XPB2-01

PERTEMUAN 1 (120 MENIT)
Pengantar & Konteks Surat-Surat Paulus
Eksposisi Perjanjian Baru 2

1. Paulus: Identitas dan Transformasi Teologis

Untuk memahami surat-surat Paulus secara benar, langkah pertama yang tidak dapat diabaikan adalah memahami siapa Paulus itu sendiri. Paulus bukan sekadar penulis, tetapi seorang tokoh historis yang hidup dalam ketegangan antara dua dunia besar: dunia Yahudi dan dunia Yunani-Romawi. Ia lahir di Tarsus, sebuah kota yang terkenal sebagai pusat intelektual dalam dunia Helenistik. Hal ini menunjukkan bahwa sejak awal, Paulus tidak hidup dalam isolasi budaya Yahudi semata, tetapi telah terpapar pada pemikiran Yunani.

Namun demikian, identitas utamanya tetap sebagai seorang Yahudi yang taat. Dalam Filipi 3:5–6, Paulus dengan jelas menyatakan latar belakangnya sebagai orang Ibrani asli, dari suku Benyamin, seorang Farisi, dan tidak bercacat dalam hal kebenaran menurut hukum Taurat. Pernyataan ini sangat penting karena menunjukkan bahwa sebelum pertobatannya, Paulus berada dalam posisi religius yang sangat tinggi. Ia bukan orang biasa dalam komunitas Yahudi, tetapi seorang yang memiliki otoritas teologis dan sosial.

Pertobatan Paulus dalam Kisah Para Rasul 9 bukan hanya perubahan arah hidup, tetapi perubahan paradigma teologi secara menyeluruh. Ia yang sebelumnya melihat hukum Taurat sebagai pusat relasi dengan Allah, kini memahami bahwa Kristus adalah pusat keselamatan. Transformasi ini tidak berarti bahwa Paulus meninggalkan seluruh warisan Yahudinya, tetapi ia menafsirkannya kembali dalam terang Kristus.

Di sinilah letak kompleksitas Paulus. Ia tidak sepenuhnya meninggalkan Yudaisme, tetapi juga tidak sepenuhnya mempertahankannya dalam bentuk lama. Ia berada dalam posisi transisi teologis yang unik, yang kemudian tercermin dalam surat-suratnya.

2. Dunia Sosial dan Politik: Kekaisaran Romawi

Kita tidak dapat memahami Paulus tanpa memahami dunia di mana ia hidup. Kekaisaran Romawi pada abad pertama sering disebut sebagai Pax Romana, yaitu masa stabilitas politik yang relatif panjang. Stabilitas ini memungkinkan perjalanan yang luas, komunikasi antar kota, dan penyebaran ide-ide baru, termasuk Injil.

Namun, di balik stabilitas tersebut terdapat sistem kekuasaan yang sangat kuat. Kekaisaran Romawi menuntut loyalitas total dari warganya. Salah satu bentuk loyalitas ini adalah penyembahan kepada kaisar. Bagi orang Kristen, hal ini menjadi masalah serius karena mereka hanya mengakui satu Tuhan, yaitu Allah dalam Yesus Kristus.

Selain itu, struktur sosial Romawi bersifat hierarkis. Sistem patron-klien menciptakan ketergantungan antara orang kaya dan orang miskin. Dalam konteks jemaat Kristen, hal ini menimbulkan ketegangan karena gereja terdiri dari berbagai lapisan sosial. Paulus harus menangani konflik semacam ini, misalnya dalam 1 Korintus.

Dunia Romawi juga sangat pluralistik dalam hal agama. Kota-kota seperti Efesus dan Korintus dipenuhi dengan kuil-kuil dan praktik penyembahan berhala. Dalam konteks ini, iman Kristen bukan hanya soal keyakinan pribadi, tetapi juga keputusan sosial yang memiliki konsekuensi nyata.

3. Surat Paulus: Konteks dan Tujuan

Salah satu kesalahan terbesar dalam membaca surat Paulus adalah memperlakukannya sebagai buku teologi sistematis. Padahal, surat-surat Paulus bersifat situasional. Artinya, setiap surat ditulis untuk menjawab masalah tertentu dalam jemaat tertentu.

Sebagai contoh, surat Galatia ditulis dalam konteks konflik mengenai sunat dan hukum Taurat. Ada kelompok yang mengajarkan bahwa orang non-Yahudi harus mengikuti hukum Taurat untuk diselamatkan. Paulus menentang pandangan ini dengan menekankan bahwa keselamatan adalah oleh iman, bukan oleh perbuatan hukum.

Sementara itu, surat Korintus menunjukkan bagaimana Paulus menangani konflik internal jemaat, mulai dari perpecahan, moralitas, hingga penyalahgunaan karunia rohani. Ini menunjukkan bahwa teologi Paulus tidak pernah terlepas dari realitas kehidupan jemaat.

Dengan demikian, membaca surat Paulus membutuhkan pendekatan kontekstual. Kita harus bertanya: masalah apa yang sedang dihadapi jemaat? Mengapa Paulus menulis hal ini? Apa tujuan teologisnya?

4. Perdebatan Scholar Modern

Dalam dunia akademik modern, studi tentang Paulus mengalami perkembangan yang sangat signifikan. Salah satu tokoh penting adalah E. P. Sanders, yang melalui penelitiannya menunjukkan bahwa Yudaisme tidak dapat dipahami sebagai agama legalistik semata. Ia memperkenalkan konsep “covenantal nomism,” di mana hukum dipahami sebagai respons terhadap anugerah Allah.

James D. G. Dunn kemudian mengembangkan pendekatan ini dengan menekankan bahwa istilah “perbuatan hukum Taurat” dalam surat Paulus berkaitan dengan identitas etnis, bukan sekadar usaha manusia untuk diselamatkan. Pendekatan ini dikenal sebagai New Perspective on Paul.

N. T. Wright melangkah lebih jauh dengan melihat Paulus dalam kerangka narasi besar Alkitab. Ia menekankan bahwa keselamatan bukan hanya soal individu, tetapi bagian dari rencana Allah untuk memulihkan seluruh ciptaan.

Di sisi lain, Douglas Moo dan Thomas Schreiner tetap mempertahankan pendekatan Reformasi klasik, yang menekankan pembenaran oleh iman sebagai inti teologi Paulus. Perdebatan ini menunjukkan bahwa interpretasi terhadap Paulus tidak sederhana.

Diskusi Kelas (30 Menit)

Diskusikan secara kritis: Apakah Paulus lebih tepat dipahami sebagai teolog sistematis atau teolog kontekstual? Jelaskan dengan contoh dari surat-suratnya.

Bandingkan pendekatan Reformasi dan New Perspective on Paul. Apa kelebihan dan kelemahan masing-masing?

Tugas

Tuliskan makalah 5 halaman yang menjelaskan konteks historis dan teologis salah satu surat Paulus serta relevansinya bagi gereja masa kini.