bi-04

BAHAN AJAR • PERTEMUAN 4
📚 Pengenalan Struktur Judul dan Subjudul, Gaya Kutipan dan Kepustakaan

⬅️ Kembali ke Silabus

A. 📜 Struktur Judul dan Subjudul
Struktur yang Digunakan STT Kalimantan

Topik: Pengenalan gaya kutipan di bidang teologi/PAK dan teknik kutipan Turabian dengan Zotero.

Struktur judul dan subjudul ini bertujuan untuk mengorganisasi isi tulisan menjadi hierarki yang jelas, sehingga pembaca dapat dengan mudah mengikuti alur argumen Anda dari poin umum hingga detail spesifik. Sistem ini berfungsi seperti peta jalan bagi tulisan Anda.

Cheat Sheet 7 Level Judul/Subjudul
Level 1
Rata tengah • 14 pt • Tebal
Judul bab.
Level 2
Rata tengah • 12 pt • Tebal
Judul utama.
Level 3
Rata tengah • 12 pt • Normal
Judul utama.
Level 4
Rata kiri • 12 pt • Tebal
Subjudul terperinci.
Level 5
Rata kiri • 12 pt • Normal
Subjudul terperinci.
Level 6
Rata kiri • Tebal
Run-in heading (menyatu dengan paragraf).
Level 7
Rata kiri • Normal
Run-in heading (menyatu dengan paragraf).

Level 6 dan Level 7 disebut juga “run-in headings” karena menyatu dengan paragraf, menandakan poin yang sangat spesifik dan merupakan pengantar langsung untuk kalimat pertama paragraf. Sistem ini sangat efisien dan ideal untuk pembahasan yang sangat detail, seperti dalam sebuah tesis atau disertasi.

Contoh Praktis Berdasarkan Kaidah STT Kalimantan
BAB 1: METODOLOGI PENELITIAN KUALITATIF
Pendekatan Fenomenologi dalam Penelitian Teologi

Fenomenologi adalah salah satu pendekatan kualitatif yang kuat dalam studi teologi dan kehidupan bergereja. Pendekatan ini berfokus pada pengalaman subjektif dan kesadaran manusia, berusaha memahami esensi dari sebuah fenomena. Fenomenologi, dalam konteks teologi, dapat digunakan untuk mengeksplorasi pengalaman spiritual, pemahaman jemaat akan doktrin, atau dampak sebuah ritual ibadah terhadap kehidupan iman mereka.

Dasar Teoretis dan Filsafat

Pendekatan fenomenologi berakar pada filsafat Edmund Husserl, yang berargumen bahwa realitas yang kita alami bukanlah realitas objektif itu sendiri, melainkan sebuah realitas yang dipahami dan diinterpretasi oleh kesadaran kita. Hal ini menuntut peneliti untuk menyingkirkan asumsi dan prasangka pribadi agar dapat masuk ke dalam pengalaman partisipan.

Konsep Lebenswelt (Dunia Kehidupan)

Konsep kunci dalam fenomenologi adalah Lebenswelt, atau “dunia kehidupan.” Ini merujuk pada dunia yang dialami oleh seseorang secara langsung, dengan segala makna dan interpretasi yang melekat padanya. Lebenswelt seorang jemaat dapat mencakup cara mereka mengalami kehadiran Tuhan dalam doa pribadi, bagaimana mereka memahami khotbah, atau makna yang mereka berikan pada ritual perjamuan kudus. Memahami Lebenswelt ini adalah tujuan utama dari penelitian fenomenologi.

Metode Pengumpulan Data

Peneliti fenomenologi, dalam upaya untuk mengungkap Lebenswelt partisipan, menggunakan metode yang memungkinkan ekspresi pengalaman yang mendalam. Wawancara mendalam menjadi metode utama karena ia memberikan ruang bagi partisipan untuk menceritakan pengalaman mereka dengan kata-kata mereka sendiri.

Wawancara sebagai Instrumen Utama. Wawancara mendalam digunakan untuk mengumpulkan data kualitatif yang kaya. Peneliti akan membuat serangkaian pertanyaan terbuka yang mendorong partisipan untuk bercerita, bukan sekadar menjawab “ya” atau “tidak”. Pertanyaan-pertanyaan ini akan berfokus pada pengalaman spesifik terkait fenomena yang diteliti.

Proses Transkripsi dan Analisis Awal. Setiap wawancara harus direkam dan ditranskripsikan secara teliti. Transkrip ini menjadi data mentah yang akan dianalisis. Analisis awal dilakukan dengan membaca berulang kali untuk mendapatkan gambaran umum dan merasakan “jiwa” dari pengalaman partisipan, sebelum masuk ke tahap analisis yang lebih mendalam.

Struktur Alfanumerik (Referensi Turabian)

Struktur judul dan subjudul alfanumerik dalam gaya Turabian berfungsi sebagai sistem pengorganisasian yang sangat presisi, ideal untuk dokumen yang panjang dan detail. Sistem ini memungkinkan Anda untuk merujuk ke setiap bagian dengan nomor atau huruf yang spesifik, seperti “I.A.1.a.(i).(a)”. Contoh:

I. PENDAHULUAN: LATAR BELAKANG MASALAH
A. Konsep Teologi Praktis
B. Metodologi Penelitian
1. Jenis Penelitian Kualitatif
2. Populasi dan Sampel
a. Karakteristik Jemaat
b. Pemilihan Partisipan
(i) Kelompok Senior
(ii) Kelompok Pemuda
⚠️ KETENTUAN STT KALIMANTAN
STT Kalimantan menetapkan penggunaan struktur judul dan subjudul TANPA penomoran alfanumerik.
B. 🔖 Mengapa Kutipan Penting dalam Tulisan Akademik?

Dalam penulisan ilmiah, mengutip sumber adalah cerminan integritas akademik. Ini bukan hanya masalah mengikuti aturan, melainkan juga menunjukkan bahwa argumen kita memiliki dasar yang kuat dan dapat diverifikasi. Di bidang teologi dan PAK, hal ini sangat vital untuk menghindari penafsiran yang salah dan memberikan penghormatan pada pemikir-pemikir sebelumnya.

Perbandingan Beberapa Gaya Kutipan di Bidang Teologi/PAK

Dalam dunia akademik, integritas sebuah tulisan sangat bergantung pada ketepatan kutipan. Di bidang teologi dan Pendidikan Agama Kristen (PAK), ada beberapa gaya kutipan yang sering digunakan, masing-masing dengan karakteristik dan kegunaan spesifik. Memahami perbedaan ini penting agar mahasiswa dapat memilih format yang paling sesuai dengan jenis tulisan mereka.

Turabian Notes and Bibliography

Turabian adalah gaya kutipan yang paling umum dan menjadi standar di banyak sekolah tinggi teologi dan seminari. Gaya ini ideal untuk tulisan panjang seperti tesis, disertasi, dan artikel teologis karena memungkinkan penulis memberikan referensi dan komentar tambahan melalui catatan kaki atau catatan akhir tanpa mengganggu alur bacaan utama. Format ini sangat dihargai karena kemampuannya dalam menyajikan detail bibliografi yang kaya dan mudah diakses oleh pembaca.

Gaya Kutipan Lainnya

Pemahaman terhadap berbagai gaya kutipan sangat penting dalam penulisan ilmiah di bidang teologi dan Pendidikan Agama Kristen (PAK). Setiap gaya memiliki karakteristik unik yang dirancang untuk kebutuhan disiplin ilmu tertentu. Berikut adalah penjelasan lebih detail mengenai beberapa gaya kutipan yang relevan.

📕 Gaya Kutipan dan Kepustakaan SBL (Society of Biblical Literature)

Gaya ini memiliki fokus yang sangat spesifik untuk studi Biblika dan teks kuno. Aturan ketatnya memastikan presisi dalam referensi, yang sangat krusial dalam analisis teks-teks Alkitab. Berbeda dengan gaya lain, SBL menggunakan banyak singkatan untuk kitab-kitab dalam Alkitab, gulungan kuno, atau seri publikasi, sehingga referensi menjadi padat namun jelas bagi para ahli. Gaya ini ideal untuk disertasi atau jurnal yang membahas eksegesis, tafsiran, atau teologi biblika.

Contoh Catatan Kaki (SBL)

1 Robert Alter, The Art of Biblical Narrative (rev. ed.; New York: Basic Books, 2011), 10.

2 P. W. Skehan, E. Ulrich, and P. J. Parsons, The Qumran Cave 4 Manuscripts: Palaeo-Hebrew and Nabatean Biblical Scrolls (DJD 14; Oxford: Clarendon, 1995), 180.

3 Craig S. Keener, The Gospel of John: A Commentary (2 vols.; Peabody, Mass.: Hendrickson, 2003), 1:250.

4 Peder Borgen, “The Gospel of John: Some Theological and Historical Considerations,” in The Cambridge Companion to the Gospel of John, ed. Jo-Ann A. Brant, Charles A. P. L. Seggelen, and C. A. P. L. Seggelen (Cambridge: Cambridge University Press, 2011), 47.

5 Mark 14:1–2 (NIV).

Kepustakaan dalam gaya SBL disusun secara alfabetis berdasarkan nama belakang penulis. Perhatikan formatnya yang sangat spesifik, terutama untuk buku dan artikel jurnal.

Alter, Robert. The Art of Biblical Narrative. Rev. ed. New York: Basic Books, 2011.

Borgen, Peder. “The Gospel of John: Some Theological and Historical Considerations.” Pages 47–68 in The Cambridge Companion to the Gospel of John. Edited by Jo-Ann A. Brant. Cambridge: Cambridge University Press, 2011.

Keener, Craig S. The Gospel of John: A Commentary. 2 vols. Peabody, Mass.: Hendrickson, 2003.

Skehan, P. W., E. Ulrich, and P. J. Parsons. The Qumran Cave 4 Manuscripts: Palaeo-Hebrew and Nabatean Biblical Scrolls. DJD 14. Oxford: Clarendon, 1995.

The Holy Bible, New International Version. Grand Rapids: Zondervan, 1984.

📕 Gaya Kutipan dan Kepustakaan APA (American Psychological Association)

Gaya ini lazim digunakan di bidang ilmu sosial, seperti pendidikan, psikologi, dan sosiologi. Kekuatan utamanya adalah efisiensi, yang sangat cocok untuk penelitian yang berfokus pada data. APA menggunakan kutipan dalam teks dengan format (Penulis, Tahun), yang memudahkan pembaca untuk segera melacak sumber dan melihat seberapa terkini referensi yang digunakan. Contohnya, (Bandura, 1977), yang mengacu pada sumber dari tahun 1977. Gaya ini sering dipakai dalam tulisan PAK yang berfokus pada metode pengajaran atau psikologi pastoral.

Contoh Kutipan dalam Teks (APA)

1. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa intervensi pastoral memiliki dampak signifikan pada kesehatan mental (Sihombing, 2023).

2. Konsep pembelajaran sosial awalnya dikembangkan oleh Bandura (1977).

3. Menurut O’Connell (2022), teori perkembangan moral Kristen berakar pada ajaran Alkitab.

4. Hubungan antara spiritualitas dan kesejahteraan psikologis telah didokumentasikan dengan baik (Hanoch & Simanjuntak, 2024).

5. Keterampilan komunikasi yang efektif sangat penting dalam konseling pastoral (Waes, 2023).

Bandura, A. (1977). Social learning theory. Prentice Hall.

Hanoch, P., & Simanjuntak, L. (2024). Integrasi spiritualitas dan kesejahteraan psikologis dalam pelayanan. Penerbit STT Kalimantan.

O’Connell, E. (2022). Christian moral development. Zondervan Academic.

Sihombing, E. (2023). Metode pembelajaran inklusif di gereja. Jurnal Pendidikan Kristen Teologi, 5(2), 78–92.

Waes, H. (2023). Komunikasi efektif dalam konseling pastoral. Bina Media.

📕 Gaya Kutipan Chicago Author-Date

Gaya ini mirip dengan APA dan juga menggunakan kutipan dalam teks dengan format (Penulis, Tahun). Perbedaan utamanya terletak pada detail format di kepustakaan. Chicago Author-Date sering digunakan dalam penelitian sosial-teologi dan disiplin ilmu lain yang berfokus pada data empiris. Gaya ini diprioritaskan untuk penyajian data secara lugas dan meminimalisir gangguan visual dari catatan kaki.

Contoh Kutipan dalam Teks (Chicago Author-Date)

1. Sosiolog berpendapat bahwa modernitas telah mengubah struktur keluarga (Waes 2023).

2. Gagasan tentang keadilan sosial merupakan tema sentral dalam teologi kontemporer (Hanoch 2024).

3. Tafsiran kitab-kitab sejarah membutuhkan pemahaman konteks yang mendalam (Sihombing 2023).

4. Studi tentang keragaman jemaat telah menjadi topik yang semakin relevan (Simanjuntak 2024).

5. Implikasi teologis dari teknologi digital terus menjadi bahan diskusi dalam gereja (Lumbantobing 2024).

Kepustakaan dalam gaya ini mirip dengan APA. Perbedaannya terletak pada urutan informasi, terutama format tahun yang ditempatkan di akhir nama penulis.

Hanoch, Paskalis. 2024. Pneumatologi: Kuasa Roh Kudus dalam Pelayanan. Palangka Raya: Penerbit STT Kalimantan.

Lumbantobing, Aris. 2024. Implikasi Teologis Teknologi Digital. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Sihombing, Elizabeth. 2023. “Metode Pembelajaran Inklusif di Gereja.” Jurnal Pendidikan Kristen Teologi 5, no. 2: 78–92.

Simanjuntak, Lisa. 2024. Studi tentang Keragaman Jemaat. Medan: Penerbit Pustaka.

Waes, Herman. 2023. Kajian Teologi Injil: Doktrin Keselamatan. Jakarta: Bina Media.

C. 📕 Mengenal Lebih Dekat Turabian Notes and Bibliography

Turabian memiliki format unik yang membedakannya secara jelas. Gaya ini menawarkan fleksibilitas dengan tiga pilihan utama untuk kutipan: catatan kaki, catatan akhir, dan catatan perut.

Catatan Kaki (Footnote)

Catatan kaki adalah kutipan yang diletakkan di bagian bawah halaman tempat referensi dikutip. Ini adalah metode yang paling sering digunakan karena memungkinkan pembaca melihat sumber referensi tanpa perlu membolak-balik halaman.

Catatan Kaki — Kutipan Lengkap (Pertama Kali)

1. Herman Waes, Kajian Teologi Injil: Doktrin Keselamatan (Jakarta: Bina Media, 2023), 55.

2. Paskalis Hanoch, Pneumatologi: Kuasa Roh Kudus dalam Pelayanan (Palangka Raya: Penerbit STT Kalimantan, 2024), 125.

3. Elizabeth Sihombing, “Metode Pembelajaran Inklusif di Gereja,” Jurnal Pendidikan Kristen Teologi 5, no. 2 (2023): 85.

4. Ronald S. Waes, Analisis Teks Narasi Alkitab: Teori dan Praktik (Bandung: Penerbit Remaja Rosdakarya, 2022), 78.

5. Lisa Simanjuntak, “Dampak Pelayanan Diakonia terhadap Kesejahteraan Sosial Jemaat,” Jurnal Teologi Indonesia 10, no. 1 (2024): 42.

Catatan Kaki — Kutipan Singkat (Berikutnya)

6. Waes, Kajian Teologi, 60.

7. Hanoch, Pneumatologi, 130.

8. Sihombing, “Metode Pembelajaran,” 88.

9. Waes, Analisis Teks, 80.

10. Simanjuntak, “Dampak Pelayanan,” 45.

Kepustakaan (Turabian Notes and Bibliography)

Kepustakaan berisi semua sumber yang telah dikutip dalam tulisan dan disusun secara alfabetis berdasarkan nama belakang penulis. Perhatikan formatnya yang berbeda dengan catatan kaki.

Hanoch, Paskalis. Pneumatologi: Kuasa Roh Kudus dalam Pelayanan. Palangka Raya: Penerbit STT Kalimantan, 2024.

Sihombing, Elizabeth. “Metode Pembelajaran Inklusif di Gereja.” Jurnal Pendidikan Kristen Teologi 5, no. 2 (2023): 78–92.

Simanjuntak, Lisa. “Dampak Pelayanan Diakonia terhadap Kesejahteraan Sosial Jemaat.” Jurnal Teologi Indonesia 10, no. 1 (2024): 40–55.

Waes, Herman. Kajian Teologi Injil: Doktrin Keselamatan. Jakarta: Bina Media, 2023.

Waes, Ronald S. Analisis Teks Narasi Alkitab: Teori dan Praktik. Bandung: Penerbit Remaja Rosdakarya, 2022.

Catatan Akhir (Endnote)

Sama seperti catatan kaki, tetapi semua kutipan diletakkan di akhir tulisan (sebelum kepustakaan). Gaya ini mengurangi gangguan visual di setiap halaman, tetapi mungkin kurang praktis bagi pembaca yang ingin segera memeriksa sumber.

Catatan Perut (Parenthetical Citation)

Ini adalah bentuk Turabian yang jarang digunakan dalam teologi tetapi perlu diketahui. Mirip dengan gaya APA, kutipan langsung diletakkan di dalam teks. Contoh: (Waes 2023, 55).

Menguasai gaya Turabian Notes and Bibliography sangat krusial karena merupakan prasyarat untuk menulis secara kredibel di dunia akademik teologi dan PAK.

⚠️ KETENTUAN STT KALIMANTAN
STT Kalimantan menetapkan penggunaan Catatan Kaki dalam setiap karya tulis ilmiah — jadi tidak menggunakan Catatan Akhir ataupun Catatan Perut.
D. 📝 Latihan
Petunjuk
  1. Mahasiswa dibagi menjadi kelompok kecil.
  2. Setiap kelompok akan mengerjakan dua tugas: Tugas 1 — buat kutipan lengkap (untuk catatan kaki pertama) dan kutipan singkat (untuk catatan kaki selanjutnya) dari dua sumber di bawah; Tugas 2 — tuliskan kepustakaan (Bibliography) dari kedua sumber tersebut.
Sumber Latihan
📕 1. Sumber Teologi
Penulis
Dr. Paskalis Hanoch
Judul Buku
Pneumatologi: Kuasa Roh Kudus dalam Pelayanan
Kota
Palangka Raya
Penerbit
Penerbit STT Kalimantan
Tahun
2024
Halaman yang Dikutip
125
📕 2. Sumber PAK
Penulis
Elizabeth Sihombing
Judul Artikel
“Metode Pembelajaran Inklusif di Gereja”
Judul Jurnal
Jurnal Pendidikan Kristen Teologi
Volume
5
Nomor
2
Tahun
2023
Halaman Artikel
78–92
Halaman yang Dikutip
85
E. 💻 Praktik Catatan Kaki dan Kepustakaan dengan Aplikasi Zotero
1. Instalasi dan Pengenalan Fitur Dasar

Tahap awal dalam menggunakan Zotero adalah melakukan instalasi perangkat lunak. Mahasiswa mengunduh dan memasang Zotero Standalone di komputer, serta Zotero Connector pada peramban web (seperti Chrome atau Firefox). Zotero Connector ini sangat penting karena berfungsi sebagai jembatan yang memungkinkan mahasiswa menyimpan informasi referensi dari situs web secara langsung ke perpustakaan Zotero.

Setelah terpasang, pelajari fitur-fitur dasar Zotero, yaitu perpustakaan (library), koleksi (collections), dan item. Perpustakaan adalah tempat semua referensi tersimpan, sedangkan koleksi berfungsi seperti folder untuk mengorganisasi referensi berdasarkan topik atau tugas.

2. Manajemen Referensi Gaya Turabian

Selanjutnya, masukkan data referensi secara manual ke dalam Zotero. Latihan ini akan membantu memahami pentingnya akurasi metadata. Masukkan informasi dari Sumber Teologi dan Sumber PAK yang telah disediakan sebelumnya. Saat memasukkan data, pilih tipe item yang sesuai, seperti “Book” untuk buku teologi dan “Journal Article” untuk artikel PAK. Setiap kolom metadata — mulai dari judul, nama penulis, penerbit, hingga tahun — harus diisi dengan teliti. Akurasi data ini akan sangat menentukan kualitas kutipan dan kepustakaan yang dihasilkan secara otomatis oleh Zotero.

3. Membuat Kutipan Otomatis

Bagian ini adalah inti dari sesi praktik. Buka dokumen di Microsoft Word atau Google Docs untuk mengenal cara kerja plugin Zotero. Pertama, pilih gaya kutipan, yaitu “Turabian 9th edition (notes and bibliography, subsequent ibid)”. Pilihan ini sangat penting karena spesifik dengan kebutuhan penulisan teologi.

Setelah gaya terpilih, sisipkan catatan kaki dengan cara: letakkan kursor di akhir kalimat yang ingin dikutip, klik tombol Zotero di menu toolbar, dan pilih sumber yang telah dimasukkan sebelumnya. Zotero akan secara otomatis membuat kutipan lengkap. Selanjutnya, Zotero juga dapat membuat kutipan singkat yang efisien, termasuk penggunaan ibid. saat sumber yang sama dikutip berturut-turut. Latihan ini akan sangat membantu mahasiswa memahami betapa Zotero menyederhanakan proses penulisan ilmiah.

⬅️ Kembali ke Silabus