Pertanyaan Pendalaman dan Studi Kasus Teologis
Pdt. D. Horatius Herman, M.Th.
A. Pertanyaan Pemahaman Teks dan Tata Bahasa (1–8)
Dalam Gal. 4:6, Roh disebut τὸ πνεῦμα τοῦ υἱοῦ αὐτοῦ (“Roh Anak-Nya”) yang berseru “Abba, ya Bapa” di dalam hati orang percaya. Jelaskan mengapa penyebutan ini penting bagi hubungan antara karya Roh dan karya Kristus, dan apa makna kata κρᾶζον (“berseru”) bagi pemahaman Roh sebagai pribadi yang aktif, bukan kekuatan pasif.
Jelaskan mengapa kata καρπός (“buah”, tunggal) dalam Gal. 5:22–23 penting secara tata bahasa, dan bagaimana hal ini berbeda dari anggapan bahwa kesembilan sifat dalam daftar itu adalah karunia-karunia terpisah yang dapat dipilih sebagian.
Uraikan makna kata majemuk συμμαρτυρεῖ (Rm. 8:16) dan ὑπερεντυγχάνει (Rm. 8:26). Jelaskan bagaimana kedua kata ini menggambarkan Roh sebagai pribadi yang aktif bersaksi dan berdoa syafaat, bukan sekadar kekuatan yang mendiami orang percaya.
Jelaskan makna ἀπαρχὴ τοῦ πνεύματος (Rm. 8:23) sebagai gambaran pertanian, dan bagaimana gambaran ini berkaitan dengan pola “sudah, tetapi belum” dalam karya Roh menurut penekanan Gordon Fee.
Bandingkan makna χάρισμα dalam 1 Kor. 12:4–7 dengan prinsip πρὸς τὸ συμφέρον (“untuk kepentingan bersama”) dalam ay. 7. Jelaskan mengapa prinsip ini menjadi ukuran penting bagi setiap penggunaan karunia rohani dalam jemaat.
Jelaskan makna gambaran ἀρραβών (“uang muka, jaminan”) dalam 2 Kor. 1:22; 5:5; dan Ef. 1:14, dan bagaimana istilah dagang ini menjelaskan hubungan antara kehadiran Roh pada masa kini dan penggenapan keselamatan penuh pada masa depan.
Uraikan dua kemungkinan pembacaan Yak. 4:5 — apakah τὸ πνεῦμα menunjuk pada roh manusia atau pada Roh Kudus. Jelaskan bagaimana masing-masing pembacaan memengaruhi makna keseluruhan ayat ini.
Jelaskan makna kata φερόμενοι (2 Pet. 1:21, “digerakkan/dibawa”) sebagai gambaran bagi karya Roh dalam menghasilkan nubuat dan Kitab Suci. Mengapa gambaran ini penting bagi pemahaman tentang asal-usul ilahi Alkitab?
B. Pertanyaan Diskusi Antarpakar (9–12)
Jelaskan tesis James Dunn bahwa penerimaan Roh Kudus adalah “pengalaman yang menentukan dan menjadi puncak dalam peristiwa pertobatan-inisiasi”, dan bagaimana 1 Kor. 12:13 (“dalam satu Roh kita semua … telah dibaptis menjadi satu tubuh”) dapat dipakai untuk mendukung pandangan itu.
Uraikan perbedaan penekanan antara pandangan Dunn tentang penerimaan Roh yang satu tahap dan pandangan Pentakostal klasik tentang “baptisan dalam Roh Kudus” sebagai pengalaman kedua. Sebutkan sekurang-kurangnya satu teks dari bahan Pertemuan 3 yang relevan bagi masing-masing posisi.
Jelaskan penekanan Gordon Fee bahwa Roh bagi Paulus adalah kenyataan yang “dialami” (experienced) dan berdimensi “eskatologis”. Terapkan penekanan ini pada penafsiran Rm. 8:23 tentang “buah sulung Roh”.
Bandingkan posisi D. A. Carson dalam Showing the Spirit dengan posisi B. B. Warfield dalam Counterfeit Miracles mengenai kelanjutan karunia-karunia ajaib. Jelaskan mengapa Carson menempatkan kasih (1 Kor. 13) sebagai ukuran yang melampaui perdebatan continuationism–cessationism itu sendiri.
C. Pertanyaan Sintesis Antarsurat (13–16)
Telusuri bagaimana gambaran “meterai” (Ef. 1:13), “jaminan” (2 Kor. 1:22; 5:5; Ef. 1:14), dan “buah sulung” (Rm. 8:23) bersama-sama menegaskan bahwa kehadiran Roh pada masa kini adalah jaminan bagi penggenapan keselamatan penuh yang akan datang.
Bandingkan peringatan “jangan mendukakan Roh” (Ef. 4:30), “jangan padamkan Roh” (1 Tes. 5:19), dan peringatan keras dalam Ibr. 6:4–6 dan 10:29 tentang mereka yang telah “mendapat bagian dalam Roh Kudus”. Jelaskan bagaimana ketiga teks itu bersama-sama menegaskan bahwa Roh Kudus adalah pribadi yang dapat diperlakukan dengan hormat atau dengan penghinaan.
Uraikan bagaimana 1 Kor. 12:4–13 dan Ef. 4:3–4 masing-masing menghubungkan karunia dan kesatuan Roh dengan kesatuan tubuh Kristus. Mengapa keragaman karunia tidak boleh menjadi alasan bagi perpecahan jemaat menurut kedua teks ini?
Bandingkan cara Paulus (Rm. 8:9), Petrus (1 Pet. 1:11), dan Yudas (Yud. 19) masing-masing menyebut hubungan antara Roh Kudus dan Kristus, dan antara kehadiran atau ketiadaan Roh dengan status kerohanian seseorang.
D. Pertanyaan Refleksi dan Penerapan (17–20)
Jelaskan bagaimana Anda akan menjelaskan kepada jemaat awam kesaksian Roh (Rm. 8:16) sebagai dasar kepastian keselamatan, tanpa membuat kepastian itu semata bergantung pada pengalaman emosional yang berubah-ubah.
Uraikan bagaimana penekanan pada “buah Roh” (Gal. 5:22–23) sebagai satu buah yang utuh dapat menjadi koreksi bagi jemaat yang cenderung menilai kerohanian seseorang semata dari karunia-karunia yang tampak mencolok.
Rancanglah sebuah penjelasan pastoral tentang bagaimana menyeimbangkan semangat menghargai karunia Roh (1 Tes. 5:19–21) dengan kewaspadaan terhadap penyalahgunaan klaim rohani dalam jemaat.
Jelaskan bagaimana pengajaran tentang Roh sebagai “jaminan warisan” (Ef. 1:14) dapat menjadi penghiburan pastoral bagi jemaat yang sedang menghadapi penderitaan atau ketidakpastian hidup, dengan merujuk juga pada 1 Pet. 4:14 tentang “Roh kemuliaan” yang ada pada mereka yang dinista karena Kristus.
Studi Kasus Teologis (1–5)
Dalam sebuah persekutuan antargereja, muncul perdebatan antara jemaat yang meyakini bahwa “baptisan dalam Roh Kudus” adalah pengalaman kedua yang menyusul pertobatan, ditandai dengan karunia bahasa lidah, dan jemaat lain yang meyakini bahwa Roh Kudus diterima sepenuhnya pada saat seseorang percaya kepada Kristus.
Tugas diskusi:
- Gunakan Gal. 3:2–5 dan 1 Kor. 12:13 untuk menjelaskan argumen bahwa penerimaan Roh terjadi pada saat percaya, bukan sebagai pengalaman lanjutan.
- Jelaskan tesis James Dunn tentang penerimaan Roh sebagai unsur pusat pertobatan-inisiasi, dan bagaimana pandangan itu berbeda dari pandangan Pentakostal klasik.
- Rumuskan bagaimana Anda akan memandu diskusi ini agar kedua kelompok tetap saling menghormati tanpa mengorbankan kejujuran terhadap perbedaan penafsiran yang ada.
Seorang anggota jemaat yang memiliki karunia bernubuat mulai bersikap merendahkan anggota jemaat lain yang menurutnya “kurang rohani” karena tidak memiliki karunia yang sama. Sikapnya mulai menimbulkan perpecahan dalam kelompok sel.
Tugas diskusi:
- Gunakan 1 Kor. 12:7 (πρὸς τὸ συμφέρον) dan pasal 13 tentang kasih sebagai “jalan yang lebih utama” untuk menjelaskan tujuan sejati karunia rohani.
- Jelaskan bagaimana buah Roh (Gal. 5:22–23), khususnya kelemahlembutan (πραΰτης), seharusnya menyertai penggunaan karunia apa pun.
- Rancanglah langkah pastoral konkret untuk menegur sikap ini tanpa meniadakan karunia yang sungguh diberikan Allah kepada orang tersebut.
Seorang jemaat baru merasa minder dan enggan berdoa di depan umum karena merasa doanya tidak cukup fasih atau rohani dibandingkan anggota jemaat lain yang sudah lama percaya.
Tugas diskusi:
- Gunakan Rm. 8:26 (“Roh membantu kita dalam kelemahan kita … Roh sendiri berdoa untuk kita dengan keluhan yang tidak terucapkan”) untuk menjelaskan bahwa Roh menolong justru dalam kelemahan doa manusia.
- Diskusikan bagaimana Rm. 8:34 (Kristus juga menjadi pengantara) dapat memperkuat penghiburan ini, sehingga jemaat tidak semata bergantung pada kefasihan kata-kata sendiri.
- Rumuskan bagaimana Anda akan mendampingi jemaat ini agar bertumbuh dalam kehidupan doa tanpa rasa minder.
Seorang jemaat yang mengalami penganiayaan sosial karena imannya mulai berpikir bahwa penderitaan itu adalah tanda bahwa Allah dan Roh-Nya telah meninggalkannya, sebab menurutnya orang yang benar-benar penuh Roh seharusnya hidup dalam damai dan tidak mengalami kesulitan.
Tugas diskusi:
- Gunakan 1 Pet. 4:14 (“jika kamu dinista karena nama Kristus, berbahagialah kamu, sebab Roh kemuliaan … ada padamu”) untuk membalikkan anggapan ini.
- Jelaskan bagaimana konteks penganiayaan yang dihadapi pembaca asli 1 Petrus memberi latar bagi penghiburan ini, dan bagaimana hal itu relevan bagi konteks jemaat masa kini yang menghadapi tekanan sosial.
- Diskusikan bagaimana Anda akan menyampaikan penghiburan ini tanpa meremehkan rasa sakit yang sungguh dialami jemaat tersebut.
Seorang anggota majelis membuat keputusan penting bagi jemaat dengan alasan “Roh telah berkata” kepadanya secara pribadi, tanpa membuka ruang diskusi atau pengujian bersama, sehingga menimbulkan keresahan di antara majelis lain.
Tugas diskusi:
- Gunakan 1 Tes. 5:19–21 (“jangan padamkan Roh, jangan anggap rendah nubuat, tetapi ujilah segala sesuatu”) untuk merumuskan prinsip pengujian klaim rohani semacam ini.
- Jelaskan bagaimana prinsip πρὸς τὸ συμφέρον (1 Kor. 12:7) dan kesatuan tubuh (Ef. 4:3–4) relevan bagi cara keputusan semacam ini seharusnya diambil dalam kepemimpinan jemaat.
- Rancanglah sebuah mekanisme sederhana bagi majelis untuk menguji dan mempertimbangkan klaim tuntunan rohani secara sehat dan bertanggung jawab bersama.