Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

tpb2-eskhatologi

Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Eskhatologi dalam Surat-surat Perjanjian Baru

Kedatangan Kristus, Kebangkitan Tubuh, dan Pengharapan Akhir Zaman
Surat-surat Paulus, Ibrani, Yakobus, Petrus, dan Yudas
Teologi Perjanjian Baru 2 (DTh-137.206)
Pdt. D. Horatius Herman, M.Th.
Petunjuk: ketuk judul setiap bagian untuk membuka atau menutup uraiannya. Ketuk angka kecil di atas kata untuk melihat catatan kaki di dasar bagian itu.
Pendahuluan

Pertemuan 1 sampai 4 menelusuri siapa Kristus, apa yang Ia kerjakan bagi keselamatan manusia, bagaimana Roh Kudus menerapkan karya itu, dan menjadi apakah orang-orang yang telah diselamatkan dan diberi Roh itu bersama-sama sebagai gereja. Pertemuan ini menutup rangkaian tema dengan bertanya: ke arah manakah seluruh karya Allah ini menuju? Eskhatologi (dari ἔσχατος, “yang terakhir”) membahas kedatangan Kristus yang kedua, kebangkitan tubuh, penghakiman, dan pengharapan akan langit dan bumi yang baru sebagaimana disaksikan dalam surat-surat Perjanjian Baru.

Sebelum membaca teks-teksnya, Pelajaran ini terlebih dahulu memperkenalkan empat pendekatan penafsiran yang lazim dipakai dalam eskhatologi Kristen, sebab pendekatan yang dipilih seorang penafsir memengaruhi caranya membaca bahasa simbolis dan nubuat dalam surat-surat ini. Pembahasan kemudian dibatasi pada empat tema: perkembangan dari pengharapan akan kedatangan yang segera menuju kesadaran akan kedatangan yang tertunda; pertanyaan tentang kebangkitan yang bersifat korporat dan kebangkitan yang dialami secara pribadi oleh orang percaya yang meninggal sebelum kedatangan Kristus; penghakiman terakhir; dan pengharapan akan dunia yang baru.

Dua pokok Pelajaran ini
Perkembangan Pengharapan dan Kebangkitan
Dari “kedatangan yang segera” menuju “kedatangan yang tertunda”; kebangkitan korporat/Massal (1 Tesalonika, 1 Korintus) dan pertanyaan tentang pengalaman pribadi orang percaya yang meninggal sebelum kedatangan Kristus (Kebangkitan Parsial, 2 Korintus 5:1).
Penghakiman dan Pengharapan Dunia Baru
Penghakiman terakhir atas semua orang, dan pengharapan akan langit dan bumi yang baru sebagai tujuan akhir karya Allah.

Setiap tema ditelusuri melalui surat-surat Paulus — mulai dari surat-surat yang paling awal seperti 1 dan 2 Tesalonika, melalui 1 dan 2 Korintus dan Roma, sampai kepada surat-surat penjara dan surat-surat penggembalaan — serta melalui Ibrani, Yakobus, Petrus, dan Yudas. Dengan cara ini kesatuan sekaligus perkembangan kesaksian Perjanjian Baru tentang pengharapan akhir dapat terlihat.

1. Latar Diskusi Para Pakar

Sebelum menelusuri teks-teksnya, ada baiknya mengenal empat pendekatan yang lazim dipakai untuk menafsirkan bahasa nubuat dan apokaliptik dalam Perjanjian Baru, khususnya bagian-bagian yang berbicara tentang “manusia durhaka”, “hari Tuhan”, dan peristiwa-peristiwa akhir zaman. Keempat pendekatan ini biasanya dibahas sehubungan dengan Kitab Wahyu, tetapi prinsip-prinsipnya turut memengaruhi cara membaca bagian-bagian nubuat dalam surat-surat seperti 2 Tesalonika 2 dan 2 Petrus 3.

Empat pendekatan penafsiran nubuat
Futuris
Sebagian besar nubuat akhir zaman menunjuk pada peristiwa-peristiwa yang belum terjadi dan akan digenapi menjelang kedatangan Kristus yang kedua.
Preteris — Penuh (Full)
Nubuat-nubuat itu sudah sepenuhnya tergenapi pada abad pertama, termasuk kedatangan Kristus dan kebangkitan orang mati, sehingga tidak ada lagi peristiwa akhir zaman yang masih dinantikan secara harfiah pada masa depan.
Preteris — Sebagian (Partial)
Sebagian besar nubuat tergenapi pada abad pertama, terutama berkaitan dengan keruntuhan Yerusalem tahun 70 M, tetapi hari Tuhan, kedatangan Kristus yang kedua, dan kebangkitan orang mati tetap dipahami sebagai peristiwa yang masih akan datang.
Historis
Nubuat itu menggambarkan secara garis besar perjalanan sejarah gereja dari zaman para rasul sampai kepada kedatangan Kristus yang kedua, dengan setiap bagian nubuat sesuai dengan satu periode sejarah tertentu.
Idealis
Bahasa nubuat itu bersifat simbolis dan menggambarkan pergumulan yang berulang antara kebaikan dan kejahatan sepanjang zaman, tanpa dimaksudkan untuk dipetakan pada satu rangkaian peristiwa historis tertentu, baik yang sudah maupun yang akan terjadi.1

Perbedaan pendekatan ini penting diketahui sebab akan memengaruhi cara seorang penafsir membaca teks-teks seperti “manusia durhaka” dalam 2 Tes. 2 atau bahasa “langit yang lenyap dengan gemuruh” dalam 2 Pet. 3: apakah sebagai peristiwa yang sudah terjadi pada abad pertama (preteris), yang masih akan terjadi menjelang akhir zaman (futuris), yang tergambar sepanjang sejarah gereja (historis), atau sebagai gambaran simbolis pergumulan rohani yang berulang (idealis). Pelajaran ini secara umum condong pada pembacaan futuris yang lazim dipegang kalangan evangelikal untuk peristiwa-peristiwa inti — kedatangan Kristus, kebangkitan, dan penghakiman — tanpa menutup diskusi lebih lanjut tentang bagian-bagian yang lebih simbolis.

Setelah kerangka penafsiran itu, diskusi modern tentang eskhatologi Perjanjian Baru masih berkisar pada pertanyaan sejauh mana Kerajaan Allah sudah hadir dan sejauh mana masih akan datang. Albert Schweitzer, pada awal abad kedua puluh, berargumen bahwa Yesus dan jemaat mula-mula meyakini kedatangan Kerajaan Allah sudah sangat dekat, bahkan akan terjadi dalam masa hidup generasi mereka sendiri — pandangan yang disebutnya “eskhatologi yang konsisten” (consistent/thoroughgoing eschatology), dengan etika Yesus sebagai “etika sementara” (interim ethic) yang hanya masuk akal bagi orang yang meyakini waktu yang tersisa sangat singkat.2

C. H. Dodd menempuh arah yang berlawanan dengan menekankan “eskhatologi yang telah terealisasi” (realized eschatology): Kerajaan Allah, menurutnya, sudah hadir secara penuh di dalam pelayanan Yesus, dan bahasa tentang kedatangan yang akan datang sebagian besar bersifat simbolis bagi kenyataan yang sudah tergenapi.3

George Eldon Ladd mengajukan sintesis yang menjadi rujukan luas di kalangan evangelikal, dikenal sebagai pola “sudah, tetapi belum” (already/not yet): Kerajaan Allah sudah masuk ke dalam sejarah melalui pelayanan, kematian, dan kebangkitan Kristus, tetapi penggenapan penuhnya masih menanti kedatangan-Nya yang kedua.

Kutipan Pakar

“to expound how and in what sense the eschatological Kingdom has become a present reality in Jesus’ mission”4

Terjemahan bebas: menguraikan bagaimana dan dalam pengertian apa Kerajaan eskhatologis telah menjadi kenyataan masa kini di dalam pelayanan Yesus.

— George Eldon Ladd, The Presence of the Future, xii

Pola “sudah, tetapi belum” inilah yang menjadi kerangka umum bagi pembahasan tentang perkembangan pengharapan “segera” dan “tertunda” pada bagian berikut.

Berkaitan dengan waktu “pengangkatan” orang percaya dibandingkan dengan masa kesengsaraan akhir zaman, sebagian penafsir dispensasionalis membela pandangan pra-tribulasi, sedangkan Ladd sendiri membela pandangan pasca-tribulasi.5 Berkaitan dengan masa seribu tahun (Why. 20, di luar korpus Pertemuan ini), Anthony Hoekema membela posisi amilenial, yang memahami pemerintahan Kristus sebagai kenyataan rohani yang sedang berlangsung sekarang:

Kutipan Pakar

“realized millennialism”6

Terjemahan bebas: milenialisme yang telah terealisasi.

— Anthony A. Hoekema, The Bible and the Future, 173

N. T. Wright menekankan pokok yang berbeda: bahwa pengharapan Kristen sejati bukan “pergi ke sorga” sebagai keadaan akhir, melainkan kebangkitan tubuh pada langit dan bumi yang baru, sesudah masa antara bersama Kristus:

Kutipan Pakar

“life after life after death”7

Terjemahan bebas: hidup sesudah hidup sesudah kematian.

— N. T. Wright, Surprised by Hope, 151

Peta posisi para pakar
Albert Schweitzer
Yesus dan jemaat mula-mula meyakini kedatangan Kerajaan Allah sudah sangat dekat; etika Yesus adalah “etika sementara”.
C. H. Dodd
Kerajaan Allah sudah hadir secara penuh (“eskhatologi yang terealisasi”); bahasa kedatangan bersifat simbolis.
George Eldon Ladd
Pola “sudah, tetapi belum”: Kerajaan sudah masuk sejarah, tetapi penggenapan penuh masih akan datang; membela pasca-tribulasi.
Anthony A. Hoekema
Amilenial: pemerintahan Kristus sedang berlangsung secara rohani sekarang, bukan masa seribu tahun literal yang akan datang.
N. T. Wright
Pengharapan Kristen adalah kebangkitan tubuh pada langit dan bumi baru, bukan sekadar “pergi ke sorga”.

Pelajaran ini mengikuti pola “sudah, tetapi belum” dari Ladd sebagai kerangka umum, dan pendekatan futuris sebagai kecenderungan umum bagi peristiwa-peristiwa inti, sambil menyajikan teks-teks yang relevan bagi perdebatan lain tanpa menuntaskannya, sebab sebagian bergantung pada pembacaan Wahyu 20, yang berada di luar korpus Pertemuan ini.

Catatan Kaki

1. Steve Gregg, ed., Revelation: Four Views: A Parallel Commentary, rev. ed. (Nashville: Thomas Nelson, 1997), 32–45. ↩

2. Albert Schweitzer, The Quest of the Historical Jesus: A Critical Study of Its Progress from Reimarus to Wrede, trans. W. Montgomery (London: A. & C. Black, 1910), 368–401. ↩

3. C. H. Dodd, The Parables of the Kingdom, rev. ed. (London: Nisbet, 1961), 34–35. ↩

4. George Eldon Ladd, The Presence of the Future: The Eschatology of Biblical Realism, rev. ed. (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1974), xii. ↩

5. George Eldon Ladd, The Blessed Hope: A Biblical Study of the Second Advent and the Rapture (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1956). ↩

6. Anthony A. Hoekema, The Bible and the Future (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1979), 173–74. ↩

7. N. T. Wright, Surprised by Hope: Rethinking Heaven, the Resurrection, and the Mission of the Church (New York: HarperOne, 2008), 148–56. ↩

2. Dari Kedatangan yang Segera menuju Kedatangan yang Tertunda

Perkembangan dari Pengharapan Kedatangan yang Segera menuju Kesadaran akan Kedatangan yang Tertunda

1 Tesalonika: “Kita yang Hidup, yang Masih Tinggal”
Teks Kunci — 1 Tes. 4:15

ἐροῦμεν ὑμῖν ἐν λόγῳ κυρίου, ὅτι ἡμεῖς οἱ ζῶντες οἱ περιλειπόμενοι εἰς τὴν παρουσίαν τοῦ κυρίου οὐ μὴ φθάσωμεν τοὺς κοιμηθέντας.

“kami katakan kepadamu sebagai firman Tuhan: kita yang hidup, yang masih tinggal sampai kedatangan Tuhan, sekali-kali tidak akan mendahului mereka yang telah meninggal.” (terjemahan bebas)

Dalam salah satu surat Paulus yang paling awal ini, ia berulang kali menempatkan dirinya sendiri di antara “kita yang hidup, yang masih tinggal” (ἡμεῖς οἱ ζῶντες οἱ περιλειπόμενοι) sampai kedatangan Tuhan (ay. 15, 17). Bahasa orang pertama jamak ini menunjukkan pengharapan yang hidup dan mendesak: Paulus menulis seolah-olah kedatangan Kristus bisa saja terjadi dalam masa hidupnya sendiri, tanpa memastikan hal itu maupun menyangkalnya secara eksplisit.

1 Kor. 15:51–52, yang telah dibahas pada bagian berikut, memakai pola bahasa yang serupa — “kita tidak akan mati semuanya, tetapi kita semuanya akan diubah” — sekali lagi menempatkan penulis dan pembaca di antara mereka yang mungkin masih hidup pada saat kedatangan itu.

2 Tesalonika: Meluruskan Kesalahpahaman tentang Kedekatan Hari Tuhan
Teks Kunci — 2 Tes. 2:1–2

ἐρωτῶμεν δὲ ὑμᾶς, ἀδελφοί … εἰς τὸ μὴ ταχέως σαλευθῆναι ὑμᾶς ἀπὸ τοῦ νοὸς μηδὲ θροεῖσθαι … ὡς ὅτι ἐνέστηκεν ἡ ἡμέρα τοῦ κυρίου.

“kami minta kepadamu, saudara-saudara … supaya kamu jangan lekas bingung dan tergoncang … seolah-olah hari Tuhan telah tiba.” (terjemahan bebas)

Tidak lama sesudah surat pertama, Paulus menulis surat kedua untuk meluruskan kesalahpahaman: sebagian jemaat Tesalonika rupanya menyimpulkan dari ajarannya sendiri bahwa hari Tuhan sudah tiba. Ia menjelaskan bahwa dua tanda harus terjadi lebih dahulu — kemurtadan dan penyataan “manusia durhaka” (telah dibahas pada bagian Penghakiman) — sebelum hari itu tiba. Surat ini memperlihatkan bahwa ketegangan antara pengharapan yang mendesak dan kebutuhan akan penjelasan yang lebih berhati-hati sudah muncul sangat awal dalam sejarah jemaat.

Surat-surat Penggembalaan: Pergeseran Penekanan

Pada surat-surat penggembalaan, yang ditulis pada periode pelayanan Paulus yang lebih belakangan, nada mendesak seperti dalam 1 Tesalonika tidak lagi menonjol. Perhatian bergeser kepada pengajaran yang sehat (διδασκαλία ὑγιαίνουσα, mis. 1 Tim. 1:10; 2 Tim. 4:3) dan suksesi kepemimpinan jemaat (telah dibahas dalam Pelajaran Ekklesiologi), meskipun pengharapan akan ἐπιφάνεια Kristus tetap ditegaskan (1 Tim. 6:14; 2 Tim. 4:1, 8; Tit. 2:13). 1 Tim. 4:1 menyebut “zaman akhir” (ὕστεροι καιροί) sebagai kerangka waktu yang lebih luas, tanpa penekanan pada kedekatan yang segera seperti dalam surat-surat Tesalonika.

2 Petrus 3: Menjawab Pengejek tentang Penundaan
Teks Kunci — 2 Pet. 3:3–4

τοῦτο πρῶτον γινώσκοντες ὅτι ἐλεύσονται ἐπ᾽ ἐσχάτων τῶν ἡμερῶν [ἐν] ἐμπαιγμονῇ ἐμπαῖκται … λέγοντες· ποῦ ἐστιν ἡ ἐπαγγελία τῆς παρουσίας αὐτοῦ; ἀφ᾽ ἧς γὰρ οἱ πατέρες ἐκοιμήθησαν, πάντα οὕτως διαμένει ἀπ᾽ ἀρχῆς κτίσεως.

“yang terutama harus kamu ketahui ialah, bahwa pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek … dan mengatakan: Mana janji tentang kedatangan-Nya itu? Sebab sejak nenek moyang kita meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula, sejak permulaan ciptaan.” (terjemahan bebas)

Pada tahap kesaksian Perjanjian Baru yang paling belakangan, penundaan kedatangan Kristus telah menjadi begitu panjang sehingga muncul pengejek-pengejek yang secara terbuka meragukan janji itu, dengan alasan bahwa dunia tampak berjalan seperti biasa sejak semula. 2 Petrus menjawab keberatan ini secara langsung — bukan dengan menyangkal penundaan itu, melainkan dengan menjelaskan maknanya:

Teks Kunci — 2 Pet. 3:8–9

μία ἡμέρα παρὰ κυρίῳ ὡς χίλια ἔτη καὶ χίλια ἔτη ὡς ἡμέρα μία. οὐ βραδύνει κύριος τῆς ἐπαγγελίας … ἀλλὰ μακροθυμεῖ εἰς ὑμᾶς, μὴ βουλόμενός τινας ἀπολέσθαι ἀλλὰ πάντας εἰς μετάνοιαν χωρῆσαι.

“satu hari bagi Tuhan sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari. Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya … tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” (terjemahan bebas)

Ayat ini menegaskan bahwa penundaan itu bukan kelalaian Allah, melainkan kesabaran-Nya yang bertujuan menyelamatkan sebanyak mungkin orang. Dengan demikian, dari 1 Tesalonika sampai 2 Petrus, tampak sebuah perkembangan yang jujur dalam kesaksian Perjanjian Baru: dari pengharapan yang mendesak dan langsung, melalui koreksi terhadap kesalahpahaman tentang kedekatannya, sampai kepada penjelasan teologis yang matang tentang makna penundaan itu sendiri — tanpa satu pun tahap yang menyangkal kepastian bahwa Kristus akan datang.

Pola yang tampak

Perkembangan ini tidak boleh dibaca sebagai bukti bahwa pengharapan awal jemaat keliru dan kemudian “diperbaiki”, sebagaimana diandaikan pembacaan Schweitzer, melainkan sebagai kematangan pastoral: jemaat mula-mula diajar untuk hidup dalam kesiapan yang sungguh-sungguh tanpa memastikan tanggal, dan ketika penundaan itu menimbulkan pertanyaan yang wajar, para penulis Perjanjian Baru menjawabnya dengan penjelasan teologis yang mendalam tentang watak Allah yang sabar, bukan dengan menyangkal pengharapan itu sendiri.

3. Kebangkitan: Korporat dan Pengalaman Pribadi

Kebangkitan yang Korporat dan Pertanyaan tentang Pengalaman Pribadi sebelum Kedatangan Kristus

1 Tesalonika, 1 Korintus, Filipi, dan Kolose: Kebangkitan sebagai Peristiwa Bersama
Teks Kunci — 1 Tes. 4:16–17

ὅτι αὐτὸς ὁ κύριος ἐν κελεύσματι, ἐν φωνῇ ἀρχαγγέλου καὶ ἐν σάλπιγγι θεοῦ καταβήσεται ἀπ᾽ οὐρανοῦ, καὶ οἱ νεκροὶ ἐν Χριστῷ ἀναστήσονται πρῶτον· ἔπειτα ἡμεῖς οἱ ζῶντες οἱ περιλειπόμενοι ἅμα σὺν αὐτοῖς ἁρπαγησόμεθα ἐν νεφέλαις εἰς ἀπάντησιν τοῦ κυρίου εἰς ἀέρα.

“sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati di dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka di dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa.” (terjemahan bebas)

Gambaran kebangkitan dalam 1 Tesalonika bersifat korporat dan serentak: seluruh orang percaya yang telah mati “di dalam Kristus” dibangkitkan bersama-sama pada satu momen kedatangan Tuhan, diikuti oleh mereka yang masih hidup, yang “diangkat” (ἁρπαγησόμεθα) bersama-sama εἰς ἀπάντησιν (“menyongsong kedatangan”) Tuhan. Tidak ada seorang pun yang mendahului atau mengalaminya secara terpisah; semuanya terjadi ἅμα, “bersama-sama”, pada satu peristiwa yang sama.

1 Korintus 15:51–52 memakai pola yang sama: “kita tidak akan mati semuanya, tetapi kita semuanya akan diubah, dalam sekejap mata, pada tiupan sangkakala yang terakhir”. Filipi 3:20–21 dan Kolose 3:4 juga melukiskan perubahan tubuh sebagai peristiwa korporat yang terjadi pada saat Kristus menyatakan diri-Nya, tanpa membedakan pengalaman satu orang percaya dari yang lain.

2 Korintus 5:1–10: Pengalaman Pribadi dan Perdebatan Moule–Harris
Teks Kunci — 2 Kor. 5:1

Οἴδαμεν γὰρ ὅτι ἐὰν ἡ ἐπίγειος ἡμῶν οἰκία τοῦ σκήνους καταλυθῇ, οἰκοδομὴν ἐκ θεοῦ ἔχομεν, οἰκίαν ἀχειροποίητον αἰώνιον ἐν τοῖς οὐρανοῖς.

“Sebab kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia.” (terjemahan bebas)

2 Korintus ditulis belakangan, sesudah Paulus mengalami bahaya maut yang nyata di Asia (2 Kor. 1:8–9, “kami merasa telah menerima hukuman mati … supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri sendiri, tetapi pada Allah yang membangkitkan orang mati”). Dalam terang pengalaman itu, 2 Kor. 5:1–10 berbicara tentang kemungkinan kematian pribadi sebelum kedatangan Kristus dengan nada yang berbeda dari 1 Tesalonika: “kemah” (σκῆνος) tubuh sekarang dapat “dibongkar” (καταλυθῇ) kapan saja, dan Paulus menyatakan keyakinan akan “tempat kediaman dari Allah” yang telah tersedia, digambarkan sebagai bangunan kekal di sorga.

Teks Kunci — 2 Kor. 5:8

θαρροῦμεν δὲ καὶ εὐδοκοῦμεν μᾶλλον ἐκδημῆσαι ἐκ τοῦ σώματος καὶ ἐνδημῆσαι πρὸς τὸν κύριον.

“Sebab itu hati kami tetap yakin dan tahu, bahwa kami lebih suka meninggalkan tubuh ini dan menetap bersama-sama dengan Tuhan.” (terjemahan bebas)

Berbeda dari 1 Tes. 4, yang berfokus pada peristiwa kebangkitan korporat pada kedatangan Kristus, bagian ini berbicara tentang pengalaman pribadi orang percaya yang meninggal: “meninggalkan tubuh” dan segera “menetap bersama-sama dengan Tuhan” (πρὸς τὸν κύριον). Para penafsir berbeda pendapat tentang bagaimana menghubungkan kedua bagian ini.

C. F. D. Moule mengajukan bahwa terjadi perkembangan dalam pemikiran Paulus sendiri: dalam 1 Kor. 15, menurutnya, Paulus membayangkan “pertukaran” (exchange) — tubuh fana ditanggalkan dan digantikan tubuh rohani hanya pada momen kebangkitan korporat — tetapi dalam 2 Kor. 5, sesudah menghadapi kefanaannya sendiri secara langsung, Paulus mengembangkan pemikiran itu menjadi gagasan “pengenaan” (investiture) yang lebih segera: tubuh rohani itu entah bagaimana sudah tersedia bagi orang percaya yang meninggal sebelum kedatangan Kristus, tanpa harus menunggu peristiwa korporat itu.8

Murray Harris menanggapi dengan lebih berhati-hati. Ia meneliti tiga persoalan yang muncul dari 2 Kor. 5 — hubungan pribadi Paulus dengan parousia, saat penerimaan tubuh rohani, dan keadaan orang percaya yang telah meninggal — dan menyimpulkan bahwa 2 Kor. 5 tidak harus dibaca sebagai penolakan terhadap pengajaran 1 Tes. 4 dan 1 Kor. 15, melainkan sebagai jawaban atas pertanyaan yang berbeda: apa yang terjadi pada orang percaya secara pribadi pada saat kematian, sebelum kebangkitan korporat itu sendiri terjadi.9 Dalam karyanya yang lebih luas, Harris menggambarkan keadaan antara itu sebagai semacam “pemberian pakaian tambahan” (superinvestiture) sementara, yang tetap menantikan penggenapan penuh pada kebangkitan tubuh yang sesungguhnya.10

Terlepas dari perbedaan itu, kedua penafsir sepakat bahwa 2 Kor. 5:1–10 tidak dapat dipisahkan sepenuhnya dari kerangka kebangkitan korporat dalam 1 Tes. 4 dan 1 Kor. 15: yang berbeda ialah sudut pandangnya — 1 Tes. 4 dan 1 Kor. 15 berbicara tentang peristiwa kebangkitan yang akan terjadi bersama-sama pada kedatangan Kristus, sedangkan 2 Kor. 5 berbicara tentang pengalaman pribadi orang percaya pada rentang waktu antara kematiannya dan peristiwa korporat itu.

Teks Kunci — 2 Kor. 5:10

τοὺς γὰρ πάντας ἡμᾶς φανερωθῆναι δεῖ ἔμπροσθεν τοῦ βήματος τοῦ Χριστοῦ.

“Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus.” (terjemahan bebas)

Ayat 10 menutup bagian ini dengan menghubungkan pengharapan pribadi itu kembali kepada kerangka korporat: pada akhirnya πάντες (“kita semua”) akan menghadap βῆμα (“takhta pengadilan”) Kristus — tema yang menjadi jembatan menuju bagian berikut tentang penghakiman.

Catatan Kaki

8. C. F. D. Moule, “St Paul and Dualism: The Pauline Conception of Resurrection,” New Testament Studies 12, no. 2 (1966): 106–23. ↩

9. Murray J. Harris, “2 Corinthians 5:1–10: Watershed in Paul’s Eschatology?,” Tyndale Bulletin 22 (1971): 32–57. ↩

10. Murray J. Harris, Raised Immortal: Resurrection and Immortality in the New Testament (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1985), 98–103. ↩

4. Penghakiman

Penghakiman Terakhir bagi Semua Orang

2 Tesalonika: Kelegaan bagi yang Teraniaya, Pembalasan bagi yang Menolak Injil
Teks Kunci — 2 Tes. 1:7–8

ἐν ἀποκαλύψει τοῦ κυρίου Ἰησοῦ ἀπ᾽ οὐρανοῦ μετ᾽ ἀγγέλων δυνάμεως αὐτοῦ ἐν πυρὶ φλογός, διδόντος ἐκδίκησιν τοῖς μὴ εἰδόσιν θεὸν καὶ τοῖς μὴ ὑπακούουσιν τῷ εὐαγγελίῳ.

“pada waktu Tuhan Yesus dari sorga menyatakan diri-Nya bersama malaikat-malaikat-Nya, dalam kuasa-Nya dan di dalam api yang bernyala-nyala, untuk mengadakan pembalasan terhadap mereka yang tidak mau mengenal Allah dan tidak mentaati Injil.” (terjemahan bebas)

2 Tesalonika 1:5–10 menempatkan penghakiman sebagai bagian dari kedatangan Kristus yang sama: bagi jemaat yang teraniaya, kedatangan itu membawa kelegaan (ay. 7), sedangkan bagi mereka yang menolak Injil, kedatangan itu membawa pembalasan dan “kebinasaan selama-lamanya” (ay. 9), dijauhkan dari hadirat Tuhan.

Ibrani: Dua Kedatangan Kristus dan Kerajaan yang Tidak Tergoncangkan
Teks Kunci — Ibr. 9:27

καὶ καθ᾽ ὅσον ἀπόκειται τοῖς ἀνθρώποις ἅπαξ ἀποθανεῖν, μετὰ δὲ τοῦτο κρίσις.

“Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi.” (terjemahan bebas)

Ibrani 9:27–28 menyejajarkan pola kematian-dan-penghakiman yang berlaku bagi setiap manusia dengan dua “kedatangan” Kristus: yang pertama untuk menanggung dosa banyak orang, dan yang kedua — χωρὶς ἁμαρτίας, “tanpa menanggung dosa”, sebab tugas itu sudah selesai — untuk membawa keselamatan penuh bagi mereka yang menantikan-Nya.

Teks Kunci — Ibr. 12:28–29

διὸ βασιλείαν ἀσάλευτον παραλαμβάνοντες ἔχωμεν χάριν … καὶ γὰρ ὁ θεὸς ἡμῶν πῦρ καταναλίσκον.

“Karena itu, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur … sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan.” (terjemahan bebas)

Ibrani 12:25–29 menempatkan penghakiman akhir dalam bahasa “goncangan” kosmis, mengutip Hag. 2:6, yang akan menyingkirkan segala sesuatu yang dapat digoncangkan supaya yang tidak dapat digoncangkan — Kerajaan Allah — tinggal tetap.

Yakobus dan Yudas: Hakim yang Berdiri di Ambang Pintu
Teks Kunci — Yak. 5:9

μὴ στενάζετε, ἀδελφοί, κατ᾽ ἀλλήλων, ἵνα μὴ κριθῆτε· ἰδοὺ ὁ κριτὴς πρὸ τῶν θυρῶν ἕστηκεν.

“Janganlah kamu bersungut-sungut, saudara-saudara, seorang terhadap seorang, supaya kamu jangan dihukum: sesungguhnya, Hakim telah berdiri di ambang pintu.” (terjemahan bebas)

Yakobus menghadirkan Hakim yang sudah “berdiri di ambang pintu” sebagai dasar bagi nasihat etis yang sangat praktis: cara jemaat memperlakukan satu sama lain sehari-hari dilihat dalam terang penghakiman yang sudah dekat.

Teks Kunci — Yud. 14–15

ἰδοὺ ἦλθεν κύριος ἐν ἁγίαις μυριάσιν αὐτοῦ, ποιῆσαι κρίσιν κατὰ πάντων.

“Sesungguhnya, Tuhan akan datang dengan beribu-ribu orang kudus-Nya untuk menghakimi semua orang.” (terjemahan bebas)

Yudas mengutip nubuat Henokh — dipakai di sini sebagai penguat retoris, bukan sebagai penambahan pada kanon — tentang kedatangan Tuhan untuk menghakimi semua orang, ditujukan khusus kepada para pengajar sesat yang telah disinggung sepanjang surat itu.

5. Pengharapan Dunia Baru

Pengharapan akan Langit dan Bumi yang Baru

Roma 8: Pembebasan Seluruh Ciptaan
Teks Kunci — Rm. 8:19, 21

ἡ γὰρ ἀποκαραδοκία τῆς κτίσεως τὴν ἀποκάλυψιν τῶν υἱῶν τοῦ θεοῦ ἀπεκδέχεται. … ὅτι καὶ αὐτὴ ἡ κτίσις ἐλευθερωθήσεται ἀπὸ τῆς δουλείας τῆς φθορᾶς εἰς τὴν ἐλευθερίαν τῆς δόξης τῶν τέκνων τοῦ θεοῦ.

“Sebab penantian yang sungguh-sungguh dari segala makhluk adalah penantian akan penyataan anak-anak Allah. … bahwa makhluk itu sendiri akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah.” (terjemahan bebas)

Roma 8:18–25 memperluas pengharapan akhir zaman melampaui manusia: seluruh ciptaan (κτίσις) mengeluh dan menantikan pembebasannya sendiri dari “perbudakan kebinasaan”. Pengharapan Kristen, dengan demikian, bersifat kosmis — bukan pelarian dari dunia material, melainkan pembebasan dan pemuliaan dunia itu sendiri bersama-sama dengan anak-anak Allah.

2 Petrus 3 dan 1 Petrus 1: Langit Baru, Bumi Baru, dan Warisan yang Kekal
Teks Kunci — 2 Pet. 3:10

ἥξει δὲ ἡμέρα κυρίου ὡς κλέπτης, ἐν ᾗ οἱ οὐρανοὶ ῥοιζηδὸν παρελεύσονται, στοιχεῖα δὲ καυσούμενα λυθήσεται, καὶ γῆ καὶ τὰ ἐν αὐτῇ ἔργα εὑρεθήσεται.

“Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap.” (terjemahan bebas)

Sesudah menjawab para pengejek tentang penundaan kedatangan Kristus (telah dibahas pada bagian sebelumnya), 2 Petrus 3 melukiskan puncak dari hari Tuhan dengan bahasa pembakaran kosmis yang dahsyat. Namun tujuan akhirnya bukan kehancuran semata, melainkan pembaruan:

Teks Kunci — 2 Pet. 3:13

καινοὺς δὲ οὐρανοὺς καὶ γῆν καινὴν κατὰ τὸ ἐπάγγελμα αὐτοῦ προσδοκῶμεν, ἐν οἷς δικαιοσύνη κατοικεῖ.

“Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran.” (terjemahan bebas)

καινοὶ οὐρανοὶ καὶ γῆ καινή (“langit baru dan bumi baru”) menjadi tempat kediaman δικαιοσύνη (“kebenaran”) — gema dari pengharapan Rm. 8 bahwa seluruh ciptaan akan dibebaskan dan dipenuhi kebenaran, bukan sekadar dimusnahkan. Ayat 11 menarik kesimpulan etis yang tegas dari pengharapan ini: “Jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup.”

1 Pet. 1:3–4 melengkapi gambaran ini dengan menyebut warisan orang percaya sebagai ἄφθαρτος καὶ ἀμίαντος καὶ ἀμάραντος (“tidak dapat binasa, tidak dapat cemar, tidak dapat layu”), yang “tersimpan” di sorga — pengharapan yang sama akan dunia yang diperbarui dan dipelihara Allah bagi umat-Nya.

6. Kesatuan Kesaksian tentang Pengharapan Akhir Zaman

Bila keempat tema ini dibandingkan, tampak bahwa Perjanjian Baru menyaksikan satu pengharapan yang sama dengan kejujuran tentang perkembangan pemahamannya. Pengharapan akan kedatangan Kristus yang segera dalam surat-surat paling awal tidak disangkal pada surat-surat yang lebih belakangan, tetapi diperkaya dengan penjelasan tentang kesabaran Allah di tengah penundaan yang nyata. Kebangkitan dipahami terutama sebagai peristiwa korporat pada kedatangan Kristus, namun 2 Korintus 5 menambahkan dimensi pribadi bagi mereka yang meninggal sebelum peristiwa itu, tanpa meniadakan kerangka korporatnya. Penghakiman dan pembaruan dunia menjadi dua sisi dari satu hari Tuhan yang sama: penyingkiran segala yang jahat, dan pendirian langit dan bumi yang baru bagi kebenaran.

Ringkasan teks kunci
Kedatangan yang segera (surat-surat awal)
1 Tes. 4:15, 17; 1 Kor. 15:51–52
Koreksi kesalahpahaman tentang kedekatan hari itu
2 Tes. 2:1–2
Penjelasan tentang penundaan (surat-surat belakangan)
2 Pet. 3:3–4, 8–9
Kebangkitan korporat pada kedatangan Kristus
1 Tes. 4:16–17; 1 Kor. 15:51–52; Flp. 3:20–21; Kol. 3:4
Pengalaman pribadi orang percaya yang meninggal sebelum kedatangan itu
2 Kor. 5:1–10
Penghakiman terakhir
2 Tes. 1:7–10; Ibr. 9:27–28; 12:28–29; Yak. 5:9; Yud. 14–15
Pengharapan dunia baru
Rm. 8:19–21; 2 Pet. 3:10–13; 1 Pet. 1:3–4

Keragaman penekanan ini tidak menghasilkan pengharapan yang bertentangan, melainkan satu kesaksian bersama yang bertumbuh semakin matang: Kristus yang telah datang dalam kerendahan akan datang kembali dalam kemuliaan untuk membangkitkan, menghakimi, dan memperbarui segala sesuatu, dan pengharapan itu, betapapun lama penantiannya, tidak pernah kehilangan kepastiannya.

7. Istilah Yunani Kunci

Daftar ini merangkum istilah Yunani yang paling sering menentukan penafsiran tentang kedatangan Kristus dan pengharapan akhir zaman dalam surat-surat.

Istilah Yunani kunci
παρουσία (1 Tes. 4:15; 2 Tes. 2:1; Yak. 5:7–8)
“Kedatangan, kehadiran”: istilah utama bagi kedatangan Kristus yang kedua.
ἐπιφάνεια (1 Tim. 6:14; 2 Tim. 4:1, 8; Tit. 2:13)
“Penampakan”: dipakai baik bagi inkarnasi maupun kedatangan Kristus yang kedua.
ἡμέρα κυρίου (1 Tes. 5:2; 2 Pet. 3:10)
“Hari Tuhan”: hari penghakiman dan penggenapan yang datang tiba-tiba, seperti pencuri.
ἁρπάζω / ἁρπαγησόμεθα (1 Tes. 4:17)
“Merebut, mengangkat”: dasar istilah “pengangkatan” (rapture) bagi orang percaya yang masih hidup.
ἀνάστασις (1 Kor. 15 (umum); Ibr. 6:2)
“Kebangkitan”: bangkitnya orang mati, dipahami sebagai peristiwa korporat pada kedatangan Kristus.
σκῆνος / οἰκοδομὴ ἐκ θεοῦ (2 Kor. 5:1)
“Kemah / bangunan dari Allah”: kontras antara tubuh sekarang yang sementara dan tempat kediaman kekal.
ἐκδημῆσαι / ἐνδημῆσαι (2 Kor. 5:8)
“Meninggalkan / menetap”: bahasa perjalanan bagi kematian orang percaya dan kehadirannya bersama Tuhan.
βῆμα (2 Kor. 5:10)
“Takhta pengadilan”: tempat semua orang percaya akan menghadap Kristus.
ἀποστασία (2 Tes. 2:3)
“Kemurtadan”: salah satu tanda yang menurut Paulus harus mendahului hari Tuhan.
ἀποκαραδοκία (Rm. 8:19)
“Penantian yang sungguh-sungguh”: gambaran seluruh ciptaan yang menjulurkan kepala menantikan pembebasan.
καινοὶ οὐρανοὶ καὶ γῆ καινή (2 Pet. 3:13)
“Langit baru dan bumi baru”: tujuan akhir pembaruan ciptaan, tempat kediaman kebenaran.
8. Penerapan bagi Kehidupan dan Pelayanan
Pertama — Berjaga-jaga, Bukan Berspekulasi

Perkembangan dari 1 Tesalonika ke 2 Petrus mengajarkan bahwa jemaat dipanggil untuk hidup dalam kesiapan yang sungguh-sungguh tanpa memastikan tanggal, dan untuk menjawab penundaan dengan kesabaran teologis, bukan dengan spekulasi atau keraguan. Pelayan jemaat perlu mengarahkan pengajaran eskhatologi kepada kesiapan hidup sehari-hari.

Kedua — Penghiburan bagi yang Berduka dan yang Menghadapi Kematian

1 Tes. 4:13–18 menghibur jemaat yang berdukacita, sedangkan 2 Kor. 5:1–10 menghibur mereka yang menghadapi kefanaan mereka sendiri. Kedua sisi pengajaran ini — pengharapan korporat dan pengharapan pribadi — perlu disampaikan bersama dalam pelayanan penggembalaan orang yang berduka atau yang sedang sakit parah.

Ketiga — Kesucian Hidup sebagai Buah Pengharapan

2 Pet. 3:11 menarik kesimpulan etis yang tegas dari pengharapan akan langit dan bumi baru. Pengajaran eskhatologi yang benar selalu berbuah dalam kekudusan hidup masa kini, bukan dalam sikap pasif menunggu.

Keempat — Penghakiman sebagai Dasar Kepedulian Sehari-hari

Yakobus 5:9 menghubungkan kesadaran akan Hakim yang “berdiri di ambang pintu” dengan cara jemaat memperlakukan satu sama lain. Kesadaran akan penghakiman akhir seharusnya membentuk kejujuran dan kasih dalam relasi jemaat sehari-hari, bukan hanya menjadi topik pengajaran doktrinal yang terpisah dari kehidupan praktis.

Penutup

Eskhatologi Perjanjian Baru menegaskan bahwa Kristus yang telah datang dalam kerendahan untuk menanggung dosa akan datang kembali dalam kemuliaan. Kesaksian tentang kedatangan itu berkembang secara jujur dari pengharapan yang mendesak dalam surat-surat paling awal menuju penjelasan yang matang tentang penundaannya; kebangkitan dipahami sebagai peristiwa korporat yang diperkaya dengan pengharapan pribadi bagi mereka yang meninggal lebih dahulu; penghakiman dan pembaruan dunia menjadi dua sisi dari satu hari Tuhan yang pasti. Dengan demikian seluruh rangkaian Pelajaran dalam Teologi Perjanjian Baru 2 — Kristologi, Soteriologi, Pneumatologi, Ekklesiologi, dan Eskhatologi — bermuara pada satu pengharapan yang sama: Allah, di dalam Kristus dan oleh Roh-Nya, sedang menggenapi rencana keselamatan-Nya menuju penggenapan penuh pada hari kedatangan Kristus yang kedua.

Daftar Pustaka

Dodd, C. H. The Parables of the Kingdom. Rev. ed. London: Nisbet, 1961.

Gregg, Steve, ed. Revelation: Four Views: A Parallel Commentary. Rev. ed. Nashville: Thomas Nelson, 1997.

Harris, Murray J. “2 Corinthians 5:1–10: Watershed in Paul’s Eschatology?” Tyndale Bulletin 22 (1971): 32–57.

———. Raised Immortal: Resurrection and Immortality in the New Testament. Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1985.

Hoekema, Anthony A. The Bible and the Future. Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1979.

Ladd, George Eldon. The Blessed Hope: A Biblical Study of the Second Advent and the Rapture. Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1956.

———. The Presence of the Future: The Eschatology of Biblical Realism. Rev. ed. Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1974.

Moule, C. F. D. “St Paul and Dualism: The Pauline Conception of Resurrection.” New Testament Studies 12, no. 2 (1966): 106–23.

Schweitzer, Albert. The Quest of the Historical Jesus: A Critical Study of Its Progress from Reimarus to Wrede. Translated by W. Montgomery. London: A. & C. Black, 1910.

Wright, N. T. Surprised by Hope: Rethinking Heaven, the Resurrection, and the Mission of the Church. New York: HarperOne, 2008.

Bahan Kuliah Teologi Perjanjian Baru 2 (DTh-137.206) · Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan
Exit mobile version