Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

PPPB I Injil Matius Bagian 1

BAHAN AJAR PENGANTAR PERJANJIAN BARU: INJIL MATIUS (BAGIAN PERTAMA)


Materi Pembelajaran
I. Latar Belakang Historis, Sosial, dan Keagamaan Injil Matius

I. Latar Belakang Historis, Sosial, dan Keagamaan Injil Matius (Penanggalan Pre-70 M)

Injil Matius diyakini ditulis pada periode sebelum kehancuran Bait Suci Kedua, kemungkinan besar di pertengahan tahun 60-an M. Penanggalan yang lebih awal ini menempatkan Injil di tengah-tengah kampanye pemberontakan Yahudi melawan Roma, di mana Yudaisme—yang berpusat pada Bait Suci dan otoritas Farisi yang kuat—sedang berada pada puncak nasionalisme dan superioritas keagamaan. Dalam konteks ini, komunitas Matius berjuang mencari pengakuan sah sebagai kelanjutan sejati dari Israel. Oleh karena itu, Injil ini harus segera memberikan landasan teologis yang kuat sebelum gejolak perang atau sebelum perpecahan dengan Sinagoge menjadi definitif.

Secara sosial dan historis, konflik antara ekklesia (gereja) dan Sinagoge sangat intens pada masa ini, dan Yudaisme yang dominan memandang pengikut Yesus sebagai bidat yang mengancam identitas Yahudi. Oleh sebab itu, Matius berupaya keras untuk menunjukkan bahwa Yesus bukan hanya Mesias, tetapi juga pengajar Hukum yang otoritatif, sehingga kesetiaan kepada-Nya tidak berarti pengabaian terhadap tradisi Yahudi, melainkan pemenuhannya yang sejati. Kebutuhan untuk menguatkan identitas Yahudi-Kristen di tengah tekanan sosial dan superioritas Yudaisme adalah faktor pendorong utama penulisan Injil.1

Secara keagamaan, Injil Matius diposisikan untuk menegaskan bahwa ajaran Yesus, terutama Khotbah di Bukit, adalah interpretasi Hukum Taurat yang lebih tinggi dan lebih radikal daripada ajaran Farisi. Dengan menyajikan Yesus sebagai ‘Musa yang Baru’ yang berotoritas penuh atas Taurat, Matius memberikan landasan bagi komunitasnya untuk bertahan dan membedakan diri mereka secara teologis. Tujuan utamanya adalah memperkuat para pembaca yang akrab dengan kitab-kitab Ibrani, membuktikan bahwa menjadi pengikut Kristus adalah satu-satunya jalan menuju kebenaran Israel yang dijanjikan.2


II. Penulis dan Tujuan Penulisan

II. Penulis dan Tujuan Penulisan

Penulis Injil ini secara tradisional diidentifikasi sebagai Matius (atau Lewi), seorang dari dua belas murid Yesus yang bekerja sebagai pemungut cukai sebelum dipanggil (Mat 9:9). Tradisi gereja mula-mula, seperti kesaksian Papias, secara konsisten mengaitkan Injil ini dengan Matius. Namun, para sarjana modern umumnya berpendapat bahwa Injil ini, dalam bentuk Yunani yang kita miliki sekarang, ditulis oleh seorang Yahudi-Kristen terpelajar yang sangat akrab dengan Alkitab Ibrani, serta menggunakan sumber-sumber seperti Injil Markus dan sumber Q (kumpulan ucapan Yesus) sebagai dasar penulisannya.3

Tujuan utama Matius adalah meyakinkan audiens Yahudi-Kristennya, yang sedang bergumul menghadapi konflik, bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan, Raja, dan Guru yang lebih besar daripada Musa. Matius berulang kali menggunakan skema “penggenapan” untuk membuktikan bahwa kehidupan Yesus, dari kelahiran hingga kematian-Nya, adalah pemenuhan literal nubuat-nubuat Perjanjian Lama (PL). Melalui penekanan ini, Matius berupaya memberikan landasan teologis yang kuat bagi komunitasnya di tengah perdebatan sengit dengan Yudaisme yang menolak klaim Mesias Yesus.

Bagi audiens Yahudi-Kristen yang sedang mencari identitas otentik, Injil Matius berfungsi sebagai buku pengajaran (didache) yang otoritatif. Injil ini tidak hanya bertujuan memberitakan (kerygma) tentang Yesus, tetapi juga mengajar (didasko) bagaimana komunitas baru ini harus hidup sebagai umat Allah yang telah diperbarui. Penataan ajaran Yesus dalam lima blok wacana yang sistematis dan inklusi instruksi tentang etika dan disiplin gereja (terutama dalam Matius 18) menunjukkan secara jelas tujuannya untuk membimbing kehidupan etis dan komunal komunitas baru Mesias.


III. Pentingnya Kutipan Perjanjian Lama dalam Matius

III. Pentingnya Kutipan Perjanjian Lama dalam Matius

Injil Matius adalah Injil yang paling terikat dengan Perjanjian Lama (PL), mengutipnya secara langsung lebih dari 60 kali dan secara alusif (tersirat) lebih dari 40 kali. Fitur yang paling khas adalah penggunaan sepuluh “formula penggenapan” (seperti, “hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi,” Mat 1:22; 2:15, 17, 23; dst.). Penggunaan formula ini secara eksplisit menghubungkan peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan Yesus—sejak kelahiran-Nya yang ajaib hingga pelayanan-Nya—dengan pemenuhan literal dari nubuat-nubuat Ibrani yang diakui oleh Yahudi.4

Penggunaan PL yang ekstensif ini berfungsi ganda: Pertama, untuk menegaskan otoritas Yesus dan melegitimasi gerakan Kristen di hadapan Yudaisme yang menolak klaim-Nya. Matius secara efektif berargumen bahwa gereja adalah pewaris sejati dari janji-janji Allah yang diberikan kepada Israel, dan bahwa Perjanjian Lama harus dibaca melalui lensa Yesus Kristus. Kedua, ia menunjukkan bahwa Alkitab Ibrani tidak hanya meramalkan Yesus, tetapi hanya dapat dipahami secara penuh dalam terang kehidupan, ajaran, dan karya penebusan Kristus.5

Selain penggenapan nubuat, Matius juga menggunakan PL melalui tipologi, seringkali menyajikan Yesus sebagai ‘Israel Sejati’ atau ‘Musa yang Baru’ yang lebih agung. Contoh penting adalah narasi tentang Yesus dan Herodes yang mengingatkan pada Firaun dan Musa, atau penempatan Khotbah di Bukit (ajaran etika) yang secara tipologis meniru peristiwa Musa menerima Taurat di Gunung Sinai. Dengan membingkai kisah Yesus dalam narasi penyelamatan Israel, Matius menegaskan bahwa Yesus adalah puncak dan kegenapan dari seluruh sejarah penyelamatan yang telah Allah kerjakan bagi umat-Nya.6


IV. Struktur Naratif Injil Matius (Lima Wacana Besar)

IV. Struktur Naratif Injil Matius (Lima Wacana Besar)

Injil Matius memiliki struktur naratif yang sangat terorganisir dan simetris, sengaja disusun untuk tujuan didaktik. Secara garis besar, Injil ini terbagi menjadi tiga bagian naratif utama: 1) Kelahiran dan Masa Kecil (Mat 1-2); 2) Pelayanan Yesus di Galilea (Mat 3-20); dan 3) Pelayanan Yesus di Yerusalem, yang berujung pada Pekan Paskah (Mat 21-28). Pola ini didasarkan pada kerangka kronologis dan geografis umum, tetapi struktur ini diperkaya dengan blok-blok ajaran yang sistematis.

Poin struktur yang paling khas adalah pengorganisasian narasi ke dalam lima blok besar ajaran atau wacana Yesus, yang diselingi oleh narasi tindakan. Setiap wacana diakhiri dengan frasa penutup yang hampir identik: “Setelah Yesus mengakhiri pengajaran ini…” (Mat 7:28; 11:1; 13:53; 19:1; 26:1). Kelima wacana tersebut adalah: 1) Khotbah di Bukit (Mat 5-7), tentang etika Kerajaan; 2) Wacana Misi (Mat 10), tentang pengutusan murid; 3) Wacana Perumpamaan Kerajaan (Mat 13); 4) Wacana Komunitas (Mat 18), tentang disiplin gereja; dan 5) Wacana Eskatologis/Akhir Zaman (Mat 24-25).7

Struktur lima wacana ini secara tradisional dipandang sebagai upaya Matius untuk menyajikan Yesus sebagai ‘Musa yang Lebih Besar’, di mana kelima wacana ini meniru lima kitab Musa (Pentateukh) dalam Perjanjian Lama. Fungsi utama dari struktur ini adalah didaktik dan pedagogis. Matius ingin agar Injil ini berfungsi sebagai buku pegangan resmi (handbook) bagi komunitas Yahudi-Kristen untuk mengajar mereka tentang etika, doktrin Kerajaan Allah, misi, dan aturan praktis kehidupan gereja. Hal ini secara jelas menunjukkan bahwa Matius mengutamakan otoritas ajaran Yesus di atas otoritas tradisi Farisi.8


V. Konflik Gereja dan Yudaisme dalam Injil Matius

V. Konflik Gereja dan Yudaisme dalam Injil Matius

Konflik adalah tema yang menonjol, mencerminkan pertengkaran sengit antara komunitas Yahudi-Kristen yang baru lahir dan Yudaisme Farisi (pra-Rabinik) yang dominan. Karena Injil ini ditulis sebelum 70 M, konflik ini mencerminkan situasi di mana Yudaisme masih sangat percaya diri, kuat, dan memegang kendali penuh atas Bait Suci dan sistem keagamaan. Matius tidak hanya merekam konflik historis Yesus dengan para pemimpin agama selama pelayanan-Nya, tetapi juga menggunakan narasi historis tersebut untuk secara tidak langsung mengatasi konflik kontemporer antara gerejanya dan sinagoge yang menganggap mereka sebagai ancaman.9

Matius menyajikan kritik yang paling keras dan tajam terhadap kaum Farisi dibandingkan Injil-injil lainnya (puncak kritiknya terdapat dalam Mat 23, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik!”). Kritik ini berfungsi untuk dua tujuan utama bagi komunitasnya: pertama, menunjukkan bahwa Yesus memiliki otoritas ilahi untuk menafsirkan Hukum secara radikal dan etis (Mat 5:21-48); dan kedua, meyakinkan komunitas Yahudi-Kristen bahwa mereka tidak perlu tunduk pada otoritas Farisi karena otoritas Yesus melampaui otoritas mereka dalam hal Hukum dan kebenaran.10

Meskipun Injil Matius sangat Yahudi, ia mengisyaratkan adanya perpindahan fokus (atau ‘Israel yang Baru’). Perumpamaan tentang kebun anggur dan pemusnahan Yerusalem (Mat 21-22) menunjukkan bahwa Kerajaan Allah telah diambil dari Israel yang tidak percaya dan diserahkan kepada “suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu” (Mat 21:43). Klimaks dari tema ini adalah Amanat Agung (Mat 28:19) yang tidak lagi membatasi misi kepada Israel saja, melainkan memerintahkan pemuridan “segala bangsa” (panta ta ethnē). Ini secara definitif mengarahkan komunitas baru Mesias untuk misi universal, keluar dari isolasi Yudaisme, meskipun konflik dengan otoritas Yahudi sedang memuncak.11


Catatan Kaki

Catatan Kaki

  1. Edi Wibowo, Konflik dan Komunitas Baru: Latar Belakang Injil-Injil (Yogyakarta: Kanisius, 2023), 55.
  2. Yohanes Budi Santoso, Yesus dan Penggenapan Janji: Studi Injil Matius (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2024), 25–28.
  3. Wibowo, Konflik dan Komunitas Baru, 62.
  4. Santoso, Yesus dan Penggenapan Janji, 40.
  5. Sarlie Leman, “Struktur Lima Wacana Matius dan Implikasinya bagi Pengajaran,” Jurnal Teologi Indonesia 15, no. 2 (2022): 48.
  6. Santoso, Yesus dan Penggenapan Janji, 45.
  7. Leman, “Struktur Lima Wacana Matius,” 55–56.
  8. Wibowo, Konflik dan Komunitas Baru, 78.
  9. Santoso, Yesus dan Penggenapan Janji, 85.
  10. Leman, “Struktur Lima Wacana Matius,” 58.
  11. Wibowo, Konflik dan Komunitas Baru, 80.
Kepustakaan

Kepustakaan

  • Leman, Sarlie. “Struktur Lima Wacana Matius dan Implikasinya bagi Pengajaran.” Jurnal Teologi Indonesia 15, no. 2 (2022): 45–60.
  • Santoso, Yohanes Budi. Yesus dan Penggenapan Janji: Studi Injil Matius. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2024.
  • Wibowo, Edi. Konflik dan Komunitas Baru: Latar Belakang Injil-Injil. Yogyakarta: Kanisius, 2023.
Diskusi Di Kelas

Diskusi Khusus: Konflik Gereja Dan Yudaisme Dalam Injil Matius

Matius 3:7-12: Ancaman Penghakiman terhadap Yudaisme


I. Konflik dalam Pekabaran Yohanes Pembaptis (Matius 3:7-12)

  • Bandingkan Mat 3:7 dengan Kej 3:15, proto-evangelium
  • Mat 3:9 dengan Mat 3:10
  • Mat 3:12 menampi
  • Mat 3:10-12 Apa yang dimaksud dengan Api

II. Otoritas Hukum dan Pengajaran (Matius 5:21-48 dan 15:1-9)

  • Apakah maksud formula “Kamu telah mendengar firman…” tetapi Aku berkata kepadamu…” (Mat 5:21, 27, 31, 33, 38, 43)
  • Apakah yang dimaksud dengan “menyembah Aku dengan sia-sia, sebab mereka mengajarkan ajaran manusia” (Mat 15:9).”
III. Pertukaran Kerajaan dan Penghakiman (Matius 21:43 dan Mat 23)
  • Konflik pemindahan Kerajaan Allah dalam Perumpamaan tentang Penggarap Kebun Anggur (Mat 21:33-46)
  • Konflik “Celakalah Kamu” Matius 23.
  • Amanat Agung Matius 28:16-20.
Exit mobile version