) atau silabus PAK (PAK) menggunakan Zotero/Mendeley.
    • 20 menit: Diskusi temuan analisis.

Tugas Pertemuan 6

Tugas Terstruktur

    • Menambahkan 5 referensi Teologi/PAK ke library Zotero dan Mendeley Anda (Referensi: buku dengan 2 nama penulis, 3 nama penulis, dan lebih dari 3 nama penulis).
    • Menganalisis satu teks teologi/PAK (misalnya, bab buku, artikel jurnal) dari perspektif bahasa, struktur, dan identifikasi argumennya.

Tugas Mandiri Pilihan (Pilih 1 tugas dari tugas pilihan yang tersedia, Total Durasi: 120 menit):

  1. Membaca teks teologi/PAK tambahan (misalnya, bab buku lain atau artikel jurnal) dan melakukan analisis mandiri terhadap struktur, gaya bahasa, serta identifikasi logika argumennya.
  2. Pilih satu teks teologi/PAK dan identifikasi potensi bias atau perspektif penulis yang terlihat dari pilihan kata atau penekanan argumennya.
  3. Bandingkan gaya bahasa satu teks teologi akademik (jurnal) dengan satu teks teologi populer (buku rohani). Jelaskan perbedaannya.
  4. Pilih satu paragraf dari teks teologi/PAK, lalu buat versi parafrasenya dan satu kutipan langsung, keduanya dilengkapi dengan catatan kaki Turabian.
  5. Pilih satu artikel jurnal teologi/PAK dan buat diagram alur (flowchart) yang menunjukkan bagaimana argumen utama dikembangkan dari awal hingga akhir.
  6. Pilih satu artikel jurnal pendek dan tuliskan kritik singkat (150-200 kata) tentang kekuatan dan kelemahan argumen atau struktur teks tersebut.
  7. Menentukan 5 kata kunci utama dari teks teologi/PAK yang Anda analisis, dan jelaskan mengapa kata-kata tersebut penting.

Klik di sini untuk masuk ke bahan ajar

Pertemuan 7: Ujian Tengah Semester (UTS)

Pertemuan 7: Ujian Tengah Semester (UTS)

Topik: Evaluasi pemahaman penulisan ilmiah dan analisis teks teologi/PAK.

Tatap Muka (Total durasi Tatap Muka: 100 menit x 14 hari):

Tugas Pertemuan 7

  • Tugas Terstruktur
    • Menambahkan 5 referensi Teologi/PAK ke library Zotero dan Mendeley Anda. (Referensi: sumber dari lembaga, gereja dan persekutuan)
  • Tugas Mandiri Pilihan (Pilih 1 tugas dari tugas pilihan yang tersedia, Total Durasi: 120 menit)
    1. Membaca ulang materi dari Pertemuan 1-6, khususnya PUEBI, Turabian, dan materi struktur esai/paragraf, untuk persiapan UTS.
    2. Mengorganisir dan mereview semua catatan kuliah dari Pertemuan 1-6, membuat daftar pertanyaan yang mungkin muncul di UTS.
    3. Mengerjakan contoh soal UTS dari tahun sebelumnya (jika disediakan oleh dosen) untuk mengukur pemahaman.
    4. Mencari dan mengamati contoh penulisan ilmiah yang dianggap “baik” (dari jurnal atau skripsi) untuk mendapatkan inspirasi dan standar.
    5. Mempraktikkan kembali penggunaan Zotero/Mendeley untuk memastikan Anda lancar dalam membuat daftar pustaka dan catatan kaki Turabian.
    6. Membuat daftar 20-30 istilah kunci dari seluruh materi UTS dan definisinya.
    7. Menyusun sebuah esai mini (200-250 kata) yang mengintegrasikan setidaknya tiga konsep utama dari Pertemuan 1-6.

Klik di sini untuk masuk ke bahan ajar

Pertemuan 8: Pengantar Keterampilan Berbicara Akademik

Pertemuan 8: Pengantar Keterampilan Berbicara Akademik

Topik: Dasar-dasar berbicara di depan umum untuk teologi/PAK.

Subtopik:

    • Struktur presentasi akademik.
    • Penggunaan intonasi dan bahasa tubuh sesuai EYD V.

Tatap Muka (Total durasi Tatap Muka: 100 menit):

    • 30 menit: Teori (struktur presentasi dan bahasa lisan).
    • 50 menit: Simulasi presentasi bertema doktrin (Teologi) atau pengajaran PAK (PAK).
    • 20 menit: Evaluasi antarteman.

Tugas Pertemuan 8

  • Tugas Terstruktur
    • Menambahkan 5 referensi Teologi/PAK ke library Zotero dan Mendeley Anda. (Referensi: sumber tanpa tempat penerbit, sumber tanpa nama penerbit dan sumber tanpa tahun penerbitan).
  • Tugas Mandiri Pilihan (Pilih 1 tugas dari tugas pilihan yang tersedia, Total Durasi: 120 menit):
    1. Membaca artikel atau bab buku tentang teknik presentasi teologi/PAK atau berbicara di depan umum secara umum, dan membuat rangkuman 5 tips penting.
    2. Menonton video ceramah atau khotbah dari pembicara yang Anda anggap efektif. Amati bagaimana mereka menggunakan intonasi, bahasa tubuh, dan struktur.
    3. Memilih satu rekaman khotbah atau ceramah (misalnya dari YouTube), identifikasi pendahuluan, isi, dan penutupnya, serta transisi antar bagian.
    4. Mengidentifikasi 10 kata dalam Bahasa Indonesia yang sering salah diucapkan atau memiliki arti ganda, lalu latih pengucapannya dengan jelas dan benar.
    5. Membuat draf pembukaan (1-2 menit) untuk topik teologi/PAK yang menarik perhatian audiens, dengan memperhatikan intonasi.
    6. Mereset 3-5 strategi praktis untuk mengatasi kegugupan saat berbicara di depan umum, dan tuliskan bagaimana Anda akan menerapkannya.
    7. Menuliskan 5 alasan mengapa kemampuan berbicara yang baik penting bagi seorang teolog atau pendidik agama.

Klik di sini untuk masuk ke bahan ajar

Pertemuan 9: Teknik Presentasi Akademik

Pertemuan 9: Teknik Presentasi Akademik

Topik: Pengembangan presentasi akademik yang efektif.

Subtopik:

    • Penyusunan slide presentasi dengan kutipan Turabian (jika relevan).
    • Teknik menjawab pertanyaan audiens.

Tatap Muka (Total durasi Tatap Muka: 100 menit):

    • 30 menit: Teori (desain slide dan respons audiens).
    • 50 menit: Latihan membuat dan menyampaikan presentasi teologi/PAK.
    • 20 menit: Diskusi untuk umpan balik.

Tugas Pertemuan 9

  • Tugas Mandiri Pilihan (Pilih 1 tugas dari tugas pilihan yang tersedia, Total Durasi: 120 menit):
    1. Menonton video presentasi teologi/PAK (misalnya, TED Talk relevan atau ceramah tokoh gereja) dan analisis bagaimana pembicara menyampaikan pesan, menggunakan slide, dan berinteraksi.
    2. Mencari 2-3 contoh slide presentasi (baik/buruk) dan identifikasi elemen desain yang efektif dan tidak efektif.
    3. Menyiapkan 3-5 pertanyaan sulit atau provokatif terkait topik presentasi Anda, lalu latih jawaban singkat dan jelas untuk setiap pertanyaan.
    4. Menjelajahi 2-3 alat bantu presentasi selain PowerPoint (misalnya, Google Slides, Prezi, Canva) dan catat kelebihan/kekurangannya.
    5. Pilih topik presentasi dan buat daftar pustaka singkat (3-5 sumber) dalam format Turabian yang relevan.
    6. Merekam diri sendiri saat simulasi presentasi 2-3 menit tanpa slide, lalu tonton kembali untuk mengidentifikasi area perbaikan (intonasi, gerak tubuh).
    7. Merancang sebuah infografis sederhana (digital atau sketsa) yang merangkum poin-poin penting dari sebuah topik Teologi/PAK.

Klik di sini untuk masuk ke bahan ajar

Pertemuan 10: Keterampilan Mengajar dalam Konteks Teologi/PAK

Pertemuan 10: Keterampilan Mengajar dalam Konteks Teologi/PAK

Topik: Teknik mengajar dengan bahasa komunikatif untuk teologi/PAK.

Subtopik:

    • Struktur penyampaian materi pengajaran.
    • Penggunaan bahasa sesuai audiens dan EYD V.

Tatap Muka (Total durasi Tatap Muka: 100 menit):

    • 30 menit: Teori (struktur pengajaran).
    • 50 menit: Latihan di Kelas. Topik: Pelajaran Teologi/PAK (misalnya, pelajaran sekolah minggu untuk PAK).
    • 20 menit: Peer review dan diskusi.

Tugas Pertemuan 10

  • Tugas Terstruktur
    • Menambahkan 5 referensi Teologi/PAK ke library Zotero dan Mendeley Anda (Referensi: wawancara; media sosial: Facebook, Twitter/X, Instagram; dan Chat: WhatsApp, Telegram).
    • Melakukan Wawancara Mendalam dengan dosen Teologi/PAK Tahapan:
      • Tentukan Tema untuk Wawancara (Sesuai Prodi masing-masing)
      • Perencanaan Wawancara: Susun daftar pertanyaan wawancara mendalam yang relevan (minimal 10 pertanyaan, Dapat menggunakan https:’’gemini.google.com).
      • Pelaksanaan Wawancara: Lakukan wawancara
      • Transkripsi Wawancara: Tulis transkrip wawancara.
      • Manajemen Referensi: Masukkan detail wawancara (nama narasumber, tanggal, lokasi) ke dalam library Zotero/Mendeley Anda dan buat contoh sitasi serta entri daftar pustaka dalam format Turabian.
      • Output: Daftar pertanyaan, Transkrip wawancara, tangkapan layar entri Zotero/Mendeley untuk wawancara tersebut. Foto wawancara dengan dosen.
  • Tugas Mandiri Pilihan (Pilih 1 tugas dari tugas pilihan yang tersedia, Total Durasi: 120 menit)
    1. Membaca artikel atau bab buku tentang metode pengajaran teologi/PAK dan membuat peta konsep tentang strategi mengajar efektif.
    2. Mengamati satu sesi pengajaran (misalnya, khotbah di gereja, pelajaran sekolah minggu, atau kuliah daring) dan catat strategi yang digunakan oleh pengajar.
    3. Pilih satu materi pengajaran (misalnya, pelajaran sekolah minggu) dan identifikasi bagaimana bahasa disesuaikan untuk audiens spesifiknya.
    4. Pilih satu topik sederhana dalam Teologi/PAK dan buat mini-outline untuk rencana pengajarannya, termasuk tujuan, poin-poin utama, dan evaluasi singkat.
    5. Menonton video pengajaran dan analisis penggunaan bahasa tubuh pengajar: apakah mendukung atau mengganggu pesan yang disampaikan?
    6. Menulis sebuah paragraf (100-150 kata) yang menjelaskan bagaimana Anda akan membuat materi Teologi/PAK yang kering menjadi lebih menarik dan relevan bagi audiens tertentu.

Klik di sini untuk masuk ke bahan ajar

Pertemuan 11: Penulisan dan Presentasi Pengajaran

Pertemuan 11: Penulisan dan Presentasi Pengajaran

Topik: Menulis dan mempresentasikan pengajaran.

Subtopik:

    • Struktur tulisan/presentasi pengajaran
    • Teknik penyampaian inspiratif dengan kutipan Alkitab/sumber Turabian.

Tatap Muka (Total durasi Tatap Muka: 100 menit):

    • 30 menit: Teori (struktur tulisan dan penyampaian presentasi).
    • 50 menit: Latihan menulis draf dan presentasi pengajaran dengan catatan kaki Turabian.
    • 20 menit: Simulasi penyampaian Artikel Jurnal/presentasi.

Tugas Pertemuan 11

  • Tugas Terstruktur
    • Menambahkan 5 referensi Teologi/PAK ke library Zotero dan Mendeley Anda. (Referensi: sumber yang diterbitkan sendiri oleh penulis, dan kutipan dari kutipan)
  • Tugas Mandiri Pilihan (Pilih 1 tugas dari tugas pilihan yang tersedia, Total Durasi: 120 menit)
    1. Merekam dan menganalisis secara kritis satu presentasi pengajaran inspiratif atau khotbah dari dosen atau gembala atau rencana pelajaran PAK, fokus pada elemen inspiratif dan penyampaian pesan.
    2. Membuat draf pembuka dan penutup yang kuat dan inspiratif untuk presentasi pengajaran Anda.
    3. Pilih satu bagian dari draf presentasi pengajaran Anda dan buat draf visualnya (misalnya, sketsa slide, mind map visual) untuk mendukung penyampaian.
    4. Pilih satu konsep Teologi/PAK yang kompleks, lalu tuliskan penjelasannya dalam bahasa yang sangat sederhana, seolah Anda mengajar anak-anak atau orang awam.
    5. Menuliskan 5 strategi untuk menjaga audiens tetap terlibat dan fokus selama presentasi pengajaran.

Klik di sini untuk masuk ke bahan ajar

Pertemuan 12: Penyempurnaan Keterampilan Berbicara

Pertemuan 12: Penyempurnaan Keterampilan Berbicara

Topik: Revisi dan penyempurnaan teknik berbicara untuk teologi/PAK.

Subtopik:

    • Mengatasi kelemahan dalam presentasi.
    • Penggunaan alat bantu visual dengan kutipan Turabian.

Tatap Muka (Total durasi Tatap Muka: 100 menit):

    • 30 menit: Teori (penyempurnaan berbicara).
    • 50 menit: Latihan memperbaiki Artikel Jurnal/presentasi dengan umpan balik.
    • 20 menit: Diskusi untuk perbaikan.

Pertemuan 12: Penyempurnaan Keterampilan Berbicara

  • Tugas Terstruktur
    • Menambahkan 5 referensi Teologi/PAK ke library Zotero dan Mendeley Anda (Referensi: kutipan dari majalah atau koran, kutipan dari artikel online (jurnal/ blog/website), kutipan dari presentasi online, dan kutipan dari program komputer).
    • Latihan presentasi mengajar sekolah minggu (individu) untuk proyek akhir dengan umpan balik dari rekan mahasiswa.
  • Tugas Mandiri Pilihan (Pilih 1 tugas dari tugas pilihan yang tersedia, Total Durasi: 120 menit)
    1. Menonton kembali rekaman video presentasi Anda dan melakukan analisis mandiri untuk mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan.
    2. Mencari artikel atau video tentang “cara mengatasi kelemahan presentasi” atau “tips presentasi yang lebih baik”, lalu identifikasi 3 tips yang paling relevan untuk Anda.
    3. Melatih penggunaan bahasa tubuh yang mendukung (kontak mata, gestur, postur) saat berbicara di depan cermin atau merekam diri sendiri.
    4. Pilih satu topik dan rancang alat bantu visual alternatif (misalnya, infografis sederhana, diagram) selain slide PowerPoint.
    5. Latih penyampaian seluruh proyek akhir Anda (jika berupa presentasi) dengan pengatur waktu untuk memastikan durasi sesuai.
    6. Mereset cara menghadapi audiens yang sulit (misalnya, kurang antusias, banyak bertanya, kritis) dan tuliskan strategi Anda.
    7. Membuat daftar periksa (checklist) pribadi untuk penyempurnaan presentasi Anda (misalnya, kejelasan vokal, transisi mulus, penggunaan visual).

Klik di sini untuk masuk ke bahan ajar

Pertemuan 13: Persiapan UAS

Pertemuan 13: Persiapan UAS

Topik: Review Pertemuan 1-12

Subtopik:

    • Konsultasi individu dengan dosen.

Tatap Muka (Total durasi Tatap Muka: 100 menit):

    • 30 menit: Review Materi Tatap Muka
    • 35 menit: Review Materi Tugas Terstruktur
    • 35 menit: Review Materi Tugas Mandiri

Tugas Pertemuan 13

  • Tugas Terstruktur
    • Menambahkan 5 referensi Teologi/PAK ke library Zotero dan Mendeley Anda (Referensi: kutipan dari file bahan presentasi di kelas, diktat kuliah dan catatan kuliah, print out, skripsi, tesis dan disertasi).
  • Tugas Mandiri Pilihan (Pilih 1 tugas dari tugas pilihan yang tersedia, Total Durasi: 120 menit)
    1. Membaca ulang materi-materi terkait penulisan Artikel Jurnal (Teologi) atau rencana pelajaran PAK, serta panduan PUEBI/EYD V dan Turabian.
    2. Memilih, dua pasangan pelajaran (1-2, 3-4, 5-6 ,7-8, 9-10, 11-12) melatih, merekam, dan mengupload (dua video) di Facebook bahan ajar pilihan dengan waktu yang sesungguhnya.

Klik di sini untuk masuk ke bahan ajar

Pertemuan 14: Ujian Akhir Semester (UAS)

Pertemuan 14: Ujian Akhir Semester (UAS)

Topik: Evaluasi keterampilan berbicara dan pemahaman materi.

Tatap Muka (Total durasi Tatap Muka: 100 menit):

    • Ujian tertulis: Analisis teks teologi/PAK dan soal esai penulisan/berbicara.
    • Pengumpulan proyek akhir.

Tugas Pertemuan 14

  • Tugas Mandiri Pilihan (Pilih 1 tugas dari tugas pilihan yang tersedia, Total Durasi: 120 menit)
    1. Membaca ulang seluruh materi keterampilan berbicara (Pertemuan 8-12) dan Turabian, untuk persiapan ujian lisan dan tertulis.
    2. Melatih penyampaian naskah ujian lisan (Artikel Jurnal/presentasi) Anda di depan cermin atau dengan teman untuk mendapatkan umpan balik.
    3. Mereview keseluruhan materi Bahasa Indonesia yang dipelajari sepanjang semester, fokus pada konsep-konsep kunci dan aplikasi praktisnya.
    4. Memastikan semua referensi dalam proyek akhir Anda sudah rapi dan sesuai Turabian menggunakan Zotero/Mendeley. Lakukan pemeriksaan terakhir.
    5. Mempersiapkan kerangka jawaban untuk beberapa kemungkinan soal esai aterkait penulisan atau berbicara.
    6. Menuliskan (150-200 kata) bagaimana kemampuan menulis dan berbicara Anda telah berkembang sepanjang semester ini, berikan contoh konkret.
    7. Merencanakan langkah selanjutnya untuk terus mengembangkan kemampuan menulis dan berbicara Anda setelah mata kuliah ini.

Klik di sini untuk masuk ke bahan ajar

Catatan Penting

Catatan Penting

Metode Pembelajaran: Kombinasi ceramah, latihan praktik, simulasi, diskusi, dan peer review.

Sumber Belajar:

    • Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) Edisi V (ejaan.kemdikbud.go.id).
    • A Manual for Writers of Research Papers, Theses, and Dissertations oleh Kate L. Turabian (edisi terbaru. Dapat juga dilihat di Pedoman Penulisan Penelitian STT Kalimantan), SBL Handbook of Style untuk kutipan teologi.
    • Publication Manual of the American Psychological Association (APA, edisi terbaru), Chicago Manual of Style (edisi terbaru).
    • Teks teologi/PAK (Artikel Jurnal, artikel jurnal, silabus PAK).
    • Tutorial Zotero dan Mendeley untuk Turabian/SBL/APA/Chicago.
    • Contoh Artikel Jurnal (Teologi) dan rencana pelajaran PAK.

PPPB1 – UTS

UJIAN TENGAH SEMESTER

Mata Kuliah :  Pengetahuan dan Pembimbing PB 1
Kode Mata Kuliah :  DAl-1401
Dosen Pengampu :  Pdt. Daniel H. Herman, M.Th.
Waktu :  2 (dua) Minggu
Sifat Ujian :  Open Book

 

[collapsible Title=”UTS Soal A”]

  1. Analisis secara mendalam bagaimana konteks historis, politik, dan kultural Palestina abad pertama, khususnya pengaruh kekuasaan Romawi, membentuk kondisi yang memungkinkan penyebaran Injil Kristen mula-mula. Sertakan rujukan jika diperlukan.
  2. Jelaskan secara kritis tema pelayanan dan penderitaan dalam Injil Markus dengan mengacu pada pembagian dua bagian besar narasi, dan berikan implikasi teologisnya untuk gereja masa kini.
  3. Diskusikan peran Roh Kudus dalam Injil Markus sebagai kekuatan yang mengaktualisasikan misi Yesus serta memperkuat gereja awal, dengan bukti teks yang relevan.
  4. Evaluasi tujuan dan strategi naratif Injil Lukas dalam mengkomunikasikan keselamatan universal dan inklusivitas, terutama bagi kaum marginal.
  5. Kritisi makna teologis dan sosial dari perumpamaan Orang Samaria yang Murah Hati dalam konteks masyarakat Yahudi abad pertama dan implikasinya bagi kehidupan gereja modern.

[/collapsible]

[collapsible Title=”UTS Soal B”]

  1. Konflik dan sinergi antara kekuasaan Romawi dan sistem keagamaan Yahudi pada abad pertama sangat kompleks. Jelaskan bagaimana dinamika ini memengaruhi perkembangan awal gereja.
  2. Telaah konsep “Rahasia Mesianik” dalam Injil Markus, khususnya dampaknya terhadap persepsi identitas Yesus dan penerimaan misi-Nya, dikaitkan dengan konteks historis.
  3. Analisis bagaimana fokus pada penderitaan Yesus dalam Injil Markus merevolusi konsep kepemimpinan dan pelayanan Kristen dengan contoh ayat-ayat.
  4. Jelaskan secara mendalam fungsi doa dan peran Roh Kudus dalam membentuk karakter iman dan misi pengikut Yesus menurut Injil Lukas, disertai rujukan.
  5. Jelaskan peran sosial dan teologis kelompok miskin, perempuan, dan marginal dalam Injil Lukas, dan bagaimana hal ini membentuk pemahaman inklusivitas keselamatan.

[/collapsible]

[collapsible Title=”UTS Soal C”]

  1. Uraikan dinamika politik dan sosial Palestina pada abad pertama dan bagaimana kondisi ini mempengaruhi interaksi Yesus dengan masyarakat serta pelayanan-Nya.
  2. Kajilah gelar “Anak Manusia” dalam Injil Markus dengan mengaitkan pemaknaannya pada konteks Daniel 7:13-14 dan implikasi teologinya bagi konsep Mesias.
  3. Berdasarkan sumber-sumber yang ada, buatlah evaluasi kritis terhadap klaim bahwa Lukas adalah penulis Injil Lukas dan Kisah Para Rasul.
  4. Bandingkan secara kritis perbedaan khusus antara Farisi dan Saduki berkaitan dengan interpretasi Taurat serta dampaknya pada sikap mereka terhadap Yesus dan ajaran-Nya.
  5. Jelaskan secara analitik peran bahasa Yunani Koine dalam penyebaran Injil dan pembentukan gereja awal sebagai fenomena sosial-kultural.

[/collapsible]

[collapsible Title=”UTS Soal D”]

  1. Jelaskan kondisi politik, sosial, dan keagamaan Palestina abad pertama secara komprehensif, khususnya bagaimana ketegangan antara Kelompok keagamaan dan kekuasaan Romawi mempengaruhi pelayanan Yesus.
  2. Analisis makna dalam gelar “Anak Manusia” pada Injil Markus, mengaitkan dengan dinamika pelayanan, penderitaan, dan identitas Mesias yang diusung dalam narasi.
  3. Dengan merujuk ke Injil Lukas, kaji peranan doa dan Roh Kudus sebagai faktor utama dalam pertumbuhan iman dan kekuatan misionaris awal.
  4. Diskusikan konflik antara Yesus dan Kelompok Farisi terkait interpretasi hukum Taurat dengan menggunakan contoh.
  5. Uraikan proses dan logika penyebaran Injil dari Yerusalem ke seluruh dunia sebagaimana disajikan dalam Injil Lukas dan Kisah Para Rasul, dengan penekanan pada strategi misi.

[/collapsible]

[collapsible Title=”UTS Soal E”]

  1. Kritisi urutan kronologis penulisan kitab Injil dan Kisah Para Rasul, menghubungkan dengan perkembangan tradisi lisan dan tulisan serta konsekuensinya bagi studi Perjanjian Baru.
  2. Bahas secara mendalam gaya penulisan Injil Markus, fokus pada penggunaan kata “segera” dan bagaimana hal ini menyokong tema teologis kesejarahan dan urgensi misi.
  3. Interpretasikan tema kasih, keadilan sosial, dan pengampunan dalam Injil Lukas menggunakan perumpamaan dan kisah sebagai sumber penguatan argumen.
  4. Analisis peran Sanhedrin dan Herodian sebagai otoritas politik dan keagamaan dalam konflik dengan Yesus dan pengaruhnya terhadap gereja mula-mula.
  5. Jelaskan secara kritis bagaimana faktor politik dan agama di Palestina memengaruhi pelayanan Yesus!

[/collapsible]

[collapsible Title=”UTS Soal F”]

  1. Uraikan dampak kekuasaan Romawi terhadap konteks sosial, politik, dan keagamaan Palestina serta pengaruhnya pada pelayanan Yesus dan pertumbuhan gereja mula-mula secara mendalam.
  2. Elaborasi pentingnya penderitaan dan kematian Yesus dalam narasi Injil Markus dan Lukas, serta arti teologisnya bagi doktrin keselamatan Kristen.
  3. Bandingkan dan analisis pandangan Farisi, Saduki, dan Zelot mengenai kewajiban membayar pajak kepada Romawi serta implikasi politik dan sosialnya.
  4. Kaji secara mendalam posisi wanita dan kaum marginal dalam Injil Lukas sebagai gambaran inklusivitas keselamatan Allah, dengan contoh teks.
  5. Jelaskan keterkaitan antara penggenapan nubuat, kebangkitan Yesus, dan dinamika pertumbuhan jemaat mula-mula..

[/collapsible]

PPPB1 – Pertemuan 5 Tema-tema Utama Injil Lukas (Bagian Kedua)

Pertemuan 5 Injil Lukas

[collapsible Title=”Tema Utama Injil Lukas (Bagian Kedua)”]

Tema Utama Injil Lukas (Bagian Kedua)

Penderitaan Yesus, Salib, kebangkitan, dan Pengampunan Dosa

Tema penderitaan Yesus, salib, kebangkitan, dan pengampunan dosa merupakan bagian sentral dalam Injil Lukas. Lukas menggambarkan perjalanan Yesus menuju Yerusalem sebagai “jalan salib” yang tak terelakkan (Lukas 9:22, 51). Penderitaan ini bukan suatu kegagalan, melainkan penggenapan rencana keselamatan Allah.1 Yesus yang taat sampai akhir meskipun ditolak dan dianiaya menegaskan dimensi teologis penderitaan sebagai bagian penting dari karya penebusan.2 Penderitaan Kristus memperlihatkan solidaritas Allah dengan manusia lemah dan tertindas serta membuka jalan keselamatan bagi mereka.

Salib menjadi pusat karya keselamatan dalam narasi Lukas. Salib tidak hanya simbol penderitaan, melainkan lambang kasih Allah yang berkorban bagi manusia.3 Pada peristiwa penyaliban, Lukas mencatat pernyataan Yesus yang penuh belas kasihan, seperti doa pengampunan bagi para algojo (Lukas 23:34) dan janjinya kepada penjahat yang bertobat (Lukas 23:43).4 Dengan demikian, salib dipahami sebagai manifestasi kasih dan pengampunan Allah yang universal, bukan hanya tragedi semata.

Kebangkitan Yesus menjadi penekanan penting dalam Injil Lukas. Kebangkitan meneguhkan bahwa penderitaan dan kematian bukan akhir dari segalanya, melainkan kemenangan Allah atas dosa dan maut (Lukas 24:5–7).5 Kebangkitan menjadi dasar iman dan pengharapan bagi gereja serta menegaskan otoritas Yesus sebagai Kristus yang hidup.6 Lukas menghubungkan kebangkitan dengan pengutusan murid-murid, sehingga karya penebusan Kristus berkelanjutan melalui kesaksian mereka kepada segala bangsa.7

Tema pengampunan dosa sangat erat kaitannya dengan penderitaan, salib, dan kebangkitan Yesus. Dalam Lukas 24:46–47 ditegaskan bahwa melalui penderitaan dan kebangkitan Mesias, pengampunan dosa harus diberitakan kepada segala bangsa.8 Dengan demikian, Injil Lukas menghadirkan keselamatan dalam dimensi universal, melampaui batas etnis, sosial, dan budaya.9 Pengampunan dosa menjadi inti misi Allah yang ditawarkan kepada semua orang, sekaligus menuntut respons pertobatan dan iman.

Roh Kudus, Doa, dan Kepedulian Sosial

Injil Lukas sangat menekankan peran Roh Kudus sebagai kekuatan ilahi yang membimbing Yesus dan para murid dalam melaksanakan karya keselamatan Allah. Dari pembaptisan Yesus hingga awal pelayanan gereja, Roh Kudus digambarkan sebagai sumber kuasa, hikmat, dan penguatan (Lukas 4:1, 18; Kisah Para Rasul 1:8). Roh Kudus bukan sekadar aspek tambahan, melainkan penanda utama gerakan Allah di dunia yang terus bekerja melalui umat percaya.10

Doa menjadi tema dominan dalam Injil Lukas. Yesus digambarkan sebagai pribadi yang senantiasa berdoa sebelum mengambil keputusan penting maupun di saat genting (Lukas 6:12; 11:1–13; 22:39–46). Dengan menampilkan teladan doa Yesus, Lukas menegaskan bahwa doa adalah sarana vital untuk hubungan intim dengan Allah dan fondasi rohani dalam pelayanan. Bagi orang percaya, doa merupakan ekspresi ketergantungan penuh kepada Allah yang menopang kehidupan iman.11

Kepedulian sosial juga menjadi ciri khas Injil Lukas. Yesus tampil sebagai pembawa kabar baik bagi orang miskin, sakit, dan terpinggirkan (Lukas 4:18–19; 14:13; 19:1–10). Keselamatan dalam Lukas bersifat inklusif, menjangkau yang sering diabaikan dalam struktur sosial. Lukas menghadirkan visi Kerajaan Allah dengan dimensi pembebasan sosial sekaligus rohani. Umat Kristen dipanggil menghidupi iman aktif melalui kasih dan keadilan dalam konteks kehidupan sehari-hari.12

Keseluruhan tema—penderitaan Yesus, salib, kebangkitan, pengampunan dosa, peran Roh Kudus, doa, dan kepedulian sosial—membentuk gambaran teologis utuh dalam Injil Lukas. Narasi Lukas bukan hanya catatan historis, tetapi refleksi teologis yang menghubungkan karya keselamatan Allah dalam Kristus dengan panggilan praktis bagi kehidupan Kristen. Injil Lukas memberikan kontribusi penting bagi teologi Perjanjian Baru dan tetap relevan sebagai pedoman iman menyeluruh, menyatukan dimensi spiritual, soteriologis, dan sosial.13,14

[/collapsible]

[collapsible Title=”Perumpamaan Unik dan Makna Teologis”]

Perumpamaan Unik dan Makna Teologis

Injil Lukas memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan dengan Injil sinoptik lainnya, khususnya dalam hal penyajian sejumlah perumpamaan yang tidak ditemukan dalam Injil Matius maupun Markus. Melalui perumpamaan-perumpamaan tersebut, Lukas memperlihatkan penekanan teologis yang kuat mengenai kasih, pengampunan, serta inklusivitas Kerajaan Allah. Hal ini sesuai dengan maksud Injil Lukas yang ditujukan bagi khalayak lebih luas, termasuk bangsa-bangsa non-Yahudi, sehingga pesan keselamatan dalam Kristus menjadi universal.15

Orang Samaria yang Murah Hati (Lukas 10:25–37)

Perumpamaan paling menonjol adalah tentang Orang Samaria yang Murah Hati (Lukas 10:25–37). Dalam konteks historis, orang Samaria dipandang rendah dan dijauhi oleh orang Yahudi. Namun, Yesus justru menghadirkan seorang Samaria sebagai teladan kasih sejati yang rela menolong orang asing yang terluka, sementara tokoh-tokoh religius abai. Perumpamaan ini menyampaikan pesan moral dan teologis radikal, yaitu bahwa kasih sejati melampaui batas sosial, etnis, maupun religius, diwujudkan dalam tindakan nyata kepada sesama.16

Anak yang Hilang (Lukas 15:11–32)

Perumpamaan lain yang menjadi ciri khas Lukas adalah tentang Anak yang Hilang (Lukas 15:11–32). Perumpamaan ini tidak hanya menggambarkan kegagalan manusia yang memberontak dan jatuh dalam dosa, tetapi juga menyingkapkan kasih Bapa tanpa syarat dalam menyambut pertobatan. Kisah ini menunjukkan anugerah Allah yang tidak bergantung pada jasa manusia, melainkan karena kasih dan belas kasihan-Nya. Secara teologis, hal ini menekankan sifat Allah yang penuh pengampunan dan panggilan bagi orang percaya meneladani kemurahan hati Bapa.17

Bendahara yang Tidak Jujur (Lukas 16:1–13)

Lukas juga mencatat perumpamaan bendahara yang tidak jujur (Lukas 16:1–13) yang menyoroti sikap manusia dalam menggunakan harta duniawi. Meski perumpamaan ini kompleks, maknanya terletak pada seruan agar orang percaya bijak mengelola sumber daya fana untuk tujuan kekal. Melalui perumpamaan ini, Yesus menegaskan bahwa seseorang tidak dapat mengabdi kepada dua tuan, Allah dan mamon, sehingga integritas dan kesetiaan dalam hal keuangan menjadi aspek penting kehidupan beriman.18

Perumpamaan-perumpamaan tersebut menegaskan bahwa Allah adalah pribadi penuh kasih dan penyelamat bagi semua orang, bukan hanya bangsa tertentu. Kasih dan pengampunan Allah bersifat universal, namun menuntut pertobatan dan respons iman nyata. Dengan demikian, Lukas menggarisbawahi keselamatan sebagai anugerah bagi semua orang, tapi penerimaannya menuntut perubahan hidup yang ditandai oleh iman dan ketaatan.19

Perumpamaan dalam Injil Lukas tidak hanya memberikan pedoman etis, tetapi juga mengandung implikasi teologis mendalam. Kisah Orang Samaria mengajarkan belas kasih, Anak yang Hilang menekankan pengampunan, dan bendahara yang tidak jujur mengajarkan kejujuran serta kebijaksanaan. Dengan demikian, perumpamaan-perumpamaan ini mengandung pesan normatif mengenai bagaimana umat Kristen seharusnya menghidupi iman sebagai saksi Kerajaan Allah.20

Perumpamaan Dirham yang Hilang (Lukas 15:8–10)

Selain ketiga perumpamaan besar itu, Lukas juga memuat perumpamaan lain yang memperkaya gambaran kasih Allah, seperti perumpamaan dirham yang hilang (Lukas 15:8–10) yang menunjukkan sukacita di surga atas pertobatan seorang berdosa, serta perumpamaan hakim yang lalim dan janda yang tekun (Lukas 18:1–8) yang menekankan pentingnya doa yang tidak jemu-jemu. Semua perumpamaan ini membentuk kesaksian konsisten tentang karakter Allah yang penuh kasih, adil, dan dekat dengan umat-Nya.21

Perumpamaan-perumpamaan khas dalam Injil Lukas memberikan kontribusi signifikan bagi teologi Perjanjian Baru. Pesan yang terkandung bukan hanya moral, tetapi juga menyentuh dimensi soteriologis tentang keselamatan yang ditawarkan Allah dalam Kristus. Bagi umat Kristen masa kini, perumpamaan-perumpamaan ini tetap relevan sebagai pedoman hidup berbelas kasih, jujur, rendah hati, dan tekun dalam doa, sehingga iman mereka menjadi nyata dan berbuah dalam kehidupan sehari-hari sebagai cermin Kerajaan Allah di bumi.22

[/collapsible]

[collapsible Title=”Implikasi Teologis untuk Kehidupan Kristen”]

Implikasi Teologis untuk Kehidupan Kristen

Injil Lukas mengandung implikasi teologis yang kaya bagi kehidupan Kristen masa kini. Salah satu implikasi terpenting adalah pengajaran tentang penderitaan Yesus. Lukas menegaskan bahwa penderitaan Kristus bukanlah kegagalan misi, melainkan bagian dari rencana keselamatan Allah. Bagi orang percaya, hal ini mengajarkan bahwa penderitaan bukan sekadar beban hidup, melainkan sarana mengalami kedekatan dengan Allah dan partisipasi dalam karya penebusan Kristus. Dengan demikian, penderitaan orang Kristen memperoleh makna baru ketika dipandang dalam terang penderitaan Yesus yang membawa keselamatan.23

Lebih lanjut, penderitaan Kristen karena iman seperti dialami para martir sepanjang sejarah gereja juga menjadi wujud kesaksian iman. Dalam Injil Lukas, Yesus menubuatkan bahwa murid-murid-Nya akan mengalami penganiayaan dan penolakan karena nama-Nya (Lukas 21:12–19). Namun, Lukas menekankan bahwa ketabahan dalam penderitaan menjadi bukti iman yang teguh. Kesetiaan para martir dan orang percaya yang menderita demi Injil bukan sia-sia, melainkan kesaksian hidup tentang kuasa Allah yang memampukan mereka tetap setia. Dengan demikian, penderitaan karena iman menjadi kesempatan memuliakan Allah dan menyatakan kesetiaan Injil kepada dunia.24

Salib juga menjadi pusat implikasi teologis bagi kehidupan iman. Dalam Injil Lukas, salib bukan hanya lambang penderitaan, tetapi tanda kasih dan pengampunan Allah yang radikal. Doa Yesus di salib, “Ya Bapa, ampunilah mereka” (Lukas 23:34), menunjukkan teladan kasih yang mengatasi kebencian dan balas dendam. Bagi orang Kristen, salib menuntut hidup berakar pada kasih pengorbanan dan mengampuni sesama, bahkan di situasi sulit. Dengan demikian, salib menjadi pola hidup yang harus tercermin dalam relasi antar manusia dan pelayanan gereja.25

Kebangkitan Yesus membawa implikasi mendalam bagi kehidupan Kristen. Kebangkitan menegaskan kemenangan Allah atas dosa dan maut serta menjadi dasar pengharapan iman (Lukas 24:5–7). Dalam terang kebangkitan, orang percaya dipanggil hidup dalam kepastian janji hidup kekal dan keberanian menghadapi dunia penuh penderitaan. Kebangkitan juga memotivasi bersaksi, karena Kristus yang bangkit adalah Tuhan yang hidup dan terus berkarya melalui umat-Nya.26

Implikasi berikutnya adalah pengampunan dosa yang terkait erat dengan penderitaan, salib, dan kebangkitan Kristus. Lukas menegaskan bahwa melalui karya Kristus, pengampunan dosa diberitakan kepada semua bangsa (Lukas 24:46–47). Ini menunjukkan keselamatan tidak terbatas pada kelompok tertentu, melainkan bersifat universal dan inklusif. Bagi kehidupan Kristen, pengampunan dosa bukan hanya doktrin, tetapi realitas yang mengubah hati, memulihkan hubungan dengan Allah, dan mendorong hidup pertobatan serta rekonsiliasi dengan sesama.27

Selain itu, doa menempati tempat penting dalam implikasi teologis Injil Lukas. Lukas menunjukkan Yesus sebagai teladan yang senantiasa berdoa dalam situasi genting dan penting (Lukas 6:12; 11:1–13). Bagi orang percaya, doa merupakan fondasi spiritual yang memungkinkan pertumbuhan iman, kekuatan menghadapi tantangan, dan kepekaan mendengar kehendak Allah. Dengan demikian, doa bukan rutinitas religius, melainkan hubungan hidup dan dinamis dengan Allah yang menopang perjalanan iman.28

Implikasi lain penting adalah penekanan Lukas pada peran Roh Kudus. Roh Kudus dipahami sebagai sumber kuasa, hikmat, dan penghiburan yang memimpin Yesus serta memperlengkapi murid dalam melanjutkan karya keselamatan (Lukas 4:1,18; Kisah Para Rasul 1:8). Bagi kehidupan Kristen, hal ini menekankan pentingnya hidup dalam pimpinan Roh Kudus supaya pelayanan dan kesaksian tidak dilakukan dengan kekuatan manusia, melainkan kuasa Allah sendiri.29

Kepedulian sosial juga menjadi implikasi menonjol dalam Injil Lukas. Yesus digambarkan sebagai pembela kaum marginal—orang miskin, sakit, berdosa, dan terpinggirkan (Lukas 4:18–19; 19:1–10). Hal ini menuntut umat Kristen menghidupi iman aktif dengan peduli keadilan sosial dan menghadirkan kasih dalam tindakan nyata. Kepedulian sosial bukan sekadar aktivitas etis, melainkan bagian integral identitas umat Allah yang meneladani Kristus.30

Dengan demikian, tema penderitaan Yesus, ketabahan dalam penderitaan iman, salib, kebangkitan, dan pengampunan dosa yang diperkaya dengan tema doa, Roh Kudus, dan kepedulian sosial membentuk kerangka teologis utuh dalam Injil Lukas. Implikasi-implikasi ini menuntut orang Kristen hidup dalam relasi intim dengan Allah, dipimpin oleh Roh, menghidupi kasih dalam tindakan, serta berpengharapan pada kemenangan Kristus. Dengan begitu, Injil Lukas menjadi pedoman iman relevan yang menyatukan dimensi spiritual, soteriologis, dan sosial bagi kehidupan Kristen masa kini.31

[/collapsible]

[collapsible Title=”Catatan kaki”]

Catatan kaki

    1. James D. G. Dunn, Perjanjian Baru: Kisah Penebusan (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002), 134–40
    2. Andreas Bengtsson, Injil Lukas: Sebuah Pendekatan Naratif (Yogyakarta: Kanisius, 2015), 85–95.
    3. Yohanes Budi Santoso, Pengantar Studi Perjanjian Baru (Yogyakarta: Kanisius, 2010), 120–5.
    4. Paulus Eddy Iskandar, Teologi Injil Lukas: Penderitaan, Salib, dan Kebangkitan Kristus (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2018), 45–60.
    5. Andi Budiardjo, Keselamatan dalam Injil Lukas (Surabaya: Yayasan Pustaka Pelita, 2014), 78–85.
    6. Ibid.
    7. Bengtsson, Injil Lukas, 90.
    8. Dunn, Perjanjian Baru, 138.
    9. Santoso, Pengantar Studi Perjanjian Baru, 123.
    10. Paulus Eddy Iskandar, Roh Kudus dalam Injil Lukas: Kuasa dan Hikmat dalam Pelayanan (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2020), 50–68.
    11. Yohanes Budi Santoso, Doa dalam Perjanjian Baru: Studi Terhadap Injil Lukas (Yogyakarta: Kanisius, 2013), 102–15.
    12. Andreas Bengtsson, Injil Lukas dan Kepedulian Sosial: Perspektif Teologis (Yogyakarta: Kanisius, 2017), 120–30.
    13. James D. G. Dunn, Teologi Perjanjian Baru: Injil dan Karya Roh Kudus (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2015), 200–10.
    14. Andi Budiardjo, Dimensi Sosial Keselamatan dalam Injil Lukas (Surabaya: Yayasan Pustaka Pelita, 2016), 95–105.
    15. Andreas Bengtsson, Injil Lukas, 85–100.
    16. Paulus Eddy Iskandar, Perumpamaan dalam Injil Lukas: Kasih dan Pengampunan (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2019), 110–25.
    17. Yohanes Budi Santoso, Teologi Perumpamaan Lukas (Yogyakarta: Kanisius, 2014), 90–105.
    18. James D. G. Dunn, Pengantar Teologi Perjanjian Baru (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2016), 180–95.
    19. Andi Budiardjo, Dimensi Sosial dan Teologis dalam Injil Lukas (Surabaya: Yayasan Pustaka Pelita, 2017), 70–85.
    20. Bengtsson, Injil Lukas, 95–98.
    21. Paulus Eddy Iskandar, Doa dan Kasih dalam Perumpamaan Lukas (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2021), 130–40.
    22. Yohanes Budi Santoso, Kesaksian Teologis dalam Injil Lukas (Yogyakarta: Kanisius, 2018), 50–60.
    23. Paulus Eddy Iskandar, Penderitaan dan Kesetiaan dalam Teologi Injil Lukas (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2021), 75–90.
    24. Yohanes Budi Santoso, Kesaksian Martiria dan Penderitaan dalam Sejarah Gereja (Yogyakarta: Kanisius, 2019), 110–25.
    25. Andreas Bengtsson, Salib sebagai Simbol Kasih dan Pengampunan (Yogyakarta: Kanisius, 2018), 55–67.
    26. James D. G. Dunn, Kebangkitan dan Dasar Pengharapan Kristen (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2017), 130–40.
    27. Andi Budiardjo, Pengampunan Dosa dan Keselamatan Universal (Surabaya: Yayasan Pustaka Pelita, 2019), 82–95.
    28. Paulus Eddy Iskandar, Doa dalam Kehidupan Kristen (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2020), 101–13.
    29. Yohanes Budi Santoso, Peranan Roh Kudus dalam Pelayanan Gereja (Yogyakarta: Kanisius, 2022), 90–100.
    30. Andreas Bengtsson, Kepedulian Sosial dan Identitas Umat Allah (Yogyakarta: Kanisius, 2020), 125–35.
    31. Paulus Eddy Iskandar, Teologi Praktis Injil Lukas untuk Kehidupan Masa Kini (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2023), 150–65.

[/collapsible]

[collapsible Title=”Isu untuk Diskusi Kelas”]

Isu untuk Diskusi Kelas:

  • Bagaimana penekanan Injil Lukas pada keakuratan sejarah dapat memperkuat iman kita di tengah narasi-narasi alternatif tentang Yesus?
  • Dalam masyarakat yang makin terpolarisasi, bagaimana kita dapat mengaplikasikan tema inklusivitas Injil Lukas (Penderitaan Yesus, Pengampunan Dosa, Pimpinan Roh Kudus, dan Doa) dalam kehidupan gereja dan masyarakat?

[/collapsible]

[collapsible Title=”Tugas Terstruktur dan Mandiri”]

Tugas Terstruktur (120 menit):

  • Analisis perumpamaan Anak yang Hilang (Lukas 15) dan kaitannya dengan tema inklusivitas, serta diskusikan relevansinya bagi komunitas percaya. (Berkorelasi dengan CPMK-P2, CPMK-KU1).
  • Meringkas buku Satu Injil Tiga Pekabar, Karya B. F. Drewes: Buatlah ringkasan buku Satu Injil Tiga Pekabar Bab 4. Tugas dikumpulkan pada Pertemuan 6. (Berkorelasi dengan CPMK-P1, CPMK-P2, CPMK-S1, CPMK-KU1, CPMK-KU4).

Tugas Mandiri (120 menit):

  • Menelusuri Injil Lukas dan Menulis poin-poin utama tentang penekanan Injil Lukas pada Penderitaan Yesus, Pengampunan Dosa, Roh Kudus, dan Doa serta bagaimana tema ini relevan dalam iman Kristen.
  • Menulis refleksi di Journalit terhadap pertemuan ini. (Berkorelasi dengan CPMK-P1).

[/collapsible]

Khotbah

KHOTBAH

[collapsible Title=”INJIL-INJIL SINOPTIK DAN KISAH PARA RASUL”]

INJIL-INJIL SINOPTIK DAN KISAH PARA RASUL

Markus

Lukas

Kisah Para Rasul

Matius

[/collapsible]

[collapsible Title=”SURAT-SURAT PAULUS”]

SURAT-SURAT PAULUS

SURAT-SURAT AWAL

Galatia

1 Tesalonika

2 Tesalonika

SURAT-SURAT BESAR

Roma

1 Korintus

2 Korintus

SURAT-SURAT PENJARA

Efesus

Filipi

Kolose

Filemon

SURAT-SURAT AKHIR

1 Timotius

2 Timotius

Titus

[/collapsible]

[collapsible Title=”SURAT-SURAT UMUM”]

SURAT-SURAT UMUM

Yakobus

Ibrani

1 Petrus

2 Petrus

Yudas

[/collapsible]

[collapsible Title=”TULISAN-TULISAN YOHANES”]

TULISAN-TULISAN YOHANES

Wahyu kepada Yohanes

Surat 1 Yohanes

Surat 2 Yohanes

Surat 3 Yohanes

Injil Yohanes

[/collapsible]