Pertanyaan Pendalaman dan Studi Kasus Teologis
Pdt. D. Horatius Herman, M.Th.
A. Pertanyaan Pemahaman Teks dan Tata Bahasa (1–8)
Jelaskan mengapa bentuk εἷς (“satu”, maskulin tunggal) dalam Gal. 3:28 penting untuk memahami bahwa kesatuan “di dalam Kristus Yesus” bukan sekadar kesetaraan status, melainkan kesatuan identitas yang melampaui pembedaan Yahudi–Yunani, hamba–merdeka, dan laki-laki–perempuan.
Uraikan bagaimana gambaran tubuh dalam Rm. 12:4–5 dan 1 Kor. 12:12–27 menyeimbangkan dua kebenaran yang tampak berlawanan: kesatuan (“satu tubuh”) dan keragaman (“banyak anggota, tugas yang tidak sama”).
Jelaskan makna dua kata majemuk συμπάσχει dan συγχαίρει dalam 1 Kor. 12:26, dan bagaimana kedua kata ini menegaskan solidaritas organik antaranggota jemaat.
Uraikan makna kata πλήρωμα dalam Ef. 1:23, dan jelaskan mengapa penyebutan jemaat sebagai “kepenuhan” Kristus merupakan pernyataan yang sangat tinggi tentang hubungan Kristus dengan gereja-Nya.
Jelaskan dua gambaran yang digabungkan dalam Ef. 2:19–22 (kewargaan dan keluarga, lalu bangunan), dan bagaimana istilah ἀκρογωνιαῖος (“batu penjuru”) menjelaskan peran Kristus dalam gambaran bangunan itu.
Bandingkan struktur tata bahasa Tit. 1:5–7, yang beralih dari sebutan πρεσβύτεροι ke ἐπίσκοπος dengan kata penghubung γάρ (“sebab”). Jelaskan mengapa struktur ini menjadi dasar argumen bahwa kedua istilah menunjuk pada jabatan yang sama.
Jelaskan makna gambaran λίθοι ζῶντες (“batu-batu hidup”) dalam 1 Pet. 2:5, dan bagaimana gambaran ini berbeda dari gambaran bait sebagai bangunan mati semata.
Uraikan makna tiga kata yang dipasangkan secara kontras dalam 1 Pet. 5:2–3: ἀναγκαστῶς/ἑκουσίως, αἰσχροκερδῶς/προθύμως, dan κατακυριεύοντες/τύποι γινόμενοι. Jelaskan bagaimana ketiga pasangan ini bersama-sama merumuskan cara memimpin jemaat yang benar.
B. Pertanyaan Diskusi Antarpakar (9–12)
Jelaskan pendekatan metodologis Paul Minear terhadap sembilan puluh enam gambaran gereja dalam Perjanjian Baru. Mengapa ia menolak anggapan bahwa satu gambaran (misalnya “tubuh Kristus”) dapat merangkum seluruh kekayaan kesaksian Perjanjian Baru tentang gereja?
Uraikan bagaimana penelitian Robert Banks tentang latar sosial rumah tangga (house churches) jemaat mula-mula menjelaskan mengapa gambaran keluarga dan tubuh menjadi dua gambaran yang paling dominan dalam surat-surat Paulus.
Jelaskan mengapa pengakuan J. B. Lightfoot bahwa “penilik jemaat” dan “penatua” adalah sebutan bagi jabatan yang sama menjadi bukti yang kuat, mengingat Lightfoot sendiri adalah pendukung tata gereja episkopal yang secara pribadi diuntungkan bila kedua jabatan itu berbeda.
Bandingkan argumen Wayne Grudem dan Philip Payne tentang makna kata αὐθεντεῖν dalam 1 Tim. 2:12. Jelaskan bagaimana tanggapan Andreas Köstenberger terhadap Payne berkisar pada fungsi kata penghubung οὐδέ dalam ayat itu.
C. Pertanyaan Sintesis Antarsurat (13–16)
Telusuri bagaimana gambaran bait/bangunan Allah muncul dalam 1 Kor. 3:9, 16; Ef. 2:19–22; dan 1 Pet. 2:5. Jelaskan bagaimana ketiga teks itu bersama-sama menegaskan bahwa jemaat sebagai kesatuan, bukan hanya sebagai kumpulan individu, adalah tempat kediaman Allah.
Bandingkan daftar kualifikasi kepemimpinan jemaat dalam 1 Tim. 3:1–13 dan Tit. 1:5–9 dengan nasihat tentang cara memimpin dalam 1 Pet. 5:1–4. Jelaskan bagaimana ketiga teks itu bersama-sama menunjukkan bahwa kualifikasi karakter dan cara memimpin sama pentingnya dengan kompetensi mengajar.
Uraikan bagaimana gambaran imamat am orang percaya (1 Pet. 2:5, 9) berhubungan dengan gambaran tubuh dengan banyak anggota (1 Kor. 12) dalam hal tanggung jawab bersama seluruh jemaat, bukan hanya para pemimpinnya.
Bandingkan Ibr. 10:24–25 tentang tidak meninggalkan pertemuan ibadah dan Yud. 3 tentang berjuang bagi kemurnian iman. Jelaskan bagaimana kedua teks itu menunjukkan bahwa pemeliharaan jemaat adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas pemimpin.
D. Pertanyaan Refleksi dan Penerapan (17–20)
Jelaskan bagaimana gambaran gereja sebagai satu tubuh dengan banyak anggota (1 Kor. 12:14–26) dapat menjadi dasar teologis bagi jemaat untuk menghargai pelayanan yang tidak menonjol secara publik sama seperti pelayanan yang tampak mencolok.
Uraikan bagaimana nasihat 1 Pet. 5:2–3 tentang memimpin bukan dengan κατακυριεύοντες (menguasai) melainkan menjadi τύποι (teladan) dapat menjadi bahan evaluasi diri bagi calon pelayan dan penatua jemaat.
Rancanglah bagaimana Anda akan mendampingi jemaat yang berbeda pandangan tentang peran perempuan dalam pelayanan, dengan tetap menjaga kesatuan jemaat dan menghormati kesungguhan penafsiran kedua belah pihak.
Jelaskan bagaimana Ibr. 10:24–25 dapat menjadi dasar untuk merancang program yang mendorong jemaat, khususnya generasi muda, agar tidak meninggalkan kebiasaan berkumpul dan saling menasihati di tengah tantangan gaya hidup digital masa kini.
Studi Kasus Teologis (1–5)
Dua gereja dalam satu wilayah pelayanan berselisih paham tentang struktur kepemimpinan: satu pihak meyakini bahwa “penilik jemaat” adalah jabatan yang lebih tinggi daripada “penatua”, sementara pihak lain meyakini keduanya adalah sebutan bagi jabatan yang sama. Perselisihan ini mulai menghambat kerja sama pelayanan lintas gereja.
Tugas diskusi:
- Gunakan Tit. 1:5–7 dan kesaksian J. B. Lightfoot untuk menjelaskan bagaimana Perjanjian Baru sendiri memakai kedua istilah itu secara bergantian bagi jabatan yang sama.
- Diskusikan bagaimana perbedaan tata gereja yang berkembang setelah zaman Perjanjian Baru (episkopal, presbiterial, kongregasional) dapat dipahami sebagai perkembangan historis, bukan semata perbedaan penafsiran benar-salah terhadap Alkitab.
- Rumuskan bagaimana Anda akan memfasilitasi kerja sama pelayanan lintas gereja meskipun kedua pihak tetap mempertahankan struktur kepemimpinan masing-masing.
Seorang anggota jemaat yang bertugas membersihkan gedung gereja setiap minggu merasa pelayanannya tidak dihargai dan tidak sepenting pelayanan mereka yang berkhotbah atau memimpin pujian. Ia mempertimbangkan untuk berhenti melayani sama sekali.
Tugas diskusi:
- Gunakan 1 Kor. 12:14–26, khususnya prinsip συμπάσχει/συγχαίρει (ay. 26), untuk menjelaskan bahwa setiap anggota tubuh Kristus, apa pun fungsinya, sama-sama penting dan dirancang Allah sendiri (ay. 18).
- Diskusikan bagaimana gambaran tubuh ini dapat menjadi dasar teologis untuk membangun budaya penghargaan terhadap semua bentuk pelayanan dalam jemaat, bukan hanya yang tampak di depan umum.
- Rancanglah langkah pastoral konkret untuk menguatkan dan menghargai anggota jemaat ini secara nyata, bukan hanya melalui nasihat lisan.
Sebuah jemaat mempertimbangkan seseorang yang sangat cakap secara teologis dan administratif untuk menjadi penatua, tetapi orang tersebut dikenal berwatak keras, sering meremehkan pendapat orang lain, dan cenderung memaksakan keputusan tanpa banyak mendengarkan.
Tugas diskusi:
- Gunakan daftar kualifikasi dalam 1 Tim. 3:1–7 dan Tit. 1:5–9 untuk menjelaskan bahwa karakter, bukan hanya kecakapan, adalah syarat utama kepemimpinan jemaat.
- Gunakan 1 Pet. 5:2–3 untuk menjelaskan mengapa watak yang cenderung κατακυριεύοντες (menguasai) bertentangan dengan panggilan menjadi τύποι (teladan) bagi kawanan domba.
- Rumuskan bagaimana majelis jemaat sebaiknya menangani situasi ini — baik jika keputusannya menunda pengangkatan tersebut, maupun jika keputusannya memberi pembinaan lebih dahulu.
Sebuah jemaat mengalami perdebatan hangat setelah seorang perempuan yang berpendidikan teologi diusulkan untuk mengajar kelas Alkitab campuran (laki-laki dan perempuan dewasa). Sebagian jemaat mengutip 1 Tim. 2:12 untuk menolak usulan itu, sementara sebagian lain berpendapat larangan itu bersifat khusus untuk konteks Efesus pada masa itu.
Tugas diskusi:
- Jelaskan secara berimbang argumen Wayne Grudem (komplementarian) dan Philip Payne (egaliter) tentang makna αὐθεντεῖν dalam 1 Tim. 2:12, tanpa memihak secara sepihak dalam penjelasan awal.
- Diskusikan bagaimana Gal. 3:28 (kesatuan yang melampaui perbedaan gender) perlu dibaca bersama 1 Tim. 2:11–15 agar tidak saling mengabaikan salah satu teks.
- Rumuskan bagaimana majelis jemaat dapat mengambil keputusan yang konsisten dengan keyakinan teologis jemaat tersebut, sambil tetap memperlakukan pihak yang berbeda pandangan dengan hormat.
Sejak beberapa anggota mulai lebih memilih mengikuti ibadah secara daring dari rumah tanpa alasan mendesak, kehadiran fisik dalam ibadah dan persekutuan kelompok kecil jemaat menurun drastis, dan hubungan antaranggota jemaat mulai merenggang.
Tugas diskusi:
- Gunakan Ibr. 10:24–25 untuk menjelaskan pentingnya pertemuan fisik bagi jemaat, termasuk fungsi saling menasihati yang sulit digantikan sepenuhnya oleh kehadiran daring.
- Diskusikan bagaimana gambaran tubuh dengan banyak anggota yang saling bergantung (1 Kor. 12:26) relevan untuk menjelaskan mengapa ketidakhadiran satu anggota memengaruhi keseluruhan jemaat, bukan hanya diri sendiri.
- Rancanglah sebuah pendekatan pastoral yang bijaksana untuk mendorong kembali kehadiran fisik jemaat, dengan tetap mempertimbangkan alasan-alasan sah yang mungkin dimiliki sebagian anggota untuk mengikuti ibadah secara daring.