xpb1-05

STT Kalimantan
S1 Teologi & S1 Pendidikan Agama Kristen

Eksposisi Perjanjian Baru 1

Matius · Markus · Lukas · Yohanes · Kisah Para Rasul
PERTEMUAN 5
Analisis Mendalam – Injil Lukas: Perumpamaan Keselamatan & Perjalanan Yesus menuju Yerusalem

Kembali ke Silabus

✝️ Topik Pertemuan
Yesus Sang Pencari dan Penebus: Kaum Terhilang dan Tersisih dalam Lukas 15, 19, dan 24
Perikop Fokus:
Lukas 15 (Tiga Perumpamaan Keselamatan) — 75 menit
Lukas 19:1–10 (Zakheus); Lukas 24 (Emaus & Kebangkitan) — 75 menit

📌 Posisi dalam Kurikulum:
Pertemuan ini melanjutkan Pertemuan 4 (pengantar Lukas–Kisah) dengan menyelami dua tema khas Lukas: perhatian bagi yang terhilang dan tersisih, serta perjalanan menuju Yerusalem. Mahasiswa diharapkan telah mengenal struktur Lukas dan motif “jalan” dari Pertemuan 3 sebagai dasar untuk membaca perikop-perikop ini.

I. Kerangka: Perjalanan ke Yerusalem dan Meja Makan

Lukas 9:51 menandai poros struktural Injil ini: Yesus “menetapkan wajah-Nya untuk pergi ke Yerusalem.” Sepanjang perjalanan itu (9:51–19:44), Lukas menyusun banyak bahan khasnya—termasuk Lukas 15 dan kisah Zakheus. Kedua perikop ini berada di dalam bingkai yang sama: Yesus makan bersama orang berdosa, dan pihak yang “bersungut-sungut” mempersoalkannya (15:1–2; 19:7). Pertemuan ini menutup dengan Lukas 24, ketika perjalanan itu mencapai puncaknya di kubur kosong dan di meja Emaus.1

Sitz im Leben Peristiwa
Yesus menerima pemungut cukai dan orang berdosa di meja makan—tindakan yang di mata kaum Farisi dan ahli Taurat menajiskan dan memalukan.
Sitz im Buch
Lukas 15 mengikuti pengajaran tentang harga pemuridan (14:25–35); Zakheus (19:1–10) menutup perjalanan menuju Yerusalem; Lukas 24 menjembatani Injil dengan Kisah Para Rasul.
Sitz im Leben Pembaca Asli
Jemaat Gentil dan kaum tersisih di sekitar Teofilus memerlukan jaminan bahwa mereka termasuk dalam kabar baik tentang Yesus.
II. Eksegesis Lukas 15 – Tiga Perumpamaan Keselamatan

A. Konteks: Bersungut-sungut di Meja (15:1–3)

Perikop dibuka dengan tuduhan kaum Farisi dan ahli Taurat. Perhatikan bahwa Lukas 15:3 memakai kata “perumpamaan” dalam bentuk tunggal: tiga cerita ini dimaksudkan sebagai satu jawaban atas satu keberatan.

οὗτος ἁμαρτωλοὺς προσδέχεται καὶ συνεσθίει αὐτοῖς.
Luk. 15:2, teks Yunani sumber: SBLGNT

“Orang ini menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.”

B. Pola Paralel dan Peningkatan

1. Domba yang Hilang (15:4–7)
Satu dari seratus; gembala pergi mencari sampai menemukan; sukacita di sorga atas satu orang berdosa yang bertobat.
2. Dirham yang Hilang (15:8–10)
Satu dari sepuluh; perempuan mencari dengan teliti; sukacita di hadapan malaikat-malaikat Allah. Lukas kerap memasangkan tokoh laki-laki dan perempuan.
3. Anak yang Hilang (15:11–32)
Satu dari dua; sang ayah menanti dan berlari; pesta sukacita—tetapi cerita berhenti sebelum sang kakak memutuskan.

Bagian yang hilang meningkat (1/100 → 1/10 → 1/2) dan kehilangan menjadi semakin relasional. Refrain sukacita (15:6, 7, 9, 10, 23, 24, 32) mengikat ketiganya.1

C. Perumpamaan Anak yang Hilang (15:11–32)

Kenneth Bailey menekankan latar budaya Timur Tengah: permintaan warisan semasa ayah hidup adalah penghinaan berat, dan seorang ayah terhormat yang berlari menyongsong anaknya melepaskan martabatnya demi rekonsiliasi.2 N. T. Wright membaca kisah ini pada tingkat yang lebih luas sebagai cerita tentang pembuangan dan kepulangan Israel—sehingga sikap sang kakak mencerminkan mereka yang menolak kepulangan itu terjadi bersama orang-orang “yang salah.”3

Detail teks: Di 15:30 sang kakak berkata “anak Bapa ini” (ὁ υἱός σου οὗτος), menolak mengakui hubungan darah; di 15:32 sang ayah mengoreksi: “adikmu ini” (ὁ ἀδελφός σου οὗτος). Akhir yang terbuka mengembalikan pertanyaan kepada para penuduh di 15:1–2.
III. Eksegesis Lukas 19:1–10 – Zakheus

Zakheus adalah “kepala pemungut cukai” (ἀρχιτελώνης, kata yang hanya muncul di sini dalam Perjanjian Baru) dan kaya, di Yerikho—titik terakhir sebelum Yesus mendaki ke Yerusalem. Inisiatif ada pada Yesus: “hari ini Aku harus menumpang di rumahmu” (19:5; δεῖ menandakan keharusan ilahi). Bersungut-sungut muncul lagi (19:7, διεγόγγυζον), membentuk inklusio dengan 15:2.

ἦλθεν γὰρ ὁ υἱὸς τοῦ ἀνθρώπου ζητῆσαι καὶ σῶσαι τὸ ἀπολωλός.
Luk. 19:10, teks Yunani sumber: SBLGNT

“Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”

Ayat 19:8 memakai kata kerja bentuk sekarang (“aku memberikan…, aku mengembalikan…”). Penafsir berbeda: apakah ini kebiasaan Zakheus yang sudah berjalan (pembelaan diri), atau tekad pertobatan yang baru?4 Apa pun pilihannya, pernyataan “hari ini keselamatan telah datang ke rumah ini” (19:9) menunjukkan bahwa keselamatan bersifat relasional dan sosial: Zakheus dipulihkan sebagai “anak Abraham.”5

Kaitan dengan Pertemuan 3: Markus 10:45 menyatakan Anak Manusia datang “untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan.” Lukas tidak memuat perikop paralelnya, dan justru menutup perjalanan menuju Yerusalem dengan rumusan “mencari dan menyelamatkan” (19:10). Perbedaan penekanan redaksional ini menarik untuk dikaji (lihat tugas A1).
IV. Eksegesis Lukas 24 – Kebangkitan dan Emaus

A. Kubur Kosong (24:1–12)

Perempuan-perempuan mendapati batu terguling dan menerima pesan malaikat. Berbeda dengan Markus 16:8, mereka menyampaikan berita itu—tetapi para rasul menganggapnya “omong kosong” (24:11).

B. Jalan ke Emaus (24:13–35)

Dua murid meninggalkan Yerusalem sambil membicarakan “semua yang terjadi.” Yesus berjalan bersama mereka, tetapi mata mereka “tertahan” (24:16). Motif “jalan” (ὁδός) dari Pertemuan 3 kembali: di sini Yesus menjadi teman seperjalanan yang menjelaskan Kitab Suci “mulai dari Musa dan segala nabi” (24:27). Ada dua momen pembukaan: Kitab Suci dibukakan (διήνοιγεν, 24:32) dan mata dicelikkan (διηνοίχθησαν, 24:31) saat Ia memecah roti.6

καὶ ὡς ἐγνώσθη αὐτοῖς ἐν τῇ κλάσει τοῦ ἄρτου.
Luk. 24:35 (bagian akhir), teks Yunani sumber: SBLGNT

“…dan bagaimana Ia dikenal oleh mereka pada waktu Ia memecah-mecahkan roti.”

C. Penampakan dan Pengutusan (24:36–53)

Yesus makan ikan di hadapan mereka (24:42–43), membuka pikiran mereka untuk memahami Kitab Suci (24:45), dan mengutus mereka: pertobatan dan pengampunan dosa diberitakan “kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem” (24:47). Kisah kenaikan (24:50–53) menjadi pintu masuk ke Kisah Para Rasul 1 pada Pertemuan 6.

V. Sintesis: Yesus yang Mencari dan Duduk Makan

Ketiga perikop membentuk satu alur: Yesus mencari (Luk. 15), Yesus menyelamatkan yang hilang (19:10), dan Yesus yang bangkit tetap hadir di meja bersama murid (24). Meja makan adalah tempat penyingkapan identitas dan pemulihan relasi di seluruh Injil ini.

Pesta bagi yang pulang (15:23–24)
Sukacita ilahi berwujud perjamuan.
Rumah Zakheus (19:5–9)
Keselamatan datang melalui tumpangan dan persekutuan.
Roti di Emaus (24:30–35)
Yang bangkit dikenal dalam pemecahan roti.
Aplikasi: Pertanyaan bagi pelayan gereja: apakah meja kita lebih menyerupai ruang tempat orang bersungut-sungut, atau pesta sang bapa?
VI. Penugasan

Tugas Terstruktur

1. Tabel Tiga Perumpamaan: Susun tabel perbandingan Lukas 15:4–32: yang hilang, pencari, cara menemukan, ungkapan sukacita, dan respons pihak lain. Tandai unsur yang berkembang dari perumpamaan ke perumpamaan.
2. Peta Motif Makan: Telusuri Lukas 15, 19:1–10, dan 24:13–43. Catat setiap adegan makan, siapa yang hadir, dan apa yang terungkap pada adegan itu.

Tugas Mandiri (Pilih Satu dari 10)

Mahasiswa S1 Teologi memilih satu dari Kelompok A; mahasiswa S1 PAK memilih satu dari Kelompok B. Boleh memilih dari kelompok lain apabila berminat.

🎓 KELOMPOK A — S1 TEOLOGI (Berbasis Eksegesis)
A1. Redaksi Markus 10:45 dan Lukas 19:10: Bandingkan soteriologi kedua ayat. Mengapa Lukas tidak memuat perikop paralel Markus 10:35–45?
A2. Kesatuan Lukas 15: Argumentasikan mengapa 15:3 memakai “perumpamaan” tunggal dan implikasinya bagi penafsiran akhir cerita.
A3. Lukas 19:8: Bandingkan pembacaan “kebiasaan” dan “tekad” atas kata kerja bentuk sekarang, dengan sedikitnya dua sumber ilmiah, lalu nyatakan posisi Anda.
A4. Anak Hilang dan Pembuangan: Evaluasi pembacaan N. T. Wright atas Lukas 15:11–32 sebagai narasi kepulangan Israel.
A5. Hermeneutika Emaus: Analisis Lukas 24:25–27, 44–47: bagaimana Yesus membaca Kitab Suci, dan apa kaitannya dengan kristologi Lukas–Kisah?
📗 KELOMPOK B — S1 PAK (Aplikasi Pastoral dan Pendidikan)
B1. Cerita Interaktif: Rancang pengajaran Sekolah Minggu tentang domba yang hilang dengan pertanyaan yang mengajak anak merasakan sukacita menemukan.
B2. Studi Kasus Sang Kakak: Susun bahan diskusi pemuda tentang sikap kakak sulung dalam Lukas 15:25–32 dan “kakak sulung” di gereja masa kini.
B3. Zakheus untuk Remaja: Susun bahan pemuridan tentang pertobatan yang berbuah keadilan sosial (Luk. 19:8).
B4. Pelayanan Meja: Rancang program keramahtamahan gereja berdasarkan pola makan bersama dalam Lukas.
B5. Katekisasi Emaus: Buat bahan katekisasi tentang kehadiran Kristus dalam Firman dan Perjamuan berdasarkan Lukas 24:13–35.
VII. Pertanyaan Diskusi Kelas
1.Mengapa Lukas menyusun tiga perumpamaan dengan pola peningkatan, dan apa yang hilang jika hanya Anak yang Hilang yang dibaca sendirian?
2.Siapa “kakak sulung” dalam konteks gereja dan masyarakat Indonesia masa kini? Bagaimana perumpamaan ini menegur sekaligus mengundang mereka?
3.Apakah pertobatan Zakheus mendahului atau mengikuti penerimaan Yesus? Apa implikasinya bagi pemberitaan Injil?
4.Mengapa Lukas menempatkan pengenalan akan Kristus pada pemecahan roti dan pembukaan Kitab Suci? Apa artinya bagi ibadah kita?

📚 Catatan Kaki

1 Joel B. Green, The Gospel of Luke, New International Commentary on the New Testament (Grand Rapids: Eerdmans, 1997), 568–91.

2 Kenneth E. Bailey, Poet and Peasant and Through Peasant Eyes: A Literary-Cultural Approach to the Parables in Luke (Grand Rapids: Eerdmans, 1983), 158–206.

3 N. T. Wright, Jesus and the Victory of God (Minneapolis: Fortress Press, 1996), 125–31.

4 A. C. Mitchell, “Zacchaeus Revisited: Luke 19,8 as a Defense,” Biblica 71 (1990): 153–76.

5 Joseph A. Fitzmyer, The Gospel According to Luke X–XXIV, Anchor Bible 28A (New York: Doubleday, 1985), 1218–29.

6 Robert C. Tannehill, The Narrative Unity of Luke–Acts: A Literary Interpretation, vol. 1, The Gospel according to Luke (Philadelphia: Fortress Press, 1986), 276–90.

STT Kalimantan · EKS-2101 Eksposisi Perjanjian Baru 1 · Pertemuan 5 · slug: xpb1-05

tpb2-04

Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Teologi Perjanjian Baru II

Ekklesiologi: Hakikat, Kesatuan, dan Tata Kehidupan Jemaat
Surat-surat Paulus, Ibrani, Yakobus, Petrus, dan Yudas
Teologi Perjanjian Baru 2 (DTh-137.206)
Pdt. D. Horatius Herman, M.Th.
Petunjuk: ketuk judul setiap bagian untuk membuka atau menutup uraiannya. Ketuk angka kecil di atas kata untuk melihat catatan kaki di dasar bagian itu.
Pendahuluan

Pertemuan 1 sampai 3 menelusuri siapa Kristus, apa yang Ia kerjakan bagi keselamatan manusia, dan bagaimana Roh Kudus menerapkan karya itu dalam hidup orang percaya. Pertemuan ini melanjutkan penelusuran itu dengan bertanya: menjadi apakah orang-orang yang telah dibenarkan dan diberi Roh itu bersama-sama? Ekklesiologi (dari ἐκκλησία, “gereja, kumpulan yang dipanggil keluar”) membahas hakikat, kesatuan, dan tata kehidupan gereja sebagaimana disaksikan dalam surat-surat Perjanjian Baru.

Surat-surat Perjanjian Baru tidak menyajikan satu definisi tunggal tentang gereja, melainkan serangkaian gambaran yang saling melengkapi — tubuh, bait, keluarga, mempelai, umat yang berziarah — masing-masing menyoroti sisi yang berbeda dari kenyataan yang sama. Karena itu Pelajaran ini membatasi diri pada dua pokok, yaitu hakikat dan gambaran gereja, yakni bagaimana surat-surat Perjanjian Baru melukiskan apa itu gereja, serta kesatuan dan tata kehidupan jemaat, yakni bagaimana gereja diatur, dipimpin, dan dipelihara kesatuannya sebagai satu tubuh.

Dua pokok Pelajaran ini
Hakikat dan Gambaran Gereja
Gereja sebagai tubuh Kristus, bait Allah, keluarga/rumah tangga Allah, dan mempelai Kristus.
Kesatuan dan Tata Kehidupan Jemaat
Kesatuan jemaat sebagai satu tubuh, kepemimpinan (penilik jemaat, penatua, diaken), imamat am orang percaya, dan disiplin jemaat.

Setiap pokok ditelusuri melalui tiga kelompok surat: Galatia, Roma, dan Korintus, tempat gambaran tubuh dan kesatuan jemaat paling luas dikembangkan; Efesus, surat-surat penjara, dan surat-surat penggembalaan, tempat gambaran bait, keluarga Allah, dan tata kepemimpinan jemaat paling rinci diuraikan; serta Ibrani, Yakobus, Petrus, dan Yudas, tempat gereja digambarkan sebagai umat yang berziarah, imamat am, dan kawanan domba yang digembalakan.

1. Latar Diskusi Para Pakar

Diskusi modern tentang ekklesiologi Perjanjian Baru berkisar pada tiga pertanyaan: gambaran mana yang paling menentukan hakikat gereja, bagaimana tata kepemimpinan jemaat berkembang pada abad pertama, dan bagaimana peran laki-laki dan perempuan diatur dalam pelayanan jemaat.

Paul Minear, dalam kajian yang menjadi rujukan klasik, mengidentifikasi sembilan puluh enam gambaran tentang gereja dalam Perjanjian Baru dan menolak anggapan bahwa satu gambaran saja (misalnya “tubuh Kristus”) dapat merangkum seluruh kekayaan kesaksian itu. Ia mengajukan pertanyaan metodologis bagi setiap gambaran yang muncul,

“How frequently does it occur in the New Testament? How many different authors show their acquaintance with it?”1

Terjemahan bebas: Seberapa sering gambaran itu muncul dalam Perjanjian Baru? Berapa banyak penulis berbeda yang menunjukkan keakrabannya dengan gambaran itu?

— Paul S. Minear, Images of the Church in the New Testament, 28

Pendekatan Minear ini mengingatkan bahwa gereja “tidak memiliki hakikat yang dapat langsung didefinisikan hanya dengan memandang gereja itu sendiri”2 — hakikat gereja hanya dapat dipahami melalui gambaran-gambaran yang dipakai para penulis Perjanjian Baru untuk menyingkapkannya.

Robert Banks meneliti latar sosial jemaat mula-mula sebagai kumpulan rumah tangga (house churches) dan menekankan bahwa dua gambaran Paulus yang paling dominan — tubuh dan keluarga — masing-masing menyoroti pertumbuhan organik jemaat dan keharmonisan hubungan di dalamnya.3

Pertanyaan tentang tata kepemimpinan jemaat telah lama diperdebatkan sejak abad kesembilan belas. J. B. Lightfoot, seorang Uskup Anglikan yang mendukung tata gereja episkopal, tetap mengakui secara jujur bahwa dalam Perjanjian Baru sendiri kedua sebutan itu dipakai bagi jabatan yang sama,

“the same officer in the Church is called indifferently ‘bishop’ and ‘elder’ or ‘presbyter’”4

Terjemahan bebas: pejabat yang sama dalam gereja disebut secara bergantian ‘penilik jemaat’ dan ‘tua-tua’ atau ‘presbiter’.

— J. B. Lightfoot, Saint Paul’s Epistle to the Philippians, 97

Pengakuan Lightfoot ini penting justru karena datang dari seorang pendukung tata gereja episkopal: ia mengakui bahwa perbedaan antara “penilik jemaat” (ἐπίσκοπος) dan “penatua” (πρεσβύτερος) sebagai dua jabatan yang berbeda tingkat baru berkembang setelah zaman Perjanjian Baru, bukan berasal dari teks Perjanjian Baru itu sendiri.

Perdebatan yang lebih baru berkisar pada peran perempuan dalam kepemimpinan jemaat, khususnya penafsiran 1 Tim. 2:12. Wayne Grudem, mewakili pandangan komplementarian, membela pembacaan bahwa ayat itu melarang perempuan mengajar atau memegang otoritas dengan wibawa atas laki-laki dalam jemaat secara umum.5 Philip Payne, mewakili pandangan egaliter, berargumen bahwa kata kerja αὐθεντεῖν (“memegang otoritas”) dalam konteks itu menunjuk pada penyalahgunaan otoritas, sehingga larangan itu bersifat khusus, bukan larangan umum bagi perempuan mengajar atau memimpin.6 Andreas Köstenberger menanggapi argumen tata bahasa Payne tentang kata penghubung οὐδέ (“atau, dan tidak”) dan mempertahankan bahwa struktur kalimat itu menyejajarkan “mengajar” dan “memegang otoritas” sebagai dua tindakan yang sama-sama dilarang, bukan satu tindakan yang membatasi tindakan lainnya.7

Sejumlah penafsir lain mengajukan pembacaan ketiga: bahwa ἀνήρ dan γυνή dalam 1 Tim. 2:11–15 sebaiknya diterjemahkan “suami” dan “istri”, bukan “laki-laki” dan “perempuan” secara umum, sehingga bagian ini berbicara tentang tata hubungan dalam rumah tangga, bukan tentang jabatan mengajar dalam jemaat secara umum. Craig Keener mengembangkan pembacaan ini dengan menunjukkan bahwa kata ἀνδρός pada ay. 12 berbentuk tunggal, dan bahwa rujukan kepada Adam dan Hawa pada ay. 13–14 paling wajar dipahami sebagai rujukan kepada sepasang suami-istri yang pertama, bukan sebagai representasi umum “laki-laki” dan “perempuan”; penyebutan “melahirkan anak” pada ay. 15 pun lebih cocok dengan konteks kehidupan rumah tangga daripada dengan jabatan mengajar dalam jemaat.8 Pembacaan ini diperkuat dengan pengamatan bahwa kata εὐσέβεια (“kesalehan hidup”) — bukan istilah kepemimpinan atau jabatan — menjadi salah satu kata kunci yang menyusun struktur teologi dan etika seluruh 1 Timotius, muncul pada 2:2; 3:16; 4:7–8; dan 6:3, 5–6, 11, sehingga pasal 2 dapat dibaca sebagai bagian dari nasihat tentang kesalehan hidup sehari-hari — termasuk kehidupan rumah tangga — dan bukan semata-mata tentang tata jabatan gereja yang baru dibahas secara eksplisit pada pasal 3.9

Peta posisi para pakar
Paul S. Minear
Hakikat gereja hanya dapat dipahami melalui kekayaan gambaran yang dipakai Perjanjian Baru, bukan satu gambaran tunggal.
Robert J. Banks
Jemaat mula-mula adalah kumpulan rumah tangga; gambaran tubuh dan keluarga menyoroti pertumbuhan dan keharmonisan.
J. B. Lightfoot
“Penilik jemaat” dan “penatua” adalah sebutan bagi jabatan yang sama dalam Perjanjian Baru, sekalipun ia sendiri mendukung episkopal.
Wayne Grudem (komplementarian)
1 Tim. 2:12 melarang perempuan mengajar atau memegang otoritas atas laki-laki dalam jemaat secara umum.
Philip B. Payne (egaliter)
Larangan dalam 1 Tim. 2:12 bersifat khusus terhadap penyalahgunaan otoritas, bukan larangan umum.
Craig S. Keener (pembacaan rumah tangga/kontekstual)
1 Tim. 2:11–15, ἀνήρ/γυνή menunjuk suami-istri; dalam 1 Kor. 14:34–35, λαλεῖν yang dilarang adalah bercakap-cakap yang mengganggu, bukan berdoa atau bernubuat (bdk. 1 Kor. 11:5).

Pelajaran ini menyajikan teks-teks yang relevan bagi ketiga pertanyaan itu, termasuk kualifikasi kepemimpinan jemaat dan teks tentang peran perempuan, tanpa menuntaskan perdebatan yang masih berlangsung di antara para penafsir yang sama-sama setia pada Kitab Suci.

Catatan Kaki

1. Paul S. Minear, Images of the Church in the New Testament (Philadelphia: Westminster, 1960), 28. ↩

2. Ibid., 12. ↩

3. Robert J. Banks, Paul’s Idea of Community: The Early House Churches in Their Historical Setting (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1980). ↩

4. J. B. Lightfoot, Saint Paul’s Epistle to the Philippians, rev. ed. (London: Macmillan, 1913), 97. ↩

5. Wayne Grudem, Evangelical Feminism and Biblical Truth: An Analysis of More Than 100 Disputed Questions (Sisters, OR: Multnomah, 2004), 305–29. ↩

6. Philip B. Payne, Man and Woman, One in Christ: An Exegetical and Theological Study of Paul’s Letters (Grand Rapids, MI: Zondervan, 2009), 337–59. ↩

7. Andreas J. Köstenberger, “The Syntax of 1 Timothy 2:12: A Rejoinder to Philip B. Payne,” Journal for Biblical Manhood and Womanhood 14, no. 2 (2009): 37–45. ↩

8. Craig S. Keener, Paul, Women, and Wives: Marriage and Women’s Ministry in the Letters of Paul (Peabody, MA: Hendrickson, 1992), 101–3. ↩

9. Philip H. Towner, The Goal of Our Instruction: The Structure of Theology and Ethics in the Pastoral Epistles, Journal for the Study of the New Testament Supplement Series 34 (Sheffield: JSOT Press, 1989). ↩

2. Galatia, Roma, dan Korintus: Satu Tubuh dengan Banyak Anggota

Gereja sebagai Satu Tubuh dengan Banyak Anggota dalam Galatia, Roma, dan Korintus

Galatia dan Roma: Kesatuan yang Melampaui Perbedaan
Teks Kunci — Gal. 3:28

οὐκ ἔνι Ἰουδαῖος οὐδε Ἕλλην, οὐκ ἔνι δοῦλος οὐδε ἐλεύθερος, οὐκ ἔνι ἄρσεν και θῆλυ· πάντες γαρ ὑμεῖς εἷς ἐστε ἐν Χριστῷ Ἰησοῦ.

“tidak ada lagi orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada lagi hamba atau orang merdeka, tidak ada lagi laki-laki atau perempuan, sebab kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” (terjemahan bebas)

Ayat ini merangkum kesatuan jemaat yang melampaui pembedaan etnis, sosial, dan gender yang sangat kuat pada zaman Paulus. Kata εἷς (“satu”, maskulin tunggal, meskipun subjeknya ὑμεῖς jamak) menegaskan kesatuan identitas “di dalam Kristus Yesus” yang menjadi dasar bagi semua pembedaan lain yang tetap ada dalam kehidupan sosial (bdk. tetap adanya pembedaan peran dalam surat-surat lain), tetapi tidak lagi menentukan nilai atau status seseorang di hadapan Allah dan dalam persekutuan jemaat.

Teks Kunci — Rm. 12:4–5

καθάπερ γαρ ἐν ἑνι σώματι πολλα μέλη ἔχομεν, τα δε μέλη πάντα οὐ την αὐτην ἔχει πρᾶξιν, οὕτως οἱ πολλοι ἓν σῶμά ἐσμεν ἐν Χριστῷ, το δε καθ᾽ εἷς ἀλλήλων μέλη.

“Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota mempunyai tugas yang sama, demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus, dan masing-masing kita adalah anggota yang seorang terhadap yang lain.” (terjemahan bebas)

Paulus memakai gambaran tubuh untuk menjelaskan hubungan antara kesatuan (“satu tubuh”) dan keragaman (“banyak anggota”, “tugas yang tidak sama”) dalam gereja, sebuah gambaran yang akan dikembangkan lebih luas dalam 1 Korintus 12.

1 Korintus: Bait Allah dan Tubuh dengan Banyak Anggota
Teks Kunci — 1 Kor. 3:9, 16

θεοῦ γάρ ἐσμεν συνεργοί· θεοῦ γεώργιον, θεοῦ οἰκοδομή ἐστε. … οὐκ οἴδατε ὅτι ναoς θεοῦ ἐστε και τo πνεῦμα τοῦ θεοῦ οἰκεῖ ἐν ὑμῖν;

“Sebab kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah. … Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” (terjemahan bebas)

Dalam 1 Korintus 3, Paulus menegur perpecahan jemaat yang berpihak pada pemimpin-pemimpin tertentu (Paulus, Apolos, Kefas) dengan mengingatkan bahwa jemaat adalah milik Allah sendiri — ladang-Nya, bangunan-Nya, bait-Nya. Kata ναός (“bait”, tempat kudus, bukan seluruh kompleks bangunan) menunjukkan bahwa jemaat sebagai kesatuan, bukan hanya tubuh individu (bdk. 1 Kor. 6:19), adalah tempat kediaman Roh Allah.

Pasal 12 mengembangkan gambaran tubuh secara paling rinci dalam Perjanjian Baru. Ayat 12–14 menyatakan bahwa tubuh Kristus, seperti tubuh manusia, terdiri atas banyak anggota yang berbeda namun tetap satu tubuh. Ayat 15–20 memakai dialog imajiner antaranggota tubuh (kaki, tangan, telinga, mata) untuk menegaskan bahwa tidak ada anggota yang dapat berkata “aku bukan bagian dari tubuh” hanya karena fungsinya berbeda dari anggota lain, dan bahwa Allah sendiri yang menyusun tiap-tiap anggota di dalam tubuh sesuai kehendak-Nya (ay. 18).

Teks Kunci — 1 Kor. 12:26

εἴτε πάσχει ἓν μέλος, συμπάσχει πάντα τα μέλη· εἴτε δοξάζεται μέλος, συγχαίρει πάντα τα μέλη.

“Jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita.” (terjemahan bebas)

Dua kata majemuk συμπάσχει (“turut menderita”) dan συγχαίρει (“turut bersukacita”) menegaskan solidaritas organik antaranggota jemaat: apa yang dialami satu anggota — baik penderitaan maupun kehormatan — bukan urusan pribadi semata, melainkan turut dirasakan seluruh tubuh. Prinsip inilah yang mendasari daftar karunia dalam pasal yang sama (telah dibahas dalam Pelajaran Pneumatologi) sebagai sarana yang melayani kesatuan tubuh, bukan yang memecahnya.

1 Korintus 11 dan 14: Perempuan dalam Ibadah dan Pertanyaan tentang “Berdiam Diri”
Teks Kunci — 1 Kor. 11:5

πᾶσα δε γυνὴ προσευχομένη ἢ προφητεύουσα ἀκατακαλύπτῳ τῇ κεφαλῇ καταισχύνει την κεφαλην αὐτῆς.

“tetapi setiap perempuan yang berdoa atau berkhotbah dengan kepala tidak bertudung, ia mencemarkan kepalanya.” (terjemahan bebas)

Sebelum membahas karunia-karunia dalam pasal 12–14, Paulus sudah mengandaikan dalam 1 Kor. 11:4–5 bahwa perempuan berdoa (προσευχομένη) dan bernubuat (προφητεύουσα, berkhotbah) dalam ibadah jemaat, setara dengan laki-laki, dan aturan yang diberikan hanya menyangkut penutup kepala, bukan larangan atas tindakan berdoa dan bernubuat itu sendiri. Nubuat (προφητεία) termasuk salah satu χάρισμα yang didaftar dalam 1 Kor. 12:10, 28, sehingga ayat ini menunjukkan bahwa perempuan turut menjalankan pelayanan karunia rohani secara publik dalam jemaat Korintus tanpa dilarang.

Teks Kunci — 1 Kor. 14:34–35

αἱ γυναῖκες ἐν ταῖς ἐκκλησίαις σιγάτωσαν, οὐ γαρ ἐπιτρέπεται αὐταῖς λαλεῖν, ἀλλα ὑποτασσέσθωσαν, καθως και ὁ νόμος λέγει. εἰ δέ τι μαθεῖν θέλουσιν, ἐν οἴκῳ τους ἰδίους ἄνδρας ἐπερωτάτωσαν· αἰσχρoν γάρ ἐστιν γυναικι λαλεῖν ἐν ἐκκλησίᾳ.

“hendaklah perempuan-perempuan berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan jemaat, sebab mereka tidak diizinkan untuk berbicara, melainkan hendaklah mereka menundukkan diri, seperti yang dikatakan hukum Taurat juga. Dan jika mereka ingin mengetahui sesuatu, baiklah mereka menanyakannya kepada suaminya sendiri di rumah, sebab tidak sopan bagi perempuan untuk berbicara dalam pertemuan jemaat.” (terjemahan bebas)

Ayat ini tampak berlawanan dengan 1 Kor. 11:5, dan para penafsir mengajukan beberapa jalan untuk memahaminya. Sebagian, seperti Gordon Fee, berpendapat bahwa ay. 34–35 adalah sisipan yang tidak asli dari tangan Paulus, mengingat dalam sebagian saksi naskah Latin kedua ayat ini muncul sesudah ay. 40, bukan pada tempatnya yang biasa — perpindahan letak yang menurutnya lebih mudah dijelaskan sebagai catatan pinggir yang kemudian disalin pada tempat yang berbeda-beda oleh para penyalin, ketimbang sebagai bagian asli argumen Paulus.10

Penafsir lain mempertahankan keaslian ay. 34–35 tetapi membatasi cakupannya. Kata kerja λαλεῖν (“berbicara”) yang dilarang di sini bukan kata yang dipakai bagi karunia bernubuat (προφητεύειν) atau mengajar (διδάσκειν) — kedua kata itu tidak muncul dalam ay. 34–35 — dan λαλέω sendiri tidak pernah menjadi nama satu χάρισμα pun dalam daftar karunia 1 Kor. 12:8–10, 28. Kata itu adalah kata kerja umum bagi tindakan berbicara, dan dalam pemakaian sehari-hari dapat berarti “bercakap-cakap” atau “mengobrol” — bandingkan Yoh. 4:27, dimana para murid heran karena Yesus ἐλάλει μετὰ γυναικός (“sedang bercakap-cakap dengan seorang perempuan”). Craig Keener mengembangkan pembacaan ini dan mengaitkannya dengan ay. 35 (“jika mereka ingin mengetahui sesuatu”): larangan itu diarahkan kepada kebiasaan sebagian perempuan yang mengganggu jalannya ibadah dengan bercakap-cakap atau mengajukan pertanyaan pada saat yang tidak tepat, bukan larangan mutlak terhadap perempuan untuk berbicara, berdoa, atau bernubuat dalam ibadah — sebab hal itu akan bertentangan langsung dengan 1 Kor. 11:5.11 Ben Witherington sampai pada kesimpulan yang serupa dari sudut retorika sosial jemaat Korintus.12 D. A. Carson mengajukan pembacaan yang lebih spesifik: larangan itu berkaitan dengan proses “menimbang” (διακρίνειν) nubuat/khotbah yang disebut dalam 1 Kor. 14:29, sehingga yang dibatasi bukan berbicara dalam arti mengajar, berkhotbah, atau menasehati (ketiganya ada dalam daftar χάρισμα), melainkan keikutsertaan dalam proses mempertanyakan nubuat orang lain secara terbuka di depan jemaat.13

Apa pun jalan yang ditempuh, ketiga pembacaan ini sepakat bahwa 1 Kor. 14:34–35 tidak dapat dibaca sebagai larangan absolut terhadap perempuan untuk berbicara, berdoa, atau bernubuat dalam ibadah jemaat, sebab pembacaan semacam itu akan bertentangan langsung dengan kesaksian 1 Kor. 11:4–5 yang menjelaskan kedua pelayanan itu — doa dan nubuat — dijalankan secara setara oleh laki-laki maupun perempuan.

Pola yang tampak

Dari rangkaian surat ini tampak satu pola: kesatuan jemaat di dalam Kristus melampaui perbedaan etnis, sosial, dan gender (Gal. 3:28); kesatuan itu diwujudkan dalam gambaran satu tubuh dengan banyak anggota yang saling bergantung (Rm. 12:4–5; 1 Kor. 12); jemaat sebagai kesatuan adalah bait tempat Roh Allah berdiam (1 Kor. 3:16); dan laki-laki maupun perempuan sama-sama menjalankan pelayanan doa dan nubuat dalam ibadah jemaat (1 Kor. 11:4–5), sehingga perpecahan jemaat maupun pembatasan pelayanan yang tidak berdasar bukan sekadar masalah sosial, melainkan pelanggaran terhadap kekudusan bait Allah dan kesatuan tubuh Kristus itu sendiri.

Catatan Kaki

10. Gordon D. Fee, The First Epistle to the Corinthians, New International Commentary on the New Testament (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1987), 699–710. ↩

11. Craig S. Keener, “Learning in the Assemblies: 1 Corinthians 14:34–35,” in Discovering Biblical Equality: Complementarity without Hierarchy, ed. Ronald W. Pierce and Rebecca Merrill Groothuis (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 2004); Craig S. Keener, 1–2 Corinthians, New Cambridge Bible Commentary (Cambridge: Cambridge University Press, 2005), 117–20. ↩

12. Ben Witherington III, Conflict and Community in Corinth: A Socio-Rhetorical Commentary on 1 and 2 Corinthians (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1995), 232, 238–40. ↩

13. D. A. Carson, Showing the Spirit: A Theological Exposition of 1 Corinthians 12–14 (Grand Rapids, MI: Baker, 1987), 121–31. ↩

3. Efesus, Surat-surat Penjara, dan Surat-surat Penggembalaan

Gereja sebagai Tubuh dengan Kristus sebagai Kepala, Keluarga Allah, dan Bait yang Bertumbuh dalam Efesus, Surat-surat Penjara, dan Surat-surat Penggembalaan

Efesus: Kepala dan Tubuh, Keluarga Allah, dan Mempelai
Teks Kunci — Ef. 1:22–23

καὶ αὐτoν ἔδωκεν κεφαλὴν ὑπὲρ πάντα τῇ ἐκκλησίᾳ, ἥτις ἐστὶν τὸ σῶμα αὐτοῦ, τὸ πλήρωμα τοῦ τὰ πάντα ἐν πᾶσιν πληρουμένου.

“dan Ia telah menetapkan Dia sebagai Kepala atas segala sesuatu bagi jemaat, yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu.” (terjemahan bebas)

Efesus mengembangkan gambaran tubuh dengan menambahkan unsur κεφαλή (“kepala”): Kristus bukan hanya sumber kehidupan tubuh, melainkan Kepala yang memerintah atasnya. Jemaat disebut πλήρωμα (“kepenuhan”) Kristus — suatu ungkapan yang menandaskan hubungan erat antara Kristus dan jemaat-Nya, sehingga jemaat menjadi tempat kehadiran dan karya-Nya dinyatakan secara penuh di dunia.

Teks Kunci — Ef. 2:19–20

ἄρα οὖν οὐκέτι ἐστὲ ξένοι καὶ πάροικοι, ἀλλὰ ἐστὲ συμπολῖται τῶν ἁγίων καὶ οἰκεῖοι τοῦ θεοῦ, ἐποικοδομηθέντες ἐπὶ τῷ θεμελίῳ τῶν ἀποστόλων καὶ προφητῶν, ὄντος ἀκρογωνιαίου αὐτοῦ Χριστοῦ Ἰησοῦ.

“Jadi kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota keluarga Allah, dibangun di atas dasar para rasul dan nabi, dengan Kristus Yesus sendiri sebagai batu penjuru.” (terjemahan bebas)

Bagian ini memakai dua gambaran sekaligus: kewargaan (συμπολῖται, “kawan sewarga”) dan keluarga (οἰκεῖοι τοῦ θεοῦ, “anggota keluarga/rumah tangga Allah”), sekaligus gambaran bangunan dengan Kristus sebagai ἀκρογωνιαῖος (“batu penjuru”, batu yang menentukan arah dan kesejajaran seluruh bangunan). Ayat 21–22 melanjutkan gambaran itu: seluruh bangunan “bertumbuh menjadi bait yang kudus di dalam Tuhan”, tempat Allah berdiam oleh Roh.

Teks Kunci — Ef. 4:13

μέχρι καταντήσωμεν οἱ πάντες εἰς τὴν ἑνότητα τῆς πίστεως καὶ τῆς ἐπιγνώσεως τοῦ υἱοῦ τοῦ θεοῦ, εἰς ἄνδρα τέλειον, εἰς μέτρον ἡλικίας τοῦ πληρώματος τοῦ Χριστοῦ.

“sampai kita semua mencapai kesatuan iman dan pengenalan yang benar akan Anak Allah, menjadi manusia dewasa, mencapai ukuran kepenuhan Kristus.” (terjemahan bebas)

Efesus 4:11–16 menyebut para pelayan yang diberikan Kristus bagi jemaat — rasul, nabi, pemberita Injil, gembala dan pengajar — dengan tujuan “memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus” (ay. 12). Tujuan akhirnya bukan sekadar tata organisasi yang rapi, melainkan pertumbuhan bersama menuju kedewasaan dan kesatuan iman, sehingga jemaat “dibangun dalam kasih” (ay. 16, ἐν ἀγάπῃ).

Efesus 5:23–32 menambahkan gambaran mempelai: Kristus adalah kepala jemaat sebagaimana suami adalah kepala istri, dan Kristus mengasihi jemaat serta menyerahkan diri-Nya baginya, untuk menguduskannya dan menampilkannya bagi diri-Nya sendiri “dengan cemerlang, tanpa noda atau kerut atau yang serupa itu” (ay. 27). Kolose 1:18 merangkum gambaran kepemimpinan Kristus atas jemaat dengan singkat: αὐτός ἐστιν ἡ κεφαλὴ τοῦ σώματος τῆς ἐκκλησίας (“Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat”).

Surat-surat Penggembalaan: Rumah Allah dan Kualifikasi Kepemimpinan
Teks Kunci — 1 Tim. 3:15

εἰδῇς πῶς δεῖ ἐν οἴκῳ θεοῦ ἀναστρέφεσθαι, ἥτις ἐστὶν ἐκκλησία θεοῦ ζῶντος, στῦλος καὶ ἑδραίωμα τῆς ἀληθείας.

“supaya engkau tahu bagaimana seharusnya orang hidup dalam rumah Allah, yaitu jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran.” (terjemahan bebas)

Ayat ini menghubungkan gambaran keluarga (οἶκος θεοῦ, “rumah Allah”) dengan tanggung jawab jemaat sebagai στῦλος καὶ ἑδραίωμα τῆς ἀληθείας (“tiang penopang dan dasar kebenaran”) — gambaran arsitektural yang menekankan peran jemaat memelihara dan menegakkan kebenaran Injil di tengah dunia.

Surat-surat penggembalaan memuat daftar kualifikasi bagi para pemimpin jemaat yang paling rinci dalam Perjanjian Baru. 1 Tim. 3:1–7 mendaftar kualifikasi ἐπίσκοπος (“penilik jemaat”): tidak bercacat, suami dari satu istri, dapat menahan diri, bijaksana, dapat mengajar, bukan peminum, bukan pemarah, dan seterusnya. Ayat 8–13 mendaftar kualifikasi serupa bagi διάκονος (“diaken/pelayan”).

Titus 1:5–9 memuat daftar yang sejajar, dengan struktur tata bahasa yang penting bagi diskusi tentang jabatan gereja: ayat 5–6 menyebut pengangkatan πρεσβύτεροι (“penatua-penatua”) di setiap kota, dan ayat 7 melanjutkan dengan alasan (γάρ, “sebab”) yang memakai kata ἐπίσκοπος (“penilik jemaat”) untuk merujuk pada jabatan yang sama — pergantian sebutan inilah yang menjadi dasar kesimpulan Lightfoot bahwa kedua istilah itu menunjuk pada satu jabatan yang sama dalam Perjanjian Baru.14

1 Tim. 2:11–15 memuat pengajaran yang diperdebatkan tentang perempuan dalam jemaat: perempuan diminta belajar “dengan tenang dan penuh ketaatan” (ay. 11), dan ayat 12 menyatakan οὐκ ἐπιτρέπω γυναικὶ διδάσκειν οὐδὲ αὐθεντεῖν ἀνδρός (“aku tidak mengizinkan perempuan mengajar atau memegang otoritas atas laki-laki”). Kata αὐθεντεῖν jarang dipakai dalam Perjanjian Baru, dan maknanya — apakah “memegang otoritas” secara umum atau “menyalahgunakan otoritas” secara khusus — menjadi pusat perdebatan Grudem dan Payne yang telah disinggung pada bagian Latar Diskusi Para Pakar.15

Perdebatan itu juga menyangkut cakupan ay. 13–15 sendiri. Kata ἀνδρός pada ay. 12 berbentuk genitif tunggal, dan dapat diterjemahkan “laki-laki” atau “suami”. Menurut pembacaan rumah tangga, alasan yang diberikan Paulus pada ay. 13–14 — Adam dibentuk lebih dahulu, kemudian Hawa; Adam tidak tertipu, tetapi perempuan itu tertipu dan jatuh ke dalam pelanggaran — paling wajar dibaca sebagai rujukan kepada Adam dan Hawa sebagai sepasang suami-istri yang pertama, bukan sebagai dasar bagi larangan umum terhadap seluruh perempuan mengajar seluruh laki-laki. Penyebutan “ia akan diselamatkan melalui proses melahirkan anak” (σωθήσεται διὰ τῆς τεκνογονίας, ay. 15) juga dipandang lebih cocok dengan konteks kehidupan rumah tangga suami-istri daripada dengan jabatan mengajar dalam jemaat.16 Konteks yang lebih luas dari seluruh surat ini pun didominasi oleh kata εὐσέβεια (“kesalehan hidup”), yang tersebar pada 1 Tim. 2:2; 3:16; 4:7–8; dan 6:3, 5–6, 11, sehingga menurut pembacaan ini pasal 2 secara keseluruhan lebih tepat dipahami sebagai nasihat tentang kesalehan hidup sehari-hari — termasuk relasi suami-istri — daripada sebagai pengajaran tentang tata jabatan gereja, yang baru dibahas secara eksplisit pada pasal 3.17 Para penafsir yang membela pembacaan tradisional menjawab bahwa bentuk tunggal ἀνδρός tidak dengan sendirinya membatasi rujukan kepada pasangan suami-istri, sebab bentuk tunggal generik lazim dipakai dalam nasihat etis Yunani untuk berbicara tentang “setiap laki-laki” atau “setiap perempuan” secara umum, dan bahwa konteks ay. 8–10 (tentang doa dan perhiasan “laki-laki” dan “perempuan” di tempat ibadah secara umum, bukan semata suami-istri di rumah) mendukung pembacaan yang lebih luas itu.18

Catatan Kaki

14. Lightfoot, Philippians, 95–99. ↩

15. Grudem, Evangelical Feminism, 305–29; Payne, Man and Woman, 337–59. ↩

16. Keener, Paul, Women, and Wives, 101–3. ↩

17. Towner, Goal of Our Instruction. ↩

18. Köstenberger, “Syntax of 1 Timothy 2:12.” ↩

4. Ibrani, Yakobus, Petrus, dan Yudas

Gereja sebagai Umat yang Berziarah, Imamat Am, dan Kawanan yang Digembalakan dalam Ibrani, Yakobus, Petrus, dan Yudas

Ibrani: Umat yang Berziarah kepada Yerusalem Sorgawi
Teks Kunci — Ibr. 12:22–23

ἀλλὰ προσεληλύθατε Σιὼν ὄρει καὶ πόλει θεοῦ ζῶντος, Ἰερουσαλὴμ ἐπουρανίῳ, καὶ μυριάσιν ἀγγέλων, πανηγύρει καὶ ἐκκλησίᾳ πρωτοτόκων ἀπογεγραμμένων ἐν οὐρανοῖς

“tetapi kamu sudah datang kepada Gunung Sion, kepada kota Allah yang hidup, Yerusalem sorgawi, dan kepada beribu-ribu malaikat dalam perkumpulan yang meriah, dan kepada jemaat anak-anak sulung yang terdaftar di sorga.” (terjemahan bebas)

Ibrani menggambarkan jemaat orang percaya sebagai umat yang sedang berziarah, mengikuti pola umat Israel di padang gurun (pasal 3–4) dan umat yang telah sampai pada kenyataan sorgawi yang melampaui Gunung Sinai yang menakutkan (12:18–21): mereka telah “datang” — kata kerja προσεληλύθατε berbentuk perfect, menandakan keadaan yang sudah dan tetap berlaku — kepada Yerusalem sorgawi dan kepada ἐκκλησία πρωτοτόκων (“jemaat anak-anak sulung”).

Ibrani 10:24–25 memberi nasihat praktis yang sangat dikenal: “janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati,” sebuah peringatan terhadap kecenderungan meninggalkan persekutuan jemaat, khususnya menjelang masa-masa sulit. Ibrani 13:17 menasihati jemaat untuk taat kepada para pemimpin mereka (ἡγούμενοι, “yang memimpin”), sebab mereka berjaga-jaga atas jiwa jemaat dan harus memberi pertanggungjawaban kepada Allah.

Yakobus: Penatua dan Pemeliharaan Bersama

Yakobus 5:14–16 memberi gambaran praktis tentang peran penatua (πρεσβύτεροι) dalam jemaat: orang sakit dipanggil untuk didoakan oleh penatua-penatua jemaat, yang mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan, dan “doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu” (ay. 15). Ayat 16 melanjutkan dengan nasihat untuk saling mengaku dosa dan saling mendoakan — memperlihatkan bahwa pemeliharaan jemaat, baik jasmani maupun rohani, dijalankan bersama-sama, bukan hanya oleh pemimpin secara sepihak.

Petrus: Imamat Am dan Penatua sebagai Gembala
Teks Kunci — 1 Pet. 2:5

αὐτοὶ ὡς λίθοι ζῶντες οἰκοδομεῖσθε οἶκος πνευματικὸς εἰς ἱεράτευμα ἅγιον, ἀνενέγκαι πνευματικὰς θυσίας εὐπροσδέκτους θεῷ διὰ Ἰησοῦ Χριστοῦ.

“kamu juga, sebagai batu-batu yang hidup, dibangun menjadi rumah rohani, menjadi imamat yang kudus, untuk mempersembahkan korban-korban rohani yang berkenan kepada Allah oleh Yesus Kristus.” (terjemahan bebas)

Petrus memakai gambaran bangunan yang hidup — bukan batu mati, melainkan λίθοι ζῶντες (“batu-batu hidup”) yang tersusun menjadi bait rohani — sekaligus menyebut jemaat sebagai ἱεράτευμα ἅγιον (“imamat yang kudus”). Ayat 9 melanjutkan dengan rangkaian sebutan yang digemakan dari Kel. 19:6: γένος ἐκλεκτόν (“bangsa yang terpilih”), βασίλειον ἱεράτευμα (“imamat yang rajani”), ἔθνος ἅγιον (“bangsa yang kudus”), λαὸς εἰς περιποίησιν (“umat kepunyaan Allah sendiri”). Gambaran “imamat am orang percaya” ini menegaskan bahwa akses kepada Allah dan tanggung jawab mempersembahkan ibadah tidak terbatas pada segelintir pemimpin, melainkan menjadi panggilan seluruh umat.

Teks Kunci — 1 Pet. 5:2–3

ποιμάνατε τὸ ἐν ὑμῖν ποίμνιον τοῦ θεοῦ, ἐπισκοποῦντες μὴ ἀναγκαστῶς ἀλλὰ ἑκουσίως κατὰ θεόν, μηδὲ αἰσχροκερδῶς ἀλλὰ προθύμως, μηδ᾽ ὡς κατακυριεύοντες τῶν κλήρων ἀλλὰ τύποι γινόμενοι τοῦ ποιμνίου.

“gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, bukan dengan paksa, melainkan dengan sukarela sesuai kehendak Allah; jangan karena mau mencari untung, melainkan dengan pengabdian; jangan pula seperti orang yang mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, melainkan menjadi teladan bagi kawanan domba itu.” (terjemahan bebas)

Nasihat Petrus kepada para penatua (5:1–4) memakai gambaran gembala (ποιμήν) dan kawanan domba (ποίμνιον), dengan penekanan yang jelas pada cara memimpin: bukan κατακυριεύοντες (“menguasai, memerintah dengan tangan besi”), melainkan menjadi τύποι (“teladan”) bagi jemaat. Kristus sendiri disebut ἀρχιποίμην (“Gembala Agung”, ay. 4) yang akan memberi mahkota kemuliaan kepada para penatua yang setia menggembalakan dengan cara demikian.

Yudas: Berjuang bagi Kemurnian Iman

Yudas 3 memberi nasihat singkat namun penting bagi kehidupan jemaat: ἐπαγωνίζεσθαι τῇ ἅπαξ παραδοθείσῃ τοῖς ἁγίοις πίστει (“berjuang sungguh-sungguh untuk iman yang telah disampaikan sekali untuk selama-lamanya kepada orang-orang kudus”). Kata ἐπαγωνίζεσθαι menggambarkan perjuangan yang sungguh-sungguh, seperti seorang atlet, untuk memelihara kemurnian iman jemaat dari ajaran-ajaran yang menyimpang — tanggung jawab yang menurut surat ini dipikul bersama oleh seluruh jemaat, bukan hanya para pemimpinnya.

5. Kesatuan Kesaksian tentang Gereja

Bila kesaksian para penulis ini dibandingkan, tampak bahwa gereja dilukiskan melalui gambaran yang beragam namun saling melengkapi. Gereja adalah satu tubuh dengan Kristus sebagai Kepala, terdiri atas banyak anggota yang saling bergantung dan saling merasakan penderitaan maupun sukacita. Gereja adalah bait dan bangunan rohani, tempat Allah berdiam oleh Roh-Nya. Gereja adalah keluarga dan rumah tangga Allah, tempat orang percaya dari latar belakang yang berbeda menjadi kawan sewarga dan anggota keluarga yang sama. Gereja adalah umat yang berziarah menuju Yerusalem sorgawi, dan imamat yang kudus yang dipanggil mempersembahkan ibadah kepada Allah.

Ringkasan teks kunci
Gereja sebagai satu tubuh dengan Kristus sebagai Kepala
Rm. 12:4–5; 1 Kor. 12:12–27; Ef. 1:22–23; 4:15–16; Kol. 1:18
Gereja sebagai bait/bangunan Allah
1 Kor. 3:9, 16–17; Ef. 2:19–22; 1 Pet. 2:5
Gereja sebagai keluarga/rumah tangga Allah
Ef. 2:19; 1 Tim. 3:15
Gereja sebagai mempelai Kristus
Ef. 5:23–32
Gereja sebagai umat yang berziarah
Ibr. 3–4; 12:22–23
Gereja sebagai imamat am orang percaya
1 Pet. 2:5, 9
Kualifikasi dan cara memimpin jemaat
1 Tim. 3:1–13; Tit. 1:5–9; 1 Pet. 5:1–4
Kesatuan yang melampaui perbedaan
Gal. 3:28
Perempuan turut berdoa dan bernubuat dalam ibadah jemaat
1 Kor. 11:4–5

Keragaman gambaran ini tidak menghasilkan pemahaman yang terpecah tentang gereja, melainkan satu kesaksian bersama: gereja adalah umat yang dipanggil Allah di dalam Kristus, disatukan oleh Roh, dan dipanggil hidup dalam kesatuan, kekudusan, dan pelayanan timbal balik sebagai tubuh Kristus di dunia.

6. Istilah Yunani Kunci

Daftar ini merangkum istilah Yunani yang paling sering menentukan penafsiran tentang hakikat dan tata kehidupan gereja dalam surat-surat.

Istilah Yunani kunci
ἐκκλησία (umum)
“Jemaat, kumpulan yang dipanggil keluar”: istilah dasar bagi gereja dalam Perjanjian Baru.
σῶμα Χριστοῦ (Rm. 12:5; 1 Kor. 12:27; Ef. 1:23)
“Tubuh Kristus”: gambaran kesatuan organik jemaat dengan Kristus sebagai Kepala.
κεφαλή (Ef. 1:22; 4:15; 5:23; Kol. 1:18)
“Kepala”: Kristus yang memerintah dan memberi hidup kepada tubuh-Nya, yaitu jemaat.
ναός, οἰκοδομή (1 Kor. 3:9, 16; Ef. 2:21)
“Bait, bangunan”: gambaran jemaat sebagai tempat kediaman Allah oleh Roh.
οἶκος θεοῦ, οἰκεῖοι (1 Tim. 3:15; Ef. 2:19)
“Rumah/keluarga Allah”: gambaran jemaat sebagai anggota keluarga Allah.
συμπολῖται (Ef. 2:19)
“Kawan sewarga”: gambaran kewargaan bersama dalam kerajaan Allah.
πλήρωμα (Ef. 1:23; 4:13)
“Kepenuhan”: jemaat sebagai kepenuhan Kristus, dan tujuan pertumbuhan jemaat menuju kepenuhan itu.
ἐπίσκοπος (1 Tim. 3:1–7; Tit. 1:7)
“Penilik jemaat”: dipakai secara sejajar dengan πρεσβύτερος dalam Perjanjian Baru.
πρεσβύτερος (1 Tim. 5:17; Tit. 1:5; Yak. 5:14; 1 Pet. 5:1)
“Penatua”: pemimpin jemaat, sebutan yang sejajar dengan ἐπίσκοπος.
διάκονος (1 Tim. 3:8–13)
“Diaken/pelayan”: jabatan pelayanan jemaat dengan kualifikasi tersendiri.
ποιμήν, ποίμνιον (1 Pet. 5:1–4; Ef. 4:11)
“Gembala, kawanan domba”: gambaran kepemimpinan jemaat yang melayani, bukan menguasai.
ἱεράτευμα (1 Pet. 2:5, 9)
“Imamat”: seluruh umat percaya dipanggil sebagai imamat yang kudus dan rajani.
αὐθεντεῖν (1 Tim. 2:12)
“Memegang/menyalahgunakan otoritas”: kata langka yang menjadi pusat perdebatan peran perempuan dalam jemaat.
λαλέω (1 Kor. 14:34–35; bdk. Yoh. 4:27)
“Berbicara, bercakap-cakap”: kata kerja umum, bukan nama karunia rohani; maknanya diperdebatkan dalam larangan “berbicara” bagi perempuan.
εὐσέβεια (1 Tim. 2:2; 3:16; 4:7–8; 6:3, 5–6, 11)
“Kesalehan hidup”: salah satu kata kunci yang menyusun struktur teologi dan etika 1 Timotius secara keseluruhan.
7. Penerapan bagi Kehidupan dan Pelayanan
Pertama — Menghargai Keragaman Anggota Tubuh

1 Korintus 12:14–26 mengajarkan bahwa keragaman fungsi dan karunia dalam jemaat bukan sumber perpecahan, melainkan kekayaan yang dirancang Allah sendiri. Pelayan jemaat perlu secara aktif menumbuhkan budaya yang menghargai peran setiap anggota, termasuk mereka yang pelayanannya tidak menonjol secara publik, sebagai bagian yang sama pentingnya dari satu tubuh.

Kedua — Kepemimpinan sebagai Pelayanan, Bukan Penguasaan

1 Petrus 5:2–3 menegaskan bahwa memimpin jemaat berarti menjadi teladan, bukan menguasai dengan tangan besi (κατακυριεύοντες). Prinsip ini penting dipegang dalam pembinaan calon pelayan dan penatua, agar kepemimpinan gerejawi tidak jatuh pada pola kekuasaan duniawi, melainkan tetap mengikuti pola Gembala Agung, Kristus sendiri.

Ketiga — Menjaga Kesatuan di Tengah Perbedaan Penafsiran

Perdebatan tentang tata jabatan gereja dan peran perempuan dalam pelayanan menunjukkan bahwa penafsir yang sama-sama setia pada Kitab Suci dapat sampai pada kesimpulan berbeda. Pelayan jemaat perlu belajar membedakan pokok-pokok yang menjadi inti iman (seperti kesatuan dalam Gal. 3:28 dan keilahian Kristus) dari pokok-pokok yang memerlukan kerendahan hati dan penghormatan terhadap perbedaan pandangan yang sah di antara jemaat dan denominasi.

Keempat — Memelihara Persekutuan dan Kemurnian Iman Bersama

Ibrani 10:24–25 dan Yudas 3 sama-sama menekankan tanggung jawab bersama jemaat, bukan hanya pemimpin, untuk saling menasihati dan berjuang memelihara kemurnian iman. Program pembinaan jemaat dan Pendidikan Agama Kristen perlu secara sengaja menumbuhkan kebiasaan persekutuan yang hidup dan kepedulian aktif antaranggota, bukan sekadar kehadiran pasif dalam ibadah.

Penutup

Gereja dalam surat-surat Perjanjian Baru adalah umat Allah yang disatukan di dalam Kristus oleh Roh Kudus, dilukiskan melalui gambaran tubuh, bait, keluarga, mempelai, dan umat yang berziarah — masing-masing menyingkapkan segi yang berbeda dari satu kenyataan yang sama. Kesatuan jemaat yang melampaui perbedaan etnis, sosial, dan gender (Gal. 3:28) berjalan bersama dengan tata kehidupan yang teratur, kepemimpinan yang melayani, dan tanggung jawab bersama untuk memelihara kemurnian iman. Karya Kristus dan Roh Kudus yang telah dibahas dalam Pelajaran-Pelajaran sebelumnya menemukan wujud nyatanya dalam persekutuan gereja sebagai tubuh Kristus di dunia, yang menantikan penggenapan penuh pada kedatangan-Nya kembali — tema yang akan dibahas dalam Pelajaran Eskhatologi.

Kepustakaan

Banks, Robert J. Paul’s Idea of Community: The Early House Churches in Their Historical Setting. Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1980.

Carson, D. A. Showing the Spirit: A Theological Exposition of 1 Corinthians 12–14. Grand Rapids, MI: Baker, 1987.

Fee, Gordon D. The First Epistle to the Corinthians. New International Commentary on the New Testament. Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1987.

Grudem, Wayne. Evangelical Feminism and Biblical Truth: An Analysis of More Than 100 Disputed Questions. Sisters, OR: Multnomah, 2004.

Keener, Craig S. 1–2 Corinthians. New Cambridge Bible Commentary. Cambridge: Cambridge University Press, 2005.

———. “Learning in the Assemblies: 1 Corinthians 14:34–35.” In Discovering Biblical Equality: Complementarity without Hierarchy, edited by Ronald W. Pierce and Rebecca Merrill Groothuis. Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 2004.

———. Paul, Women, and Wives: Marriage and Women’s Ministry in the Letters of Paul. Peabody, MA: Hendrickson, 1992.

Köstenberger, Andreas J. “The Syntax of 1 Timothy 2:12: A Rejoinder to Philip B. Payne.” Journal for Biblical Manhood and Womanhood 14, no. 2 (2009): 37–45.

Lightfoot, J. B. Saint Paul’s Epistle to the Philippians. Rev. ed. London: Macmillan, 1913.

Minear, Paul S. Images of the Church in the New Testament. Philadelphia: Westminster, 1960.

Payne, Philip B. Man and Woman, One in Christ: An Exegetical and Theological Study of Paul’s Letters. Grand Rapids, MI: Zondervan, 2009.

Towner, Philip H. The Goal of Our Instruction: The Structure of Theology and Ethics in the Pastoral Epistles. Journal for the Study of the New Testament Supplement Series 34. Sheffield: JSOT Press, 1989.

Witherington, Ben, III. Conflict and Community in Corinth: A Socio-Rhetorical Commentary on 1 and 2 Corinthians. Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1995.

Bahan Kuliah Teologi Perjanjian Baru 2 (DTh-137.206) · Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

tpb2-4a

Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Pertanyaan Pendalaman dan Studi Kasus Teologis

Ekklesiologi: Hakikat, Kesatuan, dan Tata Kehidupan Jemaat
Teologi Perjanjian Baru 2 (DTh-137.206)
Pdt. D. Horatius Herman, M.Th.
Petunjuk: ketuk judul setiap bagian untuk membuka atau menutup uraiannya. Bahan ini disusun berdasarkan pos Pertemuan 4 tentang hakikat dan tata kehidupan jemaat.
A. Pertanyaan Pemahaman Teks dan Tata Bahasa (1–8)
Pertanyaan 1

Jelaskan mengapa bentuk εἷς (“satu”, maskulin tunggal) dalam Gal. 3:28 penting untuk memahami bahwa kesatuan “di dalam Kristus Yesus” bukan sekadar kesetaraan status, melainkan kesatuan identitas yang melampaui pembedaan Yahudi–Yunani, hamba–merdeka, dan laki-laki–perempuan.

Pertanyaan 2

Uraikan bagaimana gambaran tubuh dalam Rm. 12:4–5 dan 1 Kor. 12:12–27 menyeimbangkan dua kebenaran yang tampak berlawanan: kesatuan (“satu tubuh”) dan keragaman (“banyak anggota, tugas yang tidak sama”).

Pertanyaan 3

Jelaskan makna dua kata majemuk συμπάσχει dan συγχαίρει dalam 1 Kor. 12:26, dan bagaimana kedua kata ini menegaskan solidaritas organik antaranggota jemaat.

Pertanyaan 4

Uraikan makna kata πλήρωμα dalam Ef. 1:23, dan jelaskan mengapa penyebutan jemaat sebagai “kepenuhan” Kristus merupakan pernyataan yang sangat tinggi tentang hubungan Kristus dengan gereja-Nya.

Pertanyaan 5

Jelaskan dua gambaran yang digabungkan dalam Ef. 2:19–22 (kewargaan dan keluarga, lalu bangunan), dan bagaimana istilah ἀκρογωνιαῖος (“batu penjuru”) menjelaskan peran Kristus dalam gambaran bangunan itu.

Pertanyaan 6

Bandingkan struktur tata bahasa Tit. 1:5–7, yang beralih dari sebutan πρεσβύτεροι ke ἐπίσκοπος dengan kata penghubung γάρ (“sebab”). Jelaskan mengapa struktur ini menjadi dasar argumen bahwa kedua istilah menunjuk pada jabatan yang sama.

Pertanyaan 7

Jelaskan makna gambaran λίθοι ζῶντες (“batu-batu hidup”) dalam 1 Pet. 2:5, dan bagaimana gambaran ini berbeda dari gambaran bait sebagai bangunan mati semata.

Pertanyaan 8

Uraikan makna tiga kata yang dipasangkan secara kontras dalam 1 Pet. 5:2–3: ἀναγκαστῶς/ἑκουσίως, αἰσχροκερδῶς/προθύμως, dan κατακυριεύοντες/τύποι γινόμενοι. Jelaskan bagaimana ketiga pasangan ini bersama-sama merumuskan cara memimpin jemaat yang benar.

B. Pertanyaan Diskusi Antarpakar (9–12)
Pertanyaan 9

Jelaskan pendekatan metodologis Paul Minear terhadap sembilan puluh enam gambaran gereja dalam Perjanjian Baru. Mengapa ia menolak anggapan bahwa satu gambaran (misalnya “tubuh Kristus”) dapat merangkum seluruh kekayaan kesaksian Perjanjian Baru tentang gereja?

Pertanyaan 10

Uraikan bagaimana penelitian Robert Banks tentang latar sosial rumah tangga (house churches) jemaat mula-mula menjelaskan mengapa gambaran keluarga dan tubuh menjadi dua gambaran yang paling dominan dalam surat-surat Paulus.

Pertanyaan 11

Jelaskan mengapa pengakuan J. B. Lightfoot bahwa “penilik jemaat” dan “penatua” adalah sebutan bagi jabatan yang sama menjadi bukti yang kuat, mengingat Lightfoot sendiri adalah pendukung tata gereja episkopal yang secara pribadi diuntungkan bila kedua jabatan itu berbeda.

Pertanyaan 12

Bandingkan argumen Wayne Grudem dan Philip Payne tentang makna kata αὐθεντεῖν dalam 1 Tim. 2:12. Jelaskan bagaimana tanggapan Andreas Köstenberger terhadap Payne berkisar pada fungsi kata penghubung οὐδέ dalam ayat itu.

C. Pertanyaan Sintesis Antarsurat (13–16)
Pertanyaan 13

Telusuri bagaimana gambaran bait/bangunan Allah muncul dalam 1 Kor. 3:9, 16; Ef. 2:19–22; dan 1 Pet. 2:5. Jelaskan bagaimana ketiga teks itu bersama-sama menegaskan bahwa jemaat sebagai kesatuan, bukan hanya sebagai kumpulan individu, adalah tempat kediaman Allah.

Pertanyaan 14

Bandingkan daftar kualifikasi kepemimpinan jemaat dalam 1 Tim. 3:1–13 dan Tit. 1:5–9 dengan nasihat tentang cara memimpin dalam 1 Pet. 5:1–4. Jelaskan bagaimana ketiga teks itu bersama-sama menunjukkan bahwa kualifikasi karakter dan cara memimpin sama pentingnya dengan kompetensi mengajar.

Pertanyaan 15

Uraikan bagaimana gambaran imamat am orang percaya (1 Pet. 2:5, 9) berhubungan dengan gambaran tubuh dengan banyak anggota (1 Kor. 12) dalam hal tanggung jawab bersama seluruh jemaat, bukan hanya para pemimpinnya.

Pertanyaan 16

Bandingkan Ibr. 10:24–25 tentang tidak meninggalkan pertemuan ibadah dan Yud. 3 tentang berjuang bagi kemurnian iman. Jelaskan bagaimana kedua teks itu menunjukkan bahwa pemeliharaan jemaat adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas pemimpin.

D. Pertanyaan Refleksi dan Penerapan (17–20)
Pertanyaan 17

Jelaskan bagaimana gambaran gereja sebagai satu tubuh dengan banyak anggota (1 Kor. 12:14–26) dapat menjadi dasar teologis bagi jemaat untuk menghargai pelayanan yang tidak menonjol secara publik sama seperti pelayanan yang tampak mencolok.

Pertanyaan 18

Uraikan bagaimana nasihat 1 Pet. 5:2–3 tentang memimpin bukan dengan κατακυριεύοντες (menguasai) melainkan menjadi τύποι (teladan) dapat menjadi bahan evaluasi diri bagi calon pelayan dan penatua jemaat.

Pertanyaan 19

Rancanglah bagaimana Anda akan mendampingi jemaat yang berbeda pandangan tentang peran perempuan dalam pelayanan, dengan tetap menjaga kesatuan jemaat dan menghormati kesungguhan penafsiran kedua belah pihak.

Pertanyaan 20

Jelaskan bagaimana Ibr. 10:24–25 dapat menjadi dasar untuk merancang program yang mendorong jemaat, khususnya generasi muda, agar tidak meninggalkan kebiasaan berkumpul dan saling menasihati di tengah tantangan gaya hidup digital masa kini.

Studi Kasus Teologis (1–5)
Studi Kasus 1
Konflik Denominasi tentang Jabatan Gereja

Dua gereja dalam satu wilayah pelayanan berselisih paham tentang struktur kepemimpinan: satu pihak meyakini bahwa “penilik jemaat” adalah jabatan yang lebih tinggi daripada “penatua”, sementara pihak lain meyakini keduanya adalah sebutan bagi jabatan yang sama. Perselisihan ini mulai menghambat kerja sama pelayanan lintas gereja.

Tugas diskusi:

  • Gunakan Tit. 1:5–7 dan kesaksian J. B. Lightfoot untuk menjelaskan bagaimana Perjanjian Baru sendiri memakai kedua istilah itu secara bergantian bagi jabatan yang sama.
  • Diskusikan bagaimana perbedaan tata gereja yang berkembang setelah zaman Perjanjian Baru (episkopal, presbiterial, kongregasional) dapat dipahami sebagai perkembangan historis, bukan semata perbedaan penafsiran benar-salah terhadap Alkitab.
  • Rumuskan bagaimana Anda akan memfasilitasi kerja sama pelayanan lintas gereja meskipun kedua pihak tetap mempertahankan struktur kepemimpinan masing-masing.
Studi Kasus 2
Anggota Jemaat yang Merasa Pelayanannya Tidak Berarti

Seorang anggota jemaat yang bertugas membersihkan gedung gereja setiap minggu merasa pelayanannya tidak dihargai dan tidak sepenting pelayanan mereka yang berkhotbah atau memimpin pujian. Ia mempertimbangkan untuk berhenti melayani sama sekali.

Tugas diskusi:

  • Gunakan 1 Kor. 12:14–26, khususnya prinsip συμπάσχει/συγχαίρει (ay. 26), untuk menjelaskan bahwa setiap anggota tubuh Kristus, apa pun fungsinya, sama-sama penting dan dirancang Allah sendiri (ay. 18).
  • Diskusikan bagaimana gambaran tubuh ini dapat menjadi dasar teologis untuk membangun budaya penghargaan terhadap semua bentuk pelayanan dalam jemaat, bukan hanya yang tampak di depan umum.
  • Rancanglah langkah pastoral konkret untuk menguatkan dan menghargai anggota jemaat ini secara nyata, bukan hanya melalui nasihat lisan.
Studi Kasus 3
Calon Penatua yang Cakap tetapi Berwatak Keras

Sebuah jemaat mempertimbangkan seseorang yang sangat cakap secara teologis dan administratif untuk menjadi penatua, tetapi orang tersebut dikenal berwatak keras, sering meremehkan pendapat orang lain, dan cenderung memaksakan keputusan tanpa banyak mendengarkan.

Tugas diskusi:

  • Gunakan daftar kualifikasi dalam 1 Tim. 3:1–7 dan Tit. 1:5–9 untuk menjelaskan bahwa karakter, bukan hanya kecakapan, adalah syarat utama kepemimpinan jemaat.
  • Gunakan 1 Pet. 5:2–3 untuk menjelaskan mengapa watak yang cenderung κατακυριεύοντες (menguasai) bertentangan dengan panggilan menjadi τύποι (teladan) bagi kawanan domba.
  • Rumuskan bagaimana majelis jemaat sebaiknya menangani situasi ini — baik jika keputusannya menunda pengangkatan tersebut, maupun jika keputusannya memberi pembinaan lebih dahulu.
Studi Kasus 4
Perdebatan tentang Perempuan Mengajar dalam Jemaat

Sebuah jemaat mengalami perdebatan hangat setelah seorang perempuan yang berpendidikan teologi diusulkan untuk mengajar kelas Alkitab campuran (laki-laki dan perempuan dewasa). Sebagian jemaat mengutip 1 Tim. 2:12 untuk menolak usulan itu, sementara sebagian lain berpendapat larangan itu bersifat khusus untuk konteks Efesus pada masa itu.

Tugas diskusi:

  • Jelaskan secara berimbang argumen Wayne Grudem (komplementarian) dan Philip Payne (egaliter) tentang makna αὐθεντεῖν dalam 1 Tim. 2:12, tanpa memihak secara sepihak dalam penjelasan awal.
  • Diskusikan bagaimana Gal. 3:28 (kesatuan yang melampaui perbedaan gender) perlu dibaca bersama 1 Tim. 2:11–15 agar tidak saling mengabaikan salah satu teks.
  • Rumuskan bagaimana majelis jemaat dapat mengambil keputusan yang konsisten dengan keyakinan teologis jemaat tersebut, sambil tetap memperlakukan pihak yang berbeda pandangan dengan hormat.
Studi Kasus 5
Jemaat yang Mulai Jarang Berkumpul

Sejak beberapa anggota mulai lebih memilih mengikuti ibadah secara daring dari rumah tanpa alasan mendesak, kehadiran fisik dalam ibadah dan persekutuan kelompok kecil jemaat menurun drastis, dan hubungan antaranggota jemaat mulai merenggang.

Tugas diskusi:

  • Gunakan Ibr. 10:24–25 untuk menjelaskan pentingnya pertemuan fisik bagi jemaat, termasuk fungsi saling menasihati yang sulit digantikan sepenuhnya oleh kehadiran daring.
  • Diskusikan bagaimana gambaran tubuh dengan banyak anggota yang saling bergantung (1 Kor. 12:26) relevan untuk menjelaskan mengapa ketidakhadiran satu anggota memengaruhi keseluruhan jemaat, bukan hanya diri sendiri.
  • Rancanglah sebuah pendekatan pastoral yang bijaksana untuk mendorong kembali kehadiran fisik jemaat, dengan tetap mempertimbangkan alasan-alasan sah yang mungkin dimiliki sebagian anggota untuk mengikuti ibadah secara daring.
Bahan Kuliah Teologi Perjanjian Baru 2 (DTh-137.206) · Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

tpb2-3a

Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Pertanyaan Pendalaman dan Studi Kasus Teologis

Pneumatologi: Pribadi dan Karya Roh Kudus
Teologi Perjanjian Baru 2 (DTh-137.206)
Pdt. D. Horatius Herman, M.Th.

Kembali ke Bahan Ajar

Petunjuk: ketuk judul setiap bagian untuk membuka atau menutup uraiannya. Bahan ini disusun berdasarkan pos Pertemuan 3 tentang pribadi dan karya Roh Kudus.
A. Pertanyaan Pemahaman Teks dan Tata Bahasa (1–8)
Pertanyaan 1

Dalam Gal. 4:6, Roh disebut τὸ πνεῦμα τοῦ υἱοῦ αὐτοῦ (“Roh Anak-Nya”) yang berseru “Abba, ya Bapa” di dalam hati orang percaya. Jelaskan mengapa penyebutan ini penting bagi hubungan antara karya Roh dan karya Kristus, dan apa makna kata κρᾶζον (“berseru”) bagi pemahaman Roh sebagai pribadi yang aktif, bukan kekuatan pasif.

Pertanyaan 2

Jelaskan mengapa kata καρπός (“buah”, tunggal) dalam Gal. 5:22–23 penting secara tata bahasa, dan bagaimana hal ini berbeda dari anggapan bahwa kesembilan sifat dalam daftar itu adalah karunia-karunia terpisah yang dapat dipilih sebagian.

Pertanyaan 3

Uraikan makna kata majemuk συμμαρτυρεῖ (Rm. 8:16) dan ὑπερεντυγχάνει (Rm. 8:26). Jelaskan bagaimana kedua kata ini menggambarkan Roh sebagai pribadi yang aktif bersaksi dan berdoa syafaat, bukan sekadar kekuatan yang mendiami orang percaya.

Pertanyaan 4

Jelaskan makna ἀπαρχὴ τοῦ πνεύματος (Rm. 8:23) sebagai gambaran pertanian, dan bagaimana gambaran ini berkaitan dengan pola “sudah, tetapi belum” dalam karya Roh menurut penekanan Gordon Fee.

Pertanyaan 5

Bandingkan makna χάρισμα dalam 1 Kor. 12:4–7 dengan prinsip πρὸς τὸ συμφέρον (“untuk kepentingan bersama”) dalam ay. 7. Jelaskan mengapa prinsip ini menjadi ukuran penting bagi setiap penggunaan karunia rohani dalam jemaat.

Pertanyaan 6

Jelaskan makna gambaran ἀρραβών (“uang muka, jaminan”) dalam 2 Kor. 1:22; 5:5; dan Ef. 1:14, dan bagaimana istilah dagang ini menjelaskan hubungan antara kehadiran Roh pada masa kini dan penggenapan keselamatan penuh pada masa depan.

Pertanyaan 7

Uraikan dua kemungkinan pembacaan Yak. 4:5 — apakah τὸ πνεῦμα menunjuk pada roh manusia atau pada Roh Kudus. Jelaskan bagaimana masing-masing pembacaan memengaruhi makna keseluruhan ayat ini.

Pertanyaan 8

Jelaskan makna kata φερόμενοι (2 Pet. 1:21, “digerakkan/dibawa”) sebagai gambaran bagi karya Roh dalam menghasilkan nubuat dan Kitab Suci. Mengapa gambaran ini penting bagi pemahaman tentang asal-usul ilahi Alkitab?

B. Pertanyaan Diskusi Antarpakar (9–12)
Pertanyaan 9

Jelaskan tesis James Dunn bahwa penerimaan Roh Kudus adalah “pengalaman yang menentukan dan menjadi puncak dalam peristiwa pertobatan-inisiasi”, dan bagaimana 1 Kor. 12:13 (“dalam satu Roh kita semua … telah dibaptis menjadi satu tubuh”) dapat dipakai untuk mendukung pandangan itu.

Pertanyaan 10

Uraikan perbedaan penekanan antara pandangan Dunn tentang penerimaan Roh yang satu tahap dan pandangan Pentakostal klasik tentang “baptisan dalam Roh Kudus” sebagai pengalaman kedua. Sebutkan sekurang-kurangnya satu teks dari bahan Pertemuan 3 yang relevan bagi masing-masing posisi.

Pertanyaan 11

Jelaskan penekanan Gordon Fee bahwa Roh bagi Paulus adalah kenyataan yang “dialami” (experienced) dan berdimensi “eskatologis”. Terapkan penekanan ini pada penafsiran Rm. 8:23 tentang “buah sulung Roh”.

Pertanyaan 12

Bandingkan posisi D. A. Carson dalam Showing the Spirit dengan posisi B. B. Warfield dalam Counterfeit Miracles mengenai kelanjutan karunia-karunia ajaib. Jelaskan mengapa Carson menempatkan kasih (1 Kor. 13) sebagai ukuran yang melampaui perdebatan continuationism–cessationism itu sendiri.

C. Pertanyaan Sintesis Antarsurat (13–16)
Pertanyaan 13

Telusuri bagaimana gambaran “meterai” (Ef. 1:13), “jaminan” (2 Kor. 1:22; 5:5; Ef. 1:14), dan “buah sulung” (Rm. 8:23) bersama-sama menegaskan bahwa kehadiran Roh pada masa kini adalah jaminan bagi penggenapan keselamatan penuh yang akan datang.

Pertanyaan 14

Bandingkan peringatan “jangan mendukakan Roh” (Ef. 4:30), “jangan padamkan Roh” (1 Tes. 5:19), dan peringatan keras dalam Ibr. 6:4–6 dan 10:29 tentang mereka yang telah “mendapat bagian dalam Roh Kudus”. Jelaskan bagaimana ketiga teks itu bersama-sama menegaskan bahwa Roh Kudus adalah pribadi yang dapat diperlakukan dengan hormat atau dengan penghinaan.

Pertanyaan 15

Uraikan bagaimana 1 Kor. 12:4–13 dan Ef. 4:3–4 masing-masing menghubungkan karunia dan kesatuan Roh dengan kesatuan tubuh Kristus. Mengapa keragaman karunia tidak boleh menjadi alasan bagi perpecahan jemaat menurut kedua teks ini?

Pertanyaan 16

Bandingkan cara Paulus (Rm. 8:9), Petrus (1 Pet. 1:11), dan Yudas (Yud. 19) masing-masing menyebut hubungan antara Roh Kudus dan Kristus, dan antara kehadiran atau ketiadaan Roh dengan status kerohanian seseorang.

D. Pertanyaan Refleksi dan Penerapan (17–20)
Pertanyaan 17

Jelaskan bagaimana Anda akan menjelaskan kepada jemaat awam kesaksian Roh (Rm. 8:16) sebagai dasar kepastian keselamatan, tanpa membuat kepastian itu semata bergantung pada pengalaman emosional yang berubah-ubah.

Pertanyaan 18

Uraikan bagaimana penekanan pada “buah Roh” (Gal. 5:22–23) sebagai satu buah yang utuh dapat menjadi koreksi bagi jemaat yang cenderung menilai kerohanian seseorang semata dari karunia-karunia yang tampak mencolok.

Pertanyaan 19

Rancanglah sebuah penjelasan pastoral tentang bagaimana menyeimbangkan semangat menghargai karunia Roh (1 Tes. 5:19–21) dengan kewaspadaan terhadap penyalahgunaan klaim rohani dalam jemaat.

Pertanyaan 20

Jelaskan bagaimana pengajaran tentang Roh sebagai “jaminan warisan” (Ef. 1:14) dapat menjadi penghiburan pastoral bagi jemaat yang sedang menghadapi penderitaan atau ketidakpastian hidup, dengan merujuk juga pada 1 Pet. 4:14 tentang “Roh kemuliaan” yang ada pada mereka yang dinista karena Kristus.

Studi Kasus Teologis (1–5)
Studi Kasus 1
Perdebatan tentang “Baptisan Roh Kudus”

Dalam sebuah persekutuan antargereja, muncul perdebatan antara jemaat yang meyakini bahwa “baptisan dalam Roh Kudus” adalah pengalaman kedua yang menyusul pertobatan, ditandai dengan karunia bahasa lidah, dan jemaat lain yang meyakini bahwa Roh Kudus diterima sepenuhnya pada saat seseorang percaya kepada Kristus.

Tugas diskusi:

  • Gunakan Gal. 3:2–5 dan 1 Kor. 12:13 untuk menjelaskan argumen bahwa penerimaan Roh terjadi pada saat percaya, bukan sebagai pengalaman lanjutan.
  • Jelaskan tesis James Dunn tentang penerimaan Roh sebagai unsur pusat pertobatan-inisiasi, dan bagaimana pandangan itu berbeda dari pandangan Pentakostal klasik.
  • Rumuskan bagaimana Anda akan memandu diskusi ini agar kedua kelompok tetap saling menghormati tanpa mengorbankan kejujuran terhadap perbedaan penafsiran yang ada.
Studi Kasus 2
Karunia Rohani yang Menimbulkan Kesombongan

Seorang anggota jemaat yang memiliki karunia bernubuat mulai bersikap merendahkan anggota jemaat lain yang menurutnya “kurang rohani” karena tidak memiliki karunia yang sama. Sikapnya mulai menimbulkan perpecahan dalam kelompok sel.

Tugas diskusi:

  • Gunakan 1 Kor. 12:7 (πρὸς τὸ συμφέρον) dan pasal 13 tentang kasih sebagai “jalan yang lebih utama” untuk menjelaskan tujuan sejati karunia rohani.
  • Jelaskan bagaimana buah Roh (Gal. 5:22–23), khususnya kelemahlembutan (πραΰτης), seharusnya menyertai penggunaan karunia apa pun.
  • Rancanglah langkah pastoral konkret untuk menegur sikap ini tanpa meniadakan karunia yang sungguh diberikan Allah kepada orang tersebut.
Studi Kasus 3
Jemaat yang Takut Berdoa karena Merasa “Tidak Tahu Berdoa dengan Benar”

Seorang jemaat baru merasa minder dan enggan berdoa di depan umum karena merasa doanya tidak cukup fasih atau rohani dibandingkan anggota jemaat lain yang sudah lama percaya.

Tugas diskusi:

  • Gunakan Rm. 8:26 (“Roh membantu kita dalam kelemahan kita … Roh sendiri berdoa untuk kita dengan keluhan yang tidak terucapkan”) untuk menjelaskan bahwa Roh menolong justru dalam kelemahan doa manusia.
  • Diskusikan bagaimana Rm. 8:34 (Kristus juga menjadi pengantara) dapat memperkuat penghiburan ini, sehingga jemaat tidak semata bergantung pada kefasihan kata-kata sendiri.
  • Rumuskan bagaimana Anda akan mendampingi jemaat ini agar bertumbuh dalam kehidupan doa tanpa rasa minder.
Studi Kasus 4
Menafsirkan Penderitaan sebagai Tanda Ditinggalkan Roh

Seorang jemaat yang mengalami penganiayaan sosial karena imannya mulai berpikir bahwa penderitaan itu adalah tanda bahwa Allah dan Roh-Nya telah meninggalkannya, sebab menurutnya orang yang benar-benar penuh Roh seharusnya hidup dalam damai dan tidak mengalami kesulitan.

Tugas diskusi:

  • Gunakan 1 Pet. 4:14 (“jika kamu dinista karena nama Kristus, berbahagialah kamu, sebab Roh kemuliaan … ada padamu”) untuk membalikkan anggapan ini.
  • Jelaskan bagaimana konteks penganiayaan yang dihadapi pembaca asli 1 Petrus memberi latar bagi penghiburan ini, dan bagaimana hal itu relevan bagi konteks jemaat masa kini yang menghadapi tekanan sosial.
  • Diskusikan bagaimana Anda akan menyampaikan penghiburan ini tanpa meremehkan rasa sakit yang sungguh dialami jemaat tersebut.
Studi Kasus 5
Menilai Klaim “Roh Berkata Kepada Saya”

Seorang anggota majelis membuat keputusan penting bagi jemaat dengan alasan “Roh telah berkata” kepadanya secara pribadi, tanpa membuka ruang diskusi atau pengujian bersama, sehingga menimbulkan keresahan di antara majelis lain.

Tugas diskusi:

  • Gunakan 1 Tes. 5:19–21 (“jangan padamkan Roh, jangan anggap rendah nubuat, tetapi ujilah segala sesuatu”) untuk merumuskan prinsip pengujian klaim rohani semacam ini.
  • Jelaskan bagaimana prinsip πρὸς τὸ συμφέρον (1 Kor. 12:7) dan kesatuan tubuh (Ef. 4:3–4) relevan bagi cara keputusan semacam ini seharusnya diambil dalam kepemimpinan jemaat.
  • Rancanglah sebuah mekanisme sederhana bagi majelis untuk menguji dan mempertimbangkan klaim tuntunan rohani secara sehat dan bertanggung jawab bersama.
Bahan Kuliah Teologi Perjanjian Baru 2 (DTh-137.206) · Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

tpb2-03

Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Teologi Perjanjian Baru II

Pribadi dan Karya Roh Kudus dalam Hidup Orang Percaya
Surat-surat Paulus, Ibrani, Yakobus, Petrus, dan Yudas
Teologi Perjanjian Baru 2 (DTh-137.206)
Pdt. D. Horatius Herman, M.Th.

Soal-soal Pendalaman dan Esai

Petunjuk: ketuk judul setiap bagian untuk membuka atau menutup uraiannya. Ketuk angka kecil di atas kata untuk melihat catatan kaki di dasar bagian itu.
Pendahuluan

Pertemuan 1 dan 2 menelusuri siapa Kristus dan apa yang Ia kerjakan bagi keselamatan manusia. Pertemuan ini melanjutkan penelusuran itu dengan menanyakan siapa Roh Kudus dan bagaimana karya-Nya membuat karya Kristus itu nyata dan berbuah dalam hidup jemaat. Pertanyaan pokoknya ialah bagaimana surat-surat Perjanjian Baru bersaksi tentang pribadi dan karya Roh Kudus, dan bagaimana kesaksian itu membentuk kehidupan dan pelayanan jemaat mula-mula.

Pneumatologi (dari πνεῦμα, “roh, angin, napas”) dalam surat-surat Perjanjian Baru tidak disajikan sebagai risalah sistematis tentang pribadi ketiga Tritunggal, melainkan tersebar dalam pembicaraan tentang pengalaman jemaat: bagaimana mereka menerima Roh, bagaimana Roh mengubah dan memampukan mereka, dan bagaimana karunia-karunia Roh dijalankan dalam ibadah bersama. Karena itu Pelajaran ini membatasi diri pada dua pokok, yaitu pribadi dan karya Roh Kudus dalam hidup orang percaya secara pribadi, serta karunia dan buah Roh dalam kehidupan jemaat sebagai tubuh Kristus.

Dua pokok Pelajaran ini
Pribadi dan Karya Roh Kudus dalam Hidup Orang Percaya
Roh yang memberi hidup baru, berdiam di dalam orang percaya, menjadi jaminan warisan, dan menolong dalam doa.
Karunia dan Buah Roh dalam Kehidupan Jemaat
Karunia-karunia rohani yang membangun tubuh Kristus, kesatuan jemaat oleh satu Roh, dan buah Roh yang membentuk watak orang percaya.

Setiap pokok ditelusuri melalui tiga kelompok surat: Galatia, Roma, dan Korintus, tempat pengajaran Paulus tentang Roh paling luas dikembangkan; Efesus, surat-surat penjara, Tesalonika, dan surat-surat penggembalaan, tempat karya Roh dikaitkan dengan kesatuan jemaat dan kehidupan yang saleh; serta Ibrani, Yakobus, Petrus, dan Yudas, tempat kesaksian tentang Roh lebih jarang tetapi tetap penting bagi pemahaman menyeluruh tentang Roh Kudus dalam Perjanjian Baru.

1. Latar Diskusi Para Pakar

Diskusi modern tentang pneumatologi Perjanjian Baru banyak berkisar pada dua pertanyaan: bagaimana dan kapan orang percaya menerima Roh Kudus, dan bagaimana karunia-karunia Roh yang tampak ajaib pada zaman para rasul berhubungan dengan kehidupan jemaat pada masa kini.

James Dunn, dalam kajiannya yang menjadi rujukan klasik, berargumen bahwa penerimaan Roh Kudus adalah unsur pusat dalam peristiwa pertobatan-inisiasi seseorang menjadi Kristen, bukan pengalaman kedua yang terpisah dan menyusul kemudian. Menurutnya, bagi para penulis Perjanjian Baru penerimaan Roh itu merupakan:

Kutipan Pakar

“the decisive and climactic experience in conversion-initiation”1

Terjemahan bebas: pengalaman yang menentukan dan menjadi puncak dalam peristiwa pertobatan-inisiasi.

— James D. G. Dunn, Baptism in the Holy Spirit

Pandangan Dunn ini menantang pemahaman Pentakostal klasik yang membedakan “baptisan dalam Roh Kudus” sebagai pengalaman kedua, terpisah dari dan menyusul pertobatan, biasanya ditandai dengan karunia bahasa lidah.

Gordon Fee, dalam kajian menyeluruh atas seluruh teks tentang Roh dalam surat-surat Paulus, menekankan bahwa Roh bagi Paulus bukan gagasan abstrak, melainkan kenyataan yang dialami secara nyata dan berdimensi eskatologis: kehadiran Allah sendiri yang memampukan jemaat untuk hidup sebagai umat zaman baru sebelum kegenapan zaman itu tiba sepenuhnya.2

Max Turner memelihara kesimpulan satu tahap yang sama seperti Dunn tentang penerimaan Roh pada saat pertobatan, tetapi memberi perhatian lebih besar pada pertanyaan tentang kelanjutan karunia-karunia Roh pada masa kini. Ia menelaah makna χάρισμα secara khusus dan menunjukkan bahwa istilah itu tidak boleh dibatasi hanya pada daftar-daftar karunia yang disebut eksplisit dalam surat-surat Paulus.3

Dalam perdebatan tentang kelanjutan karunia-karunia yang tampak ajaib (nubuat, bahasa lidah, penyembuhan), dua posisi utama sering dipertentangkan: continuationism (karunia-karunia itu berlanjut hingga kini) dan cessationism (karunia-karunia itu berhenti bersama berakhirnya zaman para rasul). D. A. Carson menempuh jalan yang berhati-hati, menolak kedua ekstrem sambil menegaskan bahwa kasih tetap menjadi jalan yang lebih utama daripada karunia mana pun:

Kutipan Pakar

“beyond all the χάρισματα (charismata), there remains a more excellent way”4

Terjemahan bebas: di balik semua karunia (charismata), tetap ada jalan yang lebih utama.

— D. A. Carson, Showing the Spirit, 63

B. B. Warfield merumuskan posisi cessationist klasik pada awal abad kedua puluh: karunia-karunia ajaib, menurutnya, menyertai penyataan (revelation) sebagai peneguhannya, dan karena penyataan telah mencapai kegenapannya di dalam Kristus dan para rasul, karunia-karunia itu pun berhenti bersama berakhirnya zaman kerasulan.5

Peta posisi para pakar
James D. G. Dunn
Penerimaan Roh adalah unsur pusat dan satu tahap dalam peristiwa pertobatan-inisiasi, bukan pengalaman kedua yang terpisah.
Gordon D. Fee
Roh adalah kehadiran Allah yang dialami secara nyata dan berdimensi eskatologis dalam hidup jemaat.
Max Turner
Mendukung penerimaan Roh satu tahap, dengan penelaahan luas atas makna χάρισμα bagi pertanyaan kelanjutan karunia pada masa kini.
D. A. Carson
Jalan tengah yang berhati-hati dalam perdebatan continuationism–cessationism, dengan kasih sebagai ukuran tertinggi.
B. B. Warfield
Karunia-karunia ajaib menyertai penyataan dan berhenti bersama berakhirnya zaman para rasul.

Pelajaran ini membaca teks-teks Paulus dan surat-surat umum dengan memperhatikan kedua pertanyaan itu, tanpa berusaha menuntaskan perdebatan continuationism–cessationism, sebab perdebatan itu bergantung juga pada pembacaan Kisah Para Rasul yang berada di luar korpus Pertemuan ini.

Catatan Kaki

1. James D. G. Dunn, Baptism in the Holy Spirit: A Re-Examination of the New Testament Teaching on the Gift of the Spirit in Relation to Pentecostalism Today (London: SCM, 1970). ↩

2. Gordon D. Fee, God’s Empowering Presence: The Holy Spirit in the Letters of Paul (Peabody, MA: Hendrickson, 1994). ↩

3. Max Turner, The Holy Spirit and Spiritual Gifts: Then and Now (Carlisle: Paternoster, 1996), 262–67. ↩

4. D. A. Carson, Showing the Spirit: A Theological Exposition of 1 Corinthians 12–14 (Grand Rapids, MI: Baker, 1987), 63. ↩

5. Benjamin B. Warfield, Counterfeit Miracles (New York: Charles Scribner’s Sons, 1918), 1–32. ↩

2. Galatia, Roma, dan Korintus: Hidup Baru, Buah, dan Karunia

Roh sebagai Pemberi Hidup Baru, Buah, dan Karunia dalam Galatia, Roma, dan Korintus

Galatia: Menerima Roh oleh Iman dan Buah Roh

Galatia 3:2–5 menjadi titik tolak Paulus dalam berdebat dengan jemaat Galatia: mereka menerima Roh bukan karena melakukan hukum Taurat, melainkan karena mendengar dengan iman (ἐξ ἀκοῆς πίστεως). Pertanyaan retoris itu — “Bodohkah kamu, setelah memulai dengan Roh, sekarang mau mengakhiri dengan daging?” (Gal. 3:3) — menegaskan bahwa penerimaan Roh adalah tanda dan bukti hidup baru dalam Kristus, bukan hasil ketaatan pada Taurat.

Teks Kunci — Gal. 4:6

Ὅτι δέ ἐστε υἱοί, ἐξαπέστειλεν ὁ θεὸς τὸ πνεῦμα τοῦ υἱοῦ αὐτοῦ εἰς τὰς καρδίας ἡμῶν, κρᾶζον· Ἀββᾶ ὁ πατήρ.

“Dan karena kamu adalah anak, Allah telah mengutus Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: Abba, ya Bapa!” (terjemahan bebas)

Ayat ini penting bagi kedua pokok Pelajaran: Roh disebut “Roh Anak-Nya” (τὸ πνεῦμα τοῦ υἱοῦ αὐτοῦ), menghubungkan karya Roh langsung dengan karya Kristus, dan Roh itu sendiri yang “berseru” (κρᾶζον) “Abba, ya Bapa” di dalam hati orang percaya — seruan Aram yang sama yang diucapkan Yesus sendiri (Mrk. 14:36). Dengan demikian Roh tidak hanya diberikan sebagai hadiah, tetapi aktif bersaksi tentang status orang percaya sebagai anak Allah.

Bagian penutup Galatia (5:16–25) meletakkan pertentangan antara hidup “menurut Roh” (πνεύματι) dan hidup “menurut daging” (σαρκί) sebagai kerangka etika Kristen. Daftar “perbuatan daging” (5:19–21) dan “buah Roh” (5:22–23) berdiri berdampingan:

Teks Kunci — Gal. 5:22–23

ὁ δὲ καρπὸς τοῦ πνεύματός ἐστιν ἀγάπη, χαρά, εἰρήνη, μακροθυμία, χρηστότης, ἀγαθωσύνη, πίστις, πραΰτης, ἐγκράτεια· κατὰ τῶν τοιούτων οὐκ ἔστιν νόμος.

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri; tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” (terjemahan bebas)

Kata καρπός (“buah”, tunggal, bukan jamak) penting secara tata bahasa: kesembilan sifat itu bukan sembilan buah yang terpisah untuk dipilih sebagian, melainkan satu buah tunggal yang utuh, hasil karya Roh yang sama dalam hidup orang percaya. Ayat 25 menyimpulkan dengan ungkapan Εἰ ζῶμεν πνεύματι, πνεύματι καὶ στοιχῶμεν (“jika kita hidup oleh Roh, baiklah kita juga dipimpin oleh Roh”), menempatkan hidup oleh Roh sebagai dasar sekaligus arah bagi perilaku sehari-hari jemaat.

Roma 8: Roh yang Berdiam, Bersaksi, dan Menolong Doa
Teks Kunci — Rm. 8:9

εἴπερ πνεῦμα θεοῦ οἰκεῖ ἐν ὑμῖν. εἰ δέ τις πνεῦμα Χριστοῦ οὐκ ἔχει, οὗτος οὐκ ἔστιν αὐτοῦ.

“jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika seseorang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik-Nya.” (terjemahan bebas)

Roma 8 adalah bagian yang paling luas membahas karya Roh dalam surat-surat Paulus. Ayat 9 menyejajarkan “Roh Allah” (πνεῦμα θεοῦ) dan “Roh Kristus” (πνεῦμα Χριστοῦ) sebagai sebutan bagi pribadi yang sama, dan menegaskan bahwa memiliki Roh itu adalah tanda kepemilikan oleh Kristus — tidak seorang pun dapat disebut milik Kristus tanpa Roh-Nya berdiam di dalam dirinya.

Ayat 14–16 melanjutkan tema pengangkatan sebagai anak (υἱοθεσία, bdk. Gal. 4:5): mereka yang dipimpin oleh Roh Allah adalah anak-anak Allah, dan Roh itu sendiri “bersaksi bersama-sama dengan roh kita bahwa kita adalah anak-anak Allah” (τὸ πνεῦμα συμμαρτυρεῖ τῷ πνεύματι ἡμῶν, ay. 16). Kata majemuk συμμαρτυρεῖ (“bersaksi bersama”) menunjukkan dua kesaksian yang berjalan berdampingan: kesaksian batin orang percaya dan kesaksian Roh Allah sendiri.

Teks Kunci — Rm. 8:23

οὐ μόνον δέ, ἀλλὰ καὶ αὐτοὶ τὴν ἀπαρχὴν τοῦ πνεύματος ἔχοντες, ἡμεῖς καὶ αὐτοὶ ἐν ἑαυτοῖς στενάζομεν υἱοθεσίαν ἀπεκδεχόμενοι, τὴν ἀπολύτρωσιν τοῦ σώματος ἡμῶν.

“Dan bukan hanya itu saja, tetapi kita, yang memiliki buah sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita.” (terjemahan bebas)

Ungkapan ἀπαρχὴ τοῦ πνεύματος (“buah sulung Roh”) menyatakan bahwa kehadiran Roh pada masa kini adalah jaminan pertama dari panen penuh yang akan datang, yaitu penebusan tubuh pada kebangkitan. Roh yang sudah diterima sekarang menjadi dasar pengharapan bagi apa yang belum sepenuhnya digenapi — pola “sudah, tetapi belum” yang ditekankan Fee sebagai dimensi eskatologis karya Roh.6

Teks Kunci — Rm. 8:26

ὡσαύτως δὲ καὶ τὸ πνεῦμα συναντιλαμβάνεται τῇ ἀσθενείᾳ ἡμῶν· τὸ γὰρ τί προσευξώμεθα καθὸ δεῖ οὐκ οἴδαμεν, ἀλλὰ αὐτὸ τὸ πνεῦμα ὑπερεντυγχάνει στεναγμοῖς ἀλαλήτοις.

“Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu bagaimana seharusnya berdoa, tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.” (terjemahan bebas)

Kata majemuk ὑπερεντυγχάνει (“berdoa syafaat untuk”) menggambarkan Roh sebagai pribadi yang aktif menolong kelemahan doa orang percaya, bukan sekadar kekuatan yang pasif. Bersama Rm. 8:34, yang menyebut Kristus juga “menjadi pengantara” (ἐντυγχάνει) bagi kita, ayat ini menunjukkan bahwa doa syafaat bagi orang percaya dikerjakan baik oleh Kristus maupun oleh Roh.

1 dan 2 Korintus: Karunia, Kesatuan, dan Jaminan
Teks Kunci — 1 Kor. 2:10

ἡμῖν δὲ ἀπεκάλυψεν ὁ θεὸς διὰ τοῦ πνεύματος· τὸ γὰρ πνεῦμα πάντα ἐραυνᾷ, καὶ τὰ βάθη τοῦ θεοῦ.

“tetapi kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah.” (terjemahan bebas)

Dalam 1 Kor. 2:10–14 Paulus menjelaskan bahwa hikmat Allah yang tersembunyi dinyatakan oleh Roh, sebab hanya Roh Allah yang mengenal hal-hal Allah, sebagaimana roh manusia mengenal apa yang ada dalam diri manusia (ay. 11). Karena itu orang yang “tidak rohani” (ψυχικός, harfiah “manusia jiwani”) tidak dapat menerima hal-hal Roh Allah, sebab hal-hal itu hanya dapat dinilai secara rohani (πνευματικῶς ἀνακρίνεται, ay. 14).

Pasal 12–14 adalah pembahasan paling luas tentang karunia-karunia Roh dalam Perjanjian Baru. 1 Kor. 12:4–6 menempatkan keragaman karunia (χαρίσματα), pelayanan (διακονίαι), dan kegiatan (ἐνεργήματα) dalam kerangka Trinitaris: Roh yang sama, Tuhan yang sama, Allah yang sama.

Teks Kunci — 1 Kor. 12:7

ἑκάστῳ δὲ δίδοται ἡ φανέρωσις τοῦ πνεύματος πρὸς τὸ συμφέρον.

“Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama.” (terjemahan bebas)

Prinsip πρὸς τὸ συμφέρον (“untuk kepentingan bersama”) menjadi ukuran bagi setiap karunia yang disebutkan dalam daftar ay. 8–10: karunia diberikan bukan untuk kemuliaan pribadi, melainkan untuk membangun jemaat. Ayat 13 menyimpulkan kesatuan itu:

Teks Kunci — 1 Kor. 12:13

καὶ γὰρ ἐν ἑνὶ πνεύματι ἡμεῖς πάντες εἰς ἓν σῶμα ἐβαπτίσθημεν, εἴτε Ἰουδαῖοι εἴτε Ἕλληνες εἴτε δοῦλοι εἴτε ἐλεύθεροι, καὶ πάντες ἓν πνεῦμα ἐποτίσθημεν.

“Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi maupun orang Yunani, baik budak maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh, dan kita semua diberi minum dari satu Roh.” (terjemahan bebas)

Ayat ini penting bagi diskusi Dunn tentang “baptisan dalam Roh”: frasa ἐν ἑνὶ πνεύματι … ἐβαπτίσθημεν menempatkan tindakan Roh yang menyatukan orang percaya ke dalam satu tubuh Kristus sebagai peristiwa yang dialami bersama seluruh jemaat Korintus, tanpa pembedaan antara mereka yang “sudah” dan “belum” menerima pengalaman itu — sejalan dengan tesis Dunn bahwa penerimaan Roh adalah unsur bersama dalam pertobatan-inisiasi, bukan pengalaman lanjutan bagi sebagian orang percaya saja.7

Pasal 13, di antara pasal 12 dan 14, menempatkan kasih sebagai “jalan yang lebih utama” (ὁδὸν … καθ᾽ ὑπερβολήν, 12:31) daripada karunia mana pun, sebuah penekanan yang menjadi dasar bagi kesimpulan Carson bahwa segala karunia harus tunduk pada kasih.8

Dalam 2 Kor. 1:22 dan 5:5, Roh disebut ἀρραβών (“uang muka, jaminan”) — istilah dari dunia perdagangan yang menunjukkan pembayaran awal yang menjamin pelunasan penuh di kemudian hari. Dalam 2 Kor. 3:17–18, Paulus menyatakan ὁ δὲ κύριος τὸ πνεῦμά ἐστιν (“Tuhan adalah Roh itu”) dan menggambarkan orang percaya yang “diubah dari kemuliaan kepada kemuliaan” (μεταμορφούμεθα ἀπὸ δόξης εἰς δόξαν) oleh Roh Tuhan — sebuah proses pengudusan progresif yang dikerjakan Roh sepanjang hidup orang percaya.

Pola yang tampak

Dari rangkaian surat ini tampak satu pola: Roh Kudus diterima melalui iman, bukan melalui ketaatan pada Taurat; Roh itu menjadi bukti dan jaminan status sebagai anak Allah; Roh membentuk watak orang percaya melalui buah yang utuh; dan Roh memampukan jemaat melalui karunia-karunia yang beragam namun bertujuan sama, yaitu membangun tubuh Kristus dalam kasih.

Catatan Kaki

6. Fee, God’s Empowering Presence. ↩

7. Dunn, Baptism in the Holy Spirit. ↩

8. Carson, Showing the Spirit, 63. ↩

3. Efesus, Surat-surat Penjara, Tesalonika, dan Surat-surat Penggembalaan

Roh Kudus sebagai Meterai, Kesatuan, dan Sumber Kesetiaan dalam Efesus, Surat-surat Penjara, Tesalonika, dan Surat-surat Penggembalaan

Efesus: Meterai, Kesatuan, dan Kepenuhan Roh
Teks Kunci — Ef. 1:13–14

ἐν ᾧ καὶ ὑμεῖς ἀκούσαντες τὸν λόγον τῆς ἀληθείας, τὸ εὐαγγέλιον τῆς σωτηρίας ὑμῶν, ἐν ᾧ καὶ πιστεύσαντες ἐσφραγίσθητε τῷ πνεύματι τῆς ἐπαγγελίας τῷ ἁγίῳ, ὅ ἐστιν ἀρραβὼν τῆς κληρονομίας ἡμῶν.

“Di dalam Dia kamu juga — setelah kamu mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu — di dalam Dia kamu juga, setelah kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus yang dijanjikan itu, yang menjadi jaminan warisan kita.” (terjemahan bebas)

Kata ἐσφραγίσθητε (“dimeteraikan”) memakai gambaran meterai resmi yang menandai kepemilikan dan keaslian suatu dokumen atau barang; Roh Kudus menjadi meterai Allah atas orang percaya, sekaligus ἀρραβών (“jaminan”) atas warisan penuh yang akan diterima. Efesus 4:3–4 memakai gambaran kesatuan: jemaat dipanggil memelihara “kesatuan Roh” (τὴν ἑνότητα τοῦ πνεύματος) dalam ikatan damai sejahtera, sebab hanya ada “satu tubuh dan satu Roh” (ἓν σῶμα καὶ ἓν πνεῦμα).

Dua nasihat etis menandai bagian akhir surat ini: “janganlah mendukakan Roh Kudus Allah” (μὴ λυπεῖτε τὸ πνεῦμα τὸ ἅγιον τοῦ θεοῦ, Ef. 4:30), yang mengandaikan Roh sebagai pribadi yang dapat merasa duka, bukan sekadar kuasa yang netral; dan perintah “penuhlah dengan Roh” (πληροῦσθε ἐν πνεύματι, Ef. 5:18), berbentuk present imperative pasif, menunjukkan tindakan yang berkelanjutan dan berulang, bukan pengalaman sekali untuk selamanya.

Filipi, Kolose, dan Tesalonika

Filipi 1:19 menyebut “pertolongan Roh Yesus Kristus” (ἐπιχορηγίας τοῦ πνεύματος Ἰησοῦ Χριστοῦ) sebagai sumber pengharapan Paulus di tengah pemenjaraan. Kolose 1:8 menyebut kasih jemaat Kolose yang “di dalam Roh” (ἐν πνεύματι), menghubungkan kasih persaudaraan dengan karya Roh.

Teks Kunci — 1 Tes. 5:19–20

τὸ πνεῦμα μὴ σβέννυτε, προφητείας μὴ ἐξουθενεῖτε.

“Janganlah padamkan Roh, janganlah anggap rendah nubuat-nubuat.” (terjemahan bebas)

Perintah μὴ σβέννυτε (“jangan padamkan”) memakai gambaran api yang dapat dipadamkan bila diabaikan atau dihalangi. Dipasangkan dengan larangan meremehkan nubuat, ayat ini dari salah satu surat Paulus yang paling awal memperlihatkan bahwa karunia-karunia Roh, termasuk nubuat, sudah menjadi bagian hidup jemaat sejak masa yang sangat dini, sekaligus rentan diabaikan atau disalahgunakan sehingga perlu diuji (1 Tes. 5:21).

Surat-surat Penggembalaan
Teks Kunci — 1 Tim. 4:1

Τὸ δὲ πνεῦμα ῥητῶς λέγει ὅτι ἐν ὑστέροις καιροῖς ἀποστήσονταί τινες τῆς πίστεως.

“Roh dengan tegas mengatakan bahwa pada zaman akhir, beberapa orang akan murtad dari iman.” (terjemahan bebas)

Ayat ini menempatkan Roh sebagai sumber penyataan kenabian yang terus berbicara kepada jemaat melalui firman yang diwariskan. Titus 3:5 — yang telah disinggung dalam Pelajaran Soteriologi — menyebut “pembaruan oleh Roh Kudus” (ἀνακαίνωσις πνεύματος ἁγίου) sebagai bagian dari karya kelahiran baru yang dikerjakan Allah, bukan oleh perbuatan manusia. Dalam 2 Tim. 1:14, Timotius dinasihati untuk memelihara “harta yang indah, yang telah dipercayakan” kepadanya, “oleh Roh Kudus yang diam di dalam kita” (διὰ πνεύματος ἁγίου τοῦ ἐνοικοῦντος ἐν ἡμῖν) — menegaskan bahwa kesetiaan menjaga ajaran yang benar bersandar pada pertolongan Roh yang berdiam di dalam orang percaya, bukan semata usaha manusia.

4. Ibrani, Yakobus, Petrus, dan Yudas

Kesaksian tentang Roh Kudus dalam Ibrani, Yakobus, Petrus, dan Yudas

Ibrani
Teks Kunci — Ibr. 6:4

ἀδύνατον γὰρ τοὺς ἅπαξ φωτισθέντας, γευσαμένους τε τῆς δωρεᾶς τῆς ἐπουρανίου καὶ μετόχους γενηθέντας πνεύματος ἁγίου

“Sebab tidak mungkin mereka yang pernah diterangi, yang telah mengecap karunia sorgawi, dan yang mendapat bagian dalam Roh Kudus …” (terjemahan bebas)

Ibrani 6:4–6 adalah salah satu bagian peringatan yang paling keras dalam Perjanjian Baru, dan frasa μετόχους γενηθέντας πνεύματος ἁγίου (“mendapat bagian dalam Roh Kudus”) menegaskan bahwa mereka yang dibicarakan penulis pernah sungguh-sungguh mengalami karya Roh, sehingga peringatan itu ditujukan kepada orang-orang yang telah menerima anugerah besar, bukan kepada orang luar yang belum pernah mendengar Injil.

Ibr. 9:14 menyatakan bahwa Kristus mempersembahkan diri-Nya kepada Allah “oleh Roh yang kekal” (διὰ πνεύματος αἰωνίου), menghubungkan karya Roh dengan pengorbanan Kristus sendiri di kayu salib. Ibr. 10:29 memperingatkan bahaya “menghina Roh kasih karunia” (τὸ πνεῦμα τῆς χάριτος ἐνυβρίσας) bagi mereka yang secara sengaja menolak kebenaran yang telah mereka terima.

Yakobus 4:5 — Sebuah Teks yang Sulit

Yakobus 4:5 adalah salah satu ayat paling sulit dalam Perjanjian Baru untuk ditafsirkan, sebab tampaknya mengutip suatu nas yang tidak ditemukan persis dalam Perjanjian Lama, dan strukturnya memungkinkan lebih dari satu pembacaan.

Teks Kunci — Yak. 4:5

πρὸς φθόνον ἐπιποθεῖ τὸ πνεῦμα ὃ κατῴκισεν ἐν ἡμῖν;

“Roh yang telah ditempatkan-Nya di dalam kita, merindukannya dengan cemburu (atau: rentan pada iri hati)?” (terjemahan bebas)

Ada dua pembacaan utama. Pertama, τὸ πνεῦμα menunjuk pada roh manusia yang cenderung pada iri hati (πρὸς φθόνον menjadi keterangan tentang kecenderungan negatif roh manusia). Kedua, τὸ πνεῦμα menunjuk pada Roh Kudus yang “merindukan dengan cemburu” (ἐπιποθεῖ, dalam pengertian positif seperti kecemburuan Allah akan kesetiaan umat-Nya, bdk. Kel. 20:5) agar orang percaya setia kepada-Nya dan tidak berbagi kasih dengan dunia. Ambiguitas tata bahasa ini membuat ayat ini jarang dipakai sebagai dasar utama bagi pengajaran pneumatologi, tetapi tetap penting dicatat sebagai satu-satunya kemungkinan penyebutan Roh Kudus secara eksplisit dalam surat Yakobus.

Petrus
Teks Kunci — 1 Pet. 1:2

κατὰ πρόγνωσιν θεοῦ πατρός, ἐν ἁγιασμῷ πνεύματος, εἰς ὑπακοὴν καὶ ῥαντισμὸν αἵματος Ἰησοῦ Χριστοῦ

“menurut rencana Allah Bapa yang telah ditentukan-Nya semula, dalam pengudusan Roh, untuk taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya.” (terjemahan bebas)

Ayat pembuka 1 Petrus ini merangkum karya ketiga pribadi Allah dalam keselamatan: rencana Bapa, pengudusan Roh (ἁγιασμὸς πνεύματος), dan penebusan oleh darah Kristus. Petrus juga menyebut bahwa “Roh Kristus” telah berkarya dalam diri para nabi Perjanjian Lama, menyelidiki dan menyatakan sebelumnya penderitaan dan kemuliaan Kristus yang akan datang (1 Pet. 1:11–12).

Teks Kunci — 1 Pet. 4:14

εἰ ὀνειδίζεσθε ἐν ὀνόματι Χριστοῦ, μακάριοι, ὅτι τὸ τῆς δόξης καὶ τὸ τοῦ θεοῦ πνεῦμα ἐφ᾽ ὑμᾶς ἀναπαύεται.

“Jika kamu dinista karena nama Kristus, berbahagialah kamu, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah, ada padamu.” (terjemahan bebas)

Dalam konteks penganiayaan yang dihadapi para pembaca surat ini, Petrus menghubungkan pengalaman dinista karena Kristus dengan kehadiran “Roh kemuliaan” (τὸ τῆς δόξης πνεῦμα) yang tinggal atas mereka — penghiburan yang menyatakan bahwa penderitaan bagi Kristus disertai kehadiran Roh yang nyata, bukan ditinggalkan sendirian.

Dalam 2 Petrus, penulis menegaskan asal-usul ilahi Kitab Suci: “tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus, orang-orang berbicara atas nama Allah” (φερόμενοι ὑπὸ πνεύματος ἁγίου, 2 Pet. 1:21). Kata φερόμενοι (“dibawa, digerakkan”) menggambarkan gerak Roh yang membawa para penulis Kitab Suci seperti angin membawa sebuah kapal.

Yudas
Teks Kunci — Yud. 19–20

οὗτοί εἰσιν οἱ ἀποδιορίζοντες, ψυχικοί, πνεῦμα μὴ ἔχοντες. ὑμεῖς δέ, ἀγαπητοί, ἐποικοδομοῦντες ἑαυτοὺς τῇ ἁγιωτάτῃ ὑμῶν πίστει, ἐν πνεύματι ἁγίῳ προσευχόμενοι

“Mereka inilah yang menimbulkan perpecahan, manusia duniawi, yang tidak memiliki Roh. Tetapi kamu, saudara-saudara terkasih, bangunlah dirimu di atas dasar imanmu yang paling suci, berdoalah dalam Roh Kudus.” (terjemahan bebas)

Kontras yang tajam ditarik antara para pengajar sesat, yang disebut ψυχικοί (“manusia jiwani/duniawi”, kata yang sama dipakai Paulus dalam 1 Kor. 2:14) dan πνεῦμα μὴ ἔχοντες (“tidak memiliki Roh”), dengan jemaat yang setia, yang dinasihati membangun diri di atas iman dan “berdoa dalam Roh Kudus” (ἐν πνεύματι ἁγίῳ προσευχόμενοι). Ayat ini menyejajarkan ketiadaan Roh dengan perpecahan dan kesesatan, dan kehadiran Roh dengan doa yang membangun serta memelihara kesatuan iman.

5. Kesatuan Kesaksian tentang Roh Kudus

Bila kesaksian para penulis ini dibandingkan, tampak bahwa Roh Kudus secara konsisten dikaitkan dengan permulaan, pemeliharaan, dan penggenapan hidup orang percaya. Roh diterima pada permulaan iman melalui pemberitaan Injil yang didengar dan dipercayai, bukan melalui perbuatan hukum Taurat. Roh berdiam dalam diri orang percaya sebagai bukti kepemilikan oleh Kristus, bersaksi tentang status sebagai anak Allah, dan menjadi jaminan bagi penggenapan penuh keselamatan pada masa depan. Roh membentuk watak orang percaya melalui buah yang utuh dan memampukan jemaat melalui karunia-karunia yang beragam, semuanya diarahkan untuk membangun tubuh Kristus dalam kasih dan kesatuan.

Ringkasan teks kunci
Penerimaan Roh oleh iman, bukan oleh Taurat
Gal. 3:2–5; 4:6
Roh sebagai bukti dan kesaksian status anak Allah
Rm. 8:9, 14–16; Gal. 4:6
Roh sebagai jaminan/meterai keselamatan penuh
Rm. 8:23; 2 Kor. 1:22; 5:5; Ef. 1:13–14
Roh yang menolong dalam kelemahan dan doa
Rm. 8:26–27; Yud. 20
Buah Roh sebagai watak yang utuh
Gal. 5:22–25
Karunia Roh untuk membangun jemaat dalam kesatuan
1 Kor. 12:4–13; Ef. 4:3–4
Roh sebagai sumber penyataan dan Kitab Suci
1 Tim. 4:1; 1 Pet. 1:11–12; 2 Pet. 1:21
Peringatan agar tidak mendukakan/memadamkan Roh
Ef. 4:30; 1 Tes. 5:19; Ibr. 6:4–6; 10:29

Keragaman gambaran ini — meterai, jaminan, buah sulung, api yang dapat padam, pribadi yang dapat berduka — tidak menghasilkan pemahaman yang bertentangan tentang Roh Kudus, melainkan satu kesaksian bersama: Roh Allah dan Roh Kristus yang sama, yang bekerja dari permulaan hingga penggenapan keselamatan orang percaya dan yang memampukan jemaat menjalankan panggilannya sebagai tubuh Kristus.

6. Istilah Yunani Kunci

Daftar ini merangkum istilah Yunani yang paling sering menentukan penafsiran tentang pribadi dan karya Roh Kudus dalam surat-surat.

Istilah Yunani kunci
πνεῦμα (umum)
“Roh, angin, napas”: dalam konteks yang tepat menunjuk pada Roh Kudus, Roh Allah, atau Roh Kristus.
τὸ πνεῦμα τοῦ υἱοῦ αὐτοῦ (Gal. 4:6)
“Roh Anak-Nya”: karya Roh dihubungkan langsung dengan karya dan status Kristus.
καρπὸς τοῦ πνεύματος (Gal. 5:22–23)
“Buah Roh”: satu buah yang utuh, bukan daftar pilihan yang terpisah.
συμμαρτυρεῖ (Rm. 8:16)
“Bersaksi bersama”: Roh Allah bersaksi bersama roh orang percaya tentang status sebagai anak Allah.
ἀπαρχὴ τοῦ πνεύματος (Rm. 8:23)
“Buah sulung Roh”: jaminan awal atas penggenapan keselamatan penuh yang akan datang.
ὑπερεντυγχάνει (Rm. 8:26)
“Berdoa syafaat untuk”: Roh menolong kelemahan doa orang percaya.
χάρισμα (1 Kor. 12:4)
“Karunia”: pemberian Roh yang beragam, diberikan untuk kepentingan bersama (πρὸς τὸ συμφέρον).
ἐν ἑνὶ πνεύματι … ἐβαπτίσθημεν (1 Kor. 12:13)
“Dibaptis dalam satu Roh”: tindakan Roh yang menyatukan orang percaya ke dalam satu tubuh Kristus.
ἀρραβών (2 Kor. 1:22; 5:5; Ef. 1:14)
“Uang muka, jaminan”: Roh sebagai jaminan atas warisan penuh yang akan diterima.
ἐσφραγίσθητε (Ef. 1:13)
“Dimeteraikan”: gambaran meterai kepemilikan dan keaslian yang dikenakan pada orang percaya.
μὴ λυπεῖτε (Ef. 4:30)
“Jangan mendukakan”: Roh Kudus adalah pribadi yang dapat berduka, bukan kuasa netral.
μὴ σβέννυτε (1 Tes. 5:19)
“Jangan padamkan”: gambaran api bagi karunia dan karya Roh yang dapat diabaikan.
μέτοχος πνεύματος ἁγίου (Ibr. 6:4)
“Mendapat bagian dalam Roh Kudus”: pengalaman nyata akan karya Roh.
ψυχικός (1 Kor. 2:14; Yud. 19)
“Manusia jiwani/duniawi”: orang yang tidak memiliki atau tidak menerima hal-hal Roh Allah.
φερόμενοι ὑπὸ πνεύματος ἁγίου (2 Pet. 1:21)
“Digerakkan oleh Roh Kudus”: asal-usul ilahi nubuat dan Kitab Suci.
7. Penerapan bagi Kehidupan dan Pelayanan
Pertama — Kepastian Iman melalui Kesaksian Roh

Rm. 8:16 mengajarkan bahwa Roh Allah sendiri turut bersaksi bersama roh orang percaya tentang status mereka sebagai anak Allah. Pelayan jemaat dapat memakai kebenaran ini untuk menguatkan jemaat yang bergumul dengan keraguan akan keselamatan mereka, tanpa mengandalkan pengalaman emosional semata, tetapi juga tanpa mengabaikan dimensi pengalaman batin yang sah dari kesaksian Roh itu.

Kedua — Buah Roh sebagai Ukuran Kedewasaan Rohani

Galatia 5:22–23 menempatkan buah Roh, bukan pengalaman rohani yang menonjol, sebagai ukuran utama kedewasaan orang percaya. Dalam pembinaan jemaat dan Pendidikan Agama Kristen, penekanan pada karakter yang dibentuk Roh — kasih, sukacita, damai sejahtera, dan seterusnya — perlu berjalan seimbang dengan perhatian pada karunia-karunia yang tampak lebih mencolok.

Ketiga — Karunia untuk Membangun, Bukan untuk Kemegahan Diri

1 Korintus 12:7 menegaskan bahwa setiap karunia Roh diberikan πρὸς τὸ συμφέρον, untuk kepentingan bersama. Prinsip ini penting dipegang dalam pengelolaan pelayanan jemaat, khususnya ketika perbedaan pandangan tentang karunia-karunia tertentu berpotensi memecah belah jemaat: kasih (1 Kor. 13) tetap menjadi ukuran yang lebih utama daripada karunia mana pun.

Keempat — Kepekaan terhadap Kehadiran Roh sebagai Pribadi

Peringatan agar “tidak mendukakan” (Ef. 4:30) dan “tidak memadamkan” (1 Tes. 5:19) Roh Kudus mengandaikan bahwa Roh adalah pribadi yang berelasi dengan jemaat, bukan kuasa yang netral dan pasif. Kepekaan ini dapat membentuk budaya jemaat yang terbuka terhadap tuntunan Roh dalam pengambilan keputusan, sekaligus tetap menguji segala sesuatu (1 Tes. 5:21) agar tidak jatuh pada penyalahgunaan klaim rohani.

Penutup

Roh Kudus dalam surat-surat Perjanjian Baru adalah Roh Allah dan Roh Kristus yang sama, yang diterima orang percaya melalui iman, yang berdiam di dalam mereka sebagai bukti dan jaminan keselamatan, yang membentuk watak mereka melalui buah yang utuh, dan yang memampukan jemaat melalui karunia-karunia yang beragam untuk membangun tubuh Kristus dalam kasih dan kesatuan. Karya Roh tidak berdiri sendiri, melainkan selalu terkait dengan karya Kristus yang telah dibahas dalam Pelajaran Kristologi dan Soteriologi: Roh menerapkan dan menghadirkan karya keselamatan Kristus dalam hidup orang percaya dan jemaat pada masa kini, sambil menjadi jaminan bagi penggenapan penuh yang akan datang.

Daftar Pustaka

Carson, D. A. Showing the Spirit: A Theological Exposition of 1 Corinthians 12–14. Grand Rapids, MI: Baker, 1987.

Dunn, James D. G. Baptism in the Holy Spirit: A Re-Examination of the New Testament Teaching on the Gift of the Spirit in Relation to Pentecostalism Today. London: SCM, 1970.

Fee, Gordon D. God’s Empowering Presence: The Holy Spirit in the Letters of Paul. Peabody, MA: Hendrickson, 1994.

Turner, Max. The Holy Spirit and Spiritual Gifts: Then and Now. Carlisle: Paternoster, 1996.

Warfield, Benjamin B. Counterfeit Miracles. New York: Charles Scribner’s Sons, 1918.

Bahan Kuliah Teologi Perjanjian Baru 2 (DTh-137.206) · Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

tpb2-2a

Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Pertanyaan Pendalaman dan Studi Kasus Teologis

Soteriologi: Karya Kristus dan Keselamatan Manusia
Teologi Perjanjian Baru 2 (DTh-137.206)
Pdt. D. Horatius Herman, M.Th.

Kembali ke Bahan Ajar

Petunjuk: ketuk judul setiap bagian untuk membuka atau menutup uraiannya. Bahan ini disusun berdasarkan pos Pertemuan 2 tentang karya Kristus dan keselamatan manusia.
A. Pertanyaan Pemahaman Teks dan Tata Bahasa (1–8)
Pertanyaan 1

Dalam Gal. 2:16, kata δικαιόω muncul tiga kali dan frasa πίστις Χριστοῦ juga tiga kali. Jelaskan mengapa klausa καὶ ἡμεῖς εἰς Χριστὸν Ἰησοῦν ἐπιστεύσαμεν (“kami pun percaya kepada Kristus Yesus”) dalam ayat yang sama menjadi bukti penting bahwa iman manusia tetap menjadi sarana penerimaan pembenaran, sekalipun πίστις Χριστοῦ dibaca sebagai “kesetiaan Kristus”.

Pertanyaan 2

Jelaskan tiga gambaran yang bertumpuk dalam Rm. 3:21–26 (pengadilan, pasar budak, dan ibadah) dan bagaimana masing-masing gambaran tampak dalam kata δικαιούμενοι, ἀπολύτρωσις, dan ἱλαστήριον.

Pertanyaan 3

Uraikan tiga kemungkinan makna ἱλαστήριον (propitiation, expiation, tutup pendamaian) dan jelaskan mengapa konteks Rm. 1:18–3:20 penting untuk memutuskan di antara ketiganya.

Pertanyaan 4

Dalam Rm. 4:25, Paulus menghubungkan kematian dan kebangkitan Kristus dengan pembenaran (διὰ τὴν δικαίωσιν ἡμῶν). Jelaskan mengapa kebangkitan bukan sekadar tanda kemenangan, melainkan bagian dari karya yang membenarkan.

Pertanyaan 5

Bandingkan gambaran korban dalam 2 Kor. 5:21 (“dibuat menjadi dosa”) dengan gambaran kemenangan dalam Kol. 2:14–15 (“dilucuti” dan “diarak dalam kemenangan”). Jelaskan apa yang ditekankan masing-masing gambaran tentang karya Kristus di kayu salib.

Pertanyaan 6

Jelaskan makna ἀντίλυτρον dalam 1 Tim. 2:6 sebagai kata majemuk yang menggabungkan gagasan tebusan dan pengganti. Mengapa kata ini secara ringkas merangkum dua gambaran soteriologi yang berbeda dalam satu istilah?

Pertanyaan 7

Dalam Ibr. 9:22, penulis menyatakan χωρὶς αἱματεκχυσίας οὐ γίνεται ἄφεσις (“tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan”). Jelaskan bagaimana kata ἐφάπαξ/ἅπαξ yang berulang dalam Ibrani (7:27; 9:12, 26–28; 10:10) menegaskan kecukupan korban Kristus dibandingkan korban-korban Perjanjian Lama.

Pertanyaan 8

Jelaskan mengapa David Peterson menekankan bahwa makna τελειόω (“menyempurnakan”) dalam Ibrani ditentukan oleh konteks dan objeknya, bukan oleh satu makna baku. Terapkan penjelasan itu pada perbedaan pemakaian kata itu dalam Ibr. 2:10 dan 10:14.

B. Pertanyaan Diskusi Antarpakar (9–12)
Pertanyaan 9

Jelaskan tesis Krister Stendahl tentang “hati nurani yang kokoh” (robust conscience) Paulus, dan bagaimana Flp. 3:2–11 dapat dibaca sebagai bukti pendukung sekaligus sebagai teks yang tetap menegaskan pembenaran oleh iman, bukan oleh Taurat.

Pertanyaan 10

Uraikan perbedaan antara pembacaan tradisional dan pembacaan Dunn/Wright atas frasa “perbuatan hukum Taurat” (ἔργα νόμου) dalam Gal. 2:16. Mengapa pernyataan universal πᾶσα σάρξ (“semua orang”) dalam ayat yang sama menjadi keberatan terhadap pembacaan yang membatasi ἔργα νόμου hanya pada tanda pengenal umat Yahudi?

Pertanyaan 11

Bandingkan kesimpulan C. H. Dodd dan Leon Morris tentang makna rumpun kata ἱλάσκεσθαι. Jelaskan mengapa keduanya dapat dipertemukan dalam pembacaan yang memuat baik penghapusan dosa maupun peredaan murka Allah.

Pertanyaan 12

Jelaskan tiga tipe pemahaman penebusan menurut Gustaf Aulén (klasik, Latin, subjektif), dan tunjukkan teks mana dari bahan Pertemuan 2 yang paling sesuai dengan masing-masing tipe.

C. Pertanyaan Sintesis Antarsurat (13–16)
Pertanyaan 13

Telusuri bagaimana gambaran “pendamaian” (καταλλαγή) muncul dalam Rm. 5:10–11, 2 Kor. 5:18–20, dan Ef. 2:14–16. Jelaskan bagaimana ketiga teks itu bersama-sama menunjukkan bahwa pendamaian dengan Allah menghasilkan pendamaian antarmanusia.

Pertanyaan 14

Bandingkan cara Paulus (Rm. 6:3–11), penulis Ibrani (Ibr. 10:10, 14), dan Petrus (1 Pet. 1:18–19) masing-masing menghubungkan kematian Kristus dengan perubahan status dan hidup baru orang percaya.

Pertanyaan 15

Uraikan hubungan antara Yak. 2:14–26 dan ajaran Paulus tentang pembenaran oleh iman (mis. Gal. 2:16; Rm. 3:28). Jelaskan tiga jalan yang lazim ditempuh untuk memahami hubungan kedua penulis ini, dan jelaskan mengapa Gal. 5:6 (“iman yang bekerja oleh kasih”) relevan bagi diskusi ini.

Pertanyaan 16

Bandingkan Rm. 8:30 (rangkaian dipanggil, dibenarkan, dimuliakan) dengan Ibr. 6:9–12 dan Yud. 21, 24 tentang pemeliharaan Allah dan ketekunan orang percaya. Jelaskan bagaimana kepastian karya Allah dan tanggung jawab manusia untuk bertekun dapat dipegang bersama tanpa saling meniadakan.

D. Pertanyaan Refleksi dan Penerapan (17–20)
Pertanyaan 17

Jelaskan mengapa Ef. 2:8–10 penting untuk menjaga jemaat dari dua kekeliruan sekaligus: legalisme (perbuatan sebagai syarat diterima Allah) dan antinomianisme (anugerah sebagai izin hidup sembarangan).

Pertanyaan 18

Uraikan bagaimana gambaran “pelayanan pendamaian” dalam 2 Kor. 5:18–20 dapat membentuk pemahaman jemaat tentang panggilan gereja di tengah masyarakat yang terpecah oleh konflik sosial atau keagamaan.

Pertanyaan 19

Jelaskan bagaimana Anda akan menjelaskan kepada jemaat awam perbedaan antara iman yang “mati” (Yak. 2:17, 26) dan iman yang menyelamatkan menurut Paulus, tanpa membuat jemaat merasa bahwa keselamatan mereka bergantung pada banyaknya perbuatan baik.

Pertanyaan 20

Rancanglah sebuah penjelasan sederhana tentang mengapa kematian Kristus perlu dilukiskan dengan banyak gambaran (korban, tebusan, pendamaian, kemenangan) dan bukan hanya satu gambaran saja, untuk disampaikan kepada jemaat yang berlatar belakang berbeda-beda.

Studi Kasus Teologis (1–5)
Studi Kasus 1
“Iman Saja, Tanpa Perbuatan?”

Seorang anggota jemaat muda merasa tidak perlu lagi berusaha hidup kudus atau melayani karena, menurutnya, ia “sudah diselamatkan oleh iman, bukan oleh perbuatan” (mengutip Ef. 2:8–9). Sikapnya mulai memengaruhi teman-teman sebayanya di kelompok pemuda.

Tugas diskusi:

  • Gunakan Ef. 2:10 dan Tit. 3:8 untuk menjelaskan tempat perbuatan baik yang benar dalam kerangka keselamatan oleh anugerah.
  • Diskusikan bagaimana Yak. 2:14–26 dapat menjadi peringatan yang tepat bagi sikap ini tanpa mengubah dasar keselamatan dari anugerah menjadi perbuatan.
  • Rumuskan bagaimana Anda akan membimbing pemuda ini dan kelompoknya agar memahami hubungan iman dan perbuatan secara seimbang.
Studi Kasus 2
Murka Allah dan Kasih Allah

Dalam sebuah kelas Alkitab, seorang peserta mempertanyakan bagaimana mungkin Allah yang penuh kasih (1 Yoh. 4:8) juga digambarkan sebagai Allah yang murka dan perlu “diredakan” melalui kematian Kristus (Rm. 3:25). Ia merasa gambaran murka itu membuat Allah tampak kejam.

Tugas diskusi:

  • Jelaskan perdebatan Dodd dan Morris tentang ἱλαστήριον, dan bagaimana pemahaman yang memuat baik penghapusan dosa maupun penanganan murka Allah dapat menjawab keberatan ini.
  • Gunakan Rm. 5:8 (“Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa”) untuk menjelaskan bahwa inisiatif kasih Allah sendirilah yang menyediakan jalan penyelesaian murka itu.
  • Diskusikan bagaimana menjelaskan hubungan antara kasih dan murka Allah kepada jemaat tanpa membuat salah satu sifat itu tampak meniadakan yang lain.
Studi Kasus 3
Ketakutan akan Kuasa Jahat

Seorang jemaat yang berasal dari latar belakang kepercayaan tradisional yang kuat pada kuasa roh dan ilmu hitam datang kepada gembala dengan ketakutan besar akan kutuk dan kuasa jahat yang, menurutnya, masih mengikat keluarganya meskipun ia sudah percaya kepada Kristus.

Tugas diskusi:

  • Gunakan Kol. 2:14–15 dan Ibr. 2:14–15 untuk menjelaskan bahwa Kristus telah melucuti dan mengalahkan kuasa-kuasa yang menindas manusia, termasuk kuasa maut dan ketakutan akan kuasa jahat.
  • Jelaskan tipe “klasik” (Christus Victor) menurut Aulén dan bagaimana gambaran kemenangan ini relevan secara pastoral bagi konteks budaya jemaat tersebut, dibandingkan gambaran pengadilan atau korban semata.
  • Rancanglah pendampingan pastoral singkat yang memadukan penjelasan teologis ini dengan penguatan iman praktis bagi jemaat tersebut.
Studi Kasus 4
Menolong Jemaat yang Bimbang tentang Kepastian Keselamatan

Seorang jemaat lanjut usia gelisah menjelang akhir hidupnya, khawatir bahwa dosa-dosa masa lalunya yang belum sepenuhnya “ia perbaiki” dapat menghalangi keselamatannya, meskipun ia telah lama percaya kepada Kristus.

Tugas diskusi:

  • Gunakan Rm. 8:1 (“tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus”) dan Rm. 8:30 untuk menjelaskan dasar kepastian keselamatan yang berakar pada karya dan tujuan Allah, bukan pada kesempurnaan usaha manusia.
  • Diskusikan bagaimana Ibr. 10:10, 14 (“oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya”) dapat menjadi penghiburan bagi jemaat yang merasa tidak layak.
  • Jelaskan bagaimana Anda akan menyeimbangkan penghiburan ini dengan peringatan Ibrani (6:4–8; 10:26–31) tentang pentingnya bertekun, tanpa menambah kecemasan jemaat tersebut.
Studi Kasus 5
Konflik Sosial antara Dua Kelompok Jemaat

Sebuah jemaat gabungan yang terdiri dari dua kelompok etnis berbeda mengalami ketegangan sosial yang berkepanjangan, saling curiga dan enggan melayani bersama, meskipun keduanya sama-sama mengaku percaya kepada Kristus.

Tugas diskusi:

  • Gunakan Ef. 2:14–16 (Kristus “meruntuhkan dinding pemisah” dan mendamaikan dua kelompok menjadi satu tubuh) sebagai dasar teologis untuk mendorong rekonsiliasi.
  • Jelaskan bagaimana “pelayanan pendamaian” dalam 2 Kor. 5:18–20 menempatkan gereja sebagai duta Kristus yang dipanggil mempraktikkan pendamaian, bukan hanya mengajarkannya.
  • Rancanglah langkah konkret yang dapat diambil gembala dan majelis untuk menerapkan teologi pendamaian ini dalam mempertemukan kedua kelompok tersebut.
Bahan Kuliah Teologi Perjanjian Baru 2 (DTh-137.206) · Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

TPB2-02

Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Teologi Perjanjian Baru II

Karya Kristus dan Keselamatan Manusia
Surat-surat Paulus, Ibrani, Yakobus, Petrus, dan Yudas
Teologi Perjanjian Baru 2 (DTh-137.206)
Pdt. D. Horaius Herman, M.Th.

Soal-soal Pendalaman dan Esai

Petunjuk: ketuk judul setiap bagian untuk membuka atau menutup uraiannya. Ketuk angka kecil di atas kata untuk melihat catatan kaki di dasar bagian itu.
Pendahuluan

Pertemuan 1 menjawab pertanyaan tentang siapa Kristus menurut surat-surat Perjanjian Baru: Anak Allah yang sehakikat dengan Bapa dan yang sungguh-sungguh menjadi manusia. Pertemuan ini bertolak dari jawaban itu untuk menanyakan apa yang dikerjakan-Nya bagi manusia yang berdosa, dan bagaimana karya itu sampai kepada orang yang percaya. Pertanyaan pokoknya ialah bagaimana manusia diselamatkan menurut Paulus dan para penulis surat-surat umum, dan apa dasar keselamatan itu dalam kematian dan kebangkitan Kristus.

Soteriologi (dari σωτηρία, “keselamatan”) dalam surat-surat Perjanjian Baru tidak menyajikan satu teori tunggal. Para penulis memakai banyak gambaran — pengadilan, korban, pasar budak, perdamaian, kemenangan, perjanjian, dan pengangkatan sebagai anak — yang masing-masing menerangi sisi yang berbeda dari satu karya yang sama. Karena itu Pelajaran ini membatasi diri pada dua pokok, yaitu karya Kristus, yakni apa yang terjadi dalam kematian dan kebangkitan-Nya, serta penerapan karya itu, yakni bagaimana orang berdosa dibenarkan, didamaikan, dan dipersatukan dengan Kristus melalui iman.

Dua pokok Pelajaran ini
Karya Kristus
Kematian dan kebangkitan Kristus sebagai dasar keselamatan: korban bagi dosa, penebusan, pendamaian, dan kemenangan atas kuasa dosa dan maut.
Penerapan karya Kristus
Pembenaran oleh iman, pendamaian dengan Allah, hidup di dalam Kristus, dan buah keselamatan dalam kehidupan orang percaya.

Setiap pokok ditelusuri melalui tiga kelompok surat: Galatia dan Roma, tempat pembenaran oleh iman dirumuskan paling tajam; surat-surat Korintus, surat-surat penjara, Tesalonika, dan surat-surat penggembalaan, tempat gambaran salib, pendamaian, dan kemenangan Kristus diperkaya; serta Ibrani, Yakobus, 1–2 Petrus, dan Yudas, tempat keselamatan dibahas dari sudut korban, iman yang hidup, dan pemeliharaan Allah. Dengan cara ini kesatuan sekaligus keragaman kesaksian Perjanjian Baru tentang keselamatan dapat terlihat.

1. Latar Diskusi Para Pakar

Diskusi modern tentang soteriologi Paulus banyak dipengaruhi oleh tafsir Reformasi, yang membaca surat-surat Paulus terutama sebagai jawaban atas pertanyaan bagaimana orang berdosa dibenarkan di hadapan Allah, dan yang memandang Yudaisme pada zaman Paulus sebagai agama yang mencari keselamatan melalui perbuatan. Pandangan ini dipertanyakan dalam beberapa langkah.

Pada 1963 Krister Stendahl berargumen bahwa pembacaan Barat yang berpusat pada hati nurani yang tertekan oleh dosa lebih mencerminkan pengalaman Agustinus dan Luther daripada pengalaman Paulus, yang menurutnya memiliki hati nurani yang kokoh (“robust conscience”). Ajaran tentang pembenaran oleh iman, menurut Stendahl, terutama menjawab persoalan tempat orang bukan-Yahudi di dalam umat perjanjian Allah.1

E. P. Sanders kemudian membandingkan Paulus dengan literatur Yudaisme Palestina dan menyimpulkan bahwa Yudaisme itu bukan agama pencarian jasa, melainkan “covenantal nomism”: tempat seseorang dalam rencana Allah ditetapkan atas dasar perjanjian, sedangkan ketaatan pada Taurat merupakan tanggapan yang tepat, dengan sarana pendamaian bagi pelanggaran.2 Sanders memakai istilah “pola agama” untuk cara sebuah agama memahami bagaimana orang masuk dan bagaimana ia tetap berada di dalamnya:

Kutipan Pakar

“getting in and staying in”3

Terjemahan bebas: masuk dan tetap berada.

— E. P. Sanders, Paul and Palestinian Judaism, 17–18

Bagi Paulus, kata Sanders, keselamatan terletak pada “berada di dalam Kristus”, suatu pola yang ia sebut participationist eschatology (eskatologi partisipasi).4

James Dunn, yang memperkenalkan istilah “perspektif baru tentang Paulus” dalam kuliah tahun 1982, menegaskan bahwa “perbuatan hukum Taurat” (ἔργα νόμου) terutama menunjuk pada sunat, hari Sabat, dan hukum makanan, yaitu tanda pengenal yang membedakan orang Yahudi dari bangsa lain.5 Wright melangkah lebih jauh dengan menempatkan pembenaran dalam kerangka keanggotaan umat perjanjian:

Kutipan Pakar

“how you could tell who was in”6

Terjemahan bebas: bagaimana orang dapat mengenali siapa yang termasuk.

— N. T. Wright, What Saint Paul Really Said, 119

Menurut Wright, dalam bahasa teologi baku pembenaran dengan demikian lebih bersifat eklesiologis daripada soteriologis.

Tanggapan atas pandangan Sanders datang dari berbagai arah. Dua jilid Justification and Variegated Nomism menunjukkan bahwa pendekatan terhadap Taurat dalam literatur Yudaisme Bait Allah Kedua jauh lebih beragam daripada satu rumus “covenantal nomism”, sehingga penafsir Paulus dibebaskan dari latar belakang yang terlalu sempit; para editornya menegaskan bahwa hal ini tidak berarti bahwa bacaan-bacaan “perspektif baru” otomatis keliru.7 Stephen Westerholm membela pembacaan “Lutheran” terhadap Paulus dan menjawab para pengritiknya.8

Perbedaan juga tampak dalam penerjemahan πίστις Χριστοῦ (Gal. 2:16; Rm. 3:22): “iman kepada Kristus” (genitif objektif) atau “iman/kesetiaan Kristus” (genitif subjektif). Richard Hays membela pembacaan subjektif dalam kerangka kisah tentang Kristus, dan edisi kedua bukunya memuat dialog dengan Dunn.9 Kumpulan esai yang disunting Bird dan Sprinkle merangkum perdebatan itu.10

Dalam pokok penebusan, diskusi berkisar pada makna ἱλαστήριον (Rm. 3:25) dan rumpun ἱλάσκεσθαι. C. H. Dodd berargumen bahwa kata-kata itu dalam Kitab Suci Yunani berarti “expiation”, yaitu penghapusan dosa, dan bukan “propitiation”, yaitu peredaan murka Allah.11 Leon Morris menjawab bahwa gagasan murka Allah hadir dalam banyak teks tempat kata-kata itu dipakai, sehingga unsur peredaan murka tidak dapat dibuang.1213 Gustaf Aulén, dari sudut yang lain, membedakan tiga tipe pemahaman penebusan: tipe “klasik” (Kristus sebagai pemenang atas kuasa-kuasa jahat), tipe “Latin” (kepuasan atau pengganti), dan tipe “subjektif” (pengaruh moral).14

Peta posisi para pakar
Krister Stendahl
Pembacaan Paulus yang berpusat pada hati nurani tertekan berasal dari tradisi Barat, bukan dari Paulus.
E. P. Sanders
Yudaisme adalah “covenantal nomism”; bagi Paulus keselamatan adalah berada di dalam Kristus.
James D. G. Dunn dan N. T. Wright
“Perbuatan hukum Taurat” adalah tanda pengenal umat perjanjian; pembenaran terkait erat dengan keanggotaan umat Allah.
Carson, O’Brien, Seifrid; Westerholm
Yudaisme lebih beragam daripada rumus Sanders; pembacaan tradisional terhadap Paulus tetap dibela.
Richard B. Hays
πίστις Χριστοῦ dibaca sebagai kesetiaan Kristus dalam kerangka kisah tentang-Nya.
C. H. Dodd dan Leon Morris
ἱλαστήριον berarti penghapusan dosa (Dodd) atau juga peredaan murka Allah (Morris).
Gustaf Aulén
Tiga tipe pemahaman penebusan: klasik, Latin, dan subjektif.

Pelajaran ini membaca teks-teks Paulus dengan memperhatikan kedua dimensi yang ditekankan dalam perdebatan itu: bagaimana orang berdosa dibenarkan oleh Allah atas dasar karya Kristus, dan bagaimana karya itu membuka tempat bagi bangsa-bangsa di dalam umat Allah. Kedua dimensi itu tidak perlu dipertentangkan.

Catatan Kaki

1. Krister Stendahl, “The Apostle Paul and the Introspective Conscience of the West,” Harvard Theological Review 56, no. 3 (1963): 199–215; dicetak ulang dalam Krister Stendahl, Paul among Jews and Gentiles and Other Essays (Philadelphia: Fortress, 1976), 78–96. ↩

2. E. P. Sanders, Paul and Palestinian Judaism: A Comparison of Patterns of Religion (Philadelphia: Fortress, 1977), 75. ↩

3. Ibid., 17–18. ↩

4. Ibid., 543–52. ↩

5. James D. G. Dunn, “The New Perspective on Paul,” Bulletin of the John Rylands University Library of Manchester 65, no. 2 (1983): 95–122. ↩

6. N. T. Wright, What Saint Paul Really Said: Was Paul of Tarsus the Real Founder of Christianity? (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1997), 119. ↩

7. D. A. Carson, Peter T. O’Brien, dan Mark A. Seifrid, eds., Justification and Variegated Nomism, vol. 2, The Paradoxes of Paul, Wissenschaftliche Untersuchungen zum Neuen Testament 2/181 (Tübingen: Mohr Siebeck; Grand Rapids, MI: Baker Academic, 2004), Preface. ↩

8. Stephen Westerholm, Perspectives Old and New on Paul: The “Lutheran” Paul and His Critics (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 2004). ↩

9. Richard B. Hays, The Faith of Jesus Christ: The Narrative Substructure of Galatians 3:1–4:11, 2nd ed. (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 2002). ↩

10. Michael F. Bird dan Preston M. Sprinkle, eds., The Faith of Jesus Christ: Exegetical, Biblical, and Theological Studies (Peabody, MA: Hendrickson, 2009). ↩

11. C. H. Dodd, The Bible and the Greeks (London: Hodder & Stoughton, 1935), 82–95. ↩

12. Leon Morris, “The Meaning of ἱλαστήριον in Romans III.25,” New Testament Studies 2, no. 1 (1955): 33–43. ↩

13. Leon Morris, The Apostolic Preaching of the Cross (London: Tyndale Press, 1955), 125–60. ↩

14. Gustaf Aulén, Christus Victor: An Historical Study of the Three Main Types of the Idea of the Atonement, trans. A. G. Hebert (London: SPCK, 1931). ↩

2. Galatia dan Roma: Pembenaran oleh Iman

Karya Kristus dan Pembenaran dalam Galatia dan Roma

Galatia: Pembenaran, Kutuk, dan Penebusan

Latar Galatia 2:11–21 adalah insiden di Antiokhia: Petrus mundur dari meja bersama orang bukan-Yahudi, dan Paulus menilai tindakan itu bertentangan dengan kebenaran Injil. Dalam konteks itu Paulus merumuskan Gal. 2:16, ayat yang memuat tiga kali ungkapan “oleh perbuatan hukum Taurat” dan tiga kali kata kerja δικαιόω (“membenarkan”).

Teks Kunci — Gal. 2:16

εἰδότες [δὲ] ὅτι οὐ δικαιοῦται ἄνθρωπος ἐξ ἔργων νόμου ἐὰν μὴ διὰ πίστεως Ἰησοῦ Χριστοῦ, καὶ ἡμεῖς εἰς Χριστὸν Ἰησοῦν ἐπιστεύσαμεν, ἵνα δικαιωθῶμεν ἐκ πίστεως Χριστοῦ καὶ οὐκ ἐξ ἔργων νόμου, ὅτι ἐξ ἔργων νόμου οὐ δικαιωθήσεται πᾶσα σάρξ.

“Kita tahu bahwa manusia tidak dibenarkan oleh perbuatan hukum Taurat, melainkan oleh iman kepada (atau dari) Yesus Kristus; sebab itu kami pun percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh iman kepada (atau dari) Kristus dan bukan oleh perbuatan hukum Taurat, sebab oleh perbuatan hukum Taurat tidak seorang pun akan dibenarkan.” (terjemahan bebas)

Tiga pertanyaan tafsir muncul dari ayat ini. Pertama, δικαιόω dapat dipahami sebagai pernyataan Allah yang menetapkan seseorang berada dalam hubungan yang benar dengannya (bahasa pengadilan), dan dapat juga dipahami sebagai pengakuan atas keanggotaan dalam umat perjanjian; ayat-ayat berikutnya memperlihatkan bahwa kedua aspek itu berkaitan. Kedua, “perbuatan hukum Taurat” menurut Dunn menunjuk pada tanda pengenal umat Yahudi, tetapi ayat 16 sendiri menyatakan bahwa tidak seorang pun (πᾶσα σάρξ) dibenarkan oleh ἔργα νόμου, suatu pernyataan universal yang tidak terbatas pada satu kelompok.15 Ketiga, πίστις Χριστοῦ dapat berarti “iman kepada Kristus” atau “kesetiaan Kristus”; frasa καὶ ἡμεῖς εἰς Χριστὸν Ἰησοῦν ἐπιστεύσαμεν (“kami pun percaya kepada Kristus Yesus”) dalam ayat yang sama menunjukkan bahwa iman manusia tetap merupakan sarana penerimaan pembenaran itu.16

Teks Kunci — Gal. 2:20

Χριστῷ συνεσταύρωμαι· ζῶ δὲ οὐκέτι ἐγώ, ζῇ δὲ ἐν ἐμοὶ Χριστός· ὃ δὲ νῦν ζῶ ἐν σαρκί, ἐν πίστει ζῶ τῇ τοῦ υἱοῦ τοῦ θεοῦ τοῦ ἀγαπήσαντός με καὶ παραδόντος ἑαυτὸν ὑπὲρ ἐμοῦ.

“Aku telah disalibkan bersama Kristus; namun aku hidup, bukan lagi aku, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku; dan hidup yang sekarang kuhidupi di dalam daging, kuhidupi dalam iman kepada (atau dari) Anak Allah, yang mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya bagi aku.” (terjemahan bebas)

Gal. 2:20 memperlihatkan dua sisi karya Kristus dalam satu ayat. Sisi pertama bersifat pengganti: Kristus “menyerahkan diri-Nya bagi aku” (ὑπὲρ ἐμοῦ). Sisi kedua bersifat partisipasi: Paulus “disalibkan bersama Kristus” (συνεσταύρωμαι) dan Kristus hidup di dalam dia. Pembenaran dan persatuan dengan Kristus tidak dapat dipisahkan.

Teks Kunci — Gal. 3:13

Χριστὸς ἡμᾶς ἐξηγόρασεν ἐκ τῆς κατάρας τοῦ νόμου γενόμενος ὑπὲρ ἡμῶν κατάρα, ὅτι γέγραπται· ἐπικατάρατος πᾶς ὁ κρεμάμενος ἐπὶ ξύλου

“Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: terkutuklah orang yang digantung pada kayu.” (terjemahan bebas)

Dalam Gal. 3:13 Paulus memakai kata kerja ἐξαγοράζω (“menebus”, dari ἀγορά, “pasar”), mengutip Ul. 21:23, dan menyatakan bahwa Kristus “menjadi kutuk bagi kita” (ὑπὲρ ἡμῶν). Sesudah itu Gal. 4:4–5 menyebutkan tujuan penebusan itu: supaya orang yang takluk kepada hukum Taurat ditebus dan “kita menerima pengangkatan sebagai anak” (υἱοθεσία).

Roma 1:16–3:20: Kebenaran Allah dan Dosa Universal
Teks Kunci — Rm. 1:16–17

οὐ γὰρ ἐπαισχύνομαι τὸ εὐαγγέλιον, δύναμις γὰρ θεοῦ ἐστιν εἰς σωτηρίαν παντὶ τῷ πιστεύοντι, Ἰουδαίῳ τε πρῶτον καὶ Ἕλληνι· δικαιοσύνη γὰρ θεοῦ ἐν αὐτῷ ἀποκαλύπτεται ἐκ πίστεως εἰς πίστιν, καθὼς γέγραπται· ὁ δὲ δίκαιος ἐκ πίστεως ζήσεται.

“Sebab aku tidak malu terhadap Injil, karena Injil adalah kuasa Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, dan juga orang Yunani; sebab di dalamnya dinyatakan kebenaran Allah dari iman kepada iman, seperti ada tertulis: orang benar akan hidup oleh iman.” (terjemahan bebas)

Roma 1:16–17 adalah tema surat itu. Injil disebut “kuasa Allah untuk keselamatan” (δύναμις θεοῦ εἰς σωτηρίαν), dan di dalamnya δικαιοσύνη θεοῦ dinyatakan. Ungkapan ini dapat dipahami sebagai sifat Allah sendiri (kebenaran-Nya), sebagai status yang Allah anugerahkan kepada manusia, atau sebagai tindakan Allah yang setia pada perjanjian-Nya untuk menyelamatkan. Ketiga pemahaman itu saling menerangi: Allah bertindak dengan setia (sifat dan tindakan), dan tindakan itu menghasilkan status benar bagi orang yang percaya.

Roma 1:18–3:20 kemudian menetapkan dasar bagi kebutuhan akan Injil: murka Allah dinyatakan terhadap kefasikan manusia, bangsa-bangsa dan orang Yahudi sama-sama “berada di bawah kuasa dosa” (ὑφ᾽ ἁμαρτίαν, Rm. 3:9), dan “oleh perbuatan hukum Taurat tidak seorang pun dibenarkan di hadapan Allah” (Rm. 3:20). Karena itu kebutuhan akan pembenaran bersifat universal, dan jalan keluarnya pun universal.

Roma 3:21–26: Penebusan dan ἱλαστήριον
Teks Kunci — Rm. 3:24–26

δικαιούμενοι δωρεὰν τῇ αὐτοῦ χάριτι διὰ τῆς ἀπολυτρώσεως τῆς ἐν Χριστῷ Ἰησοῦ· ὃν προέθετο ὁ θεὸς ἱλαστήριον διὰ [τῆς] πίστεως ἐν τῷ αὐτοῦ αἵματι εἰς ἔνδειξιν τῆς δικαιοσύνης αὐτοῦ … εἰς τὸ εἶναι αὐτὸν δίκαιον καὶ δικαιοῦντα τὸν ἐκ πίστεως Ἰησοῦ.

“dan mereka dibenarkan dengan cuma-cuma oleh anugerah-Nya melalui penebusan di dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah ditampilkan sebagai ἱλαστήριον melalui iman, dalam darah-Nya, untuk menunjukkan kebenaran-Nya … supaya Ia sendiri adil dan membenarkan orang yang hidup dari iman kepada (atau dari) Yesus.” (terjemahan bebas)

Roma 3:21–26 dianggap oleh banyak penafsir sebagai pusat soteriologi Paulus. Ada tiga gambaran yang bertumpuk. Gambaran pengadilan tampak pada δικαιούμενοι (“dibenarkan”) dan pada tujuan Allah menjadi δίκαιον καὶ δικαιοῦντα (“adil dan membenarkan”). Gambaran pasar budak tampak pada ἀπολύτρωσις (“penebusan”, dari λύτρον, uang tebusan). Gambaran ibadah tampak pada ἱλαστήριον, kata yang dalam Septuaginta menunjuk pada tutup tabut perjanjian tempat darah dipercikkan pada Hari Pendamaian.

Tiga pemahaman tentang ἱλαστήριον
“Propitiation” — sarana yang meredakan murka Allah terhadap dosa; Kristus menanggung murka itu menggantikan orang berdosa.
“Expiation” — sarana yang menghapus atau menutupi dosa dan kenajisannya, tanpa menyebut murka Allah.
“Tutup pendamaian” — tempat pendamaian pada Hari Pendamaian (mercy seat), sehingga Kristus adalah tempat perjumpaan Allah dan umat-Nya oleh darah-Nya.

Dodd mempertahankan bahwa arti Septuaginta adalah penghapusan dosa. Kesimpulannya tentang Rm. 3:25 berbunyi:

Kutipan Pakar

“expiation, not that of propitiation”17

Terjemahan bebas: penghapusan dosa, bukan peredaan murka.

— C. H. Dodd, The Bible and the Greeks, 94

Morris menanggapi bahwa konteks Rm. 1:18–3:20 sudah menyatakan murka Allah, sehingga penghapusan dosa dalam Rm. 3:25 tidak dapat dilepaskan dari penanganan murka itu.18 Dalam pemahaman yang paling luas, ketiga aspek itu dapat dipertahankan: Kristus adalah tempat pendamaian oleh darah-Nya, yang menghapus dosa dan menanggung murka Allah, sehingga Allah tetap adil ketika membenarkan orang yang percaya.

Roma 4–5: Abraham, Damai, dan Adam
Teks Kunci — Rm. 4:25

ὃς παρεδόθη διὰ τὰ παραπτώματα ἡμῶν καὶ ἠγέρθη διὰ τὴν δικαίωσιν ἡμῶν.

“yang diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita.” (terjemahan bebas)

Roma 4 mengajukan Abraham sebagai teladan pembenaran: “Abraham percaya kepada Allah, maka hal itu diperhitungkan (ἐλογίσθη) kepadanya sebagai kebenaran” (Rm. 4:3, mengutip Kej. 15:6). Allah “membenarkan orang fasik” (τὸν δικαιοῦντα τὸν ἀσεβῆ, Rm. 4:5), dan Abraham menerima janji sebelum ia bersunat (Rm. 4:9–12), sehingga ia menjadi bapa semua orang yang percaya, baik yang bersunat maupun yang tidak. Roma 4:25 menutup bagian ini dengan menghubungkan kematian dan kebangkitan Kristus: Kristus diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan “demi pembenaran kita” (διὰ τὴν δικαίωσιν ἡμῶν), sehingga kebangkitan bukan sekadar bukti kemenangan, tetapi bagian dari karya yang membenarkan.

Teks Kunci — Rm. 5:1

Δικαιωθέντες οὖν ἐκ πίστεως εἰρήνην ἔχομεν πρὸς τὸν θεὸν διὰ τοῦ κυρίου ἡμῶν Ἰησοῦ Χριστοῦ

“Sesudah dibenarkan oleh iman, kita mempunyai damai dengan Allah oleh Tuhan kita Yesus Kristus.” (terjemahan bebas)

Naskah-naskah memuat bacaan ἔχομεν (“kita mempunyai”) dan ἔχωμεν (“marilah kita mempunyai”) pada Rm. 5:1. Konteks ayat 1–11, yang melukiskan status yang sudah diterima orang percaya, lebih cocok dengan bentuk indikatif. Ayat 8–10 menegaskan dasar damai itu: Kristus mati bagi kita (ὑπὲρ ἡμῶν) ketika kita masih berdosa, dan ketika kita masih menjadi musuh (ἐχθροί) kita “didamaikan” (κατηλλάγημεν) dengan Allah oleh kematian Anak-Nya. Kata καταλλαγή (“pendamaian”) memakai gambaran hubungan yang dipulihkan, berbeda dari gambaran pengadilan dan ibadah dalam Rm. 3:21–26; gambaran ini kelak menjadi pusat 2 Kor. 5:18–20.

Roma 5:12–21 menyejajarkan Adam dan Kristus: satu pelanggaran membawa penghukuman (κατάκριμα) bagi semua orang, dan satu tindakan kebenaran membawa pembenaran yang memberi hidup (δικαίωσις ζωῆς). Adam dan Kristus di sini adalah kepala dari dua umat manusia.

Roma 6–8: Hidup Baru dalam Kristus dan Roh
Teks Kunci — Rm. 6:3

ἢ ἀγνοεῖτε ὅτι ὅσοι ἐβαπτίσθημεν εἰς Χριστὸν Ἰησοῦν εἰς τὸν θάνατον αὐτοῦ ἐβαπτίσθημεν;

“Atau tidak tahukah kamu bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus Yesus, telah dibaptis dalam kematian-Nya?” (terjemahan bebas)

Roma 6–8 menjawab pertanyaan yang timbul dari pembenaran oleh anugerah: apakah orang percaya boleh tetap berbuat dosa? Paulus menjawab dengan kesatuan dengan Kristus. Orang percaya dibaptis ke dalam kematian-Nya dan karena itu “hidup dalam hidup yang baru” (Rm. 6:4). Sesudah bab 7 yang membahas perjuangan di bawah Taurat, Rm. 8:1 menyatakan:

Teks Kunci — Rm. 8:1

Οὐδὲν ἄρα νῦν κατάκριμα τοῖς ἐν Χριστῷ Ἰησοῦ.

“Jadi sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.” (terjemahan bebas)

Roma 8 memperlihatkan buah keselamatan: Roh Allah menghidupkan (8:2, 11), orang percaya diangkat menjadi anak dan berseru “Abba, ya Bapa” (υἱοθεσία, 8:14–17), dan seluruh rangkaian karya Allah dari awal sampai akhir berada dalam tangan-Nya:

Teks Kunci — Rm. 8:30

οὓς δὲ προώρισεν, τούτους καὶ ἐκάλεσεν· καὶ οὓς ἐκάλεσεν, τούτους καὶ ἐδικαίωσεν· οὓς δὲ ἐδικαίωσεν, τούτους καὶ ἐδόξασεν.

“Mereka yang telah ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya; dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya; dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” (terjemahan bebas)

Semua kata kerja dalam ayat 30 berbentuk aorist, termasuk “dimuliakan” (ἐδόξασεν) yang masih akan terjadi; Paulus berbicara tentang kepastian tujuan Allah, bukan tentang urutan waktu yang telah lengkap.

Pola yang tampak

Dalam Galatia dan Roma tampak satu pola: keselamatan dimulai dari inisiatif Allah yang mengutus dan menyerahkan Anak-Nya; ia dibayar dengan penebusan, korban, dan pendamaian; ia diterima melalui iman, bukan melalui tanda pengenal umat atau perbuatan hukum Taurat; dan ia berbuah dalam hidup baru dalam Kristus dan Roh. Pembenaran oleh iman dan persatuan dengan Kristus adalah dua sisi dari satu karya.

Catatan Kaki

15. Dunn, “New Perspective on Paul,” 95–122. ↩

16. Hays, Faith of Jesus Christ. ↩

17. Dodd, Bible and the Greeks, 94. ↩

18. Morris, “Meaning of ἱλαστήριον,” 33–43. ↩

3. Korintus, Surat-surat Penjara, Tesalonika, dan Surat-surat Penggembalaan

Salib, Pendamaian, dan Kemenangan dalam Surat-surat Korintus, Surat-surat Penjara, Tesalonika, dan Surat-surat Penggembalaan

1 Korintus: Berita Salib dan Injil yang Diterima
Teks Kunci — 1 Kor. 1:18

Ὁ λόγος γὰρ ὁ τοῦ σταυροῦ τοῖς μὲν ἀπολλυμένοις μωρία ἐστίν, τοῖς δὲ σῳζομένοις ἡμῖν δύναμις θεοῦ ἐστιν.

“Sebab pemberitaan tentang salib memang kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.” (terjemahan bebas)

Bagi Paulus, ὁ λόγος τοῦ σταυροῦ (“berita salib”) adalah pusat pemberitaan (1 Kor. 1:23; 2:2). Dua kelompok dibedakan: mereka yang ἀπολλυμένοι (“sedang binasa”) dan mereka yang σῳζόμενοι (“sedang diselamatkan”); keduanya dalam bentuk present, sehingga keselamatan digambarkan sebagai proses yang sudah dimulai dan sedang berlangsung. Dalam 1 Kor. 1:30 Kristus menjadi bagi kita hikmat dari Allah, yaitu δικαιοσύνη (kebenaran), ἁγιασμός (kekudusan), dan ἀπολύτρωσις (penebusan), sehingga satu pribadi menjadi sumber tiga aspek keselamatan itu. Dalam 1 Kor. 6:20 dan 7:23 orang percaya digambarkan sebagai yang “telah dibeli dengan harga” (ἠγοράσθητε τιμῆς).

Teks Kunci — 1 Kor. 15:3–4

ὅτι Χριστὸς ἀπέθανεν ὑπὲρ τῶν ἁμαρτιῶν ἡμῶν κατὰ τὰς γραφάς, καὶ ὅτι ἐτάφη, καὶ ὅτι ἐγήγερται τῇ ἡμέρᾳ τῇ τρίτῃ κατὰ τὰς γραφάς

“bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia dikuburkan, dan bahwa Ia dibangkitkan pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci.” (terjemahan bebas)

Dalam 1 Kor. 15:3–4 Paulus mengutip Injil sebagai tradisi yang ia “terima” (παρέλαβον) dan “teruskan” (παρέδωκα): Kristus mati “karena dosa-dosa kita” (ὑπὲρ τῶν ἁμαρτιῶν ἡμῶν), dikuburkan, dan dibangkitkan (ἐγήγερται, perfect passive, yakni tetap dalam keadaan bangkit), semuanya “sesuai dengan Kitab Suci”. Ayat 17 menegaskan bahwa kebangkitan menentukan keselamatan: jika Kristus tidak dibangkitkan, iman sia-sia dan orang percaya masih dalam dosa mereka.

2 Korintus: Pendamaian dan Pertukaran
Teks Kunci — 2 Kor. 5:21

τὸν μὴ γνόντα ἁμαρτίαν ὑπὲρ ἡμῶν ἁμαρτίαν ἐποίησεν, ἵνα ἡμεῖς γενώμεθα δικαιοσύνη θεοῦ ἐν αὐτῷ.

“Ia yang tidak mengenal dosa, telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya di dalam Dia kita menjadi kebenaran Allah.” (terjemahan bebas)

Bagian 2 Kor. 5:14–21 adalah salah satu perumusan soteriologi yang paling padat. Kasih Kristus “menguasai” (συνέχει) Paulus, karena satu orang telah mati bagi semua orang, sehingga semua telah mati (5:14). Orang yang di dalam Kristus adalah ciptaan baru (καινὴ κτίσις, 5:17). Allah “mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka” (5:19), dan Ia memercayakan kepada para rasul “pelayanan pendamaian” (διακονία τῆς καταλλαγῆς, 5:18) sehingga mereka menjadi duta Kristus (πρεσβεύομεν, 5:20).

Ayat 21 memuat pertukaran: Kristus, yang tidak mengenal dosa, “dibuat menjadi dosa” (ἁμαρτίαν ἐποίησεν) karena kita, supaya kita “menjadi kebenaran Allah di dalam Dia”. Kata ἁμαρτία dalam ayat ini dapat berarti “dosa” dalam arti penanggungan dosa oleh Kristus, dan dapat juga menunjuk pada korban penghapus dosa, sebagaimana kata itu dipakai dalam Septuaginta. Kedua pemahaman menegaskan bahwa Kristus menempati tempat orang berdosa dan bahwa orang percaya menerima status benar hanya “di dalam Dia” (ἐν αὐτῷ).

Efesus dan Kolose: Kasih Karunia dan Kemenangan
Teks Kunci — Ef. 2:8–9

τῇ γὰρ χάριτί ἐστε σεσῳσμένοι διὰ πίστεως· καὶ τοῦτο οὐκ ἐξ ὑμῶν, θεοῦ τὸ δῶρον· οὐκ ἐξ ἔργων, ἵνα μή τις καυχήσηται.

“Sebab oleh kasih karunia kamu telah diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, melainkan pemberian Allah; itu bukan hasil pekerjaanmu, supaya jangan ada orang yang memegahkan diri.” (terjemahan bebas)

Efesus 2:1–10 melukiskan manusia sebagai mati dalam pelanggaran dan dosa (2:1), lalu menegaskan bahwa oleh kasih karunia kamu “telah diselamatkan” (ἐστε σεσῳσμένοι, perfect periphrastic: keselamatan yang sudah terjadi dan yang hasilnya tetap). Kasih karunia, iman, dan pemberian Allah dihadapkan dengan “bukan dari dirimu” dan “bukan dari perbuatan”. Ayat 10 menempatkan perbuatan baik pada tempat yang benar: kita adalah buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus “untuk perbuatan baik” (ἐπὶ ἔργοις ἀγαθοῖς), bukan berdasarkan perbuatan baik. Efesus 1:7 menyebut penebusan “oleh darah-Nya” (ἀπολύτρωσις διὰ τοῦ αἵματος), yaitu pengampunan pelanggaran; Ef. 2:11–22 menggambarkan bagaimana darah Kristus mendekatkan bangsa-bangsa yang jauh dan meruntuhkan dinding pemisah, sehingga dua kelompok didamaikan menjadi satu tubuh (2:16).

Kolose memperkaya gambaran itu. Allah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang dikasihi, di dalam Dia kita memiliki penebusan, yaitu pengampunan dosa (Kol. 1:13–14). Allah berkenan mendamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya melalui Kristus oleh darah salib-Nya (1:20), dan mereka yang dahulu terasing dan bermusuhan kini didamaikan dalam tubuh jasmani-Nya oleh kematian-Nya (1:21–22).

Teks Kunci — Kol. 2:14–15

ἐξαλείψας τὸ καθ᾽ ἡμῶν χειρόγραφον τοῖς δόγμασιν ὃ ἦν ὑπεναντίον ἡμῖν, καὶ αὐτὸ ἦρκεν ἐκ τοῦ μέσου προσηλώσας αὐτὸ τῷ σταυρῷ· ἀπεκδυσάμενος τὰς ἀρχὰς καὶ τὰς ἐξουσίας ἐδειγμάτισεν ἐν παρρησίᾳ, θριαμβεύσας αὐτοὺς ἐν αὐτῷ.

“Ia menghapuskan surat hutang yang mendakwa dan mengancam kita dengan segala ketentuannya; Ia menyingkirkannya dengan memakukannya pada kayu salib; Ia melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, dan mempertontonkan mereka secara terang-terangan, dan mengarak mereka dalam kemenangan di dalam Dia.” (terjemahan bebas)

Kol. 2:14–15 memakai dua gambaran sekaligus. Gambaran pertama ialah utang: χειρόγραφον (“surat hutang”) yang mendakwa kita dihapus dan dipakukan pada salib. Gambaran kedua ialah kemenangan: kuasa-kuasa yang menguasai manusia dilucuti dan diarak dalam arak-arakan kemenangan (θριαμβεύω), gambar seorang panglima yang membawa musuh yang kalah. Gambaran kedua ini yang oleh Aulén disebut tipe “klasik” dan dinamai Christus Victor.19

Filipi dan Tesalonika
Teks Kunci — Flp. 3:9

καὶ εὑρεθῶ ἐν αὐτῷ, μὴ ἔχων ἐμὴν δικαιοσύνην τὴν ἐκ νόμου ἀλλὰ τὴν διὰ πίστεως Χριστοῦ, τὴν ἐκ θεοῦ δικαιοσύνην ἐπὶ τῇ πίστει

“dan berada di dalam Dia, bukan dengan kebenaranku sendiri karena melakukan hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena iman kepada (atau dari) Kristus, yaitu kebenaran yang berasal dari Allah dan berdasarkan iman.” (terjemahan bebas)

Filipi 3:2–11 memperlihatkan pengalaman Paulus sendiri. Ia dapat menyebut dirinya “tidak bercacat” (ἄμεμπτος) dalam hal kebenaran menurut hukum Taurat (3:6). Bagian ini sering dibaca dalam perdebatan yang dimulai oleh Stendahl: Paulus tidak tampil sebagai orang yang hati nuraninya tertekan oleh kegagalan memenuhi Taurat.20 Namun Paulus tetap menilai semua keuntungan itu sebagai kerugian demi Kristus, supaya ia memiliki bukan kebenaran sendiri (ἐμὴ δικαιοσύνη) yang berasal dari hukum Taurat, melainkan kebenaran yang berasal dari Allah dan diterima melalui iman (3:9). Sesudah itu ia menyebut tujuan mengenal Kristus dan kuasa kebangkitan-Nya serta persekutuan dalam penderitaan-Nya (3:10), yaitu keselamatan sebagai persatuan yang hidup dengan Kristus.

Teks Kunci — 1 Tes. 1:10

Ἰησοῦν τὸν ῥυόμενον ἡμᾶς ἐκ τῆς ὀργῆς τῆς ἐρχομένης.

“Yesus, yang menyelamatkan kita dari murka yang akan datang.” (terjemahan bebas)

Dalam Tesalonika, keselamatan digambarkan sebagai pembebasan dari murka Allah yang akan datang (1 Tes. 1:10; 5:9). Paulus menyatakan bahwa Allah tidak menetapkan jemaat untuk murka, tetapi “untuk beroleh keselamatan” (εἰς περιποίησιν σωτηρίας) melalui Tuhan Yesus Kristus yang telah mati bagi mereka (1 Tes. 5:9–10). Gambaran ini menunjukkan bahwa dimensi masa depan dari keselamatan sudah hadir sejak surat-surat Paulus yang paling awal.

Surat-surat Penggembalaan
Teks Kunci — 1 Tim. 2:5–6

εἷς γὰρ θεός, εἷς καὶ μεσίτης θεοῦ καὶ ἀνθρώπων, ἄνθρωπος Χριστὸς Ἰησοῦς, ὁ δοὺς ἑαυτὸν ἀντίλυτρον ὑπὲρ πάντων

“Sebab Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua orang.” (terjemahan bebas)

Surat-surat penggembalaan membuka dengan rumusan yang lugas: “Kristus Yesus datang ke dalam dunia untuk menyelamatkan orang berdosa” (1 Tim. 1:15). Dalam 1 Tim. 2:6 Kristus menyerahkan diri-Nya sebagai ἀντίλυτρον, kata majemuk yang menggabungkan gagasan tebusan (λύτρον) dan pengganti (ἀντί). Dalam 2 Tim. 1:9 Allah menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, “bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri”.

Teks Kunci — Tit. 3:5

οὐκ ἐξ ἔργων τῶν ἐν δικαιοσύνῃ ἃ ἐποιήσαμεν ἡμεῖς ἀλλὰ κατὰ τὸ αὐτοῦ ἔλεος ἔσωσεν ἡμᾶς διὰ λουτροῦ παλινγενεσίας καὶ ἀνακαινώσεως πνεύματος ἁγίου

“bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya Ia telah menyelamatkan kita oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaruan Roh Kudus.” (terjemahan bebas)

Titus 2:11–14 menggabungkan kasih karunia yang menyelamatkan dan tuntutan hidup baru: kasih karunia Allah yang membawa keselamatan bagi semua manusia telah nyata, dan mendidik kita untuk meninggalkan kefasikan; Kristus “menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk menebus (λυτρώσηται) kita dari segala kejahatan dan menguduskan bagi diri-Nya suatu umat” yang rajin berbuat baik (2:14). Titus 3:4–7 menegaskan bahwa keselamatan berasal dari rahmat, bukan dari perbuatan, lalu menyebut hasilnya: kita “dibenarkan” (δικαιωθέντες) oleh kasih karunia-Nya dan menjadi ahli waris pengharapan hidup yang kekal (3:7).

Catatan Kaki

19. Aulén, Christus Victor. ↩

20. Stendahl, “Introspective Conscience,” 199–215. ↩

4. Ibrani, Yakobus, Petrus, dan Yudas

Korban, Iman yang Hidup, dan Pemeliharaan Allah dalam Ibrani, Yakobus, Petrus, dan Yudas

Ibrani: Imam, Korban, dan Perjanjian
Teks Kunci — Ibr. 2:9

ὅπως χάριτι θεοῦ ὑπὲρ παντὸς γεύσηται θανάτου

“supaya oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua orang.” (terjemahan bebas)

Ibrani menyusun soteriologinya di sekitar gagasan imam besar, korban, dan perjanjian. Dalam Ibr. 2:9–18 Anak mengalami maut bagi semua orang, menjadi ἀρχηγός (“pemimpin yang membuka jalan”) keselamatan yang “disempurnakan melalui penderitaan” (2:10), membebaskan mereka yang seumur hidup dalam perhambaan karena takut akan maut (2:15), dan menjadi imam besar yang setia “untuk mendamaikan (εἰς τὸ ἱλάσκεσθαι) dosa umat” (2:17). Kata kerja ἱλάσκεσθαι dalam ayat ini memperlihatkan bahwa perdebatan Dodd–Morris tentang rumpun kata itu juga menyangkut Ibrani.21 Peterson menunjukkan bahwa kata kerja τελειόω (“menyempurnakan”) tidak membawa makna yang tetap, melainkan ditentukan oleh konteks dan objeknya; dalam Ibr. 2:10 dan 5:9 ia menunjuk pada penyempurnaan Kristus melalui penderitaan, dan dalam 10:14 pada penyempurnaan orang percaya.

Teks Kunci — Ibr. 10:10, 14

ἐν ᾧ θελήματι ἡγιασμένοι ἐσμὲν διὰ τῆς προσφορᾶς τοῦ σώματος Ἰησοῦ Χριστοῦ ἐφάπαξ … μιᾷ γὰρ προσφορᾷ τετελείωκεν εἰς τὸ διηνεκὲς τοὺς ἁγιαζομένους.

“Oleh kehendak itu kita telah dikuduskan, satu kali untuk selama-lamanya, oleh persembahan tubuh Yesus Kristus … sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan.” (terjemahan bebas)

Bagian utama surat (Ibr. 7–10) menyatakan bahwa imamat Lewi tidak dapat menyempurnakan, sehingga diperlukan imam menurut peraturan Melkisedek, perjanjian yang lebih baik (κρείττων διαθήκη, 8:6–13), dan korban yang lebih baik. Darah Kristus menyucikan hati nurani (9:14), karena “tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan” (χωρὶς αἱματεκχυσίας οὐ γίνεται ἄφεσις, 9:22). Kata ἐφάπαξ dan ἅπαξ (“satu kali untuk selama-lamanya”, 7:27; 9:12, 26–28; 10:10) menegaskan bahwa korban itu tidak perlu diulang. Penulis juga memuat peringatan keras (6:4–8; 10:26–31) dan sekaligus penegasan bahwa ia yakin akan hal-hal yang lebih baik (6:9–12; 10:39), sehingga kepastian keselamatan dan panggilan untuk bertekun berjalan bersama.

Kata kunci soteriologi dalam Ibrani
ἐφάπαξ / ἅπαξ (7:27; 9:12, 26–28; 10:10) — “satu kali untuk selama-lamanya”: sifat korban Kristus yang tidak diulang.
τελειόω (2:10; 5:9; 7:19; 10:1, 14) — “menyempurnakan”: maknanya ditentukan oleh konteks dan objeknya.
ἁγιάζω (2:11; 10:10, 14; 13:12) — “menguduskan”: dipisahkan bagi Allah melalui korban Kristus.
διαθήκη (8:6–13; 9:15; 12:24) — “perjanjian”: perjanjian baru yang dimeteraikan dengan darah Kristus.
ἄφεσις (9:22; 10:18) — “pengampunan”: buah korban yang membuat korban lain tidak diperlukan lagi.
Yakobus: Iman dan Perbuatan
Teks Kunci — Yak. 2:14

τί τὸ ὄφελος, ἀδελφοί μου, ἐὰν πίστιν λέγῃ τις ἔχειν ἔργα δὲ μὴ ἔχῃ; μὴ δύναται ἡ πίστις σῶσαι αὐτόν;

“Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seseorang mengatakan bahwa ia mempunyai iman, tetapi ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?” (terjemahan bebas)

Yakobus 2:14–26 adalah teks yang paling sering dipertentangkan dengan Paulus. Yakobus 2:24 menyatakan bahwa manusia dibenarkan (δικαιοῦται) “karena perbuatan-perbuatan dan bukan hanya karena iman” (ἐξ ἔργων … καὶ οὐκ ἐκ πίστεως μόνον), dan Yak. 2:23 mengutip Kej. 15:6, ayat yang sama yang dipakai Paulus dalam Rm. 4:3. Dalam kata pengantarnya tahun 1522 Luther menyebut surat ini “jerami” (“epistle of straw”) dibandingkan dengan surat-surat lain dalam Perjanjian Baru.22 Ia menilai bahwa penulis hendak melindungi orang dari iman tanpa perbuatan, tetapi tidak sanggup menyelesaikan tugas itu:

Kutipan Pakar

“unequal to the task”23

Terjemahan bebas: tidak sanggup menyelesaikan tugas itu.

— Martin Luther, Kata Pengantar untuk Yakobus dan Yudas, Luther’s Works 35:397

Ada tiga jalan yang lazim ditempuh untuk memahami hubungan Yakobus dan Paulus. Pertama, kata δικαιόω dipakai dengan arti yang berbeda: Paulus berbicara tentang Allah yang menyatakan orang berdosa benar, sedangkan Yakobus tentang perbuatan yang membuktikan kebenaran iman. Kedua, kedua penulis melawan kesalahan yang berbeda: Paulus melawan anggapan bahwa tanda pengenal umat atau perbuatan hukum Taurat memberi status di hadapan Allah, sedangkan Yakobus melawan iman yang hanya berupa pengakuan dan tidak menghasilkan kasih (2:15–17, 19). Ketiga, Paulus sendiri menyebut “iman yang bekerja oleh kasih” (Gal. 5:6) dan “perbuatan baik” sebagai tujuan keselamatan (Ef. 2:10; Tit. 3:8). Dengan demikian yang dilawan Yakobus ialah iman yang “mati” (νεκρά, 2:17, 26), bukan iman yang menyelamatkan menurut Paulus.

Yakobus juga memuat kesaksian soteriologi yang positif: Allah “memperanakkan kita oleh firman kebenaran” (1:18), dan firman yang tertanam di dalam hati “berkuasa menyelamatkan jiwamu” (1:21).

Petrus
Teks Kunci — 1 Pet. 1:18–19

εἰδότες ὅτι οὐ φθαρτοῖς, ἀργυρίῳ ἢ χρυσίῳ, ἐλυτρώθητε ἐκ τῆς ματαίας ὑμῶν ἀναστροφῆς πατροπαραδότου, ἀλλὰ τιμίῳ αἵματι ὡς ἀμνοῦ ἀμώμου καὶ ἀσπίλου Χριστοῦ

“Kamu tahu bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia, yang kamu warisi dari nenek moyangmu, bukan dengan barang yang fana, yaitu perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus, yang tak bernoda dan tak bercacat sebagai anak domba.” (terjemahan bebas)

Dalam 1 Petrus penebusan dilukiskan dengan gambaran pasar dan Paskah: orang percaya “ditebus” (ἐλυτρώθητε) bukan dengan perak atau emas, tetapi dengan darah Kristus yang berharga, sebagai anak domba yang tak bercela (1:18–19). Keselamatan itu adalah warisan yang tersimpan di sorga dan dipelihara oleh kuasa Allah melalui iman (1:3–5).

Teks Kunci — 1 Pet. 2:24

ὃς τὰς ἁμαρτίας ἡμῶν αὐτὸς ἀνήνεγκεν ἐν τῷ σώματι αὐτοῦ ἐπὶ τὸ ξύλον, ἵνα ταῖς ἁμαρτίαις ἀπογενόμενοι τῇ δικαιοσύνῃ ζήσωμεν· οὗ τῷ μώλωπι ἰάθητε.

“Ia sendiri memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran; oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.” (terjemahan bebas)

Dalam 1 Pet. 2:21–25 penulis menggemakan Yes. 53 untuk melukiskan penderitaan Kristus sebagai penderitaan “bagi kamu” (ὑπὲρ ὑμῶν) yang sekaligus menjadi teladan. Kata ἀναφέρω (“memikul, mempersembahkan”) memuat bahasa korban, dan “kayu” (ξύλον) menggemakan Ul. 21:23 yang juga tampak dalam Gal. 3:13. Dalam 1 Pet. 3:18 Kristus “mati satu kali (ἅπαξ) karena dosa-dosa kita, Yang Benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kamu kepada Allah”. Kata ἅπαξ di sini sejajar dengan ἐφάπαξ dalam Ibrani.

Dalam 2 Petrus, para pengajar sesat digambarkan sebagai orang yang “menyangkal Penguasa yang telah menebus (ἀγοράσαντα) mereka” (2 Pet. 2:1). Bab 1 menghubungkan keselamatan dengan pertumbuhan: dari iman sampai kasih (1:5–7), dan orang percaya diminta “semakin meneguhkan panggilan dan pilihanmu” (1:10). Surat ini juga menafsirkan kesabaran Tuhan sebagai keselamatan (3:15).

Yudas
Teks Kunci — Yud. 24

Τῷ δὲ δυναμένῳ φυλάξαι ὑμᾶς ἀπταίστους καὶ στῆσαι κατενώπιον τῆς δόξης αὐτοῦ ἀμώμους ἐν ἀγαλλιάσει

“Bagi Dia yang berkuasa memelihara kamu, supaya jangan tersandung, dan menempatkan kamu di hadapan kemuliaan-Nya tanpa cacat dengan sukacita besar.” (terjemahan bebas)

Yudas menyebut iman yang “sekali untuk selama-lamanya (ἅπαξ) disampaikan kepada orang-orang kudus” (Yud. 3), sehingga isi keselamatan bersifat tetap dan tidak dapat ditambah atau dikurangi. Surat ini menggabungkan dua sisi: orang percaya diminta memelihara diri (τηρήσατε) dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan Yesus Kristus yang membawa kepada hidup kekal (Yud. 21), dan pada saat yang sama Allah adalah Dia yang berkuasa “memelihara” (φυλάξαι) mereka tanpa tersandung (Yud. 24). Pemeliharaan Allah dan tanggung jawab orang percaya tidak saling bertentangan.

Catatan Kaki

21. David Peterson, Hebrews and Perfection: An Examination of the Concept of Perfection in the “Epistle to the Hebrews,” Society for New Testament Studies Monograph Series 47 (Cambridge: Cambridge University Press, 1982), chaps. 2–5. ↩

22. Martin Luther, “Preface to the New Testament,” dalam Word and Sacrament I, ed. E. Theodore Bachmann, Luther’s Works, American ed., vol. 35 (Philadelphia: Muhlenberg Press, 1960), 362. ↩

23. Luther, “Preface to the Epistles of St. James and St. Jude,” dalam Word and Sacrament I, 397. ↩

5. Kesatuan Kesaksian tentang Keselamatan

Bila kesaksian para penulis ini dibandingkan, tampak bahwa satu karya dilukiskan dengan banyak gambaran. Kematian Kristus dinyatakan sebagai kematian “bagi kita” (ὑπέρ), sebagai korban dan darah yang menyucikan, sebagai tebusan yang membebaskan, sebagai pendamaian yang memulihkan hubungan, dan sebagai kemenangan atas kuasa-kuasa yang menguasai manusia. Karya itu diterima melalui iman, membawa pembenaran, persatuan dengan Kristus, dan hidup baru dalam Roh.

Ringkasan teks kunci
Kristus mati bagi kita (ὑπέρ)
Gal. 2:20; Rm. 5:8; 1 Kor. 15:3; 2 Kor. 5:14–15, 21; 1 Tim. 2:6; Tit. 2:14; Ibr. 2:9; 1 Pet. 2:21; 3:18
Darah dan korban
Rm. 3:25; Ef. 1:7; 2:13; Kol. 1:20; Ibr. 9:11–14; 10:10–14; 1 Pet. 1:18–19
Penebusan dan tebusan
Gal. 3:13; 4:5; Rm. 3:24; 1 Kor. 1:30; 6:20; Ef. 1:7; Kol. 1:14; 1 Tim. 2:6; Tit. 2:14; 1 Pet. 1:18–19; 2 Pet. 2:1
Pendamaian
Rm. 5:10–11; 2 Kor. 5:18–20; Ef. 2:14–16; Kol. 1:20–22; Ibr. 2:17
Kemenangan atas kuasa-kuasa
Kol. 2:15; Ibr. 2:14–15
Pembenaran oleh iman
Gal. 2:16; Rm. 3:28; 4:5; 5:1; Flp. 3:9; Tit. 3:7
Kebangkitan dalam karya keselamatan
Rm. 4:25; 1 Kor. 15:17; 1 Pet. 1:3
Hidup di dalam Kristus
Gal. 2:20; Rm. 6:3–11; 8:1; 2 Kor. 5:17; Kol. 2:12–13
Iman yang hidup dan perbuatan baik
Gal. 5:6; Ef. 2:10; Tit. 3:8; Yak. 2:14–26; 2 Pet. 1:5–11
Pemeliharaan Allah dan ketekunan
Rm. 8:30; Ibr. 6:9–12; 10:39; Yud. 21, 24

Keragaman gambaran ini tidak menghasilkan soteriologi yang bertentangan. Para penulis berbicara dari sudut yang berbeda tentang satu peristiwa: Anak Allah menyerahkan diri-Nya bagi orang berdosa dan dibangkitkan, dan orang yang percaya kepada-Nya menerima pembenaran, damai, dan hidup baru sebagai pemberian anugerah.

6. Istilah Yunani Kunci

Daftar ini merangkum istilah Yunani yang paling sering menentukan penafsiran tentang karya Kristus dan keselamatan manusia dalam surat-surat.

Istilah Yunani kunci
δικαιοσύνη θεοῦ (Rm. 1:17; 3:21–22; 2 Kor. 5:21)
“Kebenaran Allah”: sifat, tindakan setia, dan pemberian status benar oleh Allah.
δικαιόω (Gal. 2:16; Rm. 3:24; 5:1)
“Membenarkan”: pernyataan Allah bahwa seseorang benar di hadapan-Nya; juga pengakuan atas keanggotaan umat-Nya.
πίστις (Χριστοῦ) (Gal. 2:16; Rm. 3:22, 26; Flp. 3:9)
“Iman” dan, menurut sebagian penafsir, “kesetiaan Kristus”; genitif objektif atau subjektif.
ἔργα νόμου (Gal. 2:16; Rm. 3:20, 28)
“Perbuatan hukum Taurat”: menurut Dunn terutama tanda pengenal umat Yahudi; dalam Gal. 2:16 tidak seorang pun dibenarkan olehnya.
ἱλαστήριον (Rm. 3:25; bdk. Ibr. 9:5)
Sarana pendamaian: peredaan murka, penghapusan dosa, atau tutup pendamaian.
ἀπολύτρωσις, λύτρον, ἀντίλυτρον (Rm. 3:24; Ef. 1:7; 1 Tim. 2:6)
“Penebusan”, “uang tebusan”: gambaran pasar budak dan pembebasan tawanan.
ἀγοράζω, ἐξαγοράζω (1 Kor. 6:20; Gal. 3:13; 4:5; 2 Pet. 2:1)
“Membeli, menebus”: pembayaran harga untuk memerdekakan.
καταλλαγή, καταλλάσσω (Rm. 5:10–11; 2 Kor. 5:18–20; Kol. 1:20–22)
“Pendamaian”: pemulihan hubungan antara Allah dan manusia yang bermusuhan.
χάρις (Rm. 3:24; Ef. 2:8; Tit. 3:7)
“Kasih karunia”: pemberian Allah yang tidak dapat diperoleh dengan usaha.
σῴζω, σωτηρία (1 Kor. 1:18; Ef. 2:8; 1 Tes. 5:9)
“Menyelamatkan, keselamatan”: sudah terjadi, sedang terjadi, dan akan digenapi.
υἱοθεσία (Gal. 4:5; Rm. 8:15)
“Pengangkatan sebagai anak”: status baru dalam keluarga Allah.
ἁγιάζω, ἁγιασμός (1 Kor. 1:30; Ibr. 10:10, 14)
“Menguduskan, pengudusan”: dipisahkan bagi Allah melalui Kristus.
ἐφάπαξ, ἅπαξ (Ibr. 7:27; 10:10; 1 Pet. 3:18)
“Satu kali untuk selama-lamanya”: korban Kristus tidak diulang.
ὑπέρ (Gal. 2:20; Rm. 5:8; 2 Kor. 5:14)
“Bagi, demi”: Kristus bertindak menggantikan dan demi orang berdosa.
ἐν Χριστῷ (Rm. 8:1; 2 Kor. 5:17; Gal. 2:20)
“Di dalam Kristus”: persatuan orang percaya dengan Kristus dalam kematian dan hidup-Nya.
7. Penerapan bagi Kehidupan dan Pelayanan
Pertama — Berita Salib sebagai Pusat Pemberitaan

Bagi Paulus, berita salib adalah kekuatan Allah bagi mereka yang diselamatkan (1 Kor. 1:18). Pelayan jemaat dan pengajar Pendidikan Agama Kristen tidak perlu terikat pada satu gambaran saja. Gambaran pengadilan, korban, tebusan, pendamaian, dan kemenangan masing-masing dapat menjangkau pendengar dengan latar yang berbeda, misalnya mereka yang bergumul dengan rasa bersalah, dengan utang, dengan permusuhan, atau dengan ketakutan akan kuasa-kuasa jahat. Yang perlu dijaga ialah bahwa semua gambaran itu menunjuk pada satu karya Kristus.

Kedua — Kepastian dan Kebebasan dari Legalisme

Efesus 2:8–10 mengajarkan bahwa keselamatan adalah pemberian Allah dan bukan hasil perbuatan, sekaligus bahwa orang percaya diciptakan untuk perbuatan baik. Pemahaman ini membebaskan jemaat dari dua kekeliruan: menganggap perbuatan sebagai syarat untuk diterima Allah, dan menganggap anugerah sebagai izin untuk hidup sembarangan (Rm. 6:1–2). Orang percaya bekerja karena sudah diterima, bukan supaya diterima.

Ketiga — Iman dan Perbuatan dalam Pembinaan Jemaat

Yakobus 2:14–26 dan Paulus tidak bertentangan bila konteks masing-masing dipahami. Dalam pembinaan jemaat dan pengajaran Pendidikan Agama Kristen, pengajaran tentang iman perlu berujung pada praktik kasih (Gal. 5:6; Yak. 2:15–17), tanpa mengubah dasar penerimaan di hadapan Allah dari anugerah menjadi prestasi. Jemaat perlu belajar mengenali iman yang “mati” dan iman yang bekerja oleh kasih.

Keempat — Pelayanan Pendamaian

Menurut 2 Kor. 5:18–20, Allah mempercayakan “pelayanan pendamaian” kepada gereja, dan para pelayan adalah duta Kristus. Efesus 2:14–16 memperlihatkan bahwa pendamaian dengan Allah menghasilkan pendamaian antarmanusia. Gereja dipanggil menjadi tempat pemulihan hubungan yang retak, baik di dalam jemaat maupun antara jemaat dan masyarakat sekitarnya, dengan Kristus yang meruntuhkan dinding pemisah sebagai dasar dan teladannya.

Penutup

Karya Kristus dalam surat-surat Perjanjian Baru dilukiskan dengan banyak gambaran yang saling melengkapi: korban yang menghapus dosa, tebusan yang membebaskan, pendamaian yang memulihkan hubungan dengan Allah, kemenangan atas kuasa-kuasa yang menguasai manusia, dan pembenaran yang menyatakan orang berdosa benar di hadapan Allah. Semua itu bertumpu pada satu peristiwa: Anak Allah menyerahkan diri-Nya bagi kita dan dibangkitkan. Manusia menerima karya itu melalui iman sebagai pemberian anugerah, dan ia berbuah dalam hidup baru di dalam Kristus dan oleh Roh. Perdebatan para pakar tentang δικαιοσύνη θεοῦ, ἔργα νόμου, πίστις Χριστοῦ, dan ἱλαστήριον memperlihatkan bahwa teks-teks ini kaya dan layak ditelaah dengan cermat, tetapi kesaksian pokoknya jelas: keselamatan adalah karya Allah di dalam Kristus.

Daftar Pustaka

Aulén, Gustaf. Christus Victor: An Historical Study of the Three Main Types of the Idea of the Atonement. Translated by A. G. Hebert. London: SPCK, 1931.

Bird, Michael F., dan Preston M. Sprinkle, eds. The Faith of Jesus Christ: Exegetical, Biblical, and Theological Studies. Peabody, MA: Hendrickson, 2009.

Carson, D. A., Peter T. O’Brien, dan Mark A. Seifrid, eds. Justification and Variegated Nomism. Vol. 2, The Paradoxes of Paul. Wissenschaftliche Untersuchungen zum Neuen Testament 2/181. Tübingen: Mohr Siebeck; Grand Rapids, MI: Baker Academic, 2004.

Dodd, C. H. The Bible and the Greeks. London: Hodder & Stoughton, 1935.

Dunn, James D. G. “The New Perspective on Paul.” Bulletin of the John Rylands University Library of Manchester 65, no. 2 (1983): 95–122.

Hays, Richard B. The Faith of Jesus Christ: The Narrative Substructure of Galatians 3:1–4:11. 2nd ed. Grand Rapids, MI: Eerdmans, 2002.

Luther, Martin. “Preface to the Epistles of St. James and St. Jude.” Dalam Word and Sacrament I, edited by E. Theodore Bachmann, 395–99. Luther’s Works, American ed., vol. 35. Philadelphia: Muhlenberg Press, 1960.

———. “Preface to the New Testament.” Dalam Word and Sacrament I, edited by E. Theodore Bachmann, 357–62. Luther’s Works, American ed., vol. 35. Philadelphia: Muhlenberg Press, 1960.

Morris, Leon. The Apostolic Preaching of the Cross. London: Tyndale Press, 1955.

———. “The Meaning of ἱλαστήριον in Romans III.25.” New Testament Studies 2, no. 1 (1955): 33–43.

Peterson, David. Hebrews and Perfection: An Examination of the Concept of Perfection in the “Epistle to the Hebrews.” Society for New Testament Studies Monograph Series 47. Cambridge: Cambridge University Press, 1982.

Sanders, E. P. Paul and Palestinian Judaism: A Comparison of Patterns of Religion. Philadelphia: Fortress, 1977.

Stendahl, Krister. “The Apostle Paul and the Introspective Conscience of the West.” Harvard Theological Review 56, no. 3 (1963): 199–215.

Westerholm, Stephen. Perspectives Old and New on Paul: The “Lutheran” Paul and His Critics. Grand Rapids, MI: Eerdmans, 2004.

Wright, N. T. What Saint Paul Really Said: Was Paul of Tarsus the Real Founder of Christianity? Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1997.

Bahan Kuliah Teologi Perjanjian Baru 2 (DTh-137.206) · Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

tpb2-1a

Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Pertanyaan Pendalaman dan Studi Kasus Teologis

Kristologi: Keilahian dan Inkarnasi Yesus Kristus
Teologi Perjanjian Baru 2 (DTh-137.206)
Pdt. D. Horatius Herman, M.Th.

Kembali ke Bahan Ajar

Petunjuk: ketuk judul setiap bagian untuk membuka atau menutup uraiannya. Bahan ini disusun berdasarkan pos Pertemuan 1 tentang keilahian dan inkarnasi Kristus.
A. Pertanyaan Pemahaman Teks dan Tata Bahasa (1–8)
Pertanyaan 1

Dalam Gal. 4:4, Paulus menulis ἐξαπέστειλεν ὁ θεὸς τὸν υἱὸν αὐτοῦ, γενόμενον ἐκ γυναικός. Jelaskan mengapa urutan kata kerja ἐξαπέστειλεν (aorist) dan partisip γενόμενον penting bagi argumen praeksistensi Kristus. Apa yang berubah dalam makna ayat ini seandainya Paulus menulis “Allah menciptakan seorang anak dari seorang perempuan”?

Pertanyaan 2

Bandingkan makna πρωτότοκος dalam Kol. 1:15 dengan kemungkinan pembacaan “makhluk pertama yang diciptakan”. Kemukakan alasan tata bahasa dan konteks (Kol. 1:16) yang menolak pembacaan kedua.

Pertanyaan 3

Jelaskan perbedaan antara μορφῇ θεοῦ (Flp. 2:6) dan μορφὴν δούλου (Flp. 2:7). Mengapa penggunaan kata μορφή yang sama untuk kedua frasa ini penting bagi argumen bahwa kemanusiaan Kristus sama nyatanya dengan keilahian-Nya?

Pertanyaan 4

Uraikan dua kemungkinan pembacaan ἁρπαγμός dalam Flp. 2:6, lalu jelaskan bagaimana kesimpulan Roy Hoover memengaruhi cara kita memahami sikap Kristus terhadap kesetaraan-Nya dengan Allah.

Pertanyaan 5

Dalam Flp. 2:10, tiga kata ἐπουρανίων, ἐπιγείων, dan καταχθονίων menggambarkan kosmologi tiga tingkat. Jelaskan mengapa pengakuan universal yang mencakup ketiga tingkat itu hanya layak ditujukan kepada Allah, dan bagaimana hal ini menghubungkan Flp. 2:10–11 dengan Yes. 45:23.

Pertanyaan 6

Jelaskan mengapa ungkapan “ditetapkan sebagai Anak Allah” dalam Rm. 1:4 tidak dapat dipakai untuk mendukung pandangan adopsionisme (bahwa Yesus baru menjadi Anak Allah pada saat kebangkitan).

Pertanyaan 7

Dalam Tit. 2:13 dan 2 Pet. 1:1, aturan Granville Sharp dipakai untuk berargumen bahwa “Allah” dan “Juruselamat” menunjuk pada satu pribadi. Jelaskan secara sederhana bagaimana struktur satu artikel yang menaungi dua kata benda mendukung kesimpulan ini.

Pertanyaan 8

Ibr. 1:3 menyebut Anak sebagai ἀπαύγασμα τῆς δόξης (“pancaran kemuliaan”) dan χαρακτὴρ τῆς ὑποστάσεως (“cetakan hakikat”) Allah. Jelaskan perbedaan nuansa kedua metafora ini dan apa yang keduanya tegaskan bersama tentang hubungan Anak dengan Bapa.

B. Pertanyaan Diskusi Antarpakar (9–12)
Pertanyaan 9

Bauckham berpendapat bahwa “Kristologi paling awal sudah merupakan Kristologi yang tertinggi”. Jelaskan apa yang dimaksud dengan istilah “identitas ilahi” dalam tesisnya, dan bagaimana pendekatan ini berbeda dari pendekatan yang menelusuri perkembangan bertahap gelar-gelar Kristologis.

Pertanyaan 10

Dunn membaca Flp. 2:6–11 sebagai Kristologi Adam, sedangkan kebanyakan penafsir lain membacanya sebagai pernyataan praeksistensi. Jelaskan argumen Dunn secara ringkas, lalu kemukakan sekurang-kurangnya satu keberatan terhadap pembacaan itu berdasarkan uraian tentang ὑπάρχων dalam ay. 6a.

Pertanyaan 11

Wright menerima tema Adam yang diusulkan Dunn tetapi tetap mempertahankan praeksistensi Kristus. Jelaskan bagaimana kedua unsur itu — tema Adam dan praeksistensi — dapat digabungkan tanpa saling meniadakan.

Pertanyaan 12

Hurtado menyatakan bahwa devosi kepada Yesus muncul “amazingly early” dan tetap berada dalam kerangka monoteisme Yahudi. Jelaskan mengapa fakta ini penting untuk menjawab tuduhan bahwa penyembahan kepada Kristus adalah perkembangan belakangan yang dipengaruhi paganisme Helenistik.

C. Pertanyaan Sintesis Antarsurat (13–16)
Pertanyaan 13

Bandingkan cara Paulus (Flp. 2:6–11), penulis Ibrani (Ibr. 1:1–4), dan Petrus (2 Pet. 1:1) masing-masing bersaksi tentang keilahian Kristus. Adakah perbedaan penekanan di antara ketiganya, dan mengapa perbedaan itu tidak menghasilkan Kristus yang berbeda-beda?

Pertanyaan 14

Telusuri bagaimana tema “mengutus Anak” muncul dalam Gal. 4:4 dan bandingkan dengan tema “berdiam” dalam Kol. 1:19 dan 2:9. Apa yang kedua tema ini tegaskan bersama tentang hubungan antara praeksistensi dan inkarnasi Kristus?

Pertanyaan 15

Yudas 5 memiliki variasi naskah antara “Tuhan”, “Allah”, dan “Yesus”. Jelaskan implikasi teologis jika bacaan “Yesus” yang dipilih, dan mengapa hal ini berkaitan dengan pertanyaan tentang praeksistensi Kristus dalam sejarah Israel.

Pertanyaan 16

Uraikan bagaimana Rm. 1:3–4, 1 Tim. 3:16, dan Ibr. 2:14–17 masing-masing menegaskan kemanusiaan Kristus yang sejati, lalu jelaskan mengapa kesaksian tentang kemanusiaan-Nya sama pentingnya dengan kesaksian tentang keilahian-Nya bagi karya keselamatan.

D. Pertanyaan Refleksi dan Penerapan (17–20)
Pertanyaan 17

Jelaskan mengapa pengakuan bahwa Kristus termasuk dalam identitas Allah Israel (bukan Allah kedua) penting untuk menjawab keberatan bahwa iman Kristen mengajarkan lebih dari satu Allah.

Pertanyaan 18

Konteks Flp. 2:1–5 menempatkan nyanyian Kristologis ini sebagai dasar bagi kerendahan hati dalam jemaat. Uraikan bagaimana teladan μορφὴν δούλου λαβών (Flp. 2:7) dapat membentuk cara seorang pelayan jemaat memandang kedudukan dan pelayanannya.

Pertanyaan 19

Ibr. 4:15 menegaskan bahwa Kristus turut merasakan kelemahan manusia namun tidak berbuat dosa. Jelaskan bagaimana kebenaran ini dapat menjadi penghiburan pastoral bagi jemaat yang bergumul dengan penderitaan atau pencobaan.

Pertanyaan 20

Rancanglah sebuah penjelasan sederhana (untuk jemaat awam, bukan mahasiswa teologi) tentang mengapa Yesus disebut “Allah dan Juruselamat” (Tit. 2:13) tanpa mengorbankan kejelasan tentang keesaan Allah. Perhatikan bahasa yang dipakai agar tidak membingungkan.

Studi Kasus Teologis (1–5)
Studi Kasus 1
“Bapa Lebih Besar daripada Aku”

Seorang anggota jemaat, setelah membaca Yoh. 14:28 (“Bapa lebih besar daripada Aku”), mempertanyakan pengajaran tentang keilahian penuh Kristus. Ia berpendapat bahwa ayat itu menunjukkan Yesus adalah makhluk yang lebih rendah daripada Allah Bapa, dan meragukan penjelasan tentang Flp. 2:6 yang menyatakan Kristus “ada dalam rupa Allah”.

Tugas diskusi:

  • Jelaskan bagaimana konsep inkarnasi (Flp. 2:7–8) — Kristus yang mengambil rupa hamba dan merendahkan diri-Nya — dapat menjelaskan pernyataan “Bapa lebih besar” tanpa menyangkal keilahian kekal Kristus.
  • Rumuskan bagaimana Anda akan menjelaskan perbedaan antara kedudukan fungsional (Kristus yang taat dan merendahkan diri dalam inkarnasi) dan hakikat ontologis (kesetaraan-Nya dengan Allah menurut Flp. 2:6) kepada jemaat ini.
  • Sebutkan sekurang-kurangnya dua teks lain dari bahan Pertemuan 1 yang dapat memperkuat penjelasan Anda.
Studi Kasus 2
Tuduhan Politeisme

Dalam sebuah dialog antaragama, seorang lawan bicara menuduh bahwa dengan menyembah Yesus sebagai Tuhan, orang Kristen sebenarnya menyembah dua Allah — Bapa dan Anak — sehingga bertentangan dengan pengakuan bahwa Allah itu esa.

Tugas diskusi:

  • Gunakan 1 Kor. 8:6 dan Flp. 2:9–11 untuk menjelaskan bagaimana Paulus merumuskan ulang pengakuan monoteistik Israel (Ul. 6:4) dengan memasukkan Kristus, tanpa menambah jumlah Allah.
  • Jelaskan istilah “identitas ilahi” yang dipakai Bauckham dan bagaimana kerangka ini berbeda dari kerangka “dua Allah yang terpisah”.
  • Susunlah tanggapan singkat (maksimal lima kalimat) yang dapat disampaikan secara lisan dalam dialog semacam ini.
Studi Kasus 3
Penafsiran μορφὴν δούλου sebagai Bukti Penurunan Status Ilahi

Sebuah kelompok pengajaran menafsirkan μορφὴν δούλου λαβών (Flp. 2:7) sebagai bukti bahwa Kristus, ketika berinkarnasi, kehilangan sifat-sifat ilahi-Nya (misalnya kemahatahuan dan kemahakuasaan), sehingga selama di bumi Ia bukan lagi sepenuhnya Allah.

Tugas diskusi:

  • Tunjukkan bahwa μορφή dipakai baik untuk “rupa Allah” (ay. 6) maupun “rupa hamba” (ay. 7), dan jelaskan mengapa kesejajaran ini justru menunjukkan bahwa Kristus tetap sepenuhnya Allah sementara sungguh-sungguh mengambil rupa manusia.
  • Jelaskan pemahaman Gordon Fee tentang κενόω (“mengosongkan”) sebagai metafora bagi perendahan diri, bukan pengurangan hakikat ilahi.
  • Diskusikan bagaimana Kol. 2:9 (“seluruh kepenuhan ke-Allahan berdiam di dalam Kristus secara jasmaniah”) menjadi kontrol teologis terhadap penafsiran yang keliru ini.
Studi Kasus 4
Perdebatan Tekstual tentang Titus 2:13

Seorang mahasiswa menemukan terjemahan dari kelompok tertentu yang menerjemahkan Tit. 2:13 sebagai “Allah yang besar, dan Kristus Yesus Juruselamat kita” — memisahkan “Allah” dan “Yesus Kristus” sebagai dua pribadi berbeda, bukan satu pribadi seperti dijelaskan dalam bahan Pertemuan 1.

Tugas diskusi:

  • Jelaskan aturan Granville Sharp secara sederhana dan bagaimana struktur satu artikel (τοῦ μεγάλου θεοῦ καὶ σωτῆρος ἡμῶν Ἰησοῦ Χριστοῦ) mendukung pembacaan bahwa kedua sebutan itu menunjuk kepada satu pribadi.
  • Bandingkan struktur Tit. 2:13 dengan 2 Pet. 1:1, yang memakai konstruksi serupa, untuk memperkuat argumen ini.
  • Diskusikan mengapa perbedaan penafsiran seperti ini penting untuk diperhatikan dalam kerja penerjemahan dan pengajaran Alkitab di jemaat.
Studi Kasus 5
Kerendahan Hati Pelayan dalam Konflik Jemaat

Seorang majelis gereja merasa kedudukan dan penghormatannya sebagai pelayan senior tidak lagi dihargai setelah struktur kepemimpinan jemaat diperbarui. Ia mempertimbangkan untuk mengundurkan diri karena merasa direndahkan.

Tugas diskusi:

  • Gunakan konteks Flp. 2:1–5 dan nyanyian Kristologis Flp. 2:6–11 untuk merumuskan nasihat pastoral bagi majelis tersebut, dengan memperhatikan bahwa Kristus yang ada dalam rupa Allah rela mengambil rupa hamba.
  • Jelaskan bagaimana gerak turun dan naik dalam Flp. 2:6–11 (perendahan diri yang diikuti peninggian oleh Allah, bukan oleh usaha diri sendiri) dapat membentuk perspektif majelis tersebut tentang kedudukan dan penghormatan.
  • Rumuskan bagaimana Anda, sebagai gembala jemaat, akan menyampaikan nasihat ini tanpa meremehkan perasaan yang dialami majelis tersebut.
Bahan Kuliah Teologi Perjanjian Baru 2 (DTh-137.206) · Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

tpb2-Kristologi

Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Teologi Perjanjian Baru II

Keilahian dan Inkarnasi Yesus Kristus
Surat-surat Paulus, Ibrani, Yakobus, Petrus, dan Yudas
Teologi Perjanjian Baru 2 (DTh-137.206)
Pdt. D. Horatius Herman, M.Th.

Soal-soal Pendalaman dan Esai

Petunjuk: ketuk judul setiap bagian untuk membuka atau menutup uraiannya. Ketuk angka kecil di atas kata untuk melihat catatan kaki di dasar bagian itu.
Pendahuluan

Teologi Perjanjian Baru 2 melanjutkan penelusuran yang dimulai dalam Teologi Perjanjian Baru 1. Setelah Kristus dinyatakan dalam Injil-injil dan Kisah Para Rasul, surat-surat Perjanjian Baru memperlihatkan bagaimana jemaat mula-mula memberitakan, memahami, dan menghidupi Kristus yang telah bangkit dan ditinggikan. Pertanyaan pokok yang mengarahkan pembahasan Pertemuan ini sederhana tetapi mendasar: siapakah Yesus menurut Paulus dan menurut para penulis surat-surat umum, khususnya menyangkut keilahian dan kemanusiaan-Nya?

Portofolio Akreditasi->o Serif’,serif; font-size: clamp(21px,5.4vw,26px); line-height: 1.75; margin: 0 0 16px; color: #222222; overflow-wrap: break-word;”>Pembahasan Teologi Perjanjian Baru 2 secara keseluruhan disusun secara tematik dalam lima tema, yaitu Kristologi, Soteriologi, Pneumatologi, Ekklesiologi, dan Eskhatologi. Kristologi dibahas lebih dahulu karena keempat tema lainnya bertumpu pada siapa Kristus itu. Namun agar pembahasan tidak tumpang tindih dengan tema-tema berikutnya, Pelajaran ini secara khusus membatasi diri pada dua pokok, yaitu keilahian Kristus — kesaksian bahwa Ia sehakikat dan setara dengan Allah — serta inkarnasi Kristus — kesaksian bahwa Anak Allah yang kekal itu sungguh-sungguh menjadi manusia.

Dua pokok Pelajaran ini
Keilahian Kristus
Ia sehakikat dan setara dengan Allah.
Inkarnasi Kristus
Anak Allah yang kekal itu sungguh-sungguh menjadi manusia.

Setiap pokok ditelusuri melalui tiga kelompok surat: surat-surat awal Paulus, surat-surat penjara, dan Roma; surat-surat Korintus dan surat-surat penggembalaan; serta Ibrani, Yakobus, 1–2 Petrus, dan Yudas. Dengan cara ini kesatuan sekaligus keragaman kesaksian Perjanjian Baru tentang pribadi Kristus dapat terlihat.

1. Latar Diskusi Para Pakar

Perdebatan modern tentang Kristologi surat-surat Perjanjian Baru berkisar pada dua pertanyaan: seberapa awal jemaat memandang Yesus sebagai pribadi ilahi, dan bagaimana pandangan itu dapat berdiri di dalam monoteisme Yahudi. Sejak karya Wilhelm Bousset, Kyrios Christos (1913), banyak sarjana menempatkan penyembahan kepada Yesus sebagai Kyrios pada tahap belakangan, di lingkungan Kristen bukan-Yahudi yang dipengaruhi Helenisme.

Larry Hurtado menantang pandangan itu. Menurutnya, devosi kepada Yesus muncul “amazingly early” (sangat awal), dengan intensitas dan ragam ekspresi yang tidak memiliki padanan sejati di sekitarnya, dan tetap dipahami oleh para pelakunya berada di dalam batas monoteisme Yahudi.1

Richard Bauckham merumuskan tesis yang sejalan dengan istilah “identitas ilahi”. Ia berpendapat bahwa Kristologi paling awal sudah merupakan Kristologi yang tertinggi:

“earliest Christology was already the highest Christology”2

Terjemahan bebas: Kristologi paling awal sudah merupakan Kristologi yang tertinggi.

— Richard Bauckham, Jesus and the God of Israel, x

Menurut Bauckham, Yesus diidentifikasikan langsung dengan Allah tunggal Israel, yang dalam Yudaisme Bait Allah Kedua dicirikan sebagai satu-satunya Pencipta dan satu-satunya Penguasa atas segala sesuatu.3

Sebaliknya, James Dunn menyelidiki asal-usul doktrin inkarnasi dan menilai bahwa teks-teks yang lazim dibaca sebagai kesaksian praeksistensi tidak dengan sendirinya menuntut pembacaan itu. Nyanyian Flp. 2:6–11, misalnya, dibacanya dalam kerangka Kristologi Adam:

“best understood as an expression of Adam Christology”4

Terjemahan bebas: paling tepat dipahami sebagai ungkapan Kristologi Adam.

— James D. G. Dunn, Christology in the Making, 114–15

N. T. Wright menempuh jalan yang berbeda dari keduanya: ia pun membaca nyanyian itu dalam terang tema Adam, tetapi tetap mempertahankan praeksistensi Kristus.5

Peta posisi para pakar
Larry W. Hurtado
Devosi kepada Yesus muncul sangat awal dan tetap berada di dalam kerangka monoteisme Yahudi.
Richard Bauckham
Sejak Kristologi paling awal, Yesus termasuk dalam identitas ilahi Allah tunggal Israel.
James D. G. Dunn
Flp. 2:6–11 paling tepat dibaca sebagai Kristologi Adam; teks itu tidak dengan sendirinya membuktikan praeksistensi.
N. T. Wright
Tema Adam dalam Flp. 2:6–11 tidak meniadakan praeksistensi Kristus.

Pelajaran ini mengikuti pembacaan yang melihat Kristus termasuk di dalam identitas Allah Israel sejak surat-surat yang paling awal, sambil memperhitungkan keberatan Dunn pada bagian yang relevan, terutama Flp. 2:5–8.

Catatan Kaki

1. Larry W. Hurtado, Lord Jesus Christ: Devotion to Jesus in Earliest Christianity (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 2003), 2–3. ↩

2. Richard Bauckham, Jesus and the God of Israel: God Crucified and Other Studies on the New Testament’s Christology of Divine Identity (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 2008), x. ↩

3. Ibid., 1–59. ↩

4. James D. G. Dunn, Christology in the Making: An Inquiry into the Origins of the Doctrine of the Incarnation, 2nd ed. (London: SCM, 1989), 114–15. ↩

5. N. T. Wright, The Climax of the Covenant: Christ and the Law in Pauline Theology (Minneapolis: Fortress, 1992), 56–98. ↩

2. Surat-surat Awal Paulus, Surat-surat Penjara, dan Roma

Keilahian dan Inkarnasi Kristus dalam Surat-surat Awal Paulus, Surat-surat Penjara, dan Roma

Galatia dan Tesalonika

Paulus, dalam Galatia, bersaksi bahwa Allah mengutus Anak-Nya, lahir dari seorang perempuan dan lahir di bawah hukum Taurat (Gal. 4:4–5). Ungkapan “mengutus Anak-Nya” — bukan “menciptakan” atau “membangkitkan seorang anak” — menunjukkan bahwa Paulus memikirkan Kristus sebagai pribadi yang telah ada sebelum kelahiran-Nya di dunia dan yang diutus oleh Bapa untuk mengambil rupa manusia sepenuhnya: lahir dari perempuan seperti manusia lain, dan lahir di bawah Taurat sebagai orang Yahudi sejati. Ayat ini menjadi salah satu kesaksian paling awal tentang inkarnasi: Anak Allah yang praeksisten sungguh-sungguh menjadi manusia dalam sejarah.

Teks Kunci — Gal. 4:4

ὅτε δε ἦλθεν το πλήρωμα τοῦ χρονου, ἐξαπέστειλεν ὁ θεος τον υἱον αὐτοῦ, γενομενον ἐκ γυναικός, γενόμενον ὑπο νόμον

“Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan, yang lahir di bawah hukum Taurat.”

Kata kerja ἐξαπέστειλεν (“mengutus keluar”) mendahului dua partisip γενόμενον (“menjadi/lahir”): subjek yang diutus sudah ada sebelum ia “menjadi” manusia dan “menjadi” orang di bawah Taurat.

Surat-surat kepada jemaat di Tesalonika, tulisan Paulus yang paling awal, menampilkan Kristus sebagai Anak Allah yang telah dibangkitkan dari antara orang mati (1 Tes. 1:10). Kebangkitan ini menjadi peneguhan atas kedudukan-Nya sebagai Anak Allah (kesaksian tentang kedatangan-Nya kembali dari sorga akan diuraikan dalam Pelajaran Eskhatologi). Yang patut dicatat ialah bahwa sejak surat-surat yang paling awal ini, Paulus sudah menerapkan sebutan “Tuhan” (Κύριος) — gelar yang dalam Perjanjian Lama Yunani (Septuaginta) dipakai untuk menerjemahkan nama YHWH — kepada Yesus.

Efesus dan Kolose

Kolose memuat salah satu pernyataan Kristologis yang paling padat dalam Perjanjian Baru (Kol. 1:15–20). Kristus adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung dari segala ciptaan. Sebutan “sulung” (πρωτότοκος) di sini menyatakan keutamaan dan kedaulatan atas ciptaan, bukan bahwa Kristus adalah makhluk pertama yang diciptakan, sebab ayat berikutnya menegaskan bahwa segala sesuatu diciptakan di dalam Dia, oleh Dia, dan untuk Dia — suatu peran yang dalam Perjanjian Lama hanya dimiliki oleh Allah sendiri.

Pola argumen yang sama berlaku pada sebutan Kristus sebagai ἡ ἀρχή τῆς κτίσεως τοῦ θεοῦ, “permulaan/sumber dari ciptaan Allah” (Why. 3:14, di luar korpus Pertemuan ini). Karena κτίσεως berbentuk genitif dan bukan nominatif yang beroposisi dengan ἀρχή, frasa ini secara tata bahasa menunjuk Kristus sebagai asal-mula atau sumber penciptaan, bukan sebagai makhluk pertama yang termasuk di dalam ciptaan — paralel dengan pembacaan πρωτότοκος di atas.

Sebutan “gambar Allah yang tidak kelihatan” (εἰκων τοῦ θεοῦ τοῦ ἀοράτου, Kol. 1:15; bdk. 2 Kor. 4:4) berarti bahwa Allah yang tidak kelihatan menjadi dikenal di dalam Kristus. Kol. 1:19 menambahkan bahwa seluruh kepenuhan (πᾶν τo πλήρωμα) berkenan diam (κατοικῆσαι) di dalam Dia.

Paulus menegaskannya lagi dalam Kol. 2:9: di dalam Kristus berdiam seluruh kepenuhan ke-Allahan (θεότης) secara jasmaniah (σωματικῶς). Kata “jasmaniah” di sini menyatukan kedua pokok Pelajaran ini sekaligus: keilahian penuh Kristus (seluruh kepenuhan ke-Allahan) hadir dalam tubuh manusia yang nyata (secara jasmaniah) — itulah inkarnasi.

Filipi 2:5–8 — Gerak Turun: μορφη Θεοῦ dan μορφην δούλου

Nyanyian Kristologis dalam Flp. 2:5–11 menghadirkan gerak turun dan naik yang menjadi teks kunci bagi kedua pokok Pelajaran ini. Kristus, yang dalam rupa Allah (μορφῇ Θεοῦ), tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan mengosongkan diri (κένωσις), mengambil rupa seorang hamba (μορφην δούλου), dan menjadi sama dengan manusia. Sebagian besar penafsir membaca ayat 6 sebagai pernyataan praeksistensi: kesetaraan dengan Allah sudah dimiliki sebelum inkarnasi, tetapi tidak dipakai untuk keuntungan diri.

Teks Kunci — Flp. 2:6–8

ὃς ἐν μορφῇ θεοῦ ὑπάρχων οὐχ ἁρπαγμoν ἡγήσατο τo εἶναι ἴσα θεῷ, ἀλλα ἑαυτoν ἐκένωσεν μορφην δούλου λαβών, ἐν ὁμοιώματι ἀνθρώπων γενόμενος· και σχήματι εὑρεθεις ὡς ἄνθρωπος ἐταπείνωσεν ἑαυτoν γενόμενος ὑπήκοος μέχρι θανάτου, θανάτου δε σταυροῦ.

“yang ada dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai sesuatu untuk dimanfaatkan bagi diri sendiri, melainkan telah mengosongkan diri-Nya dengan mengambil rupa hamba, menjadi sama dengan manusia; dan didapati dalam wujud manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, dan mati di salib.” (terjemahan bebas)

Beberapa istilah dalam bagian ini menentukan seluruh penafsiran dan perlu diperhatikan satu per satu:

Istilah Yunani dalam Flp. 2:6–8
ἐν μορφῇ θεοῦ ὑπάρχων (ay. 6a)
Partisip present ὑπάρχων menyatakan keadaan yang sudah ada dan berlangsung, mendahului tindakan-tindakan yang dinyatakan kata kerja berikutnya (ἡγήσατο, ἐκένωσεν). Inilah dasar gramatika bagi pembacaan praeksistensi.
οὐχ ἁρπαγμoν ἡγήσατο (ay. 6b)
Kata ἁρπαγμός jarang dipakai. Pokok perdebatan: apakah kesetaraan itu sesuatu yang belum dimiliki dan hendak direbut, ataukah sesuatu yang sudah dimiliki tetapi tidak dipakai demi keuntungan diri. Banyak penafsir memilih makna kedua (lihat uraian di bawah).
τo εἶναι ἴσα θεῷ (ay. 6b)
“Kesetaraan dengan Allah.” Bentuk ἴσα (netral jamak, dipakai sebagai keterangan) menyatakan keadaan yang setara.
ἑαυτoν ἐκένωσεν (ay. 7a)
“Mengosongkan diri-Nya sendiri.” Teks tidak menyatakan bahwa Kristus berhenti menjadi Allah; cara pengosongan itu dijelaskan oleh partisip berikutnya, λαβών (“dengan mengambil”).
μορφην δούλου λαβών (ay. 7b)
“Dengan mengambil rupa hamba.” Kata μορφή sama dengan ay. 6, sehingga kedua ungkapan saling menjelaskan: sebagaimana Kristus sungguh berada dalam rupa Allah, Ia sungguh mengambil kedudukan seorang hamba (δοῦλος), status sosial terendah dalam dunia Yunani-Romawi, yang pada ay. 11 berhadapan dengan gelar Κύριος. Sebagian penafsir mendengar gema Hamba Tuhan dalam Yes. 52:13–53:12; hal itu diperdebatkan.
ἐν ὁμοιώματι ἀνθρώπων γενόμενος (ay. 7c)
“Menjadi sama dengan manusia.” Partisip γενόμενος (dari γίνομαι, “menjadi”) menunjukkan perubahan keadaan yang nyata; ὁμοιώματι  bentuk dative dari ὁμοίωμα menyatakan keserupaan yang sungguh (bdk. Rm. 8:3), bukan kemanusiaan yang semu.
σχήματι εὑρεθεις ὡς ἄνθρωπος (ay. 8a)
“Didapati dalam wujud sebagai manusia.” Kata σχῆμα menunjuk penampilan lahiriah yang dapat dikenali: Kristus tampil dan dikenali sebagai manusia sepenuhnya. Ketaatan sampai mati (ὑπήκοος μέχρι θανάτου) memperlihatkan bahwa kemanusiaan itu sungguh dapat mati.

Perdebatan tentang ἁρπαγμός sangat menentukan. Roy Hoover meneliti pemakaian ungkapan “menganggap sesuatu sebagai ἁρπαγμός” dan menyimpulkan bahwa yang dimaksud ialah sesuatu yang sudah dimiliki tetapi tidak dipakai demi keuntungan diri.6 N. T. Wright mengikuti kesimpulan itu dan menambahkan bahwa justru karena Kristus ada dalam rupa Allah, penolakan-Nya untuk memanfaatkan kesetaraan itu menyingkapkan watak Allah sendiri.7

Gordon Fee, untuk kata kerja ἐκένωσεν, menekankan pemakaian metaforis: kata itu ditempatkan berlawanan dengan “kemuliaan yang sia-sia” (κενοδοξία) dalam ay. 3, dan berfungsi seperti metafora “menjadi miskin” dalam 2 Kor. 8:9.8

“to become powerless, or to be emptied of significance”9

Terjemahan bebas: menjadi tidak berdaya, atau dikosongkan dari kedudukan yang penting.

— Gordon D. Fee, tentang kata kerja κενόω dalam Flp. 2:7

Dunn menjadikan paralel Adam–Kristus sebagai kunci pembacaannya: Adam gagal karena ingin menjadi seperti Allah, sedangkan Kristus menolak merebut kesetaraan dengan Allah dan taat sampai mati.10 Wright memelihara tema Adam itu, tetapi tanpa menyingkirkan praeksistensi.11

Bagi kedua pokok Pelajaran ini, μορφην δούλου λαβών merupakan salah satu rumusan inkarnasi yang paling tajam dalam Perjanjian Baru. Pribadi yang sama yang ada dalam rupa Allah kini mengambil rupa hamba; subjek tindakan itu tidak berganti, dan kemanusiaan yang diambil-Nya bukan penampakan semu, sebab berujung pada kematian di salib. Dengan demikian Flp. 2:6–8 menyatukan keilahian yang sudah ada (ay. 6) dan inkarnasi yang nyata (ay. 7–8) dalam satu rangkaian tindakan.

Filipi 2:9–11 — Gerak Naik: Yes. 45:23

Setelah taat sampai mati di kayu salib, Allah meninggikan Dia dan menganugerahkan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya setiap lutut bertelut dan setiap lidah mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan. Bahasa ini menggemakan Yes. 45:23, di mana sumpah itu diucapkan oleh YHWH sendiri bahwa hanya kepada-Nyalah setiap lutut akan bertelut — kini pengakuan yang sama diarahkan kepada Yesus, kesaksian yang jelas tentang keilahian-Nya.

Struktur Flp. 2:10 memperkuat kesaksian ini. Teks Yunaninya berbunyi:

Teks Kunci — Flp. 2:10

ἵνα ἐν τῷ ὀνόματι Ἰησοῦ πᾶν γόνυ κάμψῃ ἐπουρανίων και ἐπιγείων και καταχθονίων

“supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi.”

Ketiga kata sifat substantif jamak netral ini mencerminkan kosmologi tiga tingkat yang lazim pada zaman itu:

Tiga tingkat dalam Flp. 2:10
ἐπουράνιος — yang di langit, tempat para malaikat dan kuasa-kuasa surgawi.
ἐπίγειος — yang di bumi, tempat manusia hidup, sekaligus tempat Kristus mengambil rupa manusia dalam inkarnasi-Nya.
καταχθόνιος — yang di bawah bumi, tempat/dunia orang mati.

Pengakuan universal yang mencakup seluruh tingkat ciptaan, termasuk kuasa-kuasa surgawi, dalam kerangka monoteisme Yahudi hanya layak ditujukan kepada Allah sendiri. Karena itu, penerapan bahasa Yes. 45:23 yang bersifat kosmis-universal ini kepada Yesus menjadi salah satu kesaksian paling jelas bahwa jemaat mula-mula memasukkan-Nya ke dalam identitas Allah Israel.

Roma

Roma membuka dengan pernyataan bahwa Injil Allah menyangkut Anak-Nya, yang menurut daging (σάρξ, menunjuk kemanusiaan-Nya yang nyata) adalah keturunan Daud, dan yang dalam kuasa ditetapkan sebagai Anak Allah sejak kebangkitan-Nya dari antara orang mati (Rm. 1:3–4). Ayat ini merangkum kedua pokok Pelajaran: kemanusiaan sejati Kristus (“menurut daging,” keturunan Daud) dan keilahian-Nya yang dinyatakan dalam kuasa melalui kebangkitan. Ungkapan “ditetapkan” tidak berarti bahwa Yesus baru menjadi Anak pada saat kebangkitan; yang ditegaskan ialah peninggian-Nya ke dalam kedudukan dan kuasa yang baru, sehingga pandangan adopsionisme tidak sesuai dengan teks ini.

Roma 8:3 menyatakan bahwa Allah mengutus Anak-Nya sendiri “dalam rupa daging yang berdosa” (ἐν ὁμοιώματι σαρκὸς ἁμαρτίας). Rumusan mengutus ini sejajar dengan Gal. 4:4 dan sekali lagi mengandaikan bahwa Anak sudah ada sebelum diutus. Kata ὁμοίωμα — yang juga muncul dalam Flp. 2:7 — menegaskan bahwa Kristus sungguh masuk ke dalam keberadaan manusia yang berada di bawah kuasa dosa, tanpa menjadi orang berdosa.

Paulus juga mengaitkan pengakuan “Yesus adalah Tuhan” (Rm. 10:9) dengan Yl. 2:32: “setiap orang yang berseru kepada nama Tuhan (YHWH) akan diselamatkan.” Kutipan itu diterapkan kepada Kristus dalam Rm. 10:13. Hal serupa tampak dalam 1 Kor. 1:2, yang menggambarkan jemaat sebagai mereka yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus. Berseru kepada nama YHWH adalah tindakan ibadah yang dalam Perjanjian Lama hanya ditujukan kepada Allah.

Roma 9:5 bahkan dapat dibaca sebagai doksologi (pemuliaan) yang ditujukan kepada Kristus sebagai “Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin!” Murray Harris, yang menelaah seluruh teks tempat θεός dikenakan kepada Yesus, menilai pembacaan ini sangat kuat.12 Ada penafsir yang menempatkan tanda baca sedemikian rupa sehingga doksologi itu ditujukan kepada Bapa, tetapi tata kalimat dan konteks Rm. 9:1–5 lebih condong kepada pemuliaan Yesus.13

Pola yang tampak

Dari rangkaian surat ini tampak satu pola: Paulus memperluas pengakuan Israel akan satu Allah sehingga Kristus termasuk di dalam identitas Allah itu, tanpa meninggalkan monoteisme. Teks-teks Perjanjian Lama tentang YHWH diterapkan kepada Yesus (Flp. 2:10–11; Yes. 45:23), sekaligus kemanusiaan-Nya yang sejati ditegaskan (Gal. 4:4; Rm. 1:3). Kristologi Paulus tentang keilahian dan inkarnasi Kristus bukan tambahan yang muncul belakangan; gagasan-gagasan pokoknya sudah hadir dalam surat-surat yang paling awal.

Catatan Kaki

6. Roy W. Hoover, “The Harpagmos Enigma: A Philological Solution,” Harvard Theological Review 64, no. 1 (1971): 95–119. ↩

7. Wright, Climax of the Covenant, 56–98. ↩

8. Gordon D. Fee, Paul’s Letter to the Philippians, New International Commentary on the New Testament (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1995), 211. ↩

9. Ibid. ↩

10. Dunn, Christology in the Making, 114–21. ↩

11. Wright, Climax of the Covenant, 56–98. ↩

12. Murray J. Harris, Jesus as God: The New Testament Use of Theos in Reference to Jesus (Grand Rapids, MI: Baker, 1992), 144–72. ↩

13. Bruce M. Metzger, A Textual Commentary on the Greek New Testament, 2nd ed. (Stuttgart: Deutsche Bibelgesellschaft, 1994), 459–62. ↩

3. Surat-surat Korintus dan Surat-surat Penggembalaan

Keilahian dan Inkarnasi Kristus dalam Surat-surat Korintus dan Surat-surat Penggembalaan

1 Korintus

Dalam 1 Korintus, pernyataan yang paling penting bagi pokok Pelajaran ini terdapat dalam 1 Kor. 8:6: bagi kita hanya ada satu Allah, yaitu Bapa, yang dari-Nya berasal segala sesuatu, dan satu Tuhan, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu dijadikan. Kalimat ini merumuskan ulang Shema (Ul. 6:4) dengan memasukkan Kristus sebagai Κύριος ke dalam pengakuan monoteistik itu, tanpa menambah jumlah Allah. Seruan Aram “Maranatha” pada 1 Kor. 16:22 juga menunjukkan bahwa Yesus sudah disembah dan diseru sebagai Tuhan sejak jemaat yang berbahasa Aram.

Dalam 1 Kor. 2:8, Yesus yang disalibkan disebut “Tuhan yang mulia” (τoν κύριον τῆς δόξης). Sebutan kemuliaan itu dalam Perjanjian Lama dikenakan kepada Allah (misalnya dalam sebutan “Raja kemuliaan” pada Mzm. 24:7–10).

2 Korintus

Dalam 2 Korintus, Kristus adalah gambar Allah, dan terang pengenalan akan kemuliaan Allah bersinar di wajah-Nya (2 Kor. 4:4–6).

Paulus, dalam 2 Kor. 8:9, menulis bahwa Kristus, walaupun kaya, oleh karena jemaat menjadi miskin (ἐπτώχευσεν). Kata kerja aorist itu menunjuk suatu peristiwa yang sudah terjadi dan mengandaikan keadaan “kaya” sebelumnya; dengan demikian ayat ini memuat praeksistensi dan inkarnasi sekaligus.  Fee membandingkan metafora “menjadi miskin” ini dengan “mengosongkan diri” dalam Flp. 2:7.14

Surat-surat Penggembalaan

Surat-surat penggembalaan memberi kesaksian yang jelas tentang inkarnasi. Nyanyian dalam 1 Tim. 3:16 mengumumkan Dia yang dinyatakan dalam rupa manusia (ἐν σαρκί, “di dalam daging”), dibenarkan dalam Roh, dan ditinggikan dalam kemuliaan — sebuah ringkasan yang bergerak dari inkarnasi menuju peninggian. Ada satu Allah dan satu pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus (1 Tim. 2:5), pernyataan yang menegaskan kemanusiaan Kristus yang sungguh-sungguh sekaligus keunikan-Nya sebagai satu-satunya pengantara. Kata ἐπιφάνεια, dalam 2 Timotius, dipakai bagi kedatangan Kristus yang pertama, yaitu inkarnasi-Nya.

Catatan Kritik Teks — 1 Tim. 3:16

Naskah-naskah memuat beberapa bacaan untuk kata pembuka nyanyian ini: ὅς (“yang/Dia yang”), ὅ (relatif netral), dan θεός (“Allah”). Bacaan ὅς umumnya dipandang paling mungkin asli, sehingga nyanyian itu dibuka dengan pronoun relatif seperti nyanyian dalam Flp. 2:6.

Kesaksian inkarnasi — ἐφανερώθη ἐν σαρκί, “dinyatakan dalam daging” — tidak bergantung pada bacaan θεός.

Lihat pembahasan varian ini dalam Metzger.15

Titus 2:13 patut mendapat perhatian khusus bagi pokok keilahian: “dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Yesus Kristus: Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita” (terjemahan gramatikal) frasa “τοῦ μεγάλου θεοῦ και σωτῆρος ἡμῶν” mempunyai satu artikel (τοῦ) yang digunakan bersama oleh dua kata benda (μεγάλου θεοῦ dan σωτῆρος), dan dengan mengingat aturan Granville Sharp, tata bahasa Yunani mendukung pembacaan bahwa kedua kata benda menunjuk kepada satu pribadi, yaitu Yesus Kristus — suatu pengakuan langsung akan keilahian-Nya.16 Harris menilai bahwa penerapan θεός kepada Yesus dalam Tit. 2:13 sangat kuat.17 Kesimpulan yang sama berlaku untuk 2 Pet. 1:1.

Catatan Kaki

14. Fee, Philippians, 211. ↩

15. Metzger, Textual Commentary, 573–74. ↩

16. Daniel B. Wallace, Greek Grammar Beyond the Basics: An Exegetical Syntax of the New Testament (Grand Rapids, MI: Zondervan, 1996), 270–90. ↩

17. Harris, Jesus as God, 173–85. ↩

4. Ibrani, Yakobus, Petrus, dan Yudas

Keilahian dan Inkarnasi Kristus dalam Ibrani, Yakobus, Petrus, dan Yudas

Ibrani

Ibrani dibuka dengan pernyataan bahwa Allah, yang dahulu berbicara melalui para nabi, pada zaman akhir ini telah berbicara melalui Anak. Anak itu adalah pewaris segala sesuatu, pencipta dunia, cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud-Nya, yang menopang segala sesuatu dengan firman-Nya yang penuh kuasa (Ibr. 1:1–4) — kesaksian keilahian yang eksplisit tentang Kristus sebagai pencipta dan penopang ciptaan. Dengan mengutip Mazmur, penulis menunjukkan bahwa Anak lebih tinggi daripada malaikat (Ibr. 1:5–14), dan lebih utama daripada Musa, karena Musa setia sebagai hamba di dalam rumah Allah sedangkan Kristus setia sebagai Anak atas rumah itu (Ibr. 3:1–6).

Sekaligus, Ibrani menegaskan kemanusiaan-Nya yang sejati: Ia turut merasakan kelemahan kita namun tidak berbuat dosa (Ibr. 4:15). Ia tetap sama, kemarin, hari ini, dan selama-lamanya (Ibr. 13:8), suatu pernyataan tentang kekekalan-Nya yang ilahi. Karena itu Kristologi Ibrani menegaskan keilahian dan kemanusiaan Kristus secara berdampingan (karya-Nya sebagai Imam Besar menurut peraturan Melkisedek akan dibahas dalam Pelajaran Soteriologi).

Beberapa teks Ibrani berikut menunjukkan kedua pokok itu berdampingan:

Teks penting dalam Ibrani
Ibr. 1:3 (ἀπαύγασμα τῆς δόξης και χαρακτηρ τῆς ὑποστάσεως)
Anak adalah pancaran kemuliaan Allah dan cetakan yang tepat dari hakikat-Nya (ὑπόστασις): Ia menyatakan Allah secara penuh.
Ibr. 1:8 (ὁ θρόνος σου ὁ θεός)
Mazmur 45:7–8 dikutip dan dikenakan kepada Anak: Ia dipanggil “Allah” dan takhta-Nya kekal.
Ibr. 1:10–12 (κατ᾽ ἀρχάς, κύριε)
Mazmur 102:26–28, yang dalam Perjanjian Lama ditujukan kepada YHWH sebagai Pencipta, di sini ditujukan kepada Anak sebagai Tuhan yang meletakkan dasar bumi.
Ibr. 2:14, 17 (κεκοινώνηκεν αἵματος καὶ σαρκός; ὁμοιωθῆναι)
Anak turut mengambil bagian dalam darah dan daging, dan harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya dalam segala hal: inkarnasi yang nyata.
Ibr. 5:7 (ἐν ταῖς ἡμέραις τῆς σαρκὸς αὐτοῦ)
“Pada masa hidup-Nya sebagai manusia”: Ia berdoa dengan ratap tangis dan mengalami kelemahan manusiawi.
Yakobus

Yakobus memperkenalkan dirinya sebagai hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus (Yak. 1:1), yaitu dengan menempatkan Yesus berdampingan dengan Allah sebagai pribadi yang sama-sama dilayani. Sebutan “Tuhan kita Yesus Kristus yang mulia” (Yak. 2:1) juga menggemakan bahasa keilahian dan kemuliaan yang dalam Perjanjian Lama dikenakan kepada YHWH.

Petrus

Dalam 1 Petrus, jemaat diminta menguduskan Kristus di dalam hati sebagai Tuhan (1 Pet. 3:15), suatu kalimat yang bergema dengan Yes. 8:13 tentang menguduskan YHWH — kesaksian keilahian yang jelas. Sesudah ditinggikan, segala kuasa takluk kepada-Nya (1 Pet. 3:22).

Dalam 2 Petrus, Kristus disebut τοῦ θεοῦ ἡμῶν και σωτῆρος “Allah dan Juruselamat kita” (2 Pet. 1:1), mengulangi konstruksi Granville Sharp yang sama seperti Titus 2:13. Penulis bersaksi sebagai saksi mata kemuliaan dan keagungan-Nya pada peristiwa di atas gunung, yaitu transfigurasi (2 Pet. 1:16–18), peristiwa yang menyingkapkan kemuliaan ilahi-Nya dalam rupa manusia.

Yudas

Yudas menyebut Yesus Kristus sebagai satu-satunya Penguasa dan Tuan kita (Yud. 4). Satu artikel dalam frasa “τoν μόνον δεσπότην και κύριον ἡμῶν” (satu-satunya Penguasa dan Tuhan kita) menaungi kedua sebutan itu, sehingga keduanya menunjuk kepada Yesus Kristus. Ayat 5 memiliki variasi naskah: sebagian naskah membaca “Tuhan”, sebagian “Allah”, dan sebagian lain “Yesus” sebagai pribadi yang menyelamatkan umat dari tanah Mesir. Bila bacaan “Yesus” dipilih, ayat ini menempatkan Kristus pada peristiwa keluaran dan menegaskan praeksistensi serta keilahian-Nya. Surat ini ditutup dengan doksologi kepada satu-satunya Allah, oleh Yesus Kristus, Tuhan kita (Yud. 25).

5. Kesatuan Kesaksian tentang Keilahian dan Inkarnasi Kristus

Bila kesaksian para penulis ini dibandingkan, tampak bahwa dua pokok yang sama muncul berulang kali dari berbagai sudut. Keilahian Kristus dinyatakan melalui penerapan gelar dan bahasa YHWH kepada-Nya (Flp. 2:10–11; Rm. 9:5; 1 Kor. 8:6; 1 Pet. 3:15), melalui peran-Nya sebagai pencipta dan penopang segala ciptaan (Kol. 1:15–17; Ibr. 1:2–3), dan melalui pernyataan langsung bahwa Ia adalah “Allah” (Tit. 2:13; 2 Pet. 1:1). Inkarnasi Kristus dinyatakan melalui kesaksian bahwa Anak Allah yang praeksisten lahir sebagai manusia (Gal. 4:4; Rm. 1:3; 1 Tim. 3:16), mengambil rupa hamba dan menjadi sama dengan manusia (Flp. 2:7), serta berdiam di dalam tubuh jasmani sepenuhnya sebagai Allah (Kol. 2:9).

Ringkasan teks kunci
Keilahian: gelar dan bahasa YHWH diterapkan kepada Kristus
Flp. 2:10–11; Rm. 9:5; 1 Kor. 8:6; 1 Pet. 3:15
Keilahian: pencipta dan penopang segala ciptaan
Kol. 1:15–17; Ibr. 1:2–3
Keilahian: pernyataan langsung bahwa Ia adalah “Allah”
Tit. 2:13; 2 Pet. 1:1
Inkarnasi: Anak Allah yang praeksisten lahir sebagai manusia
Gal. 4:4; Rm. 1:3; 1 Tim. 3:16
Inkarnasi: mengambil rupa hamba (μορφὴν δούλου), menjadi sama dengan manusia
Flp. 2:7
Inkarnasi: berdiam di dalam tubuh jasmani sepenuhnya sebagai Allah
Kol. 2:9

Keragaman gaya dan penekanan di antara para penulis ini tidak menghasilkan Kristus yang berbeda-beda, melainkan satu kesaksian bersama: Anak Allah yang ada sebelum segala sesuatu, sehakikat dengan Bapa, dan sungguh-sungguh menjadi manusia dalam sejarah.

6. Istilah Yunani Kunci

Daftar ini merangkum istilah Yunani yang paling sering menentukan penafsiran tentang keilahian dan inkarnasi Kristus dalam surat-surat.

Istilah Yunani kunci
Κύριος (1 Tes.; Flp. 2:11; 1 Kor. 8:6)
Dalam Septuaginta menerjemahkan nama YHWH; dikenakan kepada Yesus.
ἐξαπέστειλεν … γενόμενον (Gal. 4:4)
“Mengutus … yang lahir/menjadi”: Anak ada sebelum diutus dan kemudian menjadi manusia.
εἰκών (Kol. 1:15; 2 Kor. 4:4)
“Gambar”: Allah yang tidak kelihatan menjadi dikenal di dalam Kristus.
πρωτότοκος (Kol. 1:15)
“Sulung”: keutamaan dan kedaulatan atas ciptaan, bukan makhluk pertama.
πλήρωμα, θεότης, σωματικῶς (Kol. 1:19; 2:9)
Seluruh kepenuhan ke-Allahan berdiam di dalam Kristus secara jasmaniah.
μορφὴ θεοῦ (Flp. 2:6)
“Rupa Allah”: keadaan ilahi Kristus sebelum inkarnasi.
ἁρπαγμός (Flp. 2:6)
Sesuatu yang direbut atau, menurut banyak penafsir, dipakai demi keuntungan diri.
κενόω (Flp. 2:7)
“Mengosongkan”: tindakan merendahkan diri, dijelaskan oleh λαβών.
μορφὴν δούλου (Flp. 2:7)
“Rupa hamba”: Kristus sungguh mengambil kedudukan seorang hamba.
ὁμοίωμα (Flp. 2:7; Rm. 8:3)
“Keserupaan”: kemanusiaan yang sungguh, tanpa dosa.
σχῆμα (Flp. 2:8)
Penampilan lahiriah yang dikenali sebagai manusia.
σάρξ, ἐν σαρκί (Rm. 1:3; 1 Tim. 3:16)
“Daging”: kemanusiaan yang nyata.
ἐπιφάνεια (2 Tim. 1:10; Tit. 2:13)
“Penampakan”: kedatangan Kristus; dalam 2 Tim. 1:10 menunjuk inkarnasi.
ἀπαύγασμα, χαρακτήρ (Ibr. 1:3)
“Pancaran” kemuliaan dan “cetakan” hakikat Allah.
7. Penerapan bagi Kehidupan dan Pelayanan
Pertama — Keilahian Kristus

Kesaksian tentang keilahian Kristus membantu jemaat menjawab pertanyaan yang sering muncul, yaitu apakah kita menyembah lebih dari satu Tuhan. Dengan membaca 1 Kor. 8:6 dan Flp. 2:9–11 bersama Ul. 6:4 dan Yes. 45:23, jemaat dapat melihat bahwa Paulus tidak menambah Allah baru, melainkan memasukkan Kristus ke dalam identitas Allah yang esa. Pelayan perlu belajar menjelaskan hal ini dengan sederhana dan setia pada teks, tanpa jatuh ke dalam istilah yang membingungkan.

Kedua — Inkarnasi Kristus

Kesaksian tentang inkarnasi — bahwa Anak Allah sungguh-sungguh menjadi manusia, lahir dari perempuan, hidup di bawah hukum Taurat, dan turut merasakan kelemahan manusiawi — menjadi dasar bagi jemaat untuk yakin bahwa Kristus sungguh memahami pergumulan hidup mereka. Ia bukan pribadi ilahi yang jauh dan asing, melainkan Allah yang telah menjadi sama dengan kita, kecuali dalam hal dosa (Ibr. 4:15).

Ketiga — Dasar Tema Berikutnya

Kombinasi kedua kebenaran ini — keilahian penuh dan kemanusiaan penuh dalam satu pribadi — menjadi dasar bagi pembahasan tema-tema selanjutnya: karya keselamatan hanya dapat dikerjakan oleh pribadi yang sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia (Soteriologi), kepemimpinan-Nya atas jemaat hanya sah karena Ia adalah Kepala yang ilahi sekaligus Kepala yang telah menjadi manusia dan mengenal jemaat-Nya dari dalam (Ekklesiologi), dan pengharapan akan kedatangan-Nya kembali hanya berarti karena Dialah Allah yang setia yang telah datang sekali dan akan datang lagi (Eskhatologi).

Keempat — Kerendahan Hati dalam Pelayanan

Konteks Flp. 2:1–5 menjadikan gerak turun Kristus sebagai teladan sikap hati bagi jemaat. Karena Ia yang ada dalam rupa Allah mengambil rupa hamba (Flp. 2:6–7), para pelayan tidak dapat menjadikan kedudukan atau gelar pelayanan sebagai sesuatu yang harus dipertahankan; kepemimpinan dalam jemaat dijalankan sebagai pelayanan hamba, dengan Kristus sebagai ukurannya.

Penutup

Kristus adalah Anak Allah yang sehakikat dengan Bapa dan yang sungguh-sungguh menjadi manusia dalam sejarah. Dua kebenaran ini — keilahian dan inkarnasi-Nya — berdiri sebagai fondasi bagi seluruh pengajaran Perjanjian Baru mengenai Dia. Karya keselamatan yang Ia kerjakan, kedudukan-Nya sebagai Kepala jemaat, dan pengharapan akan kedatangan-Nya kembali semuanya bertumpu pada pengakuan bahwa Kristus yang berkarya dan yang akan datang itu adalah Allah yang telah menjadi manusia. Tema-tema ini akan dibahas berturut-turut dalam Pelajaran Soteriologi, Ekklesiologi, dan Eskhatologi.

Daftar Pustaka

Bauckham, Richard. Jesus and the God of Israel: God Crucified and Other Studies on the New Testament’s Christology of Divine Identity. Grand Rapids, MI: Eerdmans, 2008.

Dunn, James D. G. Christology in the Making: An Inquiry into the Origins of the Doctrine of the Incarnation. 2nd ed. London: SCM, 1989.

Fee, Gordon D. Paul’s Letter to the Philippians. New International Commentary on the New Testament. Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1995.

Harris, Murray J. Jesus as God: The New Testament Use of Theos in Reference to Jesus. Grand Rapids, MI: Baker, 1992.

Hoover, Roy W. “The Harpagmos Enigma: A Philological Solution.” Harvard Theological Review 64, no. 1 (1971): 95–119.

Hurtado, Larry W. Lord Jesus Christ: Devotion to Jesus in Earliest Christianity. Grand Rapids, MI: Eerdmans, 2003.

Ladd, George Eldon. A Theology of the New Testament. Rev. ed. Edited by Donald A. Hagner. Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1993.

Metzger, Bruce M. A Textual Commentary on the Greek New Testament. 2nd ed. Stuttgart: Deutsche Bibelgesellschaft, 1994.

Schreiner, Thomas R. New Testament Theology: Magnifying God in Christ. Grand Rapids, MI: Baker Academic, 2008.

Wallace, Daniel B. Greek Grammar Beyond the Basics: An Exegetical Syntax of the New Testament. Grand Rapids, MI: Zondervan, 1996.

Wright, N. T. The Climax of the Covenant: Christ and the Law in Pauline Theology. Minneapolis: Fortress, 1992.

Bahan Kuliah Teologi Perjanjian Baru 2 (DTh-137.206) · Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

xpb1-04

STT Kalimantan
S1 Teologi & S1 Pendidikan Agama Kristen

Eksposisi Perjanjian Baru 1

Matius · Markus · Lukas · Yohanes · Kisah Para Rasul
PERTEMUAN 4
Pengantar Lukas (62–63 M) & Kisah Para Rasul (62–63 M)

📌 Topik Pertemuan
Lukas–Kisah Para Rasul sebagai Satu Karya Dua Jilid: dari Injil untuk Kaum Marginal hingga Kelahiran Gereja

📖 Perikop Fokus
Lukas 1:1–4; 4:16–30
Kisah 1:1–11; 2:1–13

🧭 Posisi dalam Kurikulum

Pertemuan ini menandai peralihan dari Markus (Injil tertua) ke Lukas–Kisah sebagai karya historis-teologis yang paling sadar historiografi dalam Perjanjian Baru. Mahasiswa diharapkan telah memahami karakteristik Markus (narasi cepat, Messianic Secret, jalan salib) sebagai dasar untuk melihat bagaimana Lukas memanfaatkan dan mengembangkan tradisi Markus sambil menambahkan penekanan teologis yang khas.

I. Kerangka Krono-Teologis Lukas–Kisah ▾

Lukas–Kisah ditulis sebagai satu karya dua jilid (a two-volume work). Prolog Kisah 1:1 secara eksplisit merujuk kembali kepada “kitab yang pertama” (τὸν μὲν πρῶτον λόγον). Estimasi penulisan 62–63 M didasarkan pada fakta bahwa Kisah berakhir dengan Paulus di Roma tanpa menyebutkan kematian Paulus (64–67 M) maupun Kebakaran Roma (64 M).

Posisi Lukas–Kisah dalam urutan krono-teologis:

Markus — 60–61 M
Injil tertua; konteks Roma
✦ Lukas — 62–63 M
Tidak mencatat peristiwa 64 M
✦ Kisah Para Rasul — 62–63 M
Berakhir sebelum kematian Paulus

II. Identitas Penulis dan Tujuan Penulisan ▾

A. Lukas si Dokter

Tradisi gereja perdana (Irenaeus, Eusebius, Kanon Muratori) mengidentifikasi penulis sebagai Lukas, rekan seperjalanan Paulus (Kol. 4:14; Flm. 24; 2 Tim. 4:11).1 Gaya Yunani yang literer dan ketelitian historiografi mendukung identitas ini.

Klaim bahwa kosakata medis dalam Lukas–Kisah membuktikan profesi dokter penulisnya—diajukan pertama kali oleh W. K. Hobart—telah dibantah secara meyakinkan oleh Henry J. Cadbury, yang menunjukkan bahwa istilah-istilah tersebut lazim dipakai oleh penulis Yunani terpelajar pada umumnya, bukan eksklusif kalangan medis.2 Identitas Lukas sebagai “tabib yang kekasih” (Kol. 4:14) karenanya tetap berdasar pada kesaksian eksternal, bukan bukti internal kosakata.

B. Tujuan Teologis

Lukas menulis untuk Teofilus (dan pembaca Gentil yang lebih luas) agar “mengenal dengan pasti” (ἐπιγνῷς … τὴν ἀσφάλειαν) ajaran yang telah diterimanya (Luk. 1:4). Tujuan utamanya adalah menunjukkan kesinambungan rencana Allah dari Israel ke gereja Gentil melalui kuasa Roh Kudus.

C. Mengapa Lukas Dianggap Penulis Kedua Kitab Ini

Argumentasi kepenulisan tunggal Lukas atas Injil dan Kisah bertumpu pada gabungan bukti eksternal dan internal berikut:

1. Kesaksian Patristik Eksternal
Irenaeus, Kanon Muratori, dan Eusebius secara konsisten dan tanpa perselisihan menyebut nama Lukas sebagai penulis kedua kitab ini—kesepakatan tradisi yang jarang ditemukan seragam untuk karya anonim Perjanjian Baru lainnya.1
2. Kesatuan Sastra Dua Jilid
Kedua kitab dialamatkan kepada penerima yang sama, Teofilus (Luk. 1:3; Kis. 1:1), dengan Kisah 1:1 secara eksplisit merujuk kembali kepada “kitab yang pertama” (τὸν μὲν πρῶτον λόγον)—pengait sastra yang menempatkan kedua kitab sebagai satu proyek penulisan berkelanjutan, bukan dua karya independen yang kebetulan disatukan kemudian.
3. Kesatuan Gaya dan Kosakata
Analisis statistik kosakata dan gaya sintaksis oleh Henry J. Cadbury dan Adolf von Harnack menunjukkan tingkat kemiripan linguistik yang tinggi antara Injil Lukas dan Kisah Para Rasul, konsisten dengan satu tangan penulis yang sama di kedua jilid.
4. Bagian “Kami” (We-Passages)
Pada empat rangkaian narasi Kisah (16:10–17; 20:5–15; 21:1–18; 27:1–28:16), sudut pandang narasi tiba-tiba beralih dari orang ketiga (“mereka”) menjadi orang pertama jamak (“kami”)—menandakan bahwa penulis sendiri turut serta sebagai saksi mata dalam tahap-tahap tertentu perjalanan misi Paulus. Colin Hemer menilai perubahan sudut pandang ini sebagai indikator kesaksian langsung yang paling kuat bagi identitas penulis sebagai rekan seperjalanan Paulus.3

Sorotan Eksegetis: Kisah 16:10 — Kemunculan Pertama “Kami”

TB: “Setelah Paulus melihat penglihatan itu, segeralah kami mencari kesempatan untuk berangkat ke Makedonia, karena dari penglihatan itu kami menarik kesimpulan, bahwa Allah telah memanggil kami untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di sana.”

SBLGNT: ὡς δὲ τὸ ὅραμα εἶδεν, εὐθέως ἐζητήσαμεν ἐξελθεῖν εἰς Μακεδονίαν, συμβιβάζοντες ὅτι προσκέκληται ἡμᾶς ὁ θεὸς εὐαγγελίσασθαι αὐτούς.

Ayat ini menyusul penglihatan Paulus tentang seorang Makedonia yang memohon pertolongan (16:9). Pergeseran kata ganti dari orang ketiga—dipakai sepanjang 16:1–8 untuk kelompok Paulus, Silas, dan Timotius—menjadi orang pertama jamak (ἐζητήσαμεν, “kami mencari”; ἡμᾶς, “kami”) terjadi tepat di titik ini, di kota Troas, tanpa penjelasan atau perkenalan tokoh baru—pola yang konsisten berulang di keempat we-passages.

Secara geografis-teologis, ayat ini menandai titik balik penting: Injil menyeberang dari Asia ke Eropa (Makedonia) untuk pertama kalinya, menggenapi pola ekspansi Kisah 1:8 secara konkret.

Terdapat dua pembacaan ilmiah utama atas fenomena ini:

Pandangan kesaksian mata (Hemer, F. F. Bruce, Fitzmyer): pergeseran kata ganti mencerminkan penulis benar-benar bergabung dengan rombongan Paulus di Troas sebagai pendamping perjalanan.
Pandangan konvensi sastra (Vernon K. Robbins): gaya “kami” dalam narasi pelayaran laut adalah konvensi genre Yunani-Romawi kuno untuk kisah perjalanan laut, dipakai secara stilistik tanpa harus menandakan kehadiran penulis sebagai saksi mata langsung.4

Mayoritas sarjana injili—dan tidak sedikit sarjana kritis—tetap condong pada pembacaan pertama, karena pola “muncul-menghilang”-nya “kami” bertepatan persis dengan kehadiran-ketidakhadiran seorang pendamping tertentu dalam perjalanan Paulus, pola yang sulit dijelaskan semata sebagai konvensi genre.

5. Argumen dari Proses Eliminasi
Sejumlah rekan seperjalanan Paulus yang disebutkan namanya dalam surat-surat Paulus (Silas, Timotius, Titus, Markus, Aristarkhus, dan lain-lain) justru dirujuk sebagai tokoh pihak ketiga di dalam narasi Kisah itu sendiri, sehingga secara logis tersingkir sebagai kandidat penulis “kami”. Joseph Fitzmyer menunjukkan bahwa dari daftar pendamping Paulus yang tidak disebut dalam narasi orang ketiga, Lukas adalah kandidat yang paling konsisten dengan kesaksian patristik dan dengan pola kemunculan-menghilangnya tokoh dalam we-passages.5

III. Karakteristik Unik Lukas ▾
🤲 Kaum Marginal
Perhatian khusus kepada perempuan, orang miskin, pemungut cukai, orang Samaria, dan orang berdosa.
🕊 Roh Kudus
Peran Roh Kudus yang jauh lebih menonjol dibandingkan Injil manapun.
🌍 Keselamatan Universal
Keselamatan (sōtēria) yang terbuka bagi semua bangsa, bukan hanya Israel.
🛤 Struktur Perjalanan
Yesus “menetapkan wajah-Nya untuk pergi ke Yerusalem” (9:51) sebagai poros teologis narasi.

IV. Struktur Kisah Para Rasul ▾
Gereja di Yerusalem — pasal 1–7
Kelahiran gereja & kesaksian Petrus
Transisi ke Gentil — pasal 8–12
Filipus, Paulus, Petrus & Kornelius
Misi Paulus — pasal 13–28
Dari Antiokhia hingga Roma
Catatan: F. F. Bruce menunjukkan bahwa Kisah 1:8—”kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi”—berfungsi sebagai kerangka geografis-programatik yang membentuk seluruh struktur kitab ini.8

V. Analisis Tekstual Fokus ▾

A. Lukas 1:1–4 — Prolog Historiografis

Lukas secara sadar menempatkan karyanya dalam tradisi historiografi Yunani-Romawi, mirip gaya pembuka karya Tukidides atau Polybius. Ia mengklaim telah “menyelidiki segala sesuatu dengan seksama dari asal-usulnya” (παρηκολουθηκότι ἄνωθεν πᾶσιν ἀκριβῶς). Loveday Alexander menunjukkan bahwa struktur dan kosakata prolog ini paling dekat dengan konvensi kata pengantar karya-karya ilmiah teknis Yunani (risalah medis, teknis, ilmiah), bukan historiografi sastra tinggi—sebuah nuansa yang memperhalus, bukan menghapuskan, klaim historiografis Lukas.6

B. Lukas 4:16–30 — Manifesto Nazaret

Yesus membaca Yesaya 61:1–2 di rumah ibadat Nazaret dan menyatakan penggenapannya “pada hari ini” (4:21). Penolakan yang menyusul menjadi prototipe penolakan Israel sekaligus pembukaan pintu keselamatan bagi bangsa-bangsa lain—preseden yang Lukas rujuk lewat kisah Elia dan Elisa yang melayani orang bukan Israel (4:25–27).

Hans Conzelmann menempatkan perikop ini sebagai “program” (Programm) yang membingkai seluruh pelayanan Yesus dalam Lukas, sekaligus menandai awal skema geografis tiga-babak (Galilea → perjalanan ke Yerusalem → Yerusalem) yang menjadi ciri struktural khas Injil ini.7

C. Kisah 1:1–11 & 2:1–13 — Kenaikan dan Pentakosta

Kenaikan dan Pentakosta membentuk jembatan teologis: Yesus naik ke sorga (1:9–11) → Roh Kudus turun atas jemaat (2:1–4) → gereja lahir dan mulai bersaksi sampai ke ujung bumi. Janji Yesus di 1:8 secara langsung digenapi dalam peristiwa Pentakosta, menjadikan kedua perikop ini sebagai engsel naratif antara jilid pertama (Injil) dan jilid kedua (Kisah) dari karya Lukas.

VI. Rencana Tatap Muka (150 Menit) ▾
20 menit
Konteks historis Lukas & tujuan teologis Lukas–Kisah sebagai satu narasi
50 menit
Eksegesis Lukas 1:1–4 & 4:16–30
50 menit
Eksegesis Kisah 1:1–11 & 2:1–13
30 menit
Diskusi kesinambungan Lukas–Kisah

VII. Penugasan ▾

Tugas Terstruktur

1. Identifikasi minimal delapan cerita atau perumpamaan yang hanya terdapat di Lukas (Sondergut Lukas).

2. Buat peta garis besar struktur Kisah Para Rasul (pasal 1–28) beserta tema tiap bagian.

3. Daftar keempat rangkaian we-passages dalam Kisah Para Rasul beserta referensi ayatnya, lalu jelaskan mengapa perubahan sudut pandang tersebut dianggap bukti kesaksian mata sang penulis.

Tugas Mandiri (Pilih Satu)

A — S1 Teologi
Bagaimana Lukas memakai materi Markus dan menambahkan materi unik? Lakukan analisis redaksional singkat.
B — S1 PAK
Mengapa Lukas menulis dua jilid sebagai satu narasi berkelanjutan? Refleksikan implikasinya bagi pengajaran sejarah gereja.

Catatan Kaki

1 Irenaeus, Adversus Haereses III.1.1; Eusebius dari Kaisarea, Historia Ecclesiastica III.4.6, ed. Kirsopp Lake, Loeb Classical Library (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1926).

2 W. K. Hobart, The Medical Language of St. Luke (Dublin: Hodges, Figgis, & Co., 1882); disanggah oleh Henry J. Cadbury, The Style and Literary Method of Luke, Harvard Theological Studies 6 (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1920), 39–72.

3 Colin J. Hemer, The Book of Acts in the Setting of Hellenistic History, ed. Conrad H. Gempf, WUNT 49 (Tübingen: J. C. B. Mohr, 1989), 312–34.

4 Vernon K. Robbins, “By Land and By Sea: The We-Passages and Ancient Sea Voyages,” dalam Perspectives on Luke-Acts, ed. Charles H. Talbert (Danville, VA: Association of Baptist Professors of Religion, 1978), 215–42.

5 Joseph A. Fitzmyer, The Gospel According to Luke I–IX, Anchor Bible 28 (New York: Doubleday, 1981), 35–53.

6 Loveday Alexander, The Preface to Luke’s Gospel: Literary Convention and Social Context in Luke 1.1–4 and Acts 1.1, SNTS Monograph Series 78 (Cambridge: Cambridge University Press, 1993), 101–48.

7 Hans Conzelmann, The Theology of St. Luke, terj. Geoffrey Buswell (Philadelphia: Fortress Press, 1961), 31–37.

8 F. F. Bruce, The Book of Acts, New International Commentary on the New Testament, rev. ed. (Grand Rapids: Eerdmans, 1988), 30–33.

STT Kalimantan · EKS-2101 Eksposisi Perjanjian Baru 1 · Pertemuan 4 · slug: xpb1-04