⬅️ Kembali ke Silabus Teologi Perjanjian Baru 2
Teologi Perjanjian Baru
Mata kuliah Teologi Perjanjian Baru 1 telah membahas teologi kitab-kitab Injil (Matius, Markus, Lukas, Yohanes), Kisah Para Rasul, surat-surat Yohanes, dan Kitab Wahyu, disusun menurut kronologi penulisannya. Teologi Perjanjian Baru 2 melanjutkan kajian tersebut dengan berfokus pada surat-surat Rasul Paulus — mulai dari surat-surat awal pelayanannya hingga surat-surat penggembalaan menjelang akhir hidupnya — serta surat-surat umum yang ditulis oleh Yakobus, penulis Ibrani, Petrus, dan Yudas.
Jika Teologi Perjanjian Baru 1 menelusuri perkembangan pewahyuan tentang pribadi dan karya Kristus melalui narasi Injil dan sejarah gereja mula-mula, Teologi Perjanjian Baru 2 menelusuri bagaimana kebenaran tersebut dijabarkan, dipertahankan, dan diterapkan secara doktrinal serta praktis dalam kehidupan jemaat-jemaat mula-mula melalui surat-surat kiriman.
Teologi Perjanjian Baru adalah disiplin ilmu yang secara khusus mempelajari dan menyusun secara sistematis ajaran-ajaran teologis yang terkandung dalam setiap kitab atau kelompok kitab Perjanjian Baru, dengan memperhatikan konteks historis, sastra, dan penulis masing-masing kitab. Berbeda dari Teologi Sistematika yang menyusun doktrin lintas seluruh Alkitab secara tematik-logis, Teologi Perjanjian Baru bersifat deskriptif-historis1: ia berusaha memahami apa yang sesungguhnya diajarkan dan diyakini oleh setiap penulis dalam konteksnya sendiri, sebelum dirangkum dan dibandingkan antarpenulis.
Bagian ini berbicara tentang tugas dan metode akademik disiplin ilmu ini — bukan tugas perkuliahan (Tugas Terstruktur/Tugas Mandiri), yang dijelaskan tersendiri pada bagian F.
Tugas deskriptif adalah upaya menguraikan secara jujur dan akurat apa yang sesungguhnya diajarkan oleh setiap penulis Perjanjian Baru, dengan menggunakan kosakata, kategori, dan cara berpikir penulis itu sendiri — bukan kategori dogmatis yang datang belakangan dari tradisi gereja atau Teologi Sistematika. Sebagai contoh, ketika membaca pernyataan Yakobus bahwa “iman tanpa perbuatan adalah mati” (Yak. 2:26), tugas deskriptif menuntut mahasiswa memahami dahulu apa yang dimaksud Yakobus dengan istilah “iman” dan “perbuatan” dalam konteksnya sendiri, sebelum buru-buru menyelaraskannya dengan doktrin pembenaran oleh iman dalam Surat Roma.
Pendekatan ini berbeda dari pendekatan preskriptif atau normatif Teologi Sistematika, yang menyusun ajaran final tentang suatu doktrin bagi gereja masa kini. Kejujuran deskriptif inilah yang menjadi fondasi bagi tahap-tahap tugas berikutnya. Secara praktis, tugas ini menuntut ketelitian eksegetis — memperhatikan pilihan kata, struktur kalimat, dan tujuan retoris tiap surat — sehingga kesimpulan teologis benar-benar berakar pada teks, bukan pada asumsi yang dibawa pembaca dari luar.
Setiap surat Perjanjian Baru ditulis untuk menjawab situasi konkret suatu jemaat atau pribadi tertentu, bukan sebagai risalah teologi yang abstrak dan universal sejak awal. Karena itu, tugas historis menuntut mahasiswa menempatkan tiap kitab dalam latar belakang sejarah, sosial, dan budaya penulisannya — siapa penulisnya, kepada siapa surat itu ditujukan, apa krisis yang mendorong penulisannya, serta situasi politik dan keagamaan pada masanya.
Sebagai ilustrasi, penekanan Surat Galatia pada kebebasan dari hukum Taurat hanya dapat dipahami secara utuh jika mahasiswa mengetahui adanya tekanan dari para pengajar Yudais; demikian pula penegasan keutamaan Kristus dalam Surat Kolose baru bermakna penuh ketika dikaitkan dengan ajaran sesat sinkretis yang mengancam jemaat itu. Tugas historis inilah yang mendorong pentingnya mempelajari persoalan-persoalan pengantar tiap kitab, sehingga penafsiran tidak jatuh pada anakronisme — membaca teks kuno dengan mengabaikan konteks aslinya.
Setelah memahami ajaran tiap penulis secara deskriptif dan historis, tugas komparatif mengarahkan mahasiswa untuk membandingkan tekanan dan cara pengungkapan teologis antarpenulis. Misalnya, Kristologi Paulus yang menekankan Kristus sebagai dasar pembenaran oleh iman dapat dibandingkan dengan Kristologi Ibrani yang menekankan Kristus sebagai Imam Besar Agung, atau Kristologi Yohanes yang menekankan pra-eksistensi Kristus sebagai Firman yang kekal.
Perbandingan semacam ini sering menyingkapkan bukan pertentangan, melainkan pelengkap yang memperkaya — bahasa forensik Paulus tentang pembenaran oleh iman melengkapi, bukan bertentangan dengan, penekanan praktis Yakobus bahwa iman sejati selalu berbuah dalam perbuatan. Meski demikian, tugas ini menuntut kesabaran: perbandingan yang tergesa-gesa dapat mengaburkan kekhasan tiap penulis sebelum setiap suara dibiarkan berbicara secara utuh dalam konteksnya sendiri.
Tugas terakhir adalah merangkai seluruh hasil kajian deskriptif, historis, dan komparatif menjadi suatu sintesis yang koheren, yang memperlihatkan baik kesatuan (unity) maupun keberagaman (diversity) ajaran Perjanjian Baru sebagai satu kanon yang utuh. Sintesis ini tidak meratakan seluruh perbedaan penekanan menjadi satu suara tunggal, melainkan menunjukkan bagaimana suara-suara yang beragam itu bersama-sama bersaksi tentang satu Injil yang sama tentang Yesus Kristus.
Tugas ini menjadikan Teologi Perjanjian Baru sebagai jembatan menuju Teologi Sistematika. Sebagai contoh, doktrin pembenaran oleh iman yang utuh baru dapat dirumuskan setelah membaca bersama-sama Surat Roma, Galatia, dan Yakobus secara kanonik — memahami bagaimana ketiganya, meski menggunakan penekanan berbeda, sama-sama bersaksi bahwa iman yang menyelamatkan adalah iman yang hidup dan nyata dalam ketaatan.
Para ahli lazim menggunakan beberapa metode berikut2:
Metode ini menelusuri perkembangan wahyu Perjanjian Baru secara kronologis, dimulai dari kitab yang paling awal ditulis hingga yang paling akhir, dengan tujuan melihat bagaimana pemahaman jemaat mula-mula tentang berbagai doktrin berkembang dan semakin diperdalam seiring waktu dan pengalaman pelayanan para rasul.
Sebagai contoh, pemahaman tentang eklesiologi dalam surat-surat awal Paulus seperti 1 Tesalonika masih relatif sederhana, sedangkan dalam Surat-surat Penggembalaan yang ditulis belakangan, struktur kepemimpinan gereja sudah dijabarkan lebih rinci. Metode ini perlu digunakan dengan hati-hati agar tidak jatuh pada anggapan keliru bahwa tulisan yang lebih belakangan otomatis lebih berwibawa; seluruh kitab Perjanjian Baru, tanpa memandang urutan penulisannya, sama-sama diilhamkan dan berotoritas penuh sebagai Firman Allah.
Metode ini menyusun teologi tiap penulis atau kelompok tulisan (korpus) secara utuh dan mandiri terlebih dahulu — misalnya menyusun Teologi Paulus dari keempat belas suratnya, atau Teologi Yohanes dari Injil dan surat-suratnya — sebelum membandingkannya dengan penulis lain.
Pendekatan ini menghormati keutuhan pemikiran tiap penulis sebagai penulis yang koheren dan disengajakan. Kelemahannya adalah risiko terlalu menyistematisasikan pemikiran satu penulis seolah tidak mengalami perkembangan apa pun, padahal surat-surat awal dan akhir penulis yang sama — misalnya Paulus di 1 Tesalonika dibandingkan 2 Timotius — bisa menunjukkan penekanan yang sedikit bergeser sesuai konteks dan kedewasaan rohaninya.
Metode ini menelusuri satu tema teologis tertentu — seperti Kristologi, Soteriologi, Pneumatologi, atau Eskhatologi — dengan bergerak melintasi berbagai kitab dan penulis, memperlihatkan bagaimana tema yang sama ditekankan atau diungkapkan dengan cara berbeda-beda oleh masing-masing penulis.
Inilah metode utama yang dipakai dalam mata kuliah ini: dengan menelusuri Kristologi dari Surat Galatia hingga Surat Yudas, mahasiswa dapat melihat kekayaan gambaran tentang Kristus sekaligus melatih kepekaan mengajar tentang tema yang sama dari berbagai bagian Alkitab. Risikonya adalah melepaskan ayat dari konteks aslinya jika tidak berhati-hati; karena itu tugas deskriptif dan historis pada bagian C.1 tetap harus mendasari metode ini.
Metode kanonik membaca dan menafsirkan Perjanjian Baru sebagai satu kesatuan kanon yang telah selesai dan diterima gereja, dengan berfokus pada makna teologis yang muncul dari susunan akhir kanon tersebut — bagaimana keempat Injil, Kisah Para Rasul, surat-surat, dan Kitab Wahyu saling melengkapi sebagai satu kesaksian utuh tentang Yesus Kristus.
Metode kanonik sering berfungsi sebagai langkah penyintesis terakhir setelah tugas deskriptif, historis, dan komparatif selesai dilakukan — menyatukan hasil kajian atas kitab-kitab secara individual ke dalam gambaran besar tentang bagaimana seluruh Perjanjian Baru bersaksi tentang karya keselamatan Allah di dalam Kristus.
)}
Teologi Perjanjian Baru berfungsi sebagai disiplin jembatan (bridge discipline) antara eksegesis/tafsir teks dan Teologi Sistematika. Ia menyediakan bahan deskriptif-kontekstual dari tiap kitab, yang kemudian dirangkai secara logis-tematis lintas seluruh Alkitab oleh Teologi Sistematika.
Perkiraan tahun penulisan menurut pandangan umum para ahli3, beserta kelompok pembelajarannya dalam mata kuliah ini.
Catatan: yang terpenting bagi mahasiswa adalah memahami pengelompokan besar — Surat-surat Awal (masa pekabaran Injil keliling Paulus), Surat-surat Penjara (masa pemenjaraan pertama Paulus di Roma), Surat Penggembalaan (masa akhir pelayanan Paulus), dan Surat-surat Umum (ditulis oleh penulis selain Paulus).4
Mata kuliah ini menelusuri empat tema secara lintas kitab (Metode Tematik, lihat C.2), sehingga terlihat bagaimana tiap penulis menjawab tema yang sama dengan penekanannya masing-masing.5
Bahan ajar disusun dalam satuan-satuan kecil yang disebut Pelajaran — satu Pelajaran untuk satu kitab (atau kelompok kitab berdekatan) pada satu tema teologi tertentu. Total terdapat 58 Pelajaran yang dipublikasikan bertahap di dhh.sttkalimantan.ac.id, tergabung dalam 14 kali Pertemuan.
- 📝 Tugas Terstruktur — meringkas bahan ajar tiap Pelajaran (maks. 1 halaman), memuat pokok teologi, ayat-ayat kunci, dan aplikasi praktis.
- 🙏 Tugas Mandiri — memilih 1 dari 12 topik renungan berbasis teologi Perjanjian Baru, ditulis minimal 2 halaman, dikumpulkan paling lambat Pertemuan 14.
- 🎯 UTS & UAS — dilaksanakan dalam format take home, masing-masing mencakup separuh materi perkuliahan.
Teologi Perjanjian Baru 2 melanjutkan kajian Teologi Perjanjian Baru 1 dengan berfokus pada surat-surat Paulus dan surat-surat umum, disusun menurut kronologi penulisan dan dibahas melalui pendekatan tematik empat pilar: Kristologi, Soteriologi, Pneumatologi, dan Eskhatologi. Tugas keilmuan disiplin ini bersifat deskriptif, historis, komparatif, dan sintetik-kanonik, dikerjakan melalui metode historis-genetik, per-penulis, tematik, maupun kanonik. Pembelajaran mata kuliah ini sendiri disusun dalam satuan Pelajaran per kitab, dengan Tugas Terstruktur (meringkas) dan Tugas Mandiri (renungan) sebagai sarana pendalaman dan aplikasi pribadi.
- Mengapa penting memahami konteks historis dan kronologi penulisan sebuah surat sebelum menafsirkan teologinya?
- Dari keempat metode Teologi Perjanjian Baru (historis-genetik, per-penulis, tematik, kanonik), mengapa mata kuliah ini memilih metode tematik sebagai pendekatan utama? Apa kelebihan dan keterbatasannya?
- Dari keempat pilar tematik (Kristologi, Soteriologi, Pneumatologi, Eskhatologi), pilar manakah yang menurut Anda paling relevan dengan pergumulan pelayanan Anda saat ini, dan mengapa?
Ringkas bahan ajar Pelajaran 1 (Pengantar Teologi Perjanjian Baru 2) dalam maksimal 1 halaman, memuat: (1) perbedaan Teologi Perjanjian Baru 1 dan 2, (2) tugas dan metode Teologi Perjanjian Baru sebagai disiplin ilmu, (3) kronologi umum surat-surat Paulus dan surat umum, dan (4) penjelasan singkat keempat pilar tematik. Kumpulkan pada Pertemuan 1.
- George Eldon Ladd, A Theology of the New Testament, rev. ed., ed. Donald A. Hagner (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1993), 15–20.
- Frank Thielman, Theology of the New Testament: A Canonical and Synthetic Approach (Grand Rapids, MI: Zondervan, 2005), 1–20.
- D. A. Carson and Douglas J. Moo, An Introduction to the New Testament, 2nd ed. (Grand Rapids, MI: Zondervan, 2005), 235–420.
- Ibid., 655–670.
- Thomas R. Schreiner, New Testament Theology: Magnifying God in Christ (Grand Rapids, MI: Baker Academic, 2008), 11–15.
- Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan, Buku Panduan Kurikulum Program Studi S1 Teologi (Pontianak: STT Kalimantan, 2015), Surat Keputusan No. 72/STK-SK/2015.
Bahan ajar ini merupakan bagian dari Silabus Teologi Perjanjian Baru 2 (DTh-137.206), Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan.6