Teologi Perjanjian Baru II
Pdt. D. Horatius Herman, M.Th.
Pendahuluan
Pertemuan 1 dan 2 menelusuri siapa Kristus dan apa yang Ia kerjakan bagi keselamatan manusia. Pertemuan ini melanjutkan penelusuran itu dengan menanyakan siapa Roh Kudus dan bagaimana karya-Nya membuat karya Kristus itu nyata dan berbuah dalam hidup jemaat. Pertanyaan pokoknya ialah bagaimana surat-surat Perjanjian Baru bersaksi tentang pribadi dan karya Roh Kudus, dan bagaimana kesaksian itu membentuk kehidupan dan pelayanan jemaat mula-mula.
Pneumatologi (dari πνεῦμα, “roh, angin, napas”) dalam surat-surat Perjanjian Baru tidak disajikan sebagai risalah sistematis tentang pribadi ketiga Tritunggal, melainkan tersebar dalam pembicaraan tentang pengalaman jemaat: bagaimana mereka menerima Roh, bagaimana Roh mengubah dan memampukan mereka, dan bagaimana karunia-karunia Roh dijalankan dalam ibadah bersama. Karena itu Pelajaran ini membatasi diri pada dua pokok, yaitu pribadi dan karya Roh Kudus dalam hidup orang percaya secara pribadi, serta karunia dan buah Roh dalam kehidupan jemaat sebagai tubuh Kristus.
| Dua pokok Pelajaran ini |
|---|
| Pribadi dan Karya Roh Kudus dalam Hidup Orang Percaya Roh yang memberi hidup baru, berdiam di dalam orang percaya, menjadi jaminan warisan, dan menolong dalam doa. |
| Karunia dan Buah Roh dalam Kehidupan Jemaat Karunia-karunia rohani yang membangun tubuh Kristus, kesatuan jemaat oleh satu Roh, dan buah Roh yang membentuk watak orang percaya. |
Setiap pokok ditelusuri melalui tiga kelompok surat: Galatia, Roma, dan Korintus, tempat pengajaran Paulus tentang Roh paling luas dikembangkan; Efesus, surat-surat penjara, Tesalonika, dan surat-surat penggembalaan, tempat karya Roh dikaitkan dengan kesatuan jemaat dan kehidupan yang saleh; serta Ibrani, Yakobus, Petrus, dan Yudas, tempat kesaksian tentang Roh lebih jarang tetapi tetap penting bagi pemahaman menyeluruh tentang Roh Kudus dalam Perjanjian Baru.
1. Latar Diskusi Para Pakar
Diskusi modern tentang pneumatologi Perjanjian Baru banyak berkisar pada dua pertanyaan: bagaimana dan kapan orang percaya menerima Roh Kudus, dan bagaimana karunia-karunia Roh yang tampak ajaib pada zaman para rasul berhubungan dengan kehidupan jemaat pada masa kini.
James Dunn, dalam kajiannya yang menjadi rujukan klasik, berargumen bahwa penerimaan Roh Kudus adalah unsur pusat dalam peristiwa pertobatan-inisiasi seseorang menjadi Kristen, bukan pengalaman kedua yang terpisah dan menyusul kemudian. Menurutnya, bagi para penulis Perjanjian Baru penerimaan Roh itu merupakan:
“the decisive and climactic experience in conversion-initiation”1
Terjemahan bebas: pengalaman yang menentukan dan menjadi puncak dalam peristiwa pertobatan-inisiasi.
— James D. G. Dunn, Baptism in the Holy Spirit
Pandangan Dunn ini menantang pemahaman Pentakostal klasik yang membedakan “baptisan dalam Roh Kudus” sebagai pengalaman kedua, terpisah dari dan menyusul pertobatan, biasanya ditandai dengan karunia bahasa lidah.
Gordon Fee, dalam kajian menyeluruh atas seluruh teks tentang Roh dalam surat-surat Paulus, menekankan bahwa Roh bagi Paulus bukan gagasan abstrak, melainkan kenyataan yang dialami secara nyata dan berdimensi eskatologis: kehadiran Allah sendiri yang memampukan jemaat untuk hidup sebagai umat zaman baru sebelum kegenapan zaman itu tiba sepenuhnya.2
Max Turner memelihara kesimpulan satu tahap yang sama seperti Dunn tentang penerimaan Roh pada saat pertobatan, tetapi memberi perhatian lebih besar pada pertanyaan tentang kelanjutan karunia-karunia Roh pada masa kini. Ia menelaah makna χάρισμα secara khusus dan menunjukkan bahwa istilah itu tidak boleh dibatasi hanya pada daftar-daftar karunia yang disebut eksplisit dalam surat-surat Paulus.3
Dalam perdebatan tentang kelanjutan karunia-karunia yang tampak ajaib (nubuat, bahasa lidah, penyembuhan), dua posisi utama sering dipertentangkan: continuationism (karunia-karunia itu berlanjut hingga kini) dan cessationism (karunia-karunia itu berhenti bersama berakhirnya zaman para rasul). D. A. Carson menempuh jalan yang berhati-hati, menolak kedua ekstrem sambil menegaskan bahwa kasih tetap menjadi jalan yang lebih utama daripada karunia mana pun:
“beyond all the χάρισματα (charismata), there remains a more excellent way”4
Terjemahan bebas: di balik semua karunia (charismata), tetap ada jalan yang lebih utama.
— D. A. Carson, Showing the Spirit, 63
B. B. Warfield merumuskan posisi cessationist klasik pada awal abad kedua puluh: karunia-karunia ajaib, menurutnya, menyertai penyataan (revelation) sebagai peneguhannya, dan karena penyataan telah mencapai kegenapannya di dalam Kristus dan para rasul, karunia-karunia itu pun berhenti bersama berakhirnya zaman kerasulan.5
| Peta posisi para pakar |
|---|
| James D. G. Dunn Penerimaan Roh adalah unsur pusat dan satu tahap dalam peristiwa pertobatan-inisiasi, bukan pengalaman kedua yang terpisah. |
| Gordon D. Fee Roh adalah kehadiran Allah yang dialami secara nyata dan berdimensi eskatologis dalam hidup jemaat. |
| Max Turner Mendukung penerimaan Roh satu tahap, dengan penelaahan luas atas makna χάρισμα bagi pertanyaan kelanjutan karunia pada masa kini. |
| D. A. Carson Jalan tengah yang berhati-hati dalam perdebatan continuationism–cessationism, dengan kasih sebagai ukuran tertinggi. |
| B. B. Warfield Karunia-karunia ajaib menyertai penyataan dan berhenti bersama berakhirnya zaman para rasul. |
Pelajaran ini membaca teks-teks Paulus dan surat-surat umum dengan memperhatikan kedua pertanyaan itu, tanpa berusaha menuntaskan perdebatan continuationism–cessationism, sebab perdebatan itu bergantung juga pada pembacaan Kisah Para Rasul yang berada di luar korpus Pertemuan ini.
1. James D. G. Dunn, Baptism in the Holy Spirit: A Re-Examination of the New Testament Teaching on the Gift of the Spirit in Relation to Pentecostalism Today (London: SCM, 1970). ↩
2. Gordon D. Fee, God’s Empowering Presence: The Holy Spirit in the Letters of Paul (Peabody, MA: Hendrickson, 1994). ↩
3. Max Turner, The Holy Spirit and Spiritual Gifts: Then and Now (Carlisle: Paternoster, 1996), 262–67. ↩
4. D. A. Carson, Showing the Spirit: A Theological Exposition of 1 Corinthians 12–14 (Grand Rapids, MI: Baker, 1987), 63. ↩
5. Benjamin B. Warfield, Counterfeit Miracles (New York: Charles Scribner’s Sons, 1918), 1–32. ↩
2. Galatia, Roma, dan Korintus: Hidup Baru, Buah, dan Karunia
Roh sebagai Pemberi Hidup Baru, Buah, dan Karunia dalam Galatia, Roma, dan Korintus
Galatia: Menerima Roh oleh Iman dan Buah Roh
Galatia 3:2–5 menjadi titik tolak Paulus dalam berdebat dengan jemaat Galatia: mereka menerima Roh bukan karena melakukan hukum Taurat, melainkan karena mendengar dengan iman (ἐξ ἀκοῆς πίστεως). Pertanyaan retoris itu — “Bodohkah kamu, setelah memulai dengan Roh, sekarang mau mengakhiri dengan daging?” (Gal. 3:3) — menegaskan bahwa penerimaan Roh adalah tanda dan bukti hidup baru dalam Kristus, bukan hasil ketaatan pada Taurat.
Ὅτι δέ ἐστε υἱοί, ἐξαπέστειλεν ὁ θεὸς τὸ πνεῦμα τοῦ υἱοῦ αὐτοῦ εἰς τὰς καρδίας ἡμῶν, κρᾶζον· Ἀββᾶ ὁ πατήρ.
“Dan karena kamu adalah anak, Allah telah mengutus Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: Abba, ya Bapa!” (terjemahan bebas)
Ayat ini penting bagi kedua pokok Pelajaran: Roh disebut “Roh Anak-Nya” (τὸ πνεῦμα τοῦ υἱοῦ αὐτοῦ), menghubungkan karya Roh langsung dengan karya Kristus, dan Roh itu sendiri yang “berseru” (κρᾶζον) “Abba, ya Bapa” di dalam hati orang percaya — seruan Aram yang sama yang diucapkan Yesus sendiri (Mrk. 14:36). Dengan demikian Roh tidak hanya diberikan sebagai hadiah, tetapi aktif bersaksi tentang status orang percaya sebagai anak Allah.
Bagian penutup Galatia (5:16–25) meletakkan pertentangan antara hidup “menurut Roh” (πνεύματι) dan hidup “menurut daging” (σαρκί) sebagai kerangka etika Kristen. Daftar “perbuatan daging” (5:19–21) dan “buah Roh” (5:22–23) berdiri berdampingan:
ὁ δὲ καρπὸς τοῦ πνεύματός ἐστιν ἀγάπη, χαρά, εἰρήνη, μακροθυμία, χρηστότης, ἀγαθωσύνη, πίστις, πραΰτης, ἐγκράτεια· κατὰ τῶν τοιούτων οὐκ ἔστιν νόμος.
“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri; tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” (terjemahan bebas)
Kata καρπός (“buah”, tunggal, bukan jamak) penting secara tata bahasa: kesembilan sifat itu bukan sembilan buah yang terpisah untuk dipilih sebagian, melainkan satu buah tunggal yang utuh, hasil karya Roh yang sama dalam hidup orang percaya. Ayat 25 menyimpulkan dengan ungkapan Εἰ ζῶμεν πνεύματι, πνεύματι καὶ στοιχῶμεν (“jika kita hidup oleh Roh, baiklah kita juga dipimpin oleh Roh”), menempatkan hidup oleh Roh sebagai dasar sekaligus arah bagi perilaku sehari-hari jemaat.
Roma 8: Roh yang Berdiam, Bersaksi, dan Menolong Doa
εἴπερ πνεῦμα θεοῦ οἰκεῖ ἐν ὑμῖν. εἰ δέ τις πνεῦμα Χριστοῦ οὐκ ἔχει, οὗτος οὐκ ἔστιν αὐτοῦ.
“jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika seseorang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik-Nya.” (terjemahan bebas)
Roma 8 adalah bagian yang paling luas membahas karya Roh dalam surat-surat Paulus. Ayat 9 menyejajarkan “Roh Allah” (πνεῦμα θεοῦ) dan “Roh Kristus” (πνεῦμα Χριστοῦ) sebagai sebutan bagi pribadi yang sama, dan menegaskan bahwa memiliki Roh itu adalah tanda kepemilikan oleh Kristus — tidak seorang pun dapat disebut milik Kristus tanpa Roh-Nya berdiam di dalam dirinya.
Ayat 14–16 melanjutkan tema pengangkatan sebagai anak (υἱοθεσία, bdk. Gal. 4:5): mereka yang dipimpin oleh Roh Allah adalah anak-anak Allah, dan Roh itu sendiri “bersaksi bersama-sama dengan roh kita bahwa kita adalah anak-anak Allah” (τὸ πνεῦμα συμμαρτυρεῖ τῷ πνεύματι ἡμῶν, ay. 16). Kata majemuk συμμαρτυρεῖ (“bersaksi bersama”) menunjukkan dua kesaksian yang berjalan berdampingan: kesaksian batin orang percaya dan kesaksian Roh Allah sendiri.
οὐ μόνον δέ, ἀλλὰ καὶ αὐτοὶ τὴν ἀπαρχὴν τοῦ πνεύματος ἔχοντες, ἡμεῖς καὶ αὐτοὶ ἐν ἑαυτοῖς στενάζομεν υἱοθεσίαν ἀπεκδεχόμενοι, τὴν ἀπολύτρωσιν τοῦ σώματος ἡμῶν.
“Dan bukan hanya itu saja, tetapi kita, yang memiliki buah sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita.” (terjemahan bebas)
Ungkapan ἀπαρχὴ τοῦ πνεύματος (“buah sulung Roh”) menyatakan bahwa kehadiran Roh pada masa kini adalah jaminan pertama dari panen penuh yang akan datang, yaitu penebusan tubuh pada kebangkitan. Roh yang sudah diterima sekarang menjadi dasar pengharapan bagi apa yang belum sepenuhnya digenapi — pola “sudah, tetapi belum” yang ditekankan Fee sebagai dimensi eskatologis karya Roh.6
ὡσαύτως δὲ καὶ τὸ πνεῦμα συναντιλαμβάνεται τῇ ἀσθενείᾳ ἡμῶν· τὸ γὰρ τί προσευξώμεθα καθὸ δεῖ οὐκ οἴδαμεν, ἀλλὰ αὐτὸ τὸ πνεῦμα ὑπερεντυγχάνει στεναγμοῖς ἀλαλήτοις.
“Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu bagaimana seharusnya berdoa, tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.” (terjemahan bebas)
Kata majemuk ὑπερεντυγχάνει (“berdoa syafaat untuk”) menggambarkan Roh sebagai pribadi yang aktif menolong kelemahan doa orang percaya, bukan sekadar kekuatan yang pasif. Bersama Rm. 8:34, yang menyebut Kristus juga “menjadi pengantara” (ἐντυγχάνει) bagi kita, ayat ini menunjukkan bahwa doa syafaat bagi orang percaya dikerjakan baik oleh Kristus maupun oleh Roh.
1 dan 2 Korintus: Karunia, Kesatuan, dan Jaminan
ἡμῖν δὲ ἀπεκάλυψεν ὁ θεὸς διὰ τοῦ πνεύματος· τὸ γὰρ πνεῦμα πάντα ἐραυνᾷ, καὶ τὰ βάθη τοῦ θεοῦ.
“tetapi kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah.” (terjemahan bebas)
Dalam 1 Kor. 2:10–14 Paulus menjelaskan bahwa hikmat Allah yang tersembunyi dinyatakan oleh Roh, sebab hanya Roh Allah yang mengenal hal-hal Allah, sebagaimana roh manusia mengenal apa yang ada dalam diri manusia (ay. 11). Karena itu orang yang “tidak rohani” (ψυχικός, harfiah “manusia jiwani”) tidak dapat menerima hal-hal Roh Allah, sebab hal-hal itu hanya dapat dinilai secara rohani (πνευματικῶς ἀνακρίνεται, ay. 14).
Pasal 12–14 adalah pembahasan paling luas tentang karunia-karunia Roh dalam Perjanjian Baru. 1 Kor. 12:4–6 menempatkan keragaman karunia (χαρίσματα), pelayanan (διακονίαι), dan kegiatan (ἐνεργήματα) dalam kerangka Trinitaris: Roh yang sama, Tuhan yang sama, Allah yang sama.
ἑκάστῳ δὲ δίδοται ἡ φανέρωσις τοῦ πνεύματος πρὸς τὸ συμφέρον.
“Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama.” (terjemahan bebas)
Prinsip πρὸς τὸ συμφέρον (“untuk kepentingan bersama”) menjadi ukuran bagi setiap karunia yang disebutkan dalam daftar ay. 8–10: karunia diberikan bukan untuk kemuliaan pribadi, melainkan untuk membangun jemaat. Ayat 13 menyimpulkan kesatuan itu:
καὶ γὰρ ἐν ἑνὶ πνεύματι ἡμεῖς πάντες εἰς ἓν σῶμα ἐβαπτίσθημεν, εἴτε Ἰουδαῖοι εἴτε Ἕλληνες εἴτε δοῦλοι εἴτε ἐλεύθεροι, καὶ πάντες ἓν πνεῦμα ἐποτίσθημεν.
“Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi maupun orang Yunani, baik budak maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh, dan kita semua diberi minum dari satu Roh.” (terjemahan bebas)
Ayat ini penting bagi diskusi Dunn tentang “baptisan dalam Roh”: frasa ἐν ἑνὶ πνεύματι … ἐβαπτίσθημεν menempatkan tindakan Roh yang menyatukan orang percaya ke dalam satu tubuh Kristus sebagai peristiwa yang dialami bersama seluruh jemaat Korintus, tanpa pembedaan antara mereka yang “sudah” dan “belum” menerima pengalaman itu — sejalan dengan tesis Dunn bahwa penerimaan Roh adalah unsur bersama dalam pertobatan-inisiasi, bukan pengalaman lanjutan bagi sebagian orang percaya saja.7
Pasal 13, di antara pasal 12 dan 14, menempatkan kasih sebagai “jalan yang lebih utama” (ὁδὸν … καθ᾽ ὑπερβολήν, 12:31) daripada karunia mana pun, sebuah penekanan yang menjadi dasar bagi kesimpulan Carson bahwa segala karunia harus tunduk pada kasih.8
Dalam 2 Kor. 1:22 dan 5:5, Roh disebut ἀρραβών (“uang muka, jaminan”) — istilah dari dunia perdagangan yang menunjukkan pembayaran awal yang menjamin pelunasan penuh di kemudian hari. Dalam 2 Kor. 3:17–18, Paulus menyatakan ὁ δὲ κύριος τὸ πνεῦμά ἐστιν (“Tuhan adalah Roh itu”) dan menggambarkan orang percaya yang “diubah dari kemuliaan kepada kemuliaan” (μεταμορφούμεθα ἀπὸ δόξης εἰς δόξαν) oleh Roh Tuhan — sebuah proses pengudusan progresif yang dikerjakan Roh sepanjang hidup orang percaya.
Pola yang tampak
Dari rangkaian surat ini tampak satu pola: Roh Kudus diterima melalui iman, bukan melalui ketaatan pada Taurat; Roh itu menjadi bukti dan jaminan status sebagai anak Allah; Roh membentuk watak orang percaya melalui buah yang utuh; dan Roh memampukan jemaat melalui karunia-karunia yang beragam namun bertujuan sama, yaitu membangun tubuh Kristus dalam kasih.
3. Efesus, Surat-surat Penjara, Tesalonika, dan Surat-surat Penggembalaan
Roh Kudus sebagai Meterai, Kesatuan, dan Sumber Kesetiaan dalam Efesus, Surat-surat Penjara, Tesalonika, dan Surat-surat Penggembalaan
Efesus: Meterai, Kesatuan, dan Kepenuhan Roh
ἐν ᾧ καὶ ὑμεῖς ἀκούσαντες τὸν λόγον τῆς ἀληθείας, τὸ εὐαγγέλιον τῆς σωτηρίας ὑμῶν, ἐν ᾧ καὶ πιστεύσαντες ἐσφραγίσθητε τῷ πνεύματι τῆς ἐπαγγελίας τῷ ἁγίῳ, ὅ ἐστιν ἀρραβὼν τῆς κληρονομίας ἡμῶν.
“Di dalam Dia kamu juga — setelah kamu mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu — di dalam Dia kamu juga, setelah kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus yang dijanjikan itu, yang menjadi jaminan warisan kita.” (terjemahan bebas)
Kata ἐσφραγίσθητε (“dimeteraikan”) memakai gambaran meterai resmi yang menandai kepemilikan dan keaslian suatu dokumen atau barang; Roh Kudus menjadi meterai Allah atas orang percaya, sekaligus ἀρραβών (“jaminan”) atas warisan penuh yang akan diterima. Efesus 4:3–4 memakai gambaran kesatuan: jemaat dipanggil memelihara “kesatuan Roh” (τὴν ἑνότητα τοῦ πνεύματος) dalam ikatan damai sejahtera, sebab hanya ada “satu tubuh dan satu Roh” (ἓν σῶμα καὶ ἓν πνεῦμα).
Dua nasihat etis menandai bagian akhir surat ini: “janganlah mendukakan Roh Kudus Allah” (μὴ λυπεῖτε τὸ πνεῦμα τὸ ἅγιον τοῦ θεοῦ, Ef. 4:30), yang mengandaikan Roh sebagai pribadi yang dapat merasa duka, bukan sekadar kuasa yang netral; dan perintah “penuhlah dengan Roh” (πληροῦσθε ἐν πνεύματι, Ef. 5:18), berbentuk present imperative pasif, menunjukkan tindakan yang berkelanjutan dan berulang, bukan pengalaman sekali untuk selamanya.
Filipi, Kolose, dan Tesalonika
Filipi 1:19 menyebut “pertolongan Roh Yesus Kristus” (ἐπιχορηγίας τοῦ πνεύματος Ἰησοῦ Χριστοῦ) sebagai sumber pengharapan Paulus di tengah pemenjaraan. Kolose 1:8 menyebut kasih jemaat Kolose yang “di dalam Roh” (ἐν πνεύματι), menghubungkan kasih persaudaraan dengan karya Roh.
τὸ πνεῦμα μὴ σβέννυτε, προφητείας μὴ ἐξουθενεῖτε.
“Janganlah padamkan Roh, janganlah anggap rendah nubuat-nubuat.” (terjemahan bebas)
Perintah μὴ σβέννυτε (“jangan padamkan”) memakai gambaran api yang dapat dipadamkan bila diabaikan atau dihalangi. Dipasangkan dengan larangan meremehkan nubuat, ayat ini dari salah satu surat Paulus yang paling awal memperlihatkan bahwa karunia-karunia Roh, termasuk nubuat, sudah menjadi bagian hidup jemaat sejak masa yang sangat dini, sekaligus rentan diabaikan atau disalahgunakan sehingga perlu diuji (1 Tes. 5:21).
Surat-surat Penggembalaan
Τὸ δὲ πνεῦμα ῥητῶς λέγει ὅτι ἐν ὑστέροις καιροῖς ἀποστήσονταί τινες τῆς πίστεως.
“Roh dengan tegas mengatakan bahwa pada zaman akhir, beberapa orang akan murtad dari iman.” (terjemahan bebas)
Ayat ini menempatkan Roh sebagai sumber penyataan kenabian yang terus berbicara kepada jemaat melalui firman yang diwariskan. Titus 3:5 — yang telah disinggung dalam Pelajaran Soteriologi — menyebut “pembaruan oleh Roh Kudus” (ἀνακαίνωσις πνεύματος ἁγίου) sebagai bagian dari karya kelahiran baru yang dikerjakan Allah, bukan oleh perbuatan manusia. Dalam 2 Tim. 1:14, Timotius dinasihati untuk memelihara “harta yang indah, yang telah dipercayakan” kepadanya, “oleh Roh Kudus yang diam di dalam kita” (διὰ πνεύματος ἁγίου τοῦ ἐνοικοῦντος ἐν ἡμῖν) — menegaskan bahwa kesetiaan menjaga ajaran yang benar bersandar pada pertolongan Roh yang berdiam di dalam orang percaya, bukan semata usaha manusia.
4. Ibrani, Yakobus, Petrus, dan Yudas
Kesaksian tentang Roh Kudus dalam Ibrani, Yakobus, Petrus, dan Yudas
Ibrani
ἀδύνατον γὰρ τοὺς ἅπαξ φωτισθέντας, γευσαμένους τε τῆς δωρεᾶς τῆς ἐπουρανίου καὶ μετόχους γενηθέντας πνεύματος ἁγίου
“Sebab tidak mungkin mereka yang pernah diterangi, yang telah mengecap karunia sorgawi, dan yang mendapat bagian dalam Roh Kudus …” (terjemahan bebas)
Ibrani 6:4–6 adalah salah satu bagian peringatan yang paling keras dalam Perjanjian Baru, dan frasa μετόχους γενηθέντας πνεύματος ἁγίου (“mendapat bagian dalam Roh Kudus”) menegaskan bahwa mereka yang dibicarakan penulis pernah sungguh-sungguh mengalami karya Roh, sehingga peringatan itu ditujukan kepada orang-orang yang telah menerima anugerah besar, bukan kepada orang luar yang belum pernah mendengar Injil.
Ibr. 9:14 menyatakan bahwa Kristus mempersembahkan diri-Nya kepada Allah “oleh Roh yang kekal” (διὰ πνεύματος αἰωνίου), menghubungkan karya Roh dengan pengorbanan Kristus sendiri di kayu salib. Ibr. 10:29 memperingatkan bahaya “menghina Roh kasih karunia” (τὸ πνεῦμα τῆς χάριτος ἐνυβρίσας) bagi mereka yang secara sengaja menolak kebenaran yang telah mereka terima.
Yakobus 4:5 — Sebuah Teks yang Sulit
Yakobus 4:5 adalah salah satu ayat paling sulit dalam Perjanjian Baru untuk ditafsirkan, sebab tampaknya mengutip suatu nas yang tidak ditemukan persis dalam Perjanjian Lama, dan strukturnya memungkinkan lebih dari satu pembacaan.
πρὸς φθόνον ἐπιποθεῖ τὸ πνεῦμα ὃ κατῴκισεν ἐν ἡμῖν;
“Roh yang telah ditempatkan-Nya di dalam kita, merindukannya dengan cemburu (atau: rentan pada iri hati)?” (terjemahan bebas)
Ada dua pembacaan utama. Pertama, τὸ πνεῦμα menunjuk pada roh manusia yang cenderung pada iri hati (πρὸς φθόνον menjadi keterangan tentang kecenderungan negatif roh manusia). Kedua, τὸ πνεῦμα menunjuk pada Roh Kudus yang “merindukan dengan cemburu” (ἐπιποθεῖ, dalam pengertian positif seperti kecemburuan Allah akan kesetiaan umat-Nya, bdk. Kel. 20:5) agar orang percaya setia kepada-Nya dan tidak berbagi kasih dengan dunia. Ambiguitas tata bahasa ini membuat ayat ini jarang dipakai sebagai dasar utama bagi pengajaran pneumatologi, tetapi tetap penting dicatat sebagai satu-satunya kemungkinan penyebutan Roh Kudus secara eksplisit dalam surat Yakobus.
Petrus
κατὰ πρόγνωσιν θεοῦ πατρός, ἐν ἁγιασμῷ πνεύματος, εἰς ὑπακοὴν καὶ ῥαντισμὸν αἵματος Ἰησοῦ Χριστοῦ
“menurut rencana Allah Bapa yang telah ditentukan-Nya semula, dalam pengudusan Roh, untuk taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya.” (terjemahan bebas)
Ayat pembuka 1 Petrus ini merangkum karya ketiga pribadi Allah dalam keselamatan: rencana Bapa, pengudusan Roh (ἁγιασμὸς πνεύματος), dan penebusan oleh darah Kristus. Petrus juga menyebut bahwa “Roh Kristus” telah berkarya dalam diri para nabi Perjanjian Lama, menyelidiki dan menyatakan sebelumnya penderitaan dan kemuliaan Kristus yang akan datang (1 Pet. 1:11–12).
εἰ ὀνειδίζεσθε ἐν ὀνόματι Χριστοῦ, μακάριοι, ὅτι τὸ τῆς δόξης καὶ τὸ τοῦ θεοῦ πνεῦμα ἐφ᾽ ὑμᾶς ἀναπαύεται.
“Jika kamu dinista karena nama Kristus, berbahagialah kamu, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah, ada padamu.” (terjemahan bebas)
Dalam konteks penganiayaan yang dihadapi para pembaca surat ini, Petrus menghubungkan pengalaman dinista karena Kristus dengan kehadiran “Roh kemuliaan” (τὸ τῆς δόξης πνεῦμα) yang tinggal atas mereka — penghiburan yang menyatakan bahwa penderitaan bagi Kristus disertai kehadiran Roh yang nyata, bukan ditinggalkan sendirian.
Dalam 2 Petrus, penulis menegaskan asal-usul ilahi Kitab Suci: “tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus, orang-orang berbicara atas nama Allah” (φερόμενοι ὑπὸ πνεύματος ἁγίου, 2 Pet. 1:21). Kata φερόμενοι (“dibawa, digerakkan”) menggambarkan gerak Roh yang membawa para penulis Kitab Suci seperti angin membawa sebuah kapal.
Yudas
οὗτοί εἰσιν οἱ ἀποδιορίζοντες, ψυχικοί, πνεῦμα μὴ ἔχοντες. ὑμεῖς δέ, ἀγαπητοί, ἐποικοδομοῦντες ἑαυτοὺς τῇ ἁγιωτάτῃ ὑμῶν πίστει, ἐν πνεύματι ἁγίῳ προσευχόμενοι
“Mereka inilah yang menimbulkan perpecahan, manusia duniawi, yang tidak memiliki Roh. Tetapi kamu, saudara-saudara terkasih, bangunlah dirimu di atas dasar imanmu yang paling suci, berdoalah dalam Roh Kudus.” (terjemahan bebas)
Kontras yang tajam ditarik antara para pengajar sesat, yang disebut ψυχικοί (“manusia jiwani/duniawi”, kata yang sama dipakai Paulus dalam 1 Kor. 2:14) dan πνεῦμα μὴ ἔχοντες (“tidak memiliki Roh”), dengan jemaat yang setia, yang dinasihati membangun diri di atas iman dan “berdoa dalam Roh Kudus” (ἐν πνεύματι ἁγίῳ προσευχόμενοι). Ayat ini menyejajarkan ketiadaan Roh dengan perpecahan dan kesesatan, dan kehadiran Roh dengan doa yang membangun serta memelihara kesatuan iman.
5. Kesatuan Kesaksian tentang Roh Kudus
Bila kesaksian para penulis ini dibandingkan, tampak bahwa Roh Kudus secara konsisten dikaitkan dengan permulaan, pemeliharaan, dan penggenapan hidup orang percaya. Roh diterima pada permulaan iman melalui pemberitaan Injil yang didengar dan dipercayai, bukan melalui perbuatan hukum Taurat. Roh berdiam dalam diri orang percaya sebagai bukti kepemilikan oleh Kristus, bersaksi tentang status sebagai anak Allah, dan menjadi jaminan bagi penggenapan penuh keselamatan pada masa depan. Roh membentuk watak orang percaya melalui buah yang utuh dan memampukan jemaat melalui karunia-karunia yang beragam, semuanya diarahkan untuk membangun tubuh Kristus dalam kasih dan kesatuan.
| Ringkasan teks kunci |
|---|
| Penerimaan Roh oleh iman, bukan oleh Taurat Gal. 3:2–5; 4:6 |
| Roh sebagai bukti dan kesaksian status anak Allah Rm. 8:9, 14–16; Gal. 4:6 |
| Roh sebagai jaminan/meterai keselamatan penuh Rm. 8:23; 2 Kor. 1:22; 5:5; Ef. 1:13–14 |
| Roh yang menolong dalam kelemahan dan doa Rm. 8:26–27; Yud. 20 |
| Buah Roh sebagai watak yang utuh Gal. 5:22–25 |
| Karunia Roh untuk membangun jemaat dalam kesatuan 1 Kor. 12:4–13; Ef. 4:3–4 |
| Roh sebagai sumber penyataan dan Kitab Suci 1 Tim. 4:1; 1 Pet. 1:11–12; 2 Pet. 1:21 |
| Peringatan agar tidak mendukakan/memadamkan Roh Ef. 4:30; 1 Tes. 5:19; Ibr. 6:4–6; 10:29 |
Keragaman gambaran ini — meterai, jaminan, buah sulung, api yang dapat padam, pribadi yang dapat berduka — tidak menghasilkan pemahaman yang bertentangan tentang Roh Kudus, melainkan satu kesaksian bersama: Roh Allah dan Roh Kristus yang sama, yang bekerja dari permulaan hingga penggenapan keselamatan orang percaya dan yang memampukan jemaat menjalankan panggilannya sebagai tubuh Kristus.
6. Istilah Yunani Kunci
Daftar ini merangkum istilah Yunani yang paling sering menentukan penafsiran tentang pribadi dan karya Roh Kudus dalam surat-surat.
| Istilah Yunani kunci |
|---|
| πνεῦμα (umum) “Roh, angin, napas”: dalam konteks yang tepat menunjuk pada Roh Kudus, Roh Allah, atau Roh Kristus. |
| τὸ πνεῦμα τοῦ υἱοῦ αὐτοῦ (Gal. 4:6) “Roh Anak-Nya”: karya Roh dihubungkan langsung dengan karya dan status Kristus. |
| καρπὸς τοῦ πνεύματος (Gal. 5:22–23) “Buah Roh”: satu buah yang utuh, bukan daftar pilihan yang terpisah. |
| συμμαρτυρεῖ (Rm. 8:16) “Bersaksi bersama”: Roh Allah bersaksi bersama roh orang percaya tentang status sebagai anak Allah. |
| ἀπαρχὴ τοῦ πνεύματος (Rm. 8:23) “Buah sulung Roh”: jaminan awal atas penggenapan keselamatan penuh yang akan datang. |
| ὑπερεντυγχάνει (Rm. 8:26) “Berdoa syafaat untuk”: Roh menolong kelemahan doa orang percaya. |
| χάρισμα (1 Kor. 12:4) “Karunia”: pemberian Roh yang beragam, diberikan untuk kepentingan bersama (πρὸς τὸ συμφέρον). |
| ἐν ἑνὶ πνεύματι … ἐβαπτίσθημεν (1 Kor. 12:13) “Dibaptis dalam satu Roh”: tindakan Roh yang menyatukan orang percaya ke dalam satu tubuh Kristus. |
| ἀρραβών (2 Kor. 1:22; 5:5; Ef. 1:14) “Uang muka, jaminan”: Roh sebagai jaminan atas warisan penuh yang akan diterima. |
| ἐσφραγίσθητε (Ef. 1:13) “Dimeteraikan”: gambaran meterai kepemilikan dan keaslian yang dikenakan pada orang percaya. |
| μὴ λυπεῖτε (Ef. 4:30) “Jangan mendukakan”: Roh Kudus adalah pribadi yang dapat berduka, bukan kuasa netral. |
| μὴ σβέννυτε (1 Tes. 5:19) “Jangan padamkan”: gambaran api bagi karunia dan karya Roh yang dapat diabaikan. |
| μέτοχος πνεύματος ἁγίου (Ibr. 6:4) “Mendapat bagian dalam Roh Kudus”: pengalaman nyata akan karya Roh. |
| ψυχικός (1 Kor. 2:14; Yud. 19) “Manusia jiwani/duniawi”: orang yang tidak memiliki atau tidak menerima hal-hal Roh Allah. |
| φερόμενοι ὑπὸ πνεύματος ἁγίου (2 Pet. 1:21) “Digerakkan oleh Roh Kudus”: asal-usul ilahi nubuat dan Kitab Suci. |
7. Penerapan bagi Kehidupan dan Pelayanan
Rm. 8:16 mengajarkan bahwa Roh Allah sendiri turut bersaksi bersama roh orang percaya tentang status mereka sebagai anak Allah. Pelayan jemaat dapat memakai kebenaran ini untuk menguatkan jemaat yang bergumul dengan keraguan akan keselamatan mereka, tanpa mengandalkan pengalaman emosional semata, tetapi juga tanpa mengabaikan dimensi pengalaman batin yang sah dari kesaksian Roh itu.
Galatia 5:22–23 menempatkan buah Roh, bukan pengalaman rohani yang menonjol, sebagai ukuran utama kedewasaan orang percaya. Dalam pembinaan jemaat dan Pendidikan Agama Kristen, penekanan pada karakter yang dibentuk Roh — kasih, sukacita, damai sejahtera, dan seterusnya — perlu berjalan seimbang dengan perhatian pada karunia-karunia yang tampak lebih mencolok.
1 Korintus 12:7 menegaskan bahwa setiap karunia Roh diberikan πρὸς τὸ συμφέρον, untuk kepentingan bersama. Prinsip ini penting dipegang dalam pengelolaan pelayanan jemaat, khususnya ketika perbedaan pandangan tentang karunia-karunia tertentu berpotensi memecah belah jemaat: kasih (1 Kor. 13) tetap menjadi ukuran yang lebih utama daripada karunia mana pun.
Peringatan agar “tidak mendukakan” (Ef. 4:30) dan “tidak memadamkan” (1 Tes. 5:19) Roh Kudus mengandaikan bahwa Roh adalah pribadi yang berelasi dengan jemaat, bukan kuasa yang netral dan pasif. Kepekaan ini dapat membentuk budaya jemaat yang terbuka terhadap tuntunan Roh dalam pengambilan keputusan, sekaligus tetap menguji segala sesuatu (1 Tes. 5:21) agar tidak jatuh pada penyalahgunaan klaim rohani.
Penutup
Roh Kudus dalam surat-surat Perjanjian Baru adalah Roh Allah dan Roh Kristus yang sama, yang diterima orang percaya melalui iman, yang berdiam di dalam mereka sebagai bukti dan jaminan keselamatan, yang membentuk watak mereka melalui buah yang utuh, dan yang memampukan jemaat melalui karunia-karunia yang beragam untuk membangun tubuh Kristus dalam kasih dan kesatuan. Karya Roh tidak berdiri sendiri, melainkan selalu terkait dengan karya Kristus yang telah dibahas dalam Pelajaran Kristologi dan Soteriologi: Roh menerapkan dan menghadirkan karya keselamatan Kristus dalam hidup orang percaya dan jemaat pada masa kini, sambil menjadi jaminan bagi penggenapan penuh yang akan datang.
Daftar Pustaka
Carson, D. A. Showing the Spirit: A Theological Exposition of 1 Corinthians 12–14. Grand Rapids, MI: Baker, 1987.
Dunn, James D. G. Baptism in the Holy Spirit: A Re-Examination of the New Testament Teaching on the Gift of the Spirit in Relation to Pentecostalism Today. London: SCM, 1970.
Fee, Gordon D. God’s Empowering Presence: The Holy Spirit in the Letters of Paul. Peabody, MA: Hendrickson, 1994.
Turner, Max. The Holy Spirit and Spiritual Gifts: Then and Now. Carlisle: Paternoster, 1996.
Warfield, Benjamin B. Counterfeit Miracles. New York: Charles Scribner’s Sons, 1918.