Pertanyaan Pendalaman dan Studi Kasus Teologis
Pdt. D. Horatius Herman, M.Th.
A. Pertanyaan Pemahaman Teks dan Tata Bahasa (1–8)
Dalam Gal. 2:16, kata δικαιόω muncul tiga kali dan frasa πίστις Χριστοῦ juga tiga kali. Jelaskan mengapa klausa καὶ ἡμεῖς εἰς Χριστὸν Ἰησοῦν ἐπιστεύσαμεν (“kami pun percaya kepada Kristus Yesus”) dalam ayat yang sama menjadi bukti penting bahwa iman manusia tetap menjadi sarana penerimaan pembenaran, sekalipun πίστις Χριστοῦ dibaca sebagai “kesetiaan Kristus”.
Jelaskan tiga gambaran yang bertumpuk dalam Rm. 3:21–26 (pengadilan, pasar budak, dan ibadah) dan bagaimana masing-masing gambaran tampak dalam kata δικαιούμενοι, ἀπολύτρωσις, dan ἱλαστήριον.
Uraikan tiga kemungkinan makna ἱλαστήριον (propitiation, expiation, tutup pendamaian) dan jelaskan mengapa konteks Rm. 1:18–3:20 penting untuk memutuskan di antara ketiganya.
Dalam Rm. 4:25, Paulus menghubungkan kematian dan kebangkitan Kristus dengan pembenaran (διὰ τὴν δικαίωσιν ἡμῶν). Jelaskan mengapa kebangkitan bukan sekadar tanda kemenangan, melainkan bagian dari karya yang membenarkan.
Bandingkan gambaran korban dalam 2 Kor. 5:21 (“dibuat menjadi dosa”) dengan gambaran kemenangan dalam Kol. 2:14–15 (“dilucuti” dan “diarak dalam kemenangan”). Jelaskan apa yang ditekankan masing-masing gambaran tentang karya Kristus di kayu salib.
Jelaskan makna ἀντίλυτρον dalam 1 Tim. 2:6 sebagai kata majemuk yang menggabungkan gagasan tebusan dan pengganti. Mengapa kata ini secara ringkas merangkum dua gambaran soteriologi yang berbeda dalam satu istilah?
Dalam Ibr. 9:22, penulis menyatakan χωρὶς αἱματεκχυσίας οὐ γίνεται ἄφεσις (“tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan”). Jelaskan bagaimana kata ἐφάπαξ/ἅπαξ yang berulang dalam Ibrani (7:27; 9:12, 26–28; 10:10) menegaskan kecukupan korban Kristus dibandingkan korban-korban Perjanjian Lama.
Jelaskan mengapa David Peterson menekankan bahwa makna τελειόω (“menyempurnakan”) dalam Ibrani ditentukan oleh konteks dan objeknya, bukan oleh satu makna baku. Terapkan penjelasan itu pada perbedaan pemakaian kata itu dalam Ibr. 2:10 dan 10:14.
B. Pertanyaan Diskusi Antarpakar (9–12)
Jelaskan tesis Krister Stendahl tentang “hati nurani yang kokoh” (robust conscience) Paulus, dan bagaimana Flp. 3:2–11 dapat dibaca sebagai bukti pendukung sekaligus sebagai teks yang tetap menegaskan pembenaran oleh iman, bukan oleh Taurat.
Uraikan perbedaan antara pembacaan tradisional dan pembacaan Dunn/Wright atas frasa “perbuatan hukum Taurat” (ἔργα νόμου) dalam Gal. 2:16. Mengapa pernyataan universal πᾶσα σάρξ (“semua orang”) dalam ayat yang sama menjadi keberatan terhadap pembacaan yang membatasi ἔργα νόμου hanya pada tanda pengenal umat Yahudi?
Bandingkan kesimpulan C. H. Dodd dan Leon Morris tentang makna rumpun kata ἱλάσκεσθαι. Jelaskan mengapa keduanya dapat dipertemukan dalam pembacaan yang memuat baik penghapusan dosa maupun peredaan murka Allah.
Jelaskan tiga tipe pemahaman penebusan menurut Gustaf Aulén (klasik, Latin, subjektif), dan tunjukkan teks mana dari bahan Pertemuan 2 yang paling sesuai dengan masing-masing tipe.
C. Pertanyaan Sintesis Antarsurat (13–16)
Telusuri bagaimana gambaran “pendamaian” (καταλλαγή) muncul dalam Rm. 5:10–11, 2 Kor. 5:18–20, dan Ef. 2:14–16. Jelaskan bagaimana ketiga teks itu bersama-sama menunjukkan bahwa pendamaian dengan Allah menghasilkan pendamaian antarmanusia.
Bandingkan cara Paulus (Rm. 6:3–11), penulis Ibrani (Ibr. 10:10, 14), dan Petrus (1 Pet. 1:18–19) masing-masing menghubungkan kematian Kristus dengan perubahan status dan hidup baru orang percaya.
Uraikan hubungan antara Yak. 2:14–26 dan ajaran Paulus tentang pembenaran oleh iman (mis. Gal. 2:16; Rm. 3:28). Jelaskan tiga jalan yang lazim ditempuh untuk memahami hubungan kedua penulis ini, dan jelaskan mengapa Gal. 5:6 (“iman yang bekerja oleh kasih”) relevan bagi diskusi ini.
Bandingkan Rm. 8:30 (rangkaian dipanggil, dibenarkan, dimuliakan) dengan Ibr. 6:9–12 dan Yud. 21, 24 tentang pemeliharaan Allah dan ketekunan orang percaya. Jelaskan bagaimana kepastian karya Allah dan tanggung jawab manusia untuk bertekun dapat dipegang bersama tanpa saling meniadakan.
D. Pertanyaan Refleksi dan Penerapan (17–20)
Jelaskan mengapa Ef. 2:8–10 penting untuk menjaga jemaat dari dua kekeliruan sekaligus: legalisme (perbuatan sebagai syarat diterima Allah) dan antinomianisme (anugerah sebagai izin hidup sembarangan).
Uraikan bagaimana gambaran “pelayanan pendamaian” dalam 2 Kor. 5:18–20 dapat membentuk pemahaman jemaat tentang panggilan gereja di tengah masyarakat yang terpecah oleh konflik sosial atau keagamaan.
Jelaskan bagaimana Anda akan menjelaskan kepada jemaat awam perbedaan antara iman yang “mati” (Yak. 2:17, 26) dan iman yang menyelamatkan menurut Paulus, tanpa membuat jemaat merasa bahwa keselamatan mereka bergantung pada banyaknya perbuatan baik.
Rancanglah sebuah penjelasan sederhana tentang mengapa kematian Kristus perlu dilukiskan dengan banyak gambaran (korban, tebusan, pendamaian, kemenangan) dan bukan hanya satu gambaran saja, untuk disampaikan kepada jemaat yang berlatar belakang berbeda-beda.
Studi Kasus Teologis (1–5)
Seorang anggota jemaat muda merasa tidak perlu lagi berusaha hidup kudus atau melayani karena, menurutnya, ia “sudah diselamatkan oleh iman, bukan oleh perbuatan” (mengutip Ef. 2:8–9). Sikapnya mulai memengaruhi teman-teman sebayanya di kelompok pemuda.
Tugas diskusi:
- Gunakan Ef. 2:10 dan Tit. 3:8 untuk menjelaskan tempat perbuatan baik yang benar dalam kerangka keselamatan oleh anugerah.
- Diskusikan bagaimana Yak. 2:14–26 dapat menjadi peringatan yang tepat bagi sikap ini tanpa mengubah dasar keselamatan dari anugerah menjadi perbuatan.
- Rumuskan bagaimana Anda akan membimbing pemuda ini dan kelompoknya agar memahami hubungan iman dan perbuatan secara seimbang.
Dalam sebuah kelas Alkitab, seorang peserta mempertanyakan bagaimana mungkin Allah yang penuh kasih (1 Yoh. 4:8) juga digambarkan sebagai Allah yang murka dan perlu “diredakan” melalui kematian Kristus (Rm. 3:25). Ia merasa gambaran murka itu membuat Allah tampak kejam.
Tugas diskusi:
- Jelaskan perdebatan Dodd dan Morris tentang ἱλαστήριον, dan bagaimana pemahaman yang memuat baik penghapusan dosa maupun penanganan murka Allah dapat menjawab keberatan ini.
- Gunakan Rm. 5:8 (“Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa”) untuk menjelaskan bahwa inisiatif kasih Allah sendirilah yang menyediakan jalan penyelesaian murka itu.
- Diskusikan bagaimana menjelaskan hubungan antara kasih dan murka Allah kepada jemaat tanpa membuat salah satu sifat itu tampak meniadakan yang lain.
Seorang jemaat yang berasal dari latar belakang kepercayaan tradisional yang kuat pada kuasa roh dan ilmu hitam datang kepada gembala dengan ketakutan besar akan kutuk dan kuasa jahat yang, menurutnya, masih mengikat keluarganya meskipun ia sudah percaya kepada Kristus.
Tugas diskusi:
- Gunakan Kol. 2:14–15 dan Ibr. 2:14–15 untuk menjelaskan bahwa Kristus telah melucuti dan mengalahkan kuasa-kuasa yang menindas manusia, termasuk kuasa maut dan ketakutan akan kuasa jahat.
- Jelaskan tipe “klasik” (Christus Victor) menurut Aulén dan bagaimana gambaran kemenangan ini relevan secara pastoral bagi konteks budaya jemaat tersebut, dibandingkan gambaran pengadilan atau korban semata.
- Rancanglah pendampingan pastoral singkat yang memadukan penjelasan teologis ini dengan penguatan iman praktis bagi jemaat tersebut.
Seorang jemaat lanjut usia gelisah menjelang akhir hidupnya, khawatir bahwa dosa-dosa masa lalunya yang belum sepenuhnya “ia perbaiki” dapat menghalangi keselamatannya, meskipun ia telah lama percaya kepada Kristus.
Tugas diskusi:
- Gunakan Rm. 8:1 (“tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus”) dan Rm. 8:30 untuk menjelaskan dasar kepastian keselamatan yang berakar pada karya dan tujuan Allah, bukan pada kesempurnaan usaha manusia.
- Diskusikan bagaimana Ibr. 10:10, 14 (“oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya”) dapat menjadi penghiburan bagi jemaat yang merasa tidak layak.
- Jelaskan bagaimana Anda akan menyeimbangkan penghiburan ini dengan peringatan Ibrani (6:4–8; 10:26–31) tentang pentingnya bertekun, tanpa menambah kecemasan jemaat tersebut.
Sebuah jemaat gabungan yang terdiri dari dua kelompok etnis berbeda mengalami ketegangan sosial yang berkepanjangan, saling curiga dan enggan melayani bersama, meskipun keduanya sama-sama mengaku percaya kepada Kristus.
Tugas diskusi:
- Gunakan Ef. 2:14–16 (Kristus “meruntuhkan dinding pemisah” dan mendamaikan dua kelompok menjadi satu tubuh) sebagai dasar teologis untuk mendorong rekonsiliasi.
- Jelaskan bagaimana “pelayanan pendamaian” dalam 2 Kor. 5:18–20 menempatkan gereja sebagai duta Kristus yang dipanggil mempraktikkan pendamaian, bukan hanya mengajarkannya.
- Rancanglah langkah konkret yang dapat diambil gembala dan majelis untuk menerapkan teologi pendamaian ini dalam mempertemukan kedua kelompok tersebut.