Teologi Perjanjian Baru II
Pdt. D. Horaius Herman, M.Th.
Pendahuluan
Pertemuan 1 menjawab pertanyaan tentang siapa Kristus menurut surat-surat Perjanjian Baru: Anak Allah yang sehakikat dengan Bapa dan yang sungguh-sungguh menjadi manusia. Pertemuan ini bertolak dari jawaban itu untuk menanyakan apa yang dikerjakan-Nya bagi manusia yang berdosa, dan bagaimana karya itu sampai kepada orang yang percaya. Pertanyaan pokoknya ialah bagaimana manusia diselamatkan menurut Paulus dan para penulis surat-surat umum, dan apa dasar keselamatan itu dalam kematian dan kebangkitan Kristus.
Soteriologi (dari σωτηρία, “keselamatan”) dalam surat-surat Perjanjian Baru tidak menyajikan satu teori tunggal. Para penulis memakai banyak gambaran — pengadilan, korban, pasar budak, perdamaian, kemenangan, perjanjian, dan pengangkatan sebagai anak — yang masing-masing menerangi sisi yang berbeda dari satu karya yang sama. Karena itu Pelajaran ini membatasi diri pada dua pokok, yaitu karya Kristus, yakni apa yang terjadi dalam kematian dan kebangkitan-Nya, serta penerapan karya itu, yakni bagaimana orang berdosa dibenarkan, didamaikan, dan dipersatukan dengan Kristus melalui iman.
| Dua pokok Pelajaran ini |
|---|
| Karya Kristus Kematian dan kebangkitan Kristus sebagai dasar keselamatan: korban bagi dosa, penebusan, pendamaian, dan kemenangan atas kuasa dosa dan maut. |
| Penerapan karya Kristus Pembenaran oleh iman, pendamaian dengan Allah, hidup di dalam Kristus, dan buah keselamatan dalam kehidupan orang percaya. |
Setiap pokok ditelusuri melalui tiga kelompok surat: Galatia dan Roma, tempat pembenaran oleh iman dirumuskan paling tajam; surat-surat Korintus, surat-surat penjara, Tesalonika, dan surat-surat penggembalaan, tempat gambaran salib, pendamaian, dan kemenangan Kristus diperkaya; serta Ibrani, Yakobus, 1–2 Petrus, dan Yudas, tempat keselamatan dibahas dari sudut korban, iman yang hidup, dan pemeliharaan Allah. Dengan cara ini kesatuan sekaligus keragaman kesaksian Perjanjian Baru tentang keselamatan dapat terlihat.
1. Latar Diskusi Para Pakar
Diskusi modern tentang soteriologi Paulus banyak dipengaruhi oleh tafsir Reformasi, yang membaca surat-surat Paulus terutama sebagai jawaban atas pertanyaan bagaimana orang berdosa dibenarkan di hadapan Allah, dan yang memandang Yudaisme pada zaman Paulus sebagai agama yang mencari keselamatan melalui perbuatan. Pandangan ini dipertanyakan dalam beberapa langkah.
Pada 1963 Krister Stendahl berargumen bahwa pembacaan Barat yang berpusat pada hati nurani yang tertekan oleh dosa lebih mencerminkan pengalaman Agustinus dan Luther daripada pengalaman Paulus, yang menurutnya memiliki hati nurani yang kokoh (“robust conscience”). Ajaran tentang pembenaran oleh iman, menurut Stendahl, terutama menjawab persoalan tempat orang bukan-Yahudi di dalam umat perjanjian Allah.1
E. P. Sanders kemudian membandingkan Paulus dengan literatur Yudaisme Palestina dan menyimpulkan bahwa Yudaisme itu bukan agama pencarian jasa, melainkan “covenantal nomism”: tempat seseorang dalam rencana Allah ditetapkan atas dasar perjanjian, sedangkan ketaatan pada Taurat merupakan tanggapan yang tepat, dengan sarana pendamaian bagi pelanggaran.2 Sanders memakai istilah “pola agama” untuk cara sebuah agama memahami bagaimana orang masuk dan bagaimana ia tetap berada di dalamnya:
“getting in and staying in”3
Terjemahan bebas: masuk dan tetap berada.
— E. P. Sanders, Paul and Palestinian Judaism, 17–18
Bagi Paulus, kata Sanders, keselamatan terletak pada “berada di dalam Kristus”, suatu pola yang ia sebut participationist eschatology (eskatologi partisipasi).4
James Dunn, yang memperkenalkan istilah “perspektif baru tentang Paulus” dalam kuliah tahun 1982, menegaskan bahwa “perbuatan hukum Taurat” (ἔργα νόμου) terutama menunjuk pada sunat, hari Sabat, dan hukum makanan, yaitu tanda pengenal yang membedakan orang Yahudi dari bangsa lain.5 Wright melangkah lebih jauh dengan menempatkan pembenaran dalam kerangka keanggotaan umat perjanjian:
“how you could tell who was in”6
Terjemahan bebas: bagaimana orang dapat mengenali siapa yang termasuk.
— N. T. Wright, What Saint Paul Really Said, 119
Menurut Wright, dalam bahasa teologi baku pembenaran dengan demikian lebih bersifat eklesiologis daripada soteriologis.
Tanggapan atas pandangan Sanders datang dari berbagai arah. Dua jilid Justification and Variegated Nomism menunjukkan bahwa pendekatan terhadap Taurat dalam literatur Yudaisme Bait Allah Kedua jauh lebih beragam daripada satu rumus “covenantal nomism”, sehingga penafsir Paulus dibebaskan dari latar belakang yang terlalu sempit; para editornya menegaskan bahwa hal ini tidak berarti bahwa bacaan-bacaan “perspektif baru” otomatis keliru.7 Stephen Westerholm membela pembacaan “Lutheran” terhadap Paulus dan menjawab para pengritiknya.8
Perbedaan juga tampak dalam penerjemahan πίστις Χριστοῦ (Gal. 2:16; Rm. 3:22): “iman kepada Kristus” (genitif objektif) atau “iman/kesetiaan Kristus” (genitif subjektif). Richard Hays membela pembacaan subjektif dalam kerangka kisah tentang Kristus, dan edisi kedua bukunya memuat dialog dengan Dunn.9 Kumpulan esai yang disunting Bird dan Sprinkle merangkum perdebatan itu.10
Dalam pokok penebusan, diskusi berkisar pada makna ἱλαστήριον (Rm. 3:25) dan rumpun ἱλάσκεσθαι. C. H. Dodd berargumen bahwa kata-kata itu dalam Kitab Suci Yunani berarti “expiation”, yaitu penghapusan dosa, dan bukan “propitiation”, yaitu peredaan murka Allah.11 Leon Morris menjawab bahwa gagasan murka Allah hadir dalam banyak teks tempat kata-kata itu dipakai, sehingga unsur peredaan murka tidak dapat dibuang.1213 Gustaf Aulén, dari sudut yang lain, membedakan tiga tipe pemahaman penebusan: tipe “klasik” (Kristus sebagai pemenang atas kuasa-kuasa jahat), tipe “Latin” (kepuasan atau pengganti), dan tipe “subjektif” (pengaruh moral).14
| Peta posisi para pakar |
|---|
| Krister Stendahl Pembacaan Paulus yang berpusat pada hati nurani tertekan berasal dari tradisi Barat, bukan dari Paulus. |
| E. P. Sanders Yudaisme adalah “covenantal nomism”; bagi Paulus keselamatan adalah berada di dalam Kristus. |
| James D. G. Dunn dan N. T. Wright “Perbuatan hukum Taurat” adalah tanda pengenal umat perjanjian; pembenaran terkait erat dengan keanggotaan umat Allah. |
| Carson, O’Brien, Seifrid; Westerholm Yudaisme lebih beragam daripada rumus Sanders; pembacaan tradisional terhadap Paulus tetap dibela. |
| Richard B. Hays πίστις Χριστοῦ dibaca sebagai kesetiaan Kristus dalam kerangka kisah tentang-Nya. |
| C. H. Dodd dan Leon Morris ἱλαστήριον berarti penghapusan dosa (Dodd) atau juga peredaan murka Allah (Morris). |
| Gustaf Aulén Tiga tipe pemahaman penebusan: klasik, Latin, dan subjektif. |
Pelajaran ini membaca teks-teks Paulus dengan memperhatikan kedua dimensi yang ditekankan dalam perdebatan itu: bagaimana orang berdosa dibenarkan oleh Allah atas dasar karya Kristus, dan bagaimana karya itu membuka tempat bagi bangsa-bangsa di dalam umat Allah. Kedua dimensi itu tidak perlu dipertentangkan.
1. Krister Stendahl, “The Apostle Paul and the Introspective Conscience of the West,” Harvard Theological Review 56, no. 3 (1963): 199–215; dicetak ulang dalam Krister Stendahl, Paul among Jews and Gentiles and Other Essays (Philadelphia: Fortress, 1976), 78–96. ↩
2. E. P. Sanders, Paul and Palestinian Judaism: A Comparison of Patterns of Religion (Philadelphia: Fortress, 1977), 75. ↩
3. Ibid., 17–18. ↩
4. Ibid., 543–52. ↩
5. James D. G. Dunn, “The New Perspective on Paul,” Bulletin of the John Rylands University Library of Manchester 65, no. 2 (1983): 95–122. ↩
6. N. T. Wright, What Saint Paul Really Said: Was Paul of Tarsus the Real Founder of Christianity? (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1997), 119. ↩
7. D. A. Carson, Peter T. O’Brien, dan Mark A. Seifrid, eds., Justification and Variegated Nomism, vol. 2, The Paradoxes of Paul, Wissenschaftliche Untersuchungen zum Neuen Testament 2/181 (Tübingen: Mohr Siebeck; Grand Rapids, MI: Baker Academic, 2004), Preface. ↩
8. Stephen Westerholm, Perspectives Old and New on Paul: The “Lutheran” Paul and His Critics (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 2004). ↩
9. Richard B. Hays, The Faith of Jesus Christ: The Narrative Substructure of Galatians 3:1–4:11, 2nd ed. (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 2002). ↩
10. Michael F. Bird dan Preston M. Sprinkle, eds., The Faith of Jesus Christ: Exegetical, Biblical, and Theological Studies (Peabody, MA: Hendrickson, 2009). ↩
11. C. H. Dodd, The Bible and the Greeks (London: Hodder & Stoughton, 1935), 82–95. ↩
12. Leon Morris, “The Meaning of ἱλαστήριον in Romans III.25,” New Testament Studies 2, no. 1 (1955): 33–43. ↩
13. Leon Morris, The Apostolic Preaching of the Cross (London: Tyndale Press, 1955), 125–60. ↩
14. Gustaf Aulén, Christus Victor: An Historical Study of the Three Main Types of the Idea of the Atonement, trans. A. G. Hebert (London: SPCK, 1931). ↩
2. Galatia dan Roma: Pembenaran oleh Iman
Karya Kristus dan Pembenaran dalam Galatia dan Roma
Galatia: Pembenaran, Kutuk, dan Penebusan
Latar Galatia 2:11–21 adalah insiden di Antiokhia: Petrus mundur dari meja bersama orang bukan-Yahudi, dan Paulus menilai tindakan itu bertentangan dengan kebenaran Injil. Dalam konteks itu Paulus merumuskan Gal. 2:16, ayat yang memuat tiga kali ungkapan “oleh perbuatan hukum Taurat” dan tiga kali kata kerja δικαιόω (“membenarkan”).
εἰδότες [δὲ] ὅτι οὐ δικαιοῦται ἄνθρωπος ἐξ ἔργων νόμου ἐὰν μὴ διὰ πίστεως Ἰησοῦ Χριστοῦ, καὶ ἡμεῖς εἰς Χριστὸν Ἰησοῦν ἐπιστεύσαμεν, ἵνα δικαιωθῶμεν ἐκ πίστεως Χριστοῦ καὶ οὐκ ἐξ ἔργων νόμου, ὅτι ἐξ ἔργων νόμου οὐ δικαιωθήσεται πᾶσα σάρξ.
“Kita tahu bahwa manusia tidak dibenarkan oleh perbuatan hukum Taurat, melainkan oleh iman kepada (atau dari) Yesus Kristus; sebab itu kami pun percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh iman kepada (atau dari) Kristus dan bukan oleh perbuatan hukum Taurat, sebab oleh perbuatan hukum Taurat tidak seorang pun akan dibenarkan.” (terjemahan bebas)
Tiga pertanyaan tafsir muncul dari ayat ini. Pertama, δικαιόω dapat dipahami sebagai pernyataan Allah yang menetapkan seseorang berada dalam hubungan yang benar dengannya (bahasa pengadilan), dan dapat juga dipahami sebagai pengakuan atas keanggotaan dalam umat perjanjian; ayat-ayat berikutnya memperlihatkan bahwa kedua aspek itu berkaitan. Kedua, “perbuatan hukum Taurat” menurut Dunn menunjuk pada tanda pengenal umat Yahudi, tetapi ayat 16 sendiri menyatakan bahwa tidak seorang pun (πᾶσα σάρξ) dibenarkan oleh ἔργα νόμου, suatu pernyataan universal yang tidak terbatas pada satu kelompok.15 Ketiga, πίστις Χριστοῦ dapat berarti “iman kepada Kristus” atau “kesetiaan Kristus”; frasa καὶ ἡμεῖς εἰς Χριστὸν Ἰησοῦν ἐπιστεύσαμεν (“kami pun percaya kepada Kristus Yesus”) dalam ayat yang sama menunjukkan bahwa iman manusia tetap merupakan sarana penerimaan pembenaran itu.16
Χριστῷ συνεσταύρωμαι· ζῶ δὲ οὐκέτι ἐγώ, ζῇ δὲ ἐν ἐμοὶ Χριστός· ὃ δὲ νῦν ζῶ ἐν σαρκί, ἐν πίστει ζῶ τῇ τοῦ υἱοῦ τοῦ θεοῦ τοῦ ἀγαπήσαντός με καὶ παραδόντος ἑαυτὸν ὑπὲρ ἐμοῦ.
“Aku telah disalibkan bersama Kristus; namun aku hidup, bukan lagi aku, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku; dan hidup yang sekarang kuhidupi di dalam daging, kuhidupi dalam iman kepada (atau dari) Anak Allah, yang mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya bagi aku.” (terjemahan bebas)
Gal. 2:20 memperlihatkan dua sisi karya Kristus dalam satu ayat. Sisi pertama bersifat pengganti: Kristus “menyerahkan diri-Nya bagi aku” (ὑπὲρ ἐμοῦ). Sisi kedua bersifat partisipasi: Paulus “disalibkan bersama Kristus” (συνεσταύρωμαι) dan Kristus hidup di dalam dia. Pembenaran dan persatuan dengan Kristus tidak dapat dipisahkan.
Χριστὸς ἡμᾶς ἐξηγόρασεν ἐκ τῆς κατάρας τοῦ νόμου γενόμενος ὑπὲρ ἡμῶν κατάρα, ὅτι γέγραπται· ἐπικατάρατος πᾶς ὁ κρεμάμενος ἐπὶ ξύλου
“Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: terkutuklah orang yang digantung pada kayu.” (terjemahan bebas)
Dalam Gal. 3:13 Paulus memakai kata kerja ἐξαγοράζω (“menebus”, dari ἀγορά, “pasar”), mengutip Ul. 21:23, dan menyatakan bahwa Kristus “menjadi kutuk bagi kita” (ὑπὲρ ἡμῶν). Sesudah itu Gal. 4:4–5 menyebutkan tujuan penebusan itu: supaya orang yang takluk kepada hukum Taurat ditebus dan “kita menerima pengangkatan sebagai anak” (υἱοθεσία).
Roma 1:16–3:20: Kebenaran Allah dan Dosa Universal
οὐ γὰρ ἐπαισχύνομαι τὸ εὐαγγέλιον, δύναμις γὰρ θεοῦ ἐστιν εἰς σωτηρίαν παντὶ τῷ πιστεύοντι, Ἰουδαίῳ τε πρῶτον καὶ Ἕλληνι· δικαιοσύνη γὰρ θεοῦ ἐν αὐτῷ ἀποκαλύπτεται ἐκ πίστεως εἰς πίστιν, καθὼς γέγραπται· ὁ δὲ δίκαιος ἐκ πίστεως ζήσεται.
“Sebab aku tidak malu terhadap Injil, karena Injil adalah kuasa Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, dan juga orang Yunani; sebab di dalamnya dinyatakan kebenaran Allah dari iman kepada iman, seperti ada tertulis: orang benar akan hidup oleh iman.” (terjemahan bebas)
Roma 1:16–17 adalah tema surat itu. Injil disebut “kuasa Allah untuk keselamatan” (δύναμις θεοῦ εἰς σωτηρίαν), dan di dalamnya δικαιοσύνη θεοῦ dinyatakan. Ungkapan ini dapat dipahami sebagai sifat Allah sendiri (kebenaran-Nya), sebagai status yang Allah anugerahkan kepada manusia, atau sebagai tindakan Allah yang setia pada perjanjian-Nya untuk menyelamatkan. Ketiga pemahaman itu saling menerangi: Allah bertindak dengan setia (sifat dan tindakan), dan tindakan itu menghasilkan status benar bagi orang yang percaya.
Roma 1:18–3:20 kemudian menetapkan dasar bagi kebutuhan akan Injil: murka Allah dinyatakan terhadap kefasikan manusia, bangsa-bangsa dan orang Yahudi sama-sama “berada di bawah kuasa dosa” (ὑφ᾽ ἁμαρτίαν, Rm. 3:9), dan “oleh perbuatan hukum Taurat tidak seorang pun dibenarkan di hadapan Allah” (Rm. 3:20). Karena itu kebutuhan akan pembenaran bersifat universal, dan jalan keluarnya pun universal.
Roma 3:21–26: Penebusan dan ἱλαστήριον
δικαιούμενοι δωρεὰν τῇ αὐτοῦ χάριτι διὰ τῆς ἀπολυτρώσεως τῆς ἐν Χριστῷ Ἰησοῦ· ὃν προέθετο ὁ θεὸς ἱλαστήριον διὰ [τῆς] πίστεως ἐν τῷ αὐτοῦ αἵματι εἰς ἔνδειξιν τῆς δικαιοσύνης αὐτοῦ … εἰς τὸ εἶναι αὐτὸν δίκαιον καὶ δικαιοῦντα τὸν ἐκ πίστεως Ἰησοῦ.
“dan mereka dibenarkan dengan cuma-cuma oleh anugerah-Nya melalui penebusan di dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah ditampilkan sebagai ἱλαστήριον melalui iman, dalam darah-Nya, untuk menunjukkan kebenaran-Nya … supaya Ia sendiri adil dan membenarkan orang yang hidup dari iman kepada (atau dari) Yesus.” (terjemahan bebas)
Roma 3:21–26 dianggap oleh banyak penafsir sebagai pusat soteriologi Paulus. Ada tiga gambaran yang bertumpuk. Gambaran pengadilan tampak pada δικαιούμενοι (“dibenarkan”) dan pada tujuan Allah menjadi δίκαιον καὶ δικαιοῦντα (“adil dan membenarkan”). Gambaran pasar budak tampak pada ἀπολύτρωσις (“penebusan”, dari λύτρον, uang tebusan). Gambaran ibadah tampak pada ἱλαστήριον, kata yang dalam Septuaginta menunjuk pada tutup tabut perjanjian tempat darah dipercikkan pada Hari Pendamaian.
| Tiga pemahaman tentang ἱλαστήριον |
|---|
| “Propitiation” — sarana yang meredakan murka Allah terhadap dosa; Kristus menanggung murka itu menggantikan orang berdosa. |
| “Expiation” — sarana yang menghapus atau menutupi dosa dan kenajisannya, tanpa menyebut murka Allah. |
| “Tutup pendamaian” — tempat pendamaian pada Hari Pendamaian (mercy seat), sehingga Kristus adalah tempat perjumpaan Allah dan umat-Nya oleh darah-Nya. |
Dodd mempertahankan bahwa arti Septuaginta adalah penghapusan dosa. Kesimpulannya tentang Rm. 3:25 berbunyi:
“expiation, not that of propitiation”17
Terjemahan bebas: penghapusan dosa, bukan peredaan murka.
— C. H. Dodd, The Bible and the Greeks, 94
Morris menanggapi bahwa konteks Rm. 1:18–3:20 sudah menyatakan murka Allah, sehingga penghapusan dosa dalam Rm. 3:25 tidak dapat dilepaskan dari penanganan murka itu.18 Dalam pemahaman yang paling luas, ketiga aspek itu dapat dipertahankan: Kristus adalah tempat pendamaian oleh darah-Nya, yang menghapus dosa dan menanggung murka Allah, sehingga Allah tetap adil ketika membenarkan orang yang percaya.
Roma 4–5: Abraham, Damai, dan Adam
ὃς παρεδόθη διὰ τὰ παραπτώματα ἡμῶν καὶ ἠγέρθη διὰ τὴν δικαίωσιν ἡμῶν.
“yang diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita.” (terjemahan bebas)
Roma 4 mengajukan Abraham sebagai teladan pembenaran: “Abraham percaya kepada Allah, maka hal itu diperhitungkan (ἐλογίσθη) kepadanya sebagai kebenaran” (Rm. 4:3, mengutip Kej. 15:6). Allah “membenarkan orang fasik” (τὸν δικαιοῦντα τὸν ἀσεβῆ, Rm. 4:5), dan Abraham menerima janji sebelum ia bersunat (Rm. 4:9–12), sehingga ia menjadi bapa semua orang yang percaya, baik yang bersunat maupun yang tidak. Roma 4:25 menutup bagian ini dengan menghubungkan kematian dan kebangkitan Kristus: Kristus diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan “demi pembenaran kita” (διὰ τὴν δικαίωσιν ἡμῶν), sehingga kebangkitan bukan sekadar bukti kemenangan, tetapi bagian dari karya yang membenarkan.
Δικαιωθέντες οὖν ἐκ πίστεως εἰρήνην ἔχομεν πρὸς τὸν θεὸν διὰ τοῦ κυρίου ἡμῶν Ἰησοῦ Χριστοῦ
“Sesudah dibenarkan oleh iman, kita mempunyai damai dengan Allah oleh Tuhan kita Yesus Kristus.” (terjemahan bebas)
Naskah-naskah memuat bacaan ἔχομεν (“kita mempunyai”) dan ἔχωμεν (“marilah kita mempunyai”) pada Rm. 5:1. Konteks ayat 1–11, yang melukiskan status yang sudah diterima orang percaya, lebih cocok dengan bentuk indikatif. Ayat 8–10 menegaskan dasar damai itu: Kristus mati bagi kita (ὑπὲρ ἡμῶν) ketika kita masih berdosa, dan ketika kita masih menjadi musuh (ἐχθροί) kita “didamaikan” (κατηλλάγημεν) dengan Allah oleh kematian Anak-Nya. Kata καταλλαγή (“pendamaian”) memakai gambaran hubungan yang dipulihkan, berbeda dari gambaran pengadilan dan ibadah dalam Rm. 3:21–26; gambaran ini kelak menjadi pusat 2 Kor. 5:18–20.
Roma 5:12–21 menyejajarkan Adam dan Kristus: satu pelanggaran membawa penghukuman (κατάκριμα) bagi semua orang, dan satu tindakan kebenaran membawa pembenaran yang memberi hidup (δικαίωσις ζωῆς). Adam dan Kristus di sini adalah kepala dari dua umat manusia.
Roma 6–8: Hidup Baru dalam Kristus dan Roh
ἢ ἀγνοεῖτε ὅτι ὅσοι ἐβαπτίσθημεν εἰς Χριστὸν Ἰησοῦν εἰς τὸν θάνατον αὐτοῦ ἐβαπτίσθημεν;
“Atau tidak tahukah kamu bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus Yesus, telah dibaptis dalam kematian-Nya?” (terjemahan bebas)
Roma 6–8 menjawab pertanyaan yang timbul dari pembenaran oleh anugerah: apakah orang percaya boleh tetap berbuat dosa? Paulus menjawab dengan kesatuan dengan Kristus. Orang percaya dibaptis ke dalam kematian-Nya dan karena itu “hidup dalam hidup yang baru” (Rm. 6:4). Sesudah bab 7 yang membahas perjuangan di bawah Taurat, Rm. 8:1 menyatakan:
Οὐδὲν ἄρα νῦν κατάκριμα τοῖς ἐν Χριστῷ Ἰησοῦ.
“Jadi sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.” (terjemahan bebas)
Roma 8 memperlihatkan buah keselamatan: Roh Allah menghidupkan (8:2, 11), orang percaya diangkat menjadi anak dan berseru “Abba, ya Bapa” (υἱοθεσία, 8:14–17), dan seluruh rangkaian karya Allah dari awal sampai akhir berada dalam tangan-Nya:
οὓς δὲ προώρισεν, τούτους καὶ ἐκάλεσεν· καὶ οὓς ἐκάλεσεν, τούτους καὶ ἐδικαίωσεν· οὓς δὲ ἐδικαίωσεν, τούτους καὶ ἐδόξασεν.
“Mereka yang telah ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya; dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya; dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” (terjemahan bebas)
Semua kata kerja dalam ayat 30 berbentuk aorist, termasuk “dimuliakan” (ἐδόξασεν) yang masih akan terjadi; Paulus berbicara tentang kepastian tujuan Allah, bukan tentang urutan waktu yang telah lengkap.
Pola yang tampak
Dalam Galatia dan Roma tampak satu pola: keselamatan dimulai dari inisiatif Allah yang mengutus dan menyerahkan Anak-Nya; ia dibayar dengan penebusan, korban, dan pendamaian; ia diterima melalui iman, bukan melalui tanda pengenal umat atau perbuatan hukum Taurat; dan ia berbuah dalam hidup baru dalam Kristus dan Roh. Pembenaran oleh iman dan persatuan dengan Kristus adalah dua sisi dari satu karya.
3. Korintus, Surat-surat Penjara, Tesalonika, dan Surat-surat Penggembalaan
Salib, Pendamaian, dan Kemenangan dalam Surat-surat Korintus, Surat-surat Penjara, Tesalonika, dan Surat-surat Penggembalaan
1 Korintus: Berita Salib dan Injil yang Diterima
Ὁ λόγος γὰρ ὁ τοῦ σταυροῦ τοῖς μὲν ἀπολλυμένοις μωρία ἐστίν, τοῖς δὲ σῳζομένοις ἡμῖν δύναμις θεοῦ ἐστιν.
“Sebab pemberitaan tentang salib memang kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.” (terjemahan bebas)
Bagi Paulus, ὁ λόγος τοῦ σταυροῦ (“berita salib”) adalah pusat pemberitaan (1 Kor. 1:23; 2:2). Dua kelompok dibedakan: mereka yang ἀπολλυμένοι (“sedang binasa”) dan mereka yang σῳζόμενοι (“sedang diselamatkan”); keduanya dalam bentuk present, sehingga keselamatan digambarkan sebagai proses yang sudah dimulai dan sedang berlangsung. Dalam 1 Kor. 1:30 Kristus menjadi bagi kita hikmat dari Allah, yaitu δικαιοσύνη (kebenaran), ἁγιασμός (kekudusan), dan ἀπολύτρωσις (penebusan), sehingga satu pribadi menjadi sumber tiga aspek keselamatan itu. Dalam 1 Kor. 6:20 dan 7:23 orang percaya digambarkan sebagai yang “telah dibeli dengan harga” (ἠγοράσθητε τιμῆς).
ὅτι Χριστὸς ἀπέθανεν ὑπὲρ τῶν ἁμαρτιῶν ἡμῶν κατὰ τὰς γραφάς, καὶ ὅτι ἐτάφη, καὶ ὅτι ἐγήγερται τῇ ἡμέρᾳ τῇ τρίτῃ κατὰ τὰς γραφάς
“bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia dikuburkan, dan bahwa Ia dibangkitkan pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci.” (terjemahan bebas)
Dalam 1 Kor. 15:3–4 Paulus mengutip Injil sebagai tradisi yang ia “terima” (παρέλαβον) dan “teruskan” (παρέδωκα): Kristus mati “karena dosa-dosa kita” (ὑπὲρ τῶν ἁμαρτιῶν ἡμῶν), dikuburkan, dan dibangkitkan (ἐγήγερται, perfect passive, yakni tetap dalam keadaan bangkit), semuanya “sesuai dengan Kitab Suci”. Ayat 17 menegaskan bahwa kebangkitan menentukan keselamatan: jika Kristus tidak dibangkitkan, iman sia-sia dan orang percaya masih dalam dosa mereka.
2 Korintus: Pendamaian dan Pertukaran
τὸν μὴ γνόντα ἁμαρτίαν ὑπὲρ ἡμῶν ἁμαρτίαν ἐποίησεν, ἵνα ἡμεῖς γενώμεθα δικαιοσύνη θεοῦ ἐν αὐτῷ.
“Ia yang tidak mengenal dosa, telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya di dalam Dia kita menjadi kebenaran Allah.” (terjemahan bebas)
Bagian 2 Kor. 5:14–21 adalah salah satu perumusan soteriologi yang paling padat. Kasih Kristus “menguasai” (συνέχει) Paulus, karena satu orang telah mati bagi semua orang, sehingga semua telah mati (5:14). Orang yang di dalam Kristus adalah ciptaan baru (καινὴ κτίσις, 5:17). Allah “mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka” (5:19), dan Ia memercayakan kepada para rasul “pelayanan pendamaian” (διακονία τῆς καταλλαγῆς, 5:18) sehingga mereka menjadi duta Kristus (πρεσβεύομεν, 5:20).
Ayat 21 memuat pertukaran: Kristus, yang tidak mengenal dosa, “dibuat menjadi dosa” (ἁμαρτίαν ἐποίησεν) karena kita, supaya kita “menjadi kebenaran Allah di dalam Dia”. Kata ἁμαρτία dalam ayat ini dapat berarti “dosa” dalam arti penanggungan dosa oleh Kristus, dan dapat juga menunjuk pada korban penghapus dosa, sebagaimana kata itu dipakai dalam Septuaginta. Kedua pemahaman menegaskan bahwa Kristus menempati tempat orang berdosa dan bahwa orang percaya menerima status benar hanya “di dalam Dia” (ἐν αὐτῷ).
Efesus dan Kolose: Kasih Karunia dan Kemenangan
τῇ γὰρ χάριτί ἐστε σεσῳσμένοι διὰ πίστεως· καὶ τοῦτο οὐκ ἐξ ὑμῶν, θεοῦ τὸ δῶρον· οὐκ ἐξ ἔργων, ἵνα μή τις καυχήσηται.
“Sebab oleh kasih karunia kamu telah diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, melainkan pemberian Allah; itu bukan hasil pekerjaanmu, supaya jangan ada orang yang memegahkan diri.” (terjemahan bebas)
Efesus 2:1–10 melukiskan manusia sebagai mati dalam pelanggaran dan dosa (2:1), lalu menegaskan bahwa oleh kasih karunia kamu “telah diselamatkan” (ἐστε σεσῳσμένοι, perfect periphrastic: keselamatan yang sudah terjadi dan yang hasilnya tetap). Kasih karunia, iman, dan pemberian Allah dihadapkan dengan “bukan dari dirimu” dan “bukan dari perbuatan”. Ayat 10 menempatkan perbuatan baik pada tempat yang benar: kita adalah buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus “untuk perbuatan baik” (ἐπὶ ἔργοις ἀγαθοῖς), bukan berdasarkan perbuatan baik. Efesus 1:7 menyebut penebusan “oleh darah-Nya” (ἀπολύτρωσις διὰ τοῦ αἵματος), yaitu pengampunan pelanggaran; Ef. 2:11–22 menggambarkan bagaimana darah Kristus mendekatkan bangsa-bangsa yang jauh dan meruntuhkan dinding pemisah, sehingga dua kelompok didamaikan menjadi satu tubuh (2:16).
Kolose memperkaya gambaran itu. Allah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang dikasihi, di dalam Dia kita memiliki penebusan, yaitu pengampunan dosa (Kol. 1:13–14). Allah berkenan mendamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya melalui Kristus oleh darah salib-Nya (1:20), dan mereka yang dahulu terasing dan bermusuhan kini didamaikan dalam tubuh jasmani-Nya oleh kematian-Nya (1:21–22).
ἐξαλείψας τὸ καθ᾽ ἡμῶν χειρόγραφον τοῖς δόγμασιν ὃ ἦν ὑπεναντίον ἡμῖν, καὶ αὐτὸ ἦρκεν ἐκ τοῦ μέσου προσηλώσας αὐτὸ τῷ σταυρῷ· ἀπεκδυσάμενος τὰς ἀρχὰς καὶ τὰς ἐξουσίας ἐδειγμάτισεν ἐν παρρησίᾳ, θριαμβεύσας αὐτοὺς ἐν αὐτῷ.
“Ia menghapuskan surat hutang yang mendakwa dan mengancam kita dengan segala ketentuannya; Ia menyingkirkannya dengan memakukannya pada kayu salib; Ia melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, dan mempertontonkan mereka secara terang-terangan, dan mengarak mereka dalam kemenangan di dalam Dia.” (terjemahan bebas)
Kol. 2:14–15 memakai dua gambaran sekaligus. Gambaran pertama ialah utang: χειρόγραφον (“surat hutang”) yang mendakwa kita dihapus dan dipakukan pada salib. Gambaran kedua ialah kemenangan: kuasa-kuasa yang menguasai manusia dilucuti dan diarak dalam arak-arakan kemenangan (θριαμβεύω), gambar seorang panglima yang membawa musuh yang kalah. Gambaran kedua ini yang oleh Aulén disebut tipe “klasik” dan dinamai Christus Victor.19
Filipi dan Tesalonika
καὶ εὑρεθῶ ἐν αὐτῷ, μὴ ἔχων ἐμὴν δικαιοσύνην τὴν ἐκ νόμου ἀλλὰ τὴν διὰ πίστεως Χριστοῦ, τὴν ἐκ θεοῦ δικαιοσύνην ἐπὶ τῇ πίστει
“dan berada di dalam Dia, bukan dengan kebenaranku sendiri karena melakukan hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena iman kepada (atau dari) Kristus, yaitu kebenaran yang berasal dari Allah dan berdasarkan iman.” (terjemahan bebas)
Filipi 3:2–11 memperlihatkan pengalaman Paulus sendiri. Ia dapat menyebut dirinya “tidak bercacat” (ἄμεμπτος) dalam hal kebenaran menurut hukum Taurat (3:6). Bagian ini sering dibaca dalam perdebatan yang dimulai oleh Stendahl: Paulus tidak tampil sebagai orang yang hati nuraninya tertekan oleh kegagalan memenuhi Taurat.20 Namun Paulus tetap menilai semua keuntungan itu sebagai kerugian demi Kristus, supaya ia memiliki bukan kebenaran sendiri (ἐμὴ δικαιοσύνη) yang berasal dari hukum Taurat, melainkan kebenaran yang berasal dari Allah dan diterima melalui iman (3:9). Sesudah itu ia menyebut tujuan mengenal Kristus dan kuasa kebangkitan-Nya serta persekutuan dalam penderitaan-Nya (3:10), yaitu keselamatan sebagai persatuan yang hidup dengan Kristus.
Ἰησοῦν τὸν ῥυόμενον ἡμᾶς ἐκ τῆς ὀργῆς τῆς ἐρχομένης.
“Yesus, yang menyelamatkan kita dari murka yang akan datang.” (terjemahan bebas)
Dalam Tesalonika, keselamatan digambarkan sebagai pembebasan dari murka Allah yang akan datang (1 Tes. 1:10; 5:9). Paulus menyatakan bahwa Allah tidak menetapkan jemaat untuk murka, tetapi “untuk beroleh keselamatan” (εἰς περιποίησιν σωτηρίας) melalui Tuhan Yesus Kristus yang telah mati bagi mereka (1 Tes. 5:9–10). Gambaran ini menunjukkan bahwa dimensi masa depan dari keselamatan sudah hadir sejak surat-surat Paulus yang paling awal.
Surat-surat Penggembalaan
εἷς γὰρ θεός, εἷς καὶ μεσίτης θεοῦ καὶ ἀνθρώπων, ἄνθρωπος Χριστὸς Ἰησοῦς, ὁ δοὺς ἑαυτὸν ἀντίλυτρον ὑπὲρ πάντων
“Sebab Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua orang.” (terjemahan bebas)
Surat-surat penggembalaan membuka dengan rumusan yang lugas: “Kristus Yesus datang ke dalam dunia untuk menyelamatkan orang berdosa” (1 Tim. 1:15). Dalam 1 Tim. 2:6 Kristus menyerahkan diri-Nya sebagai ἀντίλυτρον, kata majemuk yang menggabungkan gagasan tebusan (λύτρον) dan pengganti (ἀντί). Dalam 2 Tim. 1:9 Allah menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, “bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri”.
οὐκ ἐξ ἔργων τῶν ἐν δικαιοσύνῃ ἃ ἐποιήσαμεν ἡμεῖς ἀλλὰ κατὰ τὸ αὐτοῦ ἔλεος ἔσωσεν ἡμᾶς διὰ λουτροῦ παλινγενεσίας καὶ ἀνακαινώσεως πνεύματος ἁγίου
“bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya Ia telah menyelamatkan kita oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaruan Roh Kudus.” (terjemahan bebas)
Titus 2:11–14 menggabungkan kasih karunia yang menyelamatkan dan tuntutan hidup baru: kasih karunia Allah yang membawa keselamatan bagi semua manusia telah nyata, dan mendidik kita untuk meninggalkan kefasikan; Kristus “menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk menebus (λυτρώσηται) kita dari segala kejahatan dan menguduskan bagi diri-Nya suatu umat” yang rajin berbuat baik (2:14). Titus 3:4–7 menegaskan bahwa keselamatan berasal dari rahmat, bukan dari perbuatan, lalu menyebut hasilnya: kita “dibenarkan” (δικαιωθέντες) oleh kasih karunia-Nya dan menjadi ahli waris pengharapan hidup yang kekal (3:7).
4. Ibrani, Yakobus, Petrus, dan Yudas
Korban, Iman yang Hidup, dan Pemeliharaan Allah dalam Ibrani, Yakobus, Petrus, dan Yudas
Ibrani: Imam, Korban, dan Perjanjian
ὅπως χάριτι θεοῦ ὑπὲρ παντὸς γεύσηται θανάτου
“supaya oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua orang.” (terjemahan bebas)
Ibrani menyusun soteriologinya di sekitar gagasan imam besar, korban, dan perjanjian. Dalam Ibr. 2:9–18 Anak mengalami maut bagi semua orang, menjadi ἀρχηγός (“pemimpin yang membuka jalan”) keselamatan yang “disempurnakan melalui penderitaan” (2:10), membebaskan mereka yang seumur hidup dalam perhambaan karena takut akan maut (2:15), dan menjadi imam besar yang setia “untuk mendamaikan (εἰς τὸ ἱλάσκεσθαι) dosa umat” (2:17). Kata kerja ἱλάσκεσθαι dalam ayat ini memperlihatkan bahwa perdebatan Dodd–Morris tentang rumpun kata itu juga menyangkut Ibrani.21 Peterson menunjukkan bahwa kata kerja τελειόω (“menyempurnakan”) tidak membawa makna yang tetap, melainkan ditentukan oleh konteks dan objeknya; dalam Ibr. 2:10 dan 5:9 ia menunjuk pada penyempurnaan Kristus melalui penderitaan, dan dalam 10:14 pada penyempurnaan orang percaya.
ἐν ᾧ θελήματι ἡγιασμένοι ἐσμὲν διὰ τῆς προσφορᾶς τοῦ σώματος Ἰησοῦ Χριστοῦ ἐφάπαξ … μιᾷ γὰρ προσφορᾷ τετελείωκεν εἰς τὸ διηνεκὲς τοὺς ἁγιαζομένους.
“Oleh kehendak itu kita telah dikuduskan, satu kali untuk selama-lamanya, oleh persembahan tubuh Yesus Kristus … sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan.” (terjemahan bebas)
Bagian utama surat (Ibr. 7–10) menyatakan bahwa imamat Lewi tidak dapat menyempurnakan, sehingga diperlukan imam menurut peraturan Melkisedek, perjanjian yang lebih baik (κρείττων διαθήκη, 8:6–13), dan korban yang lebih baik. Darah Kristus menyucikan hati nurani (9:14), karena “tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan” (χωρὶς αἱματεκχυσίας οὐ γίνεται ἄφεσις, 9:22). Kata ἐφάπαξ dan ἅπαξ (“satu kali untuk selama-lamanya”, 7:27; 9:12, 26–28; 10:10) menegaskan bahwa korban itu tidak perlu diulang. Penulis juga memuat peringatan keras (6:4–8; 10:26–31) dan sekaligus penegasan bahwa ia yakin akan hal-hal yang lebih baik (6:9–12; 10:39), sehingga kepastian keselamatan dan panggilan untuk bertekun berjalan bersama.
| Kata kunci soteriologi dalam Ibrani |
|---|
| ἐφάπαξ / ἅπαξ (7:27; 9:12, 26–28; 10:10) — “satu kali untuk selama-lamanya”: sifat korban Kristus yang tidak diulang. |
| τελειόω (2:10; 5:9; 7:19; 10:1, 14) — “menyempurnakan”: maknanya ditentukan oleh konteks dan objeknya. |
| ἁγιάζω (2:11; 10:10, 14; 13:12) — “menguduskan”: dipisahkan bagi Allah melalui korban Kristus. |
| διαθήκη (8:6–13; 9:15; 12:24) — “perjanjian”: perjanjian baru yang dimeteraikan dengan darah Kristus. |
| ἄφεσις (9:22; 10:18) — “pengampunan”: buah korban yang membuat korban lain tidak diperlukan lagi. |
Yakobus: Iman dan Perbuatan
τί τὸ ὄφελος, ἀδελφοί μου, ἐὰν πίστιν λέγῃ τις ἔχειν ἔργα δὲ μὴ ἔχῃ; μὴ δύναται ἡ πίστις σῶσαι αὐτόν;
“Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seseorang mengatakan bahwa ia mempunyai iman, tetapi ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?” (terjemahan bebas)
Yakobus 2:14–26 adalah teks yang paling sering dipertentangkan dengan Paulus. Yakobus 2:24 menyatakan bahwa manusia dibenarkan (δικαιοῦται) “karena perbuatan-perbuatan dan bukan hanya karena iman” (ἐξ ἔργων … καὶ οὐκ ἐκ πίστεως μόνον), dan Yak. 2:23 mengutip Kej. 15:6, ayat yang sama yang dipakai Paulus dalam Rm. 4:3. Dalam kata pengantarnya tahun 1522 Luther menyebut surat ini “jerami” (“epistle of straw”) dibandingkan dengan surat-surat lain dalam Perjanjian Baru.22 Ia menilai bahwa penulis hendak melindungi orang dari iman tanpa perbuatan, tetapi tidak sanggup menyelesaikan tugas itu:
“unequal to the task”23
Terjemahan bebas: tidak sanggup menyelesaikan tugas itu.
— Martin Luther, Kata Pengantar untuk Yakobus dan Yudas, Luther’s Works 35:397
Ada tiga jalan yang lazim ditempuh untuk memahami hubungan Yakobus dan Paulus. Pertama, kata δικαιόω dipakai dengan arti yang berbeda: Paulus berbicara tentang Allah yang menyatakan orang berdosa benar, sedangkan Yakobus tentang perbuatan yang membuktikan kebenaran iman. Kedua, kedua penulis melawan kesalahan yang berbeda: Paulus melawan anggapan bahwa tanda pengenal umat atau perbuatan hukum Taurat memberi status di hadapan Allah, sedangkan Yakobus melawan iman yang hanya berupa pengakuan dan tidak menghasilkan kasih (2:15–17, 19). Ketiga, Paulus sendiri menyebut “iman yang bekerja oleh kasih” (Gal. 5:6) dan “perbuatan baik” sebagai tujuan keselamatan (Ef. 2:10; Tit. 3:8). Dengan demikian yang dilawan Yakobus ialah iman yang “mati” (νεκρά, 2:17, 26), bukan iman yang menyelamatkan menurut Paulus.
Yakobus juga memuat kesaksian soteriologi yang positif: Allah “memperanakkan kita oleh firman kebenaran” (1:18), dan firman yang tertanam di dalam hati “berkuasa menyelamatkan jiwamu” (1:21).
Petrus
εἰδότες ὅτι οὐ φθαρτοῖς, ἀργυρίῳ ἢ χρυσίῳ, ἐλυτρώθητε ἐκ τῆς ματαίας ὑμῶν ἀναστροφῆς πατροπαραδότου, ἀλλὰ τιμίῳ αἵματι ὡς ἀμνοῦ ἀμώμου καὶ ἀσπίλου Χριστοῦ
“Kamu tahu bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia, yang kamu warisi dari nenek moyangmu, bukan dengan barang yang fana, yaitu perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus, yang tak bernoda dan tak bercacat sebagai anak domba.” (terjemahan bebas)
Dalam 1 Petrus penebusan dilukiskan dengan gambaran pasar dan Paskah: orang percaya “ditebus” (ἐλυτρώθητε) bukan dengan perak atau emas, tetapi dengan darah Kristus yang berharga, sebagai anak domba yang tak bercela (1:18–19). Keselamatan itu adalah warisan yang tersimpan di sorga dan dipelihara oleh kuasa Allah melalui iman (1:3–5).
ὃς τὰς ἁμαρτίας ἡμῶν αὐτὸς ἀνήνεγκεν ἐν τῷ σώματι αὐτοῦ ἐπὶ τὸ ξύλον, ἵνα ταῖς ἁμαρτίαις ἀπογενόμενοι τῇ δικαιοσύνῃ ζήσωμεν· οὗ τῷ μώλωπι ἰάθητε.
“Ia sendiri memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran; oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.” (terjemahan bebas)
Dalam 1 Pet. 2:21–25 penulis menggemakan Yes. 53 untuk melukiskan penderitaan Kristus sebagai penderitaan “bagi kamu” (ὑπὲρ ὑμῶν) yang sekaligus menjadi teladan. Kata ἀναφέρω (“memikul, mempersembahkan”) memuat bahasa korban, dan “kayu” (ξύλον) menggemakan Ul. 21:23 yang juga tampak dalam Gal. 3:13. Dalam 1 Pet. 3:18 Kristus “mati satu kali (ἅπαξ) karena dosa-dosa kita, Yang Benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kamu kepada Allah”. Kata ἅπαξ di sini sejajar dengan ἐφάπαξ dalam Ibrani.
Dalam 2 Petrus, para pengajar sesat digambarkan sebagai orang yang “menyangkal Penguasa yang telah menebus (ἀγοράσαντα) mereka” (2 Pet. 2:1). Bab 1 menghubungkan keselamatan dengan pertumbuhan: dari iman sampai kasih (1:5–7), dan orang percaya diminta “semakin meneguhkan panggilan dan pilihanmu” (1:10). Surat ini juga menafsirkan kesabaran Tuhan sebagai keselamatan (3:15).
Yudas
Τῷ δὲ δυναμένῳ φυλάξαι ὑμᾶς ἀπταίστους καὶ στῆσαι κατενώπιον τῆς δόξης αὐτοῦ ἀμώμους ἐν ἀγαλλιάσει
“Bagi Dia yang berkuasa memelihara kamu, supaya jangan tersandung, dan menempatkan kamu di hadapan kemuliaan-Nya tanpa cacat dengan sukacita besar.” (terjemahan bebas)
Yudas menyebut iman yang “sekali untuk selama-lamanya (ἅπαξ) disampaikan kepada orang-orang kudus” (Yud. 3), sehingga isi keselamatan bersifat tetap dan tidak dapat ditambah atau dikurangi. Surat ini menggabungkan dua sisi: orang percaya diminta memelihara diri (τηρήσατε) dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan Yesus Kristus yang membawa kepada hidup kekal (Yud. 21), dan pada saat yang sama Allah adalah Dia yang berkuasa “memelihara” (φυλάξαι) mereka tanpa tersandung (Yud. 24). Pemeliharaan Allah dan tanggung jawab orang percaya tidak saling bertentangan.
21. David Peterson, Hebrews and Perfection: An Examination of the Concept of Perfection in the “Epistle to the Hebrews,” Society for New Testament Studies Monograph Series 47 (Cambridge: Cambridge University Press, 1982), chaps. 2–5. ↩
22. Martin Luther, “Preface to the New Testament,” dalam Word and Sacrament I, ed. E. Theodore Bachmann, Luther’s Works, American ed., vol. 35 (Philadelphia: Muhlenberg Press, 1960), 362. ↩
23. Luther, “Preface to the Epistles of St. James and St. Jude,” dalam Word and Sacrament I, 397. ↩
5. Kesatuan Kesaksian tentang Keselamatan
Bila kesaksian para penulis ini dibandingkan, tampak bahwa satu karya dilukiskan dengan banyak gambaran. Kematian Kristus dinyatakan sebagai kematian “bagi kita” (ὑπέρ), sebagai korban dan darah yang menyucikan, sebagai tebusan yang membebaskan, sebagai pendamaian yang memulihkan hubungan, dan sebagai kemenangan atas kuasa-kuasa yang menguasai manusia. Karya itu diterima melalui iman, membawa pembenaran, persatuan dengan Kristus, dan hidup baru dalam Roh.
| Ringkasan teks kunci |
|---|
| Kristus mati bagi kita (ὑπέρ) Gal. 2:20; Rm. 5:8; 1 Kor. 15:3; 2 Kor. 5:14–15, 21; 1 Tim. 2:6; Tit. 2:14; Ibr. 2:9; 1 Pet. 2:21; 3:18 |
| Darah dan korban Rm. 3:25; Ef. 1:7; 2:13; Kol. 1:20; Ibr. 9:11–14; 10:10–14; 1 Pet. 1:18–19 |
| Penebusan dan tebusan Gal. 3:13; 4:5; Rm. 3:24; 1 Kor. 1:30; 6:20; Ef. 1:7; Kol. 1:14; 1 Tim. 2:6; Tit. 2:14; 1 Pet. 1:18–19; 2 Pet. 2:1 |
| Pendamaian Rm. 5:10–11; 2 Kor. 5:18–20; Ef. 2:14–16; Kol. 1:20–22; Ibr. 2:17 |
| Kemenangan atas kuasa-kuasa Kol. 2:15; Ibr. 2:14–15 |
| Pembenaran oleh iman Gal. 2:16; Rm. 3:28; 4:5; 5:1; Flp. 3:9; Tit. 3:7 |
| Kebangkitan dalam karya keselamatan Rm. 4:25; 1 Kor. 15:17; 1 Pet. 1:3 |
| Hidup di dalam Kristus Gal. 2:20; Rm. 6:3–11; 8:1; 2 Kor. 5:17; Kol. 2:12–13 |
| Iman yang hidup dan perbuatan baik Gal. 5:6; Ef. 2:10; Tit. 3:8; Yak. 2:14–26; 2 Pet. 1:5–11 |
| Pemeliharaan Allah dan ketekunan Rm. 8:30; Ibr. 6:9–12; 10:39; Yud. 21, 24 |
Keragaman gambaran ini tidak menghasilkan soteriologi yang bertentangan. Para penulis berbicara dari sudut yang berbeda tentang satu peristiwa: Anak Allah menyerahkan diri-Nya bagi orang berdosa dan dibangkitkan, dan orang yang percaya kepada-Nya menerima pembenaran, damai, dan hidup baru sebagai pemberian anugerah.
6. Istilah Yunani Kunci
Daftar ini merangkum istilah Yunani yang paling sering menentukan penafsiran tentang karya Kristus dan keselamatan manusia dalam surat-surat.
| Istilah Yunani kunci |
|---|
| δικαιοσύνη θεοῦ (Rm. 1:17; 3:21–22; 2 Kor. 5:21) “Kebenaran Allah”: sifat, tindakan setia, dan pemberian status benar oleh Allah. |
| δικαιόω (Gal. 2:16; Rm. 3:24; 5:1) “Membenarkan”: pernyataan Allah bahwa seseorang benar di hadapan-Nya; juga pengakuan atas keanggotaan umat-Nya. |
| πίστις (Χριστοῦ) (Gal. 2:16; Rm. 3:22, 26; Flp. 3:9) “Iman” dan, menurut sebagian penafsir, “kesetiaan Kristus”; genitif objektif atau subjektif. |
| ἔργα νόμου (Gal. 2:16; Rm. 3:20, 28) “Perbuatan hukum Taurat”: menurut Dunn terutama tanda pengenal umat Yahudi; dalam Gal. 2:16 tidak seorang pun dibenarkan olehnya. |
| ἱλαστήριον (Rm. 3:25; bdk. Ibr. 9:5) Sarana pendamaian: peredaan murka, penghapusan dosa, atau tutup pendamaian. |
| ἀπολύτρωσις, λύτρον, ἀντίλυτρον (Rm. 3:24; Ef. 1:7; 1 Tim. 2:6) “Penebusan”, “uang tebusan”: gambaran pasar budak dan pembebasan tawanan. |
| ἀγοράζω, ἐξαγοράζω (1 Kor. 6:20; Gal. 3:13; 4:5; 2 Pet. 2:1) “Membeli, menebus”: pembayaran harga untuk memerdekakan. |
| καταλλαγή, καταλλάσσω (Rm. 5:10–11; 2 Kor. 5:18–20; Kol. 1:20–22) “Pendamaian”: pemulihan hubungan antara Allah dan manusia yang bermusuhan. |
| χάρις (Rm. 3:24; Ef. 2:8; Tit. 3:7) “Kasih karunia”: pemberian Allah yang tidak dapat diperoleh dengan usaha. |
| σῴζω, σωτηρία (1 Kor. 1:18; Ef. 2:8; 1 Tes. 5:9) “Menyelamatkan, keselamatan”: sudah terjadi, sedang terjadi, dan akan digenapi. |
| υἱοθεσία (Gal. 4:5; Rm. 8:15) “Pengangkatan sebagai anak”: status baru dalam keluarga Allah. |
| ἁγιάζω, ἁγιασμός (1 Kor. 1:30; Ibr. 10:10, 14) “Menguduskan, pengudusan”: dipisahkan bagi Allah melalui Kristus. |
| ἐφάπαξ, ἅπαξ (Ibr. 7:27; 10:10; 1 Pet. 3:18) “Satu kali untuk selama-lamanya”: korban Kristus tidak diulang. |
| ὑπέρ (Gal. 2:20; Rm. 5:8; 2 Kor. 5:14) “Bagi, demi”: Kristus bertindak menggantikan dan demi orang berdosa. |
| ἐν Χριστῷ (Rm. 8:1; 2 Kor. 5:17; Gal. 2:20) “Di dalam Kristus”: persatuan orang percaya dengan Kristus dalam kematian dan hidup-Nya. |
7. Penerapan bagi Kehidupan dan Pelayanan
Bagi Paulus, berita salib adalah kekuatan Allah bagi mereka yang diselamatkan (1 Kor. 1:18). Pelayan jemaat dan pengajar Pendidikan Agama Kristen tidak perlu terikat pada satu gambaran saja. Gambaran pengadilan, korban, tebusan, pendamaian, dan kemenangan masing-masing dapat menjangkau pendengar dengan latar yang berbeda, misalnya mereka yang bergumul dengan rasa bersalah, dengan utang, dengan permusuhan, atau dengan ketakutan akan kuasa-kuasa jahat. Yang perlu dijaga ialah bahwa semua gambaran itu menunjuk pada satu karya Kristus.
Efesus 2:8–10 mengajarkan bahwa keselamatan adalah pemberian Allah dan bukan hasil perbuatan, sekaligus bahwa orang percaya diciptakan untuk perbuatan baik. Pemahaman ini membebaskan jemaat dari dua kekeliruan: menganggap perbuatan sebagai syarat untuk diterima Allah, dan menganggap anugerah sebagai izin untuk hidup sembarangan (Rm. 6:1–2). Orang percaya bekerja karena sudah diterima, bukan supaya diterima.
Yakobus 2:14–26 dan Paulus tidak bertentangan bila konteks masing-masing dipahami. Dalam pembinaan jemaat dan pengajaran Pendidikan Agama Kristen, pengajaran tentang iman perlu berujung pada praktik kasih (Gal. 5:6; Yak. 2:15–17), tanpa mengubah dasar penerimaan di hadapan Allah dari anugerah menjadi prestasi. Jemaat perlu belajar mengenali iman yang “mati” dan iman yang bekerja oleh kasih.
Menurut 2 Kor. 5:18–20, Allah mempercayakan “pelayanan pendamaian” kepada gereja, dan para pelayan adalah duta Kristus. Efesus 2:14–16 memperlihatkan bahwa pendamaian dengan Allah menghasilkan pendamaian antarmanusia. Gereja dipanggil menjadi tempat pemulihan hubungan yang retak, baik di dalam jemaat maupun antara jemaat dan masyarakat sekitarnya, dengan Kristus yang meruntuhkan dinding pemisah sebagai dasar dan teladannya.
Penutup
Karya Kristus dalam surat-surat Perjanjian Baru dilukiskan dengan banyak gambaran yang saling melengkapi: korban yang menghapus dosa, tebusan yang membebaskan, pendamaian yang memulihkan hubungan dengan Allah, kemenangan atas kuasa-kuasa yang menguasai manusia, dan pembenaran yang menyatakan orang berdosa benar di hadapan Allah. Semua itu bertumpu pada satu peristiwa: Anak Allah menyerahkan diri-Nya bagi kita dan dibangkitkan. Manusia menerima karya itu melalui iman sebagai pemberian anugerah, dan ia berbuah dalam hidup baru di dalam Kristus dan oleh Roh. Perdebatan para pakar tentang δικαιοσύνη θεοῦ, ἔργα νόμου, πίστις Χριστοῦ, dan ἱλαστήριον memperlihatkan bahwa teks-teks ini kaya dan layak ditelaah dengan cermat, tetapi kesaksian pokoknya jelas: keselamatan adalah karya Allah di dalam Kristus.
Daftar Pustaka
Aulén, Gustaf. Christus Victor: An Historical Study of the Three Main Types of the Idea of the Atonement. Translated by A. G. Hebert. London: SPCK, 1931.
Bird, Michael F., dan Preston M. Sprinkle, eds. The Faith of Jesus Christ: Exegetical, Biblical, and Theological Studies. Peabody, MA: Hendrickson, 2009.
Carson, D. A., Peter T. O’Brien, dan Mark A. Seifrid, eds. Justification and Variegated Nomism. Vol. 2, The Paradoxes of Paul. Wissenschaftliche Untersuchungen zum Neuen Testament 2/181. Tübingen: Mohr Siebeck; Grand Rapids, MI: Baker Academic, 2004.
Dodd, C. H. The Bible and the Greeks. London: Hodder & Stoughton, 1935.
Dunn, James D. G. “The New Perspective on Paul.” Bulletin of the John Rylands University Library of Manchester 65, no. 2 (1983): 95–122.
Hays, Richard B. The Faith of Jesus Christ: The Narrative Substructure of Galatians 3:1–4:11. 2nd ed. Grand Rapids, MI: Eerdmans, 2002.
Luther, Martin. “Preface to the Epistles of St. James and St. Jude.” Dalam Word and Sacrament I, edited by E. Theodore Bachmann, 395–99. Luther’s Works, American ed., vol. 35. Philadelphia: Muhlenberg Press, 1960.
———. “Preface to the New Testament.” Dalam Word and Sacrament I, edited by E. Theodore Bachmann, 357–62. Luther’s Works, American ed., vol. 35. Philadelphia: Muhlenberg Press, 1960.
Morris, Leon. The Apostolic Preaching of the Cross. London: Tyndale Press, 1955.
———. “The Meaning of ἱλαστήριον in Romans III.25.” New Testament Studies 2, no. 1 (1955): 33–43.
Peterson, David. Hebrews and Perfection: An Examination of the Concept of Perfection in the “Epistle to the Hebrews.” Society for New Testament Studies Monograph Series 47. Cambridge: Cambridge University Press, 1982.
Sanders, E. P. Paul and Palestinian Judaism: A Comparison of Patterns of Religion. Philadelphia: Fortress, 1977.
Stendahl, Krister. “The Apostle Paul and the Introspective Conscience of the West.” Harvard Theological Review 56, no. 3 (1963): 199–215.
Westerholm, Stephen. Perspectives Old and New on Paul: The “Lutheran” Paul and His Critics. Grand Rapids, MI: Eerdmans, 2004.
Wright, N. T. What Saint Paul Really Said: Was Paul of Tarsus the Real Founder of Christianity? Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1997.