Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

xpb1-04

STT Kalimantan
S1 Teologi & S1 Pendidikan Agama Kristen

Eksposisi Perjanjian Baru 1

Matius · Markus · Lukas · Yohanes · Kisah Para Rasul
PERTEMUAN 4
Pengantar Lukas (62–63 M) & Kisah Para Rasul (62–63 M)

📌 Topik Pertemuan
Lukas–Kisah Para Rasul sebagai Satu Karya Dua Jilid: dari Injil untuk Kaum Marginal hingga Kelahiran Gereja

📖 Perikop Fokus
Lukas 1:1–4; 4:16–30
Kisah 1:1–11; 2:1–13

🧭 Posisi dalam Kurikulum

Pertemuan ini menandai peralihan dari Markus (Injil tertua) ke Lukas–Kisah sebagai karya historis-teologis yang paling sadar historiografi dalam Perjanjian Baru. Mahasiswa diharapkan telah memahami karakteristik Markus (narasi cepat, Messianic Secret, jalan salib) sebagai dasar untuk melihat bagaimana Lukas memanfaatkan dan mengembangkan tradisi Markus sambil menambahkan penekanan teologis yang khas.

I. Kerangka Krono-Teologis Lukas–Kisah ▾

Lukas–Kisah ditulis sebagai satu karya dua jilid (a two-volume work). Prolog Kisah 1:1 secara eksplisit merujuk kembali kepada “kitab yang pertama” (τὸν μὲν πρῶτον λόγον). Estimasi penulisan 62–63 M didasarkan pada fakta bahwa Kisah berakhir dengan Paulus di Roma tanpa menyebutkan kematian Paulus (64–67 M) maupun Kebakaran Roma (64 M).

Posisi Lukas–Kisah dalam urutan krono-teologis:

Markus — 60–61 M
Injil tertua; konteks Roma
✦ Lukas — 62–63 M
Tidak mencatat peristiwa 64 M
✦ Kisah Para Rasul — 62–63 M
Berakhir sebelum kematian Paulus

II. Identitas Penulis dan Tujuan Penulisan ▾

A. Lukas si Dokter

Tradisi gereja perdana (Irenaeus, Eusebius, Kanon Muratori) mengidentifikasi penulis sebagai Lukas, rekan seperjalanan Paulus (Kol. 4:14; Flm. 24; 2 Tim. 4:11).1 Gaya Yunani yang literer dan ketelitian historiografi mendukung identitas ini.

Klaim bahwa kosakata medis dalam Lukas–Kisah membuktikan profesi dokter penulisnya—diajukan pertama kali oleh W. K. Hobart—telah dibantah secara meyakinkan oleh Henry J. Cadbury, yang menunjukkan bahwa istilah-istilah tersebut lazim dipakai oleh penulis Yunani terpelajar pada umumnya, bukan eksklusif kalangan medis.2 Identitas Lukas sebagai “tabib yang kekasih” (Kol. 4:14) karenanya tetap berdasar pada kesaksian eksternal, bukan bukti internal kosakata.

B. Tujuan Teologis

Lukas menulis untuk Teofilus (dan pembaca Gentil yang lebih luas) agar “mengenal dengan pasti” (ἐπιγνῷς … τὴν ἀσφάλειαν) ajaran yang telah diterimanya (Luk. 1:4). Tujuan utamanya adalah menunjukkan kesinambungan rencana Allah dari Israel ke gereja Gentil melalui kuasa Roh Kudus.

C. Mengapa Lukas Dianggap Penulis Kedua Kitab Ini

Argumentasi kepenulisan tunggal Lukas atas Injil dan Kisah bertumpu pada gabungan bukti eksternal dan internal berikut:

1. Kesaksian Patristik Eksternal
Irenaeus, Kanon Muratori, dan Eusebius secara konsisten dan tanpa perselisihan menyebut nama Lukas sebagai penulis kedua kitab ini—kesepakatan tradisi yang jarang ditemukan seragam untuk karya anonim Perjanjian Baru lainnya.1
2. Kesatuan Sastra Dua Jilid
Kedua kitab dialamatkan kepada penerima yang sama, Teofilus (Luk. 1:3; Kis. 1:1), dengan Kisah 1:1 secara eksplisit merujuk kembali kepada “kitab yang pertama” (τὸν μὲν πρῶτον λόγον)—pengait sastra yang menempatkan kedua kitab sebagai satu proyek penulisan berkelanjutan, bukan dua karya independen yang kebetulan disatukan kemudian.
3. Kesatuan Gaya dan Kosakata
Analisis statistik kosakata dan gaya sintaksis oleh Henry J. Cadbury dan Adolf von Harnack menunjukkan tingkat kemiripan linguistik yang tinggi antara Injil Lukas dan Kisah Para Rasul, konsisten dengan satu tangan penulis yang sama di kedua jilid.
4. Bagian “Kami” (We-Passages)
Pada empat rangkaian narasi Kisah (16:10–17; 20:5–15; 21:1–18; 27:1–28:16), sudut pandang narasi tiba-tiba beralih dari orang ketiga (“mereka”) menjadi orang pertama jamak (“kami”)—menandakan bahwa penulis sendiri turut serta sebagai saksi mata dalam tahap-tahap tertentu perjalanan misi Paulus. Colin Hemer menilai perubahan sudut pandang ini sebagai indikator kesaksian langsung yang paling kuat bagi identitas penulis sebagai rekan seperjalanan Paulus.3

Sorotan Eksegetis: Kisah 16:10 — Kemunculan Pertama “Kami”

TB: “Setelah Paulus melihat penglihatan itu, segeralah kami mencari kesempatan untuk berangkat ke Makedonia, karena dari penglihatan itu kami menarik kesimpulan, bahwa Allah telah memanggil kami untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di sana.”

SBLGNT: ὡς δὲ τὸ ὅραμα εἶδεν, εὐθέως ἐζητήσαμεν ἐξελθεῖν εἰς Μακεδονίαν, συμβιβάζοντες ὅτι προσκέκληται ἡμᾶς ὁ θεὸς εὐαγγελίσασθαι αὐτούς.

Ayat ini menyusul penglihatan Paulus tentang seorang Makedonia yang memohon pertolongan (16:9). Pergeseran kata ganti dari orang ketiga—dipakai sepanjang 16:1–8 untuk kelompok Paulus, Silas, dan Timotius—menjadi orang pertama jamak (ἐζητήσαμεν, “kami mencari”; ἡμᾶς, “kami”) terjadi tepat di titik ini, di kota Troas, tanpa penjelasan atau perkenalan tokoh baru—pola yang konsisten berulang di keempat we-passages.

Secara geografis-teologis, ayat ini menandai titik balik penting: Injil menyeberang dari Asia ke Eropa (Makedonia) untuk pertama kalinya, menggenapi pola ekspansi Kisah 1:8 secara konkret.

Terdapat dua pembacaan ilmiah utama atas fenomena ini:

Pandangan kesaksian mata (Hemer, F. F. Bruce, Fitzmyer): pergeseran kata ganti mencerminkan penulis benar-benar bergabung dengan rombongan Paulus di Troas sebagai pendamping perjalanan.
Pandangan konvensi sastra (Vernon K. Robbins): gaya “kami” dalam narasi pelayaran laut adalah konvensi genre Yunani-Romawi kuno untuk kisah perjalanan laut, dipakai secara stilistik tanpa harus menandakan kehadiran penulis sebagai saksi mata langsung.4

Mayoritas sarjana injili—dan tidak sedikit sarjana kritis—tetap condong pada pembacaan pertama, karena pola “muncul-menghilang”-nya “kami” bertepatan persis dengan kehadiran-ketidakhadiran seorang pendamping tertentu dalam perjalanan Paulus, pola yang sulit dijelaskan semata sebagai konvensi genre.

5. Argumen dari Proses Eliminasi
Sejumlah rekan seperjalanan Paulus yang disebutkan namanya dalam surat-surat Paulus (Silas, Timotius, Titus, Markus, Aristarkhus, dan lain-lain) justru dirujuk sebagai tokoh pihak ketiga di dalam narasi Kisah itu sendiri, sehingga secara logis tersingkir sebagai kandidat penulis “kami”. Joseph Fitzmyer menunjukkan bahwa dari daftar pendamping Paulus yang tidak disebut dalam narasi orang ketiga, Lukas adalah kandidat yang paling konsisten dengan kesaksian patristik dan dengan pola kemunculan-menghilangnya tokoh dalam we-passages.5

III. Karakteristik Unik Lukas ▾
🤲 Kaum Marginal
Perhatian khusus kepada perempuan, orang miskin, pemungut cukai, orang Samaria, dan orang berdosa.
🕊 Roh Kudus
Peran Roh Kudus yang jauh lebih menonjol dibandingkan Injil manapun.
🌍 Keselamatan Universal
Keselamatan (sōtēria) yang terbuka bagi semua bangsa, bukan hanya Israel.
🛤 Struktur Perjalanan
Yesus “menetapkan wajah-Nya untuk pergi ke Yerusalem” (9:51) sebagai poros teologis narasi.

IV. Struktur Kisah Para Rasul ▾
Gereja di Yerusalem — pasal 1–7
Kelahiran gereja & kesaksian Petrus
Transisi ke Gentil — pasal 8–12
Filipus, Paulus, Petrus & Kornelius
Misi Paulus — pasal 13–28
Dari Antiokhia hingga Roma
Catatan: F. F. Bruce menunjukkan bahwa Kisah 1:8—”kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi”—berfungsi sebagai kerangka geografis-programatik yang membentuk seluruh struktur kitab ini.8

V. Analisis Tekstual Fokus ▾

A. Lukas 1:1–4 — Prolog Historiografis

Lukas secara sadar menempatkan karyanya dalam tradisi historiografi Yunani-Romawi, mirip gaya pembuka karya Tukidides atau Polybius. Ia mengklaim telah “menyelidiki segala sesuatu dengan seksama dari asal-usulnya” (παρηκολουθηκότι ἄνωθεν πᾶσιν ἀκριβῶς). Loveday Alexander menunjukkan bahwa struktur dan kosakata prolog ini paling dekat dengan konvensi kata pengantar karya-karya ilmiah teknis Yunani (risalah medis, teknis, ilmiah), bukan historiografi sastra tinggi—sebuah nuansa yang memperhalus, bukan menghapuskan, klaim historiografis Lukas.6

B. Lukas 4:16–30 — Manifesto Nazaret

Yesus membaca Yesaya 61:1–2 di rumah ibadat Nazaret dan menyatakan penggenapannya “pada hari ini” (4:21). Penolakan yang menyusul menjadi prototipe penolakan Israel sekaligus pembukaan pintu keselamatan bagi bangsa-bangsa lain—preseden yang Lukas rujuk lewat kisah Elia dan Elisa yang melayani orang bukan Israel (4:25–27).

Hans Conzelmann menempatkan perikop ini sebagai “program” (Programm) yang membingkai seluruh pelayanan Yesus dalam Lukas, sekaligus menandai awal skema geografis tiga-babak (Galilea → perjalanan ke Yerusalem → Yerusalem) yang menjadi ciri struktural khas Injil ini.7

C. Kisah 1:1–11 & 2:1–13 — Kenaikan dan Pentakosta

Kenaikan dan Pentakosta membentuk jembatan teologis: Yesus naik ke sorga (1:9–11) → Roh Kudus turun atas jemaat (2:1–4) → gereja lahir dan mulai bersaksi sampai ke ujung bumi. Janji Yesus di 1:8 secara langsung digenapi dalam peristiwa Pentakosta, menjadikan kedua perikop ini sebagai engsel naratif antara jilid pertama (Injil) dan jilid kedua (Kisah) dari karya Lukas.

VI. Rencana Tatap Muka (150 Menit) ▾
20 menit
Konteks historis Lukas & tujuan teologis Lukas–Kisah sebagai satu narasi
50 menit
Eksegesis Lukas 1:1–4 & 4:16–30
50 menit
Eksegesis Kisah 1:1–11 & 2:1–13
30 menit
Diskusi kesinambungan Lukas–Kisah

VII. Penugasan ▾

Tugas Terstruktur

1. Identifikasi minimal delapan cerita atau perumpamaan yang hanya terdapat di Lukas (Sondergut Lukas).

2. Buat peta garis besar struktur Kisah Para Rasul (pasal 1–28) beserta tema tiap bagian.

3. Daftar keempat rangkaian we-passages dalam Kisah Para Rasul beserta referensi ayatnya, lalu jelaskan mengapa perubahan sudut pandang tersebut dianggap bukti kesaksian mata sang penulis.

Tugas Mandiri (Pilih Satu)

A — S1 Teologi
Bagaimana Lukas memakai materi Markus dan menambahkan materi unik? Lakukan analisis redaksional singkat.
B — S1 PAK
Mengapa Lukas menulis dua jilid sebagai satu narasi berkelanjutan? Refleksikan implikasinya bagi pengajaran sejarah gereja.

Catatan Kaki

1 Irenaeus, Adversus Haereses III.1.1; Eusebius dari Kaisarea, Historia Ecclesiastica III.4.6, ed. Kirsopp Lake, Loeb Classical Library (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1926).

2 W. K. Hobart, The Medical Language of St. Luke (Dublin: Hodges, Figgis, & Co., 1882); disanggah oleh Henry J. Cadbury, The Style and Literary Method of Luke, Harvard Theological Studies 6 (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1920), 39–72.

3 Colin J. Hemer, The Book of Acts in the Setting of Hellenistic History, ed. Conrad H. Gempf, WUNT 49 (Tübingen: J. C. B. Mohr, 1989), 312–34.

4 Vernon K. Robbins, “By Land and By Sea: The We-Passages and Ancient Sea Voyages,” dalam Perspectives on Luke-Acts, ed. Charles H. Talbert (Danville, VA: Association of Baptist Professors of Religion, 1978), 215–42.

5 Joseph A. Fitzmyer, The Gospel According to Luke I–IX, Anchor Bible 28 (New York: Doubleday, 1981), 35–53.

6 Loveday Alexander, The Preface to Luke’s Gospel: Literary Convention and Social Context in Luke 1.1–4 and Acts 1.1, SNTS Monograph Series 78 (Cambridge: Cambridge University Press, 1993), 101–48.

7 Hans Conzelmann, The Theology of St. Luke, terj. Geoffrey Buswell (Philadelphia: Fortress Press, 1961), 31–37.

8 F. F. Bruce, The Book of Acts, New International Commentary on the New Testament, rev. ed. (Grand Rapids: Eerdmans, 1988), 30–33.

STT Kalimantan · EKS-2101 Eksposisi Perjanjian Baru 1 · Pertemuan 4 · slug: xpb1-04
Exit mobile version